cover
Contact Name
I Putu Udiyana Wasista
Contact Email
udiyanawasista@isi-dps.ac.id
Phone
+6287861236918
Journal Mail Official
balidwipantarawaskita@isi-dps.ac.id
Editorial Address
Jl. Nusa Indah, Sumerta, Kec. Denpasar Timur, Kota Denpasar, Bali 80235
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
Bali-Dwipantara Waskita: Seminar Nasional Republik Seni Nusantara
ISSN : 28087992     EISSN : 2808795X     DOI : -
Core Subject : Art,
Seminar Nasional Republik Seni Nusantara adalah sebuah forum akademis yang membahas berbagai aspek seni dan budaya Nusantara. Dalam prosiding ini, para peneliti dan akademisi berkumpul untuk mempresentasikan hasil penelitian mereka mengenai seni dan budaya, dengan fokus khusus pada konteks Republik Seni Nusantara. Proses ini memberikan wadah untuk bertukar gagasan dan pengetahuan dalam upaya memahami, mendokumentasikan, dan mempromosikan warisan seni dan budaya yang kaya dan beragam di wilayah Nusantara.
Articles 130 Documents
PERSPEKTIF MANUSIA DAN RUANG PADA CAGAR BUDAYA TAMAN NARMADA Pradnyaswari, Ida Ayu Ketut Andriyogi
Prosiding Bali Dwipantara Waskita: Seminar Nasional Republik Seni Nusantara Vol. 4 (2024): Prosiding Bali Dwipantara Waskita: Seminar Nasional Republik Seni Nusantara
Publisher : UPT Pusat Penerbitan LP2MPP ISI Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perkembangan dinamika pariwisata mengubah tatanan pola ruang menyesuaikan dengan kebutuhannya. Penelitian ini bertujuan untuk memahami konsepsi ruang oleh manusia pada bangunan cagar budaya. Taman Narmada merupakan salah satu bangunan cagar budaya yang diakui sebagai warisan leluhur. Masyarakat setempat menggunakan Taman Narmada sebagai ruang komunal untuk bersosialisasi. Fenomena mengenai perspektif masyarakat terhadap tatanan ruang sebagai bangunan cagar budaya menjadi signifikansi pada penelitian ini. Penelitian ini merupakan penelitian lapangan (field research) dengan pendekatan kualitatif. Penelitian ini menemukan bahwa kecerdasan daya cipta ruang Taman Narmada sebagai kawasan sakral yang dapat dijaga dan dilestarikan sebagai warisan leluhur. Taman Narmada merupakan inspirasi reka cipta seni alam semesta pada tradisi. Pura Kalasan, Pemerajan, dan Bale Petirtaan dipelihara kesakralannya sehingga terjaga kesuciannya sesuai dengan tradisi, nilai, dan makna ruang. Masyarakat memanfaatkan ruang terbuka sebagai area beraktivitas fisik, edukasi, dan rekreasi. Penelitian ini juga menemukan bahwa perilaku manusia melihat potensi lingkungan sebgaai ruang yang efektif. Penelitian ini memberikan pemahaman baru mengenai perspektif masyarakat memaknai ruang sebagai daya cipta alam semesta yang penting.
TARI KREASI BARU SIWA NATARAJA KARYA I GUSTI AGUNG NGURAH SUPARTHA Sariada, I Ketut
Prosiding Bali Dwipantara Waskita: Seminar Nasional Republik Seni Nusantara Vol. 4 (2024): Prosiding Bali Dwipantara Waskita: Seminar Nasional Republik Seni Nusantara
Publisher : UPT Pusat Penerbitan LP2MPP ISI Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tujuan penelitian ini mengkaji tari Kreasi baru Siwa Nataraja, sebuah tari kreasi baru menggambarkan Siwa sebagai pencipta, pemelihara, dan pelebur. Tari ini diciptakan pada tahun 1985 oleh I Gusti Agung Ngurah Supartha dari Desa Abiantuwung, Tabanan. Penelitian kualitatif ini mengangkat tiga permasalahan, yaitu: bentuk, faktor pendorong, dan makna tari Siwa Nataraja Karya I Gusti Agung Ngurah Supartha. Teori yang dipakai landasan untuk membedah ke tiga permasalahan adalah teori dekonstruksi, teori estetika dan teori semioti. Dari segi bentuk, Tari Kreasi Baru Siwa Nataraja dikelompokkan tari tunggal (solo), memiliki struktur pementasan yang terdiri dari pepeson, pengawak, dan pengecet atau penyuwud. Siwa digambarkan memiliki kekuatan yang sanggup memutar dunia. Saat dunia diputar, muncul ritme-ritme dalam kehidupan, dan ritme-ritme itulah yang tampak sebagai gerak-gerak tari. Faktor-faktor pendorong terciptanya tari kreasi baru Siwa Nataraja adalah faktor internal dan eksternal. Makna, tarian ini memiliki makna hiburan, makna kreativitas, makna estetika dan makna identitas. Makna kreativitas berlandaskan makna estetika untuk menemukan makna identitas.
HARMONI DIRI DAN SEMESTA: KONSEP ENERGI KOSMIS DALAM CIPTA SENI LUKIS KONTEMPORER Karja, I Wayan
Prosiding Bali Dwipantara Waskita: Seminar Nasional Republik Seni Nusantara Vol. 4 (2024): Prosiding Bali Dwipantara Waskita: Seminar Nasional Republik Seni Nusantara
Publisher : UPT Pusat Penerbitan LP2MPP ISI Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Artikel ini bertujuan mengeksplorasi hubungan antara manusia dan semesta melalui konsep energi kosmis dalam cipta seni lukis kontemporer. Metode pendekatan kualitatif interpretatif dan art-based research digunakan 12 gambar sebagai objek studi untuk menegaskan pembahasan. Fokus utama penelitian adalah pada konsep energi kosmis, estetika simbolik, dan elemen-elemen spiritual yang tercermin dalam bentuk, warna, dan komposisi karya seni. Penelitian ini menggali bagaimana simbol visual dalam lukisan dapat dijadikan penghubung dimensi kehidupan fisik dan spiritual, serta menjelaskan peran seni lukis sebagai medium untuk membangun harmoni antara manusia dan alam semesta. Hasil penelitian menunjukkan bahwa karya seni tidak hanya berfungsi sebagai ekspresi estetis, tetapi juga sebagai sarana transformasi batin yang dapat memperkuat dan meningkatkan kesadaran energi kosmis. Artikel ini memberikan kontribusi signifikan baik secara praktis maupun akademis, dengan menawarkan wawasan baru tentang energi kosmis dalam seni lukis kontemporer dan memperkaya perspektif estetis, artistik, serta spiritual dalam studi seni.
SINERGI KECERDASAN MANUSIA DAN PELESTARIAN BUDAYA DALAM PERMAINAN TRADISIONAL BALI Sustiawati, Ni Luh; Adipurwa, A.A. Trisna Ardanari; Paramartha, Wayan
Prosiding Bali Dwipantara Waskita: Seminar Nasional Republik Seni Nusantara Vol. 4 (2024): Prosiding Bali Dwipantara Waskita: Seminar Nasional Republik Seni Nusantara
Publisher : UPT Pusat Penerbitan LP2MPP ISI Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Permainan tradisional Bali adalah salah satu aset budaya nasional yang harus dilestarikan karena permainan tradisional Bali merupakan bagian integral dari budaya masyarakat yang mencerminkan nilai-nilai sosial, spiritual, dan kearifan lokal. Sementara itu, konsep kecerdasan manusia, baik kecerdasan intelektual, emosional, maupun spiritual, semakin dipandang penting dalam membentuk kepribadian individu yang holistik. Pengintegrasian kecerdasan manusia dalam pelestarian budaya permainan tradisional Bali dapat menjadi salah satu solusi dalam menjaga kelestarian budaya ini serta meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan peran permainan tradisional Bali dalam pengembangan kecerdasan manusia dan pelestarian budaya; mendeskripsikan sistem pewarisan permainan tradisional Bali; dan mendeskripsikan sinergi antara kecerdasan manusia dan pelestarian budaya melalui permainan tradisional Bali. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif analitis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sinergi antara kecerdasan manusia dan pelestarian budaya dalam permainan tradisional Bali dapat membentuk ekosistem budaya yang adaptif. Tradisi dapat dipelajari dan diwariskan dengan cara yang relevan di era modern. Melalui pendekatan ini, permainan tradisional dapat dipahami bukan hanya sebagai warisan budaya, tetapi juga sebagai media untuk pengembangan kecerdasan multidimensional generasi muda Bali.
REKA ALAM YANG DIREKA ULANG Sastrawan, Dewa Ayu Eka Savitri
Prosiding Bali Dwipantara Waskita: Seminar Nasional Republik Seni Nusantara Vol. 4 (2024): Prosiding Bali Dwipantara Waskita: Seminar Nasional Republik Seni Nusantara
Publisher : UPT Pusat Penerbitan LP2MPP ISI Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Reka alam sudah sering tercerminkan dalam bidang lukisan sejak lama di Indonesia. Terutama di zaman era kolonial yang mencoba merekam serta mendokumentasi segala hal di sekitarnya demi sebuah laporan di negara asal koloni tersebut. Seringlah hasil lukisan tersebut diketahui sebagai Mooi Indië, keelokan Indonesia, sebuah gaya yang menjadi bagian daripada gaya lukisan Modernisme ala Indonesia. Namun, reka alam itu sekarang banyak yang tidak sejatinya seindah lagi. Setidaknya, reka alam itu direka ulang mengikuti apa yang terjadi padanya di lapangan hari ini. Ini terpapar dalam karya Made Bayak di tahun 2012 terutama melalui pamerannya di Santrian Art Gallery berjudul “Artist Don’t Lie” dan karya Ngakan Putu Agus Arta Wijaya (NPAAW) di tahun 2024 yang menjadi finalis UOB Painting of the Year Indonesia berjudul “Reset Landscape”. Pembahasan “Reka Alam yang Direka Ulang” bermaksud menyoroti penciptaan karya kedua perupa yang berjarak 12 tahun namun masih sama-sama relevan membicarakan keresahan yang terjadi pada alam atas ulah manusia. Adapun harapan yang masih ingin melanjutkan kehidupan berdampingan yang harmonis lagi bersama alam. Penelitian budaya visual yang melalui metodologi penelitian kualitatif ini bermaksud menyoroti representasi pengetahuan yang dihasilkan oleh karya Made Bayak dan NPAAW - bagai pengarsipan baru untuk masa depan.
TOLERANSI DALAM MULTIKULTURALISME KARYA CIPTA FOTOGRAFI EKSPRESI Raharjo, Anis; Pramana, I Made Bayu; Saryana, I Made
Prosiding Bali Dwipantara Waskita: Seminar Nasional Republik Seni Nusantara Vol. 4 (2024): Prosiding Bali Dwipantara Waskita: Seminar Nasional Republik Seni Nusantara
Publisher : UPT Pusat Penerbitan LP2MPP ISI Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi dan merefleksikan keindahan serta keragaman budaya masyarakat Indonesia khususnya Bali melalui karya fotografi ekspresi. Di Bali, yang terkenal dengan kekayaan budaya dan alamnya, multikulturalisme terlihat melalui ragam tradisi, agama, dan interaksi sosial. Dalam konteks ini, karya fotografi ekspresi diharapkan dapat menyampaikan pesan toleransi dan penghargaan terhadap keberagaman budaya. Penciptaan ini memanfaatkan teori estetika fotografi, teori multikulturalisme dan teori semiotika Roland Barthes. Teori estetika fotografi menjadi dasar pemahaman keindahan dalam seni fotografi, sementara teori multikulturalisme membantu menjelaskan nilai-nilai multikultural budaya tangible dan intangible, serta pengaruhnya terhadap cara pandang masyarakat. Semiotika Roland Barthes digunakan untuk menelaah simbol dan pesan dalam fotografi terkait identitas dan keragaman budaya. Metode penciptaan yang diterapkan meliputi observasi, eksperimen, pengolahan karya, penampilan akhir karya, dan analisis. Observasi pada interaksi sosial yang menggambarkan toleransi, sedangkan eksprerimentasi mencakup penggabungan teknik pemotretan fotografi dan editing, termasuk penggunaan mixed media. Hasil karya ini dirancang dengan prinsip komposisi visual yang komunikatif, yang diharapkan dapat meningkatkan apresiasi mengenai keberagaman budaya. Melalui fotografi ekspresi sebagai representasi visual media edukatif dan inspiratif. Penciptaan ini diharapkan mampu menginspirasi seniman dan masyarakat untuk terus menghargai serta melestarikan kekayaan budaya yang ada, terutama dalam konteks masyarakat multikultural seperti Bali.
PENCIPTAAN SENI UNTUK MEMULIAKAN ALAM Setem, I Wayan; Tjokropramono, Gede Yosef; Gulendra, I Wayan
Prosiding Bali Dwipantara Waskita: Seminar Nasional Republik Seni Nusantara Vol. 4 (2024): Prosiding Bali Dwipantara Waskita: Seminar Nasional Republik Seni Nusantara
Publisher : UPT Pusat Penerbitan LP2MPP ISI Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Artikel ini bertujuan untuk menelaah proses penciptaan karya seni object art yang terinspirasi dari pengamatan atas aktivitas penambangan eksploitatif pasir di Kecamatan Selat. Dampak penambangan telah memicu peningkatan pertumbuhan sektor ekonomi, namun masyarakat penambang tampaknya tidak pernah sadar dengan dampak kerusakan lingkungan yang sudah dan akan ditimbulkan. Eksploitatif penambangan pasir menimbulkan persoalan yang luar biasa yang tak terbayangkan sebelumnya, utamanya dari aspek keberlanjutan ekosistem sangat merugikan dan tidak akan bisa terbentuk seperti matra alam sebelumnya. Realitas kerusakan penomena penambangan eksploitatif pasir tersebut menjadi thema dan subject matter kekaryaan. Selanjutnya dari hasil observasi dilakukan pengumpulan dan pemilahan data sehingga pengkarya memperoleh pemahaman, kedalaman dan keluasan cara pandang. Setelah mendapat pemahaman, lalu insights diubah menjadi proses kreatif melalui aksi yakni aksi simbolis berupa kekaryaan. Untuk mewujudkan kekaryaan mengunakan metode pendekatan dan langkah-langkah kreatif untuk membantu mengembangkan kemampuan mencipta yang mencakup tahapan-tahapan terstruktur maupun langkah yang tidak terduga, spontan dan intuitif. Problematikanya dinyatakan ke dalam bentuk bahasa rupa menggunakan metode penyangatan/hiperbola. Target kekaryaan tidak hanya sebagai ekspresi individual yang terbatas pada persoalan estetik namun menjadi cara atau alat untuk menyeberangkan (mengkampanyekan) isu lingkungan.
PRAKTEK SOSIAL PEDULI SAMPAH PLASTIK MELALUI FILM ANIMASI INDONESIA Kurniawan, Ehwan
Prosiding Bali Dwipantara Waskita: Seminar Nasional Republik Seni Nusantara Vol. 4 (2024): Prosiding Bali Dwipantara Waskita: Seminar Nasional Republik Seni Nusantara
Publisher : UPT Pusat Penerbitan LP2MPP ISI Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pencemaran yang bersumber dari mikroplastik merupakan salah satu permasalahan global yang saat ini sedang menjadi sorotan bagi para pemerhati lingkungan. Pada 2023 lalu Animasi “Kiko in the Deep Sea” tayang di bioskop, menceritakan kisah petualangan karakter ikan Kiko bersama Tingting, Lola, Poli, Patino, Karkus, dan Pupus yang sedih melihat di kehidupan di bawah lautnya terjadi kerusakan ekosistem. Pesan dari animasi Kiko selain sebagai sarana hiburan yang mengedukasi, para penonton juga diajak untuk menjaga kebersihan khususnya ekosistem laut dengan tidak membuang sampah sembarangan, memisahkan sampah plastik dengan plastik lainnya serta mengurangi penggunaan plastik. Selain Kiko ada animasi pemenang FFI 2020 berjudul Prognosis yang menyampaikan pesan untuk menjaga kebersihan sungai dan lingkungan sekitarnya. Pengkajian ini bertujuan untuk: 1. mengidentifikasi karakter animasi Kiko dan Prognosis, 2. Menganalisis praktek sosial dari animasi Kiko dan Prognosis dalam menyampaikan pesan kepedulian sampah plastik kepada anak sedini mungkin. Metode penelitian yang digunakan dalam pengkajian ini adalah kualitatif, menggunakan teori sosiologi Piere Bordieu untuk menganalisis pesan dari animasi tersebut dalam menyampaikan praktek sosial peduli lingkungan. Pengumpulan data dilakukan melalui peninjauan film animasi dan pengamatan sistematis terhadap karakter yang muncul dalam animasi tersebut dan referensi pustaka. Hasil penulisan artikel ini menunjukkan bahwa praktek sosial peduli lingkungan yang disampaikan melalui media animasi dengan target pemirsanya mulai dari anak-anak sekolah dengan didampingi orang tuanya. Temuan pengkajian ini adalah melalui artikel ini adalah praktek sosial peduli lingkungan yang dikolaborasikan melalui film animasi.
SIMBOLISME ALAM DALAM KARYA MUSIK DIALITA SEBAGAI EKSPRESI MEMORI KOLEKTIF PASCATRAGEDI 1965 Sidjabat, Yedija Remalya
Prosiding Bali Dwipantara Waskita: Seminar Nasional Republik Seni Nusantara Vol. 4 (2024): Prosiding Bali Dwipantara Waskita: Seminar Nasional Republik Seni Nusantara
Publisher : UPT Pusat Penerbitan LP2MPP ISI Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini menganalisis peran simbolisme alam dalam karya musik paduan suara Dialita. Dialita adalah kelompok perempuan mantan tahanan politik peristiwa 1965 yang memanfaatkan alam sebagai medium untuk mengekspresikan memori kolektif dan menyuarakan pengalaman trauma. Penelitian ini berfokus pada lagu berjudul Taman Bunga Plantungan yang mengeksplorasi elemen-elemen alam, seperti taman dan bunga yang digambarkan sebagai saksi bisu dari penderitaan serta pengingat atas memori yang dibungkam oleh negara. Berdasarkan teori memori kolektif yang dipaparkan oleh Maurice Halbwachs, alam dipahami sebagai idiom kultural yang memungkinkan para penyintas membentuk ruang sakral untuk merefleksikan dan menghubungkan pengalaman kolektif dengan audiens. Penelitian ini dilakukan melalui analisis lirik dan observasi video pertunjukan di platform online. Pengamatan yang dilakukan memperlihatkan bahwa simbolisme alam menciptakan kesadaran kolektif dan ruang rekonsiliasi yang dapat menghubungkan generasi terdahulu dan kini dalam memahami sejarah yang terlupakan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa alam tidak hanya menjadi latar estetis, tetapi juga ruang kesakralan yang memperkuat proses pemulihan sosial dan memori kolektif dalam konteks pascakonflik.
PERUBAHAN MEDIA TRADISI LISAN BALI; KAJIAN TERHADAP PERKEMBANGAN SATUA BALI Dwiyani, Ni Kadek; Puriartha, I Kadek; Prabhawita, Gede Basuyoga; Pandet, I Putu Raditya
Prosiding Bali Dwipantara Waskita: Seminar Nasional Republik Seni Nusantara Vol. 4 (2024): Prosiding Bali Dwipantara Waskita: Seminar Nasional Republik Seni Nusantara
Publisher : UPT Pusat Penerbitan LP2MPP ISI Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini merupakan kajian terhadap tradisi lisan yang upakan bagian dari kebudayaan yang memegang perana penting dalam dalam penguatan identitas masyarakat yang memiliki fungsi dlam pewarisan pengetahuan antar generasi. Tradisi lisan merupakan sejumlah praktik budaya lisan berupa cerita rakyat, dongeng, nyanyian, puisi lisan, mitos, peribahasa, pantun, upacara dan ritual lisan, cerita sejarah lisan, tarian dan teater. Perkembangan tradisi lisan, salah stunya Satua Bali sebagai bagian dari cerita rakyat menjadi aspek yang harus menjadi perhatian dari semua pihak terkait karena memiliki nilai budaya, historis dan atau sosial yang tinggi yang mengandung sejarah, nilai moral dan pengetahuan tradisional. Seiring dengan perkembangan jaman, sistem pewarisan Satua Bali yang dilakukan secara lisan saat ini menjadi sesuatu hal konvensional dan dianggap tidak memiliki daya tarik untuk diketahui dan diwariskan kepada generasi muda. Hal ini tentunya menjadi tantangan besar bagi kita semua untuk memikirkan inovasi dalam memperkenalkan dan melestarikan tradisi lisan yang hidup dan berkembang dalam bingkai kebudayan di Indonesia. Tujuan penelitian adalah untuk memberikan kontribusi dalam penguatan Satua Bali sebagai salah satu identitas budaya Bali sehingga keberadaannya dapat dilestarikan secara turun temurun antar generasi. Metode yang digunakan adalah pendekatan kualitatif deskriptif yang dielaborasikan dengan teori Tradisi Lisan dan Sejarah Media untuk mengungkap secara spesifik perkembangan alih wahana media Satua Bali saat ini. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat beberapa hal yang mempengaruhi perkembangan Satua Bali di Bali sehingga memberikan dampak dalam upaya penguatan dan pelestarian tradisi lisan, khususnya yang terjadi di Bali.

Page 13 of 13 | Total Record : 130