cover
Contact Name
Reza Akbar
Contact Email
rezabimbelaplus@gmail.com
Phone
+6281254504942
Journal Mail Official
jurnal.falsafah@iaisambas.ac.id
Editorial Address
Sekretariat Rumah Jurnal Ilmiah Institut Agama Islam Sultan Muhammad Syafiuddin Sambas Jl. Raya Sejangkung No. 126, Sebayan-Sambas, Kabupaten Sambas, Prov. Kalimantan Barat, Indonesia, 79460
Location
Kab. sambas,
Kalimantan barat
INDONESIA
Jurnal Ilmiah Falsafah
ISSN : 24603635     EISSN : 27762793     DOI : https://doi.org/10.37567
Jurnal Ilmiah Falsafah is an academic journal that emphasizes actual issues related to Philosophy, Theology, and Humanities. Jurnal Ilmiah Falsafah focuses on several topics including 1) Religion and Philosophy, 2) Philosophy of the Quran, 3) Theology and Aqidah, 4) Interpretation of the Quran, 5) Interpretation Methodology, 6) Phenomenology of Religion, 7) Comparative Religion 8) Living Quran dan Hadits, 9) History of Religion, and 10) History of Interpretation.
Articles 60 Documents
TUJUAN DAN HIKMAH NIKAH MENURUT PERSPEKTIF AL-QUR’AN Reo Zaputra
JURNAL ILMIAH FALSAFAH: Jurnal Kajian Filsafat, Teologi dan Humaniora Vol. 9 No. 1 (2023): JURNAL ILMIAH FALSAFAH
Publisher : Institut Agama Islam Sultan Muhammaad Syafiuddin Sambas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37567/jif.v9i1.2148

Abstract

Tulisan ini bertujuan untuk menjelaskan bagaimana Al-Quran sebagai sumber hukum yang pertama dalam Islam, mengandung prinsip bahwa pernikahan merupakan satu-satunya jalan yang sah untuk memenuhi naluri kemanusiaan. Dengan demikian, al-Quran melarang keras segala bentuk pergaulan seksual secara bebas. Islam memberikan kepada perempuan kedudukan sosial yang tinggi sesudah pernikahan. Perintah kawin atau nikah dalam al-Quran memiliki kandungan hukum, yaitu para orang tua, dalam arti mereka berkewajiban memberi fasilitas perkawinan dan berusaha semaksimal mungkin untuk mengawinkan para pemuda dengan menghilangkan keraguan mereka yang menjadi penghalang baginya untuk menikah. Perkawinan adalah sarana untuk melindungi kehormatan diri.
ONTOLOGI DAN KLASIFIKASI ILMU AUGUST COMTE Rijal Wakhid Rizkillah
JURNAL ILMIAH FALSAFAH: Jurnal Kajian Filsafat, Teologi dan Humaniora Vol. 9 No. 1 (2023): JURNAL ILMIAH FALSAFAH
Publisher : Institut Agama Islam Sultan Muhammaad Syafiuddin Sambas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37567/jif.v9i1.2149

Abstract

Filsafat merupakan suatu pengetahuan tentang bagaimana cara berpikir terhadap segala sesuatu yang ada. Oleh karenanya, filsafat sebagai cara atau metode berpikir tentang sagala sesuatu yang ada dan memungkinkan ada. Tujuan paper ini adalah untuk menelaah pemikiran August Comte dari aspek ontologi dan klasifikasi ilmu. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan tipe penelitian kepustakaan. Berdasarkan hasil penelitian ini, dipaparkan bahwa pembagian klasifikasi ilmu August Comte terdiri dari konsep tiga tahap. Auguste Comte melihat bahwa objek kajian ilmu hanya dari segi fisik-material sehingga klasifikasi ilmu bagi Comte hanya yang bersifat fisik-material-empiris.
MEMAHAMI FILSAFAT FENOMENOLOGI EDMUND HUSSERL DAN IMPLIKASINYA DALAM METODE PENELITIAN STUDI ISLAM Maskur Maskur; Abdul Djamil; Sholihan Sholihan
JURNAL ILMIAH FALSAFAH: Jurnal Kajian Filsafat, Teologi dan Humaniora Vol. 9 No. 2 (2023): JURNAL ILMIAH FALSAFAH
Publisher : Institut Agama Islam Sultan Muhammaad Syafiuddin Sambas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37567/jif.v9i2.2164

Abstract

Filsafat fenomenologi merupakan filsafat yang mengajarkan terntang pemakaian logika, rasional manusia, digunakan setelah adanya kejala empiris, kemudian data empiris tersebut tidak tergesa dalam menyimpulkan menggunakan logika, melainkan ada masa tunggu, guna menyelesaikan gejala empiris terlebih dahulu. Penelitian ini focus pada implikasi filsafat fenomenologi terhadap kajian penelitian studi islam. Metode penelitian yang digunakan adalah dengan pendekatan kualitatif library research, data dapat diambil dari buku online, maupun print out, data website, tentang gejala pemahaman terhadap teks. Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa implikasi filsafat fenomenologi terhadap penelitian kajian studi islam, sangat diperlukan dan hasilnya dalam penelitian studi islam, tidak tergesa menyimpulkan teks secara tekstual, melainkan dengan hasil epoching dan mengasilkan kontekstual, karena perlu menunggu data empiris secara lengkap.
ADAB BERTAMU DALAM AL-QUR’AN : STUDI ANALISIS PENAFSIRAN AL-QURTUBI PADA SURAH AN-NUR AYAT 27-29 DALAM TAFSIR JAMI’ LI AHKAM AL-QUR’AN Andre; Ahmad Zabidi; Maulana
JURNAL ILMIAH FALSAFAH: Jurnal Kajian Filsafat, Teologi dan Humaniora Vol. 9 No. 2 (2023): JURNAL ILMIAH FALSAFAH
Publisher : Institut Agama Islam Sultan Muhammaad Syafiuddin Sambas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37567/jif.v9i2.2273

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hakikat adab bertamu dalam al-Qur’an, mengetahui implementasi adab bertamu dalam al-Qur’an, dan mengetahui penafsiran al-Qurtubi tentang adab bertamu pada surah an-Nur ayat 27-29 dalam tafsir Jami’ Li Ahkam Al-Qur’an. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian library research atau kepustakaan dengan metode kualitatif. Adapun sumber data primer penelitian ini yakni kitab tafsir Jami’ Li Ahkam Al-Qur’an, sedangkan data sekundernya berupa buku, jurnal, artikel, skripsi, dan yang berkaitan dengan pembahasan yang penulis teliti. Teknik pengumpulan data pada penelitian ini menggunakan sumber pustaka. Teknik analisa data menggunakan analisis konten (content analysis). Hasil penelitian ini yaitu hakikat adab bertamu adalah perangai, tingkah laku, atau tabiat yang sesuai dengan nilai-nilai keIslaman, dihasilkan dari belajar yang diaplikasikan pada saat berkunjung ke kediaman seseorang. Implementasi adab bertamu dalam al-Qur’an adalah memberi salam dan meminta izin masuk, tidak berkunjung pada waktu makan, kecuali diundang. Menyebutkan keperluan, segera pulang jika urusan telah selesai. Adab bertamu yang dapat diambil dari penafsiran al-Qurtubi adalah larangan untuk mengintip ke dalam rumah seseorang tanpa izin. Meminta izin masuk sebelum salam, sebanyak tiga kali jika tidak di beri izin maka tamu harus pergi. Izin boleh dari anak kecil atau orang dewasa. Tidak mengetuk pintu terlalu keras ketika minta izin, dan berdiri tidak menghadap pintu. tidak mengatakan aku ketika ditanya siapa itu. Jika rumah sendiri harus mengucap salam tanpa minta izin, jika tidak ada orang dirumahmu maka ucapkan Assalamu‘alaina wa ala ibadillahi as-salihin. Diperbolehkan tidak meminta izin ketika hendak memasuki rumah yang tidak dihuni oleh seseorang.
MODERASI BERAGAMA PERSPEKTIF ETIKA (ANALISIS PEMIKIRAN FRANZ MAGNIS-SUSENO) Theguh Saumantri; Bisri Bisri
JURNAL ILMIAH FALSAFAH: Jurnal Kajian Filsafat, Teologi dan Humaniora Vol. 9 No. 2 (2023): JURNAL ILMIAH FALSAFAH
Publisher : Institut Agama Islam Sultan Muhammaad Syafiuddin Sambas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37567/jif.v9i2.2295

Abstract

Kehidupan masyarakat modern saat ini ditandai oleh pertumbuhan dan perkembangan yang pesat dalam berbagai aspek, termasuk dalam hal keragaman agama dan pandangan keagamaan. Semakin terbukanya masyarakat terhadap berbagai pemikiran dan keyakinan agama telah membawa dampak yang signifikan terhadap dinamika sosial dan budaya. Tujuan penelitian ini untuk menggali pemikiran Franz Magnis-Suseno dalam konteks moderasi beragama dari perspektif etika. Penelitian ini merupakan studi kepustakaan dengan pendekatan filosofis sebagai upaya untuk mendalami konsep atau teori dari seorang tokoh. Hasil Penelitian ini menjelaskan bahwa etika, sebagai disiplin ilmu filsafat yang mempertimbangkan nilai-nilai moral dan prinsip-prinsip kebaikan, memiliki peran sentral dalam membimbing individu-individu untuk menjaga moderasi dan menghormati perbedaan agama. Dalam pendangan Franz Magnis-Suseno konsep moderasi beragama merupakan locus theologicus-nya dalam agama. Sikap moderat dalam agama ditempatkan dalam kerangka teologis, dan agama menjadi cerminan sikap baik terhadap semua individu, tanpa memandang perbedaan keyakinan.
PEMIKIRAN TOKOH-TOKOH EKONOMI ISLAM PADA PERIODE KEDUA MENGENAI KONSEP DISTRIBUSI Dani Suryaningrat; Abdul Wahab
JURNAL ILMIAH FALSAFAH: Jurnal Kajian Filsafat, Teologi dan Humaniora Vol. 9 No. 2 (2023): JURNAL ILMIAH FALSAFAH
Publisher : Institut Agama Islam Sultan Muhammaad Syafiuddin Sambas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37567/jif.v9i2.2301

Abstract

Distribusi menempati posisi yang penting dalam teori ekonomi mikro baik dalam sistem ekonomi Islam maupun kapitalis sebab pembahasan dalam bidang distribusi ini tidak hanya berkaitan dengan aspek ekonomi belaka tetapi juga aspek sosial dan politik sehingga menjadi perhatian bagi aliran pemikir ekonomi Islam dan konvensional sampai saat ini. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi pandangan para tokoh periode kedua dunia Islam mengenai konsep distribusi. Penelitian ini menggunakan paradigma kualitatif dengan jenis penelitian kepustakaan. Berdasarkan kajian ini, diperoleh pemikiran ekonomi Islam mengenai prinsip distribusi kekayaan dari para tokoh periode kedua yaitu distribusi harus memperhatikan Keadilan dan Kesetaraan; distribusi kekayaan dan sumber daya harus dilakukan secara adil dan setara di antara seluruh anggota masyarakat, kritik atas bunga (riba) yang merugikan masyarakat dan bertentangan dengan prinsip keadilan dalam Islam; pentingnya zakat; transparansi dan jujur dalam transaksi ekonomi; pelarangan perjudian dan praktik haram lainnya; dan pengembangan sumber daya manusia.
Pemikiran Ekonomi Islam Menurut Muhammad Baqir Ash-Sadr Yuniarti, Desi; Mu’in, Rahmawati
JURNAL ILMIAH FALSAFAH: Jurnal Kajian Filsafat, Teologi dan Humaniora Vol. 10 No. 1 (2024): JURNAL ILMIAH FALSAFAH
Publisher : Institut Agama Islam Sultan Muhammaad Syafiuddin Sambas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37567/jif.v10i1.2153

Abstract

This article aims to explain the importance of Islamic economics in life and provide education regarding important theories from the figure of Muhammad Baqir ash-Sadr in the world of economics. This research is a qualitative study. This study includes library research. The data comes from books and research journals that discuss the topic of Muhammad Baqir As-Sadr’s economic thought. Baqir as-Sadr believes that economic problems arise because of unequal and fair distribution as a result of an economic system that allows the exploitation of the strong against the weak.
Idealistic Philosophy ('I') as Thing-in-itself as Spaceship and Timelessness Fransisko, Yakub; Melan; Sirnawati; Yappo, Yohanes; Rosen, Imelda; Mariani, Evi; Munte, Alfonso
JURNAL ILMIAH FALSAFAH: Jurnal Kajian Filsafat, Teologi dan Humaniora Vol. 10 No. 1 (2024): JURNAL ILMIAH FALSAFAH
Publisher : Institut Agama Islam Sultan Muhammaad Syafiuddin Sambas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37567/jif.v10i1.2452

Abstract

The purpose of this study is merely to examine the philosophy of idealism that seems to be self-oriented (thing-in-itself in/or I) or as if narcissistic anthropocentric and the source of the problem of evil is evil as the logical consequence as the stigma, but when it unfolds in education, whether it be Christian education or education management, it itself then becomes signified, interpreted and signaled. Qualitative research with data search techniques through secondary sources presents various philosophical perspectives as an overview while talking about the philosophy of idealism from Emmanuel Kant, Cartesian, Martin Heidegger, and Quentin Meillassoux through various journals related to researchers' searches. Results show that the philosophy of idealism that departs from the self (thinking, chatting and crossing) becomes spatial constructs in education, including Christian religious education or in researchers' discipline, namely Christian education management.
Konsep Sombong dalam Al-Qur’an: Analisis Surah Luqman Ayat 18 dalam Tafsir Jalalain Islamiati, Dian; Hamnah; Sunantri, Sri
JURNAL ILMIAH FALSAFAH: Jurnal Kajian Filsafat, Teologi dan Humaniora Vol. 10 No. 1 (2024): JURNAL ILMIAH FALSAFAH
Publisher : Institut Agama Islam Sultan Muhammaad Syafiuddin Sambas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37567/jif.v10i1.2467

Abstract

This research uses a type of literature research (Library Reseach) with qualitative methods. The sources in this study consist of two types, namely primary and secondary data sources. The primary data source is Tafsir Jalalain which amounts to 2 volumes, while secondary data consists of books or journals related to the theme, such as Minhâjul Qâshidin, Tazkiyatun Nafs, about the dangers of Takabur, thematic studies on Takabur in the perspective of the Qur'an and so on. In addition, data collection techniques in this study use library data sources with content analysis. As for data analysis techniques, researchers use a form of description analysis which is a form of research effort in telling problem solving based on data presentation, analysis and interpertation. The result of this study is the existence of a form of difference in terms of the definition of the meaning of arrogant contained in surah Luqman verse 18. The word consists of Marahân, mukhtal and fakhur. Marahân is an arrogant person with haughty feelings inside. Mukhtâl is an attitude of pretending to be arrogant when walking in front of others. As for fakhûr is defined as a person who is arrogant by boasting himself excessively. Based on the analysis of the interpretation of surah Luqman Verse 18 in Tafsir Jalalain, it can be concluded that one who pretends to be arrogant in walking with his face away, then the act is called Mukhtâl While one who walks on earth haughtily and feels arrogant, then the act is called fakhûr.
Menyoal Framework Agama: Upaya Rekonsiliasi HAM Berat 1965 Indra Doris, Yulius Edward
JURNAL ILMIAH FALSAFAH: Jurnal Kajian Filsafat, Teologi dan Humaniora Vol. 10 No. 1 (2024): JURNAL ILMIAH FALSAFAH
Publisher : Institut Agama Islam Sultan Muhammaad Syafiuddin Sambas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37567/jif.v10i1.2468

Abstract

The author's focus in this article is to question the religious framework in viewing the 1965 gross human rights case as one of the reconciliation efforts. Reconciliation of 1965 Gross Human Rights is an important effort to build peace and unity in Indonesia, especially in facing the political year. It is also important for the creation of peaceful politics. However, this effort faces challenges, one of which is the religious framework in viewing the 1965 Gross Human Rights case. The method used in this analysis is a historical study of the 1965 gross human rights violations case, especially regarding the role and involvement of religions in responding to this case. This article offers a religious framework that is more inclusive and emphasizes the characteristics of a religion of peace and love. This framework is based on the principles of humanity, justice and equality. The findings of this research are a new framework of religion that is broader and more open in viewing the 1965 Gross Human Rights Case that emphasizes love. This new framework is the basis for reconciliation for the Indonesian people. It is hoped that from this new framework, all elements of the nation can accept it so that the 1965 Gross Human Rights case has the same perspective in terms of religion. This is expected to bring political stability in Indonesia and free the Indonesian people from the 1965 Serious Human Rights issue.