cover
Contact Name
Velma Herwanto
Contact Email
Velmah@fk.untar.ac.id
Phone
+628161820408
Journal Mail Official
jmmpk@untar.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta barat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Muara Medika dan Psikologi Klinis
ISSN : -     EISSN : 27978320     DOI : 10.24912/jmmpk
Core Subject : Health, Science,
Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Tarumanagara Kampus 1 Jl. Letjen S. Parman No.1 Jakarta 11440 021-5671747 Ext. 215
Articles 142 Documents
HUBUNGAN LONELINESS TERHADAP SUBJECTIVE WELL BEING MAHASISWA PERANTAU DI JAKARTA Jodi Haryanto Soebagio; Denrich Suryadi
Jurnal Muara Medika dan Psikologi Klinis Vol. 5 No. 2 (2025): Jurnal Muara Medika dan Psikologi Klinis
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmmpk.v5i2.37352

Abstract

Fenomena perantauan yang terjadi pada mahasiswa perantau di Indonesia dapat menyebabkan konsekuensi secara psikologis, khususnya terkait munculnya rasa kesepian (loneliness), hal ini dapat terjadi dikarenakan perpindahan lokasi menyebabkan seseorang terlepas dari lingkungan yang familiar dan juga menginggalkan orang yang mereka kenal sebelumnya, seperti keluarga atau teman. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi hubungan antara loneliness dan subjective wellbeing pada mahasiswa perantau di kota Jakarta. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan teknik non-probability sampling melalui purposive dan snowball sampling secara daring. Partisipan berjumlah 200 mahasiswa perantau berusia 18–24 tahun yang sedang menempuh pendidikan di Jakarta. Alat ukur yang digunakan dalam penelitian ini ialah UCLA Loneliness Scale (Version 3) dalam mengukur loneliness, serta Satisfaction with Life Scale (SWLS) dan Scale of Positve and Negative Experiences (SPANE) dalam mengukur subjective wellbeing. Hasil penelitian ini, menunjukkan terdapat indikasi hubungan negatif yang signifikan antara loneliness serta subjective wellbeing dimana diperoleh korelasi pearson sebesar -0,645 dan tingkat signifikasi sebesar 0.000, yang dapat diartikan bahwa semakin tinggi tingkat loneliness maka semakin rendah subjective wellbeing yang dirasakan mahasiswa perantau. Temuan ini mengindikasikan bahwa kondisi kesepian yang dialami mahasiswa perantau dapat menurunkan kepuasan hidup, menurunkan afek positif, dan meningkatkan afek negatif, sehingga berdampak pada kesejahteraan subjektif selama masa perkuliahan jauh dari lingkungan asal.
KORELASI ANTARA KOMPOSISI OTOT TUBUH DAN KEKUATAN OTOT DENGAN LAJU FILTASI GINJAL MASYARAKAT KELURAHAN KOTA BAMBU Nicholas Albert Tambunan; Alexander Halim Santoso; Bryan Anna Wijaya
Jurnal Muara Medika dan Psikologi Klinis Vol. 6 No. 1 (2026): Jurnal Muara Medika dan Psikologi Klinis (IN PRESS)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmmpk.v6i1.37336

Abstract

Penyakit ginjal kronik (PGK) merupakan masalah kesehatan global yang terus meningkat, dan bukti terkini menunjukkan bahwa parameter muskuloskeletal berperan penting dalam memengaruhi fungsi renal. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan antara komposisi otot tubuh dan kekuatan otot dengan laju filtrasi glomerulus (eGFR) pada masyarakat dewasa di Kelurahan Kota Bambu. Studi potong lintang dilakukan pada 107 partisipan usia 18–77 tahun, meliputi pengukuran massa otot tubuh menggunakan BIA, kekuatan genggaman tangan, serta pemeriksaan kreatinin serum untuk perhitungan eGFR berbasis CKD-EPI. Hasil analisis menunjukkan korelasi positif yang bermakna antara massa otot tubuh utama dan eGFR (r=0,205; p<0,05), dengan kontribusi lebih rendah pada massa otot lengan dan total tubuh, serta korelasi lemah pada kekuatan genggaman tangan. Temuan ini menegaskan bahwa kesehatan otot, khususnya otot tubuh utama, memiliki peran signifikan dalam mempertahankan fungsi filtrasi ginjal melalui mekanisme metabolik dan inflamasi. Meskipun demikian, keterbatasan desain observasional membatasi kesimpulan kausal dan generalisasi hasil ke populasi yang lebih luas. Studi lanjutan dengan desain longitudinal dan integrasi biomarker tambahan diperlukan untuk memperkuat pemahaman mengenai hubungan muskulo-renal dan mendukung pengembangan strategi skrining komunitas yang lebih akurat dan aplikatif.
EVALUASI INDEKS NON-INSULIN (METS-IR, TYG INDEX, DAN RASIO TG/HDL) DALAM DETEKSI SINDROM METABOLIK Lydia Tantoso; Alexander Halim Santoso
Jurnal Muara Medika dan Psikologi Klinis Vol. 6 No. 1 (2026): Jurnal Muara Medika dan Psikologi Klinis (IN PRESS)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmmpk.v6i1.37337

Abstract

Pendahuluan: Sindrom metabolik merupakan masalah kesehatan masyarakat yang prevalensinya terus meningkat, terutama di wilayah perkotaan, dan berperan penting dalam peningkatan risiko penyakit kardiovaskular serta diabetes melitus tipe 2. Resistensi insulin menjadi patofisiologi utama sindrom metabolik, namun metode pengukurannya yang berbasis insulin bersifat mahal dan kurang praktis untuk skrining populasi. Tujuan: Penelitian ini bertujuan mengevaluasi kemampuan diagnostik METS-IR, TyG index, dan rasio TG/HDL dalam mendeteksi sindrom metabolik pada populasi dewasa di Jakarta. Metode: Penelitian potong lintang ini dilakukan pada Agustus 2024 – Maret 2025 di tiga kelurahan di Jakarta dengan melibatkan 205 responden dewasa berusia ≥18 tahun. Profil lipid diukur menggunakan panel lipid NESCO dan gula darah puasa menggunakan strip For-A. Sindrom metabolik ditetapkan berdasarkan kriteria NHLBI/AHA. Analisis diagnostik dilakukan menggunakan kurva Receiver Operating Characteristic (ROC) dan Area Under the Curve (AUC). Hasil: Prevalensi sindrom metabolik sebesar 45,4%. TyG index menunjukkan nilai AUC tertinggi (0,918), diikuti rasio TG/HDL (0,889) dan METS-IR (0,851), seluruhnya signifikan secara statistik (p<0,001). Kesimpulan: Ketiga indeks non-insulin memiliki kemampuan diagnostik yang baik hingga sangat baik, dengan TyG index sebagai indikator paling unggul untuk skrining sindrom metabolik di populasi urban.
EVALUASI KORELASI SPEARMAN ANTARA TEKANAN DARAH, WAIST HIP RATIO, TRIGLISERIDA DAN HIGH DENSITY LIPOPROTEIN TERHADAP STRES, DEPRESI, DAN CEMAS PADA DEWASA Anastasia Ratnawati Biromo; Stanislas Kotska Marvel Mayello Teguh; Alexander Halim Santoso
Jurnal Muara Medika dan Psikologi Klinis Vol. 6 No. 1 (2026): Jurnal Muara Medika dan Psikologi Klinis (IN PRESS)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmmpk.v6i1.37338

Abstract

Latar Belakang: Gangguan psikologis seperti stres, depresi, dan kecemasan banyak dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk status metabolik. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi korelasi Spearman antara tekanan darah, waist-hip ratio (WHR), trigliserida, dan high-density lipoprotein (HDL) terhadap stres, depresi, dan cemas pada populasi dewasa. Metode: Penelitian observasional potong lintang ini dilaksanakan pada November 2024 hingga April 2025 di Kelurahan Cengkareng Timur, Grogol, dan Tebet, Jakarta. Sebanyak 256 responden dewasa berusia ≥18 tahun diikutsertakan dengan metode consecutive sampling. Pengukuran kondisi psikologis dilakukan menggunakan DASS-42. Parameter yang dikaji meliputi tekanan darah sistolik dan diastolik, WHR, kadar trigliserida, dan HDL. Uji Kolmogorov-Smirnov digunakan untuk menguji normalitas data, kemudian analisis korelasi Spearman diterapkan dengan tingkat signifikansi p<0.05. Penelitian ini telah memperoleh persetujuan etik dari Universitas Tarumanagara dengan nomor registrasi yang sesuai, dan seluruh partisipan memberikan persetujuan tertulis melalui informed consent sebelum berpartisipasi. Hasil: Ditemukan korelasi negatif yang lemah namun signifikan antara tekanan darah sistolik dan diastolik dengan skor depresi (r=-0.144; p=0.021 dan r=-0.128; p=0.041), serta antara tekanan diastolik dengan stres (r=-0.133; p=0.034). WHR, trigliserida, dan HDL tidak menunjukkan korelasi signifikan dengan stres, depresi, maupun cemas (p>0.05). Kesimpulan: Tekanan darah memiliki hubungan lemah namun signifikan dengan beberapa gejala psikologis, sementara WHR, trigliserida, dan HDL tidak menunjukkan korelasi yang bermakna. Hasil ini menunjukkan bahwa kontribusi faktor metabolik terhadap stres, depresi, dan cemas pada dewasa cenderung minimal.
UJI VALIDITAS DAN RELIABILITAS KEPUASAN LANSIA DI PANTI WREDA JAKARTA Sari Mariyati Dewi Nataprawira; Ratna Indrawati; Ivan Christian Andianto
Jurnal Muara Medika dan Psikologi Klinis Vol. 6 No. 1 (2026): Jurnal Muara Medika dan Psikologi Klinis (IN PRESS)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmmpk.v6i1.38134

Abstract

Sebagai hunian jangka Panjang, panti wreda juga memberikan fasilitas kesehatan bagi lansia yang menghuninya. Indikator kualitas layanan panti wreda adalah kepuasan lansia pada panti tersebut yang dipengaruhi oleh kemampuan layanan dan komunikasi stafnya. Tujuan penelitian ini adalah menguji validitas dan reliabilitas kuesioner kepuasan lansia yang menggunakan tiga instrumen, yaitu kuesioner kualitas layanan (SERVQUAL), kemampuan komunikasi (Communication Assessment Tool/ CAT) dan tingkat kepuasan pasien (Patient Satisfaction Questionnaire Short Form-18/ PSQ-18), yang diterjemahkan dan diadaptasi pada konteks panti wreda di Indonesia. Penelitian dilakukan dengan pendekatan kuantitatif terhadap 20 responden lansia di Panti Sosial Tresna Werdha (STW) Cibubur, Jakarta Timur. Metode: Data dianalisis menggunakan perangkat lunak JASP dengan analisis korelasi Pearson untuk Uji validitas menggunakan 3 cara, yaitu analisis berdasarkan item pertanyaan, faktor (subscale), dan keseluruhan sedangkan Uji reliabilitas dilakukan menggunakan Cronbach’s Alpha. Hasil: Uji validitas menunjukkan sebagian besar item valid. Pada analisis berdasarkan item pertanyaan didapatkan satu item (Q8) tidak valid (r = 0,319; p = 0,170), namun pertanyaan ini menjadi valid pada analisis per faktor (r = 0,722; p < 0,001). Seluruh faktor (kualitas layanan, komunikasi staf, dan kepuasan lansia) menunjukkan validitas yang sangat baik (p < 0,001). Pada uji reliabilitas menunjukkan nilai Cronbach’s α yang sangat tinggi, yaitu 0,991 untuk keseluruhan instrumen, 0,980 untuk faktor kualitas layanan, 0,987 untuk komunikasi staf, dan 0,988 untuk kepuasan lansia. Kesimpulan: Kuesioner kepuasan lansia yang diuji memiliki validitas dan reliabilitas yang baik, terutama pada tingkat faktor. Instrumen ini dapat digunakan untuk mengukur kepuasan lansia di panti wreda dan fasilitas pelayanan lansia lainnya di Indonesia.
KARAKTERISTIK DEMOGRAFI LANSIA PENDERITA HIPERTENSI DI PUSKESMAS SINDANGAGUNG KUNINGAN JAWA BARAT Raden Najla; Velma Herwanto
Jurnal Muara Medika dan Psikologi Klinis Vol. 6 No. 1 (2026): Jurnal Muara Medika dan Psikologi Klinis (IN PRESS)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmmpk.v6i1.38135

Abstract

Hipertensi merupakan penyakit tidak menular dengan prevalensi yang meningkat seiring bertambahnya usia. Berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia 2023, prevalensi hipertensi mencapai 57,8% pada usia 65-74 tahun dan 64,0% pada kelompok usia ≥75 tahun. Terapi hipertensi pada lansia memerlukan pemilihan antihipertensi yang tepat karena perubahan fisiologis dan multimorbiditas. Data mengenai karakteristik pasien lansia dengan hipertensi masih diperlukan untuk mendukung perencanaan pelayanan kesehatan serta pengelolaan hipertensi yang lebih tepat di fasilitas pelayanan kesehatan primer. Penelitian ini bertujuan menganalisis karakteristik demografi, derajat hipertensi, komorbiditas, dan terapi antihipertensi pada pasien lansia dengan hipertensi di Puskesmas Sindangagung, Kuningan, Jawa Barat. Penelitian deskriptif dengan desain potong lintang ini menggunakan data sekunder berupa rekam medis 181 pasien yang dipilih melalui total sampling. Data dianalisis secara univariat menerapkan distribusi frekuensi dan persentase. Hasil penelitian menunjukkan mayoritas pasien berusia 60–69 tahun (64,1%), berjenis kelamin perempuan (65,7%), berpendidikan sekolah dasar (26,0%), tidak bekerja (25,4%), dan berstatus menikah (32,6%). Sebanyak 82,3% pasien mengalami hipertensi tahap 2, 11,6% memiliki diabetes melitus, 1,7% menderita penyakit jantung, dan 65,2% menerima monoterapi amlodipin. Disimpulkan bahwa pasien lansia dengan hipertensi di Puskesmas Sindangagung didominasi oleh perempuan, berusia 60-69 tahun, berpendidikan sekolah dasar, dan mengalami hipertensi tahap 2. Sebagian besar pasien tidak memiliki komorbiditas yang tercatat, sedangkan amlodipin merupakan terapi antihipertensi yang paling banyak digunakan. Temuan penelitian ini memberikan data dasar bagi perencanaan pelayanan kesehatan serta optimalisasi pengelolaan hipertensi di fasilitas pelayanan kesehatan primer.
PENGARUH KONSUMSI KAFEIN TERHADAP TEKANAN ARTERI RATA-RATA DAN FREKUENSI DENYUT JANTUNG MAHASISWA KEDOKTERAN UNIVERSITAS TARUMANAGARA Regina Gabriella; Velma ` Herwanto
Jurnal Muara Medika dan Psikologi Klinis Vol. 6 No. 1 (2026): Jurnal Muara Medika dan Psikologi Klinis (IN PRESS)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmmpk.v6i1.38137

Abstract

Konsumsi kopi telah menjadi salah satu kebiasaan yang tidak terpisahkan dalam kehidupan masyarakat modern dan banyak dijumpai pada berbagai kelompok usia, termasuk mahasiswa. Di kalangan mahasiswa, khususnya mahasiswa kedokteran tingginya tuntutan akademik sering kali mendorong mereka untuk mengonsumsi kopi sebagai upaya untuk menjaga kewaspadaan, meningkatkan fokus, serta mempertahankan konsentrasi saat menjalani aktivitas belajar yang padat. Meskipun demikian, konsumsi kopi juga dapat menimbulkan berbagai respons fisiologis pada tubuh, termasuk perubahan pada tekanan arteri rata-rata dan frekuensi denyut jantung. Penelitian yang dilakukan bertujuan untuk menganalisis pengaruh kafein terhadap perubahan tekanan arteri rata-rata dan frekuensi denyut jantung, khususnya pada mahasiswa kedokteran. Penelitian ini menggunakan desain quasi experimental dengan teknik convenience sampling yang melibatkan 128 mahasiswa sebagai subjek penelitian. Sebanyak 128 mahasiswa diikutsertakan dalam penelitian ini dan dialokasikan ke dalam dua kelompok, yaitu kelompok intervensi (n=64) dan kelompok kontrol (n=64). Hasil penelitian yang di dapatkan dianalisis menggunakan t-test independent yang menunjukan adanya peningkatan pada tekanan arteri rata-rata dan frekuensi denyut jantung setelah konsumsi kafein dari kopi dalam jumlah yang telah distandarisasi. Beda rerata perubahan tekanan arteri rata-rata ditunjukan dengan p-value <0,001, begitu pula dengan perubahan beda rerata frekuensi denyut jantung didapatkan p-value <0,001. Berdasarkan temuan tersebut, dapat disimpulkan bahwa konsumsi kafein yang berasal dari kopi berpotensi meningkatkan tekanan arteri rata-rata dan frekuensi denyut jantung.
EFEK EKSTRAK PENTA HERBS FORTE TERHADAP AKTIVITAS ENZIM KATALASE JANTUNG TIKUS YANG DIHIPOKSIA SISTEMIK KRONIK Catherine Jessica Tadjudin; Frans Ferdinal
Jurnal Muara Medika dan Psikologi Klinis Vol. 6 No. 1 (2026): Jurnal Muara Medika dan Psikologi Klinis (IN PRESS)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmmpk.v6i1.38138

Abstract

Kondisi kekurangan oksigen berkepanjangan dapat menginduksi hipoksia sistemik kronik yang menyebabkan peningkatan Reactive Oxygen Species (ROS) dan berujung pada stres oksidatif, suatu kondisi patofisiologis yang berkontribusi terhadap kerusakan jaringan jantung melalui fibrosis miokard, ventricular remodeling, dan gagal jantung sehingga meningkatkan risiko penyakit jantung degeneratif. Katalase merupakan enzim antioksidan endogen yang berfungsi menguraikan hidrogen peroksida (H₂O₂) menjadi air dan oksigen. Penurunan aktivitas katalase menyebabkan akumulasi ROS yang meningkatkan stres oksidatif dan mempercepat kerusakan miokard. Ekstrak Penta Herbs Forte (PHF) merupakan kombinasi lima tanaman herbal, yaitu Temulawak, Jahe Merah, Sembung, Sambiloto, dan Meniran, yang memiliki aktivitas antioksidan tinggi. Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh pemberian ekstrak PHF terhadap aktivitas enzim katalase pada jantung tikus Sprague Dawley yang diinduksi hipoksia sistemik kronik. Penelitian eksperimental in vivo menggunakan 32 ekor tikus Sprague Dawley jantan yang dibagi menjadi delapan kelompok kontrol dan perlakuan, kemudian diinduksi hipoksia sistemik kronik (O₂ 10% dan N₂ 90%) selama 1, 7, dan 14 hari. Kelompok perlakuan mendapat ekstrak PHF dosis 100 mg/kgBB dua kali sehari. Aktivitas katalase diukur menggunakan Catalase (CAT) Activity Assay Kit metode Ammonium Molybdate. Hasil menunjukkan aktivitas katalase kelompok kontrol menurun bermakna seiring durasi hipoksia (1448,864 menjadi 725,961 U/mg; p<0,001), sedangkan kelompok PHF tetap stabil (1501,162–1699,519 U/mg). Perbedaan antara kelompok kontrol dan perlakuan bermakna pada hipoksia 1 hari (p=0,0148) dan sangat bermakna pada 7 serta 14 hari (p<0,001). Disimpulkan bahwa ekstrak PHF secara bermakna meningkatkan dan mempertahankan aktivitas enzim katalase jantung tikus Sprague Dawley yang mengalami hipoksia sistemik kronik.
HUBUNGAN KONSUMSI KOPI DENGAN TINGKAT KUALITAS TIDUR PADA MAHASISWA FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TARUMANAGARA Muhammad Fahmi Habibie; Susy Olivia Lontoh
Jurnal Muara Medika dan Psikologi Klinis Vol. 6 No. 1 (2026): Jurnal Muara Medika dan Psikologi Klinis (IN PRESS)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmmpk.v6i1.38139

Abstract

Kopi merupakan minuman yang dikonsumsi secara luas di berbagai negara dan menjadi salah satu sumber utama kafein. Pada mahasiswa kedokteran, konsumsi kopi umumnya dilakukan untuk membantu menjaga kewaspadaan, meningkatkan fokus, serta mendukung aktivitas belajar yang padat. Di sisi lain, kualitas tidur yang buruk merupakan masalah yang sering ditemukan pada mahasiswa kedokteran akibat tingginya tuntutan akademik dan dapat memengaruhi fungsi kognitif maupun performa belajar. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi hubungan antara konsumsi kopi dan kualitas tidur pada mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara. Penelitian ini menggunakan pendekatan analitik observasional dengan desain potong lintang (cross-sectional). Sebanyak 161 mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara angkatan 2023–2024 berpartisipasi sebagai responden. Data diperoleh melalui kuesioner mengenai kebiasaan konsumsi kopi dan instrumen Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI). Berdasarkan jumlah konsumsi harian, responden dikelompokkan menjadi konsumsi tidak berlebihan (≤1000 mL/hari) dan konsumsi berlebihan (>1000 mL/hari). Sementara itu, kualitas tidur dibedakan menjadi kategori baik (skor PSQI ≤5) dan buruk (skor PSQI >5). Hubungan antara kedua variabel dianalisis menggunakan uji Fisher's Exact. Rata-rata konsumsi kopi responden mencapai 397,67 ± 460,60 mL per hari, dengan sebagian besar responden (89,44%) berada pada kelompok konsumsi tidak berlebihan. Nilai rata-rata skor PSQI adalah 7,16 ± 2,74, yang menunjukkan bahwa 70,81% responden memiliki kualitas tidur yang tergolong buruk. Hasil analisis statistik memperlihatkan adanya hubungan yang signifikan antara konsumsi kopi dan kualitas tidur (p=0,025). Responden dengan konsumsi kopi berlebihan memiliki peluang sekitar 1,38 kali lebih besar untuk mengalami kualitas tidur yang buruk dibandingkan responden dengan konsumsi kopi yang tidak berlebihan. Berdasarkan temuan tersebut, dapat disimpulkan bahwa tingkat konsumsi kopi berhubungan secara bermakna dengan kualitas tidur pada mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara.
PROFIL KLINIS DAN HASIL AKHIR PENGOBATAN PASIEN TB PARU DI PUSKESMAS CILEUNGSI Ronaa Ulayya; Velma Herwanto
Jurnal Muara Medika dan Psikologi Klinis Vol. 6 No. 1 (2026): Jurnal Muara Medika dan Psikologi Klinis (IN PRESS)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmmpk.v6i1.38140

Abstract

Tuberkulosis (TB) paru merupakan salah satu masalah kesehatan utama di dunia. Pada tahun 2023, Indonesia menempati peringkat kedua dunia dengan estimasi insiden mencapai 1.090.000 kasus. Jawa Barat menjadi penyumbang kasus TB terbanyak secara nasional, dan Kabupaten Bogor tercatat sebagai salah satu wilayah dengan beban kasus tertinggi yang terus meningkat setiap tahunnya. Gambaran karakteristik demografis dan klinis pasien TB paru di fasilitas pelayanan kesehatan tingkat pertama masih terbatas diteliti, sehingga data dasar mengenai profil pasien di tingkat puskesmas diperlukan untuk mendukung perencanaan program eliminasi TB nasional. Metode: Penelitian ini merupakan studi deskriptif observasional dengan pendekatan potong lintang yang melibatkan 146 pasien TB paru dewasa (≥18 tahun) yang tercatat dalam register tuberkulosis di Puskesmas Cileungsi sepanjang tahun 2025. Data diperoleh secara sekunder dari Kartu Pengobatan Pasien TBC dan dianalisis secara deskriptif melalui frekuensi, persentase, rerata, dan standar deviasi. Hasil: Rerata usia subjek adalah 39,9 (±19,86) tahun, dengan dominasi laki-laki (57,5%), kelompok usia produktif 36–45 tahun (30,1%), serta profesi sebagai pekerja/karyawan (35,6%). Komorbiditas yang ditemukan meliputi Diabetes Mellitus (20,5%) dan HIV (6,8%). Sebagian besar pasien merupakan kasus baru (88,4%) dengan diagnosis terkonfirmasi bakteriologis (79,5%). Hasil akhir pengobatan menunjukkan mayoritas pasien sembuh (58,2%) atau pengobatan lengkap (21,9%), tanpa satu pun kasus gagal yang tercatat. Kesimpulan: Pasien TB paru di Puskesmas Cileungsi didominasi oleh laki-laki usia produktif dengan hasil akhir pengobatan yang cukup baik. Temuan ini menegaskan pentingnya penguatan deteksi dini, integrasi skrining TB-DM dua arah, serta pemantauan kepatuhan pengobatan sebagai dasar perencanaan program pengendalian TB yang lebih tepat sasaran di tingkat pelayanan primer.