cover
Contact Name
Safni Elivia
Contact Email
safni@iphorr.com
Phone
+6282282204653
Journal Mail Official
mail@iphorr.com
Editorial Address
Jl. Karet, Sumber Rejo, Kec. Kemiling, Kota Bandar Lampung, Lampung 35155
Location
Kota bandar lampung,
Lampung
INDONESIA
JOURNAL OF Qualitative Health Research & Case Studies Reports
ISSN : 28079094     EISSN : 28078489     DOI : 10.56922
Core Subject : Health,
Jurnal penelitian kualitatif di bidang kesehatan berkaitan dengan penjelasan narasi atau cerita di balik suatu fakta atau kejadian. Disamping itu memuat laporan kegiatan penerapan asuhan keperawatan dibidang kesehatan meliputi kegiatan promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif pada semua tingkat usia. Terbit 2 kali dalam satu tahun bulan Juli dan Desember
Articles 369 Documents
Pengaruh pemberian telur ayam rebus dan tablet tambah darah terhadap peningkatan kadar hemoglobin pada remaja putri Indah Trianingsih; Marlina Marlina; Yusari Asih; Nelly Indrasari; Shindy Bella Aulia
JOURNAL OF Qualitative Health Research & Case Studies Reports Vol 6 No 5 (2026): May Edition 2026
Publisher : Published by: Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/quilt.v6i5.2849

Abstract

Background: Anemia among adolescent girls in Indonesia remains quite high. If left untreated, anemia in adolescents will persist into adulthood and significantly contribute to maternal mortality, premature birth, and low birth weight. Anemia in adolescents causes fatigue, decreased concentration, low academic achievement, and can reduce immunity. Purpose: To determine the effect of providing boiled chicken eggs and iron supplements on increasing hemoglobin levels in adolescent girls. Method: The study design used a quasi-experimental approach with a one-group pretest-posttest design. The sampling technique used a purposive sampling technique, with 18 adolescent girls. The treatment group was given boiled chicken eggs and iron supplements. The study period was 14 full days. Data analysis used a paired t-test. Results: This study showed that 13 respondents (72.2%) were anemic before the administration of boiled chicken eggs and iron supplements. After the administration of boiled chicken eggs and iron supplements, 2 respondents (11.1%) were anemic. The statistical test result showed a p-value of 0.000 <0.05. Conclusion: There is an effect of giving boiled chicken eggs and iron tablets on increasing hemoglobin levels in adolescent girls.   Keywords: Adolescent Girls; Chicken Eggs; Hemoglobin; Iron Tablets Supplementation.   Pendahuluan: Anemia pada remaja putri di indonesia masih cukup tinggi. Anemia pada remaja jika tidak tertangani akan berlanjut hingga dewasa dan berkontribusi besar terhadap AKI, bayi lahir prematur, dan bayi berat lahir rendah. Anemia pada remaja menyebabkan lekas lelah, konsentrasi belajar menurun, prestasi belajar rendah dan dapat menurunkan daya tahan tubuh. Tujuan: Untuk mengetahui pengaruh pemberian telur ayam rebus dan tablet tambah darah terhadap peningkatan kadar hemoglobin remaja putri. Metode: Desain penelitian menggunakan quasi eksperiment dengan pendekatan one group pretest posttest design. Teknik pengambilan sempel menggunakan purposive samping, sampel digunakan sebanyak 18 remaja putri. Kelompok perlakuan diberikan telur ayam rebus dan tablet tambah darah. Waktu penelitian ini adalah selama 14 hari penuh. Uji analisis data menggunakan Paired t-test. Hasil: Peneltian ini menunjukkan bahwa sebelum pemberian telur ayam rebus dan tablet tambah darah anemia 13 responden (72.2%). Sesudah pemberian telur ayam rebus dan tablet tambah darah anemia 2 responden (11.1%). Hasil uji statistik p value sebesar 0.000 <0.05. Simpulan: Ada pengaruh pemberian telur ayam rebus dan tablet tambah darah terhadap peningkatan kadar hemoglobin pada remaja putri.   Kata Kunci: Hemoglobin; Remaja Putri; Tablet Tambah Darah; Telur Ayam.
Tetanus laporan kasus Dona Putriandi; Ega Claudya Puspita; Erine Jushella; Ersa Julia; Fina Aulyasari; Pratiwi Hendro Putri
JOURNAL OF Qualitative Health Research & Case Studies Reports Vol 6 No 5 (2026): May Edition 2026
Publisher : Published by: Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/quilt.v6i5.2970

Abstract

  Background: Tetanus is an acute infectious disease caused by Clostridium tetani, which produces the neurotoxin tetanospasmin and causes muscle spasms and rigidity. Although preventable by immunization, tetanus is still found in developing countries. Purpose: To describe the clinical manifestations and management of generalized tetanus. Case: We report a 54-year-old man who complained of generalized stiffness since two days before hospitalization, accompanied by trismus and dysphagia. The patient had a history of a hand injury two weeks prior. Physical examination revealed risus sardonicus, trismus, and generalized muscle rigidity. The diagnosis was made based on the clinical presentation. The patient received human tetanus immunoglobulin, metronidazole, diazepam, and supportive therapy. Conclusion: Early diagnosis and appropriate management are crucial to prevent complications and improve the patient's prognosis.   Keywords: Clostridium Tetani; Generalized Tetanus; Muscle Spasm; Trismus.   Pendahuluan: Tetanus merupakan penyakit infeksi akut yang disebabkan oleh Clostridium tetani yang menghasilkan neurotoksin tetanospasmin dan menyebabkan spasme serta rigiditas otot. Meskipun dapat dicegah dengan imunisasi, tetanus masih ditemukan di negara berkembang. Tujuan: Untuk menggambarkan manifestasi klinis dan penatalaksanaan tetanus generalisata. Kasus: Dilaporkan seorang laki-laki usia 54 tahun dengan keluhan kaku seluruh tubuh sejak dua hari sebelum masuk rumah sakit disertai trismus dan disfagia. Pasien memiliki riwayat luka pada tangan dua minggu sebelumnya. Pemeriksaan fisik menunjukkan risus sardonicus, trismus, dan rigiditas otot generalisata. Diagnosis ditegakkan berdasarkan gambaran klinis. Pasien mendapatkan terapi human tetanus immunoglobulin, metronidazol, diazepam, serta terapi suportif. Simpulan: Penegakan diagnosis secara dini dan penatalaksanaan yang tepat sangat penting untuk mencegah komplikasi dan meningkatkan prognosis pasien.   Kata Kunci: Clostridium Tetani; Spasme Otot; Tetanus Generalisata; Trismus.
Faktor-faktor yang berhubungan dengan perilaku pencegahan tuberkulosis pada masyarakat Siti Salma Arsyad; Usi Lanita; Adila Solida; Arnild Augina Makarisce
JOURNAL OF Qualitative Health Research & Case Studies Reports Vol 6 No 5 (2026): May Edition 2026
Publisher : Published by: Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/quilt.v6i5.2979

Abstract

Background: Tuberculosis remains a public health problem that requires optimal preventive efforts at both the individual and community levels. Preventive behavior is influenced by various factors related to knowledge, attitudes, information exposure, and ease of access to health services. Purpose: To examine the factors associated with tuberculosis infection prevention behavior among communities. Method: A quantitative approach with a cross-sectional design was applied, in which data were collected using questionnaires and bivariate analysis was performed using the Chi-Square test to evaluate the relationships among the variables. Results: That tuberculosis infection prevention behavior was influenced by knowledge, attitudes, information exposure, and access to health services. Respondents with better understanding, positive attitudes, adequate information exposure, and easier access to health services tended to demonstrate better preventive behavior. Meanwhile, family support did not show a significant role in shaping tuberculosis infection prevention behavior among the community. Conclusion: Individual factors and access to health services play a crucial role in shaping tuberculosis infection prevention behavior among the community.   Keywords: Information Exposure; Knowledge; Prevention Behavior; Tuberculosis.   Pendahuluan: Tuberkulosis masih menjadi masalah kesehatan masyarakat yang memerlukan upaya pencegahan optimal di tingkat individu dan komunitas. Perilaku pencegahan dipengaruhi oleh berbagai faktor yang berkaitan dengan pemahaman, sikap, informasi, serta kemudahan akses layanan kesehatan. Tujuan: Untuk menelaah faktor-faktor yang terkait dengan tindakan pencegahan infeksi tuberkulosis pada masyarakat. Metode: Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan kuantitatif dengan desain cross sectional, Dimana dana dikumpulkan melalui kuesioner dan analisis bivariat dilakukan menggunakan uji Chi-Square untuk mengevaluasi hubungan antara variable-variabel tersebut. Hasil: Perilaku pencegahan infeksi tuberkulosis dipengaruhi oleh faktor pengetahuan, sikap, keterpaparan informasi, dan akses layanan kesehatan. Responden yang memiliki pemahaman lebih baik, sikap yang positif, paparan informasi yang memadai, serta kemudahan dalam mengakses layanan kesehatan cenderung menunjukkan perilaku pencegahan yang lebih baik. Sementara itu, dukungan keluarga belum menunjukkan peran yang bermakna dalam membentuk perilaku pencegahan infeksi tuberkulosis pada masyarakat. Simpulan: Faktor individu dan akses layanan berperan penting dalam membentuk perilaku pencegahan infeksi tuberkulosis pada masyarakat.   Kata Kunci: Keterpaparan Informasi; Pengetahuan; Perilaku pencegahan; Tuberkulosis.
Penatalaksanaan holistik pasien dengan diabetes mellitus dan hipertensi melalui pendekatan dokter keluarga: Laporan kasus Khoirul Fatkhul Rizqi; Reni Zuraida
JOURNAL OF Qualitative Health Research & Case Studies Reports Vol 6 No 5 (2026): May Edition 2026
Publisher : Published by: Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/quilt.v6i5.2756

Abstract

Background: Non-communicable diseases (NCDs) are long-term chronic conditions that arise from the interaction of genetic, environmental, physiological, and behavioral factors, with hypertension and diabetes mellitus being two highly prevalent diseases that contribute significantly to global morbidity. Purpose: To provide comprehensive and holistic family medicine services through the identification of risk factors and clinical problems, accompanied by evidence-based management using a patient-centered, family-involved, and community-oriented approach. Method: The analysis in this study is structured as a case report. Primary data were collected through anamnesis, physical examination, supporting examinations, and home visits. Evaluation was conducted based on a holistic diagnosis at the initial stage, throughout the study, and at the end of the study, using quantitative and qualitative approaches. Results: The analysis revealed that a 40-year-old female patient diagnosed with hypertension and type 2 diabetes mellitus had limited knowledge regarding complications and the implementation of a healthy lifestyle, as well as a lack of family understanding in supporting patient care. Educational interventions regarding both diseases were conducted and resulted in increased knowledge among the patient and her family. Conclusion: Holistic management tailored to a comprehensive initial diagnosis contributes to improvements in the overall final evaluation.   Keywords: Diabetes Mellitus; Education; Family Medicine; Hypertension.   Pendahuluan: Penyakit tidak menular (PTM) merupakan kondisi kronis jangka panjang yang timbul akibat interaksi faktor genetik, lingkungan, fisiologis, dan perilaku dengan hipertensi dan diabetes melitus sebagai dua penyakit dengan prevalensi tinggi yang berkontribusi besar terhadap morbiditas global. Tujuan: Untuk memberikan pelayanan dokter keluarga secara menyeluruh dan holistik melalui identifikasi faktor risiko serta permasalahan klinis, disertai penatalaksanaan berbasis evidence-based medicine dengan pendekatan yang berfokus pada pasien (patient-centered), melibatkan keluarga (family approach), dan berorientasi pada komunitas (community-oriented). Metode: Analisis dalam penelitian ini disusun dalam bentuk laporan kasus. Data primer dikumpulkan melalui autoanamnesis, pemeriksaan fisik, pemeriksaan penunjang, serta kunjungan rumah. Evaluasi dilakukan berdasarkan diagnosis holistik pada tahap awal, selama proses, dan pada akhir studi dengan menggunakan pendekatan kuantitatif dan kualitatif. Hasil: Analisis menunjukkan bahwa pasien perempuan berusia 40 tahun dengan diagnosis hipertensi dan diabetes melitus tipe 2 dengan keterbatasan pengetahuan terkait komplikasi dan penerapan gaya hidup sehat, serta kurangnya pemahaman keluarga dalam mendukung perawatan pasien. Intervensi edukatif mengenai kedua penyakit tersebut dilakukan dan menghasilkan peningkatan pengetahuan pada pasien dan keluarganya. Simpulan: Penatalaksanaan holistik yang disesuaikan dengan diagnosis awal komprehensif berkontribusi terhadap perbaikan pada evaluasi akhir secara menyeluruh.   Kata Kunci: Diabetes Mellitus; Edukasi; Hipertensi; Kedokteran Keluarga.
Hubungan tingkat aktivitas fisik harian dengan tingkat tekanan darah pada lansia Fanesa Amalia Susanti; Suri Salmiyati; Yuli Isnaeni
JOURNAL OF Qualitative Health Research & Case Studies Reports Vol 6 No 5 (2026): May Edition 2026
Publisher : Published by: Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/quilt.v6i5.2788

Abstract

Background: Hypertension in the elderly is a major health problem and is influenced by modifiable physical activity. Purpose: To determine the relationship between daily physical activity and blood pressure. Method: A cross-sectional correlational quantitative study was conducted on 40 elderly individuals (total sampling) using the GPAQ and a digital sphygmomanometer, analyzed using Spearman's Rank correlation. Results: There was a significant relationship between physical activity and blood pressure (p=0.002; r =−0.469). Conclusion: Physical activity is associated with blood pressure levels in the elderly.   Keywords: Blood Pressure; Elderly; Physical Activity.   Latar Belakang: Hipertensi pada lansia merupakan masalah kesehatan utama dan dipengaruhi oleh aktivitas fisik yang dapat dimodifikasi. Tujuan: Untuk mengetahui hubungan aktivitas fisik harian dengan tekanan darah lansia. Metode: Penelitian kuantitatif korelasional cross-sectional pada 40 lansia (total sampling) menggunakan GPAQ dan sphygmomanometer digital, dianalisis dengan Spearman Rank. Hasil: Terdapat hubungan signifikan antara aktivitas fisik dan tekanan darah (p=0.002; r=−0.469). Simpulan: Aktivitas fisik berhubungan dengan tingkat tekanan darah pada lansia.   Kata Kunci: Aktivitas Fisik; Lansia; Tekanan Darah
Hubungan riwayat merokok dengan kejadian penyakit paru obstruksi kronik (PPOK) Syavira Maeva Patricia; Widiastuti Widiastuti; Sigit Harun
JOURNAL OF Qualitative Health Research & Case Studies Reports Vol 6 No 5 (2026): May Edition 2026
Publisher : Published by: Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/quilt.v6i5.2801

Abstract

Background: Chronic Obstructive Pulmonary Disease (COPD) is a progressive respiratory disorder characterized by persistent airflow limitation that is not fully reversible. The condition is mainly caused by chronic inflammation due to long-term exposure to harmful particles or gases, particularly cigarette smoke. Purpose: This study aimed to analyze the relationship between smoking history and the incidence of COPD among patients. Method: This study used an analytic observational design with a cross-sectional approach. A total of 69 respondents were selected using purposive sampling. Data were collected through a smoking history questionnaire and medical record observation sheets. Statistical analysis was performed using the Chi-Square test and Fisher’s Exact Test with a significance level of 0.05. Results: Most respondents were former smokers, and the majority did not experience COPD. Statistical analysis showed no significant relationship between smoking history and COPD incidence (p > 0.05). Conclusion: There was no statistically significant relationship between smoking history and COPD incidence in this study. However, smoking remains an important theoretical risk factor for the development of COPD.   Keywords: Chi-Square; COPD; COPD Occurrence; Fisher’s Exact Test; Smoking History; Patients.   Pendahuluan: Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK) merupakan penyakit paru kronis progresif yang ditandai dengan hambatan aliran udara persisten dan menjadi salah satu penyebab kematian tertinggi di dunia. Merokok merupakan faktor risiko utama PPOK, dan tingginya prevalensi perokok di Indonesia berkontribusi terhadap meningkatnya beban penyakit ini. Tujuan: Untuk menganalisis hubungan antara riwayat merokok dengan kejadian PPOK pada pasien. Metode: Observasional analitik dengan pendekatan cross-sectional pada 69 responden yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan melalui kuesioner riwayat merokok dan observasi rekam medis Penelitian. Analisis menggunakan uji Chi-Square dan Fisher’s Exact Test dengan tingkat signifikansi 0.05. Hasil: Sebagian besar responden merupakan eks perokok dan mayoritas tidak mengalami PPOK. Hasil uji statistik menunjukkan tidak terdapat hubungan yang bermakna antara riwayat merokok dan kejadian PPOK (p > 0,05). Simpulan: Tidak ditemukan hubungan signifikan antara riwayat merokok dan kejadian PPOK dalam penelitian ini, meskipun secara teoritis merokok tetap menjadi faktor risiko utama PPOK.   Kata Kunci: Chi-Square; Fisher’s Exact Test; Kejadian PPOK; Pasien;  PPOK; Riwayat Merokok.
Hubungan kepatuhan konsumsi tablet Fe dengan kejadian anemia pada remaja putri kelas x Kana Safitri; Herlin Fitriana Kurniawati; Enny Fitriahadi
JOURNAL OF Qualitative Health Research & Case Studies Reports Vol 6 No 5 (2026): May Edition 2026
Publisher : Published by: Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/quilt.v6i5.2811

Abstract

Background: Anemia is a common health problem among female adolescents due to iron deficiency, particularly because of increased iron requirements during growth and blood loss during menstruation. One preventive measure is the regular consumption of iron tablets, but compliance rates remain low. Purpose: To determine the relationship between iron tablet consumption compliance and the incidence of anemia among female high school students in grade X at State High School 2 Yogyakarta. Method : The study used a quantitative cross-sectional design with a sample size of 124 respondents selected through purposive sampling. Data were collected through questionnaires and Hb level tests, then analyzed using the Chi-Square test. Results: Showed that 41.9% of respondents were compliant and 58.1% were non-compliant in consuming iron tablets. Most of the non-anemic respondents were compliant (96.2%), while the majority of anemic respondents were non-compliant (68.1%). The Chi-Square test showed a p-value = 0.000 (p < 0.05), indicating a significant relationship between compliance with iron tablet consumption and the incidence of anemia. Conclusion: Non-compliance with iron tablet consumption increases the risk of anemia in adolescent girls, thus requiring improved education and supervision in the implementation of iron supplementation programs.   Keywords: Adolescent Girls; Anemia; Compliance; Iron Tablets.   Pendahuluan: Anemia merupakan masalah kesehatan yang sering terjadi pada remaja putri akibat kekurangan zat besi, terutama karena peningkatan kebutuhan selama masa pertumbuhan dan kehilangan darah saat menstruasi. Salah satu upaya pencegahan adalah konsumsi tablet tambah darah (Fe) secara rutin, namun tingkat kepatuhan masih rendah. Tujuan: Untuk mengetahui hubungan kepatuhan konsumsi tablet Fe dengan kejadian anemia pada remaja putri kelas X. Metode: Penelitian menggunakan desain kuantitatif cross sectional dengan jumlah sampel 124 responden yang dipilih secara purposive sampling. Data dikumpulkan melalui kuesioner dan pemeriksaan kadar Hb, kemudian dianalisis menggunakan uji Chi-Square Hasil: Sebanyak 41.9% responden patuh dan 58.1% tidak patuh mengonsumsi tablet Fe. Sebagian besar responden tidak anemia adalah yang patuh (96.2%), sedangkan mayoritas responden anemia tidak patuh (68.1%). Uji Chi-Square menunjukkan p-value = 0.000 < 0.05. Simpulan: Ketidakpatuhan konsumsi tablet Fe meningkatkan risiko anemia pada remaja putri, sehingga diperlukan peningkatan edukasi dan pengawasan dalam pelaksanaan program suplementasi Fe.   Kata Kunci: Anemia; Kepatuhan; Remaja Putri; Tablet Fe.
Evaluasi kesiapsiagaan menghadapi bencana gempa bumi pada keluarga disabilitas fisik Athalia Salma; Wawan Febri Ramdani; Efi Fibriyanti
JOURNAL OF Qualitative Health Research & Case Studies Reports Vol 6 No 5 (2026): May Edition 2026
Publisher : Published by: Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/quilt.v6i5.2812

Abstract

Background: Indonesia, particularly Bantul Regency, faces a high earthquake risk due to the activity of the Opak Fault, as seen in the 2006 tragedy that killed more than 5,700 people. Given the significant impact of the 2006 tragedy, the role of the family is crucial as a key pillar in building preparedness and protecting family members with limited mobility during disasters. Purpose: To explore the preparedness experiences of families with members with physical disabilities in the face of earthquakes. Method: This qualitative phenomenological study involved 5-10 informants (family members/guardians) selected purposively. Data were collected through in-depth semi-structured interviews and analyzed using Creswell's six steps until data saturation was achieved. Results: Five main themes were identified: perceptions of disaster risk and impact, family preparedness measures, social support and information sources, barriers to preparedness, and hopes and future needs for families with physical disabilities. Conclusion: The preparedness of families with physical disabilities is driven by past trauma, but is still spontaneous and lacks technical preparation and preparedness training due to economic limitations and minimal preparedness training programs for families with physical disabilities.   Keywords: Earthquake; Family; Phenomenology; Physical Disability; Preparedness;   Pendahuluan: Indonesia, khususnya Kabupaten Bantul, memiliki risiko gempa tinggi akibat aktivitas Sesar Opak, seperti tragedi 2006 yang menewaskan lebih dari 5,700 jiwa. Mengingat dampak besar tragedi 2006, peran keluarga menjadi krusial sebagai pilar utama dalam membangun kesiapsiagaan, dan melindungi anggota keluarga dengan keterbatasan mobilitas saat bencana terjadi Tujuan: Untuk mengeksplorasi pengalaman kesiapsiagaan keluarga yang memiliki anggota penyandang disabilitas fisik dalam menghadapi gempa bumi. Metode: Penelitian kualitatif fenomenologi ini melibatkan 5-10 informan (keluarga/wali) yang dipilih secara purposive. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam semi-terstruktur dan dianalisis menggunakan enam langkah Creswell hingga mencapai saturasi data. Hasil: Teridentifikasi lima tema utama seperti persepsi risiko dan dampak bencana, tindakan kesiapsiagaan keluarga, dukungan sosial dan sumber informasi, hambatan kesiapsiagaan; dan harapan dan Kebutuhan Masa Depan bagi keluarga disabilitas fisik. Simpulan: Kesiapsiagaan keluarga disabilitas fisik didorong oleh trauma masa lalu, namun masih bersifat spontan dan minim persiapan secara teknis dan latihan kesiapsiagaan karena keterbatasan ekonomi dan minim program pelatihan kesiapsiagaan bagi keluarga disabilitas fisik.   Kata Kunci : Disabilitas Fisik; Fenomenologi; Gempa Bumi; Keluarga; Kesiapsiagaan.
Implementasi minum air hangat terhadap penurunan frekuensi batuk pada pasien PPOK Siska Uswatun Hasanah; Lisa Musharyanti; Sri Rejeki
JOURNAL OF Qualitative Health Research & Case Studies Reports Vol 6 No 5 (2026): May Edition 2026
Publisher : Published by: Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/quilt.v6i5.2853

Abstract

Background: Chronic Obstructive Pulmonary Disease (COPD) is often accompanied by chronic coughing, which disrupts patient comfort. One easily implemented non-pharmacological intervention is drinking warm water. Purpose: To determine the effectiveness of drinking warm water in reducing cough frequency in COPD patients. Method: The study subject was a COPD patient with a nursing diagnosis of ineffective airway clearance. The method used was a case study with a nursing process approach through observation, interviews, and physical examination. The intervention of drinking warm water was administered three times daily for three days. Results: A significant reduction in cough frequency and improvement in the patient's subjective complaints. It was concluded that drinking warm water is effective. Conclusion: Drinking warm water is effective as a supportive non-pharmacological therapy in COPD patients.   Keywords: Chronic Obstructive Pulmonary Disease (COPD; Cough Frequency; Warm Water.   Pendahuluan: Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK) sering disertai batuk kronis yang mengganggu kenyamanan pasien. Salah satu intervensi nonfarmakologis yang mudah diterapkan adalah minum air hangat. Tujuan: Untuk mengetahui implementasi minum air hangat terhadap penurunan frekuensi batuk pada pasien PPOK. Metode: Subjek penelitian adalah satu pasien PPOK dengan diagnosis keperawatan bersihan jalan napas tidak efektif. Metode yang digunakan adalah studi kasus dengan pendekatan proses keperawatan melalui observasi, wawancara, dan pemeriksaan fisik. Intervensi minum air hangat diberikan tiga kali sehari selama tiga hari. Hasil: Penurunan frekuensi batuk yang bermakna serta perbaikan keluhan subjektif pasien. Disimpulkan bahwa minum air hangat efektif Simpulan: Minum air hangat efektif sebagai terapi nonfarmakologis pendukung pada pasien PPOK.   Kata Kunci: Air Hangat; Frekuensi Batuk; Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK).
Pengaruh penggunaan aromaterapi jahe terhadap intensitas mual muntah pasca kemoterapi pada pasien kanker payudara: -- Sabrina Ajeng Mairanti; Sri Maryuni; Budi Antoro
JOURNAL OF Qualitative Health Research & Case Studies Reports Vol 6 No 5 (2026): May Edition 2026
Publisher : Published by: Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/quilt.v6i5.2891

Abstract

Background: Chemotherapy is the primary treatment for breast cancer patients and can cause side effects such as nausea and vomiting. Post-chemotherapy nausea and vomiting can reduce patient comfort and appetite, requiring appropriate management. One non-pharmacological intervention that can be used is ginger therapy. Purpose: To determine the effect of ginger therapy on the intensity of post-chemotherapy nausea and vomiting in breast cancer patients. Method: This study used a pre-experimental design with a single-group pretest-posttest approach. The sample consisted of 201 respondents selected using purposive sampling. The research instrument used was the Numeric Rating Scale (NRS). Data were analyzed using the Wilcoxon test. Results: The study showed a decrease in the intensity of nausea and vomiting after ginger aromatherapy administration, with a p-value of 0.010101. Conclusion: Ginger aromatherapy has an effect on the intensity of post-chemotherapy nausea and vomiting in breast cancer patients.   Keywords: Breast Cancer; Chemotherapy; Ginger Aromatherapy; Nausea Vomiting.   Pendahuluan: Kemoterapi adalah pengobatan utama untuk pasien kanker payudara dan dapat menyebabkan efek samping seperti mual dan muntah. Mual dan muntah pasca-kemoterapi dapat mengurangi kenyamanan dan nafsu makan pasien, sehingga memerlukan penanganan yang tepat. Salah satu intervensi non-farmakologis yang dapat digunakan adalah terapi jahe. Tujuan: Untuk menentukan efek terapi jahe terhadap intensitas mual dan muntah pasca-kemoterapi pada pasien kanker payudara. Metode: Studi ini menggunakan desain pra-eksperimental dengan pendekatan pretest-posttest satu kelompok. Sampel terdiri dari 201 responden yang dipilih menggunakan pengambilan sampel bertujuan. Instrumen penelitian yang digunakan adalah Skala Penilaian Numerik (NRS). Data dianalisis menggunakan uji Wilcoxon. Hasil:  penelitian menunjukkan penurunan intensitas mual dan muntah setelah pemberian aromaterapi jahe, dengan nilai p = 0.010101. Simpulan: Aromaterapi jahe memiliki efek pada intensitas mual dan muntah pasca kemoterapi pada pasien kanker payudara. Kata Kunci: Aromaterapi Jahe; Kanker Payudara; Kemoterapi; Mual Dan Muntah.