cover
Contact Name
Irwan
Contact Email
garuda@apji.org
Phone
+628115775000
Journal Mail Official
jurnalftk@gmail.com
Editorial Address
Dusun Bandol, Desa Untang, Kecamatan Banyuke Hulu, , Kab. Landak, Provinsi Kalimantan Barat, 79364
Location
Kab. landak,
Kalimantan barat
INDONESIA
Jurnal Filsafat dan Teologi Katolik
ISSN : 26145898     EISSN : 29880130     DOI : 10.58919
Core Subject : Religion, Education,
Bidang pastoral meliputi kepemimpinan dan pelayanan kristiani, permasalahan Jemaat, etika pelayanan kontemporer, hidup menggereja dalam konteks multikultural, keberagaman agama-agama, keberpihakan kepada kaum miskin dan marginal, keadilan perdamaian, dan keutuhan ciptaan. Bidang pendidikan agama meliputi pendidikan (formal and informal) agama Islam-Kristen-Katolik-Budha-Hindu-Konghucu dalam perspektif interreligious studies, multikultural, dan moderasi beragama berupa desain program, strategi pembelajaran dan kurikulum, sejarah dan filsafat, metodologi, psikologi, etika profesi guru, evaluasi, dan manajemen. Bidang katekese meliputi pengembangan ilmu dan praktik katekese di lingkup paroki, keluarga, dan sekolah.
Articles 81 Documents
LEGITIMATE AUTHORITY, RIGHT INTENTION, AND LAST RESORT FOR THE MORALITY OF HUMANITARIAN INTERVENTION IN POPE JOHN PAUL II’S MESSAGE FOR THE CELEBRATION OF THE WORLD DAY OF PEACE: “PEACE ON EARTH TO THOSE WHOM GOD LOVES” OF JANUARY 1, 2000 Irwan Irwan
Jurnal Filsafat dan Teologi Katolik Vol. 5 No. 2 (2022): Jurnal Filsafat dan Teologi Katolik
Publisher : STIKAS Santo Yohanes Salib Kalimantan Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58919/juftek.v5i2.11

Abstract

Intervensi kemanusiaan adalah topik yang banyak diperdebatkan dalam perang dan perdamaian di bidang moral, hukum, politik, filsafat di dunia internasional. Memasuki milenium ketiga, dalam konteks perjuangan untuk perdamaian universal, Paus Yohanes Paulus II mengajarkan moralitas intervensi kemanusiaan dalam dokumen Message for the Celebration of the World Day of Peace: “Peace on Earth to Those Whom God Loves” tanggal 1 Januari 2000. Artikel sederhana ini mencoba untuk membahas, untuk memahami lebih lanjut, tiga kriteria moral yang dituntut dalam intervensi kemanusiaan pada dokumen ini, yaitu: otoritas yang sah, niat yang benar, dan upaya terakhir. Metode yang digunakan dalam artikel ini adalah studi pustaka.
THE TRUTH IS SYNTHETIC: DOGMATICS AS SYNTHESIS Angelo Luciani Moa Dosi WODA
Jurnal Filsafat dan Teologi Katolik Vol. 2 No. 1 (2018): Jurnal Filsafat dan Teologi Katolik
Publisher : STIKAS Santo Yohanes Salib Kalimantan Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58919/juftek.v2i1.12

Abstract

Pemahaman ajaran Gereja Universal mengenai keabadian jiwa, api penyucian, surga, dan neraka bukan hanya berkaitan tentang hal-hal yang terjadi pada akhir jaman. Bukan pula upaya mengelaborasi cabang teologi sistematika terakhir yang disebut eskatologi. Melainkan, upaya memahami ajaran iman Kristiani sejak permulaannya hingga keselamatan yang definitif pada hidup yang akan datang. Itu berarti melihat kesatuan teologi dalam misteri keselamatan Allah melalui peristiwa Yesus Kristus dan kuasa Roh Kudus yang hadir dalam Gereja kepada seluruh umat manusia. Itulah sebabnya, ajaran iman Gereja universal mengenai misteri hidup yang kekal bukanlah suatu utopia, khayalan, atau impian belaka, melainkan suatu realitas hidup yang bersumber dari misteri Allah Tritunggal, Yesus Kristus, dan Gereja universal.
THE LITURGY ACCORDING TO THE DIDACHE Angelo Luciani Moa Dosi WODA
Jurnal Filsafat dan Teologi Katolik Vol. 2 No. 1 (2018): Jurnal Filsafat dan Teologi Katolik
Publisher : STIKAS Santo Yohanes Salib Kalimantan Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58919/juftek.v2i1.13

Abstract

Tidak dapat disangkal bahwa Didache yang dikenal sebagai “ajaran Tuhan kita Yesus Kristus melalui tradisi para rasul” menunjukkan kesaksian otentik Gereja universal sejak pertengahan abad pertama hingga saat ini. Kendati, dijumpai pelbagai macam pertanyaan berkaitan dengan ajaran iman dan moral Kristiani, sesungguhnya Didache menunjukkan intisari iman Kristiani yang bersumber dari misteri Yesus Kristus dan Tradisi Apostolik. Itulah sebabnya, betapa pentingnya memahami perkembangan ajaran iman Kristiani dalam Tradisi Gereja perdana hingga saat ini. Refleksi iman Kristiani menunjukkan bahwa tak ada berubah dalam iman Kristiani, hanya cara kita mengungkapkannya yang berkembang sesuai dengan perkembangan zaman. Penghayatan liturgi Gereja, terutama Sakramen Inisiasi sejak era Didache hingga saat ini tetap, konsisten, dan dinamis, namun Tradisi mencatat adanya perkembangan yang signifikan dan kekayaan ritus liturgi Gereja sepanjang zaman.
INTER-FAITH MARRIAGE, GRACE, AND SOLUBILITY Irwan Irwan
Jurnal Filsafat dan Teologi Katolik Vol. 2 No. 2 (2019): Jurnal Filsafat dan Teologi Katolik
Publisher : STIKAS Santo Yohanes Salib Kalimantan Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58919/juftek.v2i2.14

Abstract

Perkawinan antara orang-orang yang dibaptis, oleh Kristus Tuhan diangkat ke martabat sakramen. Ada rahmat sakramental dalam perkawinan ini. Perkawinan antara seorang Katolik dengan seorang yang tidak dibaptis, perkawinan antar-iman, bukanlah sebuah sakramen. Apakah perkawinan antar-iman ini tanpa rahmat? Apakah perkawinan antar- iman tidak dapat diceraikan? Untuk menjawab pertanyaan ini digunakan dokumen- dokumen Gereja Katolik dan pendapat beberapa teolog moral.
BERKATEKESE MEMBANGUN JEMAAT DENGAN ORIENTASI KERAJAAN ALLAH Fransiskus Heryman Surya Gadur
Jurnal Filsafat dan Teologi Katolik Vol. 2 No. 2 (2019): Jurnal Filsafat dan Teologi Katolik
Publisher : STIKAS Santo Yohanes Salib Kalimantan Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58919/juftek.v2i2.15

Abstract

The relevant Catechism in the midst of the struggling of the life of the faithful is an urgent task of the Church. Catechism cannot be given just to the point of the church’s routine, but should be started from the basic needs of the faithful and the church itself as to grow in faith. Model of catechism that oriented to the kingdom of God is one of the answers toward the struggling of the faithful in relation to the environment and local situation as well as with God. There is a positive hope to create such group of the faithful through this effort. St. Therese of the Child Jesus’s Parish, Simpang Tiga chose such model to discover the reality of catechism’s activity during these periods. By such perspective of catechism, this Parish wants to shape a strong and substantial communion of faithful – having an experience of God, and dialogue with their roots of life in Kalimantan.
MEMBOYONG KEPENTINGAN PRIBADI MENUJU KEUTAMAAN SOSIOLOGIS Herwindo Chandra
Jurnal Filsafat dan Teologi Katolik Vol. 2 No. 2 (2019): Jurnal Filsafat dan Teologi Katolik
Publisher : STIKAS Santo Yohanes Salib Kalimantan Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58919/juftek.v2i2.16

Abstract

Self-interest starts at the early life of human beings. Along with his body self-interests also grows in the biological growth of a child. Mankind tends to do everything for his own interest, such as to fulfill his needs. Meanwhile, there is another terminology that close to self-interest, i.e. selfishness. Regardless we have to determine the meaning of both terminologies. Self-interest depends on condition, while selfishness focus on ones own interest. Selfishness has no value per se, and it is different with self-interest. In social relationship, self-interest is not without problem. In this paper, we try to describe several conditions of such relationship by using the theory of George Simmel. Is there any condition to bring the self-interest for a good relationship? Therefore, the purpose of this paper is to achieve the knowledge and an encouragement for the highest social virtue in relationship.
ANALISIS PANDANGAN POLITIK THOMAS AQUINAS Simplesius Sandur
Jurnal Filsafat dan Teologi Katolik Vol. 2 No. 2 (2019): Jurnal Filsafat dan Teologi Katolik
Publisher : STIKAS Santo Yohanes Salib Kalimantan Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58919/juftek.v2i2.17

Abstract

Thomas Aquinas bases his political theory on the Aristotelian philosophy. Man is zoon politicon says Aristotle in his famous work the Politics. Politics in Thomas’ approach has a glorious purpose that is to create bonum commune. To realize this political program, the Angelic Doctor proposes not only politics in true sense but also ethics. Politics presupposes ethics. In modern society, maybe it would be meaningless if we perceive political reality which makes deep separation and distinction between politics and ethics. The result of this separation, in fact, is a disharmony of society. The disharmony of society in our analysis based on Thomistic political philosophy, derives from an absolut freedom in which man is understood in his ‘nature’ as an autonomistic person.
STUDY OF THE CHARACTER OF JESUS IN MARK 4:35-8:30 Ferry Hartono
Jurnal Filsafat dan Teologi Katolik Vol. 2 No. 2 (2019): Jurnal Filsafat dan Teologi Katolik
Publisher : STIKAS Santo Yohanes Salib Kalimantan Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58919/juftek.v2i2.18

Abstract

Yesus ditampilkan Injil Markus sebagai karakter yang misterius. Studi tentang kemisteriusan pribadi Yesus semakin menanjak belakangan ini sejak Wrede mengungkapkan teori tentang “Rahasia Mesianis”-nya. Analisis karakter Yesus secara naratif dalam artikel ini merupakan salah satu upaya terfokus untuk membantu mengungkit beberapa aspek dari “Rahasia” ini. Saya menggunakan metode analisis karakter yang dirancang oleh Malbon, yang berfokus pada performa karakter, dalam hal ini Yesus. Analisis ini menaruh perhatian pada apa yang karakter-karakter lain katakan kepada dan tentang Yesus; apa tanggapan Yesus; apa yang Yesus lakukan, serta apa karakter-karakter lain lakukan sebagai tanggapan atas kata dan tindakan Yesus. Pembahasan hanya dibatasi atas Mrk 4:35-8:30 karena dalam bagian inilah terjadi proses identifikasi karakter Yesus yang berpuncak pada pengakuan Petrus atas Kemesiasan Yesus. Proses ini tampak terkait secara hakiki dengan tonggak peristiwa misi pertama Yesus ke seberang, yang notabene merupakan daerah orang non-Yahudi. Hasil dari studi ini menunjukkan karakter Yesus yang familiar, meneguhkan beberapa fakta yang sudah ada sebelumnya, sekaligus menyajikan aspek-aspek yang mungkin mengejutkan.
THE PROPOSED BIBLICAL FOUNDATION OF THE MORALITY OF HUMANITARIAN INTERVENTION Irwan Irwan
Jurnal Filsafat dan Teologi Katolik Vol. 3 No. 1 (2019): Jurnal Filsafat dan Teologi Katolik
Publisher : STIKAS Santo Yohanes Salib Kalimantan Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58919/juftek.v3i1.19

Abstract

Moralitas intervensi kemanusiaan harus didasarkan pada Alkitab. Artikel ini mencoba mengusulkan dasar alkitabiah dari moralitas intervensi kemanusiaan. Metode yang digunakan dalam artikel ini adalah studi pustaka. Dua ajaran Alkitab, satu dari Perjanjian Lama dan satu dari Perjanjian Baru, direfleksikan. Pertama, teks Perjanjian Lama Kejadian 1:26-27 menceritakan martabat dan nilai manusia, sebagai puncak ciptaan Tuhan. Manusia harus menghormatinya. Melindungi hidup manusia adalah alasan yang adil untuk intervensi kemanusiaan. Kedua, dalam intervensi kemanusiaan, ada ketegangan antara “keprihatinan kemanusiaan” dan “kedaulatan bangsa.” Ketegangan ini sejajar dengan ketegangan dalam Perjanjian Baru Luk 6:6-11. Teks ini menceritakan ketegangan antara “berbuat baik” dan “menjaga hukum”. Yesus, Guru Moralitas kita, mengajarkan bahwa berbuat baik dan menyelamatkan hidup (“keprihatinan kemanusiaan” dalam intervensi kemanusiaan) lebih tinggi nilainya daripada mengikuti hukum Sabat (“kedaulatan bangsa”). Kedua teks dapat menjadi dasar bagi moralitas intervensi kemanusiaan.
INTERACTION BETWEEN JESUS AND THE CHARACTERS IN MARK 4:35–8:30 Ferry Hartono
Jurnal Filsafat dan Teologi Katolik Vol. 3 No. 1 (2019): Jurnal Filsafat dan Teologi Katolik
Publisher : STIKAS Santo Yohanes Salib Kalimantan Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58919/juftek.v3i1.20

Abstract

Upaya menemukan teologi biblis yang relevan dengan zaman ini sangat penting. Studi tentang karakter-karakter dalam Mrk 4:35–8:30 ini merupakan salah satu upaya tersebut. Analisis naratif dalam studi Kitab Suci, dengan fokus pada analisis karakter, tidak sulit untuk diarahkan pada refleksi teologis yang relevan. Proses identifikasi pembaca dengan tokoh- tokoh dalam Kitab Suci pada umumnya dapat dilakukan dengan lancar, seperti yang ditunjukkan dalam artikel ini. Metode analisis karakter dengan kategorisasi berdasarkan jenis dan sifat dalam artikel ini, selain memperjelas posisi para karakter, juga mempertegas pengenalan akan karakter utama dalam Injil Markus, yakni Yesus. Interaksi mereka dengan Yesus, baik secara langsung maupun tidak langsung, pada akhirnya menuntun para pembaca untuk menentukan sikap dalam interaksi pribadi dengan Yesus.