cover
Contact Name
Muhammad Dhafir
Contact Email
m_dhafir20012@usk.ac.id
Phone
+628116810529
Journal Mail Official
jronatp@usk.ac.id
Editorial Address
Jalan. Tgk. Hasan Krueng Kalee, No. 3 Kopelma Darussalam-Banda Aceh
Location
Kab. aceh besar,
Aceh
INDONESIA
Rona Teknik Pertanian
ISSN : 20852614     EISSN : 25282654     DOI : -
JRTP is the official journal from the Department of Agricultural Engineering, Faculty of Agriculture, Syiah Kuala University (Unsyiah), Banda Aceh-Indonesia. It covers and devotes a complete and interdisciplinary wide range of research and review in engineering applications for agriculture and biosystems: agricultural machinery, soil and water engineering, tillage, precision farming, post-harvest technology, agricultural instrumentation, sensors, bio-robotics, systems automation, processing of agricultural products and foods, quality evaluation and food safety, audit energy, waste treatment and management, environmental control, energy utilization agricultural systems engineering, bio-informatics, computer simulation, farm work systems, mechanized farming and ergonomi.
Articles 207 Documents
Pengaruh Pemberian Bahan Organik Dan Kapur Terhadap Kapasitas Kerja Dan Efisiensi Traktor Pada Lahan Kering Zulfakri Zulfakri; Fachruddin Fachruddin; Angga Defrian
Rona Teknik Pertanian Vol 12, No 2 (2019): Volume 12, No. 2, Oktober 2019
Publisher : Department of Agricultural Engineering, Syiah Kuala University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17969/rtp.v12i2.15452

Abstract

Abstrak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian bahan organik dan kapur berbagai dosis terhadap kapasitas kerja dan efisiensi traktor pada lahan kering. Penelitian ini menggunakan rancangan acak kelompok (RAK) faktorial yang terdiri dari 2 (dua) faktor yaitu bahan organik pada taraf 0, 6, dan 12 ton/ha sedangkan kapur pada taraf 0, 0,8 dan 1,6 ton/ha dengan 3 (tiga) kali pengulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Perlakuan bahan organik 12 ton/ha menghasilkan kapasitas lapang, efisiensi lebih tinggi serta slip roda dan kebisingan traktor yang lebih rendah dibandingkan dengan tanpa pemberian bahan organik.The Influence Of  Organic And Lime Materials On Working Capacity And Efficiency Of Tractors In Dry Land Abstract. This study aims to determine the effect of giving organic material and various doses of lime on the working capacity and efficiency of tractors on dry land. This study used a factorial randomized block design (RCBD) consisting of 2 (two) factors, namely organic matter at levels 0, 6, and 12 tons/ha while lime at levels 0, 0.8 and 1.6 tons/ha with 3 (three) repetitions. The results showed that the treatment of 12 tons/ha of organic material resulted in roomy capacity, higher efficiency and lower wheel slip and tractor noise compared to without the provision of organic material. 
Potensi Pemanfaatan Membran Untuk Regenerasi Refrigeran Dari Absorber Pada Sistem Pendingin Absorpsi Lithium Bromide-H2O Bayu Rudiyanto
Rona Teknik Pertanian Vol 8, No 1 (2015): Volume 8, No. 1, April 2015
Publisher : Department of Agricultural Engineering, Syiah Kuala University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17969/rtp.v8i1.2682

Abstract

Abstrak. Sistem pendingin absorpsi  mempunyai karakteristik yaitu untuk menghasilkan siklus pendinginan tidak menggunakan kompresor tetapi menggunakan energi panas. Pemanfaatan energi tingkat rendah atau panas untuk proses regenerasi pada generator tidak semua bisa dimanfaatkan bila temperatur kurang dari 85 °C. Oleh karena itu perlu dicari alternatif proses  untuk memisahkan antara refrigeran dan absorban tanpa penggunaan panas yang tinggi. Salah satu teknik pemisahan yang sedang berkembang saat ini adalah teknologi membran, dimana prinsip kerjanya adalah dengan memindahkan pelarut dari larutan encer menjadi larutan pekat (strong solution). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada tekanan operasi sebesar 7 bar  menunjukkan tingkat faktor rejeksi yang paling tinggi yaitu sebesar 0,96 tetapi massa fluks yang dihasilkan adalah paling rendah jika dibandingkan dengan tekanan operasi 7,2 bar dan 7,4 bar.  Tekanan 7 bar dengan tingkat rejeksi 0.96 akan menghasilkan waktu pendinginan yang lama, selain itu tingkat faktor rejeksi akan berakibat besarnya beda tekanan uap antara ruang evaporator dan absorber yang akan mempengaruhi temperatur terendah yang dicapai. Utilization Potential Of Membrane For Regeneration Refrigerant From Absorber On  Lithium Bromide Absorption-H2O Cooling System Abstract. The absorption refrigeration system has the characteristic is to produce cycle cooling not using compressor but using thermal energy. Utilization of low-level energy or heat to the regeneration process in the generator, not all can be used when the temperature is less than 85 ° C. So it is necessary to find an alternative process for separating between the refrigerant and absorbent to help or do not use high heat. One of the emerging separation technique today is the membrane technology. The working principle of membrane technology in the separation solution is to remove the solvent from weak solution to strong solution. The results showed that the operating pressure of 7 bar indicates the level of the highest rejection factor is equal to 0.96 but the resulting mass flux is low when compared to the operating pressure of 7.2 bar and 7.4 bar. Pressure of 7 bar with a rejection rate of 0.96 will result in a longer cooling time, otherwise it will result in rejection factor levels vapor pressure difference between the evaporator and the absorber chamber that will affect the lowest temperature attained.
Analisa Efektifitas Pemecah Kemiri Di Kabupaten Solok Sumatera Barat Renny Eka Putri; Rise Prana Sari; Ashadi Hasan
Rona Teknik Pertanian Vol 15, No 2 (2022): Volume No. 15, No. 2, Oktober 2022
Publisher : Department of Agricultural Engineering, Syiah Kuala University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17969/rtp.v15i2.26060

Abstract

Abstrak. Kemiri adalah tanaman perkebunan yang sangat banyak manfaatnya bagi masyarakat. Daging biji merupakan bagian yang paling banyak manfaatnya. Proses pemecahan kemiri dilakukan secara manual dan dengan menggunakan alat atau mesin. Adapun tujuan penelitian adalah untuk melakukan analisis efektifitas kemiri di kabupaten Solok di Sumatera Barat.  Penelitian dilakukan dengan dua perlakukan yaitu dengan melakukan pembekuan bahan dan menyiram setelah dijemur dan menggunakan metoda pada umumnya. Parameter yang dievaluasi pada penelitian adalah sifat fisik kemiri, kapasitas kerja efektif, rendemen pemecahan, pengukuran kadar air, persentase kerusakan hasil, kecepatan putar alat, tingkat kebisingan alat.  Kemampuan dari alat pemecah kemiri dengan bahan baku dibekukan sebesar 924,35 kg/jam, dengan rendemen sebesar didapat 35%. Persentase Hasil utuh yang paling baik yaitu pada kemiri dengan perlakuan pembekuan dalam freezer sebesar 83%. Hal ini dapat dijadikan acuan oleh petani kemiri dalam mengolah kemiri sebelum dipecah untuk mendapatkan hasil yang maksimal.Analysis of the Effectiveness of Candlenut Crackers in Solok Regency, West Sumatra Abstract. Candlenut is a plantation crop that has many benefits for the community. The flesh of the seed is the most beneficial part. The process of splitting hazelnut is done manually and by using a tool or machine. The research objective is to analyze the effectiveness of candlenut in Solok district, West Sumatra. The research was carried out with two treatments, namely by freezing the material and watering it after drying it and using the general method. Parameters observed in this study were the physical properties of candlenut, adequate working capacity, yield of solution, measurement of moisture content, percentage of yield damage, tool rotation speed, tool noise level. The work capacity obtained in hazelnut which was subjected to freezing treatment was 924.35 kg/hour. The highest yield was obtained from frozen hazelnut by 35%. The best percentage of intact yield was candlenut with freezing treatment in the freezer of 83%.
Potensi Pengawetan Nano Edible Coating Kombinasi Gelatin Tulang Sapi dan Pektin Kulit Apel pada Kacang Tanah Irfan Mustafa; Khairul Maghfirah Hasanah; Maulida Hikmaranti; Johannes Marulitua Nainggolan
Rona Teknik Pertanian Vol 14, No 1 (2021): Volume 14, No.1, April 2021
Publisher : Department of Agricultural Engineering, Syiah Kuala University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17969/rtp.v14i1.18199

Abstract

Abstrak. Kacang tanah sering ditumbuhi jamur A. flavus, sehingga perlu di awetkan melalui pengemasan edible coating. Potensi pengawetan nano edible coating yang efektif dapat diterapkan melalui teknik penyemprotan dan terbuat dari formulasi yang optimal seperti limbah organik berupa gelatin tulang sapi, pektin kulit apel, dan bahan antifungi berupa minyak essensial kunyit. Ekstraksi untuk mendapatkan gelatin tulang sapi dan pektin dari kulit apel secara maksimal menggunakan pelarut asam sitrat. Bagian tulang sapi yang tinggi gelatin yaitu tulang belikat dan memiliki kekuatan gel yang kuat sesuai standar GMIA dan kandungan protein yang tinggi dibandingkan gelatin komersial. Ekstraksi pektin kulit apel didapatkan hasil yang maksimal dengan pengeringan beku yang dilanjutkan pengayakan halus dan diekstraksi dengan asam sitrat, sehinga didapatkan produksi, metoksi, viskositas dan berat molekul pektin yang tinggi. Minyak essensial kunyit konsentrasi rendah dapat menghambat Alfatoksin dengan baik. Pembentukan nano partikel yang umum yaitu berbasis kitosan karena dapat mencapai ukuran partikel yang sesuai untuk pembuatan edible coating. Gelatin tulang sapi dan pektin kulit apel yang dikombinasikan dengan minyak essensial kunyit memiliki potensi yang baik untuk pembuatan edible coating. Kombinasi 2 bahan utama tersebut menghasilkan elongasi melebihi standar 50% sehingga lebih efektif.Preservation Potential of Nano Edible Coating Combination of Cattle Bone Gelatin and Apple Peel Pectin on PeanutsAbstract. Peanuts are often overgrown with A. flavus, so they need to be preserved through edible coating packaging. The effective preservation potential of nano edible coatings can be applied through spraying techniques that are made from optimal formulations of organic waste such as cattle bone gelatin, apple peel pectin, and antifungal ingredients such as turmeric essential oil. Extraction to obtain cattle bone gelatin and pectin from apple peel maximally using citric acid as solvent. Part of cattle bone that is high in gelatin is the scapula and has a strong gel strength according to GMIA standards and it also contains high protein compared to commercial gelatin. Extraction of apple peel pectin obtained maximum results by freeze-drying followed by fine sieving and extracted with citric acid, so that high pectin production, methoxy, viscosity, and molecular weight were obtained. Turmeric essential oil with low concentration can inhibit Aflatoxins well. The formation of common nanoparticles is based on chitosan because it can reach a suitable particle size for making edible coatings. Cattle bone gelatin and apple peel pectin combined with turmeric essential oil has good potential for the composition of edible coatings. The combination of these 2 main ingredients produces elongation exceeding the standard 50%, so it is more effective. 
Desain dan Uji Performansi Alat Pengering Gula Semut Untuk Meningkatkan Kualitas Produksi Industri Rumahan Christian Soolany; Mutia Pamikatsih; Setya Permana Sutisna
Rona Teknik Pertanian Vol 16, No 2 (2023): Volume No. 16, No. 2, Oktober 2023
Publisher : Department of Agricultural Engineering, Syiah Kuala University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17969/rtp.v16i2.31195

Abstract

Abstrak. Gula semut adalah produk diversifikasi gula palma berbentuk butiran yang diperoleh dari nira aren, atau nira kelapa. Tanaman Kelamapa banyak tumbuh dengan subur di Kabupaten Cilacap, salah satunya dihasilkan oleh Kelompok Tani Semi Rahayu yang berada di Desa Prapagan Kecamatan Jeruk Legi. Kelompok tani ini mampu menghasilkan gula kelapa sebesar 2-3 ton per bulan. Proses produksi gula semut di kelompok tani semi rahayu dilakukan secara konvensional. Salah satu proses penting dalam proses produksi gula semut yaitu pengeringan. Proses pengeringan yang tidak sesuai dengan standar akan menyebabkan gula semut yang diproduksi mempunyai umur simpan yang pendek. Hal ini menjadi salah satu permasalahan pada kelompok tani semi rahayu karena proses pengeringan masih dilakukan secara manual. Untuk mengatasi permasalahan ini maka solusi yang ditawarkan yaitu teknologi tepat guna berupa alat pengering yang diharapkan dapat meningkatkan kualitas gula semut sehingga umur simpan menjadi lebih panjang. Tujuan penelitian ini adalah menghasilkan gula semut dengan kadar air sesuai dengan baku mutu standar dengan rekayasa teknologi berupa alat pengering gula semut. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah rancang bangun konvensional yang terdiri dari rancangan structural dan rancangan fungsional. Selanjutnya dilakukan uji kinerja dari alat pengering dengan melihat kadar air yang dihasilkan dari proses pengeringan. Hasil yang diperoleh dari 3 kali uji kinerja dengan kapasitas 50 kg dengan setiap 5 fan yang masing – masing fan berisi 10 kg gula semut. Pengukuran selama 8 jam diperoleh nilai kadar air pengukuran pertama adalah 2,583 % b/b, 2,417 % b/b, dan 2,083 % b/b. suhu pengeringan yang digunakan 60 oC . rata – rata kadar air yang dihasilkan sebesar 2,361 %, b/b dengan waktu pengeringan 8 jam menggunakan Gas LPG dengan konsumsi sebesar 2,1 kg.Design and Performance Test of Palm Sugar Dryer to Improve the Quality of Home Industry Production Abstract. One of the important processes in the production of palm sugar is drying. The drying process that is not in accordance with the standard will cause the palm sugar produced to have a short shelf life. This is one of the problems experienced especially for home industry producers because the drying process is still done traditionally. To overcome this problem, the solution offered is appropriate technology in the form of a dryer which is expected to improve the quality of palm sugar so that the shelf life becomes longer. The purpose of this research is to produce palm sugar dryer that is in accordance with the needs and capabilities of home industries so that it can produce palm sugar with water content according to standard quality standards. The method used in this study is a conventional design consisting of structural design and functional design. Furthermore, the performance test of the dryer was carried out by looking at the moisture content resulting from the drying process. The results obtained from three-time performance tests with a capacity of 50 kg and measurements for 8 hours obtained water content values were 2.583% w/w, 2.417% w/w, and 2.083% w/w. The drying temperature used was 60 oC which resulted in an average moisture content of 2.361%, w/w, drying time of 8 hours and required 2.1 kg of LPG gas as the main fuel.
Pengaruh Waktu dan Suhu Pengeringan terhadap Kandungan Pati pada Pembuatan Bubuk Umbi Talas (Colocasia esculenta L. Schott) untuk Bioplastik Musthofa Lutfi; Alin Rosyidatul Afidah SR; Sandra Malin Sutan; Gunomo Djoyowasito
Rona Teknik Pertanian Vol 12, No 1 (2019): Volume 12, No. 1, April 2019
Publisher : Department of Agricultural Engineering, Syiah Kuala University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17969/rtp.v12i1.13003

Abstract

Abstrak. Sektor pertanian merupakan salah satu sektor usaha di Indonesia yang banyak menghasilkan produk makanan untuk kebutuhan pangan masyarakat Indonesia. Salah satu bagian organ tanaman yang dapat dimanfaatkan adalah umbi. Kategori tanaman untuk jenis umbi-umbian ini sangat beragam. Salah satunya adalah umbi talas. Talas merupakan tanaman yang mengandung kadar pati tinggi yaitu 80%. Pati yang ada pada umbi talas ini sangat potensial untuk dijadikan bahan pembuatan bioplastik. Penelitian ini dilakukan untuk menguji kadar pati pada bubuk talas yang memiliki variasi suhu dan waktu pada pengeringannya. Metode penelitian ini menggunakan rancangan acak kelompok (RAK), yang terdiri dari dua faktor, yaitu: Faktor I : Waktu pengeringan (T) yang terdiri dari 4 taraf, yaitu T1 = 3 jam, T2 = 4 jam, T3 = 5 jam, dan T4 = 6 jam. Faktor II : Suhu Pengeringan (P) yang terdiri dari 3 taraf, yaitu P1 = 40°C, P2 = 50°C, dan P3 = 60°C. Berdasarkan hasil penelitian waktu dan suhu pengeringan memberikan pengaruh yang nyata terhadap kadar pati yang diperoleh. Semakin tinggi suhu dan waktu pengeringan maka kadar pati bubuk umbi talas akan semakin rendah. Perlakuan yang paling optimal dan terbaik dalam penelitian adalah perlakuan suhu 40oC waktu 4 jam. Pada perlakuan tersebut diperoleh kadar pati yang tinggi yaitu 76,89%, selain itu pada perlakuan tersebut dapat memperoleh rendemen bubuk umbi talas yang tinggi dalam waktu yang singkat.  The Effect of Time and Temperature of Drying on Starch Content in The Making of Taro Tuber Powder (Colocasia esculenta L. Schott) for Bioplastics Abstract. The agricultural sector is one of the business sectors in Indonesia that produces a lot of food products for the food needs of the Indonesian people. One part of the plant organ that can be used is tuber. The plant categories for these types of tubers are very diverse. One of them is taro tuber. Taro is a plant that contains a high starch content of 80%. Starch in taro tubers is very potential to be used as a material for making bioplastics. This research was conducted to test the starch content of taro powder which has variations in temperature and time on drying. This research method uses a randomized block design (RBD), which consists of two factors, namely: Factor I: Drying time (T) consisting of 4 levels, namely T1 = 3 hours, T2 = 4 hours, T3 = 5 hours, and T4 = 6 hours. Factor II: Drying Temperature (P) which consists of 3 levels, namely P1 = 40 ° C, P2 = 50 ° C, and P3 = 60 ° C. Based on the results of the research the drying time and temperature gave a significant effect on the starch content obtained. The higher the temperature and time of drying, the lower the starch content of powdered taro tuber. The most optimal and best treatment in the study was a treatment temperature of 40oC for 4 hours. In the treatment obtained a high starch content that is 76.89%, in addition to that the treatment can obtain a high yield of taro tuber powder in a short time.
Pengembangan Alat Grading Limbah Serbuk Gergaji untuk Pemanfaatannya sabagai Bahan Campuran Komposit Muhammad Makky; Leo Saputra Napitu; Khandra Fahmy
Rona Teknik Pertanian Vol 10, No 1 (2017): Volume 10, No. 1, April 2017
Publisher : Department of Agricultural Engineering, Syiah Kuala University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17969/rtp.v10i1.7571

Abstract

Abstrak. Sampai saat ini kegiatan pemanenan dan pengolahan kayu di Indonesia masih menghasilkan limbah dalam jumlah yang besar. Pada umumnya serbuk gergaji dari industri perkayuan memiliki bentuk, ukuran dan jumlah yang beragam, sedangkan untuk pemanfaatannya sebagai bahan baku campuran komposit dibutuhkan ukuran bahan serbuk gergaji yang berbeda dengan ukuran tertentu. Adapun ukuran umum yang digunakan untuk pembuatan bahan campuran komposit terdiri partikel berukuran 80 mesh, 40 mesh, 20 mesh, dan 10 mesh. Pemisahan ukuran serbuk gergaji berdasarkan keempat ukuran mesh tersebut diperlukan agar mempermudah dalam memperoleh bahan baku komposit. Penelitian bertujuan untuk merancang alat grading limbah serbuk gergaji untuk digunakan sebagai bahan baku campuran komposit. Proses penelitian ini meliputi pembuatan alat grading serbuk gergaji serta melakukan uji fungsional. Penelitian ini menghasilkan alat grading yang dapat memimsahkan serbuk gergaji berdasarkan empat ukuran berbeda dalam satu kali proses pengayakan. Hasil dari pengujian alat grading ini adalah: (1) alat grading limbah serbuk gergaji, yang memiliki kapasitas kerja sebesar 28,49 Kg/jam, (2) didapatkan nilai rata-rata modulus kehalusan dari masing-masing mesh 10, 20, 40 dan 80 berturut-turut yaitu : 889 gram, 651 gram, 431 gram, dan 168 gram. Sedangkan untuk indeks keseragaman hasil ayakan kasar (80 mesh), sedang (20 mesh dan 40 mesh), dan halus 80 mesh berturut – turut dari ulangan 1, ulangan 2, dan ulangan 3 adalah 5 : 4 : 1, 5 : 4 : 1, dan 5 : 4 : 1. (3) Daya spesifik yang dibutuhkan untuk mencapai kapasitas kerja 28,49 Kg/jam adalah 0,0001568 kW.jam/Kg. (4) didapatkan nilai rendemen sebesar 77,37 %. (5) alat grading limbah serbuk gergaji dengan biaya pokok alat grading sebesar Rp. 243,36/Kg. Development of Sawmill-Waste Grading for Composite Material UtilizationAbstract. Timber harvesting and wood processing in Indonesia produces wastes in large quantities. The waste materials come in variety of shapes, sizes and quantities. For adding the value of these wastes, such as for composite raw material, the particle-size should be uniform, and segregated into different categories. The general particle-size for manufacturing composite materials are 80, 40, 20 and 10 mesh. Therefore, separating the sawmills wastes based on these sizes is necessary in order to utilize it as raw materials for composite production. The study aims to develop a prototype of sawmill-waste grading machine for composite material utilization, and added the value of the waste for application as a raw material for the composite design. The methods includeddesign and manufacturing of a sawmill-waste grading machine as well as performing different tests. The prototype successfully grade and segregrate the sawmills-wastes into four different particles-sizes in a single operation process. The results showed that the machine working capacity is 28.49 Kg.hr-1, while the materials segregrate into four particle-sizes obtained mean of modulus of fineness for each group-size (10, 20, 40 and 80 mesh) are889, 651, 431, and 168 grams respectively. While for the uniformity index of large (10 mesh), medium (20 and 40 mesh), and fine (80 mesh) particles are 5, 4, and 1 respectively, obtained from three replication tests. The specific power required to achieve the working capacity of 28.49 Kg / hr is 0.0001568 kW.hr.kg-1. Overall, the machine performance achieved the efeciency of 77,37%, and the cost for grading the sawmill-waste material is Rp. 243,36 kg-1.
Peningkatan Mutu Beras Giling Menggunakan Zeolit Pada Berbagai Ketebalan Lapisan Pengeringan Gabah Niken Rani Wandansari; Arum Pratiwi; Dwi Purnomo; Latarus Fangohoy
Rona Teknik Pertanian Vol 15, No 1 (2022): Volume No. 15, No. 1, April 2022
Publisher : Department of Agricultural Engineering, Syiah Kuala University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17969/rtp.v15i1.24818

Abstract

Abstrak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kualitas gabah yang dihasilkan pada berbagai kombinasi ketebalan tumpukan gabah dan penambahan jumlah zeolit pada proses pengeringan, serta kualitas beras giling yang dihasilkan berdasarkan persentase kadar air, butir beras kepala dan butir beras patah. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode ekperimental menggunakan box dryer, sedangkan design penelitian yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok Faktorial dengan tiga kali ulangan pada setiap kombinasi perlakuan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa semakin tipis lapisan gabah, maka proses pengeringan menjadi lebih cepat. Demikian pula dengan semakin banyak zeolit yang ditambahkan, maka proses pengeringan membutuhkan waktu yang lebih singkat. Perlakuan lapisan gabah 30 cm dan komposisi zeolit 10% mampu memberikan waktu pengeringan tercepat, yaitu sembilan jam dengan rerata kadar air gabah 13,5%. Ketebalan lapisan gabah dan penambahan zeolit secara signifikan mempengaruhi kualitas fisik beras giling, meliputi persentase kadar air, butir beras kepala, beras patah, beras menir dan butir gabah. Perlakuan ketebalan lapisan gabah 30 cm dengan persentase komposisi zeolit 10% memberikan nilai persentase butir beras kepala tertinggi, yaitu 92,5% dan butir beras patah terendah, yaitu 4,1%. Sebagian besar perlakuan menghasilkan beras dengan kualitas komersial dengan mutu menengah.Improving The Quality Of Milled Rice Using Zeolite At Various Levels Of Paddy Drying Layer Thickness.Abstract. The aim of this study was to determine the quality of the grain produced at various combinations of the paddy pile thickness and the addition of the amount of zeolite in the drying process, as well as the quality of milled rice produced based on the percentage of water content, head rice grains, and broken rice grains. The method used in this research is an experimental method using a box dryer. While the research design used was a factorial randomized block design with three replications for each treatment combination. The results showed that the thinner the layer of paddy, the faster the drying process. Likewise, the more zeolite was added, the drying process took a shorter time. Treatment of 30 cm paddy layer and 10% zeolite composition was able to provide the fastest drying time, which was nine hours with an average grain moisture content of 13.5%. The thickness of the paddy layer and the addition of zeolite significantly affected the physical quality of milled rice, including the percentage of moisture content, head of rice grains, broken rice, groats, and grain. Treatment of the thickness of the 30 cm grain layer with 10 % zeolite composition percentage gave the highest grain percentage value of rice heads, namely 92.5%, and the lowest broken rice grains, namely 4.1%. Most of the treatments produced rice of medium quality commercial quality. 
Uji kinerja Alat Pengering Ikan Tipe Green-House Effect (GHE) Vent Dryer Muhammad Yasar; Raida Agustina; Mustaqimah Mustaqimah; Diswandi Nurba
Rona Teknik Pertanian Vol 13, No 2 (2020): Volume 13, No. 2, Oktober 2020
Publisher : Department of Agricultural Engineering, Syiah Kuala University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17969/rtp.v13i2.17208

Abstract

Abstrak. Diantara permasalahan yang dihadapi oleh sektor usaha perikanan ialah  belum efisiennya teknis pengelolaan  dan tidak stabilnya kontinuitas produksi. Hal ini disebabkan oleh kurangnya sarana prasarana untuk mengolah ikan serta sistem pemasaran ikan segar yang masih konvensional, sehingga cepat membusuk apabila tidak diolah lebih lanjut. Penanganan dan pengolahan yang cepat dan tepat diperlukan untuk mengurangi resiko pembusukan dan dapat meningkatkan nilai jual hingga sampai kepada konsumen. Salah satu teknologi untuk meningkatkan masa simpan ikan ialah dengan cara proses pengeringan. Sebuah alat pengering ikan Green-House Effect (GHE) telah dikembangkan. Pengujian dan analisis alat pengering untuk ikan tersebut disajikan dalam makalah ini. Pengering surya ini menambahkan ventilator berupa exhaust fan guna memaksimalkan proses sirkulasi udara di dalam ruang pengeringan. Parameter yang diukur dalam pengujian ini adalah distribusi suhu, kelembaban relatif, iradiasi dan pengukuran kecepatan udara. Hasil penelitian menunjukan bahwa temperatur di dalam ruang pengering terlihat lebih tinggi yaitu 67°C dibandingkan dengan temperatur di lingkungan karena sifat absorber yang mampu menyerap panas. Sementara itu kelembaban relatif di dalam ruang pengering lebih rendah jika dibandingkan dengan kelembaban di lingkungan yaitu sebesar 30,1%. Nilai iradiasi surya yang diperoleh sangat berfluktuasi dengan nilai tertinggi adalah sebesar 180,6 W/m2. Kecepatan udara di dalam ruang pengering surya lebih stabil dibandingkan dengan kecepatan udara lingkungan karena adanya penambahan ventilator berupa exhaust fan. Hal inilah yang menyebabkan proses pengeringan menjadi lebih cepat.Performance of Green House Effect (GHE) Vent Dryer for Fish DryingAbstract. The problems that occur in the fishery business sector are inefficient and unstable continuity of production. The reasons for this include the lack of infrastructure for processing fish and also the very limited marketing of fresh fish due to its fast-rotting nature if not further processed. Fast and precise handling and processing are needed to reduce the risk of spoilage. One of the technologies to increase the shelf life of fish is the drying process. A greenhouse effect vent dryer type fish dryer has been developed. The testing and analysis of the dryer for these fish are presented in this paper. This solar dryer adds a ventilator in the form of an exhaust fan to maximize air circulation in the drying chamber. The parameters measured in this test are temperature distribution, relative humidity distribution, solar irradiation, and air velocity measurement. The results show that the temperature in the drying chamber is 67 ⸰C higher than the temperature in the environment due to the nature of the absorber which can absorb heat. Meanwhile, the relative humidity in the drying chamber was lower than the humidity in the environment, which was 30.1%. The value of solar irradiation obtained fluctuates where the highest irradiation is 180.6 W / m2. The air velocity in the solar dryer is more stable than the ambient airspeed due to the addition of a ventilator in the form of an exhaust fan. This causes the drying process to take place faster.
Pola Perubahan Penggunaan Lahan Sub Sub Daerah Aliran Sungai (DAS) Cikujang Devianti Devianti
Rona Teknik Pertanian Vol 9, No 2 (2016): Volume 9, No. 2, Oktober 2016
Publisher : Department of Agricultural Engineering, Syiah Kuala University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17969/rtp.v9i2.5651

Abstract

Abstrak. Sub Sub DAS Cikujang merupakan salah satu bagian dari Sub DAS Cimanuk hulu yang dapat menyumbang sedimen ke waduk Jatigede yang berasal dari erosi sebagai akibat perubahan penggunaan lahan yang tidak sesuai dengan kondisi fisik lahan. Hasil kajian memperlihatkan  pola perubahan penggunaan lahan di Sub Sub DAS Cikujang periode 1994-2009, terjadi perubahan penggunaan lahan dari kawasan lindung menjadi kawasan budidaya seluas 742,20 ha. Kawasan lindung pada tahun 1994 seluas 3.213,03 ha menurun menjadi 2.470,83 ha pada tahun 2009 dan kawasan budidaya pada tahun 1994 seluas 9.532,41 ha meningkat menjadi 10.274,61 ha pada tahun 2009 dengan laju perubahan 185,55 ha/tahun. Laju penurunan luasan hutan primer mencapai 54,45 ha/tahun, dan pada tahun 2009 tidak terdapat lagi lahan dengan fungsi sebagai hutan primer. Laju penurunan luasan hutan sekunder mencapai 135,90 ha/tahun dari 2.995,25 ha pada tahun 1994 menjadi 2.451,65 ha pada tahun 2009. Pola perubahan penggunaan lahan di Sub Sub DAS Cikujang sebagian besar dipengaruhi dengan pola perubahan hutan primer dan hutan sekunder pada kawasan lindung. Sedangkan pola perubahan penggunaan lahan pada kawasan budidaya dipengaruhi pola perubahan lahan kebun campuran, tegalan/ladang, perkebunan, dan sawah Land-Use Change Pattern in Cikujang Catchment Area Abstract. Cikujang catchment area is one part of the subzone Cimanuk that can contribute sediment upstream reservoirs to Jatigede derived from erosion as a result of changes in land use that is not in accordance with the physical condition of the land. Based on analysis result of land-use change pattern in Cikujang catchment area in 1994 – 2009 period, land-use had changed 742,20ha from protected areas to cultivated areas, where protected area had decreased from 3.213,03ha in 1994 to 2.470,83ha in 2009 and cultivated area had increased from 10.274,61 ha in 1994 to10.274,61 ha in 2009 with changing rate ha/year. The rate of decreasing primary forest area was 54.45ha/year, as a result there was no land function as primary forest in 2009.  The rate of decreasing secondary forest area was 135,90ha/year ranging from 2.995,25ha in 1994 to 2.451,65ha in 2009. Land-use change pattern in Cikujang catchment area dominantly was influenced by changing pattern of protected forest and secondary forest in protected area, but in cultivated area land-use change pattern was influenced by changing pattern of farm, grassland, and rice field.

Page 9 of 21 | Total Record : 207


Filter by Year

2012 2025