cover
Contact Name
Reza Akbar
Contact Email
rezabimbelaplus@gmail.com
Phone
+6281254504942
Journal Mail Official
jurnal.falsafah@iaisambas.ac.id
Editorial Address
Sekretariat Rumah Jurnal Ilmiah Institut Agama Islam Sultan Muhammad Syafiuddin Sambas Jl. Raya Sejangkung No. 126, Sebayan-Sambas, Kabupaten Sambas, Prov. Kalimantan Barat, Indonesia, 79460
Location
Kab. sambas,
Kalimantan barat
INDONESIA
Jurnal Ilmiah Falsafah
ISSN : 24603635     EISSN : 27762793     DOI : https://doi.org/10.37567
Jurnal Ilmiah Falsafah is an academic journal that emphasizes actual issues related to Philosophy, Theology, and Humanities. Jurnal Ilmiah Falsafah focuses on several topics including 1) Religion and Philosophy, 2) Philosophy of the Quran, 3) Theology and Aqidah, 4) Interpretation of the Quran, 5) Interpretation Methodology, 6) Phenomenology of Religion, 7) Comparative Religion 8) Living Quran dan Hadits, 9) History of Religion, and 10) History of Interpretation.
Articles 52 Documents
TAWARAN PEMIKIRAN ‘KIRI ISLAM’ HASSAN HANAFI DAN RELEVANSINYA DALAM PENDEKATAN METODE DAKWAH DI SAMBAS Dulhadi, Dulhadi
JURNAL ILMIAH FALSAFAH: Jurnal Kajian Filsafat, Teologi dan Humaniora Vol. 6 No. 2 (2020): JURNAL ILMIAH FALSAFAH
Publisher : Institut Agama Islam Sultan Muhammaad Syafiuddin Sambas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37567/jif.v6i2.890

Abstract

Hassan Hanafi is one of the Islamic thinkers who has developed a multidisciplinary method of thinking, at least combining Islamic scientific traditions and Western methods which emphasize methodological aspects, his popular thought is the conception of the Islamic Left which offers the idea of ​​renewal that includes four central ideas: revitalization of classical Islamic treasures, answer the challenges of civilization, seek revolutionary elements in religion and create Islamic national integrity. These four ideas are then relevant to the author by looking at the methods of preaching, especially in Sambas. The aspect that can be seen in this thinking is the ability to see the achievements of the previous ulama/dai who have been able to preach Islam so that it becomes the majority religion in the Sambas community. The ability to integrate Islamic teachings and aspects that smell local in this term is called local wisdom. In expressing this idea, the writer uses an intellectual history approach that focuses on the existence of Zeitgeist (the soul of the times) of the past Sambas community.
PERKEMBANGAN TAFSIR TIMUR TENGAH ZAMAN NABI SAMPAI KONTEMPORER Maulana, Maulana
JURNAL ILMIAH FALSAFAH: Jurnal Kajian Filsafat, Teologi dan Humaniora Vol. 6 No. 2 (2020): JURNAL ILMIAH FALSAFAH
Publisher : Institut Agama Islam Sultan Muhammaad Syafiuddin Sambas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37567/jif.v6i2.947

Abstract

The scholars sincerely and diligently continue to explore the meaning behind the existing verses. Thousands of books of interpretation have been written in their hands, with various schools of interpretation, methods and styles. The schools of interpretation such as the interpretation of bi al-ma'tsur or ar-Riwayah, the interpretation of bi al-ijtihadi or dirayah and the interpretation of bi isyari. Likewise, the patterns that color their books are linguistic, fiqh, tasawuf, social (al-Adab al-Ijtima'i), kalam (iqtiqadi), philosophy, tarbawi, morality and science ('ilmi). While the methods used by the commentators include: Tahli, Ijmali, muqaran, and maudu'i. The history of the development of interpretation from time to time. At the time of the Prophet and his companions, the interpretation had not been recorded properly, even the interpretation was still mixed with the traditions of the Prophet. At the time of the tabi'in and tabi' tabi'in the interpretation of the Koran began to develop rapidly. This was marked by the establishment of commentary study centers in Mecca, Medina and Kufa. In contemporary times the study of the study of the Koran is in accordance with the conditions of its interpreters. This is because in contemporary times it contains the paradigm that the Koran Salih li kulli era wa eats. This assumption implies that the socio-religious problems in the contemporary era will still be answered by the Qur'an by contextualizing interpretations continuously.
DEMOKRASI DI TENGAH KONFLIK KEPENTINGAN MASYARAKAT SIPIL DAN PEMERINTAH DALAM KASUS WADAS-JAWA TENGAH: Tinjauan Berdasarkan Konsep Politik Demokrasi Jean-Jacques Rousseau Yulius Edward Indra Doris; Leopoldus Giovani Sitohang
JURNAL ILMIAH FALSAFAH: Jurnal Kajian Filsafat, Teologi dan Humaniora Vol. 8 No. 2 (2022): JURNAL ILMIAH FALSAFAH
Publisher : Institut Agama Islam Sultan Muhammaad Syafiuddin Sambas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37567/jif.v8i2.1193

Abstract

Fokus penulis dalam artikel ini ialah untuk membahas demokrasi di tengah konflik kepentingan masyarakat sipil dan pemerintah dalam kasus Wadas menurut perspektif Jean-Jacquaes Rousseau. Rousseau merupakan teoritikus demokrasi yang pertama mengatakan bahwa demokrasi adalah suatu sistem di mana kehendak umum menjadi kepentingan bersama. Demokrasi berarti adalah kuasa berada di tangan rakyat, dan negara yang menjalankan prinsip demokrasi sebagai roh dari sistem politiknya menunjukkan bahwa kedaulatan berada di tangan rakyat. Metode yang digunakan dalam penyusunan karya tulis ini adalah metode kualitatif dengan perspektif studi atau kajian pustaka. Dalam kasus Wadas, terjadi konflik demokrasi antara kelompok rakyat dengan pemerintah yang adalah pilihan atau suara rakyat. Persoalan ini dalam pemikiran Jean-Jacques Rousseau disebut kehendak umum dan kehendak semua. Kedua hal ini menjadi penting guna untuk melihat kepentingan kedua kelompok ini. Konsep politik Rousseau memiliki relevansi penting bagi penyelesaian secara demokratis konflik di Wadas, sebab dengan menemukan gagasan-gagasan utama dan penting dalam pemikiran Rousseau tentang politik damai dan demokrasi serta relevansinya dengan situasi di Wadas, maka akan ditemukan langkah-langkah atau solusi praktis yang dapat diusahakan bersama demi terciptanya demokrasi di Wadas.
MENYOAL KASUS PELECEHAN SEKSUAL TERHADAP SANTRIWATI DI BANDUNG : Dalam Perspektif Teori Keadilan John Rawls Yoseph Koverino Gedu Blareq; Fabrizio Olie Valdo Metodius
JURNAL ILMIAH FALSAFAH: Jurnal Kajian Filsafat, Teologi dan Humaniora Vol. 8 No. 2 (2022): JURNAL ILMIAH FALSAFAH
Publisher : Institut Agama Islam Sultan Muhammaad Syafiuddin Sambas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37567/jif.v8i2.1194

Abstract

Paper ini memfokuskan pembahasan pada kasus pemerkosaan terhadap beberapa santriwati di Bandung yang dilakukan oleh seorang ustadz dalam hubungannya dengan keadilan dalam perspektif pemikiran John Rawls. Ketidakadilan yang harus diterima oleh para korban pemerkosaan ini adalah bukti nyata bahwa diskriminasi berupa tindakan pemerkosaan di Indonesia masih kerap terjadi. Paper ini dikerjakan menggunakan metodologi kualitatif dengan perspektif studi atau kajian pustaka dari buku-buku dan jurnal-jurnal yang relevan. Keadilan harusnya menjadi hak bagi setiap manusia. Oleh sebab itu, para santriwati yang menjadi korban pemerkosaan sudah selayaknya mendapat keadilan. Pelaku pemerkosaan kasus ini harus mendapat hukuman yang seadil-adilnya. Konsep keadilan ini akan ditinjau dalam perpektif John Rawls yang secara khusus membahas tentang keadilan dalam bukunya yang berjudul “The Theory of Justice (Teori Tentang Keadilan)”. John Rawls mengungkapkan bahwa keadilan itu adalah hak dari setiap manusia tanpa memandang perbedaan dari setiap pribadi, entah itu kekuasaan ataupun jabatan. Keadilan harus ditegakkan tanpa membeda-bedakan. Pemerkosaan terhadap santriwati adalah fenomena diskriminasi terhadap wanita yang menunjukkan bahwa keadilan masih menjadi sesuatu yang harus diperjuangkan.
PATRIARKAL DAN FEMINIS PADA AYAT RELASI LAKI-LAKI DAN PEREMPUAN: (Studi Komparatif Penafsiran Al-Qur’an dan Al-Kitab) Nor Kifli, Muhammad
JURNAL ILMIAH FALSAFAH: Jurnal Kajian Filsafat, Teologi dan Humaniora Vol. 7 No. 1 (2021): JURNAL ILMIAH FALSAFAH
Publisher : Institut Agama Islam Sultan Muhammaad Syafiuddin Sambas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37567/jif.v7i1.1449

Abstract

This article tries to discuss the position or relationship between men and women in Islam and Christianity. Departing from previous research that has not yet been carried out, there is no comparison regarding the relationship between men and women in Islam and Christianity. In fact, discussions on this theme do not only occur among Muslims but also among Christians. This study uses a literature study with primary data in the form of the holy book, namely the Qur'an with several interpretations of the scholars and also uses the Al-Kitab and secondary data is taken from the literature related to this topic. The results of this study indicate that the adherents of Islam and Christianity can be categorized into two groups in terms of reading the verses of the relationship between men and women. The first group is a group whose readings use a patriarchal approach. The interpretation in this patriarchal form is mostly done by men, so that in the interpretation products they are more likely to prioritize their needs as a man, without looking at the actual needs of a woman so that it seems discriminatory. The second is the group whose readings use a feminist approach. This interpretation with a feminist approach is actually a response to a patriarchal interpretation that tends to exclude, discriminate and dominate women. This group with a feminist approach tries to interpret and explain texts that seem hierarchical and conclude that basically men and women have the same position.
PARADIGMA KEADILAN DALAM PENEGAKAN HUKUM NEGARA BERDASARKAN TEORI KEBENARAN PERSPEKTIF FILSAFAT HUKUM ISLAM Rifky Adji Sukmana; Kurniati Kurniati; Lomba Sultan
JURNAL ILMIAH FALSAFAH: Jurnal Kajian Filsafat, Teologi dan Humaniora Vol. 8 No. 2 (2022): JURNAL ILMIAH FALSAFAH
Publisher : Institut Agama Islam Sultan Muhammaad Syafiuddin Sambas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37567/jif.v8i2.1589

Abstract

Dalam setiap penegakan hukum pastinya senantiasa memperjuangkan nilai-nilai keadilan. Keadilan secara substantif sangat diperlukan, karena pada setiap perkara mengandung adanya pelanggaran hak. Negara berkewajiban melindungi hak-hak dan kepentingan warganya agar tidak terampas oleh pihak lain. Negara melalui unsur penegak hukum (hakim) melakukan proses penegakan hukum yang pada umumnya melibatkan dua pihak yang bersengketa sejatinya berusaha mencari kebenaran dalam rangka menegakkan hukum dan keadilan. Berdasarkan peraturan perundang-undangan dalam hukum negara sendiri, kebenaran yang dicari adalah kebenaran formal. Tetapi dalam prakteknya, kebenaran formal belum bisa mencerminkan kebenaran bagi para pencari keadilan. Maka dari itu perlu juga mengakomodir sebuah peradilan agama dan hukum islam dalam proses penegakan hukum agar tercapai nilai-nilai keadilan dan kebenaran secara substantif demi melindungi hak dan kepentingan warga negara. Meskipun Peradilan Agama saat ini terus berkembang dan sejajar dengan Peradilan Negara. Tetapi dalam praktik bidang penegakan hukum sendiri, konsep dan filosofi hukum islam senantiasa tidak mewarnai penyelesaian perkara yang terjadi, melainkan mengedepankan asas kebenaran formalnya hukum negara. Oleh karena itu diperlukannya mengkaji konsep keadilan dalam penegakan hukum negara berdasarkan teori kebenaran perspektif filsafat hukum islam.
LAHIRNYA NEGARA ISLAM SEKULER TURKI DAN IDE PEMBAHARUAN MUSTAFA KEMAL Desi Yuniarti; Syamzan Syukur; Susmihara Susmihara
JURNAL ILMIAH FALSAFAH: Jurnal Kajian Filsafat, Teologi dan Humaniora Vol. 9 No. 1 (2023): JURNAL ILMIAH FALSAFAH
Publisher : Institut Agama Islam Sultan Muhammaad Syafiuddin Sambas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37567/jif.v9i1.1599

Abstract

Tulisan ini membahas tentang gagasan ide pembaharuan Mustafa Kemal di Turki dan transformasi Turki menjadi negara modern yang sekuler. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu kajian kepustakaan dengan menggunakan pendekatan kualitatif. Analisis yang digunakan untuk menganalisis data yaitu content analysis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Mustafa Kemal adalah salah seorang tokoh pembaru Islam qualified abad ke-19. Dia telah memberikan konstribusi besar terhadap perubahan pola pikir masyarakat Turki. Dengan mengubah tatanan lama yang sudah mentradisi dalam kerajaan Turki Usmani, dan membentuknya ke dalam wajah baru dengan corak pemikiran yang sesungguhnya tidak mengubah “Islam” tetapi hanya mengubah mindset dan tatanan kehidupan umat Islam untuk di sesuaikan dengan tuntutan perkembangan zaman. Nilai-nilai Islam terbentuk, khilafah, republik bahkan sekuler. Sekalipun sebenarnya simbol juga penting, tetapi yang lebih penting adalah umatnya mampu membawakan substansi keislaman dalam setiap gerak kehidupan masyarakatnya. Ide-idenya telah membawa Turki menjadi negara maju yang sejajar dengan dunia internasional sekaligus membuktikan bahwa pemerintahan Islam adalah pemerintahan yang sesuai dengan tuntutan perkembangan zaman.
QIYAS DAN SADD AL-ZARI’AH DALAM PENYELESAIAN KASUS FIKIH NIKAH BEDA AGAMA Elina Mirza; Kurniati Kurniati; Lomba Sultan
JURNAL ILMIAH FALSAFAH: Jurnal Kajian Filsafat, Teologi dan Humaniora Vol. 9 No. 1 (2023): JURNAL ILMIAH FALSAFAH
Publisher : Institut Agama Islam Sultan Muhammaad Syafiuddin Sambas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37567/jif.v9i1.1600

Abstract

Kata Qiyas dan Sadd al-dzari’ah merupakan salah satu dari metode dalam pengambilan keputusan hukum (istinbath al-hukum) di dalam Agama Islam. Dimana Qiyas adalah suatu mekanisme yang bisa dipakai untuk mengetahui sebuah hukum dengan cara melakukan analisis terlebih dahulu terhadap permasalahan baru yang timbul dan setelah itu mengkaitkan permasalahan tersebut dengan dalil-dalil hukum Islam yang ada yaitu al-Qur’an, sunnah dan ijma’. Apabila ketika tidak ditemukan kejelasan hukumnya, barulah metode qiyas ini bisa digunakan, yakni menerapkan hukum atas suatu permasalahan yang sudah jelas nashNya, hanya pada masalah baru tersebut setelah diyakini adanya kesamaan dalam ‘illat hukumnya. Sedangkan Sadd al-dzari’ah adalah Setiap perbuatan yang mengandung dua sisi, dimana yang pertama adalah adanya perantara mendorong untuk berbuat sesuatu, dan yang kedua menghasilkan tujuan yang menjadi kesimpulan dari perbuatan itu, baik atau buruk. Perbuatan yang menjadi perantara dan jalan kepada sesuatu itulah disebut Dzari’at. Adapun dzari’ah memiliki dua pengertian, yaitu: (1) yang dilarang, disebut sadd al- dzari’ah, dan (2) yang dituntut untuk dilaksanakan disebut fath al- dzari’ah. Penelitian ini ingin membahas bagaimana mengaplikasikan Sadd al-Dzari’ah pada permasalahan fiqh kontemporer, seperti melakukan perkawinan beda agama.
SEJARAH ISLAM MODERN DI INDONESIA: Studi atas Pemikiran KH Ahmad Dahlan dan KH. Hasyim Asy’ary Sumiati Tomadehe; Syamzan Syukur; Susmihara Susmihara
JURNAL ILMIAH FALSAFAH: Jurnal Kajian Filsafat, Teologi dan Humaniora Vol. 8 No. 2 (2022): JURNAL ILMIAH FALSAFAH
Publisher : Institut Agama Islam Sultan Muhammaad Syafiuddin Sambas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37567/jif.v8i2.1606

Abstract

Tulisan ini bertujuan untuk membahas tentang pemikiran KH Ahmad Dahlan dan KH Hasiym Asyari dalam pembaharuan sejarah Islam Moderen di Indonesia. Pembaharuan berawal dari bidang ekonomi, keagamaan, sosial, dakwa dan pendidikan, serta prinsip dasar dan tuntunan pembaharuan sosial keagamaan Muhammadiyah dan NU. Metode yang digunakan adalah library resarch dianalisis dengan pendekatan reflektif thinking dengan memadukan pendekatan deduktif dan induktif. Hasil pembahasan menunjukan bahwa Konsep pembaharuan yang dikembangkan oleh Muhammadiyah yaitu bersifat modern-theosentris dan NU bersifat Tradisionalis yaitu ‎mempertahankan nilai-nilai tradisional Islam yang selama ini di ikuti yang ‎sudah ‎mulai tergerus dengan adanya pemikiran-pemikiran modern dan sebagai wadah perjuangan untuk menentang segala bentuk penjajahan dan merebut kemerdekaan negara Republik Indonesia dari penjajah Belanda.
RES COGITANS DAN RES EXTENSA SEBAGAI SUBSTANSI PEMBENTUK RUANG DAN WAKTU DALAM TERANG RASIONALISME DESCARTES Januario Sergio Viera Demelo Maia
JURNAL ILMIAH FALSAFAH: Jurnal Kajian Filsafat, Teologi dan Humaniora Vol. 9 No. 2 (2023): JURNAL ILMIAH FALSAFAH
Publisher : Institut Agama Islam Sultan Muhammaad Syafiuddin Sambas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37567/jif.v9i2.2057

Abstract

Diskursus mengenai ruang dan waktu merupakan persoalan yang senantiasa menjadi polemik di antara banyak filsuf dan para ilmuwan hingga saat ini. Banyak pandangan-pandangan yang bermunculan berkenaan dengan konsep ruang dan waktu. Dalam kesempatan ini akan dibahas secara khusus mengenai pemikiran Rene Descartes tentang ruang dan waktu yang bertitik tolak dari konsep substansi. Penulisan paper ini menggunakan metodologi pendekatan kualitatif-deskriptif dengan menggunakan studi pustaka. Sumber-sumber bacaan yang digunakan kemudian ditelaah berdasarkan hubungannya terhadap kajian fenomena yang dibahas dalam kerangka filsafat. Berdasarkan kajian ini, Descartes secara tidak langsung dengan pemikirannya yang cemerlang telah membangun satu konsep rasionaltas yang sangat menakjubkan, yang terlihat dalam adagiumnya yakni Cogito Ergo Sum yang digunakannya sebagai metode dalam mencari kepastian tentang pengetahuan yang absolut. Descartes kemudian terangsang untuk juga memikirkan tentang ruang dan waktu yang bertitik tolak dari substansi, dan substansi itu kemudian dibagi ke dalam dua sifat utama oleh Descartes, yakni Res Cogitans dan Res Ekstensa. Dari kedua substansi inilah yang menjadikan adanya ruang dan waktu dalam terang rasionalisme Descartes.