cover
Contact Name
Ida Sofiyanti
Contact Email
ekonurhermansyah@unw.ac.id
Phone
+6287747996725
Journal Mail Official
library@unw.ac.id
Editorial Address
Jl. Diponegoro no 186 Gedanganak, Ungaran Timur, Kabupaten Semarang
Location
Kab. semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Prosiding Seminar Nasional dan Call For Paper Kebidanan Universitas Ngudi Waluyo
ISSN : 29617340     EISSN : 29622913     DOI : -
Core Subject : Health,
Prosiding Seminar Nasional dan Call for Paper Kebidanan Universitas Ngudi Waluyo merupakan jurnal prosiding open access, diterbitkan oleh Program Studi Kebidanan Program Sarjana dan Prodi Pendidikan Profesi Bidan Program Profesi Fakultas Kesehatan, Universitas Ngudi Waluyo, dimana terdiri dari hasil penelitian pada bidang Kebidanan. semua artikel yang akan diterbitkan melalui proses editor yang direview oleh dua reviewer secara double-blind review process. Dewan redaksi menerima artikel : (1) Theoretical articles; (2) Empirical studies; (3) Case studies; (4) Literature Review .
Articles 909 Documents
Asuhan Kebidanan Komprehensif pada Ny. PSB G1P0A0 dengan Ketuban Pecah Dini di RSU Banyumanik 2 Semarang Zulika Lukita Sari; Ninik Christiani
Prosiding Seminar Nasional dan CFP Kebidanan Universitas Ngudi Waluyo Vol. 4 No. 2 (2025): Prosiding Seminar Nasional dan Call for Paper Kebidanan Universitas Ngudi Waluy
Publisher : Universitas Ngudi Waluyo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Continuity of Care (CoC) in midwifery is a continuous and integrated health service, particularly in midwifery care, which ensures patients receive comprehensive and integrated care from early pregnancy, childbirth, postpartum, newborn care, and family planning programs. Providing continuous midwifery care (CoC) aims to build a trusting relationship between patients and healthcare professionals, allowing optimal monitoring of patients' conditions, early detection of problems and complications, improving well-being, and reducing maternal and infant mortality rates. This study used a case study method with a midwifery management approach and documented the care in the form of SOAP (Subjective, Objective, Analysis, Management). Data were collected through interviews, physical examinations, and observations in monitoring the development of the condition of the mother and baby. This study began from May 16, 2025 to November 19, 2025. Midwifery care provided to Mrs. PSB from pregnancy, childbirth, postpartum, neonate to family planning with a frequency of 10 pregnancy visits, 4 postpartum visits, and 3 neonatal visits. In the second trimester of pregnancy there were no complaints during ANC visits, while during the third trimester ANC visits complained of back pain. To address these complaints, acupressure therapy was administered. During labor, Mrs. PSB experienced premature rupture of membranes, uterine inertia, and labor pain, so she was given antibiotics, uterotonics, and complementary therapies (acupressure and counter pressure). After 7 hours of in-partum observation, the baby was born vaginally. The postpartum period was normal, there was no bleeding, uterine contractions were good, vaginal discharge was within normal limits, there was a second-degree perineal tear, and breast milk was released. The newborn's anthropometric examination results were within normal limits. Mrs. PSB decided to use condoms and the lactational amenorrhea method as contraception. Abstrak Continuity of Care (CoC) dalam kebidanan adalah pelayanan kesehatan yang berkelanjutan dan terintegrasi, terutama dalam asuhan kebidanan, yang memastikan pasien menerima perawatan yang komprehensif dan terpadu mulai dari awal kehamilan, persalinan, nifas, perawatan bayi baru lahir, hingga program keluarga berencana. Pemberian asuhan kebidanan yang berkelanjutan (CoC) bertujuan untuk membangun hubungan yang terpercaya antara pasien dan tenaga kesehatan, sehingga dapat memantau kondisi pasien secara optimal, mendeteksi masalah dan komplikasi sedini mungkin, meningkatkan kesejahteraan dan menurunkan angka kematian ibu dan bayi. Penelitian ini menggunakan metode studi kasus dengan pendekatan manajemen kebidanan dan mendokumentasikan asuhan tersebut dalam bentuk SOAP (Subjektif, Objektif, Analisis, Penatalaksanaan). Data dikumpulkan melalui wawancara, pemeriksaan fisik, dan observasi dalam memantau perkembangan kondisi ibu dan bayi. Penelitian ini dimulai sejak 16 Mei 2025 sampai dengan 19 November 2025. Asuhan kebidanan yang diberikan pada Ny. PSB sejak dari masa kehamilan, persalinan, nifas, neonatus sampai dengan KB dengan frekuensi kunjungan hamil sebanyak 10 kali, nifas 4 kali, dan neonatus 3 kali. Pada kehamilan trimester II tidak ada keluhan saat kunjungan ANC, sedangkan pada kunjungan ANC trimester III mengeluh nyeri punggung. Untuk menangani keluhan tersebut, maka diberikan terapi akupresur. Pada proses persalinan Ny. PSB mengalami ketuban pecah dini, inersia uteri, dan nyeri persalinan sehingga diberikan antibiotik, uterotonika dan terapi komplementer (akupresur dan counter pressure). Setelah dilakukan observasi inpartu selama 7 jam, bayi lahir pervaginam. Masa nifas berlangsung normal tidak ada pendarahan, kontraksi uterus baik, pengeluaran pervaginam dalam batas normal, robekan perineum derajat 2 dan ASI sudah keluar. Pada bayi baru lahir, hasil pemeriksaan antropometri dalam batas normal. Ny. PSB memutuskan menggunakan kontrasepsi kondom dan metode amenore laktasi.
Studi Kasus: Penatalaksanaan Sumbatan Asi dengan Terapi Non-Farmakologi Emi Rafita Sari; Ida Sofiyanti
Prosiding Seminar Nasional dan CFP Kebidanan Universitas Ngudi Waluyo Vol. 5 No. 1 (2026): Prosiding Seminar Nasional dan Call for Paper Kebidanan Universitas Ngudi Waluy
Publisher : Universitas Ngudi Waluyo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Breast milk blockage is a common problem experienced by breastfeeding mothers due to inadequate milk removal, causing breast pain, swelling, and hardness. This condition can interfere with breastfeeding and reduce maternal comfort during the postpartum period. One non-pharmacological management that can be used is a combination of breastcare, warm compresses, and cold cabbage leaf compresses. This study aimed to determine the effect of these interventions on reducing breast milk blockage in breastfeeding mothers. This study used a case study method on Mrs. M, 41 years old, P3A0, in Kalirejo Village, Semarang Regency. Data were collected through interviews, physical examination, and documentation. Interventions were carried out for 15 days, including breastcare, warm compresses twice daily, and cold cabbage leaf compresses three times daily. The results showed improvement after the intervention, including smoother breast milk flow, softer breasts, reduced pain, and decreased swelling. However, the improvement was not optimal because the mother did not perform the therapy consistently. In conclusion, the combination of breastcare, warm compresses, and cold cabbage leaf compresses can help reduce breast milk blockage in breastfeeding mothers, although the effectiveness depends  on the mother’s consistency in performing the therapy.   Abstrak Sumbatan ASI merupakan masalah yang sering dialami ibu menyusui akibat pengeluaran ASI yang tidak optimal sehingga menyebabkan payudara terasa nyeri, bengkak, dan keras. Kondisi ini dapat mengganggu proses menyusui dan menurunkan kenyamanan ibu postpartum. Salah satu penatalaksanaan nonfarmakologi yang dapat dilakukan adalah kombinasi breastcare, kompres hangat, dan kompres daun kubis dingin. Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh kombinasi terapi tersebut terhadap penurunan sumbatan ASI pada ibu menyusui. Metode penelitian yang digunakan adalah studi kasus pada Ny. M usia 41 tahun P3A0 di Kelurahan Kalirejo, Kabupaten Semarang. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara, pemeriksaan fisik, dan dokumentasi. Intervensi dilakukan selama 15 hari berupa breastcare, kompres hangat dua kali sehari, dan kompres daun kubis dingin tiga kali sehari. Hasil penelitian menunjukkan adanya perbaikan kondisi setelah intervensi, yaitu ASI mulai lancar, payudara terasa lebih lunak, nyeri berkurang, dan pembengkakan menurun. Namun, perubahan yang terjadi belum optimal karena ibu kurang konsisten dalam melakukan terapi. Simpulan penelitian menunjukkan bahwa kombinasi breastcare, kompres hangat, dan kompres daun kubis dingin dapat membantu mengurangi sumbatan ASI pada ibu menyusui, meskipun keberhasilannya dipengaruhi oleh konsistensi ibu dalam melakukan terapi.
Asuhan Kebidanan pada Persalinan dengan Prolonged Active Phase Disertai Fetal Distress dan Mekonium: Studi Kasus Desi Rinda Sari; Vistra Veftisia
Prosiding Seminar Nasional dan CFP Kebidanan Universitas Ngudi Waluyo Vol. 5 No. 1 (2026): Prosiding Seminar Nasional dan Call for Paper Kebidanan Universitas Ngudi Waluy
Publisher : Universitas Ngudi Waluyo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Complicated labor involving prolonged active phase, meconium-stained amniotic fluid, and fetal distress is a leading cause of maternal and perinatal morbidity and mortality. This descriptive case study aimed to describe midwifery care for a primigravida with the above complications using the SOAP documentation approach. The subject was Mrs. D, aged 27 years, G1P0A0, at 41 weeks 2 days gestation, managed at RS Pratama Tanjung Keramat and RSUD dr. H. Jusuf SK on January 15, 2026. Serial intrapartum monitoring revealed progressive deterioration: fetal heart rate rose to 172 bpm (tachycardia), membranes ruptured with meconium-stained fluid, and cervical dilation stagnated at 1 cm over 6 hours (0.17 cm/hour), confirming prolonged active phase with fetal distress. Initial stabilization (left lateral positioning, oxygen 6–8 L/minute, IV RL infusion) was followed by emergency referral and emergency Cesarean section performed by an obstetrician. A male infant weighing 3,600 g was delivered and stabilized through neonatal resuscitation. Early detection, strict partograph monitoring, and timely referral were critical in preventing neonatal asphyxia and meconium aspiration syndrome in this case.   Abstrak Persalinan dengan penyulit berupa fase aktif memanjang, air ketuban bercampur mekonium, dan fetal distress merupakan penyebab utama morbiditas dan mortalitas ibu serta perinatal. Studi kasus deskriptif ini bertujuan mendeskripsikan asuhan kebidanan pada primigravida dengan komplikasi tersebut menggunakan pendekatan SOAP. Subjek adalah Ny. D usia 27 tahun G1P0A0, hamil 41 minggu 2 hari, dikelola di RS Pratama Tanjung Keramat dan RSUD dr. H. Jusuf SK pada 15 Januari 2026. Pemantauan intrapartum berkala menunjukkan perburukan progresif: DJJ meningkat hingga 172 x/menit (takikardia janin), ketuban pecah bercampur mekonium, dan stagnasi pembukaan serviks 1 cm dalam 6 jam (0,17 cm/jam), mengonfirmasi diagnosis prolonged active phase disertai fetal distress. Stabilisasi awal (posisi miring kiri, oksigen 6–8 L/menit, infus RL) dilanjutkan dengan rujukan emergensi dan tindakan Sectio Caesarea. Bayi laki-laki lahir dengan berat 3.600 gram dan berhasil distabilkan melalui resusitasi neonatus. Deteksi dini, pemantauan partograf yang ketat, dan rujukan tepat waktu terbukti kritis dalam mencegah asfiksia neonatorum dan sindrom aspirasi mekonium pada kasus ini.
Asuhan Kebidanan Continuity of Care pada Ny. Q G4P3A0 Usia 38 Tahun di Wilayah Kerja Puskesmas Jumo Djandjang Purwatiningsih; Ari Widyaningsih
Prosiding Seminar Nasional dan CFP Kebidanan Universitas Ngudi Waluyo Vol. 5 No. 1 (2026): Prosiding Seminar Nasional dan Call for Paper Kebidanan Universitas Ngudi Waluy
Publisher : Universitas Ngudi Waluyo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Continuity of care in midwifery is a comprehensive and continuous maternity service provided from pregnancy, childbirth, postpartum, newborn care, to family planning services. In Indonesia, the maternal mortality rate (MMR) remains relatively high compared to the targets established in the Sustainable Development Goals (SDGs). One of the important factors contributing to the high MMR is high-risk pregnancy. The purpose of continuity of care in midwifery services is to optimally monitor the condition of both mother and baby and to detect possible complications at an early stage. The implementation of care was carried out in the working area of Jumo Public Health Center through home visits and counseling according to the mother’s needs Midwifery care for Mrs. “Q” was provided comprehensively from pregnancy until contraceptive use, with a total of 2 antenatal visits, 1 delivery care visit, 4 postpartum visits, 3 neonatal visits, and 1 family planning visit. During pregnancy, the mother’s condition was physiological but categorized as high-risk due to maternal age of over 35 years. The delivery process occurred normally and was managed according to the standards of Normal Delivery Care (APN). The postpartum period and the condition of the newborn progressed well without complications. In family planning services, the mother received counseling and chose the implant contraceptive method. Overall, the implementation of continuity of care for Mrs. “Q” showed positive results, with both mother and baby remaining in normal condition. Midwives are expected to continue implementing continuity of care according to service standards and to improve their competencies in providing quality midwifery care.   Abstrak Asuhan kebidanan berkesinambungan (continuity of care) merupakan pelayanan kebidanan yang diberikan secara menyeluruh dan berkelanjutan mulai dari masa kehamilan, persalinan, nifas, bayi baru lahir hingga pelayanan keluarga berencana. Di Indonesia AKI masih tergolong tinggi dibandingkan dengan target yang ditetapkan dalam Sustainable Development Goals (SDGs). Salah satu faktor penting yang berkontribusi terhadap tingginya AKI adalah kehamilan risiko tinggi. Tujuan dari pelayanan Asuhan kebidanan berkesinambungan (continuity of care)  adalah untuk memantau kondisi ibu dan bayi secara optimal serta mendeteksi secara dini kemungkinan terjadinya komplikasi Pelaksanaan asuhan dilakukan di wilayah kerja Puskesmas Jumo melalui kunjungan rumah dan pemberian konseling sesuai kebutuhan ibu. Asuhan kebidanan pada Ny. “Q” diberikan secara komprehensif sejak masa kehamilan hingga penggunaan kontrasepsi, dengan frekuensi kunjungan kehamilan sebanyak 2  kali, persalinan 1 kali, nifas 4 kali, neonatus 3 kali, serta pelayanan keluarga berencana sebanyak 1 kali. Selama kehamilan, kondisi ibu tergolong fisiologis dengan Resiko Tinggi yaitu usia ibu >35 tahun. Proses persalinan berlangsung normal dan ditangani sesuai standar Asuhan Persalinan Normal (APN). Masa nifas dan kondisi bayi baru lahir berjalan dengan baik tanpa penyulit. Pada pelayanan keluarga berencana, ibu telah mendapatkan konseling dan memilih menggunakan metode kontrasepsi implan. Secara keseluruhan, penerapan asuhan kebidanan berkesinambungan pada Ny. “Q” menunjukkan hasil yang baik dengan kondisi ibu dan bayi dalam batas normal. Diharapkan bidan dapat terus menerapkan continuity of care sesuai standar pelayanan serta meningkatkan kompetensi dalam memberikan asuhan kebidanan yang berkualitas.
Study Kasus Penerapan Pijat Counterpressure dan Pijat Oksitosin di RSUD Tanjung Selor Devitasari Yulistian; Yulia Nur Khayati
Prosiding Seminar Nasional dan CFP Kebidanan Universitas Ngudi Waluyo Vol. 5 No. 1 (2026): Prosiding Seminar Nasional dan Call for Paper Kebidanan Universitas Ngudi Waluy
Publisher : Universitas Ngudi Waluyo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Maternal Mortality Rate (MMR) and Infant Mortality Rate (IMR) remain health issues that require special attention. One effort to reduce MMR and IMR is through comprehensive and continuous midwifery services (Continuity Of Care/COC) from pregnancy, childbirth, postpartum, newborn care, and family planning (KB). These services aim to detect potential complications early and improve the quality of maternal and infant health (Tyastuti & Wahyuningsih, 2016). In North Kalimantan Province, based on previous data from the Central Statistics Agency, the IMR is at 16.65 per 1,000 live births. In 2025, this figure is expected to decline along with improvements in maternal and child health services, although definitive data is still being reported (BPS North Kalimantan, 2024). Maternal age ≥35 years is included in the high-risk pregnancy category, which can increase the likelihood of complications during pregnancy and childbirth (Prawirohardjo, 2018). In addition to basic midwifery care, the application of complementary therapies such as counterpressure during labor and oxytocin massage during the postpartum period can help reduce maternal discomfort and support a smooth delivery and breastfeeding process. The purpose of this case study is to implement comprehensive midwifery care for Mrs. J, 40 years old, G4P3A0, at Tanjung Selor Regional Hospital, starting from pregnancy, delivery, postpartum, newborn care, to family planning services. This study used a case study method with a Continuity Of Care (COC) approach. The subject of the study was Mrs. J, 40 years old, G4P3A0, who was followed from 29 weeks and 4 days of gestation until the period of contraceptive use. Data collection techniques were carried out through interviews, observations, physical examinations, documentation studies, and recording using the SOAP method (Marta, 2016). Although the patient was considered a high-risk pregnancy, the results of care showed that the condition of the mother and fetus was good throughout the pregnancy without complications. During the delivery process, complementary counterpressure therapy was given to help reduce labor pain. Delivery occurred naturally by vaginal delivery at 38 weeks and 4 days of gestation, resulting in a healthy, spontaneously delivered, male baby, weighing 3,100 grams and measuring 49 cm long. Oxytocin massage was performed during the postpartum period to help increase breast milk production and release. The postpartum period was physiological without complications, with normal uterine involution and smooth breast milk production. Family planning counseling was conducted on the 31st day postpartum, and the mother chose to use a 3-monthly contraceptive injection. It can be concluded that the implementation of Continuity of Care midwifery care combined with complementary counterpressure therapy and oxytocin massage was carried out comprehensively, resulting in healthy mother and baby, and no complications were found during the care process.   Abstrak Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB) masih menjadi masalah kesehatan yang memerlukan perhatian khusus. Salah satu upaya yang dilakukan untuk menurunkan AKI dan AKB adalah melalui pelayanan kebidanan secara komprehensif dan berkesinambungan (Continuity of Care/COC) mulai dari masa kehamilan, persalinan, nifas, bayi baru lahir hingga keluarga berencana (KB). Pelayanan ini bertujuan untuk mendeteksi secara dini komplikasi yang mungkin terjadi serta meningkatkan kualitas kesehatan ibu dan bayi (Tyastuti dan Wahyuningsih 2016).  Di Provinsi Kalimantan Utara, berdasarkan data sebelumnya dari Badan Pusat Statistik, AKB berada pada angka 16,65 per 1.000 kelahiran hidup. Pada tahun 2025, angka ini diperkirakan mengalami penurunan seiring dengan peningkatan pelayanan kesehatan ibu dan anak, meskipun data pasti masih dalam proses pelaporan (BPS Provinsi Kalimantan Utara 2023). Usia ibu ≥35 tahun termasuk dalam kategori kehamilan risiko tinggi yang dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya komplikasi selama kehamilan dan persalinan (Prawirohardjo 2018).  Selain asuhan kebidanan dasar, penerapan terapi komplementer seperti counterpressure saat persalinan dan pijat oksitosin pada masa nifas dapat membantu mengurangi ketidaknyamanan ibu serta mendukung kelancaran proses persalinan dan menyusui. Tujuan studi kasus ini adalah melaksanakan asuhan kebidanan secara komprehensif pada Ny. J usia 40 tahun G4P3A0 di RSUD Tanjung Selor mulai dari masa kehamilan, persalinan, nifas, bayi baru lahir, hingga pelayanan keluarga berencana. Penelitian ini menggunakan metode studi kasus (case study) dengan pendekatan Continuity Of Care (COC). Subjek penelitian adalah Ny. J usia 40 tahun G4P3A0 yang diikuti sejak usia kehamilan 29 minggu 4 hari hingga masa penggunaan kontrasepsi. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui wawancara, observasi, pemeriksaan fisik, studi dokumentasi, dan pencatatan menggunakan metode SOAP  (Kemenkes RI 2017).  Walaupun pasien termasuk dalam usia hamil resiko tinggi, hasil asuhan menunjukkan bahwa selama masa kehamilan kondisi ibu dan janin dalam keadaan baik tanpa komplikasi. Pada proses persalinan diberikan terapi komplementer counterpressure untuk membantu mengurangi nyeri persalinan. Persalinan berlangsung secara normal pervaginam pada usia kehamilan 38 minggu 4 hari dan bayi lahir spontan berjenis kelamin laki-laki dengan kondisi baik, berat badan lahir 3100 gram dan panjang badan 49 cm tanpa ditemukan kelainan. Pada masa nifas dilakukan pijat oksitosin untuk membantu meningkatkan produksi dan pengeluaran ASI. Masa nifas berlangsung fisiologis tanpa komplikasi, involusi uterus berjalan normal dan produksi ASI lancar. Pada hari ke-31 postpartum dilakukan konseling keluarga berencana dan ibu memilih menggunakan KB suntik 3 bulan. Dapat disimpulkan bahwa penerapan asuhan kebidanan Continuity Of Care yang dikombinasikan dengan terapi komplementer counterpressure dan pijat oksitosin dapat terlaksana secara komprehensif dengan hasil ibu dan bayi dalam keadaan sehat serta tidak ditemukan komplikasi selama proses asuhan.
Asuhan Kebidanan Continuity of Care (CoC) pada Ny. D di Puskesmas Petungkriyono Kabupaten Pekalongan Mahera Ektafia; Hapsari Windayanti
Prosiding Seminar Nasional dan CFP Kebidanan Universitas Ngudi Waluyo Vol. 5 No. 1 (2026): Prosiding Seminar Nasional dan Call for Paper Kebidanan Universitas Ngudi Waluy
Publisher : Universitas Ngudi Waluyo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Comprehensive midwifery care is a comprehensive midwifery management care starting from pregnant women, childbirth, to newborns so that labor can take place safely and the baby born is safe and healthy until the postpartum period. Pregnancy, childbirth, postpartum and newborns are physiological conditions but in the process there is a possibility of a condition that can threaten the life of the mother and baby and can even cause death. Continuity of Care (COC) Midwifery Care is continuous midwifery care provided to mothers and babies starting during pregnancy, childbirth, newborns, postpartum and family planning, with the existence of COC care, the development of the mother's condition at all times will be monitored well, in addition, continuous care carried out by midwives can make mothers more trusting and open because they already know the care provider, COC midwifery care is one of the efforts to reduce the Maternal Mortality Rate (MMR) and Infant Mortality Rate The purpose of this study is to be able to provide Continuity of Care (CoC) Midwifery Care to Mrs. D aged 26 years at the Petungkriyono Health Center. The type of descriptive research used is a case study. The research instrument uses a descriptive approach method and is documented in the form of SOAP. In this care, the author collected data through interviews, observations, physical examinations, supporting examinations, documentation studies and bibliography studies. This research was conducted in January - May 2026. From the results of the provision of pregnancy care, there were no abnormal complaints. During the mother's delivery process at the Petungkriyono Health Center, Pekalongan Regency, delivery assistance was carried out through normal vaginal delivery and the baby was born spontaneously. During the assessment, no complications were found in Mrs. D's baby. In newborn care, everything was found to be within normal limits, By Mrs. D was given HB0 immunization, vitamin K, eye ointment and SHK. While in family planning care Mrs. D used injectable birth control. It is expected that health workers can carry out comprehensive midwifery care with correct procedures and according to client needs, as well as apply complementary care as non-pharmacological therapy in midwifery care.   Abstrak Asuhan kebidanan komprehensif merupakan asuhan menyeluruh manajemen kebidanan mulai dari ibu hamil, bersalin, sampai bayi baru lahir sehingga persalinan dapat berlangsung aman dan bayi yang dilahirkan selamat dan sehat sampai masa nifas. Kehamilan, persalinan, nifas dan bayi baru lahir merupakan suatu keadaan yang fisiologis namun dalam prosesnya terdapat kemungkinan suatu keadaan yang dapat mengancam jiwa ibu dan bayi bahkan dapat menyebabkan kematian. Asuhan Kebidanan Continuity of Care (COC) merupakan asuhan kebidanan berkesinambungan yang diberikan kepada ibu dan bayi dimulai pada saat kehamilan, persalinan, bayi baru lahir, nifas dan keluarga berencana, dengan adanya asuhan COC maka perkembangan kondisi ibu setiap saat akan terpantau dengan baik, selain itu asuhan berkelanjutan yang dilakukan bidan dapat membuat ibu lebih percaya dan terbuka karena sudah mengenal pemberi asuhan, asuhan kebidanan secara COC adalah salah satu upaya untuk menurunkan Angka kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi Tujuan penelitian ini mampu memberikan Asuhan Kebidanan Continuity Of Care (CoC) Pada Ny. D umur 26 Tahun di Puskesmas Petungkriyono. Jenis penelitian deskriptif yang digunakan adalah studi kasus (case study), Instrumen penelitian menggunakan metode pendekatan yang bersifat deskriptif dan didokumentasikan dalam bentuk SOAP. Dalam asuhan ini, penulis mengumpulkan data melalui wawancara, observasi, pemeriksaan fisik, pemeriksaan penunjang, studi dokumentasi dan studi daftar pustaka. Penelitian ini dilakukan pada bulan Januari - Mei 2026. Dari hasil pemberian asuhan kehamilan tidak terdapat keluhan yang bersifat abnormal. Pada proses persalinan ibu di Puskesmas Petungkriyono Kabupaten Pekalongan, dilakukan pertolongan persalinan secara persalinan normal pervaginam bayi lahir spontan. Selama pengkajian tidak ditemukan komplikasi-komplikasi yang ada pada bayi Ny.D. Pada asuhan bayi baru lahir didapatkan semua dalam batas normal, By Ny D diberikan imunisasi HB0, vitamin K, salep mata dan SHK. Sedangkan pada asuhan KB Ny. D menggunakan KB suntik. Diharapkan tenaga kesehatan dapat melakukan asuhan kebidanan secara komprehensif dengan prosedur yang benar dan sesuai dengan kebutuhan klien, serta menerapkan asuhan komplementer sebagai terapi nonfarmakologi dalam asuhan kebidanan.
Pendidikan Kesehatan Tentang Kesehatan Reproduksi Remaja Fransisca Desti Kurniasih; Galih Ayu Tias Respati; Yulia Nur Khayati
Prosiding Seminar Nasional dan CFP Kebidanan Universitas Ngudi Waluyo Vol. 5 No. 1 (2026): Prosiding Seminar Nasional dan Call for Paper Kebidanan Universitas Ngudi Waluy
Publisher : Universitas Ngudi Waluyo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Adolescence is a period of rapid growth and development. Generally, adolescents who experience menarche between the ages of 12 and 16 have a normal menstrual cycle every 22-35 days, lasting 2-7 days. Discomfort before and during menstruation occurs in almost all women, including pain in the lower back and abdomen, radiating to the upper legs. Dysmenorrhea, also known as abdominal pain originating from uterine cramps and occurring during menstruation, disrupts daily activities, and is most often found in young and reproductive women. Treatment for dysmenorrhea includes pharmacological (drug) and non-pharmacological (complementary) approaches. The latest complementary theory suggests that several meridian points in the body can reduce menstrual pain. These include: Li4 (Hegu), PC6 (Neiguan), SP6, and LR3 (Taichong). Community service activities for teenagers at the Sehat Ceria Posyandu were carried out on May 15, 2026, at 4:00 PM WIB in the multipurpose building belonging to RW 11, Pudak Payung sub-district, Semarang city, involving 8 teenagers. The implementation method included a pre-test, material presentation, demonstration, discussion, direct practice, and post-test. The media used were power points and leaflets. The pre-test results showed that the level of knowledge of teenagers was in the sufficient category (63.02%). After the material presentation, discussion, and demonstration, the post-test results of adolescent knowledge increased significantly, namely in the good category (95.31%). Counseling and training on complementary techniques for reducing menstrual pain effectively increased adolescent knowledge about complementary techniques for reducing menstrual pain. It is recommended that similar training be carried out regularly during adolescent Posyandu or youth meetings and supported by mentoring from cadres and the local Health Office.   Abstrak Masa remaja merupakan periode terjadinya pertumbuhan dan perkembangan yang pesat. Umumnya, remaja yang mengalami menarche pada usia 12 tahun sampai dengan 16 tahun, siklus menstruasi normal terjadi setiap 22-35 hari, lamanya selama 2-7 hari. Ketidaknyamanan sebelum dan selama menstruasi hampir terjadi oleh semua wanita yaitu nyeri pada punggung bawah, perut dan menjalar hingga ke bagian atas tungkai, sehingga istilah dismenore adalah nyeri perut yang berasal dari kram rahim dan terjadi selama menstruasi yang menggangu aktifitas sehari-hari yang paling sering ditemui pada wanita muda dan reproduktif. Pengobatan dismenorhea dengan non farmakologi bertujuan untuk mengurangi intensitas nyeri haid, memperbaiki kualitas hidup, serta meminimalkan efek samping obat dengan cara aman dan alami. Dalam teori komplementer terbaru, terdapat beberapa titik meridian di dalam tubuh kita yang dapat mengurangi intensitas nyeri saat haid, diantara gerakannya, yakni: titik Li4 (Hegu), Titik PC6  (Neiguan), Titik SP6, Titik LR3 (Taichong). Kegiatan pengabdian masyarakat untuk remaja posyandu Sehat Ceria dilakukan pada tanggal 15 Mei 2026 jam 16.00 WIB di Gedung serbaguna milik RW 11 kelurahan pudak payung kota Semarang, melibatkan 8 remaja. Metode pelaksanaan meliputi pre-test, pemaparan materi, demonstrasi, diskusi, praktik langsung dan post-test. Media yang digunakan berupa power point dan leaflet dengan instrument lembar observasi pre test dan post test untuk menilai perbandingan pada remaja. Hasil pre-test menunjukkan  tingkat pengetahuan remaja berada di kategori cukup (63,02%). Setelah pemaparan materi, diskusi dan demonstrasi, hasil post-test pengetahuan remaja meningkat signifikan yaitu di kategori baik (95,31%). Penyuluhan dan pelatihan tentang komplementer teknik mengurangi nyeri haid efektif meningkatkan pengetahuan remaja tentang komplementer teknik mengurangi nyeri haid. Disarankan agar pelatihan serupa dilakukan rutin saat ada posyandu remaja atau pertemuan karang taruna dan didukung pendampingan kader serta Dinas Kesehatan setempat.
Akupresur dalam Menangani Mual dan Muntah pada Ibu Hamil Trimester I di Puskesmas Kecamatan Vera Cruz Timor Leste Rosalinah; Rachel Nurwidi Annisa; Olimpia M.de Araujo; Palmira de Jesus Gomes; Emilia dos Santos; Luciana Aparicio Soares; Agusriani; Ari Widyaningsih
Prosiding Seminar Nasional dan CFP Kebidanan Universitas Ngudi Waluyo Vol. 5 No. 1 (2026): Prosiding Seminar Nasional dan Call for Paper Kebidanan Universitas Ngudi Waluy
Publisher : Universitas Ngudi Waluyo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

First-trimester pregnancy is often characterized by nausea and vomiting (emesis gravidarum), which can significantly impair the quality of life of pregnant women. Although physiological, this condition can lead to dehydration, decreased appetite, and fatigue if not adequately managed. Acupressure at Pericardium 6 (P6/Nei Guan) point has been recognized as a safe and effective non-pharmacological intervention to alleviate these symptoms. This study aimed to evaluate the improvement in knowledge, understanding, and skills of first-trimester pregnant women at the Vera Cruz Community Health Center, Timor Leste, in managing nausea and vomiting through acupressure therapy. This community service method involved 20 first-trimester pregnant women experiencing nausea and vomiting, with interventions including education, demonstration, and direct practice of P6 acupressure. Data were collected using pretest-posttest questionnaires for knowledge and observation sheets for skills. The results showed a significant increase in the knowledge and skills levels of pregnant women after the intervention. The in-depth discussion elaborates on the mechanism of P6 acupressure, compares the findings with current scientific literature, and highlights the practical implications of applying acupressure in primary healthcare services. This study affirms the potential of acupressure as an accessible, safe, and effective modality for managing nausea and vomiting, as well as the importance of health education for empowering pregnant women.   Abstrak Kehamilan trimester pertama seringkali diwarnai dengan keluhan mual dan muntah (emesis gravidarum) yang dapat mengganggu kualitas hidup ibu hamil. Kondisi ini, meskipun fisiologis, berpotensi menyebabkan dehidrasi, penurunan nafsu makan, dan kelelahan jika tidak ditangani secara adekuat. Akupresur pada titik Pericardium 6 (P6/Nei Guan) telah dikenal sebagai intervensi nonfarmakologis yang aman dan efektif untuk meredakan gejala ini. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi peningkatan pengetahuan, pemahaman, dan keterampilan ibu hamil trimester I di Puskesmas Kecamatan Vera Cruz, Timor Leste, dalam mengelola mual dan muntah melalui terapi akupresur. Metode pengabdian masyarakat ini melibatkan 20 ibu hamil trimester I yang mengalami mual dan muntah, dengan intervensi berupa penyuluhan, demonstrasi, dan praktik langsung akupresur P6. Data dikumpulkan melalui kuesioner pretest-posttest untuk pengetahuan dan lembar observasi untuk keterampilan. Hasil menunjukkan peningkatan signifikan pada tingkat pengetahuan dan keterampilan ibu hamil setelah intervensi. Pembahasan mendalam menguraikan mekanisme akupresur P6, membandingkan temuan dengan literatur ilmiah terkini, serta menyoroti implikasi praktis dari penerapan akupresur dalam pelayanan kesehatan primer. Studi ini menegaskan potensi akupresur sebagai modalitas penanganan mual dan muntah yang mudah diakses, aman, dan efektif, serta pentingnya edukasi kesehatan untuk pemberdayaan ibu hamil.
Optimalisasi Kesehatan Masyarakat pada Ibu Hamil, Balita, Ibu Menyusui dan Remaja Putri di Rw 3 Kelurahan Genuk Kabupaten Semarang Emi Rafita Sari; Maria Jessyca Tasuib; Desi Viviana; Milya Rizki; Yuliance Kabak; Ida Sofiyanti
Prosiding Seminar Nasional dan CFP Kebidanan Universitas Ngudi Waluyo Vol. 5 No. 1 (2026): Prosiding Seminar Nasional dan Call for Paper Kebidanan Universitas Ngudi Waluy
Publisher : Universitas Ngudi Waluyo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Maternal and child health is an essential component of public health development. Various health problems are still encountered among pregnant women, toddlers, adolescents, and breastfeeding mothers, including nausea and vomiting and back pain during pregnancy, feeding difficulties among toddlers, anemia and menstrual pain among adolescents, and suboptimal breast milk production among breastfeeding mothers. This community midwifery program aimed to improve community knowledge and skills in maintaining health independently through promotive, preventive, educational, and community empowerment approaches in RW 03 Genuk Village, West Ungaran District, Semarang Regency. The methods included community assessment, identification and prioritization of health problems using the Urgency, Seriousness, and Growth (USG) method, planning, implementation, and evaluation. The target groups consisted of pregnant women, toddlers, adolescents, and breastfeeding mothers. Interventions included acupressure education and demonstrations for reducing pregnancy-related nausea and vomiting, prenatal yoga for relieving back pain, Tui Na massage to improve toddlers’ appetite, anemia education and acupressure for menstrual pain management among adolescents, and hypnobreastfeeding for breastfeeding mothers. The results showed an improvement in participants’ knowledge and skills regarding self-health management. High community participation indicated that the community midwifery approach was effective in improving health awareness and promoting positive health behaviors within the community.   Abstrak Kesehatan ibu dan anak merupakan salah satu aspek penting dalam pembangunan kesehatan masyarakat. Berbagai permasalahan kesehatan masih ditemukan pada kelompok ibu hamil, balita, remaja, dan ibu menyusui, seperti mual muntah dan nyeri punggung pada kehamilan, kesulitan makan pada balita, anemia dan nyeri haid pada remaja, serta kurang optimalnya produksi ASI pada ibu menyusui. Kegiatan kebidanan komunitas ini bertujuan meningkatkan pengetahuan dan keterampilan masyarakat dalam menjaga kesehatan secara mandiri melalui pendekatan promotif, preventif, edukatif, dan pemberdayaan masyarakat di RW 03 Kelurahan Genuk, Kecamatan Ungaran Barat, Kabupaten Semarang. Metode yang digunakan meliputi pengkajian komunitas, identifikasi dan penentuan prioritas masalah dengan metode Urgency, Seriousness, and Growth (USG), perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi kegiatan. Sasaran kegiatan terdiri atas ibu hamil, balita, remaja, dan ibu menyusui. Intervensi yang diberikan meliputi edukasi dan demonstrasi akupresur untuk mengurangi mual muntah pada ibu hamil, prenatal yoga untuk mengurangi nyeri punggung, pijat Tui Na untuk meningkatkan nafsu makan balita, pendidikan kesehatan anemia dan akupresur nyeri haid pada remaja, serta hypnobreastfeeding pada ibu menyusui. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan dan keterampilan peserta mengenai upaya pemeliharaan kesehatan. Tingginya partisipasi masyarakat menunjukkan bahwa pendekatan kebidanan komunitas efektif dalam meningkatkan kesadaran dan perilaku kesehatan masyarakat.
Efektivitas Pemberian Putih Telur dan Ikan Lele Terhadap Penyembuhan Jahitan Perineum pada Ibu Nifas Bekti Yuniyanti; Mundarti; Ari Kurniawati
Prosiding Seminar Nasional dan CFP Kebidanan Universitas Ngudi Waluyo Vol. 5 No. 1 (2026): Prosiding Seminar Nasional dan Call for Paper Kebidanan Universitas Ngudi Waluy
Publisher : Universitas Ngudi Waluyo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The Effect of Egg White and Catfish Consumption on Perineal Suture Healing in Postpartum Mothers. The postpartum period (puerperium) is a time of recovery following pregnancy and childbirth, during which complications such as uterine atony, retained placenta, and episiotomy or birth canal lacerations may occur. Nutritional factors—specifically protein, vitamins, and minerals—influence the healing of birth canal lacerations. Eggs and catfish are accessible protein sources that can be simply prepared using a blend of herbs and spices. The objective of this study was to determine the difference in effectiveness between the administration of egg white and catfish regarding the healing of perineal sutures in postpartum mothers. This study employed an experimental method with a two-group posttest-only design and was conducted at the Punggelan 2 Community Health Center (Puskesmas) in Banjarnegara Regency. The sample was selected using purposive sampling, consisting of 32 postpartum mothers with second-degree perineal sutures during February and March who had no history of diabetes mellitus or hypertension and consented to participate; 16 respondents were administered egg white and 16 were administered catfish from the first to the seventh day, with evaluations performed on the eighth day using the REEDA score. Data analysis was conducted using the Mann-Whitney test. The mean consumption was 2.56 for egg whites and 1.38 for catfish. The Mann-Whitney test results showed a p-value of 0.024 and an r-value of 0.398, with mean ranks of 20.16 for the egg white group and 12.84 for the catfish group. This indicates a significant difference in effectiveness between the two interventions regarding perineal suture healing, with catfish proving more effective for healing.   Abstrak Nifas (puerperium) merupakan masa pemulihan setelah melalui masa kehamilan dan persalinan, komplikasi yang terjadi selama masa nifas seperti atonia uteri, retensio plasenta episiotomi atau laserasi jalan lahir. Salah satu faktor yang mempengaruhi penyembuhan laserasi jalan lahir yaitu faktor gizi, terutama protein, viatamin dan mineral. Telur dan ikan lele merupakan sumber protein yang mudah di jangkau dengan  cara pengolahanya yang sederhana menggunakan campuran bumbu dan rempah. Tujuan untuk mengetahui perbedaan efektivitas pemberian putih telur dan lele terhadap penyembuhan jahitan perineum pada ibu nifas. Penelitian ini menggunakan metode eksperimental dengan desain two group posttest only design, dilakukan di Puskesmas Punggelan 2 Kabupaten Banjarnegara. Sampel penelitian diperoleh melalui purposive sampling yaitu ibu nifas dengan jahitan perineum dengan jahitan derajat 2 pada bulan Februari dan Maret, tidak ada penyakit DM, hipertensi, bersedia menjadi responden,  sejumlah 32 responden dengan 16 responden di berikan putih telur dan 16 responden diberikan ikan lele diberikan hari pertama sampai hari ketujuh dan dievaluasi menggunakan skor REEDA hari kedelapan. Analisa data dengan uji Mann Whitney. Hasil rerata konsumsi putih telur  2,56, rerata konsumsi ikan lele  1.38.  Hasil uji mann whitney menunjukkan  p value  0,024, nilai r = 0,398 dengan mean rank kelompok putih telur 20,16 dan kelompok ikan lele 12.84, artinya ada perbedaan yang cukup kuat efektivitas pemberian putih telur dan ikan lele terhadap kesembuhan jahitan perineum, dimana ikan lele lebih efektif untuk menyembuhkan jahitan.