cover
Contact Name
Choiril Anwar
Contact Email
choirilanwar@unissula.ac.id
Phone
+6281931704317
Journal Mail Official
choirilanwar@itpd.or.id
Editorial Address
Gang Melati 8 Ds. Mlaten, Mijen, Demak, Jawa Tengah. 59583
Location
Kab. demak,
Jawa tengah
INDONESIA
Community Empowerment Journal
Published by CV. Yudhistt Fateeh
ISSN : -     EISSN : 30248558     DOI : https://doi.org/10.61251/cej
The mission of Community Empowerment Journal is to serve as the premier peer-reviewed, interdisciplinary journal to advance theory and practice related to all forms of outreach and empowerment. This includes highlighting innovative endeavors; critically examining emerging issues, trends, challenges, and opportunities; and reporting on studies of impact in the areas of public service, outreach, empowerment, extension, engaged research, community-based research, community-based participatory research, action research, public scholarship, service-learning, and community services. Focus Community Empowerment Journal aims to provide a forum for international researchers on applied Society Development and Empowerment to publish the original articles. The scope of Community Empowerment Journal is Society Development and Empowerment.
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 128 Documents
Edukasi pembiayaan qordhul hasan untuk meningkatkan kinerja bisnis UMKM Annisa36, Kelurahan Candi, Kec. Candisari, Kota Semarang Mutamimah Mutamimah; Hanif Ahmadi; Dedi Rusdi
Community Empowerment Journal Vol. 4 No. 2 (2026)
Publisher : CV. Yudhistt Fateeh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61251/cej.v4i2.390

Abstract

Kemiskinan di Jawa Tengah merupakan masalah yang belum terselesaikan hingga saat ini. Salah satu upaya untuk menurunkan kemiskinan adalah dengan pemberdayaan ekonomi melalui Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM). Namun mayoritas UMKM, termasuk UMKM Annisa36 masih mengalami keterbatasan akses modal, sehingga menghambat untuk pengembangan bisnisnya. Walaupun ada kreditur yang bersedia meminjami modal, namun pinjaman modal harus melalui  rentenir tanpa jaminan/collateral, dengan biaya bunga yang sangat memberatkan. Oleh karena sangat urgent dilakukan edukasi pembiayaan skema Qordhul Hasan bagi UMKM Annisa36, Kec. Candi, Kota Semarang. Pembiayaan  Qordhul Hasan sebagai sangat tepat diberikan kepada UMKM non bankable, yang tidak memerlukan jaminan, tanpa bunga dan selanjutnya peminjam hanya mengembalikan dana dengan cara diangsur sebesar nilai modal yang dipinjam sehingga tidak memberatkan bagi UMKM. Tujuan pengabdian masyarakat ini adalah untuk meningkatkan pengetahuan, pemahaman, dan keterampilan terkait pembiyaan modal dengan skema Qordhul Hasan bagi UMKM Annisa36, Keluarahan Candi, Kec. Candisari Kota Semarang. Metode pengabdian masyarakat, antara lain: a) Survey awal untuk mengetahui potensi dan permasalahan bisnis UMKM Annisa36, Kel. Candi, Kec. Candisari, Kota Semarang. b) Penyampaian materi Edukasi Pembiayaan skema Qordhul Hasan kepada UMKM Annisa36, Kel. Candi, Kec. Candisari, Kota Semarang, dan c) Monitoring dan penilaian kinerja terhadap hasil edukasi pembiayaan skema Qordhul Hasan. Hasilnya menunjukkan bahwa setelah dilakukan edukasi, pendampingan, serta monitoring dan evaluasi, terbukti bahwa UMKM Annisa36, Kel. Candi, Kec. Candisari, Kota Semarang mempunyai pengetahuan, pemahaman dan keterampilan mekanisme pembiayaan qordhul hasan. Dengan kemudahan akses modal ini, UMKM dapat berkembang dan bertahan dalam jangka panjang. Poverty in Central Java remains an unresolved problem. One effort to reduce poverty is economic empowerment through Micro, Small, and Medium Enterprises (MSMEs). However, the majority of MSMEs, including Annisa36, still experience limited access to capital, hampering their business development. Although creditors are willing to lend capital, these loans must be obtained through loan sharks without collateral, with very burdensome interest rates. Therefore, it is urgent to educate the Annisa36 MSMEs in Candi District, Semarang City, about the Qordhul Hasan financing scheme. Qordhul Hasan financing is highly appropriate for non-bankable MSMEs, as it requires no collateral and is interest-free. The borrower then repays the funds in installments equal to the amount of the loan, thus minimizing the burden on the MSME. The purpose of this community service is to increase knowledge, understanding, and skills related to capital financing under the Qordhul Hasan scheme for the Annisa36 MSME in Candi Village, Candisari District, Semarang City. The community service methods include: a). An initial survey to determine the business potential and challenges of the Annisa36 MSME, Candi Subdistrict, Candisari District, Semarang City. b) Delivery of educational materials on financing under the Qordhul Hasan scheme to the Annisa36 MSME, Candi Subdistrict, Candisari District, Semarang City. c) Monitoring and performance assessment of the results of the Qordhul Hasan financing education. The results showed that after educating, mentoring, monitoring, and evaluation, the Annisa36 MSME, Candi Subdistrict, Candisari District, Semarang City, has the knowledge, understanding, and skills to operate the Qordhul Hasan financing mechanism. With this easy access to capital, MSMEs can grow and survive in the long term.
Mapping the difference of CEFR levels to explore the reading difficulties of EFL students Jazlyn Zeevania Intany; Galuh Kirana Dwi Areni
Community Empowerment Journal Vol. 4 No. 2 (2026)
Publisher : CV. Yudhistt Fateeh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61251/cej.v4i2.392

Abstract

This study maps the CEFR reading competence levels of 81 EFL grade 12 students and assess their cognitive reading challenges. Using a descriptive qualitative, objective data from the Oxford Reading CEFR Test, which was mapped to Khalifa and Weir’s (2009) framework, was combined with qualitative questionnaire findings. The findings indicate a systematic shift in reading problems. A2 levels students struggle with lower-level decoding but have a “failure to monitor comprehension” due to in adequate attentional resources, thus they are ignorant of their inability to handle higher-level activities. As basic decoding is automated, B1 students become more aware of higher-level issues such as inference. Meanwhile, B2 students confront challenges in developing a global mental model. These findings underscore the need of using customized educational interventions that are adapted to students’ specific cognitive thresholds rather than providing universal reading training.
Analisis kemampuan literasi Matematika siswa SMP Negri 4 Tanjungpinang dalam menyelesaikan soal AKM ditinjau dari kecemasan Matematika Dwi Wahyu Wijayanti; Eka Widia Astuti; Mira Febriani; Siti Nurfaiza; Silvia Fadillah Sahriani; Nurul Hilda Syani Putri
Community Empowerment Journal Vol. 4 No. 2 (2026)
Publisher : CV. Yudhistt Fateeh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61251/cej.v4i2.404

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kemampuan literasi matematika siswa SMPN 4 Tanjungpinang kelas IX dalam menyelesaikan soal Asesmen Kompetensi Minimum (AKM) ditinjau dari tingkat kecemasan matematika. Penelitian menggunakan pendekatan mixed methods dengan desain explanatory sequential. Subjek penelitian adalah 30 siswa kelas IX yang dipilih secara purposive. Instrumen yang digunakan meliputi angket kecemasan matematika dengan tiga faktor (kognitif, afektif, fisiologis) yang terdiri dari 18 butir pernyataan skala Likert, serta soal AKM yang mencakup konten aljabar, geometri, data dan ketidakpastian, serta bilangan pada level kognitif knowing, applying, dan reasoning. Hasil statistik deskriptif menunjukkan bahwa siswa dengan kecemasan rendah memperoleh rata-rata skor AKM sebesar 3,00 (SD=0,707), siswa dengan kecemasan sedang memperoleh rata-rata 2,73 (SD=0,883), dan siswa dengan kecemasan tinggi memperoleh rata-rata 2,67 (SD=0,577). Uji normalitas Shapiro-Wilk menunjukkan bahwa data pada kategori sedang (p=0,009) dan tinggi (p=0,000) tidak berdistribusi normal, sehingga digunakan uji Kruskal-Wallis yang menunjukkan tidak terdapat perbedaan signifikan kemampuan AKM antar kelompok kecemasan (H=0,725; p=0,696). Uji korelasi Spearman mengkonfirmasi tidak terdapat hubungan yang signifikan antara kecemasan matematika dengan kemampuan AKM (rs=0,079; p=0,678). Analisis kualitatif terhadap jawaban lima subjek terpilih mengungkap bahwa kemampuan literasi matematika lebih dipengaruhi oleh penguasaan konten dan proses berpikir matematis daripada tingkat kecemasan semata. This study aims to analyze the mathematical literacy ability of ninth-grade students at SMPN 4 Tanjungpinang in solving Minimum Competency Assessment (AKM) problems, viewed from the perspective of mathematics anxiety. The study employed a mixed methods approach with an explanatory sequential design. The research subjects were 30 ninth-grade students selected purposively. The instruments used included a mathematics anxiety questionnaire based on Suharyadi's (2003) indicators with three factors (cognitive, affective, physiological) consisting of 18 Likert-scale items, and AKM questions covering algebra, geometry, data and uncertainty, and number content at knowing, applying, and reasoning cognitive levels. Descriptive statistical results showed that students with low anxiety obtained an average AKM score of 3.00 (SD=0.707), students with moderate anxiety obtained an average of 2.73 (SD=0.883), and students with high anxiety obtained an average of 2.67 (SD=0.577). The Shapiro-Wilk normality test showed that data in the moderate (p=0.009) and high (p=0.000) categories were not normally distributed, so the Kruskal-Wallis test was used, which showed no significant difference in AKM ability among anxiety groups (H=0.725; p=0.696). The Spearman correlation test confirmed no significant relationship between mathematics anxiety and AKM ability (rs=0.079; p=0.678). Qualitative analysis of five selected subjects' answers revealed that mathematical literacy ability is more influenced by content mastery and mathematical thinking processes than by anxiety level alone.
Manajemen keuangan industri Keropok Warisan Losong di Trengganu Malaysia menuju era digitalisasi Edy Suprianto; Ahmad Salim; Yusliena binti Yusoff
Community Empowerment Journal Vol. 4 No. 2 (2026)
Publisher : CV. Yudhistt Fateeh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61251/cej.v4i2.375

Abstract

Perkembangan teknologi dan e-commerce telah membuka peluang besar bagi UMKM untuk memperluas pasar mereka. Pentingnya pemanfaatan teknologi digital dalam mendukung pertumbuhan UMKM, terutama dalam menjangkau pasar yang lebih luas. Dengan memanfaatkan teknologi, UMKM dapat mengoptimalkan strategi pemasaran mereka, yakni untuk meraih pasar yang lebih luas, bahkan di tingkat internasional. Permasalahan utama yaitu pertama masalah permodalan. Banyak UMKM kesulitan mendapatkan akses ke pinjaman modal untuk mengembangkan usaha mereka Berdasarkan permasalah yang disebutkan di atas, maka tujuan pengabdian ini adalah bagaimana mengelola keuangan UMKM secara mendiri sehingga memiliki permodal yang cukup dan tingkat literacy digital yang maksimal. Solusi yang kami tawarkan yaitu memberikan pelatihan tentang manajemen keuangan untuk UMKM. Pelatihan dilakukan dengan sosialisasi dan FGD tentang sistem pengelolaan keuangan UMKM secara digital dan mandiri. Kegiatan pengabdian masyarakat telah dilakukan dengan baik. UMKM memahami bagaimana mengelola keuangan dengan baik dan mengenal beberapa teknologi keuangan yang dapat dimanfaatkan untuk dalam mengelola keuangan UMKM. The development of technology and e-commerce has opened up significant opportunities for MSMEs to expand their markets. The importance of utilizing digital technology in supporting MSME growth, especially in reaching a wider market. By utilizing technology, MSMEs can optimize their marketing strategies, namely to reach a wider market, even at the international level. The main problem is the first issue of capital. Many MSMEs have difficulty accessing capital loans to develop their businesses. Based on the problems mentioned above, the purpose of this community service is how to manage MSME finances independently so that they have sufficient capital and a maximum level of digital literacy. The solution we offer is to provide training on financial management for MSMEs. The training was carried out through socialization and FGDs on the digital and independent MSME financial management system. The community service activities have been carried out well. MSMEs understand how to manage their finances well and are familiar with several financial technologies that can be utilized in managing MSME finances.
Enhancing reading instruction through multimodal, literacy, and AI integration: A training program for high school English teachers Sheila Agustina; Vidya Mandarani; Akbar Wiguna; Fika Megawati; Yunita Sabillah Damayanti; Achmad Oddy Syam Prayoga; Zaidan Al Zuhdi
Community Empowerment Journal Vol. 4 No. 2 (2026)
Publisher : CV. Yudhistt Fateeh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61251/cej.v4i2.377

Abstract

Low levels of reading interest and student engagement remain major challenges in high school English instruction. This issue is further exacerbated by the continued use of conventional teaching strategies and the limited integration of multimodal media and digital technologies. This community service program aimed to enhance teachers’ pedagogical competence in teaching reading through a multimodal approach, literacy enrichment, and the use of Artificial Intelligence (AI). The program was implemented in three stages: a workshop, the development of teaching modules, and classroom implementation, involving 52 high school English teachers from the MGMP in Sidoarjo Regency. Data were collected through pre-activity and post-activity questionnaires and analyzed descriptively. The results indicate a significant improvement in teachers’ understanding of multimodal, literacy-based, and AI-assisted reading instruction, increasing from approximately 60–70% at the initial stage to over 85% after the workshop. All participants successfully developed instructional modules, and more than 75% implemented them in their classrooms. This implementation contributed to increased student engagement, as reflected in higher levels of participation and interaction during reading activities. These findings suggest that a practice-based training approach—integrating workshops, module development, and classroom implementation—is effective in enhancing teachers’ competence and promoting more interactive and contextualized reading instruction. It is recommended that similar programs be sustained through ongoing mentoring to ensure long-term impact.
Pemberdayaan UMKM pujasera Gedongan melalui pendampingan foto produk smartphone Evelyne Henny Lukitasari; Yunita Primasanti; Risma Sakti Pambudi
Community Empowerment Journal Vol. 4 No. 2 (2026)
Publisher : CV. Yudhistt Fateeh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61251/cej.v4i2.378

Abstract

Kegiatan pengabdian masyarakat ini dilaksanakan di Pujasera Gedongan, Colomadu, Karanganyar, dengan tujuan untuk meningkatkan kemampuan pemasaran usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) setempat melalui fotografi produk yang efektif menggunakan smartphone. Mayoritas peserta merupakan pelaku usaha kuliner yang sangat mengandalkan media visual untuk mempromosikan produk mereka. Kegiatan ini meliputi serangkaian workshop dan pelatihan langsung yang berfokus pada teknik fotografi dasar, pencahayaan, komposisi, editing dengan aplikasi mobile, dan menciptakan tampilan produk yang estetis.Hasilnya menunjukkan peningkatan yang signifikan dalam kemampuan peserta untuk menghasilkan foto produk berkualitas tinggi menggunakan smartphone mereka. Sebelum pelatihan, sebagian besar peserta kurang memiliki pengetahuan tentang pencahayaan dan komposisi yang tepat, sehingga sering kali menghasilkan gambar produk yang tidak menarik dan tidak jelas. Setelah sesi pelatihan, peserta menunjukkan peningkatan kepercayaan diri dan kreativitas dalam memotret produk mereka, dengan banyak yang mampu menerapkan teknik seperti penataan flat-lay, pencahayaan alami, dan pemilihan latar belakang secara efektif. Selain itu, pelatihan ini menumbuhkan apresiasi yang lebih kuat terhadap pentingnya visual branding dan dampaknya terhadap penjualan online. Kegiatan pengabdian masyarakat ini berhasil meningkatkan potensi pemasaran digital pelaku UMKM di Pujasera Gedongan dengan membekali mereka dengan keterampilan fotografi yang praktis dan mudah diakses menggunakan smartphone. This community service activity was carried out at Pujasera Gedongan, Colomadu, Karanganyar, with the aim of improving the marketing capabilities of local micro, small, and medium enterprises (MSMEs) through effective product photography using smartphones. The majority of participants were culinary entrepreneurs who heavily rely on visual media to promote their products. This activity included a series of workshops and hands-on training that focused on basic photography techniques, lighting, composition, editing with mobile applications, and creating aesthetic product displays. The results showed a significant increase in participants' ability to produce high-quality product photos using their smartphones. Before the training, most participants lacked knowledge of proper lighting and composition, often resulting in unattractive and unclear product images. After the training session, participants showed increased confidence and creativity in photographing their products, with many being able to apply techniques such as flat-lay styling, natural lighting, and background selection effectively. In addition, the training fostered a stronger appreciation of the importance of visual branding and its impact on online sales. This community service activity has succeeded in increasing the digital marketing potential of MSME actors at Pujasera Gedongan by equipping them with practical and easily accessible photography skills using smartphones.
Program edukasi “Mata Jeli, Gigi Sehat”: Meningkatkan pengetahuan deteksi dini karies pada remaja Sandy Christiono; Welly Anggarani; Muhammad Dian Firdausy; Amara dhanish Clarasya
Community Empowerment Journal Vol. 4 No. 2 (2026)
Publisher : CV. Yudhistt Fateeh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61251/cej.v4i2.380

Abstract

Karies gigi merupakan masalah kesehatan mulut yang prevalensinya masih tinggi di Indonesia, khususnya pada kelompok remaja. Mayoritas kasus baru terdeteksi pada stadium lanjut karena minimnya pengetahuan tentang tanda-tanda awal karies, termasuk lesi bercak putih (white spot lesion) yang pada tahap ini sesungguhnya masih bersifat reversibel. Program pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan siswa SMK Al-Sya’iriyah, Limpung, Batang, tentang deteksi dini karies gigi melalui program edukasi interaktif “Mata Jeli, Gigi Sehat”. Kegiatan dilaksanakan pada 12 Juni 2025 dengan desain one-group pre-post test yang melibatkan 35 siswa. Intervensi terdiri atas empat sesi edukasi yang mencakup identifikasi visual karies tahap awal, pengenalan gejala non-visual, konsep remineralisasi, serta opsi perawatan preventif. Data dianalisis menggunakan uji paired t-test untuk perbandingan nilai pengetahuan dan uji Wilcoxon signed-rank untuk perbandingan distribusi kategori. Rerata nilai pretest sebesar 47,43 ± 14,42 meningkat secara signifikan menjadi 78,29 ± 14,35 pada posttest, dengan rerata peningkatan 30,86 ± 5,07. Uji paired t-test menunjukkan perbedaan yang sangat signifikan [t(34) = 36,01, p < 0,001] dengan ukuran efek yang sangat besar (Cohen’s d = 2,14). Uji Wilcoxon mengonfirmasi perubahan distribusi kategori yang signifikan (p < 0,001), di mana proporsi siswa berkategori “tinggi” meningkat dari 0% menjadi 62,9%. Program edukasi interaktif berbasis visual ini terbukti efektif meningkatkan pengetahuan deteksi dini karies pada remaja, mendukung paradigma kedokteran gigi minimal invasif. Dental caries remains a highly prevalent oral health problem in Indonesia, particularly among adolescents. Most cases are detected at advanced stages due to limited awareness of early caries signs, including white spot lesions, which are still reversible at that stage. This community service program aimed to improve the knowledge of students at SMK Al-Sya’iriyah, Limpung, Batang, regarding early dental caries detection through an interactive educational program titled “Sharp Eyes, Healthy Teeth” (Mata Jeli, Gigi Sehat). The program employed a one-group pre-post test design involving 35 students on June 12, 2025. The intervention comprised four educational sessions covering visual identification of early caries, non-visual symptoms, remineralization principles, and preventive treatment options. Data were analyzed using a paired t-test for score comparison and the Wilcoxon signed-rank test for categorical distribution. Mean pre-test scores (47.43 ± 14.42) increased significantly to 78.29 ± 14.35 at post-test, with a mean improvement of 30.86 ± 5.07. The paired t-test demonstrated a highly significant difference [t(34) = 36.01, p < 0.001] with a very large effect size (Cohen’s d = 2.14). The Wilcoxon test confirmed a significant shift in knowledge category distribution (p < 0.001), with the proportion of students in the “high” category increasing from 0% to 62.9%. The visual-based interactive educational program was effective in significantly improving adolescents’ early dental caries detection knowledge, supporting the minimal invasive dentistry paradigm.
Penguatan kesiapan pedagogis guru Sekolah Dasar melalui pendampingan pembelajaran Bahasa Inggris berbasis Realia dan Project-Based Learning Yuli Astutik; Fika Megawati; Sheila Agustina; Nabilah Ardelia Arianto; Zayyidah Fairuzah
Community Empowerment Journal Vol. 4 No. 2 (2026)
Publisher : CV. Yudhistt Fateeh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61251/cej.v4i2.381

Abstract

Kebijakan pemerintah yang menempatkan Bahasa Inggris sebagai mata pelajaran wajib di Sekolah Dasar mulai tahun 2027 menuntut kesiapan pedagogis guru, khususnya guru kelas non-Bahasa Inggris. Namun, pada praktiknya, banyak guru masih menghadapi kendala berupa rendahnya kepercayaan diri, keterbatasan strategi pembelajaran, serta minimnya penggunaan media konkret. Kegiatan pengabdian ini bertujuan untuk memperkuat kesiapan pedagogis guru melalui workshop dan praktik mengajar terbimbing berbasis realia dan Project-Based Learning (PjBL). Kegiatan workshop dilaksanakan di Kampus Universitas Muhammadiyah Sidoarjo dengan melibatkan 10 guru kelas dari SD Kreatif Muhammadiyah Bangil. Metode yang digunakan meliputi tahapan perencanaan, pelaksanaan workshop, implementasi di kelas, serta evaluasi reflektif melalui pre dan post activity berupa pertanyaan terbuka dan wawancara singkat. Hasil kegiatan menunjukkan adanya perubahan positif pada persepsi dan praktik guru, di mana Bahasa Inggris tidak lagi dipandang sebagai mata pelajaran yang sulit, melainkan dapat diajarkan secara kontekstual melalui benda nyata dan aktivitas sederhana. Selain itu, terjadi peningkatan kepercayaan diri guru serta keterlibatan siswa dalam pembelajaran. Implikasi dari kegiatan ini menunjukkan bahwa pendekatan berbasis praktik langsung dan penggunaan realia dapat menjadi strategi efektif dalam mendukung kesiapan implementasi kebijakan Bahasa Inggris di sekolah dasar secara lebih kontekstual dan berkelanjutan. The government policy mandating English as a compulsory subject in elementary schools starting in 2027 requires teachers’ pedagogical readiness, particularly among non-English homeroom teachers. However, in practice, many teachers still face challenges related to low self-confidence, limited instructional strategies, and minimal use of concrete teaching media. This community service program aimed to strengthen teachers’ pedagogical readiness through workshops and guided teaching practice based on realia and Project-Based Learning (PjBL). The workshop was conducted at Universitas Muhammadiyah Sidoarjo and involved 10 homeroom teachers from SD Kreatif Muhammadiyah Bangil. The methods included planning, workshop implementation, classroom application, and reflective evaluation through pre- and post-activity open-ended questions and short interviews. The findings indicated positive changes in teachers’ perceptions and instructional practices, in which English was no longer viewed as a difficult subject but as one that could be taught contextually through real objects and simple activities. In addition, improvements were observed in teachers’ self-confidence and students’ engagement during the learning process. The implications of this program suggest that a practice-oriented approach combined with the use of realia can serve as an effective strategy to support the contextual and sustainable implementation of English language policy in elementary schools.
Penguatan kompetensi menulis esai melalui penyusunan buku antologi sebagai media edukasi di masyarakat Mohammad Agung Ridlo; Tjoek Suroso Hadi Tjoek; Adnan Ghiffari Ghiffa
Community Empowerment Journal Vol. 4 No. 2 (2026)
Publisher : CV. Yudhistt Fateeh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61251/cej.v4i2.382

Abstract

Program pengabdian masyarakat ini bertujuan memperkuat kompetensi menulis esai ilmiah populer bagi anggota Komunitas Satupena Jawa Tengah melalui penyusunan buku antologi sebagai media edukasi inklusif. Di tengah tantangan literasi era informasi, mitra mengalami keterbatasan dana dan pendampingan mendalam, meskipun potensi anggota tinggi dari kalangan dosen, mahasiswa, dan masyarakat awam. Pendekatan terpadu mengintegrasikan prinsip learning by doing  yang terbukti efektif meningkatkan keterampilan menulis melalui praktik langsung dan pendampingan intensif. Tahapan mencakup analisis situasi, identifikasi masalah, pelatihan intensif, dan produksi antologi ber-ISBN yang dipublikasikan daring. Luaran meliputi buku antologi, peningkatan literasi, serta agen perubahan sosial di bidang perencanaan wilayah. Program ini tidak hanya mengatasi hambatan Satupena, tetapi juga mendemokratisasi pengetahuan untuk masyarakat luas, selaras dengan paradigma learning by doing yang menekankan keterlibatan aktif peserta dalam proses belajar. This community service program aims to strengthen members’ competencies in writing popular scientific essays within the Satupena Central Java Community by producing an anthology as an inclusive educational medium. Amid the literacy challenges of the information era, partners face limited funding and a lack of in-depth mentoring, despite strong potential among members drawn from lecturers, students, and the general public. A comprehensive approach integrates the proven principle of learning by doing, which effectively enhances writing skills through hands-on practice and intensive guidance. The stages include situation analysis, problem identification, intensive training, and the production of an ISBN-registered anthology published online. Expected outputs include the anthology, improved literacy, and the emergence of social change agents in regional planning. This program not only addresses Satupena’s obstacles but also democratizes knowledge for the wider community, consistent with the learning-by-doing paradigm that emphasizes active participant engagement in the learning process.
Penggunaan buku Dongeng Nusantara Seri Bali untuk mengembangkan afektif siswa Sekolah Lentera Hati Elok Widiyati; Mega Mulianing Maharani
Community Empowerment Journal Vol. 4 No. 2 (2026)
Publisher : CV. Yudhistt Fateeh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61251/cej.v4i2.383

Abstract

Pendidikan merupakan kebutuhan dasar bagi manusia. Dengan pendidikan yang memadai dan berkelanjutan, para siswa berkebutuhan khusus atau yang sering disebut Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) mendapatkan hak pendidikan yang layak seperti para siswa lainnya. Mereka mempelajari materi sesuai dengan usia mental sehingga pencapaian ranah kognitif, afektif, dan psikomotor menjadi perhatian khusus. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini melibatkan 25 siswa berkebutuhan khusus di Sekolah Lentera Hati Kabupaten Kudus. Kegiatan ini berupa aktivitas mendongeng dengan menggunakan buku Dongeng Nusantara Seri Bali. Sejauh ini mereka belum pernah mendapatkan teknik pembelajaran yang serupa secara intensif. Kegiatan ini memberikan manfaat bagi para siswa dan guru di sekolah inklusi tersebut khususnya pada aspek afektif. Tujuan dari kegiatan pengabdian ini antara lain meningkatkan literasi dengan menyimak dongeng dan menumbuhkan aspek afektif dari masing-masing siswa kelas IV sampai dengan kelas VI. Adapun metode yang digunakan adalah kegiatan pembelajaran intensif. Hasil kegiatan berdampak positif terhadap ekspresi siswa pada ranah afektif berupa gambar dan tulisan yang menyiratkan kesimpulan setelah mendengar dan membaca teks dongeng. Pada akhir kegiatan, terdapat 6 siswa yang aktif dan mampu menampilkan ekspresi afektif melalui media kertas dan krayon dengan penilaian cerita dari segi negatif dan positif. Education is a basic human need. With sustainable and appropriate education, students with special needs, often referred to children with special needs, receive the same educational rights as other students. They study material should be appropriate to their mental age. Hence, it should adjust to cognitive, affective, and psychomotor achievement which is very crucial. There were 25 students with special needs at Sekolah Lentera Hati in Kudus Regency participated in this community service activity. This activity facilitated storytelling by using Bali Series of Nusantara Fairy Tales. So far, they had never received similar intensive learning technique. Story telling provided benefits for the students and the teachers at inclusive school, especially for affective aspect. The objectives of this community service activity included improving literacy by listening to fairy tales and developing affective aspect for each student in fourth to sixth grades. The method used was intensive learning activities. The results of these activities had a positive impact on students' affective expression, including drawings and writing that conveyed conclusions after having the fairy tale text. At the end of the activity, there were 6 students who were active and able to display affective expressions through learning media with a story from a negative and positive perspective.

Page 11 of 13 | Total Record : 128