cover
Contact Name
-
Contact Email
journal@mail.unnes.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
journal@mail.unnes.ac.id
Editorial Address
Sekaran Gunungpati Semarang 50229
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Prosiding Seminar Nasional Biologi
ISSN : 20868286     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Prosiding Seminar Nasional Biologi, terbitan ini berisi artikel bidang ilmu Biologi diterbitkan secara berkala 12 bulanan.
Articles 189 Documents
KEANEKARAGAMAN JENIS GASTROPODA PADA KOMUNITAS MANGROVE DI MOROSARI, DESA BEDONO, SAYUNG KABUPATEN DEMAK Partaya Partaya; Ning Setiati
Prosiding Seminar Nasional Biologi Vol. 11 (2023)
Publisher : Prosiding Seminar Nasional Biologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Keberadaan hutan mangrove sangat penting bagi perlindungan darat wilayah pantai dan menjadi tempat yang penting bagi biota yang hidup di zona tersebut, selain itu berfungsi sebagai Kawasan konservasi flora dan fauna pantai. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji kekayaan jenis dan keanekaragaman jenis gastropoda di area mangrove di Morosari. Metode pengambilan data penelitian dengan menggunakan metode kuadrat. Hasil penelitian menunjukkan terdapat 19 jenis gastropoda dan indeks keanekaragaman jenis Shannon-Wienner H’ = 2,36 termasuk kategori keanekaragaman tingkat sedang. Jenis gastropoda dengan jumlah individu terbanyak dari jenis Cassidula sulculosa.
ANALISIS JEJAK MAMALIA DI GUNUNG UNGARAN JAWA TENGAH Krissantia Serlin Anjarlina; Margareta Rahayuningsih; Wahid Akhsin Budi Nur Sidiq; M Nurul Huda Fadli Zaka
Prosiding Seminar Nasional Biologi Vol. 11 (2023)
Publisher : Prosiding Seminar Nasional Biologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Peran mamalia pada kawasan konservasi sangat penting untuk mendukung ekosistem terutama di Gunung Ungaran. Informasi kekayaan jenis mamalia di kawasan ini masih belum banyak diketahui, sehingga perlu dilakukan penelitian lebih lanjut. Penelitian ini bertujuan menganalisis jejak mamalia yang ditemukan di Gunung Ungaran Jawa Tengah. Metode yang digunakan dalam penelitian adalah metode eksplorasi, pengamatan dilakukan dengan cara menjelajahi kawasan grid berukuran 2x2 km tepatnya pada 4 stasiun pengamatan yaitu, grid U9; U15; U16; U22; U23, serta mendata dan menganalisis temuan jejak mamalia. Hasil penelitian menunjukkan sebanyak 5 jenis jejak yang telah teridentifikasi. Berdasarkan analisis jejak, jenis mamalia yang teridentifikasi sebanyak 5 spesies (6 famili), yaitu (1)tapak kaki (footprint); (2)kotoran (feses); (3)cakaran; (4)gesekan; dan (5)bekas makan. Jenis mamalia yang teridentifikasi berdasarkan analisis jejak terdapat 5 spesies dari 6 famili, yaitu: babi hutan (Sus scrofa Linnaeus, 1758), kijang muncak (Muntiacus muntjak Zimmermann, 1780), musang luwak (Paradoxurus hermaphroditus Pallas, 1777), Landak jawa (Hystrix javanica F. Cuvier, 1823), trenggiling jawa (Manis javanica Dermarest, 1822), dan famili felidae. Jenis jejak mamalia paling banyak ditemui pada grid U16 yang merupakan daerah ekoton yaitu pertemuan antaran habitat hutan sekunder dan perkebunan yang memungkinkan terjadinya efek tepi (edge effects). Pada grid U16 menyediakan sumber pakan yang melimpah serta terdapat koridor satwa yang digunakan mamalia untuk berpindah dari habitat ke habitat lain yang terisolasi.
KAJIAN PENGETAHUAN LOKAL DAN NILAI KEPENTINGAN BUDAYA TUMBUHAN BERGUNA MASYARAKAT SEKITAR KKI KEBUN RAYA PURWODADI Septi Nur Adelisa; LDK Sari; BA Ciptaningrum
Prosiding Seminar Nasional Biologi Vol. 11 (2023)
Publisher : Prosiding Seminar Nasional Biologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Bentuk-bentuk pemanfaatan tumbuhan belum banyak terdokumentasikan, namun saat ini, telah banyak dikembangkan melalui penelitian etnobotani. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis-jenis tumbuhan berguna yang dimanfaatkan masyarakat sekitar KKI Kebun Raya Purwodadi, mengetahui nilai kepentingan tumbuhan berguna, dan status konservasinya. Jenis penelitian mixed methods menggunakan strategi eksploratoris sekuensial (kualitatifkuantitatif). Sasaran penelitian adalah informan kunci (key informant) yang dipilih secara purposive dan snowball sampling. Teknik pengumpulan data yaitu wawancara terbuka dan semi terstruktur didampingi dengan panduan wawancara dan voucher gambar (metode walk-in-thewoods). Analisis data secara deskriptif kualitatif dan kuantitatif (ICS). Hasil penelitian menunjukkan 113 jenis tumbuhan dari 51 suku yang dimanfaatkan masyarakat sekitar KKI Kebun Raya Purwodadi. Fabaceae merupakan suku yang paling banyak dimanfaatkan, obat dan kosmetik merupakan kategori kegunaan yang paling banyak dimanfaatkan. Kelapa (Cocos nucifera) adalah tanaman yang dianggap paling berguna dengan ICS tertinggi yaitu 89 dan tergolong kedalam semua kategori kegunaan. Status konservasi tumbuhan berguna di KKI Kebun Raya Purwodadi yaitu terdapat 57 jenis dari 113 jenis tumbuhan berguna yang terkonservasi. Sebanyak 52 jenis tergolong sehat dan 5 jenis tergolong kurang sehat. Menurut IUCN Red List, terdapat 26 jenis (NE), 4 jenis (DD), 23 jenis (LC), 1 jenis (NT), 1 jenis (VU), 1 jenis (EN), dan 1 jenis (CR).
INFEKSI GANDA SPESIES BEGOMOVIRUS PADA TANAMAN TERUNG DAN CABAI DI SLEMAN, YOGYAKARTA EA Sidik; Hartono Hartono; S Sulandari
Prosiding Seminar Nasional Biologi Vol. 11 (2023)
Publisher : Prosiding Seminar Nasional Biologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Terung dan cabai merupakan jenis tanaman populer yang banyak dibudidayakan di berbagai daerah terutama Yogyakarta. Semakin meluasnya gejala infeksi penyakit kuning yang disebabkan oleh Begomovirus selalu menjadi kendala di lapang, sehingga perlu diidentifikasi lebih lanjut infeksi campuran penyebab keparahan. Penelitian bertujuan untuk mengidentifikasi penyebab penyakit kuning pada terung dan cabai menggunakan primer spesifik. Koleksi sampel di daerah Minomartani, Sleman, Yogyakarta menggunakan metode judgmental sampling dengan kriteria infeksi tertentu, masing-masing diambil sebanyak 10 sampel daun. Identifikasi molekuler menggunakan PCR dengan dua jenis primer spesifik yaitu PepYLCV-R/PepYLCV-F dan TLCV-CPT/TLCV-CPI. Insidensi penyakit kuning pada kedua sampel hingga 100% dengan gejala menguning, malformasi daun, mosaik, dan kerdil. Pita DNA hasil amplikasi isolat terung dan cabai telah berhasil divisualisasi dengan fragmen berukuran ± 850 bp untuk infeksi Pepper yellow leaf curl virus dan ± 700 bp untuk Tomato leaf curl virus. Timbulnya gejala bervariasi tersebut dihasilkan dari infeksi ganda dua spesies Begomovirus yang terjadi secara alami pada pertanaman. Telah terbukti bahwa tanaman terung dan cabai dapat diinfeksi oleh dua spesies virus yang sama, sehingga dapat digunakan sebagai dasar rekomendasi dalam penentuan jenis tanaman yang boleh dan tidak boleh ditanam di sekitar pertanaman utama atau sebagai rotasi tanamnya.
KONSERVASI LINGKUNGAN BERBASIS KEARIFAN LOKAL UPACARA RUWATAN DALAM MENJAGA VEGETASI DAN SUMBER MATA AIR DI PETIRTAAN JOLOTUNDO Muhamad Hilmi Ihsanul Iman; Lisa Rohmatul Ullah; Khoirunnisa Khoirunnisa; Alisa Dwi Zhafira
Prosiding Seminar Nasional Biologi Vol. 11 (2023)
Publisher : Prosiding Seminar Nasional Biologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dalam upacara ruwatan yang telah diteruskan dari generasi ke generasi, terungkap rahasia bagaimana manusia dan alam dapat harmonis bersatu demi kelestarian lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peran penting kearifan lokal dalam bentuk upacara ruwatan dalam upaya menjaga vegetasi dan sumber mata air di kawasan Petirtaan Jolotundo sebagai bagian dari strategi konservasi lingkungan. Metode penelitian mencakup survey lapangan, wawancara mendalam dengan komunitas setempat, serta menganalisis vegetasi, sumber air dan melakukan studi pustaka. Upacara ruwatan memiliki peran sentral dalam memelihara ekosistem di Petirtaan Jolotundo. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: 1) Tahap pelaksanaan Ruwatan berupa Sumaningah (pengumuman), Manunggaling Tirta (pencampuran air suci), penanaman pohon, pelepasan burung, sambutan, dan doa ala tradisi Jawa, 2) Tingkat usia masyarakat tidak berpengaruh pada tingkat pengetahuan lokal, 3) Tingkat apersepsi masyarakat terhadap pengetahuan lokal konservasi lingkungan yang mengacu pada konservasi sumber mata air masih tinggi, 4) Berdasarkan hasil tersebut disimpulkan bahwa bambu merupakan tumbuhan yang paling dikenali oleh masyarakat untuk pelestarian lingkungan dalam menjaga sumber mata air.
PENGARUH CAHAYA SERTA KOMBINASI NAA DAN 2,4-D TERHADAP INDUKSI KALUS CABAI MERAH VARIETAS LOTANBAR Mia Chalimatur Rosyidah; Noor Aini Habibah
Prosiding Seminar Nasional Biologi Vol. 11 (2023)
Publisher : Prosiding Seminar Nasional Biologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Cabai merah (Capsicum annuum L) varietas lotanbar merupakan jenis komoditas pertanian potensial bagi kebutuhan pangan Indunesia. Cabai memiliki kandungan senyawa yang berpotensi sebagai obat seperti capsaicinoid, karotenoid, flavonoid dan lain sebagainya. Melalui induksi kalus, dapat dihasilkan senyawa metabolit lebih banyak dibanding dengan kultur biasa. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis pengaruh pemberian NAA dan 2,4-D serta cahaya terhadap induksi kalus cabai merah varietas lotanbar. Pada penelitian ini menggunakan rancangan acak kelompok dengan dua faktor yaitu cahaya ( gelap dan terang ) serta NAA ( 0 ; 0,5 ; 1) ppm dan 2,4-D ( 0; 0,5; 1) ppm yang dikombinasikan. Eksplan yang digunakan yaitu hipokotil ±1 cm hasil perkecambahan benih secara in vitro berumur 15 hari. Data dianalisis dengan anova dua arah lalu dilanjutkan dengan uji Tukey. Hasil penelitian menunjukkan tidak ada pengaruh interaksi ZPT dan kondisi pencahayaan terhadap induksi kalus cabai. Faktor ZPT berpengaruh terhadap pertumbuhan kalus, waktu muncul kalus, dan presentase kalus. Kondisi optimal induksi kalus terdapat pada kombinasi ZPT 2,4-D 1 ppm + NAA 0 ppm pada kondisi gelap. Morfologi kalus yang dihasilkan keseluruhan bertekstur remah . Warna kalus pada kondisi terang ialah kuning kehijauan. Sedangkan pada kondisi gelap warna kalus yang dihasilkan putih hingga putih kecoklatan.
KARAKTERISASI TRANSPORTER NITROGEN, FOSFOR DAN KALIUM DARI RHIZOBIUM UNTUK TANAMAN Talitha Widiatningrum
Prosiding Seminar Nasional Biologi Vol. 11 (2023)
Publisher : Prosiding Seminar Nasional Biologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Beberapa tanaman mampu mengembangkan pola symbiosis dengan rhizobium untuk membantu perolehan nitrogen, fosfor dan kalium sebagai unsur hara utama yang menentukan produktivitas tanaman. Simbiosis ini dimulai dengan pelepasan isoflavonoid dari akar yang bertindak sebagai molekul sinyal pemanggil bakteri, selanjutnya bakteri melepaskan faktor nod untuk induksi hubungan mutualisme. Beberapa transporter berperan dalam mekanisme hantaran nutrien. Permasalahannya, diversifikasi transporter tumbuhan sangatlah luas sehingga memberikan fungsi transpor yang saling tumpang tindih dan memberikan pemahaman yang rancu. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk melakukan review sekaligus kajian bioinformatika homologi dan hubungan kekerabatan untuk memberikan pemahaman yang utuh tentang fungsi transporter. Hasil review menunjukkan adanya 3 fungsi transporter, yaitu transpor ammonium, transpor fosfat inorganik serta transpor kalium. Sementara itu, hasil analisis bioinformatika menemukan adanya hubungan kekerabatan yang cukup dekat dari masing-masing transporter.
PENGARUH PEMBERIAN MAKANAN TAMBAHAN (PMT) BERBASIS DAUN KELOR DAN IKAN LAUT TERHADAP KADAR ZINC SERUM BALITA STUNTING DI SEDAN KABUPATEN REMBANG TAHUN 2022 Ari Yuniastuti; AD Safarina; Nugrahanigsih WH; Lisdiana Lisdiana
Prosiding Seminar Nasional Biologi Vol. 11 (2023)
Publisher : Prosiding Seminar Nasional Biologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Studi ini berfokus pada pentingnya zinc (Zn) sebagai mikronutrien esensial dalam kesehatan balita, terutama pada anak di bawah lima tahun. Zinc berperan dalam perbaikan jaringan dan fungsi tulang, dan kekurangan zinc dapat menyebabkan terhambatnya pertumbuhan dan potensi stunting pada balita. Untuk mengatasi hal ini, penelitian ini menguji efek dari memberikan makanan tambahan berbasis daun kelor (Moringa oleifera) dan ikan air laut kepada balita yang mengalami stunting. Penelitian dilakukan pada 30 balita dengan status gizi stunting dan stunting berat di wilayah kerja Puskesmas Sedan, Kabupaten Rembang. Selama 63 hari, balita tersebut diberikan makanan tambahan berbasis daun kelor dan ikan laut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa setelah intervensi, kadar zinc dalam darah dan tinggi badan rata-rata balita mengalami peningkatan. Ada juga hubungan yang signifikan antara kadar zinc dan tinggi badan balita, menunjukkan bahwa peningkatan kadar zinc berhubungan erat dengan peningkatan tinggi badan. Dalam kesimpulan, pemberian makanan tambahan berbasis daun kelor dan ikan laut memiliki dampak positif terhadap kadar zinc dan tinggi badan balita stunting di Puskesmas Sedan, Kabupaten Rembang. Ini menunjukkan bahwa intervensi semacam itu dapat berpengaruh positif pada kesehatan balita dan potensial untuk mengatasi masalah stunting.
EFEK EKSTRAK DAUN TEH HIJAU (Camelia sinensis L) TERHADAP STRUKTUR HISTOLOGIS HEPAR TIKUS DIINDUKSI PARASETAMOL M.A. Sunny; Wulan Christijanti
Prosiding Seminar Nasional Biologi Vol. 11 (2023)
Publisher : Prosiding Seminar Nasional Biologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Parasetamol yang dikonsumsi secara berlebihan, dapat menyebabkan kerusakan hepar. Salah satu tanda kerusakan hepar adalah perubahan struktur histologis. Ekstrak teh hijau diyakini mampu bersifat sebagai hepatoprotektor. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efek ekstrak teh hijau terhadap histologiss hepar tikus diinduksi parasetamol. Tikus jantan sebanyak 25 ekor dibagi menjadi 5 kelompok yaitu K, K+ diinduksi parasetamol 200 mg/kg BB, kelompok perlakuan diinduksi parasetamol 200 mg/kg BB dan ekstrak teh hijau 175 mg (P1), 350 mg (P2), 700 mg/kg BB (P3). Ekstrak teh hijau diberikan selama 14 hari dan pada hari ke 15 diberi parasetamol selama 10 hari. Hepar dibuat preparat histologis dengan metode parafin dan pewarnaan hematoksilin-eosin (HE). Data perubahan struktur berupa degenerasi parenkimatosa, degenerasi hidropik dan nekrosis diamati dengan skoring Manja Roenigk. Data dianalisis menggunakan uji statistic non parametrik Kruskal Wallis dilanjutkan dengan uji Duncan. Pemberian ekstrak teh hijau dosis 175 mg tidak berpengaruh signifikan dalam mencegah perubahan struktur histologis hepar yang disebabkan oleh parasetamol. Kelompok P2 dan P3 memberikan hasil berbeda signifikans dalam mengurangi degenerasi parenkimatosa, degenerasi hidropik dan nekrosis. Disimpulkan, ekstrak teh hijau mampu mencegah perubahan histologis hepar akibat induksi parasetamol.
KARAKTERISTIK MORFOLOGI DAN LUASAN PILEUS JAMUR TIRAM AKIBAT PERBEDAAN PENEMPATAN MEDIA BAGLOG Maulida Nuradellia; Frisca Dynasti Putri; Timotius Surya Saputra; Muhammad Isbat Amrullah; Fadhila Fauzia Syahriar; Amin Retnoningsih
Prosiding Seminar Nasional Biologi Vol. 11 (2023)
Publisher : Prosiding Seminar Nasional Biologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Jamur Tiram Putih merupakan salah satu jenis jamur pangan yang banyak dibudidayakan oleh petani jamur. Budidaya jamur tiram putih mudah untuk dilakukan karena tidak membutuhkan biaya perawatan mahal serta tidak memerlukan lahan yang luas. Kumbung jamur digunakan sebagai tempat penyimpanan rak media baglog untuk produksi jamur tiram. Luas area kumbung jamur menjadi salah satu perhitungan yang harus disiapkan oleh pembudidaya jamur sebelum mengembangkan usaha. Tujuan kegiatan PKL ini adalah menganalisis dampak penempatan posisi baglog terhadap karakteristik morfologi dan luasan pileus jamur tiram. Hasil kegiatan analisis ini menunjukkan bahwa posisi penempatan baglog secara vertikal lebih efektif dan efisien dalam menghasilkan pertumbuhan jamur tiram putih. Posisi penempatan baglog secara horizontal dapat memuat jumlah penyimpanan baglog yang lebih maksimal dibandingkan posisi penempatan baglog secara vertikal. Posisi penempatan baglog secara horizontal memungkinkan pencegahan terjadinya pembusukan akibat penyiraman air pada media baglog serta mampu memproduksi jumlah badan buah jamur tiram lebih banyak dibandingkan dengan posisi vertikal. Sehingga posisi penempatan baglog secara horizontal dalam budidaya jamur tiram cocok diterapkan oleh petani jamur tiram karena dengan luas kumbung jamur yang minimal dapat menghasilkan jumlah jamur yang maksimal akibat penempatan posisi baglog secara horizontal.

Page 8 of 19 | Total Record : 189