cover
Contact Name
Reza Akbar
Contact Email
rezabimbelaplus@gmail.com
Phone
+6281254504942
Journal Mail Official
jurnal.falsafah@iaisambas.ac.id
Editorial Address
Sekretariat Rumah Jurnal Ilmiah Institut Agama Islam Sultan Muhammad Syafiuddin Sambas Jl. Raya Sejangkung No. 126, Sebayan-Sambas, Kabupaten Sambas, Prov. Kalimantan Barat, Indonesia, 79460
Location
Kab. sambas,
Kalimantan barat
INDONESIA
Jurnal Ilmiah Falsafah
ISSN : 24603635     EISSN : 27762793     DOI : https://doi.org/10.37567
Jurnal Ilmiah Falsafah is an academic journal that emphasizes actual issues related to Philosophy, Theology, and Humanities. Jurnal Ilmiah Falsafah focuses on several topics including 1) Religion and Philosophy, 2) Philosophy of the Quran, 3) Theology and Aqidah, 4) Interpretation of the Quran, 5) Interpretation Methodology, 6) Phenomenology of Religion, 7) Comparative Religion 8) Living Quran dan Hadits, 9) History of Religion, and 10) History of Interpretation.
Articles 52 Documents
KONSEP THAHARAH DALAM AL-QURAN: Studi Tafsir Maudhu’i Hamnah, Hamnah
JURNAL ILMIAH FALSAFAH: Jurnal Kajian Filsafat, Teologi dan Humaniora Vol. 11 No. 1 (2025): JURNAL ILMIAH FALSAFAH
Publisher : Institut Agama Islam Sultan Muhammaad Syafiuddin Sambas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37567/jif.v11i1.4478

Abstract

This study examines the concept of thaharah (purity) in the Qur'an through a thematic tafsir (interpretation). The aim of this study is to explore the meaning, scope, and implications of thaharah from a Qur'anic perspective, both in the physical and spiritual dimensions. The method used is the maudhu'i tafsir, which includes compiling all verses related to thaharah, analyzing the context in which the verses were revealed (asbab al-nuzūl), and interpreting them based on the opinions of classical and contemporary commentators.The results show that thaharah in the Qur'an encompasses not only external cleanliness such as ablution (wudu), bathing (ghusl), and tayammum (cleansing of the body). It also touches on the inner aspect, namely the purification of the heart and soul from shirk (polytheism), sin, and blameworthy traits. The concept of thaharah symbolizes the integration of physical and spiritual cleanliness, leading humans toward the perfection of faith and piety. Thus, purification is the primary foundation of a Muslim's worship and life, emphasizing the importance of cleanliness as a manifestation of faith and obedience to Allah SWT.
RELIGIUSITAS MASYARAKAT KORBAN BENCANA GALODO ‎MARAPI DI NAGARI BUKIK BATABUAH KABUPATEN AGAM ‎‎(Sebuah Kajian Antropologis)‎ Reo Chandrika; Fadhil Ahsan; Syafwan Rozi
JURNAL ILMIAH FALSAFAH: Jurnal Kajian Filsafat, Teologi dan Humaniora Vol. 11 No. 2 (2025): JURNAL ILMIAH FALSAFAH
Publisher : Institut Agama Islam Sultan Muhammaad Syafiuddin Sambas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37567/jif.v11i2.4501

Abstract

Penelitian ini mengkaji religiusitas masyarakat korban bencana Galodo Marapi di Bukik Batabuah, Kabupaten Agam, dari perspektif antropologis menggunakan teori religiusitas Glock & Stark. Studi ini menyoroti bagaimana peristiwa bencana tidak hanya berdampak pada kerusakan fisik, tetapi juga mendorong peningkatan praktik keagamaan, kesadaran spiritual, dan solidaritas sosial di kalangan masyarakat. Data wawancara menunjukkan adanya penguatan dimensi keyakinan, praktik ritual, pengalaman keagamaan, pengetahuan agama, dan konsekuensi perilaku religius pasca-bencana. Hasil penelitian menegaskan bahwa religiusitas berperan penting dalam membentuk ketangguhan komunitas, mempererat hubungan sosial, dan meningkatkan kesadaran kolektif untuk menjaga lingkungan dan kehidupan keagamaan. Temuan ini memberikan implikasi bagi pengembangan program mitigasi bencana yang mengintegrasikan nilai-nilai religius dan kearifan lokal sebagai sumber daya utama dalam resilensi sosial dan spiritual.
Pengaruh Pemikiran Sigmund Freud terhadap Pengembangan Konsep Bimbingan dan Konseling Islam Manja
JURNAL ILMIAH FALSAFAH: Jurnal Kajian Filsafat, Teologi dan Humaniora Vol. 11 No. 2 (2025): JURNAL ILMIAH FALSAFAH
Publisher : Institut Agama Islam Sultan Muhammaad Syafiuddin Sambas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37567/jif.v11i2.4439

Abstract

This study aims to analyze the influence of Sigmund Freud’s thought on the development of Islamic Guidance and Counseling concepts, focusing on personality theory, counseling methodology, and their relevance to Islamic values. The research employs a qualitative approach through library research, examining primary and secondary literature related to Freud’s psychoanalytic theory and Islamic perspectives on the human psyche. The findings indicate that Freud’s thought has significantly contributed to the development of modern psychology and counseling theory, particularly in understanding the structure of personality (id, ego, superego), the unconscious mind, and internal psychological conflicts. However, from the Islamic perspective, human personality is not only determined by biological and psychological dimensions but also by spiritual elements such as ruh (spirit), qalb (heart), and nafs (self). Thus, while there are conceptual similarities between psychoanalysis and Islamic counseling in self-understanding and inner healing, fundamental differences exist in their ontological and theological foundations. The study concludes that Freud’s psychoanalytic theory can be critically adapted to the development of Islamic Guidance and Counseling as long as it remains grounded in tauhid (monotheism) and Islamic moral values derived from the Qur’an and Hadith. Integrating Western psychological theories with Islamic spirituality offers a more holistic and humanistic approach to counseling that aims for both worldly well-being and eternal happiness (sa‘ādah).
Revolusi Paradigma sebagai Landasan Epistemologi Ilmu: Telaah Filsafat Ilmu atas Pemikiran Thomas S. Kuhn Nur Azizatul Haqiah; Winda Islamitha Nurhamidah; Aufa Fatchia Rahma; Rofiatus Sa’adah; Usman
JURNAL ILMIAH FALSAFAH: Jurnal Kajian Filsafat, Teologi dan Humaniora Vol. 11 No. 2 (2025): JURNAL ILMIAH FALSAFAH
Publisher : Institut Agama Islam Sultan Muhammaad Syafiuddin Sambas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37567/jif.v11i2.4558

Abstract

Artikel ini mengkaji kembali pemikiran Thomas S. Kuhn mengenai revolusi paradigma serta kontribusinya terhadap perkembangan epistemologi ilmu modern. Kuhn berpendapat bahwa kemajuan ilmiah tidak berlangsung secara bertahap maupun akumulatif, melainkan melalui lompatan revolusioner ketika anomali-anomali mulai meruntuhkan fondasi ilmu normal. Paradigma dipahami sebagai seperangkat asumsi, nilai, dan prosedur metodologis yang dipegang bersama oleh komunitas ilmuwan dan membentuk cara mereka memaknai realitas serta menilai kebenaran ilmiah. Menurut Kuhn, peralihan paradigma tidak semata digerakkan oleh bukti empiris, tetapi juga oleh dinamika sosial, sejarah, dan budaya yang memengaruhi terbentuknya konsensus ilmiah. Penelitian ini menerapkan metode studi kepustakaan untuk menelusuri implikasi epistemologis pemikiran Kuhn, terutama terkait persoalan objektivitas, rasionalitas, dan sifat intersubjektif pengetahuan ilmiah. Temuan penelitian menunjukkan bahwa pemikiran Kuhn membuka ruang bagi lahirnya epistemologi yang lebih reflektif, kontekstual, dan kritis, serta memberikan kontribusi signifikan bagi pengembangan filsafat ilmu di Indonesia melalui pembentukan cara pandang ilmiah yang lebih dinamis, historis, dan manusiawi.
Relevansi Falsifikasi Karl R. Popper dalam Pengembangan Metodologi Penelitian Pendidikan Agama Islam Kontemporer Ricardo, David; Azizatul Haqiah, Nur; Holifa Balkis , Lutfiah; Usman
JURNAL ILMIAH FALSAFAH: Jurnal Kajian Filsafat, Teologi dan Humaniora Vol. 11 No. 1 (2025): JURNAL ILMIAH FALSAFAH
Publisher : Institut Agama Islam Sultan Muhammaad Syafiuddin Sambas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37567/jif.v11i1.4572

Abstract

Penelitian ini dimotivasi oleh kecenderungan penelitian Pendidikan Agama Islam (PAI) yang masih didominasi oleh deskriptif-normatif, sehingga ruang untuk kritik metodologis dan pengembangan teoretis terbatas. Dalam konteks ini, teori falsifikasi Karl R. Popper menawarkan paradigma epistemologis yang lebih kritis dan terbuka untuk evaluasi ilmiah. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis relevansi prinsip-prinsip falsifikasi Popper dalam memperkuat metodologi penelitian PAI kontemporer. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan desain riset kepustakaan, di mana pengalaman subjektif peneliti dalam berinteraksi dengan karya dan literatur metodologis Popper diinterpretasikan secara mendalam untuk mengungkap makna epistemologis yang relevan. Temuan penelitian menunjukkan bahwa falsifikasi Popper dapat mengatasi bias subjektif dan kecenderungan afirmatif dalam penelitian PAI, serta sejalan dengan mekanisme verifikasi dalam penyelidikan kualitatif seperti triangulasi dan pengecekan anggota. Hasil ini menyiratkan fondasi epistemologis yang lebih kuat bagi PAI, yang memungkinkannya menjadi lebih kritis, reflektif, dan adaptif terhadap perubahan sosial. Penelitian ini menyimpulkan bahwa pemalsuan Popper merupakan dasar metodologis yang layak untuk memperbarui penelitian PAI, dan merekomendasikan penelitian lebih lanjut untuk memeriksa penerapan praktisnya dalam konteks pendidikan Islam empiris.
Paradigma Positivistik Comte sebagai Kerangka Analisis Realitas Sosial Masa Kini Sihono, Ridwan Faqih; Usman
JURNAL ILMIAH FALSAFAH: Jurnal Kajian Filsafat, Teologi dan Humaniora Vol. 11 No. 1 (2025): JURNAL ILMIAH FALSAFAH
Publisher : Institut Agama Islam Sultan Muhammaad Syafiuddin Sambas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37567/jif.v11i1.4573

Abstract

This study examines the relevance of Auguste Comte’s positivist paradigm in interpreting contemporary social realities characterized by technological acceleration, complex social interactions, and the growing dominance of data-driven systems. Positivism, grounded in empirical observation, verification, and the search for social laws, continues to offer a structured analytical framework for identifying patterns and regularities within modern society. However, rapidly changing social conditions reveal that many aspects of human life contain subjective, cultural, and symbolic dimensions that cannot be fully reduced to quantitative variables. Therefore, this study argues for the expansion of positivism through post-positivist and mixed-methods approaches capable of integrating empirical precision with interpretive depth. The findings affirm that positivism remains relevant as an analytical foundation, but it becomes truly effective only when used in dialogue with qualitative and critical perspectives to produce more comprehensive and context sensitive understandings of social phenomena.
PERGESERAN FILOSOFIS MOTIVASI KONSUMSI MUSLIM: ANALISIS DARI MASLAHAH KE HEDONISME DI ERA DIGITAL Siska Putri; Syukri Iska; Fandi Ahmad Marlion; Azifah Hidayati; Miftahul Jannah
JURNAL ILMIAH FALSAFAH: Jurnal Kajian Filsafat, Teologi dan Humaniora Vol. 11 No. 1 (2025): JURNAL ILMIAH FALSAFAH
Publisher : Institut Agama Islam Sultan Muhammaad Syafiuddin Sambas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37567/jif.v11i1.4580

Abstract

ABSTRACT The shift in Muslim consumption motivation from Maslahah to Hedonism is a philosophical shift that is not merely an individual moral issue, but a logical consequence of the adoption and internalization of digital media architecture. This study aims to examine the philosophical shift in Muslim consumption motivation from Maslahah orientation (transcendent welfare) to Hedonism consumption patterns in the Digital Era. This study uses a Systematic Literature Review (SLR) approach to 20 core articles by analyzing how digital mechanisms reduce ethical values ​​in Islamic Economic Philosophy (FES). The results show three main mechanisms of this shift. First, there is a reduction in the Maslahah Episteme, where the concept of Maslahah is compromised from an objective collective goal (Eudaimonia) to subjective instant utility, weakening the principles of Iqtishad and Qana'ah. Second, Digital Algorithms function as determinants of Hedonism, programming desires and exploiting impulse buying through e-commerce, which systematically threatens Hifz al-Aql. Third, the Commodification of Muslim Identity (Halal Hedonism) provides spiritual legitimacy for status-based consumer behavior (flexing), damaging niyyah and triggering Riya'. The conclusion confirms that this shift is a Critical Crisis of Maqasid Syariah which proves the failure of reactive FES in facing systemic mafsadah. Therefore, this study recommends the need for transformation towards a Proactive Maqasid framework integrated into digital architecture design.
Geisteswissenschaften sebagai Landasan Epistemologi: Konsep Erlebnis dan Verstehen dalam Pemikiran Wilhelm Dilthey Alim, Ansorul; Saputra, Amri; Usman
JURNAL ILMIAH FALSAFAH: Jurnal Kajian Filsafat, Teologi dan Humaniora Vol. 11 No. 1 (2025): JURNAL ILMIAH FALSAFAH
Publisher : Institut Agama Islam Sultan Muhammaad Syafiuddin Sambas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37567/jif.v11i1.4594

Abstract

This research reconstructs Wilhelm Dilthey's epistemology in distinguishing Geisteswissenschaften from the dominance of positivism, examining its relevance to contemporary Big Data hegemony. The study aims to validate Verstehen as an autonomous scientific method without mimicking natural science causality. Through qualitative philosophical hermeneutics, it analyzes the dialectical relationship between Erlebnis, Ausdruck, and Verstehen. Findings indicate: (1) Human sciences' validity is grounded in temporal-qualitative Erlebnis; (2) Knowledge objectivity is attained through analyzing Ausdruck or "Objectified Spirit," rather than psychological introspection; and (3) Verstehen constitutes a rigorous cognitive procedure operating through the Hermeneutic Circle logic. The study concludes that Dilthey's epistemology serves as a corrective critique against "Dataism," asserting that human meaning complexity cannot be fully reduced to mere computational algorithms.
KONSEP KEBAHAGIAAN DALAM FILSAFAT ISLAM ‎(Studi Pemikiran Haidar Bagir)‎ Nurul Syabadi; Nelmaya
JURNAL ILMIAH FALSAFAH: Jurnal Kajian Filsafat, Teologi dan Humaniora Vol. 11 No. 1 (2025): JURNAL ILMIAH FALSAFAH
Publisher : Institut Agama Islam Sultan Muhammaad Syafiuddin Sambas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37567/jif.v11i1.4600

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji konsep kebahagiaan dalam perspektif Haidar Bagir, seorang pemikir kontemporer yang mengintegrasikan filsafat Islam, tasawuf, dan psikologi modern. Di tengah krisis makna yang melanda masyarakat modern, kebahagiaan kerap dipahami secara dangkal dan materialistik. Haidar Bagir menawarkan pendekatan yang lebih mendalam dan spiritual, memaknai kebahagiaan sebagai pencarian makna hidup, cinta, dan kedekatan dengan Tuhan. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi pustaka (library research), serta teknik analisis holistik dan deskriptif untuk memahami pemikiran Haidar Bagir secara menyeluruh. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kebahagiaan menurut Haidar Bagir tidak terletak pada kenikmatan fisik semata, tetapi pada kualitas relasi batiniah manusia dengan Tuhan dan sesama. Pertama, cinta menjadi prinsip fundamental yang menggerakkan manusia menuju kebahagiaan sejati. Kedua, kebahagiaan tidak tergantung pada materi, melainkan pada pencarian makna hidup. Ketiga, kedekatan dengan Tuhan melalui proses spiritual merupakan kunci utama dalam mencapai kebahagiaan yang hakiki. Pemikiran Haidar Bagir menjadi relevan untuk menjawab kegelisahan eksistensial manusia modern, serta menawarkan jalan holistik menuju kebahagiaan sejati dalam bingkai filsafat Islam.
EKSISTENSI FILSAFAT EKONOMI ISLAM TERHADAP PENGUATAN HALAL SUPPLY CHAIN DI INDONESIA Miftahul Jannah; Syukri Iska; Azifah Hidayati; Siska Putri; Fandi Ahmad Marlion
JURNAL ILMIAH FALSAFAH: Jurnal Kajian Filsafat, Teologi dan Humaniora Vol. 11 No. 2 (2025): JURNAL ILMIAH FALSAFAH
Publisher : Institut Agama Islam Sultan Muhammaad Syafiuddin Sambas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37567/jif.v11i2.4581

Abstract

Halal supply chain practices in Indonesia still face various challenges that must be strengthened for their sustainability. One such challenge is the application and linking of principles in Islamic economic philosophy with the principles of the Halal Supply Chain. The purpose of this study is to analyze the existence of Islamic economic philosophy principles in strengthening the halal supply chain, as well as to observe the implementation of the relationship between Islamic economic philosophy principles and halal supply chain principles. This study uses a descriptive qualitative approach with a literature study method with the aim of describing the social phenomena that occur in in-depth detail. The results show that the principles of Islamic economic philosophy such as tauhid, justice, amanah, maslahah, and mizan are relevant and applicable normative foundations in strengthening the halal supply chain (HSC). These values ​​are then realized operationally through the principles of sharia compliance, halal integrity, traceability, transparency, sharia risk management, and professionalism in logistics management. The conclusion of this study is that the existence of Islamic economic philosophy significantly contributes to strengthening the concept, mechanism, and implementation of the halal supply chain (HSC) in Indonesia.