cover
Contact Name
Safni Elivia
Contact Email
safni@iphorr.com
Phone
+6282282204653
Journal Mail Official
mail@iphorr.com
Editorial Address
Jl. Karet, Sumber Rejo, Kec. Kemiling, Kota Bandar Lampung, Lampung 35155
Location
Kota bandar lampung,
Lampung
INDONESIA
JOURNAL OF Qualitative Health Research & Case Studies Reports
ISSN : 28079094     EISSN : 28078489     DOI : 10.56922
Core Subject : Health,
Jurnal penelitian kualitatif di bidang kesehatan berkaitan dengan penjelasan narasi atau cerita di balik suatu fakta atau kejadian. Disamping itu memuat laporan kegiatan penerapan asuhan keperawatan dibidang kesehatan meliputi kegiatan promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif pada semua tingkat usia. Terbit 2 kali dalam satu tahun bulan Juli dan Desember
Articles 369 Documents
Penerapan teknik perawatan luka modern pada pasien kanker rektum: Case report Muhammad Syafii Putra Kurniawan; Efi Fibriyanti
JOURNAL OF Qualitative Health Research & Case Studies Reports Vol 6 No 5 (2026): May Edition 2026
Publisher : Published by: Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/quilt.v6i5.3018

Abstract

Background: The primary treatment for advanced rectal cancer is generally surgical, such as the Miles procedure, which involves creating a colostomy. However, this surgery can lead to postoperative complications, such as impaired skin and tissue integrity and the risk of infection in the surgical wound and stoma area. Therefore, proper wound care is essential to prevent complications and accelerate wound healing. Purpose: To describe the implementation of nursing care for postoperative rectal cancer patients with impaired skin integrity and the risk of infection through aseptic wound care. Method: A case study was conducted on Mr. W, a 52-year-old patient diagnosed with stage III distal 1/3 rectal cancer who underwent a Miles procedure with a colostomy at Dr. Sardjito General Hospital, Yogyakarta. Data were collected through assessment, establishing a nursing diagnosis, planning, implementing, and evaluating nursing interventions. Results: The assessment revealed redness and mild bleeding in the stoma area and the abdominal surgical wound. The nursing diagnoses established were impaired skin and tissue integrity and the risk of infection. Nursing interventions included wound care using 0.9% NaCl solution, sterile dressing changes, and education on stoma care. Evaluation results showed a cleaner wound appearance, reduced exudate, and no signs of infection. Conclusion: Implementing aseptic wound care can help accelerate wound healing and prevent infectious complications in post-operative rectal cancer patients.   Keywords: Colostomy; Rectal Cancer; Risk Of Infection; Skin Integrity; Tissue Integrity; Wound Care.   Pendahuluan: Penatalaksanaan utama pada kanker rektum stadium lanjut umumnya dilakukan melalui tindakan pembedahan seperti prosedur Miles dengan pembuatan kolostomi. Namun, tindakan pembedahan tersebut dapat menimbulkan komplikasi pasca operasi, seperti gangguan integritas kulit dan jaringan serta risiko infeksi pada area luka operasi maupun stoma. Sehingga, perawatan luka yang tepat sangat diperlukan untuk mencegah komplikasi dan mempercepat proses penyembuhan luka. Tujuan: Untuk menggambarkan penerapan asuhan keperawatan pada pasien kanker rektum pasca operasi dengan masalah gangguan integritas kulit dan risiko infeksi melalui tindakan perawatan luka secara aseptik. Metode: Studi kasus dilakukan pada pasien Tn. W usia 52 tahun dengan diagnosis Ca recti 1/3 distal stadium III yang menjalani prosedur Miles dengan kolostomi di RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta. Pengumpulan data dilakukan melalui pengkajian, penetapan diagnosis keperawatan, perencanaan, implementasi, dan evaluasi tindakan keperawatan. Hasil: Pengkajian menunjukkan adanya kemerahan dan perdarahan ringan pada area stoma serta luka bekas operasi pada abdomen. Diagnosis keperawatan yang ditegakkan yaitu gangguan integritas kulit dan jaringan serta risiko infeksi. Intervensi keperawatan dilakukan melalui perawatan luka menggunakan larutan NaCl 0,9%, penggantian balutan secara steril, serta edukasi mengenai perawatan stoma. Hasil evaluasi menunjukkan kondisi luka tampak lebih bersih, eksudat berkurang, dan tidak ditemukan tanda infeksi. Simpulan: Penerapan perawatan luka secara aseptik dapat membantu mempercepat penyembuhan luka dan mencegah komplikasi infeksi pada pasien kanker rektum pasca operasi.   Kata Kunci: Kanker Rektum; Integritas Kulit, Integritas Jaringan; Kolostomi; Perawatan Luka; Risiko Infeksi.
Faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian scabies pada remaja M. Dimas; Anwar Arbi; Vera Nazhira Arifin
JOURNAL OF Qualitative Health Research & Case Studies Reports Vol 6 No 5 (2026): May Edition 2026
Publisher : Published by: Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/quilt.v6i5.3065

Abstract

Background: Scabies, a skin disease caused by Sarcoptes scabiei infestation, remains a public health problem, particularly in developing countries, including Indonesia. Adolescents are vulnerable to infection due to high levels of social interaction and sharing of personal items. Purpose: To determine the factors related to the incidence of scabies in adolescents. Method: This quantitative study, with a case-control design, employed a retrospective approach. The population comprised 318 adolescents, with a sample of 152 respondents (76 cases and 76 controls) selected using the Nursalam formula. Data were collected from August 11–20, 2024, and analyzed using the Chi-square test with SPSS version 25 to examine the relationship between knowledge, personal hygiene behavior, and physical water quality with scabies incidence. Results: There was a significant association between knowledge (p=0.01; OR=0.390) and personal hygiene behavior (p=0.02; OR=0.441) and the incidence of scabies. Adolescents with poor knowledge and personal hygiene were at higher risk of developing scabies. Meanwhile, physical water quality did not show a significant association (p>0.05). Conclusion: Personal hygiene knowledge and practices play a significant role in reducing the incidence of scabies in adolescents, while physical water quality has not been shown to have an impact. Promotional and preventive efforts through health education need to be increased.   Keywords: Knowledg; Personal Hygiene Behavior; Physical Water; Scabies Incidence.   Pendahuluan: Scabies merupakan penyakit kulit akibat infestasi Sarcoptes scabiei yang masih menjadi masalah kesehatan masyarakat, terutama di negara berkembang termasuk Indonesia. Remaja rentan tertular karena tingginya interaksi sosial dan perilaku berbagi barang pribadi. Tujuan: Untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian scabies pada remaja. Metode: Penelitian kuantitatif dengan desain case control menggunakan pendekatan retrospektif. Populasi berjumlah 318 remaja dengan sampel 152 responden (76 kasus dan 76 kontrol) yang dipilih menggunakan rumus Nursalam. Data dikumpulkan pada 11–20 Agustus 2024 dan dianalisis menggunakan uji Chi-square dengan SPSS versi 25 untuk melihat hubungan antara pengetahuan, perilaku personal hygiene, dan kualitas fisik air dengan kejadian scabies. Hasil: Terdapat hubungan signifikan antara pengetahuan (p=0.01; OR=0.390) dan perilaku personal hygiene (p=0.02; OR=0.441) dengan kejadian scabies. Remaja dengan pengetahuan dan personal hygiene kurang baik lebih berisiko mengalami scabies. Sementara itu, kualitas fisik air tidak menunjukkan hubungan bermakna (p>0.05). Simpulan: Pengetahuan dan perilaku personal hygiene berperan penting dalam menurunkan kejadian scabies pada remaja, sedangkan kualitas fisik air tidak terbukti berpengaruh. Upaya promotif dan preventif melalui edukasi kesehatan perlu ditingkatkan.   Kata Kunci: Kejadian Scabies; Kualitas Fisik Air; Pengetahuan; Perilaku Personal Hygine.
Determinan faktor risiko hipertensi: Studi analitis Dai Li; Tri Suci; Wienaldi Wienaldi
JOURNAL OF Qualitative Health Research & Case Studies Reports Vol 6 No 5 (2026): May Edition 2026
Publisher : Published by: Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/quilt.v6i5.3099

Abstract

Background: Hypertension is a major non-communicable disease and a significant global health problem due to its potential to cause serious complications such as heart disease, stroke, and kidney failure. The increasing prevalence of hypertension is influenced by various demographic, genetic, and behavioral risk factors. Purpose: To analyze the determinants of risk factors associated with the incidence of hypertension among patients. Method: This study used a quantitative approach with a cross-sectional design. The population consisted of patients who visited the Internal Medicine Clinic at Royal Prima Hospital Medan. A total of 153 respondents were selected using purposive sampling. Data were collected through structured questionnaires, interviews, and direct blood pressure measurements using a sphygmomanometer and stethoscope. Data were analyzed using univariate analysis, Chi-square test for bivariate analysis, and binary logistic regression for multivariate analysis. Results: Age (p=0.002), family history of hypertension (p=0.001), and a high-fat diet (p=0.005) were significantly associated with the incidence of hypertension. Meanwhile, gender (p=0.180) and smoking habits (p=0.090) did not show a statistically significant association. Multivariate analysis showed that age was the dominant factor associated with hypertension (OR=4.13; 95% CI: 1.61–10.59). Conclusion: Age, family history, and a high-fat diet are important determinants of hypertension.   Keywords: Age; Diet; Family History; Hypertension; Risk Factors.   Pendahuluan: Hipertensi merupakan salah satu penyakit tidak menular utama dan masalah kesehatan global yang signifikan karena berpotensi menyebabkan komplikasi serius seperti penyakit jantung, stroke, dan gagal ginjal. Meningkatnya prevalensi hipertensi dipengaruhi oleh berbagai faktor risiko demografis, genetik, dan perilaku. Tujuan: Untuk menganalisis faktor-faktor penentu risiko yang terkait dengan kejadian hipertensi pada pasien Metode: Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain cross-sectional. Populasi terdiri dari pasien yang berkunjung ke Poliklinik Penyakit Dalam di Rumah Sakit Royal Prima Medan. Sebanyak 153 responden dipilih menggunakan teknik sampling purposif. Data dikumpulkan melalui kuesioner terstruktur, wawancara, dan pengukuran tekanan darah langsung menggunakan sphygmomanometer dan stetoskop. Data dianalisis menggunakan analisis univariat, uji Chi-square untuk analisis bivariat, dan regresi logistik biner untuk analisis multivariat. Hasil: Menunjukkan bahwa usia (p=0,002), riwayat keluarga hipertensi (p=0,001), dan pola makan tinggi lemak (p=0,005) secara signifikan terkait dengan insidensi hipertensi. Sementara itu, jenis kelamin (p=0,180) dan kebiasaan merokok (p=0,090) tidak menunjukkan hubungan yang signifikan secara statistik. Analisis multivariat menunjukkan bahwa usia merupakan faktor dominan yang terkait dengan hipertensi (OR=4,13; 95% CI: 1,61–10,59). Simpulan: Usia, riwayat keluarga, dan pola makan tinggi lemak merupakan penentu penting terjadinya hipertensi.   Kata Kunci: Faktor Risiko; Hipertensi; Pola Makan; Riwayat Keluarga; Usia.
Faktor klinis dan demografis yang memengaruhi outcome pascaoperasi pada pasien bedah Xiong Cai; Wienaldi Wienaldi; Liena Liena
JOURNAL OF Qualitative Health Research & Case Studies Reports Vol 6 No 5 (2026): May Edition 2026
Publisher : Published by: Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/quilt.v6i5.3100

Abstract

Background: Postoperative success is an important indicator of postoperative outcomes used to assess the quality of surgical care in hospitals. Factors related to the surgical procedure also play a role in determining postoperative outcomes. The type of surgery, the complexity of the procedure, and the duration of the surgery can influence the patient's physiological condition during and after surgery. Purpose: To analyze factors influencing postoperative outcomes in hospitalized patients. Method: This study used a quantitative observational approach with an analytical approach. The study was conducted on inpatients at Royal Prima Medan Hospital in 2025. Bivariate and multivariate analyses were applied to assess the relationship between variables. Results: Age, type of surgery, duration of surgery, and comorbidity status were significantly associated with postoperative outcomes (p < 0.05), while gender had no significant effect (p = 0.542). Patients aged ≤45 years and without comorbidities mostly experienced optimal recovery, while patients >45 years with comorbidities or undergoing emergency surgery tended to require further monitoring. Multivariate analysis confirmed comorbidity as the dominant factor increasing the risk of requiring further monitoring (OR = 3.78; 95% CI: 1.59–9.11; p = 0.003). Conclusion: The role of physiological reserve, surgical complexity, and comorbidities influence the postoperative recovery process.   Keywords: Age; Clinical Risk; Comorbid Status; Duration of Surgery; Postoperative Outcomes; Type Of Surgery.   Pendahuluan: Keberhasilan pascaoperasi merupakan salah satu indikator penting dari outcome pascaoperasi yang digunakan untuk menilai mutu pelayanan bedah di rumah sakit. Faktor yang berkaitan dengan tindakan pembedahan juga berperan dalam menentukan outcome pascaoperasi. Jenis operasi, tingkat kompleksitas tindakan, serta lama operasi dapat memengaruhi kondisi fisiologis pasien selama dan setelah pembedahan. Tujuan: Untuk menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi outcome pascaoperasi pada pasien rawat inap. Metode: Jenis penelitian yang digunakan adalah observasional kuantitatif dengan pendekatan analitik yang dilakukan kepada pasien rawat inap di RSU Royal Prima Medan tahun 2025. Analisis bivariat dan multivariat diterapkan untuk menilai hubungan antarvariabel. Hasil: Usia, jenis operasi, lama operasi, dan status komorbid berhubungan signifikan dengan outcome pascaoperasi (p < 0.05), sedangkan jenis kelamin tidak berpengaruh signifikan (p = 0.542). Pasien usia ≤45 tahun dan tanpa komorbid mayoritas mengalami pemulihan optimal, sementara pasien >45 tahun dengan komorbid, atau menjalani operasi emergensi cenderung memerlukan pemantauan lanjutan. Analisis multivariat menegaskan status komorbid sebagai faktor dominan yang meningkatkan risiko perlunya pemantauan lanjutan (OR = 3.78; 95% CI: 1.59–9.11; p = 0.003). Simpulan: Peran cadangan fisiologis, kompleksitas operasi, dan kondisi medis penyerta memengaruhi proses pemulihan pascaoperasi.   Kata Kunci: Jenis Operasi; Lama Operasi; Outcome Pascaoperasi; Risiko Klinis; Status Komorbid; Usia.
Hubungan fungsi kognitif terhadap e-health literacy pada pasien dengan diabetes militus tipe 2 Rafikah Safitri; Aini Inayati; Wantonoro Wantonoro
JOURNAL OF Qualitative Health Research & Case Studies Reports Vol 6 No 5 (2026): May Edition 2026
Publisher : Published by: Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/quilt.v6i5.2761

Abstract

Background: Type 2 diabetes mellitus (T2DM) has experienced a significant increase globally and is a major health problem. High blood glucose levels in people with T2DM stimulate pro-inflammatory cytokine activity through various biochemical mechanisms within cells, ultimately leading to dysfunction of the blood vessel endothelium. Purpose: To determine the relationship between cognitive function and e-Health literacy in patients with T2DM. Method: This study was condudcted in primary health care in Indonesia using across-sectional design. The study was carried out at jetis community healt canter (puskesmas jetis), Yogyakarta city. The sample was taken by convenience sampling. Results: The mean age of respondents was 68.64 years, with an average duration of diabetes of 5.89 years. Most respondents were female (51.8%) and had completed senior high school education (65.9%). The results showed a significant positive correlation between cognitive function and e-Health literacy (p = 0.001; r = 0.487), indicating a moderate strength of association Conclusion: There is a significant relationship between cognitive function and e-Health literacy in older adults with Type 2 Diabetes Mellitus. Better cognitive function is associated with higher levels of e-Health literacy.   Keywords: Cognitive Function; Diabetes Mellitus; E-Health Literacy.   Pendahuluan: Diabetes mellitus Tipe 2 (DM Tipe 2) mengalami peningkatan yang signifikan secara global dan menjadi salah satu permasalahan kesehatan utama di dunia. Kadar glukosa darah yang tinggi pada penderita Diabetes Melitus akan merangsang aktivitas sitokin proinflamasi melalui berbagai mekanisme biokimia di dalam sel yang pada akhirnya menyebabkan disfungsi pada endotel pembulu darah. Tujuan: Mengetahui Hubungan Fungsi Kognitif terhadap e-Health Literasi Pada Pasien dengan DM Tipe 2. Metode: Penelitian kuantitatif menggunakan desain penelitian cross-sectional yang dilakukan di di wilayah kerja Puskesmas Jetis, Kota Yogyakarta yang berjumlah 85 responden. Variabel penelitian terdiri dari fungsi kognitif dan E-Health Literacy. Analisis data menggunakan analisis univariat dan bivariat menggunakan uji korelasi Spearman Rank. Spearman Rank Hasil: Rerata usia responden adalah 68.64 tahun dengan rerata lama menderita DM selama 5.89 tahun. Sebagian besar responden berjenis kelamin perempuan (51.8%) dan berpendidikan terakhir SMA (65.9%). Hasil uji korelasi menunjukkan terdapat hubungan signifikan antara fungsi kognitif dengan e-Health literacy (p = 0.001; r = 0.487). Nilai korelasi menunjukkan kekuatan hubungan sedang dengan arah positif. Simpulan: Terdapat hubungan yang signifikan antara fungsi kognitif dengan e-Health literacy pada lansia dengan Diabetes Melitu Tipe2.   Kata Kunci: Diabetes Militus; E-Health Literacy; Fungsi Kognirif.
Hubungan antara body image dengan pola makan pada remaja putri Amelia Mudhita Rahmaningtyas; Agustina Rahmawati; Ibrahim Rahmat
JOURNAL OF Qualitative Health Research & Case Studies Reports Vol 6 No 5 (2026): May Edition 2026
Publisher : Published by: Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/quilt.v6i5.2762

Abstract

Background: Adolescence is a transitional period marked by significant physical, psychological, and social changes, making adolescents vulnerable to problems related to eating patterns and body image. Irregular and unbalanced eating patterns in adolescent girls are often influenced by dissatisfaction with body shape or negative body image. This condition has the potential to cause various short-term and long-term health problems. Purpose: To determine the relationship between body image and eating patterns in adolescent girls. Method: This study used a quantitative correlation research method with a cross-sectional approach. The research sample consisted of all 36 female students in grade X at SMK Muhammadiyah Gamping, who were selected using total sampling technique. Data analysis was performed using univariate analysis to describe the characteristics of the respondents and each research variable, as well as bivariate analysis using Spearman's Rho test to determine the relationship between body image and dietary patterns. Results: The majority of adolescent girls had a moderate body image (44.4%). Furthermore, the majority of respondents' dietary patterns were in the adequate category (50%). The analysis showed a relationship between body image and eating patterns in adolescent girls, with a p-value of 0.002 (<0.005). Conclusion: This study demonstrates a relationship between body image and eating patterns in adolescent girls.   Keywords: Body Image; Eating Patterns; Teenage Girls.   Pendahuluan: Masa remaja merupakan periode transisi yang ditandai dengan perubahan fisik, psikologis, dan sosial yang signifikan, sehingga remaja rentan mengalami permasalahan terkait pola makan dan persepsi terhadap tubuh. Pola makan yang tidak teratur dan tidak seimbang pada remaja putri sering kali dipengaruhi oleh ketidakpuasan terhadap bentuk tubuh atau body image negatif. Kondisi ini berpotensi menimbulkan berbagai masalah kesehatan baik jangka pendek maupun jangka panjang. Tujuan: Untuk mengetahui hubungan antara body image dengan pola makan pada remaja putri. Metode: Metode penelitian kuantitatif korelasi dengan pendekatan cross-sectional. Sampel penelitian adalah seluruh siswi kelas X di SMK Muhammadiyah Gamping sebanyak 36 responden yang dipilih menggunakan teknik total sampling. Analisis data dilakukan secara univariat untuk menggambarkan karakteristik responden dan masing-masing variabel penelitian, serta analisis bivariat menggunakan uji Spearman’s Rho untuk mengetahui hubungan antara body image dan pola makan. Hasil: Sebagian besar remaja putri memiliki body image pada kategori sedang, yaitu sebesar 44.4%. Selain itu, pola makan responden sebagian besar berada pada kategori cukup dengan persentase sebesar 50%. Hasil analisis menunjukan bahwa terdapat hubungan antara body image dengan pola makan pada remaja putri dengan nilai p-value 0.002 (<0.005). Simpulan: Penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara body image dengan pola makan pada remaja putri.   Kata Kunci: Body Image; Pola Makan; Remaja Putri.
Peran mekanisme koping terhadap kualitas hidup pasien kanker payudara Salsabila Raudhatul Jannah; Diah Nur Anisa; Sarwinanti Sarwinanti
JOURNAL OF Qualitative Health Research & Case Studies Reports Vol 6 No 5 (2026): May Edition 2026
Publisher : Published by: Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/quilt.v6i5.2763

Abstract

Background: Breast cancer is a chronic disease that not only impacts the patient's physical condition but also psychological, social, and spiritual aspects, especially in patients undergoing chemotherapy. Purpose: To determine the relationship between coping mechanisms and quality of life in breast cancer patients undergoing chemotherapy. Method: This study used a quantitative design with a cross-sectional approach. The study population was all breast cancer patients undergoing chemotherapy, with a sample of 20 respondents drawn using a total sampling technique. Coping mechanisms were measured using the Brief COPE questionnaire, while quality of life was measured using the WHOQoL-BREF. Data analysis was performed using the Spearman Rank test. Results: The majority of respondents had adaptive coping mechanisms (60%) and a good quality of life (65%). The Spearman Rank test showed a significant relationship between coping mechanisms and quality of life in breast cancer patients (p-value = 0.036) with a moderate correlation (r = 0.471). Conclusion: Coping mechanisms are significantly associated with quality of life in breast cancer patients undergoing chemotherapy.   Keywords: Breast Cancer; Coping Mechanisms; Quality Of Life.   Pendahuluan: Kanker payudara merupakan salah satu penyakit kronis yang tidak hanya berdampak pada kondisi fisik pasien, tetapi juga memengaruhi aspek psikologis, sosial, dan spiritual, terutama pada pasien yang menjalani kemoterapi. Tujuan: Untuk mengetahui hubungan antara mekanisme koping dengan kualitas hidup pasien kanker payudara yang sedang menjalani kemoterapi. Metode: Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif dengan pendekatan cross sectional. Populasi penelitian adalah seluruh pasien kanker payudara yang menjalani kemoterapi, dengan jumlah sampel sebanyak 20 responden yang diambil menggunakan teknik total sampling. Pengukuran mekanisme koping dilakukan menggunakan kuesioner Brief COPE, sedangkan kualitas hidup diukur menggunakan WHOQoL-BREF. Analisis data dilakukan dengan uji Spearman Rank. Hasil: Sebagian besar responden memiliki mekanisme koping adaptif (60%) dan kualitas hidup dalam kategori baik (65%). Hasil uji Spearman Rank menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara mekanisme koping dengan kualitas hidup pasien kanker payudara (p-value = 0.036) dengan keeratan hubungan sedang (r = 0.471). Simpulan: Mekanisme koping berhubungan secara signifikan dengan kualitas hidup pasien kanker payudara yang menjalani kemoterapi.   Kata Kunci: Kanker Payudara; Kualitas Hidup; Mekanisme Koping.
Hubungan penggunaan gadget dengan sikap tentang perubahan sistem reproduksi pubertas Alfian Dwi Cahya; Diah Nur Annisa; Yuni Purwati
JOURNAL OF Qualitative Health Research & Case Studies Reports Vol 6 No 5 (2026): May Edition 2026
Publisher : Published by: Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/quilt.v6i5.2776

Abstract

Background: Adolescence is an important transitional phase marked by physical, psychological, and social changes, including the onset of puberty. During this period, adolescents often face various challenges in the form of emotional instability, the search for self-identity, and limited understanding of body changes and reproductive health. Purpose: To determine the relationship between gadget use and attitudes about changes in the reproductive system during puberty. Method: Quantitative research with a descriptive correlation design and a cross-sectional approach. The sample in this study used the Slovin formula and data collection techniques used purposive sampling techniques. Data analysis used univariate and bivariate analysis using the Sperm Rank test. Results: The Spearman rho correlation test between gadget use and attitudes about changes in the reproductive system during puberty obtained a correlation coefficient of 0.260 with a significance value (Sig. 2-tailed) of 0.023. Conclusion: There is a relationship between gadget use and attitudes about changes in the reproductive system during puberty.   Keywords: Attitudes About Changes In The Reproductive System; Gadget Use.   Pendahuluan: Masa remaja merupakan fase transisi penting yang ditandai oleh perubahan fisik, psikologis, dan sosial, termasuk terjadinya pubertas. Pada periode ini, remaja sering menghadapi berbagai tantangan berupa ketidakstabilan emosi, pencarian identitas diri, serta keterbatasan pemahaman mengenai perubahan tubuh dan kesehatan reproduksi. Tujuan: Untuk mengetahui hubungan penggunaan gadget dengan sikap tentang perubahan sistem reproduksi pubertas. Metode: Penelitian kuantitatif dengan desain deskriptif korelasi, dan pendekatan cross-sectional. Sample dalam penelitian ini menggunakan rumus slovin dan teknik pengambilan data menggunakan teknik purposive sampling. Analisis data menggunakan analisis univariat dan bivariat dengan menggunakan uji sperman rank. Hasil: Uji korelasi Spearman rho antara penggunaan gadget dengan sikap tentang perubahan sistem reproduksi pubertas diperoleh nilai koefisien korelasi sebesar 0.260 dengan nilai signifikansi (Sig. 2-tailed) sebesar 0.023). Simpulan: Terdapat hubungan antara penggunaan gadget dengan sikap tentang perubahan sistem reproduksi pubertas.   Kata Kunci: Penggunaan Gadget; Sikap Tentang Perubahan Sistem Reproduksi Pubertas.
Studi korelasi tingkat pengetahuan kesehatan dan gaya hidup sehat remaja Anisa Eka Saputri; Zubaida Rohmawati; Yuli Isnaeni
JOURNAL OF Qualitative Health Research & Case Studies Reports Vol 6 No 5 (2026): May Edition 2026
Publisher : Published by: Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/quilt.v6i5.2783

Abstract

Background: Adolescents are a vulnerable age group prone to developing unhealthy lifestyles that can continue into adulthood and increase the risk of non-communicable diseases. Purpose: This study aims to determine the relationship between health knowledge levels and healthy lifestyles among adolescents. Method: This study used a quantitative design with a cross-sectional approach. The research sample consisted of 75 respondents from grades X and XI at MAN 3 Kulon Progo, who were selected using cluster random sampling and randomized using a spinner application. The research instruments were questionnaires on health knowledge and healthy lifestyles, which had been tested for validity and reliability. Data analysis was performed using univariate and bivariate analysis with Kendall's Tau test. Results: Most respondents had good health knowledge (82.7%) and good healthy lifestyle (58.7%). The Kendall's Tau test showed a p-value of 0.307>0.05 with a correlation coefficient of 0.118, indicating no significant relationship between the two variables. Conclusion: The results of this study indicate no significant relationship between health knowledge and healthy lifestyle behaviors among adolescents. This finding suggests that having good knowledge does not necessarily lead to consistent healthy behaviors.   Keywords: Adolescents; Health Knowledge; Healthy Lifestyle.   Pendahuluan: Remaja merupakan kelompok usia yang rentan terhadap perkembangan gaya hidup tidak sehat yang dapat berlanjut hingga dewasa dan meningkatkan risiko penyakit tidak menular (PTM). Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara tingkat pengetahuan kesehatan dengan gaya hidup sehat pada remaja. Metode: Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif dengan pendekatan cross sectional. Sampel penelitian berjumlah 75 responden siswa kelas X dan XI MAN 3 Kulon Progo yang dipilih menggunakan teknik cluster random sampling dan diacak menggunakan aplikasi spinner. Instrumen penelitian berupa kuesioner tingkat pengetahuan kesehatan dan kuesioner gaya hidup sehat yang telah diuji validitas dan reliabilitasnya. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji Kendall’s Tau. Hasil: Sebagian besar responden memiliki tingkat pengetahuan kesehatan kategori baik (82.7%) dan gaya hidup sehat kategori baik (58.7%). Hasil uji Kendall’s Tau menunjukkan nilai p value sebesar 0.307>0.05 dengan koefisien korelasi sebesar 0.118 yang berarti tidak terdapat hubungan yang signifikan antara kedua variabel. Simpulan: Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak ada hubungan yang signifikan antara pengetahuan kesehatan dan perilaku gaya hidup sehat di kalangan remaja. Temuan ini menunjukkan bahwa memiliki pengetahuan yang baik tidak selalu mengarah pada perilaku sehat yang konsisten.   Kata Kunci: Gaya Hidup Sehat; Pengetahuan Kesehatan; Remaja.
Pengaruh edukasi swamedikasi terhadap pengetahuan swamedikasi rasional pada mahasiswa keperawatan Dewi Hastuti; Edy Suprayitno; Lutfi Nurdian Asnindari
JOURNAL OF Qualitative Health Research & Case Studies Reports Vol 6 No 5 (2026): May Edition 2026
Publisher : Published by: Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/quilt.v6i5.2805

Abstract

Background: Self-medication is a common practice in the community, but a lack of knowledge about rational self-medication can lead to irrational drug use and health risks. Purpose: To determine the effect of self-medication education on the level of rational self-medication knowledge of nursing students. Method: This study used a pre-experimental design with a one-group pretest-posttest approach. Thirty-one seventh-semester nursing students were selected using a proportional random sampling technique. Respondents' knowledge levels were measured using a 12-question self-medication knowledge questionnaire. The self-medication education intervention was delivered through a lecture method, accompanied by the distribution of booklets after the completion of the study as a long-term learning tool. Results: The pre-test showed that respondents' knowledge levels regarding rational self-medication were below the maximum level in the domains of drug classification, drug use, and drug storage. After the education, respondents' knowledge scores improved. The Wilcoxon test results showed that 93.55% of respondents experienced an increase in knowledge scores, with a statistically significant difference between pretest and posttest scores (Z = -4.706; p < 0.0001). Conclusion: Self-medication education significantly improved knowledge of rational self-medication among nursing students.   Keywords: Education; Nursing Students; Rational Drug Use; Self-Medication.   Pendahuluan: Swamedikasi merupakan praktik yang banyak dilakukan di masyarakat, namun kurangnya  pengetahuan swamedikasi rasional dapat menyebabkan penggunaan obat yang tidak rasional dan berisiko terhadap kesehatan. Tujuan: Untuk mengetahui pengaruh edukasi swamedikasi terhadap tingkat pengetahuan swamedikasi rasional mahasiswa keperawatan. Metode: Penelitian ini menggunakan desain pra-eksperimental dengan pendekatan one-group pretest-posttest. Jumlah responden sebanyak 31 mahasiswa keperawatan semester VII yang dipilih menggunakan teknik proportional random sampling. Tingkat pengetahuan responden diukur menggunakan kuisioner tingkat pengetahuan terhadap swamedikasi berisi 12 pertanyaan. Intervensi Edukasi swamedikasi diberikan melalui metode ceramah disertai dengan pembagian booklet setelah rangkain penelitian selesai sebagai media pembelajaran jangka panjang. Hasil: Pretest menunjukkan tingkat pengetahuan swamedikasi rasional responden menunjukkan tingkat pengetahuan awal yang belum mencapai skor maksimal pada domain penggolongan obat, penggunaan obat, dan penyimpanan obat. Setelah dilakukan edukasi terjadi peningkatan skor pengetahuan pada responden. Hasil uji Wilcoxon menunjukkan bahwa 93.55% responden mengalami peningkatan skor pengetahuan dengan perbedaan yang bermakna secara statistic antara nilai pretest dan posttest (Z = -4.706; p < 0.0001). Simpulan: Edukasi swamedikasi berpengaruh signifikan terhadap peningkatan pengetahuan swamedikasi rasional pada mahasiswa keperawatan.   Kata Kunci : Edukasi; Mahasiswa Keperawatan; Penggunaan Obat Rasional; Swamedikasi.