cover
Contact Name
Choiril Anwar
Contact Email
choirilanwar@unissula.ac.id
Phone
+6281931704317
Journal Mail Official
choirilanwar@itpd.or.id
Editorial Address
Gang Melati 8 Ds. Mlaten, Mijen, Demak, Jawa Tengah. 59583
Location
Kab. demak,
Jawa tengah
INDONESIA
Community Empowerment Journal
Published by CV. Yudhistt Fateeh
ISSN : -     EISSN : 30248558     DOI : https://doi.org/10.61251/cej
The mission of Community Empowerment Journal is to serve as the premier peer-reviewed, interdisciplinary journal to advance theory and practice related to all forms of outreach and empowerment. This includes highlighting innovative endeavors; critically examining emerging issues, trends, challenges, and opportunities; and reporting on studies of impact in the areas of public service, outreach, empowerment, extension, engaged research, community-based research, community-based participatory research, action research, public scholarship, service-learning, and community services. Focus Community Empowerment Journal aims to provide a forum for international researchers on applied Society Development and Empowerment to publish the original articles. The scope of Community Empowerment Journal is Society Development and Empowerment.
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 150 Documents
Pelatihan Bahasa Jawa Figuratif untuk meningkatkan kompetensi berbahasa Jawa siswa PERMADANI Alfiah Alfiah; Bambang Sulanjari; Suyitno Suyitno; Arif Cahya Ardiyanta; Nafisa Arum Pramesti
Community Empowerment Journal Vol. 4 No. 3 (2026)
Publisher : CV. Yudhistt Fateeh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61251/cej.v4i3.438

Abstract

Bahasa Jawa sebagai warisan budaya takbenda menghadapi ancaman degradasi serius di kalangan generasi muda perkotaan akibat pergeseran bahasa (language shift). Fenomena ini melemahkan penguasaan unggah-ungguh, basa rinengga, dan bahasa tembang macapat. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan meningkatkan kompetensi berbahasa Jawa di Kota Semarang melalui Pelatihan Bahasa Jawa Figuratif. Metode yang digunakan adalah pendekatan Communicative Language Teaching (CLT) dengan teknik ceramah interaktif, role playing, latihan tertulis, apresiasi tembang, dan kuis edukatif. Evaluasi menggunakan desain one-group pretest-posttest terhadap 40 peserta. Hasil menunjukkan peningkatan rata-rata skor yang signifikan dari 67,78 (pretest) menjadi 83,35 (posttest), atau naik 22,98%. Uji Wilcoxon signed-rank dan paired samples t-test sama-sama mengonfirmasi peningkatan yang sangat signifikan (p < 0,001), dengan ukuran efek sangat besar (Cohen's d = 2,11) dan N-Gain ternormalisasi sebesar 0,48 (kategori sedang). Ketuntasan peserta melonjak dari 55,0% menjadi 97,5%. Temuan ini menunjukkan bahwa pendekatan komunikatif yang kontekstual efektif diterapkan pada komunitas non-formal untuk mempertahankan dan merevitalisasi kemampuan berbahasa Jawa. Organisasi budaya seperti PERMADANI berperan strategis sebagai ruang pemertahanan bahasa daerah di era globalisasi. Javanese as an intangible cultural heritage faces serious degradation threats among urban youth due to language shift. This phenomenon weakens mastery of speech levels (unggah-ungguh), figurative language (basa rinengga), and macapat song poetry. This community service activity aims to improve the Javanese language competence of PERMADANI (Persaudaraan Masyarakat Budaya Nasional Indonesia) in Semarang through Figurative Javanese Language Training. The method employed a Communicative Language Teaching (CLT) approach with interactive lectures, role plays, written exercises, tembang appreciation, and educational quizzes. Evaluation used a one-group pretest-posttest design with 40 participants. Results showed a significant mean score increase from 67.78 (pretest) to 83.35 (posttest), a gain of 22.98%. The Wilcoxon signed-rank test and paired samples t-test both confirmed highly significant improvement (p < 0.001), with a very large effect size (Cohen's d = 2.11) and normalized N-Gain of 0.48 (moderate category). Mastery rate rose from 55.0% to 97.5%. These findings demonstrate that a contextual communicative approach is effectively applied in non-formal community settings to preserve and revitalize Javanese language competence. Cultural organizations like PERMADANI play a strategic role as spaces for regional language preservation in the era of globalization.
Penguatan tertib hukum berlalu lintas di kalangan pelajar SMA dalam era digital: Strengthening adherence to traffic laws among high school students in the digital era Lathifah Hanim; Dini Amalia Putri
Community Empowerment Journal Vol. 4 No. 3 (2026)
Publisher : CV. Yudhistt Fateeh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61251/cej.v4i3.446

Abstract

Tertib berlalu lintas adalah dambaan setiap masyarakat. Namun belum semua pengguna jalan mengetahui akan manfaat dari tertib berlalu lintas. Dalam praktik, seringkali pelajar tidak mentaati rambu-rambu lalu lintas, tidak membawa SIM, dan tidak mengenakan helm bahkan sering terjadi ugal-ugalan dalam mengendarai kendaraan bermotor. Tujuan pelaksanaan program Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) yaitu meningkatkan pemahaman dan kesadaran hukum berlalu lintas di kalangan pelajar SMA, khususnya dalam menghadapi dinamika serta tantangan di era digital (seperti penggunaan smartphone saat berkendara, pengaruh media sosial, maupun kesadaran akan aturan lalu lintas digital/ETLE), dan Membentuk karakter disiplin dan tertib berlalu lintas pada usia remaja guna menekan angka pelanggaran dan kecelakaan lalu lintas di kalangan pelajar. Pengabdian masyarakat ini akan diselenggarakan di Bulan Juni 2026. Peserta berjumlah kurang lebih 20 peserta yaitu siswa SMA Negeri 10 Semarang, dengan materi tentang tertib berlalu lintas di kalangan pelajar SMA dalam era digital. Kegiatan pengabdian masyarakat ini dilaksanakan dengan metode utama yaitu penyampaian materi, presentasi video, ceramah, diskusi dan contoh kasus. Dampak kegiatan pengabdian masyarakat ini adalah meningkatnya penguatan tertib berlalu lintas di kalangan pelajar dalam era digital, khususnya pelajar SMA Negeri 10 Semarang, sehingga meningkat pula kesadaran hukum dalam berlalu lintas terutama di jalan raya. Hasil dari pelaksanaan kegiatan menunjukkan adanya peningkatan signifikan pada pemahaman peserta terkait regulasi lalu lintas dan risiko penggunaan gadget saat berkendara. Selain itu, kegiatan ini berhasil menumbuhkan komitmen serta sikap tertib berlalu lintas di lingkungan sekolah untuk meminimalisir risiko kecelakaan remaja. Traffic compliance is everyone's dream. However, not all road users are aware of the benefits of traffic compliance. In practice, students often disobey traffic signs, fail to carry a driver's license, and fail to wear helmets, often leading to reckless driving. The objectives of the Community Service program are to increase understanding and awareness of traffic laws among high school students, particularly in facing the dynamics and challenges of the digital era (such as smartphone use while driving, the influence of social media, and awareness of digital traffic regulations/ETLE), and to foster discipline and orderly traffic behavior among adolescents in order to reduce the number of traffic violations and accidents among students. This community service will be held in June 2026. Participants will be approximately 20 participants, namely students of SMA Negeri 10 Semarang, with material on traffic discipline among high school students in the digital era. This community service activity is carried out with the main methods of delivering material, video presentations, lectures, discussions and case examples. The impact of this community service activity is an increase in the strengthening of traffic discipline among students in the digital era, especially students of SMA Negeri 10 Semarang, thus increasing legal awareness in traffic, especially on the highway. The results of the implementation of the activity show a significant increase in participants' understanding of traffic regulations and the risks of using gadgets while driving. In addition, this activity has succeeded in fostering commitment and an attitude of traffic discipline in the school environment to minimize the risk of adolescent accidents.
Pemanfaatan Game-Based Learning dalam penguatan kompetensi pembelajaran mahasiswa magang dari Filipina di SMA, Semarang Ekawati Marhaenny Dukut; Krismalita Sekar Diasti; Angelika Riyandari
Community Empowerment Journal Vol. 4 No. 3 (2026)
Publisher : CV. Yudhistt Fateeh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61251/cej.v4i3.448

Abstract

Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) Universitas Katolik Soegijapranata telah menjalin kerja sama berkelanjutan dengan University of St. La Salle (USLS) Bacolod, Filipina, dalam memfasilitasi program magang mengajar internasional bagi mahasiswa. Inisiatif ini telah menjadi agenda rutin program Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) yang bertujuan untuk memperkuat kolaborasi akademik internasional sekaligus memperluas wawasan pembelajaran lintas budaya bagi siswa. SMA PL Don Bosko Semarang dipilih sebagai mitra strategis karena konsistensi dukungannya terhadap keberhasilan program magang internasional tersebut. Keterbatasan penggunaan bahasa Inggris untuk mata Pelajaran Biologi dan Fisika dan rendahnya kepercayaan diri siswa untuk mengekspresikan pendapat dalam kelas yang bahasa pengantarnya dalam bahasa Inggris menjadi dorongan untuk menerima mahasiswa Filipina ini untuk magang sekolahnya. Dalam kegiatan ini metode deskriptif kualitatif digunakan dengan pendekatan Game-Based Learning (GBL), dengan melibatkan 3 mahasiswa magang dari USLS dan 4 buddies (pendamping) dari FBS, untuk 80 siswa SMA tersebut. Analisis data dari kuesioner mengungkap respons yang positif. Sebanyak 97,6% siswa menyatakan mahasiswa magang menguasai materi pembelajaran dengan baik, 98,8% menyatakan tujuan pembelajaran disampaikan secara jelas, 96,4% merasa memperoleh kesempatan berpartisipasi aktif dalam kelas, dan 96,4% menyatakan metode pembelajaran yang digunakan mampu meningkatkan antusiasme belajar mereka. Sebanyak 95,2% siswa juga mengapresiasi penggunaan teknologi dan media pembelajaran yang menarik selama kegiatan berlangsung. Hasil wawancara dengan mahasiswa pendamping juga mengungkap bahwa pendekatan Game-Based Learning untuk menciptakan suasana kelas yang lebih interaktif dengan charades dan kuis yang diberikan sehingga kelas menyenangkan, dan berpusat pada siswa dibandingkan pembelajaran konvensional yang lebih berorientasi pada penyampaian materi. Simpulannya, program ini berhasil memperkuat kompetensi global dan pengalaman lintas budaya melalui praktik pembelajaran inovatif yang interaktif dan berpusat pada siswa. The Faculty of Language and Arts (FLA) at Soegijapranata Catholic University (SCU) has established an ongoing collaboration with the University of St. La Salle (USLS) in Bacolod, Philippines, to facilitate an international teaching internship program for students. This initiative has become a regular part of the Community Service program, which aims to strengthen international academic collaboration while expanding cross-cultural learning insights for students. SMA PL Don Bosko, Semarang was selected as a strategic partner due to its consistent support for the success of this international internship program. The motivation for hosting these Filipino interns was the limited use of English in Biology and Physics classes, as well as students' low confidence in expressing opinions in a classroom where English is the medium of instruction. In this activity, a qualitative descriptive method was used with a Game-Based Learning (GBL) approach, involving three interns from USLS and four buddies (assistants) from FLA-SCU for 80 high school students. Data analysis from questionnaires revealed a highly positive response: 97.6% of students stated that the interns mastered the teaching material well, 98.8% felt that the learning objectives were clearly communicated, 96.4% felt they had opportunities to participate actively in class, and 96.4% stated that the teaching methods used were able to increase their learning enthusiasm. Additionally, 95.2% of students appreciated the use of engaging technology and learning media during the activities. Interviews with the student buddies also revealed that the GBL approach created a more interactive classroom atmosphere through activities such as charades and quizzes, making the class enjoyable and student-centered compared to conventional material-oriented teaching. In conclusion, this program successfully strengthened global competence and cross-cultural experience through innovative, interactive, and student-centered learning practices.
Literasi digital: Pemberdayaan kader PKK melalui optimalisasi AI dalam pembuatan konten online Dian Marhaeni Kurdaningsih; Iky Putri Aristhya; Urip Mulyadi
Community Empowerment Journal Vol. 4 No. 3 (2026)
Publisher : CV. Yudhistt Fateeh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61251/cej.v4i3.450

Abstract

Kemajuan teknologi Artificial Intelligence (AI) pada media online membawa dualitas antara peluang efisiensi kreatif dan risiko pengaburan realitas melalui konten hasil kloning (suara, wajah, dan animasi). Masyarakat, khususnya di tingkat keluarga, kerap menjadi konsumen pasif yang rentan terhadap manipulasi informasi digital. Tujuan kegiatan ini adalah membangun kesadaran kritis serta keterampilan teknis bagi kader PKK Kelurahan Gedawang sebagai pelopor literasi digital di lingkungan warga. Pelatihan ini menggunakan metode komunikasi langsung (face-to-face) dengan pendekatan interaktif berbasis emic, yaitu menggali permasalahan nyata yang dihadapi peserta di lapangan untuk dicarikan solusinya melalui teknologi AI. Hasil dari pengabdian ini diharapkan mampu meningkatkan kemandirian kader PKK dalam memproduksi konten positif yang sehat, kreatif, dan edukatif, sekaligus memiliki daya kritis terhadap keaslian informasi di era digital. Melalui pemberdayaan ini, kader PKK berperan sebagai percontohan dalam meminimalisir risiko sosial-ekonomi akibat penyalahgunaan teknologi AI di masa depan. Kegiatan ini memiliki keterbatasan dalam aspek durasi dan infrastruktur perangkat, Antusiasme peserta dalam mengadopsi teknologi AI untuk tujuan produktif, seperti promosi UMKM lokal, menunjukkan bahwa pemberdayaan berbasis teknologi sangat mungkin dilakukan di tingkat mikro.Bagi tim pengabdian selanjutnya, sangat disarankan untuk membentuk wadah komunikasi permanen, seperti grup konsultasi digital atau komunitas belajar berbasis media sosial. Keberadaan kanal ini berfungsi sebagai media monitoring dan evaluasi jangka panjang guna memastikan keberlanjutan dampak program. Advances in Artificial Intelligence (AI) technology in online media present a duality between opportunities for creative efficiency and the risk of blurring reality through cloned content (voices, faces, and animations). The public, particularly at the family level, often becomes passive consumers who are vulnerable to digital information manipulation. The objective of this activity is to build critical awareness and technical skills among PKK cadres in Gedawang Subdistrict as pioneers of digital literacy within their communities. This training uses a face-to-face communication method with an interactive, emic-based approach, which involves exploring real-world problems faced by participants in the field to find solutions through AI technology. The outcome of this community service initiative is expected to enhance the independence of PKK cadres in producing positive, wholesome, creative, and educational content, while also fostering their critical thinking skills regarding the authenticity of information in the digital age. Through this empowerment, PKK cadres will serve as role models in minimizing the socioeconomic risks resulting from the misuse of AI technology in the future. This initiative has limitations in terms of duration and hardware infrastructure. However, the participants’ enthusiasm for adopting AI technology for productive purposes—such as promoting local MSMEs—demonstrates that technology-based empowerment is very much feasible at the micro level. For future community service teams, it is highly recommended to establish a permanent communication platform, such as a digital consultation group or a social media-based learning community. The existence of such channels serves as a medium for long-term monitoring and evaluation to ensure the sustainability of the program’s impact.
Peningkatan kompetensi digital guru melalui pelatihan dan pendampingan pengembangan media pembelajaran berbasis Artificial Intelligence di TK Al Khairiyah Sylvia Sylvia; Juhana Juhana; Lidwina Sri Ardiasih; Maya Puspitasari; Widya Rizky Pratiwi; Siva Afida; Ibnu Wahyurianto
Community Empowerment Journal Vol. 4 No. 3 (2026)
Publisher : CV. Yudhistt Fateeh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61251/cej.v4i3.451

Abstract

Perkembangan teknologi digital dan Artificial Intelligence (AI) membuka peluang baru dalam meningkatkan kualitas pembelajaran, termasuk pada jenjang pendidikan anak usia dini. Namun, kompetensi digital guru taman kanak-kanak, khususnya di wilayah perdesaan, masih relatif terbatas sehingga pemanfaatan media digital dalam pembelajaran belum optimal. Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) ini bertujuan meningkatkan kompetensi digital guru melalui pelatihan dan pendampingan pengembangan media pembelajaran digital berbasis Artificial Intelligence di TK Al Khairiyah, Kabupaten Bogor. Kegiatan melibatkan enam orang guru dan dilaksanakan melalui tiga tahapan, yaitu planning, implementation, dan evaluation. Tahap planning dilakukan melalui observasi, wawancara, dan analisis kebutuhan untuk mengidentifikasi kondisi pembelajaran serta kompetensi digital guru. Tahap implementation berupa pelatihan dan praktik pengembangan video animasi edukatif dengan memanfaatkan beberapa perangkat berbasis AI. ChatGPT digunakan untuk menyusun prompt, storyboard, dan naskah pembelajaran; perangkat AI digunakan untuk menghasilkan ilustrasi edukatif, narasi suara, dan musik latar; sedangkan Canva digunakan untuk mengintegrasikan seluruh komponen menjadi video pembelajaran. Setiap peserta menghasilkan satu video animasi bertema Mengenal Huruf dan Hewan sebagai produk akhir. Tahap evaluation dilakukan melalui observasi, penilaian produk, dan penyebaran angket untuk mengetahui respons peserta. Hasil evaluasi menunjukkan respons yang sangat positif. Seluruh peserta menyatakan pelatihan meningkatkan pengetahuan dan keterampilan dalam mengembangkan media digital, sedangkan 83,33% peserta menyatakan materi sangat sesuai dengan kebutuhan. Seluruh peserta juga berkomitmen mengimplementasikan media yang dikembangkan dalam pembelajaran. Program ini menunjukkan bahwa pelatihan berbasis praktik yang dipadukan dengan pendampingan efektif meningkatkan kompetensi digital guru dan mendukung pembelajaran yang kreatif, interaktif, dan bermakna bagi anak usia dini.
Dinamika kohesivitas kelompok pada santri baru: Sebuah studi fenomenologi Habib Hasyim Bin Alwi Al Bin Yahya; Joko Kuncoro
Community Empowerment Journal Vol. 4 No. 3 (2026)
Publisher : CV. Yudhistt Fateeh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61251/cej.v4i3.453

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap dinamika kohesivitas kelompok pada santri baru di lingkungan pesantren. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Pengambilan data menggunakan pedoman wawancara mendalam dengan model semi-terstruktur. Pengambilan sampel menggunakan teknik purposive sampling dengan kriteria partisipan sebagai berikut: 1) Santri mukim di pesantren, 2) Santri baru, kurang dari satu tahun mukim di pesantren, 3) Berusia minimal 18 tahun. Hasil penelitian mengungkap terdapat tiga tema spesifik berdasarkan pengalaman hidup santri baru mengenai kohesivitas kelompok di lingkungan pesantren, 1) Pemaknaan barakah sebagai tujuan hidup, 2) Ta’dzim atau Kepatuhan mutlak sebagai katalisator terhadap distress, dan 3) Ukhuwah (jalinan sosial yang didasarkan pada nilai religiusitas) sebagai kohesi sosial transfinit. Hasil penelitian dianalisis menggunakan model Interpretative Phenomenological Analysis. Luaran praktis penelitian ini dapat dijadikan sebagai dasar pijakan untuk merancang program masa orientasi bagi santri baru agar lebih relevan dengan tujuan kohesivitas yang hendak dicapai pada masing-masing institusi pesantren di seluruh Indonesia. This study aims to uncover the dynamics of group cohesiveness among new santri (Islamic boarding school students). This study employs a qualitative method with a phenomenological approach. Data collection was conducted using an in-depth, semi-structured interview guide. Sampling was carried out using a purposive sampling technique based on the following participant criteria: 1) Residing in the pesantren (boarding students), 2) Being a new student, with less than one year of residency in the pesantren, and 3) Being at least 18 years old. The results revealed three specific themes based on the lived experiences of new santri regarding group cohesiveness in the pesantren environment: 1) The meaning of barakah (blessing) as a life purpose, 2) Ta'dzim or radical obedience as a catalyst against distress, 3) Ukhuwah (social bonds based on religious values) as transfinite social cohesion. The research data were analyzed using the Interpretative Phenomenological Analysis (IPA) framework. The practical output of this study can serve as a foundation for designing orientation programs for new santri, ensuring they are more aligned with the cohesiveness goals intended by each pesantren institution across Indonesia field.
Implementasi Artificial Intelligence dan Deep Learning pada pembelajaran Bahasa Indonesia di SMK Evi Chamalah; Aida Azizah; Leli Nisfi Setiana; Meilan Arsanti; Oktarina Puspita Wardani; Turahmat Turahmat; Maulana Andi
Community Empowerment Journal Vol. 4 No. 3 (2026)
Publisher : CV. Yudhistt Fateeh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61251/cej.v4i3.454

Abstract

Guru Bahasa Indonesia SMK menghadapi berbagai tantangan dalam mengimplementasikan pembelajaran yang selaras dengan Kurikulum Merdeka, khususnya dalam memanfaatkan Artificial Intelligence (AI) dan pendekatan Deep Learning. Berdasarkan hasil wawancara dan diskusi dengan Ketua MGMP Bahasa Indonesia SMK Kota Semarang, sebagian besar guru belum memahami konsep AI dan Deep Learning, guru mengalami kesulitan dalam menyusun modul ajar yang inovatif, serta keterbatasan dalam pelatihan yang relevan. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan meningkatkan kompetensi pedagogik guru dalam memahami dan mengimplementasikan AI dan Deep Learning pada pembelajaran Bahasa Indonesia. Metode pelaksanaan terdiri atas tiga tahapan, yaitu persiapan, pelaksanaan, serta evaluasi dan pendampingan. Kegiatan diikuti oleh 100 guru MGMP Bahasa Indonesia SMK Kota Semarang melalui ceramah interaktif, workshop, praktik penyusunan modul ajar, dan pendampingan klinis. Evaluasi dilakukan menggunakan instrumen pretes dan postes yang dianalisis dengan uji paired sample t-test dan perhitungan N-Gain. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa rata-rata nilai peserta meningkat dari 40,00 pada pretes menjadi 75,00 pada postes atau mengalami peningkatan sebesar 35 poin. Hasil uji paired sample t-test menunjukkan perbedaan yang signifikan antara nilai pretes dan postes (p < 0,05), sedangkan nilai N-Gain sebesar 0,58 berada pada kategori sedang. Kegiatan ini juga menghasilkan komunitas praktisi melalui grup WhatsApp dan Google Drive sebagai media pendampingan berkelanjutan. Dengan demikian, pelatihan terbukti efektif dalam meningkatkan pemahaman konseptual, keterampilan penyusunan modul ajar, serta kompetensi guru dalam mengimplementasikan pembelajaran Bahasa Indonesia yang lebih inovatif, bermakna, dan adaptif terhadap perkembangan teknologi. Indonesian language teachers at vocational schools face various challenges in implementing learning aligned with the Independent Curriculum, particularly in utilizing Artificial Intelligence (AI) and Deep Learning approaches. Based on interviews and discussions with the Head of the Indonesian Language MGMP at SMK Semarang City, most teachers do not yet understand the concepts of AI and Deep Learning, teachers experience difficulties in developing innovative teaching modules, and limitations in relevant training. This community service activity aims to improve teachers' pedagogical competence in understanding and implementing AI and Deep Learning in Indonesian language learning. The implementation method consists of three stages: preparation, implementation, and evaluation and mentoring. The activity was attended by 100 Indonesian Language MGMP teachers at SMK Semarang City through interactive lectures, workshops, practical training in developing teaching modules, and clinical mentoring. Evaluation was conducted using pretest and posttest instruments analyzed with paired sample t-tests and N-Gain calculations. The results of the activity showed that the average score of participants increased from 40.00 in the pretest to 75.00 in the posttest, an increase of 35 points. The paired sample t-test results showed a significant difference between the pretest and posttest scores (p < 0.05), while the N-Gain value of 0.58 was in the moderate category. This activity also generated a community of practitioners through WhatsApp groups and Google Drive as a medium for ongoing mentoring. Thus, the training proved effective in improving conceptual understanding, teaching module development skills, and teacher competency in implementing more innovative, meaningful, and technologically adaptive Indonesian language learning.
Pendampingan Pokdarwis Pepeling dan Pemerintah Desa Manggihan dalam penyusunan masterplan Desa Wisata berbasis Eko-eduwisata Ardiana Yuli Puspitasari; Jamilla Kautsary; Mila Karmilah; Eppy Yuliani; Wa Ode Sitti Khasanah Ramli
Community Empowerment Journal Vol. 4 No. 3 (2026)
Publisher : CV. Yudhistt Fateeh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61251/cej.v4i3.460

Abstract

Desa Manggihan merupakan desa wisata rintisan di Kecamatan Getasan, Kabupaten Semarang, yang memiliki potensi alam, pertanian, peternakan, dan embrio kegiatan wisata edukasi, namun belum didukung oleh dokumen perencanaan yang komprehensif akibat keterbatasan kapasitas teknis Pokdarwis Pepeling dan Pemerintah Desa. Kegiatan pengabdian ini bertujuan mendampingi penyusunan Masterplan Desa Wisata Manggihan berbasis edukasi dan ekologi melalui pendekatan partisipatif. Metode pelaksanaan meliputi empat tahap: penyamaan persepsi dan survei primer, Focus Group Discussion (FGD), pemetaan udara dengan drone, serta penyusunan dokumen melalui analisis deskriptif-kualitatif, spasial, dan SWOT. Hasil analisis SWOT menempatkan strategi pengembangan desa pada kuadran I, dengan kekuatan internal yang mampu menangkap peluang eksternal secara optimal. Kawasan prioritas pengembangan ditetapkan di Dusun Manggihan dan Dusun Sengon seluas 124 Ha, terbagi menjadi Zona Penerima, Zona Inti, dan Zona Penunjang, dengan dua produk wisata utama yaitu camping ground dan wisata edukasi. Rencana investasi disusun dalam dua tahap selama sepuluh tahun dengan total kebutuhan dana sekitar Rp3,84 miliar bersumber dari APBD, Dana Desa, dan CSR. Kegiatan pendampingan ini menghasilkan dokumen masterplan yang dapat digunakan sebagai panduan teknis sekaligus meningkatkan kapasitas dan kesiapan Pokdarwis Pepeling dan Pemerintah Desa Manggihan dalam mengelola pengembangan desa wisata berbasis edukasi dan ekologi secara berkelanjutan. Manggihan Village is an emerging tourism village in Getasan Sub-district, Semarang Regency, endowed with natural, agricultural, and livestock potential, along with nascent educational tourism activities. However, its development has lacked a comprehensive planning document due to limited technical capacity within the Pepeling Tourism Awareness Group (Pokdarwis) and the Village Government. This community service program aimed to assist in preparing the Manggihan Tourism Village Masterplan based on education and ecotourism through a participatory approach. The method consisted of four stages: perception alignment and primary survey, Focus Group Discussion (FGD), aerial mapping using drones, and document preparation through descriptive-qualitative, spatial, and SWOT analysis. The SWOT analysis positioned the village's development strategy in Quadrant I, reflecting strong internal capacities capable of optimally capturing external opportunities. The priority development area was designated in Manggihan and Sengon Hamlets, covering 124 hectares, divided into a Reception Zone, Core Zone, and Supporting Zone, with two main tourism products: a camping ground and community-based educational tourism. The investment plan was structured into two five-year phases over a ten-year period, requiring approximately IDR 3.84 billion sourced from regional budgets, village funds, and corporate social responsibility (CSR) contributions. This assistance program produced a technically accountable masterplan document while strengthening the capacity and readiness of Pokdarwis Pepeling and the Manggihan Village Government to sustainably manage education- and ecotourism-based village tourism development.
Pengaruh kemandirian dan persepsi kepada guru terhadap hasil belajar IPAS peserta didik kelas IV SD Negeri 2 Kalipetir Kurniawati Puji Lestari; Subaryana Subaryana; Faridl Musyadad
Community Empowerment Journal Vol. 4 No. 3 (2026)
Publisher : CV. Yudhistt Fateeh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61251/cej.v4i3.462

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh kemandirian belajar terhadap hasil belajar IPAS, pengaruh persepsi peserta didik kepada guru terhadap hasil belajar IPAS, serta pengaruh kemandirian belajar dan persepsi peserta didik kepada guru secara simultan terhadap hasil belajar IPAS peserta didik kelas IV SD Negeri 2 Kalipetir Tahun Ajaran 2025/2026. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan jenis penelitian ex post facto. Populasi penelitian berjumlah 25 peserta didik kelas IV dengan teknik sampel jenuh. Pengumpulan data dilakukan melalui angket dan dokumentasi hasil belajar IPAS, sedangkan analisis data menggunakan regresi linear berganda dengan bantuan SPSS versi 25. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kemandirian belajar berpengaruh positif dan signifikan terhadap hasil belajar IPAS dengan sumbangan pengaruh sebesar 42,2%. Persepsi peserta didik kepada guru juga berpengaruh positif dan signifikan dengan sumbangan pengaruh sebesar 84,3%. Secara simultan, kemandirian belajar dan persepsi peserta didik kepada guru berpengaruh signifikan terhadap hasil belajar IPAS dengan kontribusi sebesar 89,5%, sedangkan sisanya dipengaruhi oleh faktor lain di luar penelitian. Temuan ini memberikan kontribusi bagi pengembangan ilmu pendidikan, khususnya dalam memperkuat pentingnya pengembangan kemandirian belajar serta penciptaan persepsi positif peserta didik terhadap guru sebagai upaya meningkatkan hasil belajar IPAS di sekolah dasar. This study aimed to analyze the effect of learning independence on fourth-grade students' science and social studies (IPAS) learning outcomes, the effect of students' perceptions of teachers on IPAS learning outcomes, and the simultaneous effect of learning independence and students' perceptions of teachers on IPAS learning outcomes at SD Negeri 2 Kalipetir in the 2025/2026 academic year. This research employed a quantitative approach using an ex post facto design. The population consisted of 25 fourth-grade students, and a saturated sampling technique was applied. Data were collected through questionnaires and documentation of students' IPAS learning outcomes. The data were analyzed using multiple linear regression with SPSS version 25. The results revealed that learning independence had a positive and significant effect on IPAS learning outcomes, contributing 42.2% to students' achievement. Students' perceptions of teachers also had a positive and significant effect, contributing 84.3%. Furthermore, learning independence and students' perceptions of teachers simultaneously had a significant effect on IPAS learning outcomes, with a coefficient of determination of 89.5%, while the remaining 10.5% was influenced by other factors beyond the scope of this study. These findings contribute to educational research by highlighting the importance of fostering students' learning independence and developing positive teacher–student relationships to improve learning outcomes in elementary school.
Pembuatan abon ikan dan manajemen usaha dalam meningkatkan pendapatan keluarga di Kampung Adoki, Distrik Yendidori, Kabupaten Biak Numfor Jack Henry Syauta; Westim Ratang; Anita Erari; Yohanis Rante; Dorlince Mehuwe; Syort Hendrik Ondi; Meiske Londoh; Idham Khaliq
Community Empowerment Journal Vol. 4 No. 3 (2026)
Publisher : CV. Yudhistt Fateeh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61251/cej.v4i3.464

Abstract

Masyarakat Kampung Adoki, Distrik Yendidori, Kabupaten Biak Numfor sebagian besar bermata pencaharian sebagai nelayan, dengan hasil tangkapan yang umumnya dijual dalam keadaan segar berharga relatif murah, sehingga nilai tambah produk dan pendapatan keluarga masih terbatas. Kegiatan pengabdian ini bertujuan meningkatkan pengetahuan dan keterampilan masyarakat, khususnya kaum ibu keluarga nelayan, dalam mengolah ikan menjadi abon yang bernilai ekonomis serta mengelola usaha secara sederhana. Metode pelaksanaan mencakup tiga tahap: persiapan (koordinasi dengan pemerintah daerah dan analisis situasi mitra), pelaksanaan (pelatihan pembuatan abon ikan, manajemen usaha, pengemasan, dan pemasaran online), serta evaluasi melalui kuesioner sebelum dan sesudah pelatihan. Kegiatan dilaksanakan pada 28 Mei 2026 dan diikuti 40 peserta, khususnya kaum ibu keluarga nelayan. Hasil evaluasi menunjukkan peningkatan pemahaman peserta pada seluruh aspek, yaitu manajemen usaha sederhana (dari 10% menjadi 80%), cara membuat abon ikan (dari 5% menjadi 70%), pembuatan kemasan yang menarik (dari 10% menjadi 75%), dan pemasaran online (dari 25% menjadi 60%). Kegiatan ini diharapkan menumbuhkan jiwa kewirausahaan, menciptakan usaha rumah tangga produktif, serta meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan keluarga nelayan berbasis potensi lokal, sekaligus menjadi wujud pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi. The community of Adoki Village, Yendidori District, Biak Numfor Regency, mostly works as fishers, and their catch is generally sold fresh at relatively low prices, so that product added value and family income remain limited. This community service activity aimed to improve the knowledge and skills of the community, particularly the wives of fisher families, in processing fish into economically valuable floss (abon) and in managing simple businesses. The implementation method comprised three stages: preparation (coordination with local government and partner situation analysis), implementation (training in fish floss production, business management, packaging, and online marketing), and evaluation through pre- and post-training questionnaires. The activity was held on 28 Mei 2026 and was attended by 40 participants, particularly the wives of fisher families. Evaluation results showed improved participant understanding across all aspects: simple business management (from 10% to 80%), making fish floss (from 5% to 70%), attractive packaging (from 10% to 75%), and online marketing (from 25% to 60%). The activity is expected to foster an entrepreneurial spirit, create productive household enterprises, and increase the income and welfare of fisher families based on local potential, while also embodying the Tri Dharma of Higher Education.