cover
Contact Name
Sukri Rahman
Contact Email
sukrirahman@med.unand.ac.id
Phone
+6281266404069
Journal Mail Official
editorjokli@gmail.com
Editorial Address
Departemen THT-KL FK Universitas Andalas/ RSUP. Dr. M. Djamil Padang Lt.3 Gedung Administrasi dan Poliklinik RSUP. Dr. M. Djamil Jl. P. Kemerdekaan Padang, 25127
Location
Kota padang,
Sumatera barat
INDONESIA
Jurnal Otorinolaringologi Kepala dan Leher Indonesia (JOKLI)
Published by Universitas Andalas
ISSN : -     EISSN : 29617480     DOI : https://doi.org/10.25077/jokli
Core Subject : Health,
Jurnal Otorinolaringologi Kepala dan Leher Indonesia (JOKLI), The Indonesian Journal of Otorhinolaryngology Head and Neck, merupakan Jurnal Ilmiah di bidang Telinga Hidung Tenggorok Kepala dan Leher yang melalui peer review yang menerbitkan artikel ilmiah dalam bentuk Penelitian, Tinjauan Pustaka dan Laporan Kasus dalam bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris
Articles 9 Documents
Search results for , issue "Vol. 3 No. 1 (2024)" : 9 Documents clear
Karakteristik Klinis dan Tatalaksana Pasien Karsinoma Nasofaring di RSUP Dr. M. Djamil Padang Yolanda, Meuthia; Rahman, Sukri; Susanti, Restu
Jurnal Otorinolaringologi Kepala dan Leher Indonesia Vol. 3 No. 1 (2024)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jokli.v3i1.47

Abstract

Karsinoma nasofaring merupakan salah satu kanker kepala leher yang paling sering ditemukan di Indonesia. Karsinoma nasofaring sering terlambat terdiagnosis karena gejala klinis yang tidak khas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik klinis dan tatalaksana pasien karsinoma nasofaring di RSUP Dr. M. Djamil Padang tahun 2018 – 2022. Penelitian ini merupakan penelitian observasional deskriptif dengan pendekatan retrospektif menggunakan data sekunder rekam medis pasien karsinoma nasofaring tahun 2018 – 2022 dengan teknik pengambilan sampel pengambilan sampel total . Pada periode ini tercatat 285 pasien yang pertama kali terdiagnosis karsinoma nasofaring yang belum mendapatkan tatalaksana dan terdapat 250 data pasien karsinoma nasofaring yang memenuhi kriteria inklusi yang kemudian diolah dan ditampilkan dalam bentuk tabel distribusi frekuensi. Pada penelitian ini diperoleh bahwa kejadian karsinoma nasofaring paling banyak ditemukan pada rentang usia 36 – 45 tahun dan 46 – 55 tahun, dengan kejadian lebih sering ditemukan pada laki – laki (66,4%). Keluhan utama yang paling sering dikeluhkan pasien adalah benjolan di leher (58,4%). Gejala klinis yang paling banyak dikeluhkan pasien diantaranya benjolan di leher (76,4%), sumbatan hidung (60%), dan telinga terasa penuh (53,6%). Kebanyakan pasien baru terdiagnosis pada stadium IVA (70,4%) dengan gambaran histopatologi terbanyak adalah karsinoma tidak berdiferensiasi (76,8%). Pada sebagian besar pasien ditemukan metastasis regional dengan lokasi terbanyak pada KGB leher level II (58%), sedangkan metastasis jauh hanya ditemukan pada 1,6% pasien yaitu metastasis tulang. Tatalaksana yang paling banyak diterima pasien adalah kemoterapi neoadjuvan dan dilanjutkan dengan radioterapi.
Gambaran Pasien Laryngopharyngeal Reflux di RSUP Dr. M. Djamil Padang Tahun 2023 Rafly, Alifyar; Asyari, Ade; Afrainin Syah, Nur
Jurnal Otorinolaringologi Kepala dan Leher Indonesia Vol. 3 No. 1 (2024)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jokli.v3i1.55

Abstract

Latar Belakang: Laryngopharyngeal Reflux (LPR) merupakan suatu gangguan rasa nyaman yang disebabkan oleh aliran balik cairan lambung yang berulang ke saluran aerodigestive bagian atas sehingga menyebabkan irirtasi. LPR tidak memiliki gejala yang khas, sehingga sering terlewatkan dalam pemeriksaan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran pasien LPR di bagian THT-BKL RSUP Dr. M. Djamil Padang pada periode 2023. Metode: Penelitian ini adalah penelitian deskriptif retrospektif dengan menggunakan data sekunder dari rekam medis pasien LPR di RSUP Dr. M. Djamil Padang tahun 2023 dan teknik pengumpulan data yang digunakan adalah total sampling dan didapatkan 64 sampel. Hasil: Hasil dari penelitian ini adalah lebih dari setengah penderita LPR adalah perempuan 42 orang (66%); kelompok usia terbanyak yang menderita LPR adalah 46 – 55 tahun (32%); kelompok IMT terbanyak pada penderita LPR adalah ?25 Kg/m2 sebanyak 32 orang (50%); hasil skor RFS yang paling banyak ditemukan adalah ventricular obliterasi dan hipertrofi komisura posterior masing-masing sebanyak 60 orang (94%); pilihan terapi obat yang paling banyak diberikan adalah terapi obat tunggal lansoprazole (9%) dan sekaligus sebagai obat paling banyak diresepkan (89%). Kesimpulan: Kesimpulan dari penelitian ini adalah mayoritas penderita LPR berjenis kelamin perempuan dan usia lanjut, penderita LPR juga paling banyak mengalami obesitas, dan temuan fiberoptic laryngoscopy yang paling banyak ditemui adalah ventricular obliterasi dan hipertrofi komisura posterior, serta obat yang paling sering diberikan adalah obat terapi tunggal dengan lansoprazole.
Hubungan Rasio Neutrofil Limfosit, Rasio Platelet Limfosit, dan Rasio Limfosit Monosit dengan Stadium Klinis Karsinoma Nasofaring di RSUP Dr. M. Djamil Padang Periode 2020-2022 Rahman, Rifna Alya; Rahman, Sukri; Almurdi, Almurdi; Yusri, Elfira; Meinapuri, Malinda; Irawati, Lili
Jurnal Otorinolaringologi Kepala dan Leher Indonesia Vol. 3 No. 1 (2024)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jokli.v3i1.56

Abstract

Karsinoma nasofaring merupakan penyakit kanker ke-5 tersering di Indonesia yang berkaitan dengan infeksi Virus Epsteinn-Barr. Rasio neutrofil limfosit (RNL), rasio platelet limfosit (RPL), rasio limfosit monosit (RLM) merupakan biomarker inflamasi yang dapat mewakili respon inflamasi sehingga dapat menggambarkan progresivitas kanker. Stadion klinis juga digunakan untuk menentukan progresivitas kanker. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan RNL, RPL, dan RLM dengan stadium klinis karsinoma nasofaring. Penelitian ini menggunakan desain penelitian cross sectional dengan menggunakan data rekam medis pasien di RSUP Dr. M. Djamil Padang. Pengambilan sampel dilakukan dengan teknik konsekutif sampling. Total sampel yang digunakan sebanyak 64 sampel. Uji statistik menggunakan uji Chi-square. Hasil penelitian ini diperoleh kasus karsinoma nasofaring lebih banyak terjadi pada jenis kelamin laki-laki (65,6%), kelompok umur 25–49 tahun dan terdiagnosis pada stadium IV A. Hasil pemeriksaan darah rutin berada pada rentang normal yaitu neutrofil (51,5 %), limfosit (76,9%), monosit (57,8%), dan trombosit (54,7%). Nilai RNL, RPL, dan RLM mengalami peningkatan yaitu RNL (85,9%), RPL (68,8%), dan RLM (50%). Hasil uji Chi-square yang diperoleh tidak ada hubungan RNL (p>0,05), RPL (p>0,05), dan RLM (p>0,05) dengan stadion klinis. Dari penelitian ini disimpulkan bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan antara RNL, RPL dan RLM dengan stadion klinis KNF di RSUP Dr. M. Djamil Padang.
Peran Reflux Symptom Index dalam diagnostik terapi pasien Laryngopharyngeal Reflux sebelum dan sesudah diberikan Lansoprazole di Poliklinik THT-KL RSUP Dr. M. Djamil Padang.: Indonesia Monica, Febrina; Asyari, Ade; Miro, Saptino
Jurnal Otorinolaringologi Kepala dan Leher Indonesia Vol. 3 No. 1 (2024)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jokli.v3i1.58

Abstract

Pendahuluan : Laryngopharyngeal Reflux(LPR) adalah pergerakan retrograde dari isi lambung ke daerah laring, faring, trakea, dan bronkus yang berkontak dengan jaringan pada traktus aerodigestif atas yang dapat menimbulkan jejas. Diagnosis dari LPR dapat ditegakkan dengan tindakan non-invasif yaitu dengan Reflux Symptom Index(RSI) dan Reflux Finding Score(RFS), RSI dapat digunakan dalam membantu dokter untuk menilai tingkat keparahan gejala penderita LPR saat pemeriksaan maupun setelah pengobatan. Metode : Jenis penelitian ini adalah analitik observasional dengan pendekatan studi kohort prospektif melalui observasi pasien yang didiagonosis LPR dari nilai RSI yang didapatkan. Jumlah sampel minimal dari hasil perhitungan uji hipotesis beda rata-rata pada 2 kelompok dependen adalah 18 orang. Hasil : Nilai rata-rata sebelum dan sesudah diberikan terapi PPI 21,50±5,969 dan 15,90±9,008 (me=13,5;min=5;maks=36). Hasil uji Wilcoxon Signed Rank Test didapatkan analisis nilai rata-rata RSI sebelum dan sesudah adalah p=0,002. Kesimpulan : didapatkan perubahan bermakna nilai rata-rata RSI sebelum dan sesudah diberikan PPI pada pasien LPR.Kata kunci: Laryngopharyngeal Reflux, Reflux Symptom Index,Proton Pump Inhibitor
Analisis Skor Reflux Symptom Index (RSI) pada Pasien Laryngopharyngeal Reflux dengan Pemberian Lansoprazol dan Ranitidin di RSUP Dr M Djamil Padang Adha, Muhammad Rofid; Asyari, Ade; Asrawati; Usman, Elly; Putra, Syandrez Prima
Jurnal Otorinolaringologi Kepala dan Leher Indonesia Vol. 3 No. 1 (2024)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jokli.v3i1.60

Abstract

Laryngopharyngeal reflux (LPR) is a condition caused by the movement of stomach acid back into the pharynx, larynx and upper digestive tract. One of the diagnostic tools that can be used in LPR is the Reflux Symptom Index (RSI), where RSI can also be used to evaluate symptom improvement in patients before and after administering drug therapy. This study aims to determine the average RSI score before and after giving therapy to LPR patients at Dr M Djamil Hospital, Padang. This research is a retrospective analytical study by taking medical record data on LPR patients at Dr M Djamil Hospital Padang using consecutive sampling techniques. Data analysis was carried out univariately to determine the frequency distribution and bivariately using the paired T-test to analyze the average RSI score. The results of this study were that the majority of LPR sufferers were >50 years old (52.9%), the majority gender was female (76.2%), and the most common complaints were a lump in the throat (100%) and heartburn (100%). The average RSI score before giving therapy was found to be 22.12 ± 6.827 and after giving therapy was 13.18 ± 7.844. Based on the data analysis carried out, the p<0.001. The conclusion of this study was that there was a significant change in the average RSI value before and after administration of lansoprazole and ranitidine therapy in LPR patients.
Diagnosis dan Penatalaksanaan Kista Duktus Tiroglosus FAHMI, ARIF; Rahman, Sukri
Jurnal Otorinolaringologi Kepala dan Leher Indonesia Vol. 3 No. 1 (2024)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jokli.v3i1.62

Abstract

Pendahuluan: Kista duktus tiroglosus merupakan sisa embriologis yang terbentuk karena kegagalan penutupan duktus tiroglosus yang memanjang dari foramen caecum di lidah ke kelenjar tiroid di anterior leher. Kista duktus tiroglosus terdapat pada sekitar 1% populasi di seluruh dunia. Gejala klinis kista ini sering kali asimptomatik, pada pemeriksaan fisik ditemukan benjolan kistik pada anterior leher yang menghilang saat menelan dan menjulurkan lidah. Pemeriksaan penunjang dengan Ultrasonografi, tomografi komputer maupun Magnetic Resonance Imaging. Tatalaksana yang dipilih untuk kista duktus tiroglosus adalah eksisi kista. Laporan Kasus: Seorang laki-laki 50 tahun dengan keluhan benjolan di leher depan sejak 2 tahun yang lalu semakin membesar 1 bulan ini. Pada pemeriksaan fisik didapatkan benjolan ukuran 40x30x15mm pada anterior leher yang menghilang saat menelan dan menjulurkan lidah. Dilakukan pemeriksaan laboratorium tes fungsi tiroid dan ultrasonografi tiroid didapatkan hasil normal. Hasil tomografi komputer didapatkan gambaran kista duktus tiroglosus. Dilakukan eksisi massa tumor didapatkan massa tumor ukuran 25x23x10mm. Hasil pemeriksaan histolopatologi didapatkan gambaran kista duktus tiroglosus. Kesimpulan: Kista duktus tiroglosus merupakan masa kistik jinak pada kepala leher yang sering ditemukan. Diagnosis ditegakkan dengan anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang seperti tes fungsi tiroid, ultrasonografi tiroid dan tomografi komputer. Tatalaksana kista dusktus tiroglosus dengan eksisi kista dan duktus dengan tetap mempertahankan tulang hyoid.
Keterlambatan Diagnosis dan Tatalaksana Benda Asing Koin di Esofagus FAHMI, ARIF; Asyari, Ade
Jurnal Otorinolaringologi Kepala dan Leher Indonesia Vol. 3 No. 1 (2024)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jokli.v3i1.63

Abstract

Pendahuluan : Tertelan benda asing adalah kejadian yang sering terjadi terutama pada anak-anak. Keterlambatan diagnosis dapat terjadi dikarenakan gejala awal yang tidak khas dan kesalahan diagnosis awal yang dapat mengakibatkan kemungkinan komplikasi seperti inflamasi dan nekrotik mukosa esofagus yang membuat gejala menjadi lebih berat. Esofagoskopi kaku digunakan untuk diagnosis dan penatalaksanaan pada benda asing di esofagus. Laporan Kasus : Dilaporkan satu kasus benda asing di esofagus pada seorang anak perempuan usia 3 tahun yang mengeluhkan batuk setelah makan sejak 1 minggu dan nyeri menelan yang semakin memberat sejak 1 hari sebelum masuk Rumah Sakit. Pasien riwayat tertelan koin 3 minggu sebelum masuk Rumah Sakit. Pasien terlambat didiagnosis dan tatalaksana sehingga mengalami komplikasi berupa inflamasi dan nekrosis di mukosa esofagus. Dilakukan tindakan esofagoskopi kaku pada minggu ke tiga setelah tertelan benda asing. Kesimpulan: Keterlambatan diagnosis dan tatalaksana benda asing koin dapat menyebabkan gejala klinis menjadi berat dan terjadinya inflamasi dan terbentuknya nekrotik pada mukosa esofagus. Penegakan diagnosis dan tatalaksana yang tepat penting untuk mencegah terjadinya gejala klinis yang berat dan komplikasi.
Peran Ki67 pada Karsinoma Nasofaring Hakikah, Tika; Rahman, Sukri; Ali, Hirowati
Jurnal Otorinolaringologi Kepala dan Leher Indonesia Vol. 3 No. 1 (2024)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jokli.v3i1.64

Abstract

Latar Belakang: Pendahuluan: Karsinoma nasofaring memiliki rekurensi atau metastasis jauh, yang menandakan suatu adanya aktifitas sel yaitu proliferasi sel. Penilaian adanya suatu proliferasi sel memerlukan biomarker, salah satunya Ki67 yang sampai saat ini sudah dikenal baik sebagai penanda proliferasi sel. Tujuan: Mengetahui peran Ki67 pada karsinoma nasofaring. Tinjauan Pustaka: Karsinoma nasofaring adalah tumor ganas sel skuamosa yang terjadi di daerah perbatasan epitel nasofaring dimana epitel kubus beralih menjadi epitel skuamosa. Pada stadium dini tidak mudah dideteksi karena secara anatomis terletak jauh di dalam kepala. Ki67 berhubungan erat dengan mitosis dan aktivitas proliferasi tumor ganas serta kinerja pengobatan kanker nasofaring. Kesimpulan: Ekspresi Ki67 yang tinggi merupakan penanda untuk prognosis buruk pada karsinoma nasofaring. ABSTRACT Background: Introduction: Nasopharyngeal carcinoma has recurrence or distant metastasis, which indicates a cell activity, namely cell proliferation. Assessment of the presence of a cell proliferation requires biomarkers, one of which is Ki67 which has been established as a marker of cell proliferation. Objective: To determine the role of Ki67 in nasopharyngeal carcinoma. Literature Review: Nasopharyngeal carcinoma is a malignant squamous cell tumor that occurs in the border area of the nasopharyngeal epithelium where the cuboidal epithelium turns into the squamous epithelium. At an early stage, it is difficult to detect because it is anatomically located deep in the head. Ki67 is closely related to the mitotic and proliferative activity of malignant tumors and the treatment performance of nasopharyngeal carcinoma. Conclusion: High Ki67 expression is a marker for poor prognosis in nasopharyngeal carcinoma.    
Tatalaksana Tumor Warthin dengan Parotidektomi Superfisialis Febri arius sari; Rahman, Sukri
Jurnal Otorinolaringologi Kepala dan Leher Indonesia Vol. 3 No. 1 (2024)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jokli.v3i1.66

Abstract

Latar Belakang: Tumor Warthin merupakan tumor jinak paling sering kedua yang ditemukan pada kelenjar parotis, setelah adenoma pleomorfik. Tumor Warthin banyak ditemukan pada pasien usia lanjut, dengan riwayat merokok lama dan lebih sering pada laki-laki. Pemeriksaan penunjang untuk diagnosis tumor parotis antara lain biopsi aspirasi jarum halus, ultrasonografi, tomografi komputer dan magnetic resonance imaging. Penatalaksanaan tumor jinak parotis adalah eksisi tumor secara parotidektomi dengan preservasi saraf fasialis. Laporan Kasus: Dilaporkan satu kasus tumor Warthin parotis dekstra pada seorang laki-laki berusia 43 tahun dengan keluhan benjolan di bawah daun telinga kanan sejak 3 tahun lalu. Pada regio parotis dekstra tampak benjolan ukuran 40x30x10mm, berbatas tegas, tidak terfiksir, warna sama dengan kulit sekitar dan tidak ada nyeri tekan. Dilakukan pemeriksaan biopsi aspirasi jarum halus didapatkan hasil Warthin tumor dan pemeriksaan tomografi komputer dengan kesan massa dominan kistik parotis dekstra. Pasien ditatalaksana dengan parotidektomi superfisialis dengan preservasi nervus fasialis. Hasil pemeriksaan histopatologi didapatkan gambaran tumor Warthin. Kesimpulan: Tumor Warthin perlu dipikirkan dalam suatu diagnosis banding pada tumor jinak parotis yang biasanya muncul sebagai massa tanpa gejala dan tumbuh lambat. Pemeriksaan histopatologi merupakan standar baku dalam menegakkan diagnosis tumor parotis. Tindakan parotidektomi diikuti preservasi saraf fasialis merupakan tindakan pembedahan pada tumor Warthin. Kata kunci: tumor jinak parotis, tumor Warthin, parotidektomi superfisialis, saraf fasialis

Page 1 of 1 | Total Record : 9