cover
Contact Name
Akhis Soleh Ismail
Contact Email
ismailakhissoleh@umm.ac.id
Phone
+6281222914790
Journal Mail Official
aras@umm.ac.id
Editorial Address
Department of Animal Science, University of Muhammadiyah Malang, Jalan Raya Tlogomas 246 Malang, Indonesia, 65144
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Journal of Animal Research and Applied Science
ISSN : 27222071     EISSN : 27222063     DOI : https://doi.org/10.22219/aras.v4i1.28223
Core Subject : Health, Agriculture,
ARAS is a scientific journal covering animal science aspects. ARAS receives manuscripts encompass a broad range of research topics in tropical or sub-tropical animal sciences: - animal nutrition - animal reproduction, breeding and genetic - animal feed sciences - animal productions and technology - animal post-harvest and by-product biotechnology - animal behavior and welfare - animal microbiology - animal physiology - veterinary - livestock farming system, socio-economic, and policy.
Articles 42 Documents
PENGARUH PEMBERIAN TEH BAJAKAH (Spatholobus Littoralis Hassk) DAN KUNYIT (Curcuma Domestica) PADA AIR MINUM TERHADAP PERFORMA BROILER: THE EFFECT OF GIVING BAJAKAH TEA (Spatholobus Littoralis Hassk) AND TURMERIC (Curcuma Domestica) IN DRINKING WATER ON BROILER PERFORMANCE Arafat, Sri Sabtu Yeti Md.Mt. Arafat; Pujiastuti, Asih Pujiastuti; Wulandari, Lies Tiarini Wulandari
Journal of Animal Research and Applied Science Vol. 5 No. 2 (2024): Desember 2024
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/aras.v5i2.37286

Abstract

Penelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian teh bajakah dan kunyit terhadap performa broiler. Ternak yang digunakan adalah ayam broiler umur sehari (DOC) sebanyak 100 ekor, dengan bobot badan rata-rata 48,4 gram/ekor. Perlakuan yang diterapakan sebagai berikut : T0 (air minum tanpa larutan teh bajakah + kunyit), T1 (air minum +10 ml larutan teh bajakah + kunyit/ 1 liter air), T2 (air minum + 20 ml larutan teh bajakah + kunyit/ 1 liter air), T3 (air minum + 30 ml larutan teh bajakah + kunyit/ 1 liter air).Parameter yang diamati adalah konsumsi pakan, pertambahan bobot badan, konversi pakan, mortalitas dan indeks performa. Penelitian menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dan 5 ulangan (masing-masing 5 ekor), jika hasil berbeda nyata dilanjutkan dengan Uji Duncan. Perlakuan diberikan pada umur 14 hari sampai 35 hari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian teh bajakah dengan kunyit pada air minum berpengaruh tidak nyata (P>0,05) terhadap konsumsi pakan (176,31 gram/ekor/hari), pertambahan bobot badan (810,91/gram) dan konversi pakan (1,52),namun secara numerik menunjukkan ada kenaikan terhadap pertambahan bobot badan dengan mortalitas rendah (3%),dan indeks performa kategori baik. Kesimpulan pemberian teh bajakah dan kunyit pada air minum berpengaruh tidak nyata terhadap performa broiler dan memiliki mortalitas yang rendah serta indeks performan dengan kategori baik. Pemberian perlakuan sampai dengan taraf 30 ml dalam air minum bermanfaat sebagai antioksidan dan meningkatkan performa broiler.
SUHU KERUT DAN KETAHANAN RETAK KULIT KELINCI (Oryctolagus cuniculus) SAMAK PADA BERBAGAI KONSENTRASI MIMOSA: WRINKLE TEMPERATURE AND CRACK RESISTANCE OF RABBIT (Oryctolagus cuniculus) TANNING SKIN IN VARIOUS MIMOSA CONCENTRATIONS Prayogo, Muhammad Bangun; Pancapalaga, Wehandaka; Hartatie, Endang Sri
Journal of Animal Research and Applied Science Vol. 5 No. 1 (2024): Juni 2024
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/aras.v5i1.37932

Abstract

Potensi kulit kelinci di Indonesia sangat melimpah. Itu membuat peningkatan limbah kulit. Oleh karena itu, perlu dilakukan penyamakan agar kulit kelinci dapat bertahan lebih lama. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui mimosa pengaruh konsentrasi terhadap suhu kerut dan ketahanan retak untuk mengetahui tingkat konsentrasi mimosa terbaik. Metode penelitian yang digunakan adalah rancangan acak lengkap (RAL), dengan perlakuan konsentrasi mimosa : 5%, 10%, 15%, 20%. Variabel yang diukur adalah suhu kerut dan ketahanan retak. Hasil yang diperoleh dari pengaruh konsentrasi mimosa terhadap nilai suhu kerut tertinggi 20% sebesar 84,33 oC dan terendah pada 5% adalah 70,33 oC. Diperoleh hasil konsentrasi terhadap ketahanan retak nilai terendah 5% adalah 4,75 dan nilai tertinggi 20% adalah 5,32. Kesimpulan dari hasil penelitian, semakin tinggi tingkat mimosanya diberikan, hal ini akan meningkatkan suhu kerutan pada kulit kelinci tetapi tidak berpengaruh menuju tahan retak. Kadar konsentrasi mimosa terbaik adalah sebesar 20%
PENGARUH LAMA PERENDAMAN PEWARNA ALAMI EKSTRAK KULIT BUAH NAGA (Hylocereuspolyrhizus) TERHADAP KEKUATAN BENGKUNG DAN KELEMASAN KULIT KELINCI SAMAK MIMOSA : THE EFFECT OF LONG SOAKING OF NATURAL DYEING DRAGON FRUIT (Hylocereuspolyrhizus) SKIN EXTRACT ON THE BOND STRENGTH AND WEAKNESS OF MIMOSA RABBIT SKIN Isnaini, Arif Bakhtiar; Pancapalaga, Wehandaka; Hartatie, Endang Sri
Journal of Animal Research and Applied Science Vol. 5 No. 1 (2024): Juni 2024
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/aras.v5i1.38253

Abstract

Pewarnaan merupakan proses akhir pengolahan kulit untuk memperindah penampakan produk kulit tersamak. Pewarnaan kulit pada umumnya dilakukan dengan menggunakan pewarna sintetis, akan tetapi penggunaan nya banyak menimbulkan dampak negatif berupa pencemaran pada lingkungan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh perendaman ektrak kulit buah naga terhadap kekuatan bengkung dan kelemasan kulit kelinci samak mimosa dan mencari lama perendaman terbaik pada proses pewarnaan. Penelitian ini menggunakan kulit kelinci sebagai materi dan ekstrak kulit buah naga sebagai pewarna alami dengan perlakuan lama perendaman selama 60, 90 dan 120 menit dengan variable control perendaman selama 5 menit dengan napthol. Parameter yang di analisis meliputi kekuatan bengkung dan kelemasan. Hasil pewarnaan alami ekstrak kulit buah naga menghasilkan kulit kelinci samak mimosa dengan nilai kekuatan bengkung 3 (retakan) perendaman 5 menit menggunakan nepthol, dan 2 (sedikit retek) pada perendaman 60, 90, dan 120 menit. Dengan menggunakan penilaian standard grey scale dan kelemasan 2.09 mm sampai 2.56 mm. Analisis Kruskal wallis yang dilakukan menunjukkan pengaruh nyata (P < 0.05) selanjutnya dari uji Mann Whitney menunjukkan lama perendaman terbaik adalah 60 menit jika ditinjau dari kekuatan bengkung. Kesimpulan dari penelitian ini adalah lama perendaman ekstrak kulit buah naga pada proses pewarnaan kulit kelinci samak mimosa memberikan pengaruh yang sangat nyata terhadap kekuatan bengkung tetapi berpengaruh tidak nyata pada uji kelemasan. Adapun lama waktu perendandaman terbaik adalah 60 menit
EVALUASI PERFORMA PRODUKSI LEGUM KEMBANG TELANG (Clitoria ternatea) MENGGUNAKAN PUPUK FOSFOR DAN MOLIBDENUM: EVALUATION OF LEGUM PRODUCTION PERFORMANCE OF Clitoria ternatea (Clitoria ternatea) USING PHOSPHORUS AND MOLYBDENUM FERTILIZERS Prihutomo; Umami, Nafiatul; Kurniawati, Asih; Sulistijo, Edi Djoko; Gusri, Rahmat; Yoga Kertiyasa, I Kadek
Journal of Animal Research and Applied Science Vol. 5 No. 2 (2024): Desember 2024
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/aras.v5i2.38462

Abstract

Kembang telang (Clitoria ternatea) adalah tanaman leguminosa unggulan yang tersebar luas di wilayah tropis dengan kandungan nutrisi tinggi sehingga sangat baik untuk mendukung produksi ternak ruminansia. Fosfor dan molibdenum adalah unsur hara esensial yang berkontribusi dalam meningkatkan kualitas tanaman ini. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dampak pemberian fosfor dan molibdenum dalam berbagai variasi dosis terhadap produksi berat kering dan karakteristik tumbuh Clitoria ternatea. Penelitian dilakukan menggunakan rancangan acak lengkap pola split-plot dengan 9 perlakuan dan 3 ulangan, terdiri dari BC1D0, BC1D1, BC1D2, BC2D0, BC2D1, BC2D2, BC3D0, BC3D1, BC3D2 dengan variabel yang diamati yaitu Berat Kering Daun, Berat Kering Batang, Berat Kering Akar, Berat Kering Total Hijauan, Nisbah Berat Kering Daun dengan Berat Kering Batang, serta Nisbah Berat Kering Total Hijauan dengan Berat Kering Akar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian pupuk fosfor 0,44 g/polibag dan molibdenum 0,00789 g/polibag (D2) memberikan pengaruh signifikan (P<0,05) terhadap Berat Kering Daun sebesar 33,74 gram, Berat Kering Batang 42,65 gram, Berat Kering Akar 17,54 gram, Berat Kering Total Hijauan 76,39 gram, Nisbah Berat Kering Daun dengan Berat Kering Batang sebanyak 1,63 %, serta Nisbah Berat Kering Total Hijauan dengan Berat Kering Akar sebanyak 0,23 % pada tanaman leguminosa Clitoria ternatea. Kesimpulan dari penelitian ini bahwa penggunaan dosis pupuk fosfor sebanyak 0,44 g/polibag dan molibdenum 0,00789 g/polibag (D2) dapat meningkatkan produksi berat kering dan karakteristik tumbuh pada legum Clitoria ternatea. Selain itu, penanaman dengan menggunakan dua tanaman legum Clitoria ternatea per polibag (BC2) dapat menghasilkan produksi berat kering tertinggi, dikarenakan rendahnya persaingan antar tanaman dalam memanfaatkan unsur hara.
KANDIDAT GEN TERKAIT TOLERANSI PANAS PADA SAPI: REVIEW: CANDIDATE GENES FOR HEAT TOLERANCE IN CATTLE: A REVIEW Rastosari, Adisti; Afriyani, Tinda; Edwin, Tevina; Utami, Yolani
Journal of Animal Research and Applied Science Vol. 5 No. 2 (2024): Desember 2024
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/aras.v5i2.38350

Abstract

Adaptasi sapi terhadap stres akibat panas sangat penting untuk mempertahankan produktivitas sapi dalam menghadapi perubahan iklim global. Tinjauan ini menyintesiskan temuan dari berbagai penelitian untuk memberikan wawasan tentang mekanisme genetik yang mendasari toleransi terhadap panas dan potensi penerapannya dalam program pemuliaan. Penelitian terkini telah mengidentifikasi beberapa gen kandidat dan polimorfisme genetik dalam ATP1A1, ATP1B2, HSP70A1A, HSP70, HSP90AA1, HSPB6, HSF1, MYO1A, dan BCKDHA berkontribusi secara signifikan terhadap toleransi panas pada sapi.
UJI AKTIVITAS ANTIBAKTERI EKSTRAK MAKROALGA Kappaphycus Striatum TERHADAP BAKTERI Pseudomonas Aerugimunosa: TESTING THE ANTIBACTERIAL ACTIVITY OF Kappaphycus Striatum MACROALGA EXTRACT AGAINST Pseudomonas Aerugimunosa BACTERIA Al-Farabi, M. Naufal; Ratna, Isna Sri; Marshanda, Cindy; Putri, Velia Rima; Amelia, Restu; Putri, Elinda Triana
Journal of Animal Research and Applied Science Vol. 5 No. 2 (2024): Desember 2024
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/aras.v5i2.38546

Abstract

Kappaphycus striatum seaweed is a seaweed better known as "sakul" which produces carrageenan. It has been widely cultivated because it has resistance to disease and is more adaptive than K. alvarezii. This research aims to find out how much the macroalgae Kappaphycus striatum can become an antibiotic from Pseudomonas sp bacteria. The method begins with maceration, taking the extract through a water bath, followed by making NA (Nutrient Agar) media for anti-bacterial testing The first 24 hours for a concentration of 10,000 the value of the inhibition zone is 2.17, then a concentration of 5,000 has a value of 2.10, a concentration of 1,000 has a value of 1.50, a concentration of 100 has a value of 1.60 and a concentration of 10 has a value of 1.50 2.07 for a concentration of 10,000, 1.63 for a concentration of 5,000, 1.60 for a concentration of 1,000, a value of 2.93 for a concentration of 100 and 1.13 for a concentration of 10. On the third day, the inhibition zone results were obtained with an average of 2.70 at a concentration of 10,000, 1.87 at a concentration of 5,000, 0.70 at a concentration of 10,000. concentration of 1,000, 1.37 at a concentration of 100 and 2.60 at a concentration of 10. Conclusions from the study This is Kappaphycus striatum, commonly known as "sakul," is a species of seaweed that is resistant to the bacteria Pseudomonas sp. The results showed that the inhibition zone varied at various concentrations over three days, with the highest inhibition zone at 2.70 mm for a concentration of 10,000 µg/ml on the third day, but with slightly fluctuating values
PERBANDINGAN SISTEM PEMELIHARAAN MODEL KANDANG POSTAL DAN KANDANG BATERAI TERHADAP HEN DAY PRODUCTION (HDP) AYAM PETELUR: COMPARISON OF POSTAL CAGE AND BATTERY CAGE MAINTENANCE SYSTEMS FOR HEN DAY PRODUCTION (HDP) OF LAYING CHICKENS Hadi, Suryo; Pernanda, Dani
Journal of Animal Research and Applied Science Vol. 5 No. 2 (2024): Desember 2024
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/aras.v5i2.39042

Abstract

Kandang merupakan salah satu hal penting yang harus disedikan dalam melakukan pemeliharaan ternak  baik ternak unggas, ruminansia maupun  jenis aneka ternak lainnya. Dalam segitiga produksi ternak yang terdiri dari Breeding, Feeding dan Managemen, manajemen pemeliharaan merupakan salah satu bagian dari keberhasilan usaha beternak ayam petelur. Termasuk dalam pemilihan dan penggunaan bentuk kandang yang tepat merupakan bagian dari kegiatan manajemen pemeliharaan ayam petelur. Studi literatur menyebutkan bahwa penggunaan bentuk kandang yang tepat dapat meningkatkan pendapatan dan menekan biaya produksi ayam petelur. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan produksi ayam petelur yang dipelihara dalam kandang free-range (umbaran) dan kandang postal. Penelitian ini menggunakan materi ayam petelur strain Isa brown umur 39 sampai umur 43 minggu, sebanyak 96 ekor, dilakukan selama 5 minggu dimulai dari tanggal 25 Desember 2021 sampai dengan tanggal 28 Januari 2022. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa ayam petelur yang dipelihara menggunakan kandang postal memiliki rata-rata Hen day production (HDP) sebesar 88%, sedangkan yang dipelihara dengan kandang baterai memiliki HDP sebesar 78%. Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa pemeliharaan ayam petelur menggunakan kandang postal menghasilkan HDP lebih baik dibandingkan dengan pemeliharaan menggunakan kandang baterai.
PENGARUH PENAMBAHAN TEPUNG KACANG SACHA INCHI (PLUKENITIA VOLUBILIS) TERHADAP KONSUMSI PAKAN DAN PRODUKSI SUSU KAMBING SAPERA (CAPRA AEGAGRUS HIRCUS): THE EFFECT OF SACHA INCHI (PLUKENETIA VOLUBILIS) SEED MEAL SUPPLEMENTATION ON FEED INTAKE AND MILK PRODUCTION OF SAPERA GOATS (CAPRA AEGAGRUS HIRCUS) Rustandi, Akbar Adithya
Journal of Animal Research and Applied Science Vol. 6 No. 2 (2025): Desember 2025
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/aras.v6i2.41399

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan tepung kacang Sacha Inchi (Plukenitia volubilis) terhadap konsumsi pakan dan produksi susu kambing Sapera. Materi penelitian terdiri dari 16 ekor kambing Sapera periode laktasi ke 1 hingga 3 yang dipelihara selama 30 hari. Metode penelitian yang digunakan adalah metode eksperimen dengan model Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dan 4 ulangan, setiap unit percobaan berisi 1 ekor kambing. Perlakuan yang diberikan meliputi P0 (pakan konsentrat + 0% tepung kacang Sacha Inchi), P1 (pakan konsentrat + 5% tepung kacang Sacha Inchi), P2 (pakan konsentrat + 10% tepung kacang Sacha Inchi), P3 (pakan konsentrat 50 kg +15% tepung kacang Sacha Inchi). Variabel yang diamati pada penelitian ini adalah efisiensi pakan dan produksi susu. Data yang diperoleh dianilisis menggunakan Analisis Variansi (Anova). Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan tepung kacang Sacha Inchi berpengaruh tidak nyata (P>0,05) terhadap konsumsi pakan dan produksi susu pada kambing Sapera. Konsumsi pakan berkisar antara 2.230,46 – 2.376,48 g/ekor/hari dan produksi susu berkisar antara 724,67 – 1.157,11 ml/ekor/hari. Kesimpulan penelitian ini adalah penambahan tepung kacang Sacha Inchi berpengaruh tidak nyata terhadap konsumsi pakan dan produksi susu kambing Sapera.
PERAN STAKEHOLDER DALAM PEMBERDAYAAN PETERNAK KAMBING DAN DOMBA MELALUI PROGRAM UTAMA MITRA USAHA PARIPURNA (STUDI KASUS KOPERASI PRODUSEN PERSERIKATAN PETERNAK KAMBING DOMBA YOGYAKARTA): THE ROLE OF STAKEHOLDERS IN EMPOWERING GOAT AND SHEEP FARMERS THROUGH THE MAIN PROGRAM OF COMPREHENSIVE BUSINESS PARTNERSHIP (A CASE STUDY OF THE YOGYAKARTA GOAT AND SHEEP FARMERS ASSOCIATION PRODUCER COOPERATIVE) Normanto, Heru
Journal of Animal Research and Applied Science Vol. 6 No. 2 (2025): Desember 2025
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/aras.v6i2.42079

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji peran para pemangku kepentingan (stakeholder) dalam pelaksanaan Program Penguatan Usaha Mikro Unggulan Peternakan (PUMUP) pada Koperasi Produsen PPKDY. Penelitian ini berkontribusi terhadap pengembangan model kolaborasi stakeholder dalam pemberdayaan peternak melalui koperasi produsen dengan mengidentifikasi interaksi peran sebagai fasilitator, akselerator, dan pembuat kebijakan dalam mendukung keberlanjutan program. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan pendekatan Miles dan Huberman yang meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa stakeholder yang terlibat dalam Program PUMUP meliputi Mahir Farm, CV Agroinvestama, Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada, Dinas Koperasi Usaha Kecil dan Menengah D.I. Yogyakarta, Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan D.I. Yogyakarta, Balai Pelatihan Kesehatan Hewan Cinagara, Balai Besar Veteriner Wates, Balai Besar Perbibitan Ternak Unggul dan Hijauan Pakan Ternak (BPTUHPT) Baturraden, Balai Besar Pelatihan Peternakan Batu, serta Balai Penerapan Modernisasi Pertanian Yogyakarta. Para stakeholder tersebut menjalankan peran sebagai pembuat kebijakan (policy creator), koordinator, fasilitator, akselerator, dan implementator. Peran fasilitator merupakan peran yang paling dominan, ditandai dengan intensitas fasilitasi yang tinggi dalam merealisasikan kegiatan Program PUMUP, serta didukung oleh peran akselerator melalui penyediaan bantuan sarana peternakan yang tidak terjangkau oleh anggota koperasi, sehingga mempercepat pencapaian tujuan program
LIGHT EXPOSURE AND ITS IMPACT ON GROWTH AND PRODUCTIVITY IN BEEF CATTLE: A REVIEW: LIGHT EXPOSURE AND ITS IMPACT ON GROWTH AND PRODUCTIVITY IN BEEF CATTLE: A REVIEW Gifari, Zaid Al; Firhamsah, Ikhwan; Nurjanah, Luluk Lailatun
Journal of Animal Research and Applied Science Vol. 6 No. 2 (2025): Desember 2025
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/aras.v6i2.42513

Abstract

Tinjauan ini bertujuan mengevaluasi peran paparan cahaya terhadap produktivitas sapi potong melalui sintesis literatur ilmiah yang diterbitkan antara tahun 2010 hingga 2025. Data dikumpulkan dari basis data internasional (Elsevier, SpringerLink, Wiley, PubMed, Google Scholar) serta jurnal terakreditasi Indonesia yang terindeks SINTA dan Scopus dengan kata kunci terkait cahaya, ritme sirkadian (circadian rhythm), efisiensi pakan, reproduksi, dan produktivitas sapi potong. Analisis menunjukkan bahwa cahaya berperan penting dalam mengatur fisiologi sapi potong melalui sinkronisasi ritme sirkadian yang dimediasi oleh melatonin dan insulin-like growth factor 1 (IGF-1), yang berpengaruh terhadap pertumbuhan, metabolisme, dan fungsi reproduksi. Fotoperiode panjang (16–18 jam pencahayaan) terbukti mempercepat pubertas, meningkatkan fertilitas, serta memperbaiki efisiensi konsumsi pakan, sedangkan paparan ultraviolet-B (UV-B) yang terkontrol meningkatkan sintesis vitamin D, sistem imun, dan produktivitas keseluruhan. Manajemen pencahayaan meliputi sinar matahari alami, penerangan buatan, dan penaungan juga berperan dalam mendukung fungsi metabolik, mengurangi stres panas (heat stress), dan menstabilkan perilaku melalui pengaturan ritme sirkadian. Namun, ditemukan kesenjangan signifikan di Indonesia berupa ketiadaan standar nasional terkait intensitas, durasi, dan paparan UV-B dalam sistem kandang sapi potong. Kesimpulannya, pengelolaan pencahayaan yang strategis merupakan intervensi multifaset berbiaya rendah yang berpotensi meningkatkan efisiensi pakan, pertumbuhan, reproduksi, dan kesehatan sapi potong. Penelitian lanjutan diperlukan untuk mengembangkan pedoman teknis yang sesuai dengan kondisi iklim tropis dan keragaman genetik sapi guna mendukung produktivitas dan kesejahteraan hewan secara berkelanjutan