cover
Contact Name
Heffry V. Dien
Contact Email
Jurnal.itpt@unsrat.ac.id
Phone
+62811432676
Journal Mail Official
Jurnal.itpt@unsrat.ac.id
Editorial Address
Program Studi Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Sam Ratulangi, Kampus Unsrat, Manado 95115
Location
Kota manado,
Sulawesi utara
INDONESIA
JURNAL ILMU DAN TEKNOLOGI PERIKANAN TANGKAP
Memuat hasil penelitian dan critical review (tinjauan kritis) tentang ilmu dan teknologi perikanan dan kelautan yang mencakup, tapi tidak terbatas pada bidang: rancang bangun dan hidrodinamika alat tangkap ikan, rancang bangun dan hidrodinamika kapal perikanan, operasi penangkapan ikan, meteo-oseanografi perikanan dan kelautan, daerah penangkapan ikan, biologi perikanan, pengelolaan perikanan dan kelautan
Articles 209 Documents
Studi efisiensi penggunaan bahan pada jaring insang rarape David Wakman; Isrojaty J. Paransa; Janny F. Polii
JURNAL ILMU DAN TEKNOLOGI PERIKANAN TANGKAP Vol. 2 No. 1: Juni 2015
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jitpt.2.1.2015.8336

Abstract

Jaring insang rarape tergolong ke dalam jaring insang dasar karena daya apungnya lebih kecil dibandingkan dengan daya tenggelamnya, yang pengoperasiannya dilakukan di sepanjang pesisir pantai pada perairan dangkal dengan memanfaatkan pasang surut. Konstruksi jaring insang rarape berbentuk empat persegi panjang dengan ukuran yang tidak terlalu lebar dan memiliki panjang yang lebih jika dibandingkan dengan alat tangkap sejenis. Untuk membuat jaring insang rarape hanya jumlah mata arah dalam yang sesuai dengan apa yang tertera pada label sedangkan panjang jaring dalam keadaan terentang sempurna dan besar mata jaring tidaklah sesuai. Demikian pula dengan tali, ukuran panjangnya tidak sesuai dengan informasi pasar. Dari fakta yang ditemukan ini, maka dapatlah dipahami bila nelayan terkadang kekurangan bahan dalam membuat 1 unit jaring dengan panjang dan dalam tertentu yang telah mereka rencanakan, kalau ukuran bahan tidak diketahui dengan pasti, maka nelayan akan kesulitan dalam menyediakan bahan sesuai dengan kebutuhan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, terdapat selisih antara informasi pasar dan perhitungan langsung pada sebagian besar bahan pembentuk jaring insang rarape; Perhitungan langsung dapat mereduksi jumlah bahan sesuai dengan kebutuhan pembuatan jaring insang rarape dan terdapat selisih biaya bahan sebesar Rp. 173.305,00 dalam setiap unit jaring atau Rp. 7.972.030,00 untuk keseluruhan 46 unit jaring yang dibangun. Kata-kata kunci: rarape, informasi pasar, jaring insang, ukuran bahan, tali
Analisis usaha perikanan pukat cincin pada KM. Genesaret yang berpangkalan di Pelabuhan Perikanan Pantai, Manado Mettrisk Yopie Kaihatu; Effendi P. Sitanggang; Janny F. Polii
JURNAL ILMU DAN TEKNOLOGI PERIKANAN TANGKAP Vol. 2 No. 1: Juni 2015
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jitpt.2.1.2015.8337

Abstract

Perikanan pukat cincin sudah cukup lama berkembang di Sulawesi Utara, namun permasalahan ekonomi usaha penangkapan pukat cincin ini masih belum dapat dituntaskan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis apakah usaha perikanan pukat cincin KM. Genesaret yang berpangkalan di Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Tumumpa Manado, Untuk memaksimumkan keuntungan maka harus dinaikkan sampai tingkat yang optimum, setiap biaya per satuan produksi harus diperkecil. Cara lain yang bisa dilakukan adalah menekan biaya operasi sekecil mungkin dalam arti bahwa dapat mengatur proses serta pemanfaatan waktu penangkapan yang tepat. Pendapatan bersih KM. Genesaret pada tahun 2012 sebesar Rp. 3.335.946.250, sedangkan pada tahun 2013 sebesar Rp. 1.581.622.750, dan  Pada tahun 2014 sebesar Rp. 1.275.993.000. Biaya investasi sejumlah Rp. 475.000.000. Dan biaya Tetap sejumlah Rp. 30.666.700  Analisis Revenue Cost Ratio untuk melihat kelayakan usaha, apakah usaha tersebut memberikan keuntungan atau tidak. Dengan membandingkan pendapatan bersih yang sudah diperoleh dengan biaya yang sudah dikeluarkan. usaha pajeko KM. Genesaret dari tahun 2012 – 2014 memperoleh keuntungan, karena nilai Revenue Cost Ratio lebih besar dari satu. Hal ini disebabkan karena pendapatan yang diperoleh pengusaha lebih besar dari biaya yang dikeluarkan. Jadi satu biaya operasi yang dikeluarkan dalam setiap operasi penangkapan menghasilkan 1 hingga 2 kali lipat keuntungan.
Struktur populasi ikan cakalang hasil tangkapan pukat cincin yang didaratkan di Pelabuhan Perikanan Pantai Tumumpa Kota Manado Nikodemus Toatubun; Johny Wenno; Ivor L. Labaro
JURNAL ILMU DAN TEKNOLOGI PERIKANAN TANGKAP Vol. 2 No. 2: Desember 2015
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jitpt.2.2.2015.9234

Abstract

Ikan cakalang (Katsuwonus pelamis) termasuk dalam kelompok ikan pelagis. Ikan ini banyak ditangkap oleh nelayan dengan menggunakan alat tangkap pukat cincin. Pemanfaatan sumberdaya ikan cakalang sudah banyak terjadi di Indonesia, khususnya Kota Manado. Oleh sebab itu, perlu adanya informasi tentang bagaimana struktur populasi dari ikan cakalang yang tertangkap oleh alat tangkap pukat cincin, sehingga informasi tersebut dapat digunakan untuk perkembangan perikanan, maupun untuk menentukan kebijakan pengelolaan sumberdaya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui struktur populasi ikan cakalang yang tertangkap oleh pukat cincin yang didaratkan di Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Tumumpa Manado dan mengetahui pola pertumbuhan ikan cakalang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa komposisi ukuran panjang ikan terbesar pada kelas 30,00-34,99 cm dengan pola pertumbuhan ikan cakalang mencapai panjang maksimum yang layak ditangkap (L∞) 38,03 cm dengan koefisien pertumbuhan (K) sebesar 19 % per tahun. Struktur populasi dari ikan cakalang pada perikanan pukat cincin di PPP Tumumpa terbagi dalam dua sub populasi di mana sub populasi dengan ukuran panjang lebih besar tertangkap lebih banyak dibanding dengan sub populasi dengan ukuran panjang lebih kecil. Kata-kata kunci: struktur populasi, ikan cakalang, hasil tangkapan, pukat cincin
Pengaruh ekstrak goldenfish pada umpan bubu dasar terhadap hasil tangkapan ikan-ikan karang Joandi C. Arendege; Emil Reppie; Ivor L. Labaro
JURNAL ILMU DAN TEKNOLOGI PERIKANAN TANGKAP Vol. 2 No. 2: Desember 2015
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jitpt.2.2.2015.9235

Abstract

Bubu dasar merupakan salah satu alat tangkap yang umum digunakan oleh masyarakat nelayan untuk menangkap ikan-ikan karang, karena konstruksinya sederhana, relatif murah dan mudah dioperasikan dengan kapal atau perahu ukuran kecil. Keberhasilan alat tangkap berumpan sangat ditentukan oleh aktivitas hidup ikan dalam hal mencari dan menangkap makanan. Pemberian ekstrak goldenfish pada umpan, diduga dapat meningkatkan kemampuan tangkap dari bubu dasar. Namun informasi ilmiah seperti ini belum banyak tersedia. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mempelajari pengaruh pemberian ekstrak goldenfish pada umpan bubu terhadap hasil tangkapan ikan-ikan karang; dan mengidentifikasi jenis-jenis ikan yang tertangkap. Penelitian ini dikerjakan di perairan pantai Kampung Bira, Kecamatan Tabukan Tengah, Kapupaten Kepulauan Sangihe; didasarkan pada metode eksperimental. Enam unit bubu bambu dioperasikan selama sembilan trip untuk mengumpulkan data; dimana tiga unit menggunakan umpan malalugis yang disuntikan dengan ekstrak goldenfish; dan tiga unit lainnya menggunakan umpan malalugis tanpa ekstrak goldenfish; dan data tangkapan dinalisis dengan uji t. Hasil tangkapan bubu selama penelitian berjumlah 176 ekor, sebanyak124 ekor tertangkap dengan umpan berekstrak dan 52 ekor tertangkap dengan umpan bubu tanpa ekstrak. Analisis uji t menunjukkan bahwa bahwa penggunaan umpan berekstrak pada bubu memberikan hasil tangkapan yang nyata lebih baik dibandingkan dengan umpan tanpa ekstrak pada bubu. Kata-kata kunci: bubu dasar, ekstrak goldenfish, umpan, ikan karang
Asosiasi ikan pada terumbu buatan di Teluk Tahuna Kabupaten Kepulauan Sangihe Wenseslaus Fransiscus Makawaehe; Lefrand Manoppo; Revols D.Ch. Pamikiran
JURNAL ILMU DAN TEKNOLOGI PERIKANAN TANGKAP Vol. 2 No. 2: Desember 2015
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jitpt.2.2.2015.9236

Abstract

Minimnya pengetahuan tentang ekologi terumbu buatan merupakan inti masalah perdebatan penggunaannya dalam manajemen sumberdaya perikanan; dan membatasi aplikasi habitat buatan tersebut sebagai alat mitigasi pada berbagai kerusakan lingkungan. Pemahaman ekologi yang lebih baik akan menuntun pada pembuatan desain dan penggunaan struktur buatan secara lebih efektif dan efisien. Hal ini juga akan menjawab pertanyaan tentang manfaat konstruksi habitat buatan pada berbagai kondisi lingkungan. Asosiasi ikan di terumbu buatan bervariasi, namun perlu dilakukan perbandingan jenis ikan yang berasosiasi pada saat air pasang dan air surut. Oleh karena itu penelitian ini bertujuan untuk Membandingkan struktur asosiasi ikan di terumbu buatan pada saat air pasang naik dan pasang surut di perairan Teluk Tahuna. Penelitian ini dilakukan di perairan Teluk Tahuna, Kabupaten Kepulauan Sangihe pada bulan April–Juni 2015; yang didasarkan pada metode deskriptif. Asosiasi ikan di terumbu buatan diamati dengan teknik Underwater visual census (UVC) oleh dua orang SCUBA divers sebanyak 4 kali. Kelimpahan spesies ikan di terumbu buatan dianalisis dengan indeks keragaman dan indeks dominansi. Berdasarkan jumlah individu total ikan yang berasosiasi dengan terumbu buatan, maka nilai tertinggi terdapat pada bulan purnama saat pasang tertinggi (156 ekor), kemudian diikuti bulan kuartir pasang tertinggi (120 ekor), bulan purnama surut terendah (107 ekor) dan bulan kuartir surut terendah (103 ekor). Keanekaragaman spesies ikan, baik pada bulan kuartir maupun pada bulan purnama masih tergolong sedang dan dominansi spesies tergolong rendah
Analisis beban pendingin cold storage PT. Sari Tuna Makmur Aertembaga Bitung, Sulawesi Utara Andie Murtono; Patrice N.I. Kalangi; Frangky E. Kaparang
JURNAL ILMU DAN TEKNOLOGI PERIKANAN TANGKAP Vol. 2 No. 2: Desember 2015
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jitpt.2.2.2015.10114

Abstract

Ikan adalah bahan organik yang sebagian besar sel penyusunannya terdiri atas enzim dan protein. Kedua zat ini merupakan media perkembang-biakan yang sangat baik bagi bakteri pembusuk. Setelah ditangkap, ikan harus diberi perlakuan tertentu untuk menghambat pertumbuhan bakteri tersebut. Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah meletakkan ikan pada wadah atau ruang yang dingin yaitu cold storage. Tujuan penelitian adalah 1) menghitung besar kapasitas penyimpanan cold storage; 2) menghitung besar beban pendingin cold storage PT. Sari Tuna Makmur. Kapasitas cold storage sesuai perhitungan dalah 123,5 ton tetapi yang digunakan hanya sampai 120 ton. Mesin pendingin melakukan 4 kali defrost secara otomat dalam sehari, masing-masing tiap setengah jam. Lama waktu mesin pendingin beroperasi (running time) dalam 1 hari adalah 22 jam. Total beban pendingin yang dibutuhkan adalah 82.717,32 Btu/hr. Kata-kata kunci: tuna, kapasitas, beban pendingin, cold storage, Bitung
Durasi keberadaan ikan di bawah cahaya lampu yang diamati melalui CCTV di perairan Teluk Manado, Sulawesi Utara Ekawati A. Sadubun; Ivor L. Labaro; Mariana E. Kayadoe
JURNAL ILMU DAN TEKNOLOGI PERIKANAN TANGKAP Vol. 2 No. 2: Desember 2015
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jitpt.2.2.2015.10401

Abstract

Masalah dalam penelitian ini adalah bagaimanakah tingkah laku ikan di permukaan air di daerah sumber cahaya; dan tujuan penelitian ini adalah untuk mempelajari tingkah laku ikan yang tertarik pada sumber cahaya melalui penggunaan teknologi CCTV. Penelitian dilakukan di perairan Teluk Manado, pada bulan April dan bulan Mei 2015, menggunakan metode deskriptif bersifat eksplorasi. Pengamatan terhadap keadaan ikan di permukaan dimulai sejak pemasangan lampu saat matahari hampir terbenam sekitar pukul 18.00 petang sampai dengan lampu dipadamkan saat dini hari sekitar pukul 05.30. Pada awal lampu mulai dinyalakan, ikan datang ke sumber cahaya, namun hanya sebentar kemudian menghilang lagi. Pukul 00.00 sampai 04.00 merupakan waktu yang baik untuk dilakukan penangkapan ikan dengan menggunakan rangsangan lampu di atas air. Pergerakan ikan terjadi secara tidak beraturan pada waktu mencari makan, namun pada kemunculannya, ikan tampaknya tetap bertahan di bawah sumber cahaya. Kata-kata kunci: tingkah laku ikan, durasi, cahaya lampu, CCTV, Teluk Manado
Studi tentang kerusakan dan lama perbaikan kapal ikan yang melakukan perbaikan di Bengkel Latih Kapal Perikanan Politeknik Kelautan dan Perikanan Bitung I Nyoman Subawa; Effendi P. Sitanggang; Janny F. Polii
JURNAL ILMU DAN TEKNOLOGI PERIKANAN TANGKAP Vol. 2 No. 2: Desember 2015
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jitpt.2.2.2015.10406

Abstract

Perawatan adalah gabungan dari kegiatan-kegiatan yang bertujuan untuk menjaga atau mengembalikan suatu peralatan menjadi seperti sediakala pada kondisi yang baik untuk dapat dipergunakan kembali. Penelitian ini dilakukan pada bulan November 2014 sampai dengan Februari 2015 di Bengkel Latih Kapal Perikanan milik Politeknik Kelautan dan Perikanan Bitung. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif dengan sampel kapal sebanyak 10 kapal ikan yang melaksanakan perbaikan. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan cara observasi langsung, dan metode wawancara. Jumlah kapal yang melakukan perbaikan di bengkel: kerusakan ringan 4 unit kapal (40 %), kerusakan sedang 3 unit kapal (30 %), dan kerusakan berat 3 unit kapal (30 %). Lama perbaikan berdasarkan jenis kerusakan kapal adalah kerusakan ringan rata-rata 6 hari, kerusakan sedang rata-rata 9 hari, dan kerusakan berat rata-rata 45 hari. Kata-kata kunci: kerusakan, perbaikan, bengkel perikanan, Politeknik KP Bitung.
Luas cakupan perpindahan rumpon di Teluk Manado Channia Mandagi; Patrice N.I. Kalangi; Alfret Luasunaung
JURNAL ILMU DAN TEKNOLOGI PERIKANAN TANGKAP Vol. 2 No. 3: Juni 2016
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jitpt.2.3.2016.11446

Abstract

ABSTRACT Fish aggregating devices (FADs) are one of the fishing devices widely used by traditional fishermen in the bay of Manado to attract a group of fish to stay around so they can be easily caught. Surface FADs are floating structures anchored to the sea bottom. The floating structure always moves within a coverage area. This research was done to study the FADs coverage area in Manado Bay in September and October 2015 based on FADs positions measured hourly. The results showed that the length of anchor rope determines the size of coverage area, and the movement of FADs did not have a clear pattern and did not form a circle. The unorganized pattern was due to currents, winds, or the combination of the two. Keywords: FADs, raft, Manado Bay   ABSTRAK Rumpon merupakan salah satu alat bantu penangkapan ikan yang banyak digunakan oleh masyarakat nelayan tradisional di daerah Teluk Manado untuk menarik kelompok ikan berkumpul sehingga mudah ditangkap. Rumpon permukaan merupakan bangunan terapung yang diikat pada suatu titik di dasar perairan (jangkar). Posisi rumpon di permukaan berpindah-pindah dalam suatu wilayah cakupan. Penelitian ini di lakukan untuk mengetahui luas cakupan-pergerakan rumpon di perairan Teluk Manado pada bulan September dan Oktober 2015 berdasarkan pengukuran posisi-posisi rumpon setiap jam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa panjang tali jangkar menentukan luas cakupan, dan pergerakan rakit rumpon tidak teratur dan tidak membentuk sebuah lingkaran. Ketidak-aturan ini disebabkan oleh arus, angin, atau kombinasi dari keduanya. Kata-kata kunci: rumpon, rakit, Teluk Manado
Ghost fishing pada perikanan bubu di Perairan Sario Tumpaan Teluk Manado Provinsi Sulawesi Utara Dimas P. Wijaya; Emil Reppie; Lefrand Manoppo; Aglius T.R. Telleng
JURNAL ILMU DAN TEKNOLOGI PERIKANAN TANGKAP Vol. 2 No. 3: Juni 2016
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jitpt.2.3.2016.11447

Abstract

ABSTRACT Fish trap made of bamboo is one of the common fishing gears used by fishermen in reef waters, due to its simple in construction, relatively inexpensive and easy to operate. If this trap got lost, however, it will give impact on fish mortality, with respect to ghost fishing. This study aims to determine the impact of ghost fishing traps to fish resources in Sario Tumpaan waters of Manado Bay; based on the descriptive method. Three units of bamboo traps placed in the bottom waters at a depth of about 6 m, and then observed by divers every day for a month. The impact of ghost fishing in the traps that have a net volume of 0.22 m3 was 4 fish per day, or 18 fish per day in traps that have a net volume of 1 m3. Keywords: ghost fishing, maximum catch, traps, Manado Bay   ABSTRAK Bubu yang terbuat dari bambu merupakan salah satu alat tangkap yang umum digunakan oleh nelayan untuk menangkap ikan di perairan karang, karena konstruksinya sederhana, relatif murah dan mudah dioperasikan. Tetapi jika alat ini hilang, maka akan memberikan dampak mortalitas ikan, sehubungan dengan ghost fishing. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dampak bubu yang bersifat ghost fishing terhadap sumberdaya ikan, di perairan Sario Tumpaan Teluk Manado; yang didasarkan pada metode deskriptif. Tiga unit bubu bambu dipasang di dasar perairan pada kedalaman sekitar 6 m, kemudian dikunjungi oleh penyelam setiap hari selama sebulan. Dampak ghost fishing pada bubu yang mempunyai volume bersih sebesar 0.22 m3 adalah 4 ekor ikan per hari, atau 18 ekor ikan per hari pada bubu yang mempunyai volume bersih 1 m3. Kata-kata kunci: ghost fishing, tangkapan maksimum, bubu, Teluk Manado

Page 8 of 21 | Total Record : 209