cover
Contact Name
I Putu Udiyana Wasista
Contact Email
udiyanawasista@isi-dps.ac.id
Phone
+6287861236918
Journal Mail Official
balidwipantarawaskita@isi-dps.ac.id
Editorial Address
Jl. Nusa Indah, Sumerta, Kec. Denpasar Timur, Kota Denpasar, Bali 80235
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
Bali-Dwipantara Waskita: Seminar Nasional Republik Seni Nusantara
ISSN : 28087992     EISSN : 2808795X     DOI : -
Core Subject : Art,
Seminar Nasional Republik Seni Nusantara adalah sebuah forum akademis yang membahas berbagai aspek seni dan budaya Nusantara. Dalam prosiding ini, para peneliti dan akademisi berkumpul untuk mempresentasikan hasil penelitian mereka mengenai seni dan budaya, dengan fokus khusus pada konteks Republik Seni Nusantara. Proses ini memberikan wadah untuk bertukar gagasan dan pengetahuan dalam upaya memahami, mendokumentasikan, dan mempromosikan warisan seni dan budaya yang kaya dan beragam di wilayah Nusantara.
Articles 130 Documents
Eksistensi Kriya Perak Art Dan Sakral Pada Era Pandemi Covid 19 I Wayan Suardana; I Made Sumantra
Prosiding Bali Dwipantara Waskita: Seminar Nasional Republik Seni Nusantara Vol. 1 (2021): Prosiding Bali Dwipantara Waskita: Seminar Nasionar Republik Seni Nusantara
Publisher : UPT Pusat Penerbitan LP2MPP ISI Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pandemi covid 19 berdampak signifikan pada produksi seni kerajinan Bali secara umum, termasuk seni kerajinan perak. Produksi kerajinan perak mengalami penurunan yang sangat drastis, bahkan stagnan, karena pariwisata Bali mati total, dan ekonomi global mengalami krisis panjang. Kriyawan perak kehilangan pekerjaan karena tidak pernah mendapat pesanan lagi, sehingga mereka mulai beralih profesi menjadi sopir, tukang bangunan, dagang, petani, dan peternak. Namun tidak semua kriyawan perak meninggalkan propesinya, beberapa yang kreatif dan memiliki ketrampilan yang tinggi mengalihkan produksi karyanya dengan menciptakan beberapa karya perak art dan seni sakral dengan teknik tatahan, seperti membuat keris, sarana upacara, dan elemen hiasan Barong, Rangda, dan Topeng dengan segmen pasar masyarakat lokal. Fenomena ini sangat menarik untuk dikaji secara mendalam dengan mengangkat permasalahan: Bagaimana eksistensi penciptaan karya perak art dan sakral pada era pandemi covid 19?. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji secara holistik karya perak yang bernilai art dan sakral, agar dapat diketahui eksistensi dan perkembangannya di masa covid 19. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif diskriptif dengan teknik pengumpulan data yaitu: observasi, wawancara, dan dokumentasi. Tulisan ini akan sangat bermanfaat sebagai bahan imformasi bagi kalangan masyarakat akademik dan pemerintah.
Makna Warna I Wayan Karja
Prosiding Bali Dwipantara Waskita: Seminar Nasional Republik Seni Nusantara Vol. 1 (2021): Prosiding Bali Dwipantara Waskita: Seminar Nasionar Republik Seni Nusantara
Publisher : UPT Pusat Penerbitan LP2MPP ISI Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Warna adalah cahaya dan energi, warna terlihat karena dipantulkan melalui semua jenis partikel, molekul, dan benda. Ada beragam panjang gelombang yang dapat dikategorikan sebagai cahaya. Setiap warna memiliki frekuensi dan getaran tertentu, yang diyakini banyak orang dapat berkontribusi pada sifat spesifik yang mempengaruhi energi di dalam tubuh manusia. Sel-sel tubuh bereaksi terhadap cahaya yang berpengaruh pada stabilitas fisik, emosional, mental, dan spiritual. Lingkaran warna primer (merah, kuning, dan biru), warna sekunder (oranye, hijau, dan ungu), dan pencampurannya menghasilkan warna tersier. Warna banyak digunakan sebagai tanda, simbol, ikon, dan media komunikasi visual. Di Bali makna warna sangat signifikan, mewakili bentuk dan simbol dalam kehidupan sehari-hari yang berdasarkan filosofis agama Hindu. Artikel ini berfokus pada makna warna, utamanya tentang makna warna mandala Bali yang memainkan makna simbolis-religius-magis dalam dinamika seni dan budaya. Dalam lingkaran mandala Bali, setiap arah mata angin diwakili oleh warna tertentu, dewa, senjata, hari, angka, dan warna organ dalam tubuh. Sebagai penelitian kualitatif, metode penelitian yang digunakan adalah dengan observasi, wawancara, dan dokumentasi. Proses penelitian tersebut menemukan beberapa makna warna, diantaranya makna referensi, psikologi, dan sosial. Personifikasi pangurip-urip/pasupati; sebagai proteksi; identitas seni, dan budaya; cerminan sifat kharakter dan kepribadian; dan sebagai jembatan sakala-niskala, tangible-intangible. Warna memiliki makna terapeutik sebagai media untuk membangkitkan emosi dan kesadaran Semesta. Kontemplasi tentang cahaya warna dapat meningkatkan kepekaan kesadaran kosmik, lenyapnya kegelapan, munculnya sinar Tuhan. Sublimasi dan titik kulminasi sinar warna yang suci cerminan penyatuan Atman dan Brahman. Berdasarkan proses kajian ini, proyeksi ke depan cahaya/warna sangat penting terus diteliti karena sifatnya yang terapeutik.
Makna Komersialisasi Kain Tenun Gringsing Desa Tenganan Karangasem Pada Era Globalisasi Ida Ayu Kade Sri Sukmadewi
Prosiding Bali Dwipantara Waskita: Seminar Nasional Republik Seni Nusantara Vol. 1 (2021): Prosiding Bali Dwipantara Waskita: Seminar Nasionar Republik Seni Nusantara
Publisher : UPT Pusat Penerbitan LP2MPP ISI Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pengaruh pariwisata, gaya hidup, dan budaya konsumerisme, menyebabkan kain tenun dobel ikat gringsing selain untuk upacara juga banyak diminati oleh wisatawan asing sebagai cinderamata. Selain itu kain gringsing banyak digunakan dalam dunia fashion. Beberapa desainer Indonesia ternama rancangan busananya terinspirasi dari kain tenun motif gringsing. Digunakan sebagai bahan dasar dalam busana rancangan dan diolah secara apik. Dalam rancangan busananya juga menggunakan bahan single ikat dengan motif tenun gringsing dan print gringsing yang tercetak di atas material organza maupun sutra. Perkembangan kain tenun dobel ikat gringsing saat ini banyak digunakan untuk acara pesta dan acara prewedding. Menandakan terjadinya perubahan dan adanya pergeseran nilai-nilai sakral menjadi profan untuk kepentingan ekonomi pasar. Komersialisasi kain tenun dobel ikat gringsing memiliki implikasi sosial, ekonomi, budaya dan makna, baik makna efisiensi, kreatifitas dan inovasi serta desakralisasi budaya. Kain tenun dobel ikat gringsing, Tenganan, Karangasem berfungsi sebagai media ritual dalam kegiatan adat-istiadat, agama, perkawinan yang bersifat sakral, dan keterampilan menenun diwarisi secara turun-temurun (habitus) dari nenek moyangnya. Globalisasi dan masuknya industri pariwisata berpengaruh pada perkembangan kain tenun dobel ikat gringsing. Perkembangan dilakukan dengan cara komodifikasi bentuk dan makna, sehingga tercipta produk dengan makna baru. Tujuan khusus dari penelitian ini adalah untuk memahami dan menjelaskan faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya komersialisasi kain tenun dobel ikat grinsing Tenganan, Karangasem pada era globalisasi. Untuk memahami bentuk komersialisasi kain tenun dobel ikat Gringsing Tenganan, Karangasem pada era globalisasi. Rancangan penelitian ini menggunakan motode kualitatif, menekankan pada deskripsi bersifat holistik dan mendalam tentang komersialisasi kain tenun dobel ikat gringsing Tenganan, Karangasem. Dalam penelitian ini fenomena komersialisasi kain tenun dobel ikat gringsing Tenganan, Karangasem dikaji atau dianalisis dari perspektif kajian budaya. Hal ini merupakan urgensi dari penelitian
Destilasi Arak Bali Sebuah Alternatif Pencegahan Covid-19 Dalam Film Dokumenter Ida Bagus Hari Kayana Putra; Nyoman Lia Susanthi; I Nyoman Payuyasa
Prosiding Bali Dwipantara Waskita: Seminar Nasional Republik Seni Nusantara Vol. 1 (2021): Prosiding Bali Dwipantara Waskita: Seminar Nasionar Republik Seni Nusantara
Publisher : UPT Pusat Penerbitan LP2MPP ISI Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Destilasi adalah kunci utama dalam pemisahan fraksi-fraksi minyak bumi. Teknik destilasi pada minyak-minyak ini sekiranya dapat menumbuhkan ide pengembangan proses destilasi pada arak sebagai salah satu media kearifan lokal masyarakat Bali. Teknik pengobatan destilasi arak bali telah dimiliki oleh kearifan lokal masyarakat Bali sejak lama, sehingga metode pengobatan tradisional kini mulai dijamah kembali untuk menanggulangi kasus penyakit pernafasan yang marak beredar saat ini. Ditengah pendemi Covid-19 beberapa tokoh masyarakat mengungkapkan bahwa, secara Pharmatology pengobatan ini diformulasikan secara khusus oleh beliau dilakukan untuk membantu memudahkan oksigen masuk ke dalam tubuh penderita penyakit pernafasan. Masalah yang dirumuskan dalam artikel ini adalah bagaimanakah memvisualisasikan arak Bali sebagai alternatif pengobatan covid-19 Secara lebih khusus masalah yang diangkat adalah mengungkap rahasia dibalik arak sebagai obat tradisional hingga uji klinis arak yang dijadikan obat alternativ covid-19. film dokumenter berdurasi 30 menit metode pengumpulan data yang digunakan adalah metode observasi dan wawancara. Tahap penciptaan dalam pembuatan film dokumenter ini meliputi tiga poin utama, yaitu tahap praproduksi, produksi, dan pascaproduksi. Ketiga tahapan ini akan menjadi poin penting dalam penciptaan film Destilasi Arak Bali Sebuah Alternatif Pencegahan Covid-19 Dalam Film Dokumenter.
Janma Sebuah Upaya Pelestarian Seni Langka Sulam Jembrana Melalui Apropriasi Tjok Istri Ratna C. Sudharsana
Prosiding Bali Dwipantara Waskita: Seminar Nasional Republik Seni Nusantara Vol. 1 (2021): Prosiding Bali Dwipantara Waskita: Seminar Nasionar Republik Seni Nusantara
Publisher : UPT Pusat Penerbitan LP2MPP ISI Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

UU Pemajuan Kebudayaan nomor 5 tahun 2017 menekankan pada perlindungan, pengembangan, pemanfaatan, dan pembinaan serta diharapkan dapat menjadikan budaya Indonesia tumbuh tangguh. Keseluruhan poin UU Pemajuan Kebudayaan nomor 5 tahun 2017 mengacu pada sikap perilaku manusia Indonesia yang tengah memasuki fase refleksi budaya. Salah satu sikap refleksi budaya membawa ingatan kita pada keberadaan seni langka di Indonesia. Demikian banyak seni langka yang kini tengah mengalami degradasi akut seperti halnya seni tekstil di beberapa wilayah bagian Indonesia, termasuk Bali dengan tekstil sulam Jembrana. Salah satu faktor penyebab terjadinya degradasi adalah fenomena rendahnya kesadaran masyarakat khususnya generasi muda untuk melestarikan dan mengembangkan sulam Jembrana, sehingga masyarakat Bali dan pemerintah tidak mengetahui eksistensinya. Menerapkan metode deskriptif kualitatif melalui teknik pengumpulan data observasi, kepustakaan, dokumentasi, dan wawancara, penelitian dilakukan dengan menggunakan teori bentuk estetis oleh DeWitt H. Parker dan teori produk kreatif model Bessemer dan Treffinger. Hasil penelitian menunjukan bahwa sulam Jembrana, memiliki keunikan pada bentuk ikon yang ditampilkan melalui interpretasi pengrajin terhadap tradisi lisan yang secara rutin didengar dalam pelaksanaan upacara keagamaan maupun kehiduan sosial di Bali, selain itu tekstil ini memiliki warna yang terang dan kontras sehingga membatnya terlihat berbeda dengan berbagai jenis tekstil lain di Bali. Sulam Jembrana merupakan satu-satunya tekstil di Bali yang menggunakan teknik sulam atau lebih dikenal dengan teknik nyudut oleh pengrajin, setelah kepunahan sulam Singaraja. Merujuk pada hasil penelitian tersebut, maka dilakukan upaya pelestarian melalui penciptaan produk art fashion Janma dengan metode penciptaan frangipani melalui apropriasi teknik nyudut.
Pembinaan Gending Gender Wayang Banaspati Gaya Tenganan Pegringsingan di Sanggar Seni Pasraman Prabha Budaya Denpasar I Gusti Putu Sudarta
Prosiding Bali Dwipantara Waskita: Seminar Nasional Republik Seni Nusantara Vol. 1 (2021): Prosiding Bali Dwipantara Waskita: Seminar Nasionar Republik Seni Nusantara
Publisher : UPT Pusat Penerbitan LP2MPP ISI Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Banaspati adalah nama gending atau tabuh gender wayang yang ada di daerah Karangasem, menyebar di desa-desa yang menjadi basis penabuh gender wayang seperti di Desa Ababi, Desa tenganan Pegringsingan, Desa Selat Duda, dan desa-desa yang ada di daerah Abang. Gending Banaspati merupakan salah satu gending gender wayang yang termasuk dalam salah satu gending petegak atau gending pangguran. Gending petegak atau gending pangguran dimainkan pada awal pertunjukan wayang kulit sebelum dalang membuka gedog atau membuka kotak wayang seperti prelude atau introduction.  Gending Banaspati ini menjadi unik dan spesial karena struktur, melodi, motif, dan patern kotakan sangat unik dan berbeda dengan tabuh petegak yang ada. Gending Banaspati gaya Tenganan Pegringsingan ini terdiri dari tujuh palet atau bagian, sedangkan gending gender wayang pada umumnya terdiri dari tiga sampai empat palet atau bagian. Tempo lagu pada palet pertama sampai palet ke tiga dimainkan dalam tempo lambat dan mengalir (wilambit laya), pada palet ke empat dan palet ke lima dimainkan dalam tempo sedang (madhyama laya), sedangkan pada palet ke enam dan ke tujuh dimainkan dalam tempo cepat (druta laya), oleh karenanya lagu Banaspati ini mengalir dari tempo lambat, sedang, dan cepat. Komposisi gending Banaspati ini merupakan gending gender wayang terpanjang ke dua setelah gending Bimaniu yang terdiri dari 11 palet atau bagian. Kalau dimainkan dua kali pengulangan dalam setiap palet atau bagiannya durasi waktunya mendekati 20 menit. Saat sekarang ini gending Banaspati di Desa Tenganan Pegringsingan tidak lagi ada yang mempelajarinya karena generasi muda di sana tidak banyak yang begitu tertarik dan berminat untuk belajar menabuh gender wayang. Sedangkan guru gender wayang yang masih ada dan menguasai gending Banaspati ini hanya satu orang saja yaitu Bapak Mudita Adnyana yang sudah sangat sepuh. Kalau tidak diselamatkan atau direkonstruksi kemungkinan besar gending Banaspati ini akan hilang. Beranjak dari fenomena ini peneliti berupaya memberikan pembinaan atau pelatihan gending Banaspati ini kepada generasi muda. Pada awalnya rencana pembinaan ini akan dilakukan di Desa Tenganan Pegringsingan, namun karena di Desa Tenganan Pegringsingan tidak begitu ada peminat yang tertarik untuk mempelajari gending Banaspati ini, peneliti mencoba mencari sanggar atau kelompok juru gender wayang di luar Desa Tenganan Pegringsingan dan di luar Kabupaten Karangasem. Hal ini dilakukan semata sebagai upaya untuk menyelamatkan keberadaan gending gender wayang Banaspati ini, dimana nantinya gending ini akan tetap ada dalam proses pengajaran dan alih generasi di masa mendatang. Setelah menghubungi beberapa sanggar dan penabuh gender wayang akhirnya peneliti memutuskan untuk bekerja sama dengan Sanggar Seni Pasraman Prabha Budaya yang berada di Banjar Lumintang, Desa Dauh Puri Kaja, Kecamatan Denpasar Utara, Kodya. Denpasar. Dipilihnya Sanggar Seni Pasraman Prabha Budaya ini dengan pertimbangan sanggar ini sangat diminati oleh anak-anak dan pelajar dari tingkat Sekolah Dasar sampai Sekolah Menengah Atas, bahkan juga seniman dan mahasiswa asing. Pembinaan ini perlu diupayakan dan dilakukan untuk menjaga agar gending Banaspati ini tetap ada dan bisa diwarisi oleh generasi berikutnya, dan semoga bisa kembali lagi ke tempat asalnya di Desa Tenganan Pegringsingan saat generasi muda di sana sudah siap dan berminat mempelajarinya. Dalam proses pembinaan ini peneliti dibantu oleh dua orang dosen dan dua orang mahasiswa Program Seni Pedalangan dan Program Seni Karawitan yang mempunyai keahlian dan kompetensi dalam bidang gender wayang.
Wadantara: Refleksi Multikultur dan Kearifan Lokal Ni Luh Sustiawati; I Gede Oka Surya Negara; Rano Sumarno; Arthur Supardan Nalan
Prosiding Bali Dwipantara Waskita: Seminar Nasional Republik Seni Nusantara Vol. 1 (2021): Prosiding Bali Dwipantara Waskita: Seminar Nasionar Republik Seni Nusantara
Publisher : UPT Pusat Penerbitan LP2MPP ISI Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Ide digarapnya karya seni pertunjukan Wadantara (Wayang, Drama, Karawitan, Tari Nusantara) untuk memperkuat persatuan dan kesatuan dalam bingkai NKRI memerlukan dukungan untuk kebersamaan yang dilandasi oleh toleransi bermasyarakat. Seni pertunjukan yang sarat dengan muatan budaya lokal dapat memberikan sumbangsih dengan mengupayakan kedayaan nilai kelokalan (indigenous), dapat mempertebal penghargaan masyarakat terhadap kebhinekaan budaya Nusantara, dan menjadi kepanjangan norma serta nilai yang diharapkan oleh masyarakat dalam menjaga kebersamaan dan harmoni bermasyarakat. Penelitian ini berpendekatan research and development. Produksinya melalui tahap pra produksi, produksi, pasca produksi, dan digunakan konsep Hibriditas dalam membuka wacana mengenalkan bentuk produksi seni kolaborasi yang menggabungkan secara bersama-sama potensi berbagai etnik (Chris Barker). Pengumpulan data melalui wawancara, observasi, dokumentasi, angket, dan datanya dianalisis secara kuantitatif dan kualitatif. Penelitian ini mengangkat lakon Sumpah Palapa Gajah Mada diiringi musik tradisi dipadukan dengan mutimedia, narasi dan vokal. Hasil uji efektivitas produk menunjukkan seni pertunjukan Wadantara sangat bagus, sangat menarik karena memberikan kesan dan pesan persatuan Nusantara dan kaya dengan inovasi yaitu perpaduan antara seni tradisi dan kontemporer didukung musik digital dan multimedia.
Wacana Tanding Film Gundala Hegemoni Hollywood I Komang Arba Wirawan; Nyoman Lia Susanthi; Made Rai Budaya Bumiarta
Prosiding Bali Dwipantara Waskita: Seminar Nasional Republik Seni Nusantara Vol. 1 (2021): Prosiding Bali Dwipantara Waskita: Seminar Nasionar Republik Seni Nusantara
Publisher : UPT Pusat Penerbitan LP2MPP ISI Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Film laga Indonesia mencatat rekor sejarah di tahun 2019. Film superhero Gundala: (2019) bisa menjadi rekor dan wacana tanding untuk menyaingi film superhero Amerika Hollywood yang mendominasi perfilman Indonesia. Terinspirasi dari sosok spiritual Ki Ageng Selo. Menurut legenda, Ki Ageng Selo dipercaya dapat menangkap kilat. Oleh karena itu, nama Gundala diambil dari kata gundolo yang berarti kilat. Gundala adalah karakter yang diciptakan oleh komikus Hasmi: (1969). Gundala berhasil menjadi counter-discourse film Hollywood. Dengan alur maju mundur yang seru, konflik diciptakan oleh Joko Anwar sebagai sutradara dan penulis naskah. Data primer untuk penelitian ini adalah film Gundala. Film ini dianalisis dengan teori counter-discourse (Foucault), dan teori film Mise En Scene (Roland Barthes) untuk menggambarkan aspek visualnya. Metode penelitian yang digunakan adalah analisis deskriptif kualitatif terhadap unsur dan struktur pembentuk Gundala untuk menumbangkan wacana dominan film superhero Hollywood. Dengan penelitian ini diharapkan komik atau kearifan lokal dapat digali sebagai salah satu sumber penciptaan film bergenre superhero. Dominasi film nasional Hollywood bisa diminimalisir dengan meningkatkan kualitas film bergenre superhero Indonesia.
Media Interaktif Delapan Standar Prosedur Pelayanan Publik Dalam Reformasi Birokrasi Di Institut Seni Indonesia Denpasar Agus Ngurah Arya Putraka
Prosiding Bali Dwipantara Waskita: Seminar Nasional Republik Seni Nusantara Vol. 1 (2021): Prosiding Bali Dwipantara Waskita: Seminar Nasionar Republik Seni Nusantara
Publisher : UPT Pusat Penerbitan LP2MPP ISI Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Media digital kini merupakan pilihan media yang sangat efektif di masa sekarang ini, kecepatan akses dengan waktu yang singkat menjadi keunggulan media ini, dimana media komunikasi visual yang akan dirancang berupa media interaktif dengan target masyarakat umum, sehingga masyarakat dapat berinteraksi dan sekaligus sebagai navigator dalam media tersebut, sehingga masyarakat akan lebih mudah memperoleh informasi mengenai delapan standar pelayanan publik dalam reformasi birokrasi yang telah diterapkan di Institut Seni Indonesia Denpasar yang akan dirancang dalam satu aplikasi, tentunya dengan aplikasi ini diharapkan masyarakat akan lebih mudah mengakses dan mencari informasi mengenai kedelapan standar tersebut, untuk menciptakan sebuah media interaktif yang berfungsi secara maksimal dalam menyampaikan informasi lajur delapan standar prosedur pelayanan publik, maka dalam perancangan media interaktif ini penulis akan menggunakan metode deskriptif kualitatif sehingga hasilnya nanti bisa dapat dipertanggungjawabkan. Media interaktif mengenai delapan standar prosedur pelayanan publik dalam reformasi birokrasi ini akan penulis ciptakan beserta 2 anggota dan melibatkan 2 mahasiswa yang akan dikerjakan selama 1 tahun dengan melalui beberapa tahapan penciptaan, yaitu proses pengumpulan data, kemudian merancang storyboard, dan perancangan visual serta proses digitalisasi dengan menggunakan program desain yang menunjang, serta proses akhir dari media interaktif ini ialah melakukan uji coba respon masyarakat terhadap aplikasi yang telah diciptakan, sehingga pada akhirnya manfaat aplikasi dari media interaktif ini mampu membantu pemangku kepentingan (stakeholders) dalam menerapkan kebijakan dalam reformasi birokrasi dalam lembaga Institut Seni Indonesia Denpasar.
TIRTA-RAKTA-SASTRA DALAM ENTITAS RELIGIUS DAN REPRESENTASI AIR PADA KARYA SENI Anak Agung Gede Rai Remawa
Prosiding Bali Dwipantara Waskita: Seminar Nasional Republik Seni Nusantara Vol. 2 (2022): Prosiding Bali Dwipantara Waskita: Seminar Nasionar Republik Seni Nusantara
Publisher : UPT Pusat Penerbitan LP2MPP ISI Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Bali adalah Pulau kecil dengan keunikan istimewa dalam gubahan ide, tindakan dan karya seni budaya istimewa. Daya tarik ini bukanlah hal tanpa sebab, namun estetiknya terselinap dibalik karya cipta seni masyarakat Bali yang telah diturunkan dari kedahuluannya. Keseluruhan karya cipta seni Bali tradisional, dicerap dari esensi filosofis dengan tindakan nyata estetiko-religio-pragmatiko. Tema Tirta-Rakta-Sastra (daya hidup air-api cipta seni) sejatinya adalah tentang api dan air. Dua kekuatan dasyat dari tiga kekuatan terdasyat api-air-udara hadir dalam setiap karya cipta seni Bali sebagai daya nafas hidup dan kehidupan (urip-hirup-kahuripan). Ketiga kekuatan ini menjadi dasar yang esensial dalam berbagai pengembangan seni dan budaya Bali. Representasi air muncul dalam berbagai karya seni unggul seperti pecira, bebaturan, umbul-umbul, tedung pagut, meru, gunung rata, kayonan, naga basukian dan konsep utama lainnya menyiratkan betapa pentingnya air dalam dunia seni dan kehidupan.

Page 2 of 13 | Total Record : 130