cover
Contact Name
-
Contact Email
journal@mail.unnes.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
journal@mail.unnes.ac.id
Editorial Address
Sekaran Gunungpati Semarang 50229
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Prosiding Seminar Nasional Biologi
ISSN : 20868286     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Prosiding Seminar Nasional Biologi, terbitan ini berisi artikel bidang ilmu Biologi diterbitkan secara berkala 12 bulanan.
Articles 189 Documents
FORMULASI KAPSUL EKSTRAK RAMUAN JAMU SAINTIFIK DIABETES MELITUS T F Dewi; S Farida
Prosiding Seminar Nasional Biologi Vol. 9 (2021)
Publisher : Prosiding Seminar Nasional Biologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Ramuan Jamu Saintifik Diabetes Melitus (RJSDM) yang digunakan di RRJ Hortus Medicus merupakan jamu saintifik yang telah terbukti khasiat dan keamanannya melalui uji pra klinis dan uji klinis sehingga berpotensi untuk dikembangkan menjadi obat herbal terstandar dan fitofarmaka. RJSDM dikonsumsi oleh masyarakat dalam bentuk rebusan. Sediaan rebusan mempunyai kekurangan yaitu perlu waktu untuk penyiapan, kurang praktis untuk dibawa bepergian, tidak dapat disimpan dalam waktu yang lama, serta rasa pahit dan bau tidak enak dari rebusan tidak dapat tertutupi. Hal ini dapat mempengaruhi kepatuhan terapi pasien, oleh karena itu diperlukan pengubahan bentuk sediaan menjadi sediaan yang lebih praktis, lebih mudah disiapkan, dan lebih acceptable. RJSDM terdiri atas simplisia herba sambiloto, daun salam, kayu manis, dan rimpang temulawak. Campuran simplisia tersebut diekstrak dengan metode infusa dan diuapkan menjadi ekstrak air. Bahan tambahan yang digunakan dalam formulasi ini adalah amilum dan avicel. Hasil penelitian menunjukkan bahwa formula F3 yang menggunakan campuran avicel 10% dan amilum 10% sebagai pengisi, merupakan formula yang paling baik karena memiliki keseragaman bobot dengan nilai coefficient variation yang paling kecil. Selain itu, F3 juga memenuhi parameter kualitas waktu alir, cemaran mikrobiologi, dan waktu hancur. Dari segi ekonomi, mengingat avicel memiliki harga yang mahal, formula F3 memungkinkan untuk menghasilkan sediaan dengan bahan yang lebih murah dan memiliki kualitas yang baik dibandingkan dengan formula yang lain. Kapsul ekstrak RJSDM memiliki bobot rata-rata 546,345 mg, waktu hancur 7 menit 2 detik, dan angka AJ ALT memenuhi syarat.
APLIKASI INOVASI RISET PENDIDIKAN BIOLOGI UNTUK PEMULIHAN LAHAN BEKAS TAMBANG BATU BARA Risa Rosita; Rahayu Widyastuti; Irdika Mansur
Prosiding Seminar Nasional Biologi Vol. 11 (2023)
Publisher : Prosiding Seminar Nasional Biologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah (1) mengetahui pengaruh pemberian C. etunicatum dan Bacillus sp. terhadap pertumbuhan rumput Bede yang ditanam pada tanah bekas tambang batu bara, (2) mempelajari kemampuan serapan hara (N, P, K) rumput Bede yang ditanam pada tanah bekas tambang batu bara. Percobaan penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok Faktorial (RAKF). Data diolah menggunakan program SAS 9,0 dan dilakukan analisis sidik ragam dengan uji lanjut DMRT (Duncan Multiple Range Test) pada taraf alpha (α) 5%. Pemberian C. etunicatum dan Bacillus sp. efektif meningkatkan pertumbuhan rumput Bede ketika ditanam pada tanah bekas tambang. Pada tanah overburden perlakuan T3P13 (penambahan 50% NPK + 50% dolomit + C. etunicatum + Bacillus sp.) mampu meningkatkan biomassa kering tanaman 660 kali lipat dibandingkan dengan kontrol (T3P0). Sementara itu pada tanah revegetasi pemberian perlakuan T2P10 (kombinasi dolomit 50% + C. etunicatum) menghasilkan berat basah dan berat kering akar paling besar. Rumput Bede yang diperkaya oleh C. etunicatum dan Bacillus sp. yang ditanam pada tanah bekas tambang serta tanah kebun Jati (jenis pemupukan: P4, P5, P6, P7, P8, P9, P10, P11, P12, P13) memiliki nilai serapan hara N, P, K yang lebih tinggi dibandingkan dengan rumput yang tidak diperkaya (P1, P2, P3) dan kontrol (P0). Rumput Bede yang diperkaya dan ditanam pada tanah revegetasi (T2P10) menunjukkan kemampuan serapan hara P paling tinggi dengan nilai serapan sebesar 1,93 g/tanaman.
RISET BIODIVERSITAS UNTUK MENDUKUNG PARIWISATA BERKELANJUTAN DI TAMAN NASIONAL TANJUNG PUTING Arif Setyo Nugroho
Prosiding Seminar Nasional Biologi Vol. 11 (2023)
Publisher : Prosiding Seminar Nasional Biologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Wisata alam menjadi tren populer bagi masyarakat pada era new normal. Kegiatan wisata petualangan dalam grup kecil dengan aktivitas yang dinamis menjadi pilihan bagi penikmat wisata minat khusus. Taman Nasional Tanjung Puting dengan wildlife tourism sebagai daya tariknya telah menunjukan angka recovery yang cukup signifikan sebesar 86% dengan angka kunjungan 25.323 pada tahun 2022. Angka ini mendekati angka kunjungan tertinggi sepanjang masa pada tahun 2018 sebesar 29.283 wisatawan. Hal ini menunjukan bahwa wildlife tourism berkemampuan cepat pulih paska pandemi. Gangguan menyeluruh pada sektor pariwisata yang disebabkan oleh COVID-19 memberikan peluang untuk mendefinisikan ulang dan mengkalibrasi arah serta narasi pariwisata demi masa depan yang lebih berkelanjutan. Praktek-praktek sustainable tourism management menjadi keniscayaan yang akan memberikan nilai tambah dan daya tawar bagi destinasi wisata. Penulisan makalah ini bertujuan untuk mengidentifikasi peran riset biodiversitas dalam mendukung praktek-praktek pariwisata berkelanjutan dalam lingkup wildlife tourism di Taman Nasional Tanjung Puting. Balai Taman Nasional Tanjung Puting menerapkan pengelolaan berkelanjutan dengan mengedepankan CHSE (Cleanliness, Healthiness, Safety, Environment), menyediakan aplikasi reservasi online, melakukan pembatasan kunjungan wisatawan, serta menerapkan aturan-aturan saat melakukan pengamatan satwa liar. Inovasi riset biodiversitas mempunyai peluang besar untuk menyediakan data dasar dalam mendukung praktek pariwisata berkelanjutan. Riset biodiversitas dengan pendekatan multidisipliner mampu menjawab tantangan pariwisata berkelanjutan dengan memfokuskan pada empat pilar utama yaitu: perencanaan keberlanjutan yang efektif, memaksimalkan manfaat sosial dan ekonomi bagi masyarakat lokal, pelestarian warisan budaya, dan mengurangi dampak negatif terhadap lingkungan.
MEWUJUDKAN GENERASI CERDAS, KOMPETITIF DAN BERKARAKTER PADA ABAD 21 MELALUI PENDIDIKAN BIOLOGI DAN INOVASI RISET BERKELANJUTAN Sri Sukaesih
Prosiding Seminar Nasional Biologi Vol. 11 (2023)
Publisher : Prosiding Seminar Nasional Biologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pendidikan menjadi sarana strategis untuk menyiapkan Sumber Daya Manusia (SDM) yang cerdas, unggul, kompetitif di abad 21. Perkembangan Abad 21 menuntut setiap individu mampu menghadapi perubahan yang cepat di segala bidang. Era Revolusi industri 4.0 telah membentuk peradaban baru kehidupan manusia, dimana teknologi informasi menjadi basis kehidupan, penggunaan internet untuk semua (internet of things), serta perkembangan teknologi digital. Dampak perubahan ini diantaranya tingkat persaingan semakin ketat, dan arus informasi yang pesat pada semua sektor kehidupan. Tantangan di Era Revolusi Industri 4.0 yaitu menyiapkan SDM yang berkualitas, cerdas, kompetitif, dan berkarakter. Untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional, maka pendidikan harus dapat membentuk individu-individu yang memiliki literasi, kompetensi dan karakter. Peserta didik perlu dibekali dengan penguasaan literasi baru (new literacy). New literacy mencakup literasi data, literasi teknologi dan literasi manusia. Literasi data membekali individu mampu membaca, menganalisis, dan memanfaatkan informasi di dunia digital. Literasi teknologi mengantarkan individu memahami cara kerja, aplikasi teknologi informasi dan komunikasi, programing, intelegensi buatan dan prinsip-prinsip rekayasanya. Literasi manusia mengarahkan manusia mampu berkomunikasi, berkolaborasi, berpikir kritis, kreatif dan inovatif (keterampilan abad 21). Pembelajaran Biologi yang kolaboratif dan partisipatif menjadi sarana efektif untuk mewujudkan generasi cerdas dan kompetitif. Biologi dapat dibelajarkan sesuai dengan hakikat sains. Pemahaman hakikat sains atau Nature of Science (NOS) akan mengantarkan mahasiswa menguasai berbagai literasi. Berdasarkan hasil-hasil penelitian, pembelajaran Biologi yang dirancang dan berlandaskan konstruktivisme, seperti pendekatan STEM, pendekatan Socio Scientific Issue, Problem based Learning, Cooperative Learning, Case Method, dan Team based Project mampu mengembangkan literasi, kompetensi dan karakter peserta didik. Hasil inovasi riset di bidang pendidikan terkini menjadi rujukan dan rekomendasi bagi peningkatan kualitas pendidikan di Indonesia. Riset harus dilakukan secara terus menerus untuk memecahkan masalah, menciptakan solusi, dan menemukan hal-hal baru yang inovatif guna peningkatan kualitas pendidikan secara berkelanjutan.
PENGEMBANGAN PRODUK TEMPE KELOR PADA UMKM SEBAGAI UPAYA PENGEMBANGAN WISATA DESA WILAYAH EMBUNG PATEMON GUNUNG PATI SEMARANG Siti Harnina Bintari; Wiwi Isnaini; Sri Sukaesih; Endah Peniati; Ely Rudyatmi
Prosiding Seminar Nasional Biologi Vol. 11 (2023)
Publisher : Prosiding Seminar Nasional Biologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Wilayah Patemon mempunyai aset berupa Wisata Embung untuk tempat wisata masyarakat domestik. Upaya ini terus digalakkan guna memacu kunjungan masyarakat lokal dan wisata kuliner termasuk tempe. Tempe yang dipromosikan adalah tempe ori dan tempe kelor serta olahannya berupa keripik kelor tempe. Pembuatan tempe dilakukan oleh peserta kegiatan pengabdian untuk edukasi dan menjual produk hasil olahannya guna meningkatkan pendapatan dan bertambahnya pamor desa wisata Embung Patemon dengan melibatkan UMKM tempe Berkah NJ dan masyarakat setempat tergabung dalam komunitas kewirausahaan di kelurahan Patemon. Pengembangan produk tempe menjadi tempe kelor merupakan inovasi teknologi pengolahan pangan melalui fortifikasi tepung daun kelor, dan peserta memberi respon baik. Dari hasil observasi yang telah dilakukan penambahan tepung daun kelor konsentrasi 1% dengan lama fermentasi 36 jam menunjukkan prosentase flavonoid meningkat dan menunjukkan penurunan mulai umur fermentasi 48 jam. Selama proses pendampingan kegiatan pengembangan tempe kelor terjadi peningkatan pemasaran, penguatan kegiatan kewirausahaan dan terlaksana sosialisasi P-IRT serta penandanganan MoU antara dekan FMIPA dengan pihak kelurahan Patemon.
ANALISIS PENGARUH MOL TEMPE OVERFERMENTED TERHADAP KARAKTERISTIK KOMPOS: ASPEK FISIK, KIMIA, DAN BIOLOGI Siti Maesaroh; Siti Harnina Bintari
Prosiding Seminar Nasional Biologi Vol. 11 (2023)
Publisher : Prosiding Seminar Nasional Biologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini mengeksplorasi pemanfaatan limbah pertanian, peternakan, dan industri, seperti jerami, kotoran kambing, dan tempe overfermented, dalam pembuatan kompos. Rancangan penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan empat perlakuan (P1, P2, P3, P4). P1 menggunakan starter EM4, P2 MOL tempe overfermented, P3 EM4:MOL tempe overfermented 1:1, dan P4 EM4:MOL tempe overfermented 1:3, yang diulang enam kali, dengan pemeraman 21 hari. Analisis data melibatkan uji One Way ANOVA, dan analisis deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan perubahan signifikan pada sifat fisik kompos, termasuk aroma, warna, tekstur, dan penyusutan, selama tiga minggu. Nilai pH dan suhu kompos juga berubah signifikan. Rasio C/N menurun secara berturut-turut pada P1, P2, P3, dan P4 yaitu 6,3; 6,0; 5,5; 5,0 dengan rasio C/N pada P0 (tanpa starter) sebesar 11,3. Analisis biologi menunjukkan P2 memiliki total bakteri tertinggi, 5,96 x 107, berasal dari bakteri asam laktat (BAL) dan Bacillus sp. Penelitian ini menyimpulkan bahwa pemanfaatan limbah tempe overfermented dan pertanian, peternakan, serta limbah industri dapat menjadi solusi inovatif untuk kompos organik. Hal ini mendukung upaya mengurangi limbah melalui daur ulang, membuka peluang pengembangan pupuk organik efektif dan berkelanjutan, dengan dampak positif pada pertanian dan lingkungan.
AKTIVITAS ANTIBAKTERI EKSTRAK METANOL ONCOM MERAH TERHADAP PERTUMBUHAN Staphylococcus aureus (ATCC 25922) DAN Escherichia coli (ATCC 25923) SECARA IN VITRO Luthfi Ahmad Fauzi; Siti Khotimah; Rahmawati Rahmawati
Prosiding Seminar Nasional Biologi Vol. 11 (2023)
Publisher : Prosiding Seminar Nasional Biologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Oncom merah merupakan makanan fermentasi ampas tahu dan bungkil kacang tanah oleh kapang Neurospora sitophila. Oncom merah mengandung berbagai senyawa aktif antara lain isoflavon dan karotenoid yang berpotensi sebagai antibakteri terhadap bakteri penyebab infeksi saluran cerna seperti Staphylococcus aureus dan Escherichia coli. Penelitian bertujuan mengetahui pengaruh perbedaan konsentrasi dan konsentrasi terbaik ekstrak oncom merah dalam menghambat pertumbuhan S. aureus (ATCC 25922) dan E. coli (ATCC 25923). Uji antibakteri ekstrak metanol oncom merah dilakukan menggunakan metode difusi cakram Kirby Bauer dengan Rancangan Acak Lengkap dalam lima perlakuan berupa taraf konsentrasi ekstrak 25%, 50% dan 75% serta kontrol positif ciprofloxacin dan kontrol negatif DMSO 10% sebanyak lima ulangan. Hasil menunjukkan seluruh perlakuan ekstrak metanol oncom merah memberikan pengaruh berbeda nyata terhadap pertumbuhan S. aureus (ATCC 25922) dan E. coli (ATCC 25923) serta diduga bersifat bakteriosidal hingga masa inkubasi 2×24 jam. Rerata diameter zona hambat menunjukkan peningkatan konsentrasi ekstrak metanol oncom merah yang digunakan berbanding lurus dengan peningkatan ukuran diameterzona hambat yang terbentuk. Konsentrasi terbaik pada penelitian ini yaitu pada konsentrasi 75% dengan rerata zona hambat sebesar 7,52 mm terhadap S. aureus (ATCC 25922) dan 9,08 mm terhadap E. coli (ATCC 25923) dengan kategori sedang pada masa inkubasi 2×24 jam.
KEANEKARAGAMAN FUNGI MIKORIZA ARBUSKULA (FMA) PADA RIZOSFER TANAMAN SENGON (Paraserianthes falcataria) DI KEBUN RAYA ITERA Novita Dwi Yanti; Erma Suryanti; Risa Rosita
Prosiding Seminar Nasional Biologi Vol. 11 (2023)
Publisher : Prosiding Seminar Nasional Biologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Fungi mikoriza arbuskula (FMA) merupakan bentuk dari simbiosis mutualisme antara fungi dengan rizosfer tanaman. Sengon (Paraserianthes falcataria) merupakan salah satu tanaman yang secara alami dapat berasosiasi dengan FMA. Fungi mikoriza arbuskula (FMA) adalah jenis mikoriza yang tingkat populasi dan jenisnya sangat bervariasi, bergantung pada jenis inang dan lingkungan sekitarnya. Penelitian ini dilakukan dengan mengeksplorasi FMA pada rizosfer tanaman sengon. Metode eksplorasi yang digunakan pada penelitian dilakukan melalui: (1) pengambilan sampel tanah di area perakaran sengon, (2) ekstraksi dan identifikasi spora FMA secara morfologi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa FMA yang didapatkan pada rizosfer tanaman sengon terdiri dari 3 genus yaitu Glomus, Acaulospora, dan Gigaspora. Genus yang paling mendominasi dari ketiga genus FMA tersebut adalah Glomus. Dominasi genus yang ditemukan adalah Glomus disebabkan karena Glomus memiliki sifat yang adaptif dan sampel tanah yang diperoleh merupakan jenis tanah lempung berpasir dengan pH tanah masam. Pada penelitian ini hasil keanekaragaman FMA pada rizosfer tanaman sengon di Kebun Raya ITERA juga didokumentasikan dalam bentuk peta untuk memudahkan pemberian informasi pengetahuan terkait keberadaan spora FMA di Kebun Raya ITERA khusunya pada rizosfer tanaman sengon.
EFEKTIVITAS PEMBERIAN BERBAGAI KONSENTRASI PUPUK NPK DALAM KULTUR TRAPPING FUNGI MIKORIZA ARBUSKULA TERHADAP PERTUMBUHAN TANAMAN JAGUNG (Zea mays L.) Rizky Susanti; Erma Suryanti; Risa Rosita
Prosiding Seminar Nasional Biologi Vol. 11 (2023)
Publisher : Prosiding Seminar Nasional Biologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Jagung (Zea mays L.) merupakan komoditas pangan yang termasuk daloam jenis tanaman pertanian. Pertumbuhan dan perkembangan tanaman sangat dipengaruhi oleh faktor biotik berupa keberadaan mikroba tanah, seperti Fungi Mikoriza Arbuskula (FMA) dan faktor abiotik berupa seperti ketersediaan unsur hara N, P, dan K didalam tanah. FMA dapat diperoleh melalui isolasi langsung dan diperbanyak dengan teknik kultur trapping. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengembanagkan metode perbanyakan spora FMA (kultur trapping) dengan pemberian berbagai konsentrasi pupuk NPK untuk meningkatkan pertumbuhan tanaman jagung. Penelitian ini dilakukan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) satu faktorial dengan empat taraf perlakuan, yaitu P1= FMA + NPK 0 ppm, P2= FMA + NPK 10 ppm, P3= FMA + NPK 30 ppm, dan P4= FMA + NPK 50 ppm. Hasil perbanyakan menunjukkan efektif dalam meningkatkan jumlah kepadatan spora Glomus sp. = 186 spora dan Acaulospora sp. = 65 spora. Selain itu, hasil pengamatan jaringan akar menunjukkan terjalinnya asosiasi antara FMA dan akar jagung yang ditandai dengan ditemukannya organ berupa vesikula dan hifa internal. Hasil uji DMRT menunjukkan pengaruh nyata (α<0,05) pada data tinggi tanaman, jumlah daun, berat basah tajuk dan berat basah akar yaitu pada perlakuan P2= FMA + NPK 10 ppm.
UJI EFEKTIVITAS PESTISIDA ORGANIK CAIR TERHADAP BAKTERI PATOGEN YANG MENYERANG DAUN TANAMAN PEPAYA (Carica papaya L.) Ayu Paraswati Kusuma Dewi; Erma Suryanti; Risa Rosita
Prosiding Seminar Nasional Biologi Vol. 11 (2023)
Publisher : Prosiding Seminar Nasional Biologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Bakteri patogen dapat menyebabkan daun tanaman menjadi kasar, daun pepaya menjadi gugur, tulang daun mengerut serta terdapat bercak kuning kecoklatan. Perlu dilakukan pengendalian dengan memberikan pestisida organik, salah satunya terbuat dari asap cair tempurung kelapa untuk membasmi serta membunuh penyakit yang mengganggu tanaman pepaya. Tujuan penelitian ini adalah mengisolasi bakteri patogen yang menyerang daun tanaman pepaya serta mengetahui dampak dari pemberian pestisida organik cair dalam menghambat gejala bakteri patogen pada daun tanaman pepaya. Tahapan dari penelitian ini yaitu survei dan sampling lokasi pengambilan sampel daun tanaman pepaya, praisolasi, isolasi, peremajaan bakteri, identifikasi bakteri yang meliputi morfologi koloni, bentuk sel, uji pewarnaan gram, uji hipersensitivitas, uji postulat koch, dan uji efektivitas pestisida organik pada tanaman pepaya. Bakteri patogen yang menyebabkan nekrotik tinggi pada daun pepaya dan memiliki karakteristik morfologi serta gejala penyakit yang sama dengan isolat awal pada tanaman pepaya yaitu BP4. Dampak pemberian pestisida organik Liqcorist pada konsentrasi 12% tidak memberikan pengaruh karena konsentrasi pestisida yang rendah kurang efektif. Pada konsentrasi 15% memiliki tingkat efektivitas yang baik, karena mampu mengendalikan penyakit akibat serangan bakteri patogen pada tanaman pepaya. Sedangkan pada konsentrasi 17% tidak memberikan pengaruh karena tingginya konsentrasi yang diberikan dapat mengakibatkan fitotoksisitas pada daun tanaman pepaya (Carica papaya L.).

Page 6 of 19 | Total Record : 189