cover
Contact Name
Irwan
Contact Email
garuda@apji.org
Phone
+628115775000
Journal Mail Official
jurnalftk@gmail.com
Editorial Address
Dusun Bandol, Desa Untang, Kecamatan Banyuke Hulu, , Kab. Landak, Provinsi Kalimantan Barat, 79364
Location
Kab. landak,
Kalimantan barat
INDONESIA
Jurnal Filsafat dan Teologi Katolik
ISSN : 26145898     EISSN : 29880130     DOI : 10.58919
Core Subject : Religion, Education,
Bidang pastoral meliputi kepemimpinan dan pelayanan kristiani, permasalahan Jemaat, etika pelayanan kontemporer, hidup menggereja dalam konteks multikultural, keberagaman agama-agama, keberpihakan kepada kaum miskin dan marginal, keadilan perdamaian, dan keutuhan ciptaan. Bidang pendidikan agama meliputi pendidikan (formal and informal) agama Islam-Kristen-Katolik-Budha-Hindu-Konghucu dalam perspektif interreligious studies, multikultural, dan moderasi beragama berupa desain program, strategi pembelajaran dan kurikulum, sejarah dan filsafat, metodologi, psikologi, etika profesi guru, evaluasi, dan manajemen. Bidang katekese meliputi pengembangan ilmu dan praktik katekese di lingkup paroki, keluarga, dan sekolah.
Articles 83 Documents
PEMURNIAN INGATAN MELALUI PENGHARAPAN: Tinjauan Teologis atas Karya Santo Yohanes Salib, Mendaki Gunung Karmel, III, 1-15 Angelo Luciani Moa Dosi Woda
Jurnal Filsafat dan Teologi Katolik Vol. 6 No. 1 (2022): Jurnal Filsafat dan Teologi Katolik
Publisher : STIKAS Santo Yohanes Salib Kalimantan Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58919/juftek.v6i1.31

Abstract

Dalam karya terkenalnya, Mendaki Gunung Karmel, III, 1-15, Santo Yohanes Salib mengajarkan kepada segenap umat beriman bagaimana cara memurnikan ingatan melalui Pengharapan. Itu berarti suatu pemurnian terhadap ingatan melalui kebajikan teologal pengharapan. Dalam ingatan sendiri terdiri atas tiga macam objek pengetahuan, yaitu kodrati, imajinatif, dan spiritual. Karena itu hidup dalam pengharapan berarti kelepasan atas pengenalan kodrati dan pengenalan adikodrati. Dalam pemurnian tersebut, seorang harus mengabaikan segala macam bentuk, gambar, dan fantasi supaya ia semakin bersatu dengan Allah. Pada akhirnya, hidup dalam pengharapan sebagai anak-anak Allah ialah suatu hidup dalam pengenalan rohani yang melampaui segala pengertian.
KRITIK DAWKINS TERHADAP LIMA JALAN PEMBUKTIAN EKSISTENSI ALLAH THOMAS AQUINAS Simplesius Sandur
Jurnal Filsafat dan Teologi Katolik Vol. 3 No. 2 (2020): Jurnal Filsafat dan Teologi Katolik
Publisher : STIKAS Santo Yohanes Salib Kalimantan Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58919/juftek.v3i2.32

Abstract

Thomas Aquinas (1225/1224-1274) is one of greatest thinker in the history of Medieval philosophy. He wrote his par excellence work, called Summa Theologiae. It is a theological work but rich with philosophical arguments. He established his arguments by citing Greek thinkers such as Plato and Aristotle. One of Thomas’ important argument is the prove of God’s existence or what nowdays calls as The Five Ways. Thomas presents his readers that God exists and proves it philosophically than theologically. Richard Dawkins (1941 - ) revives The Five Ways to modern readers by critizing Thomas’ arguments in his The God Delusion. Dawkins bases his critique on the evident character of modern science. His critique is supported by his Darwinism background and his efforts to promote atheism. According to Dawkins, The Five Ways does not prove anything about God. This article tries to examine and interprateThomas’ arguments on The Five Way and how Dawkins reads and critizes it from atheism point of view.
PERAYAAN EKARISTI UNTUK TRADISI BALALA DARI SUKU DAYAK BANYADU Herwindo Chandra
Jurnal Filsafat dan Teologi Katolik Vol. 3 No. 2 (2020): Jurnal Filsafat dan Teologi Katolik
Publisher : STIKAS Santo Yohanes Salib Kalimantan Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58919/juftek.v3i2.33

Abstract

This paper outlines the Balala Tradition which is one of the Dayak Banyadu tribe traditions. The Catholic Church values the culture and values of the local wisdom of its people. However, inculturation of culture into a celebration of faith requires a method approach. Models of faith contextualization from Stevan Bevan are one of the methods used in this paper. Identification of the problem of the Belala Tradition is the weak signification of the faith of the Dayak Banyadu tribe who are Catholic in living the Belala Tradition. So the focus of this paper is on the inculturation of the Balala Tradition in the Catholic faith paradigm. The purpose of this study is to provide a theological basis and meaning of the Catholic faith for the value of locality in the Belala Tradition. This paper will explore the experience of the existence of the Dayak Banyadu tribe in living this tradition in the eyes of the Catholic faith.
TINJAUAN YURIDIS-KANONIS MENYANGKUT LARANGAN MENERIMA KOMUNI KUDUS BAGI PASANGAN YANG BERCERAI DAN MENIKAH LAGI DAN KEMUNGKINAN JALAN KELUAR Rikardus Jehaut
Jurnal Filsafat dan Teologi Katolik Vol. 4 No. 1 (2020): Jurnal Filsafat dan Teologi Katolik
Publisher : STIKAS Santo Yohanes Salib Kalimantan Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58919/juftek.v4i1.34

Abstract

Artikel ini bertujuan untuk membedah disiplin Gereja menyangkut larangan untuk menerima komuni kudus bagi yang bercerai dan menikah lagi dalam terang Kitab Hukum Kanonik dan beberapa penegasan Magisterium. Dengan menggunakan analisis kritis atas berbagai dokumen resmi Gereja, ditemukan bahwa larangan tersebut didasarkan atas pertimbangan bahwa menikah lagi selagi masih terdapat ikatan yang valid dipandang sebagai sebuah dosa berat. Terdapat kontradiksi objektif antara sakramen persekutuan Kristus Sang Mempelai dengan Gereja, yang terpenuhi dalam Ekaristi, dan ketidaksetiaan orang yang bercerai yang hidup bersama yang lain kendati sadar akan ikatan perkawinan sebelumnya. Harus dicatat bahwa norma ini sama sekali bukan sebuah hukuman atau diskriminasi terhadap yang bercerai dan menikah lagi, namun lebih mengekspresikan situasi objektif yang dalam dirinya sendiri menghalanginya untuk menerima komuni kudus. Di lain pihak, mengingat bahwa mereka yang bercerai dan menikah lagi tidak dipisahkan dari Gereja melainkan tetap menjadi anggota Gereja, para gembala harus memperhatikan kebutuhan pastoral mereka dengan menerapkan berbagai solusi pastoral yang sesuai yang disediakan oleh Hukum Gereja dan praksis yang diakui oleh Gereja untuk forum internal.
ROH KUDUS MENURUT JOSEPH KARDINAL RATZINGER Angelo Luciani Moa Dosi Woda
Jurnal Filsafat dan Teologi Katolik Vol. 4 No. 1 (2020): Jurnal Filsafat dan Teologi Katolik
Publisher : STIKAS Santo Yohanes Salib Kalimantan Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58919/juftek.v4i1.35

Abstract

Patut diakui, pembahasan mengenai ajaran iman Gereja tentang Roh Kudus, masih kurang dalam Gereja Katolik. Karena itu, berdasarkan pembaruan hidup dan karya misi Gereja dalam Konsili Vatikan II, segenap umat beriman Kristiani merefleksikan kembali teologi tentang Roh Kudus. Dalam konteks ini, Joseph Kardinal Ratzinger (Paus Benediktus XVI) memberikan kontribusi penting mengenai ajaran iman Gereja universal tentang Roh Kudus. Suatu refleksi pneumatologis yang mengalir dari sumber-sumber iman Gereja sesuai dengan situasi zaman modern ini. Itu berarti karya Roh Kudus dalam sejarah keselamatan yang berpuncak pada misteri Kristus dan Gereja mengungkapkan misteri Allah Tritunggal yang Mahakudus, yaitu Bapa dan Putera dan Roh Kudus.
DIALOG ANTARA IMAN GEREJA DAN TRADISI SUKU TIONGHOA TENTANG KREMASI DAN PERLAKUAN ATAS ABU JENAZAH Shelomita Selamat
Jurnal Filsafat dan Teologi Katolik Vol. 4 No. 1 (2020): Jurnal Filsafat dan Teologi Katolik
Publisher : STIKAS Santo Yohanes Salib Kalimantan Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58919/juftek.v4i1.36

Abstract

Dialog antara iman gereja dengan tradisi dan budaya masyarakat lokal (baca: inkulturasi) sangat diperlukan demi tercapainya misi Gereja. Penelitian ini menyoroti praktek kremasi dan perlakuan atas abu jenazah salah satu bentuk inkulturasi yang umum dilakukan oleh para anggota gereja dewasa ini. Praktek kremasi semakin meningkat dari tahun ke tahun di kalangan kaum beriman. Gereja mengijinkan praktek kremasi sejauh memenuhi syarat-syarat tertentu. Namun, pada prakteknya masih ada beberapa hal yang menjadi persoalan di kalangan kaum beriman, khususnya terkait dengan perlakuan atas abu jenazah. Sikap tegas dari Gereja mutlak diperlukan agar tidak terjadi penyimpangan iman Katolik. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode fenomenologis dan studi kepustakaan.
MEMANDANG TEMAN MUSLIM SEBAGAI SAUDARA ORANG MUDA KATOLIK MENURUT KARL RAHNER Herwindo Chandra
Jurnal Filsafat dan Teologi Katolik Vol. 4 No. 1 (2020): Jurnal Filsafat dan Teologi Katolik
Publisher : STIKAS Santo Yohanes Salib Kalimantan Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58919/juftek.v4i1.37

Abstract

Penelitian ini membahas orang muda dapat menjadi pioneer dalam dialog interreligius. Hal ini dapat menjadi dialog interreligius yang khas. Fokus penelitian ialah relasi antara Orang Muda Katolik (OMK) dengan teman-teman Muslimnya. OMK terpanggil untuk dialog ini karena penduduk Indonesia mayoritas Muslim. Saat ini media sosial banyak memberitakan isu intoleransi yang menimbulkan prasangka diantara agama dan dapat membahayakan keberagaman Indonesia. Sejarah mencatat bahwa gerakan para pemuda Bangsa Indonesia dalam keragamannya dapat bersatu dan peduli pada persatuan bangsa. Peristiwa seperti Sumpah Pemuda tahun 1928 dan Gerekan Reformasi tahun 1998 menjadi kepedulian pemuda Indonesia yang cukup signifikan. Tujuan dari penelitian ini ialah menelusuri cara pandang iman Kristen untuk relasi OMK dalam dialog interreligius. Anjuran Apostolik Christus Vivit dapat meneguhkan pertemanan OMK dengan cara pandang inklusif dalam dialog interreligius. Penelitian ini menggunakan metode fenomenologi berdasarkan pengalaman berpastoral dengan anak muda. Penelitian ini memberikan sumbangan sederhana pada tingkat akar rumput masyarakat yaitu dialog interreligius orang muda. Temuan penelitian ini ialah OMK memandang teman Muslimnya bukan semata-mata sebagai teman tetapi sebagai saudara, menurut pemikiran Kristin-awanama dari Karl Rahner.
HUGO GROTIUS’ THINKING FOR THE MORAL BASIS OF HUMANITARIAN INTERVENTION Irwan, Irwan
Jurnal Filsafat dan Teologi Katolik Vol. 4 No. 1 (2020): Jurnal Filsafat dan Teologi Katolik
Publisher : STIKAS Santo Yohanes Salib Kalimantan Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58919/juftek.v4i1.38

Abstract

Salah satu kontroversi yang dominan pada dekade terakhir abad ke-20 ialah pertanyaan: “Apa yang komunitas internasional atau negara lain harus lakukan ketika sebuah negara tidak dapat atau tidak mau menghentikan pelanggaran HAM secara masif dan sistematis dalam wilayahnya (contohnya: perang sipil di Liberia pada tahun 1990, penindasan suku Kurdi di Irak Utara sejak tahun 1990, penindasan sipil di Provinsi Kosovo pada tahun 1999)? Apakah komunitas internasional memiliki kewajiban moral untuk mengintervensi negara itu, yang memiliki kedaulatannya sendiri, melalui intervensi kemanusiaan (humanitarian intervention) untuk mengakhiri pembantaian itu?” Walaupun ada konsensus umum tentang pentingnya intervensi kemanusiaan, tetapi aksi militer ini banyak diperdebatkan dalam bidang moral, hukum, politik, filsafat di dunia internasional. Dalam bidang moral, artikel sederhana ini mencoba mencari dasar moral dari intervensi kemanusiaan menurut teori dari Hugo Grotius. Metode yang digunakan dalam artikel ini adalah studi pustaka.
PANDANGAN SANTO PAULUS TENTANG KRISTUS DAN GEREJA SERTA MENGHADAPI TANTANGAN COVID-19 Madalena Marseli
Jurnal Filsafat dan Teologi Katolik Vol. 4 No. 2 (2021): Jurnal Filsafat dan Teologi Katolik
Publisher : STIKAS Santo Yohanes Salib Kalimantan Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58919/juftek.v4i2.39

Abstract

Salah satu dari beberapa tema yang dibahas oleh Santo Paulus dalam surat-suratnya kepada berbagai jemaat yaitu mengenai kesatuan antara Kristus dan Gereja. Apa dasar dari hubungan kesatuan antara Kristus dan Gereja menurut Santo Paulus? Bagaimana Kristus dan Gereja tidak dapat dipisahkan? Mengapa Kristus menghendaki relasi yang utuh dengan Gereja-Nya? Artikel ini akan mencoba melihat dari berbagai perspektif: teologis, soteriologis dan eklesiologis dari tulisan Santo Paulus mengenai Gereja. Selain itu, akan dibahas pula sikap yang tepat untuk mencintai Kristus dan Gereja-Nya, serta sikap Gereja dalam menghadapi tantangan pada zaman ini dengan adanya penyebaran yang semakin meningkat dan luas dari pandemi covid-19.
RISET KEAGAMAAN DENGAN PEMBACAAN DEKONSTRUKTIF ALA DERRIDA Ferry Hartono
Jurnal Filsafat dan Teologi Katolik Vol. 4 No. 2 (2021): Jurnal Filsafat dan Teologi Katolik
Publisher : STIKAS Santo Yohanes Salib Kalimantan Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58919/juftek.v4i2.40

Abstract

Pembacaan Dekonstruktif Derrida, sebagai salah satu kritikan atas tawaran kemapanan strukturalisme, menawarkan pendekatan yang berbeda dalam menganalisis data riset kualitatif. Ketika berbicara tentang riset keagamaan, pembacaan dekonstruktif tidak dapat begitu saja meniadakan banalitas diskusi mengenai sifat apofatis realitas ilahi. Namun, ketika diskusi ditarik ke arah fenomena keagamaan, pembacaan dekonstruktif seperti ikan menemukan kolam yang tenang, tempat ia dapat berenang dengan bebas. Metodologi- metodologi studi keagamaan umum, seperti Fenomenologi, Fungsionalisme, dan Agama Terhayati menekankan kemungkinan untuk menarik dunia metafisis kepada realitas fenomenologis yang dapat diamati dan dipahami. Fenomena-fenomena tersebut, ketika dikaitkan dengan kaidah ruang dan waktu, akan selalu menghasilkan anomali. Keasingan dan penyimpangan dalam fenomena tidak perlu dimusuhi. Dalam pembacaan dekonstruktif, justru unsur pengejut dan pengesan unik dalam fenomena sering menjadi agen kuat untuk memahami suatu obyek pembacaan. Artikel ini bertujuan menunjukkan kedigjayaan pembacaan dekonstruktif sebagai sarana analisis data dalam suatu riset keagamaan. Pembacaan dekonstruktif ini dapat dipakai baik dalam riset kuantitatif maupun riset kualitatif, meskipun harus segera ditambahkan, bahwa riset kuantitatif memiliki handicap-nya tersendiri dalam riset keagamaan. Dalam fenomena keagamaan, jumlah tidak menentukan kebenaran. Justru lebih sering terjadi, fenomena yang unik atau menyimpang, entah itu dalam arti pribadi atau barang mati atau kejadian atau prediksi sekalipun, lebih ‘berkualitas’ dan lebih benar. Di sinilah ada konformasi antara riset kualitatif dan pembacaan dekonstruktif.