cover
Contact Name
Irwan
Contact Email
garuda@apji.org
Phone
+628115775000
Journal Mail Official
jurnalftk@gmail.com
Editorial Address
Dusun Bandol, Desa Untang, Kecamatan Banyuke Hulu, , Kab. Landak, Provinsi Kalimantan Barat, 79364
Location
Kab. landak,
Kalimantan barat
INDONESIA
Jurnal Filsafat dan Teologi Katolik
ISSN : 26145898     EISSN : 29880130     DOI : 10.58919
Core Subject : Religion, Education,
Bidang pastoral meliputi kepemimpinan dan pelayanan kristiani, permasalahan Jemaat, etika pelayanan kontemporer, hidup menggereja dalam konteks multikultural, keberagaman agama-agama, keberpihakan kepada kaum miskin dan marginal, keadilan perdamaian, dan keutuhan ciptaan. Bidang pendidikan agama meliputi pendidikan (formal and informal) agama Islam-Kristen-Katolik-Budha-Hindu-Konghucu dalam perspektif interreligious studies, multikultural, dan moderasi beragama berupa desain program, strategi pembelajaran dan kurikulum, sejarah dan filsafat, metodologi, psikologi, etika profesi guru, evaluasi, dan manajemen. Bidang katekese meliputi pengembangan ilmu dan praktik katekese di lingkup paroki, keluarga, dan sekolah.
Articles 83 Documents
JESUS’ WAY OF COMMUNICATING IN THE CORE OF MEDIA SOCIAL COMMUNICATION SPHERE Paulinus Seso
Jurnal Filsafat dan Teologi Katolik Vol. 3 No. 1 (2019): Jurnal Filsafat dan Teologi Katolik
Publisher : STIKAS Santo Yohanes Salib Kalimantan Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58919/juftek.v3i1.21

Abstract

Kita tidak cukup hanya menggunakan media sosial semata-mata untuk mewartakan Injil dan menyampaikan ajaran asli Gereja. Tetapi kita perlu mengkomunikasikan pewartaan dan ajaran tersebut dengan teknik, bahasa, dan psikologi baru dengan menggunakan aksioma dan cara Yesus berkomunikasi. Tujuannya adalah untuk mengenerasi komunikasi otentik bagi kemajuan, unitas, dan keutuhan hidup manusia sebagai tujuan utama dari media sosial sebagai anugerah Allah.
THE DIVINE PRESENCE ON THE MOUNT HOREB Madalena Marseli
Jurnal Filsafat dan Teologi Katolik Vol. 3 No. 1 (2019): Jurnal Filsafat dan Teologi Katolik
Publisher : STIKAS Santo Yohanes Salib Kalimantan Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58919/juftek.v3i1.22

Abstract

Allah menunjukkan kehadiran-Nya melalui berbagai fenomena. Pada masa Elia, berbeda dengan manifestasi kehadiran pada zaman Musa, Ia menyatakan diri dengan bunyi angin sepoi-sepoi basa. Tulisan ini mengulas tentang latar belakang sejarah pada zaman Elia, beberapa elemen di dalam manifestasi kehadiran Allah dan pembahasan dari setiap ayat teks 1 Raj 19:9-14. Elia berdialog dengan Allah dengan mengungkapkan pengalaman pribadinya dan semangat yang menyala untuk Allah semesta alam. Manifestasi kehadiran ilahi yang dinyatakan secara misterius dengan fenomena alam ini mengarahkan manusia untuk melihat karya Allah yang tersembunyi dan tanggapan dalam kesetiaan hidup di bawah bimbingan- Nya.
THE ETERNITY OF THE WORLD IN THE THOUGHT OF SAINT THOMAS AQUINAS Shelomita Selamat
Jurnal Filsafat dan Teologi Katolik Vol. 3 No. 1 (2019): Jurnal Filsafat dan Teologi Katolik
Publisher : STIKAS Santo Yohanes Salib Kalimantan Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58919/juftek.v3i1.23

Abstract

Keabadian dunia menjadi salah satu topik yang menjadi perdebatan di kalangan para pemikir abad pertengahan. Sebagian pemikir menganggap bahwa dunia bersifat abadi atau sudah ada sejak awal mula. Namun, para pemikir lainnya beranggapan bahwa dunia tidakah abadi. Dalam argumen-argumen yang dikemukakannya, Santo Thomas Aquinas mengatakan bahwa dunia tidaklah abadi dan tidak seorangpun yang dapat membuktikan awal mula dunia. Bagi Santo Thomas Aquinas, hal ini tidak dapat dijelaskan melalui pembuktian demonstratif, melainkan hanya dapat dipahami dengan iman. Hanya dengan imanlah orang percaya bahwa dunia diciptakan oleh karena kehendak bebas Allah.
HOMILI MELAMPAUI SEGALA BENTUK KATEKESE (Evangelii Gaudium, art 135-159) Marianus Dinata Alnija
Jurnal Filsafat dan Teologi Katolik Vol. 3 No. 1 (2019): Jurnal Filsafat dan Teologi Katolik
Publisher : STIKAS Santo Yohanes Salib Kalimantan Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58919/juftek.v3i1.24

Abstract

Today Christians has faced various challengge that plunge many christian into consumerism, terrible sadness, hedonism and covetous. As the result many christian become selfish, irritable, and egoist. For that reason, Pope Francis urged many preachers should work hard in proclaiming the gospel especially through homilies because homilies beyond all form of catechesis. This paper aims to explore Pope Francis' theological ideas about concerning homily. In a way of exploring the theological conception regarding homily, the writer treats the apostolic exhortation of evangelii Gaudium article number 135-159.
MEMAHAMI SIFAT ADIKODRATI RAHMAT BAGI HIDUP KONKRET SECARA ANTROPOLOGI KRISTIANI LEGITIMATE AUTHORITY, RIGHT INTENTION, AND LAST RESORT FOR THE MORALITY OF HUMANITARIAN INTERVENTION IN POPE JOHN PAUL II’S MESSAGE FOR THE CELEBRATION OF THE WORLD DAY OF PEACE: “PEACE ON EARTH TO THOSE WHOM GOD LOVES” OF JANUARY 1, 2000 Madalena Marseli
Jurnal Filsafat dan Teologi Katolik Vol. 5 No. 2 (2022): Jurnal Filsafat dan Teologi Katolik
Publisher : STIKAS Santo Yohanes Salib Kalimantan Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58919/juftek.v5i2.25

Abstract

Humanitarian intervention is much debated topic in war and peace in the fields of moral, law, politic, philosophy in the international world. Entering the third millennium, in the context of struggle for universal peace, Pope John Paul II teached the morality of humanitarian intervention in the document Message for the Celebration of the World Day of Peace: “Peace on Earth to Those Whom God Loves” of January 1, 2000. This simple article tries to discuss, for understanding further, three demanding moral criteria for humanitarian intervention in this document, i.e.: legitimate authority, right intention, and last resort.
MELAMPAUI KEBEBASAN: KONSEP KEBEBASAN THOMAS AQUINAS VS KEBEBASAN MODERN Simplesius Sandur
Jurnal Filsafat dan Teologi Katolik Vol. 5 No. 2 (2022): Jurnal Filsafat dan Teologi Katolik
Publisher : STIKAS Santo Yohanes Salib Kalimantan Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58919/juftek.v5i2.26

Abstract

Kebebasan manusia terungkap dalam suatu pilihan dan pilihan adalah elemen fundamental hidup manusia. Konsep kebebasan memiliki sejarah yang panjang. Hal itu telah ditafsir oleh para pemikir dalam sejarah filsafat dan agama. Para pemikir religius-filosofis tidak memiliki kesatuan pandangan tentang hal ini. Variasi penafasiran tentang kebebasan telah melahirkan cara pandang yang berbeda tentang kebebasan. Ada yang melihatnya sebagai hal yang tidak dapat dipisahkan dari intelek dan kehendak karena kebebasan mengalir dari kedua fakultas ini. Sementara yang lain melihatnya sebagai fakultas dari mana akal budi dan kehendak mengalir. Dalam hal ini kebebasan adalah suatu ekspresi yang paling esensial martabat manusia sehingga melahirkan suatu kebebasan mutlak. Variasi penafsiran ini membawa akibat pada cara pandang tentang hidup dan bagaimana hidup ini dijalankan. Pandangan tentang kebebasan melahirkan pertarungan yang tiada henti antara dua gerakan di dunia modern yaitu pro-life dan pro-choice. Artikel ini menghadirkan suatu penafsiran polemik mengenai kebebasan dari perspektif filsafat moral.
IMAMAT: PANGGILAN “ISTIMEWA” KEPADA KEKUDUSAN Tantani Binti Longkiad
Jurnal Filsafat dan Teologi Katolik Vol. 5 No. 2 (2022): Jurnal Filsafat dan Teologi Katolik
Publisher : STIKAS Santo Yohanes Salib Kalimantan Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58919/juftek.v5i2.27

Abstract

Panggilan sebagai imam merupakan panggilan yang sangat istimewa. Panggilan imamat merupakan anugerah ilahi khusus di dalam rencana kasih dan penyelamatan Allah bagi seluruh umat manusia. Mereka dipanggil untuk tujuan yang luhur dan mulia; untuk menjadi teladan serta harapan dalam menjawab kebutuhan rohani kawanan domba-Nya melalui tugas pelayanan mereka sebagai ‘alter Christus’. Rahmat tahbisan yang diterima oleh para imam membuat mereka menjadi gambar Kristus sendiri, Sang Imam Agung. Sebagai imam mereka mengambil bagian dalam tridharma pokok Kristus, yaitu: “Mewartakan Sabda (nabi/guru), menguduskan umat Allah (imam), dan menggembalakan umat Allah (raja). Namun, karena kelemahan dan dosa, tidak sedikit imam yang telah terseret dalam arus dunia ini dan cenderung menjauhkan diri dari Allah sehingga merusak gambar Kristus dalam diri para imam. Berhadapan dengan tantangan para imam mencapai kekudusan sebagai ‘alter Christus’, penulis tertarik menulis paper ini untuk mencoba mengerti spiritualitas imamat dan mencari sarana terbaik dalam upaya mencapai kekudusan bagi para imam (calon imam).
JESUS’ UNIVERSAL TEACHING OF PURITY IN MARK 7:1-15 Ferry Hartono
Jurnal Filsafat dan Teologi Katolik Vol. 3 No. 2 (2020): Jurnal Filsafat dan Teologi Katolik
Publisher : STIKAS Santo Yohanes Salib Kalimantan Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58919/juftek.v3i2.28

Abstract

Masalah makanan haram dan halal merupakan perkara besar dalam Kitab Suci, baik dalam Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru. Tokoh-tokoh dalam Kitab Makabe seperti Eleazar serta seorang ibu dengan anak-anaknya lebih rela mati daripada harus makan makanan haram. Meskipun secara mengejutkan tidak banyak dibahas dalam Perjanjian Baru, tema haram dan halal ini pun disinggung dalam situasi yang serius dan dengan pernyataan- pernyataan yang mutlak, baik dari Yesus sendiri maupun dari para rasul. Injil Markus secara spesifik juga membahas soal ini dalam pasal 7. Pembahasan Markus ini, selain mencatat salah satu pernyataan doktriner Yesus yang paling mutlak, menyumbangkan pula alasan-alasan teologis dan praktis yang matang. Haram dan halal menurut Yesus dalam Injil Markus dikembalikan kepada maksud dan tujuannya yang hakiki, yang tidak pernah hanya soal fisik, melainkan memiliki nilai teologis yang intrinsik. Kutipan dari Kitab Yesaya dalam perikop ini menjadi kunci utama untuk memahami dimensi teologis yang mendasari ajaran Yesus mengenai haram dan halal. Rupanya nilai terhakiki dari dimensi teologis ajaran Yesus tentang kemurnian itu terletak pada universalitasnya. Untuk pembahasan kali ini, saya tetap memilih metode analisis naratif dengan fokus pada analisis karakter berdasarkan interaksi mereka dalam percakapan.
THE MORALITY OF HUMANITARIAN INTERVENTION ACCORDING TO FRANCISCO DE VITORIA’S JUST WAR Irwan Irwan
Jurnal Filsafat dan Teologi Katolik Vol. 3 No. 2 (2020): Jurnal Filsafat dan Teologi Katolik
Publisher : STIKAS Santo Yohanes Salib Kalimantan Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58919/juftek.v3i2.29

Abstract

Salah satu kontroversi yang dominan pada dekade terakhir abad ke-20 ialah pertanyaan: “Apa yang harus dilakukan ketika sebuah negara tidak mau atau tidak dapat menghentikan pelanggaran HAM secara masif dan sistematis (misalnya: genosida) dalam wilayahnya?” Ada konsensus umum tentang pentingnya melaksanakan intervensi kemanusiaan untuk menghentikan pembantaian ini. Bagaimana moralitas intervensi kemanusiaan? Artikel ini mencoba mencari moralitas intervensi kemanusiaan menurut teori just war dari Francisco de Vitoria. Metode yang digunakan dalam artikel ini adalah studi pustaka. Berdasarkan teorinya, intervensi kemanusiaan adalah benar secara moral.
THE MYSTERY OF CROSS AND SUFFERING IN THE THOUGHT OF EDITH STEIN Shelomita Selamat
Jurnal Filsafat dan Teologi Katolik Vol. 3 No. 2 (2020): Jurnal Filsafat dan Teologi Katolik
Publisher : STIKAS Santo Yohanes Salib Kalimantan Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58919/juftek.v3i2.30

Abstract

Edith Stein melihat salib Kristus sebagai sebuah pengorbanan cinta Tuhan kepada manusia. Salib Kristus adalah satu-satunya kekuatan dan harapan bagi umat manusia. Edith Stein percaya bahwa benih salib berkembang dalam diri para pengikut Kristus. Oleh karena itu, adalah suatu keharusan bagi para pengikut Kristus untuk memanggul salib dan menghidupinya dalam hidup keseharian. Salib dan penderitaan yang dipenuhi dengan cinta Allah yang mendalam memiliki makna besar bagi umat manusia. Melalui salib dan penderitaan, Allah memurnikan manusia untuk berkembang ke arah kesempurnaan. Melalui salib dan penderitaan, manusia juga turut berpartisipasi dalam penderitaan Kristus. Salib dan penderitaan yang disatukan dengan penderitaan Kristus memiliki nilai penebusan. Pada akhirnya, salib dan penderitaan yang sungguh-sungguh diimani akan membawa manusia pada sukacita kebangkitan.