cover
Contact Name
Ida Sofiyanti
Contact Email
ekonurhermansyah@unw.ac.id
Phone
+6287747996725
Journal Mail Official
library@unw.ac.id
Editorial Address
Jl. Diponegoro no 186 Gedanganak, Ungaran Timur, Kabupaten Semarang
Location
Kab. semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Prosiding Seminar Nasional dan Call For Paper Kebidanan Universitas Ngudi Waluyo
ISSN : 29617340     EISSN : 29622913     DOI : -
Core Subject : Health,
Prosiding Seminar Nasional dan Call for Paper Kebidanan Universitas Ngudi Waluyo merupakan jurnal prosiding open access, diterbitkan oleh Program Studi Kebidanan Program Sarjana dan Prodi Pendidikan Profesi Bidan Program Profesi Fakultas Kesehatan, Universitas Ngudi Waluyo, dimana terdiri dari hasil penelitian pada bidang Kebidanan. semua artikel yang akan diterbitkan melalui proses editor yang direview oleh dua reviewer secara double-blind review process. Dewan redaksi menerima artikel : (1) Theoretical articles; (2) Empirical studies; (3) Case studies; (4) Literature Review .
Articles 881 Documents
Peningkatan Pengetahuan Ibu Hamil tentang Prenatal Yoga melalui Edukasi dan Praktik di Puskesmas Tanjung Palas Nurhidayati; Setyowati, Heni; Novi Aryani
Prosiding Seminar Nasional dan CFP Kebidanan Universitas Ngudi Waluyo Vol. 4 No. 2 (2025): Prosiding Seminar Nasional dan Call for Paper Kebidanan Universitas Ngudi Waluy
Publisher : Universitas Ngudi Waluyo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pregnancy is a physiological process that often causes physical discomfort and psychological stress in pregnant women. Prenatal yoga is a non-pharmacological intervention that can improve physical comfort, reduce anxiety, and enhance maternal readiness for childbirth. However, pregnant women’s knowledge regarding prenatal yoga remains limited. This study aimed to determine the effect of health education on pregnant women’s knowledge about prenatal yoga. This study employed a pre-experimental design using a one-group pretest–posttest approach. The participants consisted of 10 pregnant women who attended a prenatal yoga health education program at the community health center area. Knowledge levels were measured using a structured questionnaire administered before (pretest) and after (posttest) the health education intervention. Data were analyzed descriptively and presented in the form of frequency distributions, tables, and diagrams. The results showed an improvement in pregnant women’s knowledge after receiving health education. Before the intervention, most respondents had insufficient to moderate knowledge regarding prenatal yoga. After the intervention, the majority of respondents demonstrated good knowledge. The increase was observed across all knowledge indicators, including the definition, benefits, appropriate timing, breathing techniques, safe movements, contraindications, and precautions during prenatal yoga practice.Health education significantly improved pregnant women’s knowledge about prenatal yoga. Therefore, prenatal yoga education is recommended to be routinely integrated into antenatal care programs to enhance maternal health and childbirth preparedness.   Abstrak Kehamilan menyebabkan perubahan fisik dan psikologis yang sering menimbulkan keluhan pada ibu hamil. Prenatal yoga merupakan salah satu bentuk aktivitas fisik yang aman dan bermanfaat untuk meningkatkan kesehatan ibu hamil, namun tingkat pengetahuan ibu hamil tentang prenatal yoga masih beragam. Artikel ini bertujuan menganalisis pengaruh edukasi dan praktik prenatal yoga terhadap peningkatan pengetahuan ibu hamil. Penelitian ini merupakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat dengan desain pre-eksperimental menggunakan pendekatan one group pre-test dan post-test. Subjek kegiatan adalah 10 ibu hamil trimester II dan III di wilayah kerja puskesmas. Intervensi berupa edukasi kesehatan, demonstrasi, dan praktik prenatal yoga. Pengukuran pengetahuan dilakukan menggunakan kuesioner terstruktur sebelum dan sesudah intervensi. Analisis data dilakukan secara deskriptif. Hasil pre-test menunjukkan sebagian besar responden memiliki tingkat pengetahuan kategori kurang dan cukup. Setelah diberikan edukasi dan praktik prenatal yoga, terjadi peningkatan pengetahuan dengan 90% responden berada pada kategori pengetahuan baik. Edukasi dan praktik prenatal yoga efektif dalam meningkatkan pengetahuan ibu hamil. Program prenatal yoga dapat dijadikan intervensi promotif dan preventif dalam pelayanan kesehatan ibu dan anak.
Pijat Tuina untuk Meningkatkan Nafsu Makan pada Balita Sulpiana; Ratih Iswardani; Nasifah, Isri
Prosiding Seminar Nasional dan CFP Kebidanan Universitas Ngudi Waluyo Vol. 4 No. 2 (2025): Prosiding Seminar Nasional dan Call for Paper Kebidanan Universitas Ngudi Waluy
Publisher : Universitas Ngudi Waluyo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Appetite problems in toddlers remain a common health issue in the community and can affect nutritional intake, nutritional status, and the child’s growth and development process. Poor appetite over a prolonged period may increase the risk of growth disorders and decreased immunity. One non-pharmacological approach that can be applied to address this problem is Tuina massage, a complementary therapy originating from Traditional Chinese Medicine that is beneficial in stimulating the digestive system and improving physical comfort in children. Objective: This community service activity aimed to increase mothers’ knowledge and skills in applying Tuina massage and to improve toddlers’ appetite in a safe and independent manner. Methods: The activity was conducted in the partner area with 20 mothers who had toddlers aged 1–5 years experiencing appetite problems. The implementation method consisted of preparation, implementation, and evaluation stages, beginning with a pre-test questionnaire, followed by health education and demonstration of Tuina massage, hands-on practice by the mothers, and ending with a post-test questionnaire and observation of changes in toddlers’ appetite. Results: Pre-test results indicated that most mothers had a low level of knowledge regarding Tuina massage. After the education and training sessions, post-test results showed an increase in the average knowledge score from the poor to good category. In addition, there was a decrease in the percentage of toddlers with poor appetite and an increase in those with moderate and good appetite after the routine application of Tuina massage. Conclusion: Tuina massage proved to be an effective complementary therapy in improving toddlers’ appetite as well as enhancing mothers’ knowledge and skills. This activity can serve as a promotive and preventive intervention that is safe, easy to implement, and sustainable in supporting toddlers’ health and growth within the community.   Abstrak Masalah nafsu makan pada balita masih menjadi permasalahan kesehatan yang sering dijumpai di masyarakat dan dapat berdampak pada asupan gizi, status gizi, serta proses tumbuh kembang anak. Nafsu makan yang rendah dalam jangka waktu lama berisiko menyebabkan gangguan pertumbuhan dan penurunan daya tahan tubuh. Salah satu upaya nonfarmakologis yang dapat dilakukan untuk mengatasi masalah tersebut adalah pijat Tuina, yaitu terapi komplementer yang berasal dari pengobatan tradisional Tiongkok dan bermanfaat dalam merangsang sistem pencernaan serta meningkatkan kenyamanan tubuh anak. Tujuan: Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan ibu balita dalam menerapkan pijat Tuina serta meningkatkan nafsu makan balita secara aman dan mandiri. Metode: Kegiatan dilaksanakan di wilayah mitra dengan peserta sebanyak 20 ibu yang memiliki balita usia 1–5 tahun dengan permasalahan nafsu makan. Metode pelaksanaan meliputi tahap persiapan, pelaksanaan, dan evaluasi yang diawali dengan pengisian kuesioner pre-test, pemberian edukasi dan demonstrasi pijat Tuina, praktik langsung oleh ibu balita, serta pengisian kuesioner post-test dan observasi perubahan nafsu makan balita. Hasil: Hasil pre-test menunjukkan bahwa sebagian besar ibu balita memiliki tingkat pengetahuan yang masih rendah mengenai pijat Tuina. Setelah dilakukan edukasi dan pelatihan, hasil post-test menunjukkan peningkatan nilai rata-rata pengetahuan ibu dari kategori kurang menjadi baik. Selain itu, terjadi penurunan persentase balita dengan nafsu makan kurang serta peningkatan balita dengan nafsu makan cukup dan baik setelah penerapan pijat Tuina secara rutin. Kesimpulan: Pijat Tuina terbukti efektif sebagai terapi komplementer dalam meningkatkan nafsu makan balita serta meningkatkan pengetahuan dan keterampilan ibu balita. Kegiatan ini dapat dijadikan sebagai salah satu intervensi promotif dan preventif yang aman, mudah diterapkan, dan berkelanjutan dalam mendukung kesehatan dan tumbuh kembang balita di masyarakat.
Pijat Oksitosin Sebagai Upaya untuk Meningkatkan Produksi ASI pada Ibu Menyusui Karlina Eci Daryanti; Warni Muchtar; Heni Hirawati Pranoto
Prosiding Seminar Nasional dan CFP Kebidanan Universitas Ngudi Waluyo Vol. 4 No. 2 (2025): Prosiding Seminar Nasional dan Call for Paper Kebidanan Universitas Ngudi Waluy
Publisher : Universitas Ngudi Waluyo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Breast milk is an emulsion of fat in a solution of protein, lactose, and various inorganic salts secreted by the mother's mammary glands and serves as the baby's first food. One common problem for breastfeeding mothers is a slow or insufficient milk flow, caused by a lack of stimulation from the hormones oxytocin and prolactin, which play a role in milk production. Therefore, alternative interventions or management such as oxytocin massage are needed, as it is very effective in stimulating milk production. Oxytocin massage can relax mothers and relieve stress, thereby stimulating the release of the hormone oxytocin, which can facilitate milk production. The purpose of this community service is to increase mothers' knowledge and skills about oxytocin massage as an effort to increase breast milk production. The methods used are counseling and demonstrations of oxytocin massage as an effort to increase breast milk production in the obstetrics ward at Siti Fatimah Regional Hospital, South Sumatra Province. The methods used included distributing leaflets, providing health education about oxytocin massage, demonstrating oxytocin massage by healthcare workers, and evaluating knowledge levels before and after the intervention. Ten postpartum mothers participated. The results showed an increase in postpartum mothers' knowledge regarding the benefits and application of oxytocin massage during breastfeeding, from 90% in the poor knowledge category to 100% in the good knowledge category. In conclusion, oxytocin massage is an effective non-pharmacological intervention for relaxing mothers and increasing breast milk production during breastfeeding. This activity is expected to be integrated into postnatal care as a promotional effort to improve maternal and infant health.   Abstrak ASI merupakan suatu emulsi lemak dalam larutan protein, laktosa, dan beragam garam anorganik yang dikeluarkan oleh kelenjar payudara ibu yang bermanfaat sebagai makanan pertama bayi. Masalah yang sering terjadi pada ibu menyusui salah satunya adalah ASI yang tidak lancar atau keluarnya hanya sedikit yang disebabkan kurangnya rangsangan hormon oksitosin dan prolaktin yang berperan dalam kelancaran produksi ASI sehingga dibutuhkan upaya tindakan alternatif atau penatalaksanaan berupa pijat oksitosin, karena pijat oksitosin sangat efektif membantu merangsang pengeluaran ASI. Pijat oksitosin dapat menjadikan ibu merasa rileks dan menghilangkan stress, sehingga merangsang pengeluaran hormon oksitosin yang dapat memperlancar pengeluaran produksi ASI. Tujuan dari pengabdian kepada masayarakat ini untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan ibu tentang pijat oksitosin sebagai upaya meningkatkan produksi ASI. Metode yang digunakan adalah penyuluhan dan demonstrasi pijat oksitosin sebagai upaya untuk meningkatkan  produksi ASI di ruang rawat kebidanan di RSUD Siti Fatimah Provinsi Sumatera Selatan. Metode yang digunakan meliputi pembagian leaflet, pemberian edukasi kesehatan mengenai pijat oksitosin, demontrasi pijat oksitosin oleh tenaga kesehatan, serta evaluasi pengukuran tingkat pengetahuan sebelum dan sesudah intervensi. Peserta kegiatan berjumlah 10 ibu nifas. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan ibu nifas mengenai manfaat dan penerapan pijat oksitosin selama periode menyusui,dari 90% yang masuk kategori pengetahuan kurang menjadi 100% baik. Kesimpulannya, pijat oksitosin efektif sebagai intervensi non-farmakologis untuk merelaksasi ibu dalam Upaya meningkatkan produksi Asi pada masa menyusui. Kegiatan ini diharapkan dapat diintegrasikan ke dalam pelayanan postnatal sebagai upaya promotive untuk meningkatkan kesehatan ibu dan bayi.
Kehamilan Usia Terlalu Muda: Studi Asuhan Kebidanan Komprehensif terhadap Dampak Fisiologis dan Psikologis Carollyn Dizzy Sagita; Ida Sofiyanti
Prosiding Seminar Nasional dan CFP Kebidanan Universitas Ngudi Waluyo Vol. 4 No. 2 (2025): Prosiding Seminar Nasional dan Call for Paper Kebidanan Universitas Ngudi Waluy
Publisher : Universitas Ngudi Waluyo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pregnancy at a very young age, especially due to early marriage, is a major risk factor for obstetric complications. Unpreparedness of reproductive organs, immature psychological conditions, and lack of knowledge about maternal health contribute to increased morbidity and mortality of both mothers and infants. This Continuity of Care (CoC) Midwifery Care Report aims to provide a comprehensive overview of the implementation of midwifery care for a pregnant woman who is married and pregnant as a teenager, starting from pregnancy, childbirth, the postpartum period, newborn care, and family planning services. The research instrument was carried out through interviews and observations assessments, analysis, establishing obstetric diagnoses, planning interventions, implementing care, and continuous evaluation. This COC Midwifery Care was conducted from June to October 2025. The results of care in this case show that early pregnancy causes psychosocial disorders such as anxiety and unpreparedness to become a mother. Through regular antenatal monitoring, intensive education, early detection of complications, family support, and postpartum family planning counseling, risks can be minimized so that the pregnancy and delivery process can proceed safely.   Abstrak Kehamilan pada usia yang terlalu muda, terutama akibat pernikahan dini, merupakan salah satu faktor risiko utama terjadinya komplikasi obstetri. Ketidaksiapan organ reproduksi, kondisi psikologis yang belum matang, serta kurangnya pengetahuan tentang kesehatan maternal berkontribusi terhadap meningkatnya morbiditas dan mortalitas ibu maupun bayi. Laporan Asuhan Kebidanan Continuity of Care (CoC) ini bertujuan memberikan gambaran menyeluruh mengenai penerapan asuhan kebidanan pada seorang ibu hamil yang menikah dan hamil di usia remaja, mulai dari masa kehamilan, persalinan, masa nifas, perawatan bayi baru lahir, hingga pelayanan KB. Instrumen penelitian dilakukan dengan wawancara dengan melakukan pengkajian, analisis, penegakan diagnosis kebidanan, perencanaan intervensi, pelaksanaan asuhan, serta evaluasi secara berkesinambungan. Asuhan Kebidanan COC ini dilakukan pada bula Juni-Oktober 2025 Dari hasil asuhan pada kasus ini salah satunya yaitu menunjukkan bahwa kehamilan usia muda menimbulkan gangguan psikososial seperti kecemasan dan ketidaksiapan menjadi ibu. Melalui pemantauan antenatal yang teratur, edukasi intensif, deteksi dini komplikasi, dukungan keluarga, dan pemberian konseling KB pascapersalinan, risiko dapat diminimalkan sehingga proses kehamilan dan persalinan dapat berlangsung aman.
Penerapan Pijat Tu Ina untuk Meningkatkan Nafsu Makan pada Balita Dina; Handayani, Dwi; Sari, Kartika
Prosiding Seminar Nasional dan CFP Kebidanan Universitas Ngudi Waluyo Vol. 4 No. 2 (2025): Prosiding Seminar Nasional dan Call for Paper Kebidanan Universitas Ngudi Waluy
Publisher : Universitas Ngudi Waluyo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

In Indonesia, the prevalence of nutritional problems such as stunting and underweight remains high despite showing a downward trend. More than 4.5 million children under five in Indonesia still experience stunting and malnutrition, which are closely related to imbalanced food intake and low appetite. Decreased appetite in children if not handled properly will have fatal consequences. Efforts to overcome eating difficulties can be done through pharmacological and non-pharmacological methods. Non-pharmacological efforts include herbal drinks or jamu, acupuncture, and tui na massage. Objective: This activity is to introduce tu ina massage as a solution to increase infant appetite. Method: Community Service will be implemented in 3 stages: The First Stage is preparation by collaborating with partners and determining community service targets. The Second Stage is the implementation stage, before the counseling is carried out, a pre-test is conducted to explore mothers' knowledge about tuina massage. Furthermore, education is carried out using ppt and booklet media and baby massage training with direct demonstrations. The Third Stage is an evaluation by giving a post-test questionnaire. Results: This activity was attended by 10 mothers who have children aged 0-59 months. Before the counseling regarding infant massage was conducted, it was found that most of the mothers' knowledge was in the poor category, namely 8 people (80%) and after the counseling, 10 mothers had good knowledge in the good category (100%). There was an increase in knowledge before and after the Tuina massage counseling was conducted. Suggestion: It is hoped that health workers can integrate Tuina massage education into routine maternal and child health service activities, such as integrated health posts (posyandu), mother and toddler classes, and home visits, as a promotive and preventive effort to increase mothers' knowledge and skills in supporting toddlers' appetites.   Abstrak Di Indonesia, prevalensi masalah gizi seperti stunting dan kurang berat badan tetap tinggi meskipun telah menunjukkan tren penurunan. Lebih dari 4,5 juta anak balita di Indonesia masih mengalami stunting dan malnutrisi, yang erat kaitannya dengan ketidakseimbangan asupan makanan dan rendahnya nafsu makan. Penurunan nafsu makan pada anak jika penangannya tidak baik akan berakibat fatal. Upaya untuk mengatasi kesulitan makan dapat dilakukan dengan cara farmakologi maupun non farmakologi. Upaya non farmakologi antara lain melalui minuman herbal atau jamu, akupunktur, dan pijat tui na. Tujuan : kegiatan ini adalah memperkenalkan tentang pijat tu ina sebagai Solusi untuk meningkatkan nafsu makan bayi. Metode : Pengabdian Masyarakat akan dilaksanakan dalam 3 tahap yaitu Tahap Pertama melakukan persiapan dengan cara melakukan kerja sama dengan mitra dan menentukan sasaran pengabdian masyarakat. Tahap Kedua tahap pelaksanaan, sebelum dilakukan penyuluhan, dilakukan pretest untuk menggali pengetahuan ibu mengenai pijat tuina. Selanjutnya dilakukan edukasi menggunakan ppt dan media booklet dan pelatihan pijat bayi dengan demonstrasi secara langsung. Tahap Ketiga Melakukan evaluasi dengan cara memberikan kuesioner posttest. Kegiatan ini diikuti oleh 10 orang ibu yang memiliki anak usia 0-59 bulan. Sebelum dilakukan penyuluhan mengenai pijat bayi didapatkan sebagian besar pengetahuan ibu dalam kategori kurang yaitu sebanyak 8 orang (80%) dan setelah dilakukan penyuluhan ibu memiliki pengetahuan dengan kategori baik sebanyak 10 orang (100%). Kesimpulan : terjadi peningkatan pengetahuan sebelum dan sesudah dilakukan penyuluhan pijat tu ina.  Saran : Diharapkan petugas kesehatan dapat mengintegrasikan edukasi pijat Tuina ke dalam kegiatan rutin pelayanan kesehatan ibu dan anak, seperti posyandu, kelas ibu balita, dan kunjungan rumah, sebagai upaya promotif dan preventif untuk meningkatkan pengetahuan serta keterampilan ibu dalam mendukung nafsu makan balita.
Penerapan Pijat Akupresur untuk Mengurangi Nyeri Haid pada Remaja Putri di SMPN 2 Penajam Kabupaten Penajam Paser Utara Yulianti, Nuraini; Maryani; Salafas, Eti
Prosiding Seminar Nasional dan CFP Kebidanan Universitas Ngudi Waluyo Vol. 4 No. 2 (2025): Prosiding Seminar Nasional dan Call for Paper Kebidanan Universitas Ngudi Waluy
Publisher : Universitas Ngudi Waluyo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Data from WHO obtained an incidence of 1,769,425 people (90%) of women who experience dysmenorrhea, 10%-15% of whom experience severe dysmenorrhea. Dysmenorrhea is pain before or during menstruation, occurring on the first day to several days of menstruation. Dysmenorrhea can have various unfavorable impacts on adolescent girls. These impacts include disrupted activities, limited physical activity, social isolation, poor concentration, absenteeism in the teaching and learning process at school and class, loss of concentration at school, inability to do homework, limitations in sports activities, limitations to go out with friends. Acupressure is the science of healing by doing massage at certain points, this science comes from China which has existed for more than 500 years. Community service is carried out in 3 stages, namely: Stage 1 Selection of adolescent girls who are willing to get acupressure massage to reduce pain. Stage 2: Conducting socialization and giving acupressure massage to reduce pain during dysmenorrhea. This community service activity was attended by 15 respondents consisting of 7th, 8th, and 9th grade students of SMPN 2 Penajam. From the results of univariate analysis before being given counseling to 15 respondents, 3 (20%) respondents had a sufficient level of knowledge and 12 (80%) respondents had a lack of knowledge and after counseling the results obtained from 15 respondents there were 15 (100%) respondents had a good level of knowledge. From the results obtained after counseling there is an increase in respondents' knowledge of the material provided.   Abstrak Data dari WHO didapatkan kejadian sebesar 1.769.425 jiwa (90%) wanita yang mengalami dismenore, 10%-15% diantaranya mengalami dismenore berat. Dismenore adalah nyeri sebelum atau selama menstruasi, terjadi pada hari pertama sampai beberapa hari masa menstruasi. Dismenore dapat memberikan berbagai dampak yang kurang baik bagi remaja putri. Dampak tersebut meliputi aktivitas yang terganggu, keterbatasan aktivitas fisik, isolasi sosial, konsentrasi yang buruk, ketidakhadiran dalam proses belajar mengajar di sekolah dan kelas, kehilangan konsentrasi di sekolah, ketidakmampuan untuk pekerjaan rumah, keterbatasan dalam aktivitas olahraga, keterbatasan untuk keluar dengan teman. Akupresure merupakan ilmu penyembuhan dengan cara melakukan pijat pada titik - titik tertentu, ilmu ini berasal dari Tionghoa yang suda ada sejak lebih dari 500 tahun yang lalu. Pengabdian masyarakat dilaksanakan dalam 3 tahap yaitu : Tahap 1 Pemilihan remaja putri yang bersedia mendapatkan pijat akupresure untuk mengurangi nyeri. Tahap 2 : Melakukan sosialisasi dan pemberian pijat akupresure untuk mengurangi nyeri pada saat dismenore. Kegiatan pengabdian Masyarakat ini di ikuti 15 orang responden yang terdiri dari siswi kelas 7,8,dan 9 SMPN 2 Penajam. Dari hasil analisis univariat sebelum diberikan penyuluhan terhadap 15 responden terdapat 3 anak (20%) responden memiliki tingkat pengetahuan cukup dan 12 anak (80%) responden memiliki tingkat pengetahuan kurang dan sesudah dilakukan penyuluhan didapatkan hasil dari responden ada 15 anak (100%) responden memiliki tingkat pengetahuan baik. Dari hasil yang didapatkan setelah dilakukan penyuluhan terdapat peningkatan pengetahuan respondenterhadap materi yang diberikan.
Teknik Akupresure untuk Mengurangi Dismenore pada Remaja Putri di Kelurahan Sesumpu Septabela Mahardika; Lallo, Poulina; Andayani, Ari
Prosiding Seminar Nasional dan CFP Kebidanan Universitas Ngudi Waluyo Vol. 4 No. 2 (2025): Prosiding Seminar Nasional dan Call for Paper Kebidanan Universitas Ngudi Waluy
Publisher : Universitas Ngudi Waluyo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dysmenorrhea is discomfort in the form of pain during menstruation. According to the World Health Organization (WHO) in 2021, the incidence of menstrual pain worldwide is very high, with an average of more than 62% of women in every country experiencing menstrual pain. In the United States, the percentage is around 60% and Sweden around 72%. In Indonesia, an estimated 55% of women of reproductive age experience pain during menstruation. The incidence of menstrual pain ranges from 45-95% among women of reproductive age. Although generally harmless, it is very disturbing for those who experience it. Adolescents aged 10-19 often experience lower abdominal pain, bloating, dizziness/headaches, diarrhea, constipation, and digestive disorders. Furthermore, symptoms of headache, irritability, and back pain are quite common among women with primary dysmenorrhea. The purpose of this activity is to provide counseling on complementary acupressure therapy to adolescent girls in Sesumpu Village to address dysmenorrhea. Counseling and demonstrations are conducted so that young women can understand and practice acupressure techniques when experiencing dysmenorrhea independently at home. They can also demonstrate the acupressure method, thereby reducing dysmenorrhea in adolescents. The community service will be implemented in three stages: The first stage involves selecting a group of young women in Sesumpu Village who are willing to be taught acupressure for dysmenorrhea. The second stage involves conducting a pre-test using a questionnaire to measure the young women's knowledge about dysmenorrhea and how to manage it. This will then involve counseling and training on acupressure for dysmenorrhea management. The third stage involves conducting a post-test using a questionnaire and evaluating the acupressure techniques taught to each young woman through direct practice. The post-test results showed that 13 adolescents (100%) had good knowledge after the counseling and demonstration regarding acupressure for menstrual pain. After the counseling, there was a change in the lowest score to 90 and the highest to 100, while the average score achieved was 97.69. These results indicate an increase in adolescent knowledge regarding acupressure techniques to reduce dysmenorrhea. The recommendation from this community service is to utilize adolescent integrated health posts (Posyandu) to provide counseling on how to reduce menstrual pain non-pharmacologically and to carry out health promotion activities and health counseling regularly to adolescents.   Abstrak Dismenore merupakan ketidaknyamanan berupa rasa nyeri pada saat terjadi menstruasi. Menurut WHO (World Health Organization) tahun 2021 menyatakan bahwa angka kejadian nyeri menstruasi di dunia sangat besar, rata-rata lebih dari 62% perempuan disetiap negara mengalami nyeri menstruasi, dimana di Amerika angka presentasenya sekitar 60% dan Swedia sekitar 72% sementara di Indonesia angka kejadian diperkirakan 55% perempuan usia produktif yang tersiksa oleh nyeri selama menstruasi, angka kejadian nyeri menstruasi berkisar 45-95% dikalangan wanita usia produktif walaupun umumnya tidak berbahaya namun sangat mengganggu bagi wanita yang mengalaminya. Remaja pada usia 10-19 tahun sering mengalami keluhan nyeri pada abdomen bagian bawah, kembung, pusing/ sakit kepala, diare, konstipasi dan gangguan pencernaan.  Selain itu juga gejala nyeri kepala, iritabilitas dan nyeri punggung bagian belakang cukup sering dikeluhkan oleh wanita dengan dismenorea primer. Tujuan kegiatan ini yaitu memberikan penyuluhan terapi komplementer akupresure pada Remaja putri di Kelurahan Sesumpu untuk mengatasi Dismenore. Jumlah peserta penyuluhan sebanyak 13 orang. Penyuluhan dan demonstrasi dilakukan  agar remaja putri dapat memahami dan mampu mempraktekkan serta menerapkan Tehnik Akupreasure saat mengalami dismenore secara mandiri di rumah masing- masing dan dapat mendemonstrasikan ulang teknik metode akupresure, sehingga dismenore pada remaja bisa berkurang. Pengabdian masyarakat akan dilaksanakan dalam 3 tahap yaitu Tahap Pertama Pemilihan kelompok remaja putri di Kelurahan Sesumpu yang bersedia diajarkan tentang akupresur dismenore, yang diikuti oleh 13 orang remaja putri Tahap Kedua Melakukan pretest dengan kuesioner untuk mengukur pengetahuan remaja putri mengenai dismenore dan cara menangani nya, selanjutnya melakukan penyuluhan dan pelatihan akupresure untuk menangani dismenore. Setelah dilakukan pretest dengan kuesioner didapatkan hasil pengetahuan remaja nilai terendah 30 dan nilai tertinggi 70, sementara nilai rata-ratanya adalah 47,69. Hasil ini menunjukkan bahwa masih kurangnya pengetahuan remaja tentang teknik akupresur untuk mengurangi dismenore.  Tahap ke Tiga Post test dengan kuesioner dan mengevaluasi dengan praktek langsung kepada masing-masing remaja mengenai teknik akupresue yang sudah diajarkan kepada remaja putri.  Dari hasil post test didapatkan bahwa pengetahuan remaja setelah dilakukan penyuluhan dan demonstrasi mengenai akupresur nyeri haid memiliki pengetahuan baik sebanyak 13 orang (100%). Setelah dilakukan penyuluhan ada perubahan nilai terendah menjadi 90 dan tertingginya menjadi 100 sedangkan nilai rata-rata yang diraih yaitu 97,69, dari hasil ini menunjukan bahwa adanya peningkatan pada pengetahuan remaja mengenai teknik akupresure untuk mengurangi dismenore. Rekomendasi dari pengabdian masyarakat ini adalah memanfaatkan posyandu remaja untuk memberikan penyuluhan cara mengurangi nyeri haid secara non farmakologi serta melakukan kegiatan promosi kesehatan dan penyuluhan kesehatan secara rutin kepada remaja.
Peningkatan Partisipasi Ibu Hamil dalam Program Skrining BBL Skrining Hipotiroid Konginental (SHK) Melalui Pendekatan Edukatif Sri Rahayu; Sarah Anissa; Khayati, Yulia Nur
Prosiding Seminar Nasional dan CFP Kebidanan Universitas Ngudi Waluyo Vol. 4 No. 2 (2025): Prosiding Seminar Nasional dan Call for Paper Kebidanan Universitas Ngudi Waluy
Publisher : Universitas Ngudi Waluyo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Congenital hypothyroidism is a metabolic disorder that may lead to impaired growth and neurodevelopment if not detected and treated early. Newborn Screening, particularly screening for Congenital Hypothyroidism (CH), is a crucial strategy to prevent disability and developmental delay in children. However, the coverage of CH screening at primary healthcare facilities remains suboptimal, partly due to limited maternal knowledge and lack of awareness regarding the importance of early screening. This community service activity aimed to improve the knowledge and awareness of mothers of newborns and healthcare providers regarding the importance of congenital hypothyroidism screening as an early detection effort. The activity was conducted in the working area of a primary healthcare center through health education sessions, interactive discussions, and technical assistance in newborn screening implementation. The participants included mothers of newborns and healthcare workers involved in maternal and child health services. The results showed an improvement in mothers’ understanding of the purpose, benefits, and timing of congenital hypothyroidism screening. In addition, healthcare providers demonstrated better readiness in performing screening procedures according to established standards. This community service activity contributes to increasing awareness among both the community and healthcare providers regarding the importance of early detection of congenital hypothyroidism, which is expected to support the prevention of growth and developmental disorders in children.   Abstrak Hipotiroid kongenital merupakan salah satu kelainan metabolik bawaan yang dapat menimbulkan gangguan pertumbuhan dan perkembangan anak apabila tidak terdeteksi dan ditangani sejak dini. Skrining Bayi Baru Lahir (SBBL), khususnya skrining Hipotiroid Kongenital (SHK), menjadi upaya strategis dalam pencegahan kecacatan dan keterlambatan perkembangan pada anak. Namun, cakupan pelaksanaan skrining SHK di tingkat pelayanan kesehatan dasar masih belum optimal, salah satunya disebabkan oleh keterbatasan pengetahuan ibu dan kurangnya pemahaman mengenai pentingnya skrining pada bayi baru lahir. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan pemahaman ibu bayi baru lahir serta tenaga kesehatan mengenai pentingnya skrining SHK sebagai upaya deteksi dini hipotiroid kongenital. Kegiatan dilaksanakan di wilayah kerja Puskesmas melalui metode edukasi kesehatan, diskusi interaktif, dan pendampingan pelaksanaan skrining bayi baru lahir. Sasaran kegiatan meliputi ibu bayi baru lahir dan tenaga kesehatan yang terlibat dalam pelayanan kesehatan ibu dan anak. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan pemahaman ibu mengenai tujuan, manfaat, dan waktu pelaksanaan skrining SHK. Selain itu, tenaga kesehatan menunjukkan kesiapan yang lebih baik dalam melaksanakan prosedur skrining sesuai standar. Kegiatan pengabdian ini berkontribusi dalam mendukung peningkatan kesadaran masyarakat dan tenaga kesehatan terhadap pentingnya deteksi dini hipotiroid kongenital, sehingga diharapkan dapat mencegah terjadinya gangguan tumbuh kembang anak di kemudian hari.
Peningkatan Literasi Kesehatan dan Kesejahteraan Ibu Hamil melalui Edukasi Terintegrasi dan Praktik Yoga Prenatal Maria Goreti Benga; Sofiyanti, Ida; Syarifah Zaidah Putri Al-Hinduan
Prosiding Seminar Nasional dan CFP Kebidanan Universitas Ngudi Waluyo Vol. 4 No. 2 (2025): Prosiding Seminar Nasional dan Call for Paper Kebidanan Universitas Ngudi Waluy
Publisher : Universitas Ngudi Waluyo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The second and third trimesters of pregnancy are often accompanied by physical discomforts such as back pain and anxiety before childbirth. Prenatal yoga is an effective non-pharmacological intervention to improve physical fitness and mental balance for pregnant women. This community service activity aims to increase knowledge as well as the physical and mental readiness of pregnant women through education and prenatal yoga stimulation. The activity was carried out simultaneously in two locations: Klinik Pratama Polda Kaltara (Tarakan) and TPMB Eka Putri (Tanjung Selor) in December 2025. The targets were 10 pregnant women in their second and third trimesters. The methods included theoretical education, video tutorial demonstrations, and prenatal yoga practice (Warrior poses and relaxation). The evaluation was measured using pre-test and post-test instruments and testimonial interviews. The analysis showed a significant increase in knowledge; before the intervention, the majority of participants (80%) were in the "poorly understood" category, which increased to 100% in the "well understood" category after the intervention. Clinically, participants reported reduced back pain, feeling more relaxed, and increased confidence in facing labor. Prenatal yoga stimulation is effective in increasing the knowledge and physical and mental readiness of pregnant women. It is recommended for healthcare facilities to integrate prenatal yoga into routine Antenatal Care (ANC) services.   Abstrak Kehamilan trimester II dan III sering disertai dengan ketidaknyamanan fisik seperti nyeri punggung dan kecemasan menjelang persalinan. Yoga prenatal merupakan salah satu intervensi non-farmakologis yang efektif untuk meningkatkan kebugaran fisik dan keseimbangan mental ibu hamil. Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan serta kesiapan fisik dan mental ibu hamil melalui edukasi dan stimulasi yoga prenatal. Kegiatan dilaksanakan secara serentak di dua lokasi, yaitu Klinik Pratama Polda Kaltara (Tarakan) dan TPMB Eka Putri (Tanjung Selor) pada Desember 2025. Sasaran kegiatan adalah 10 ibu hamil trimester II dan III. Metode yang digunakan meliputi edukasi teori, demonstrasi video tutorial, dan praktik yoga prenatal (Warrior poses dan relaksasi). Evaluasi keberhasilan diukur menggunakan instrumen pre-test dan post-test serta wawancara testimoni. Hasil analisis menunjukkan peningkatan pengetahuan yang signifikan, di mana sebelum intervensi mayoritas peserta (80%) berkategori kurang mengerti, meningkat menjadi 100% berkategori sangat mengerti setelah intervensi. Secara klinis, peserta melaporkan berkurangnya keluhan nyeri punggung, perasaan lebih rileks, dan meningkatnya kepercayaan diri dalam menghadapi persalinan.  Stimulasi yoga prenatal efektif dalam meningkatkan pengetahuan dan kesiapan fisik maupun mental ibu hamil. Disarankan bagi fasilitas pelayanan kesehatan untuk mengintegrasikan yoga prenatal ke dalam layanan rutin Antenatal Care (ANC).
Optimalisasi Pengetahuan Ibu Melalui Pelatihan Pijat Tuina dalam Peningkatan Nafsu Makan Balita Desa Jetak Kec. Getasan Desi Wandan Sari; Nur Utamiyah; Isfaizah
Prosiding Seminar Nasional dan CFP Kebidanan Universitas Ngudi Waluyo Vol. 4 No. 2 (2025): Prosiding Seminar Nasional dan Call for Paper Kebidanan Universitas Ngudi Waluy
Publisher : Universitas Ngudi Waluyo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Low appetite among toddlers is one of the risk factors contributing to poor nutritional status and stunting. One non-pharmacological intervention that can be applied is Tuina massage, a traditional Chinese massage therapy that stimulates digestive meridian points. This community service activity aimed to improve mothers’ knowledge and skills through Tuina massage training to enhance toddlers’ appetite. The activity was conducted on December 9, 2025, in Jetak Village, Getasan District, involving 12 mothers of toddlers, two community health volunteers, and one village midwife. The methods included health education, demonstration, hands-on practice, and evaluation using pre-test and post-test questionnaires. The results showed an increase in the average mothers’ knowledge score from 55.3 in the pre-test to 89.1 in the post-test. All participants were able to perform Tuina massage correctly and expressed readiness to apply it independently at home. This community service activity demonstrated that Tuina massage training is effective in empowering mothers and has the potential to support stunting prevention efforts at the village level.   Abstrak Masalah nafsu makan rendah pada balita merupakan salah satu faktor risiko terjadinya gangguan status gizi dan stunting. Salah satu upaya non-farmakologis yang dapat dilakukan adalah pijat Tuina, yaitu terapi pijat tradisional Tiongkok yang menstimulasi titik meridian pencernaan. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan meningkatkan pengetahuan dan keterampilan ibu balita melalui pelatihan pijat Tuina untuk meningkatkan nafsu makan balita. Kegiatan dilaksanakan pada 9 Desember 2025 di Desa Jetak, Kecamatan Getasan, dengan melibatkan 12 ibu balita, 2 kader posyandu, dan 1 bidan desa. Metode kegiatan meliputi penyuluhan, demonstrasi, praktik langsung, serta evaluasi menggunakan pre-test dan post-test. Hasil menunjukkan adanya peningkatan rata-rata skor pengetahuan ibu dari 55,3 pada pre-test menjadi 89,1 pada post-test. Seluruh peserta mampu mempraktikkan pijat Tuina dengan benar dan menyatakan kesiapan menerapkannya secara mandiri di rumah. Pengabdian masayarak dengan melatih pijat Tuina efektif sebagai upaya pemberdayaan ibu dan berpotensi mendukung pencegahan stunting di tingkat desa.