Sapa: Jurnal Kateketik dan Pastoral
SAPA merupakan jurnal yang dikelola oleh STP-IPI Malang. Nama SAPA, bukan sebuah nama kebetulan dan juga bukan singkatan. Melainkan memiliki makna yang amat mendalam. Sapa tidak hanya sekedar menyapa para pembaca melainkan mengajak para pembaca untuk semakin mendalami karya pastoral dan katekese, sehingga juga menjadi terlibat dalam kegiatan pastoral dan katekese di manapun berada
Articles
172 Documents
Prasangka Umum dan Realitas Hidup Mahasiswa Papua di Kota Malang dalam Teologi Praksis
Malla, Crysan Dwiputra;
Sudhiarsa, Raymundus I Made
SAPA - Jurnal Kateketik dan Pastoral Vol 8 No 1 (2023)
Publisher : Sekolah Tinggi Pastoral IPI Malang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.53544/sapa.v8i1.313
Studi ini berfokus pada makna serta kekhasan berteologi mahasiswa Katolik Papua di Malang. Sebagai pendatang (migran), mahasiswa Papua di Malang berhadapan dengan situasi dunia yang kompleks dan tentu tidak mudah. Di satu sisi, mereka tidak luput dari kesulitan-kesulitan dalam hal sosial, komunikasi, studi dan ekonomi. Di lain sisi, mereka adalah orang-orang beriman yang terus bergulat menghayati iman Katolik mereka. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif yakni studi kepustakaan dengan pembacaan dan interpretasi berteologi Praksis dari beberapa teolog seperti Stephen Bevans disertai data-data yang dapat memperkaya studi ini. Teknik pengumpulan data ialah dengan wawancara. Subyek yang menjadi sumber informasi dalam wawancara ialah para mahasiswa Katolik pendatang di Dekenat Malang. Pendekatan tersebut dipercaya mampu menunjukkan bahwa sebagai pendatang, mahasiswa Katolik khususnya mahasiswa Papua di Malang punya cara tersendiri dalam beriman. Sebagai orang asing, Mahasiswa Katolik Papua di Malang punya cara yang khas untuk mengekspresikan imannya dalam kesulitan hidup sehari-hari.
Upaya Meningkatkan Keaktifan dan hasil Belajar Siswa Kelas 4 SDK Wignya Mandala Melalui Pembelajaran Kooperatif: Indonesia
Prameswara, Adrian Yanuar;
Pius X, Intansakti
SAPA - Jurnal Kateketik dan Pastoral Vol 8 No 1 (2023)
Publisher : Sekolah Tinggi Pastoral IPI Malang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.53544/sapa.v8i1.327
Dalam melaksanakan pembelajaran di kelas, masih banyak guru menggunakan model pembelajaran yang bersifat konvensional, yang dimana peserta didik lebih banyak mendengarkan penjelasan guru di depan kelas. Akibatnya, siswa cenderung merasa bosan sehingga kurang dapat mengikuti pelajaran dengan baik, keaktifan siswa juga kurang karena gaya pembelajaran yang monoton. Hal ini membuat siswa menjadi pasif dan kurang aktif dalam pembelajaran. Masalah tersebut bisa diatasi dengan menerapkan beberapa model pembelajaran lain yang sifatnya inovatif, salah satunya melaui Pembelajaran Kooperatif. Tujuan penulisan ini untuk mengetahui sejauh mana pembelajaran kooperatif dapat meningkatkan keaktifan dan hasil belajar siswa. Pendekatan yang dilakukan oleh peneliti dengan cara observasi dan wawancara langsung terhadap siswa kelas 4 SDK Wignya Mandala mengenai pembelajaran kooperatif. Peneliti menerapakan prinsip dan prosedur pembelajaran kooperatif dasar kepada siswa serta menemukan dampak yang di alami oleh siswa selama proses pembelajaran. Hasil penelitian menunjukkan bahwa melalui pembelajaran kooperatif sangat menunjang siswa dalam meningkatkan keaktifan dan hasil belajar serta lebih baik daripada model pembelajaran yang bersifat konvensional.
Membentuk Karakter Siswa Melalui Nilai-Nilai Kejujuran Terhadap Siswa Kelas IV Era Masa Kini di SDK Marga Bhakti
Darianto;
Priyambada, Lazarus Satya;
Pius X, Intansakti
SAPA - Jurnal Kateketik dan Pastoral Vol 8 No 1 (2023)
Publisher : Sekolah Tinggi Pastoral IPI Malang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.53544/sapa.v8i1.337
Education is also a medium to shape student character so that they become strong personalities and have good character. Education is also a medium to shape student character so that they have a strong personality and have good character. Elementary school is a formal educational institution that aims to develop students to become well-educated and characterized children. research methods based on interpretive philosophy or postpositivism, or used constructively for natural object conditions. and actions, based on religious norms, laws, manners, culture and customs. The mental revolution presents a new mentality that is valuable and noble, which will be revolutionized, namely the mentality of the nation's children who are increasingly chaotic to equip themselves.
Inkulturasi Gondang Sabangunan Batak Toba Dalam Liturgi Pemberkatan Perkawinan: Perjumpaan Kristus Dan Gerejanya Dengan Budaya Lokal
S, Andreas Eden;
Pereira, Alberto Alves
SAPA - Jurnal Kateketik dan Pastoral Vol 8 No 1 (2023)
Publisher : Sekolah Tinggi Pastoral IPI Malang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.53544/sapa.v8i1.344
Penelitian ini bertujuan untuk memaparkan pelaksanaan inkulturasi musik Gondang Sabangunan Batak Toba yang tepat ke dalam liturgi pemberkatan Perkawinan di bagian ritus penutup pemberkatan perkawinan tepat setelah penandatangan Surat Perkawinan dan proses perarakan keluar gereja sesuai dengan keseragaman Ritus Romawi. Pada penelitian ini penulis menerapkan pendekatan wawancara dan metode kesepadanan dengan enam tahapan. Lewat inkulturasi liturgi Pemberkatan Perkawinan, Gereja lokal berdialog secara intensif dan solid dengan adat budaya Batak Toba. Ini adalah cara terbaik bagi Gereja untuk mengajarkan pesan Injil, merangkul dan mengembangkan hal-hal apa saja yang unik dan kaya dalam musik Gondang Sabangunan Batak Toba seturut dengan ajaran Kristiani. Sementara, nilai-nilai sakral yang terkandung dalam musik Gondang Sabangunan mendukung keluhuran martabat Perkawinan Katolik. Inkulturasi Gondang Sabangunan Batak Toba dalam pemberkatan perkawinan merupakan perjumpaan budaya lokal, Kristus dan GerejaNya. Kendatipun membutuhkan proses yang panjang namun inkulturasi Gondang Sabangunan Batak Toba dapat menghantarkan umat beriman khususnya masyarakat Batak Toba kepada Kristus dalam mewjudkan sikap pertobatan, kekudusan dan keselamatan yang sejati.
DINAMIKA PENDAMPINGAN KERASULAN KITAB SUCI DI KEUSKUPAN AGUNG PONTIANAK DAN RELEVANSINYA
Nainggolan, Gempar;
Firmanto, Antonius Denny;
Aluwesia , Nanik Wijiyati
SAPA - Jurnal Kateketik dan Pastoral Vol 7 No 1 (2022)
Publisher : Sekolah Tinggi Pastoral IPI Malang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.53544/sapa.v7i1.346
Kitab Suci merupakan sumber iman Gereja akan Yesus Kristus. Gereja melihat Kitab suci ini sebagai buku iman yang berisikan perjalanan hidup Yesus 2000 tahun lalu. Berangkat dari kesadaran itu, anggota Gereja atau umat Allah sendiri harus melihat Kitab Suci dan aktivitas membaca Kitab Suci adalah bagian yang sangat sentral dan penting, apalagi jika mengambil waktu khusus untuk merenungkannya. Maka dari itu, Gereja harus juga mengambil sikap demi ketertarikan dan keinginan umat dalam bergumul pembacaan Kitab suci serta berdinamika sedemikian rupa sehingga mengantar umat untuk sampai kepada Allah. Apalagi di masa pandemi covid-19 seperti saat ini, di mana orang lebih banyak menghabiskan waktu di rumah bersama keluarga atau pun sendirian. Gereja perlu menggalakkan kegiatan yang berorientasi pada praktek pembacaan dan merenungkan Kitab suci sebagai upaya menumbuhkan dan mendewasakan iman mereka akan Yesus Kristus, seperti seminar Kitab Suci daring, pendalaman iman daring atau luring, dan banyak cara yang dapat digunakan sebagai sarana bina cinta Kitab suci di kalangan umat beriman maupun kaum klerus sendiri. Dengan demikian, cita-cita Gereja sebagai persekutuan iman yang mendasarkan hidupnya pada sabda Allah yang ditemukan dan direnungkan berkat bacaan Kitab suci dapat menjadi corak positif dan menunjukkan kasih yang sanga mendalan akan Allah. Konteks Gereja yang akan dibahas pada tulisan ini ialah konteks Gereja Keuskupan Agung Pontianak. Dalam hal ini, umat Allah diharapkan secara aktif menanggapi tugas dan panggilan mereka di Gereja, yang dimulai dari bina cinta Kitab Suci, terlebih di masa pandemi covid-19 ini.
GEREJA DAN ATEISME: SEBUAH TINJAUAN ATAS KONSTITUSI PASTORAL TENTANG GEREJA DI DUNIA MODERN DALAM GAUDIUM ET SPES 21
Join , Martinus
SAPA - Jurnal Kateketik dan Pastoral Vol 7 No 1 (2022)
Publisher : Sekolah Tinggi Pastoral IPI Malang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.53544/sapa.v7i1.347
Fokus tulisan ini menaruh perhatian bagi kaum ateis yang akhir-akhir ini banyak meninggalkan Gereja dan meragukan kebenaran akan eksistensi Allah. Kaum ateis tidak lagi mengandalkan fides dalam kepenuhan hidupnya akan tetapi lebih mengandalkan ratio. Segala kesuksesan dan kepenuhan hidupnya bukan lagi berasal dari rahmat Allah, tetapi hasil daya naluri akal budi murni. Dalam tulisan ini penulis mefokuskan diri bagaimana sikap Gereja terhadap kaum ateis yang dibahas secara detail dalam Gaudium et Spes 21. Ada pun metodologi yang dipakai berupa kajian kepustakaan berupa buku-buku, jurnal, dokumen KWI, dan media internet. Studi ini menemukan bahwa peran kaum ateis sangatlah penting untuk membangun dunia. Meskipun kaum ateis menolak akan eksistensi Allah namun Gereja dengan penuh kasih merangkul kaum ateis berpartisipasi untuk membangun dunia melalui jasa-jasanya. Hal ini secara gamblang bagaimana sikap Gereja terhadap kaum ateis dalam Gaudium et Spes 21. Gereja dengan sikap cinta kasih menerima kaum ateis untuk mengambil bagian dalam dunia meskipun kaum ateis menyangkal akan keagungan Allah, karena dengan hal demikian Gereja tetap mewartakan Kerajaan Allah demi keselamatan semua orang dengan Cahaya Injil Kristus.
MANFAAT ULAH KESALEHAN UMAT DALAM MENGHAYATI MASA PRAPASKAH DI PAROKI GEMBALA YANG BAIK LUBUK PAKAM
Simamora, Evani;
Marbun, Titin;
Fajariyanto, Tri Chandra;
Kurniadi , Benediktus Benteng
SAPA - Jurnal Kateketik dan Pastoral Vol 7 No 1 (2022)
Publisher : Sekolah Tinggi Pastoral IPI Malang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.53544/sapa.v7i1.348
Tujuan Penelitian ini untuk mengetahui jenis ulah kesalehan dan manfaat ulah kesalehan bagi umat dalam menghayati masa Prapaskah Di Paroki Gembala Yang Baik Lubuk Pakam. Penelitian tersebut dilaksanakan di Paroki Gemmbala yang Baik Lubuk Pakam. Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian menggunakan metode kualitatif. Pengumpulan data dilakukan dengan observasi, dokumentasi, dan wawancara. Teknik penentuan informan dilakukan dengan Purposive Sampling yaitu teknik pengambilan sampel dengan pertimbangan tertentu, pertimbangan dilakukan tersebut dianggap menguasai bahan objek atau situasi penelitian. Temuan penelitian ini adalah jenis ulah kesalehan pada masa prapaskah di Paroki Gembala Yang Baik Lubuk Pakam masih belum terjalankan sepenuhnya seperti devosi jalan ibunda atau tujuh kedukaan dan tablo. Sejumlah jenis ulah kesalehan yang diikuti oleh umat pada masa prapaskah memiliki manfaat yang dapat dilihat umat ketika merasakan apa yang dialami oleh Yesus ketika sengsara dan wafat.
PERAN GURU PENDIDIKAN AGAMA KATOLIK DALAM MENINGKATKAN KETERAMPILAN SOSIAL PESERTA DIDIK SMA SWASTA ST. MARIA KABANJEHE
Sipangkar, lbina;
Ginting, Aser Wiro;
Sembiring, Mimpin;
Sitepu , Abdi Guna
SAPA - Jurnal Kateketik dan Pastoral Vol 7 No 1 (2022)
Publisher : Sekolah Tinggi Pastoral IPI Malang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.53544/sapa.v7i1.349
Keterampilan sosial merupakan kecakapan yang perlu dimiliki oleh setiap peserta didik karena bagian dari kecakapan hidup, keberhasilan dalam kehidupan sosialnya di sekolah maupun di masyarakat. Dalam kehidupan sehari-hari pergaulan peserta didik yang baik dapat menumbuhan keterampilan sosialnya. Lewat keterampilan sosial, peserta didik akan mampu berhubungan serta merespon orang lain dengan baik. Penelitian ini dilakukan untuk melihat peran guru Pendidikan Agama Katolik dalam meningkatkan keterampilan sosial peserta didik SMA Swasta Santa Maria Kabanjahe dengan informan sebanyak duabelas orang yang terdiri dari: seorang Guru Pendidikan Agama Katolik, seorang kepala Sekolah dan sepuluh peserta didik. Penelitian ini menggunakan penelitian kualitatif. Data penelitian diperoleh dengan cara melakukan observasi, wawancara dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peran guru Pendidikan Agama Katolik sudah dijalankan sebaik mungkin dalam meningkatkan keterampilan sosial peserta didik, sehingga peserta didik memiliki keterampilan sosial yang baik. Peran guru Pendidikan Agama Katolik sebagai suri teladan; pengelola pembelajaran; motivator; dan pelaksana kurikulum.
KEBERANIAN DAN SEMANGAT EUGENE BOSSILKOV DALAM MEWARTAKAN KRITUS TERSALIB DAN RELAVANSINYA BAGI PEWARTAAN PASIONIS DI INDONESIA
Epo, Nobertus;
Firmanto, Antonius Denny;
Aluwesia , Nanik Wijiyati
SAPA - Jurnal Kateketik dan Pastoral Vol 7 No 1 (2022)
Publisher : Sekolah Tinggi Pastoral IPI Malang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.53544/sapa.v7i1.350
Dalam kehidupan para kaum berjubah, setiap komunitas baik ordo maupun tarekat pasti memiliki sosok atau figur yang dapat diteladani hidupnya. Biasanya hal yang diteladani dari figur tersebut ialah kesucian hidupnya, kesetiaannya, keberaniannya dalam mewartakan firman Tuhan, bahkan rela kehilangan nyawanya demi misi perutusannya dan lain sebagainya. Singkat kata, figur yang diteladani dalam kehidupan kaum berjubah dalam komunitas maupun ordo adalah pribadi yang tangguh, baik dalam hal rohani maupun jasmani serta memiliki pengaruh bagi kehidupan Gereja pada zamannya. Karya tulis ini hendak membahas mengenai salah satu figur tersebut, yaitu Eugene Bossilkov. Dia adalah seorang biarawan Kongregasi Pasionis (CP). Siapa Eugene Bossilkov? Bagaimana situasi kehidupan Gereja pada zamannya? Apa yang istimewa dari figur Eugene Bossilkov? Bagaimana relevansinya bagi para Pasionis yang berkarya di Indonesia ini? Pertanyaan inilah yang hendak penulis tampilkan dalam karya tulis ini. Tujuan penulis mengangkat tema ini karena penulis sendiri ingin mendalami dan mengetahui Eklesiologi dan pergulatan-pergulatan Eugene Bossilkov mewartakan Kristus Tersalib dalam pelayanannya. Setelah mendalaminya penulis menelisik apa sumbangannya atau relevansinya bagi Pasionis dalam menjalankan misinya di Indonesia. Tema ini penulis garap dengan metode kualitatif dengan menggunakan kajian kepustakaan. Dari studi ini penulis menemukan bahwa dalam menjalankan misinya di Indonesia, para Pasionis berhadapan dengan keberagaman agama dan masyarakat yang majemuk. Oleh karena itu, semangat yang dimiliki Beato Eugene Bossilkov ini masih relevan untuk diaplikasikan oleh para Pasionis dalam berkarya di Indonesia.
SEMANGAT PERSAUDARAAN TAREKAT HIDUP BAKTI DALAM KESATUAN DENGAN YESUS
Radja, Nikolaus Tabe;
Endi , Yohanes
SAPA - Jurnal Kateketik dan Pastoral Vol 7 No 1 (2022)
Publisher : Sekolah Tinggi Pastoral IPI Malang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.53544/sapa.v7i1.351
Fokus dari tulisan ini adalah merefleksikan persatuan dengan Kristus melalui semangat persaudaraan tarekat hidup bakti. Metodologi yang dilakukan adalah refleksi kritis atas dokumen Vita Concecrata dan menghubungkannya dengan ajaran Hukum Gereja mengenai Tarekat Hidup Bakti (Kan. 662-672). Dokumen Vita Concecrata dengan sangat rinci menjelaskan dinamika hidup membiara serta semangat yang menjiwai tarekat hidup bakti. Persekutuan merupakan hal yang sangat vital dalam hidup religius karena berakar dari dari semangat Kristus dan ajaran-ajaran tradisional Gereja. Semangat persaudaraan sangat berpengaruh bagi panggilan hidup religius. Temuan tulisan ini adalah semangat persaudaraan merupakan jalan penting dalam mencintai Kristus melalui tiga nasihati Injil. Dalam perjuangannya mencintai Kristus, religius membutuhkan yang lain dari rekan seperjalanan dalam semangat kebersamaan serta persaudaraan. Para religius diajak untuk membangun suatu persekutuan kasih, di mana tidak ada yang lebih mendominasi, hidup dalam persatuan, namun tetap teguh pada otonomi masing-masing. Religius diajak hidup dalam pembebasan sejati, yakni kembali merasakan kasih dan mewujudkan persekutuan sebagaimana diteladankan Trinitas dalam keabadian.