cover
Contact Name
Adinda Juwita Sari
Contact Email
adindajuwitasari@poltekkes-tjk.ac.id
Phone
+6281369445898
Journal Mail Official
jkm@poltekkes-tjk.ac.id
Editorial Address
Jl. Brigjend. Soetiyoso No. 1 Kota Metro
Location
Kab. lampung selatan,
Lampung
INDONESIA
Jurnal Kesehatan Metro Sai Wawai
ISSN : 1979469X     EISSN : 26571390     DOI : https://doi.org/10.26630
Core Subject : Health, Social,
Jurnal Kesehatan Metro Sai Wawai E-ISSN 2657-1390 and P-ISSN 19779-469X is published by the Midwifery Department, Poltekkes Kemenkes Tanjung Karang, Metro City, Indonesia. The Jurnal Kesehatan Metro Sai Wawai was first published in December 2008 as print media. Since 2016, the Journal has been published in print and online twice a year (June and December). All manuscripts submitted will go through double-blind peer review and editorial before being given acceptance for publication. The scope is midwifery, public health, nursing, nutrition, complementary and alternative medicine (CAM), and education in health.
Articles 185 Documents
Inhalasi Aromaterapi Lemon Menurunkan Frekuensi Mual Muntah pada Ibu Hamil Siti Maesaroh; Mera Putri
Jurnal Kesehatan Metro Sai Wawai Vol 12, No 1 (2019): Jurnal Kesehatan Metro Sai Wawai
Publisher : Poltekkes Kemenkes Tanjung Karang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26630/jkm.v12i1.1741

Abstract

Background: The incidence of nausea, vomiting or emesis gravidarum in pregnant women reaches 50-90%, while hyperemesis gravidarum reaches 10-15% in Lampung Province. Purpose: prove the effect of lemon aromatherapy inhalation on nausea and vomiting in pregnant women in the first four months. Methods: This type of quantitative research with pre-experimental design was carried out in February - April 2018. The population in this study was the number of pregnant women in the first four months of pregnancy who experienced nausea and vomiting at UPT Karya Penggawa Public Health Center, Pesisir Barat District with a sample of 30 people. Accidental sampling sampling technique. The variables analyzed were the results of interventions in the administration of lemon aroma therapy inhalation. Data analysis using T test. Results: The study obtained the average frequency of nausea and vomiting before the intervention 17.37 times, whereas after the intervention dropped to 12.43 times. There is an inhalation effect of the aroma of lemon therapy on nausea and vomiting in pregnant women in the first four months of pregnancy (p value 0,000). Conclusion: Inhalation of lemon aroma therapy is effective in reducing the frequency of nausea and vomiting in pregnant women with a decrease of 4.86 times the frequency of nausea and vomiting. Inhalation of the aroma of lemon therapy becomes a part that can be applied as a complementary therapy to reduce the frequency of nausea, vomiting in care for pregnant women. Latar belakang: Angka kejadian mual muntah atau emesis gravidarum pada wanita hamil mencapai 50-90%, sedangkan hiperemesis gravidarum mencapai 10-15% di Provinsi Lampung. Tujuan: membuktikan pengaruh inhalasi aromaterapi lemon terhadap mual muntah pada ibu hamil trimester I. Metode: Jenis penelitian kuantitatif dengan rancangan pra experimental yang dilaksanakan pada pada bulan februari – april 2018. Populasi dalam penelitian ini adalah jumlah ibu hamil trimester I yang mengalami mual muntah di UPT Puskesmas Karya Penggawa Kabupaten Pesisir Barat dengan jumlah sampel 30 orang. Tehnik pengambilan sampel accidental sampling. Variabel yang dianalisis adalah adalah hasil intervensi pemberian inhalasi aroma terapi lemon. Analisis data menggunakan T test. Hasil: Penelitian memperoleh hasil rerata frekuensi mual muntah sebelum intervensi 17.37 kali, sedangkan setelah intervensi turun menjadi 12.43 kali. Ada pengaruh inhalasi aroma terapi lemon terhadap mual muntah pada ibu hamil trimester I (p value 0,000). Simpulan: pemberian inhalasi aroma terapi lemon efektif menurunkan frekuensi mual muntah pada ibu hamil dengan penurunan 4,86 kali frekuensi mual muntah. Inhalasi aroma terapi lemon menjadi bagian yang dapat diterapkan sebagai terapi komplementer untuk mengurangi frekeunsi mual muntah dalam asuhan pada ibu hamil. 
Perbedaan Kepuasan antara Pasien Peserta Jamkesmas dan Pasien Umum di Instalasi Rawat Inap RSUD. Jendral Ahmad Yani Kota Metro sadiman sadiman; Islamiyati Islamiyati
Jurnal Kesehatan Metro Sai Wawai Vol 7, No 1 (2014): Jurnal Kesehatan Metro Sai Wawai
Publisher : Poltekkes Kemenkes Tanjung Karang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26630/jkm.v7i1.297

Abstract

Hasil riset Citizen Report Card yang berfokus pada Program Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas) yang dilakukan oleh Indonesian Corruption Watch (ICW) menunjukkan bahwa pelayanan kesehatan bagi masyarakat miskin melalui program Jamkesmas belum optimal dan kualitas pelayanan pasien Jamkesmas masih rendah. Selain itu masih terdapat penolakan pasien Jamkesmas dengan alasan kapasitas rumah sakit sudah penuh. Hasil survei pendahuluan yang dilakukan terhadap pada dimensi tangible, reliability, responsiveness, assurance, empathy pada pasien Jamkesmas sebesar 57,2% dan pada pasien umum 47,2%. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui perbedaan kepuasan antara pasien peserta Jamkesmas dan pasien umum di instalasi rawat inap RSUD Jendral A. Yani Metro tahun 2013 ditinjau dari dimensi tangible, reliability, responsiveness, assurance dan empathy. Jenis penelitian ini adalah cross sectional, Populasi dalam penelitian ini adalah pasien peserta Jamkesmas dan pasien umum yang dirawat inap di RSUD Jend A. Yani Metro berjumlah 1.072 orang. Sampel sebesar 292 Responden terdiri dari pasien jamkesmas 190 orang dan pasien umum 102 orang. Teknik pengambilan sampel dengan cara consecutive sampling. Analisis data dengan menggunakan uji statistik t test dua sampel independent. Hasil penelitian ada perbedaan kepuasan antara pasien peserta Jamkesmas dan pasien umum berdasarkan dimensi kualitas mutu (tangibel) dengan nilai p = 0,000. Tidak ada perbedaan kepuasan antara pasien peserta Jamkesmas dan pasien umum berdasarkan dimensi kualitas keandalan (Reliability) dengan nilai p = 0,456. Tidak ada perbedaan kepuasan antara pasien peserta Jamkesmas dan pasien umum berdasarkan dimensi kualitas keandalan (Responsiveness) dengan nilai p = 0.158. Tidak ada perbedaan kepuasan antara pasien peserta Jamkesmas dan pasien umum berdasarkan dimensi kualitas jaminan (Assurance) dengan nilai p = 0.394. Tidak ada perbedaan kepuasan antara pasien peserta Jamkesmas dan pasien umum berdasarkan dimensi kualitas empati (Emphaty) dengan nilai p = 0.524
Efektifitas Pijat Bayi terhadap Peningkatan Berat Badan pada Bayi Usia 0 – 3 Bulan Dersy Elya; M. Ridwan; Yetty Anggraeni
Jurnal Kesehatan Metro Sai Wawai Vol 11, No 1 (2018): Jurnal Kesehatan Metro Sai Wawai
Publisher : Poltekkes Kemenkes Tanjung Karang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26630/jkm.v11i1.1763

Abstract

Background: Increasing baby's growth and development can be done by providing stimulation, such as massage. Baby massage is beneficial to increase baby's weight. The monthly report of the Ganjar Agung Health Center in January-March 2017 contains an average of 14.7% of babies who do not gain weight. Purpose:The study aims to determine the effectiveness of infant massage on weight gain in infants aged 0-3 months in the Ganjar Agung Metro Barat Health Center in 2017.Methods:This study uses a pre-experimental design with non-equivalent control group design. The intervention given is baby massage. The research sample was all infants aged 0-3 months totaling 25 babies taken by consecutive sampling technique. Data analysis using paired t test. Results: The results showed a mean increase in baby's body weight after massage of 0.916 kg (SD 0.1214kg) and there was an effect of infant massage on weight gain in infants aged 0-3 (p = 0.000).Conclusion:The conclusion of the study is that infant massage can be one of the interventions to increase the baby's weight. Efforts to socialize baby massage programmatically need to be improved as one of the interventions to increase the growth (weight) of the baby.
FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN HASIL PELAKSANAAN SURVEILAN GIZI DI PUSKESMAS SE KOTA BANDAR LAMPUNG Dewi Sri Sumardilah
Jurnal Kesehatan Metro Sai Wawai Vol 7, No 2 (2014): JURNAL KESEHATAN METRO SAI WAWAI
Publisher : Poltekkes Kemenkes Tanjung Karang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26630/jkm.v7i2.551

Abstract

Rendahnya cakupan kegiatan surveilan gizi bias menjadi ukuran tingkat kinerja petugas surveilan gizi. Rendahnya kinerja petugas surveilan gizi akan menyebabkan keteraturan laporan program menjadi tidak tercapai, sehingga pada akhirnya penyediaan data menjadi tidak optimal. Tujuan penelitian adalah diketahuinya faktor-faktor yang berhubungan dengan kinerja atau hasil pelaksanaan surveilan gizi puskesmas di Kota Bandar Lampung Tahun 2014. Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah cross sectional dengan subjek penelitian petugas surveilan gizi puskesmas di Kota Bandar Lampung yang berjumlah 30 orang. Variabel yang diteliti adalah kinerja petugas surveilan gizi puskesmas, dan tingkat pengetahuan, pelatihan, motivasi, dan fasilitas penunjang kegiatan surveilan gizi. Analisa yang digunakan adalah Chi-square. Hasil penelitian dapat diketahui bahwa petugas surveilan gizi puskesmas yang memiliki kinerja baik mencapai 53,3%. Dari 4 variabel dependen yang diuji, ternyata pengetahuan dan pelatihan tidak ada hubungan yang bermakna dengan kinerja (pengetahuan : p = 0,298; pelatihan ; p = 0,209), sedangkan variable motivasi dan fasilitas penunjang kegiatan surveilan gizi diketahui ada hubungan yang bermakna dengan kinerja (motivasi : p = 0,035; fasilitas : p = 0,042). Untuk meningkatkan kinerja petugas surveilan gizi puskesmas maka perlu dilakukan pembinaan, supervise, dan umpan balik dari atasan. Kemudian untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan petugas surveilan perlu diberikan pelatihan surveilan gizi.
Faktor Risiko Keturunan Diabetes dengan Variabel Perancunya Meningkatkan Prevalensi Diabetes Tipe 2 (Studi Estimasi) Riyanto Riyanto
Jurnal Kesehatan Metro Sai Wawai Vol 10, No 2 (2017): Jurnal Kesehatan Metro Sai Wawai
Publisher : Poltekkes Kemenkes Tanjung Karang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26630/jkm.v10i2.1787

Abstract

Background: Type 2 diabetes is a disorder that is influenced by multifactors, involving both genetic and environmental factors. Purpose: This study aims to find a large estimate of hereditary risk factors for type 2 events by controlling controlling for other confounding variables. Methods: This study used a cross sectional design analysis model estimation with the main variable heredity. The research sample of at least 249 respondents. Measurement and observation of research variables using interview and observation methods. Multivariate analysis of estimation models uses multiple logistic regression tests and calculated attributable fraction percent (AF%). Results: The results of the final multivariate modeling analysis showed heredity was associated with the incidence of type 2 Diabetes (p value 0,000), after being controlled by confounding factors for BMI, occupation, age and central obesity with ORadjusted 19.8; 95% CI: 1,911-9,459). Calculation of the potential impact size (AF%) results of the analysis obtained 48.15%. Conclusion: The estimated magnitude of respondents who have inherited risk factors is 19.8 times more likely to have diabetes than those without heredity after being controlled by confounders of BMI, occupation and age and central obesity. People with Type 2 Diabetes who have a history of diabetes, live a healthy lifestyle, so that around 48.15% of diabetes can be prevented through hereditary factors.
HUBUNGAN USIA DAN PARITAS PADA IBU BERSALIN DENGAN KEHAMILAN SEROTINUS DI RSUD A. YANI KOTA METRO 2010 Nova Bela Yasinta; Yuliawati Yuliawati; Weliyati Weliyati
Jurnal Kesehatan Metro Sai Wawai Vol 4, No 1 (2011): JURNAL KESEHATAN METRO SAI WAWAI
Publisher : Poltekkes Kemenkes Tanjung Karang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26630/jkm.v4i1.703

Abstract

Abstrak. Frekuensi kejadian kehamilan serotinus berkisar 5-15%, di Lampung pada tahun 2010  adalah sebesar 34%, di Metro sebesar 31,19%, sedangkan di RSUD A. Yani pada tahun 2008 adalah 7,3%, meningkat sebesar 10%  pada tahun 2009. salah satu komplikasi yang terjadi pada persalinan dengan kehamilan serotinus adalah Asfiksia. Angka kematian bayi karena asfiksia di Lampung ada 34,19%, di Kota Metro ada 21,9%, sedangkan di RSUD A.Yani mengalami peningkatan dari tahun 2008 ada 7% menjadi 7,3% pada tahun 2009. Faktor yang menyebabkan kehamilan serotinus antara lain faktor usia dan paritas.  Tujuan umum penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan usia dan paritas ibu bersalin dengan kehamilan serotinus di RSUD Jendral Ahmad Yani Metro tahun 2010. Jenis penelitian kwantitatif, metode penelitian analitik dengan pendekatan cross sectional. Populasi penelitian 781 ibu bersalin di Ruang Kebidanan RSUD A. Yani Kota Metro Tahun 2010. Sampel ditentukan dengan tingkat kesalahan 5% sehingga diperoleh sampel 265 ibu bersalin, pengambilan data sekunder dengan sampel menggunakan metode sistematik random sampling, cara pengumpulan data dengan studi dokumentasi menggunakan Check List. Analisis data yang digunakan analisis univariat berupa distribusi frekuensi dan analisis bivariat dengan menggunakan uji chi square. Hasil penelitian di RSUD Ahmad Yani tahun 2010 diperoleh proporsi ibu bersalin kehamilan serotinus 13,3%, proporsi usia reproduksi tidak sehat 26,4%, proporsi paritas resiko tinggi 32,5%, Hasil analisis hubungan usia pada ibu bersalin dengan kehamilan serotinus diperoleh nilai p value = 0,031, sedangkan hubungan usia pada ibu bersalin dengan kehamilan serotinus diperoleh nilai p value = 0,020. Kesimpulan ada hubungan yang bermakna antara usia pada ibu bersalin dengan kehamilan serotinus dan ada hubungan yang bermakna antara paritas pada ibu bersalin dengan kehamilan serotinus. Saran meningkatkan kualitas pelayanan ANC, meningkatkan penyuluhan program KB, meningkatkan penyuluhan kehamilan serotinus, pilihan rujukan segera.
Pengaruh Kebiasaan Minum Teh terhadap Kadar Hemoglobin pada Calon Pendonor Relita Pebrina
Jurnal Kesehatan Metro Sai Wawai Vol 13, No 2 (2020): Jurnal Kesehatan Metro Sai Wawai
Publisher : Poltekkes Kemenkes Tanjung Karang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26630/jkm.v13i2.2395

Abstract

Background: Blood donation is a process when people have their blood drawn and must fulfill the donation criteria, includes having minimum Hemoglobin levels of 12 g/dL. Low levels of hemoglobin often make unsuccessful blood donation selection for a blood donor. The levels of hemoglobin could be affected by some factors, such as tea-drinking habits from blood donors due to tannin content in the tea can inhibit the iron absorption to the body. Purpose: The objective of this study was to find the effect of tea-drinking habits among inhabitants of Dusun Kopeng, Desa Kepuharjo as a prospective blood donor.Methods: This research was conducted by cross-sectional design to discover the effect of tea-drinking habits on hemoglobin levels. As many as 46 respondents had observed this research with the inclusion criteria, such as tea-drinking habit, productive age (17-45 years old), body weight (45-65 kgs), while the exclusion criteria including older adults, menstruation and pregnant women.Results: Based on a simple linear regression test, the result showed that there was an effect of tea-drinking habit on hemoglobin levels among prospective donors in Dusun Kopeng, Desa Kepuharjo with the significance value of 0,000 0,0005. Conclusion: The tea-drinking habit among inhabitants of Dusun Kopeng affected hemoglobin levels and also impacted the low levels of hemoglobin, which can lead to unsuccessful donor criteria. People could improve the levels of hemoglobin by consuming foods with balanced nutrition, resting well, exchanging the tea-drinking habits with adequate water consumption.Latar Belakang: Donor darah merupakan proses pengambilan darah dari seseorang yang disebut dengan pendonor yang telah memenuhi kriteria donor, salah satu dari kriteria donor yaitu memiliki kadar hemoglobin minimal 12 g/dL. Calon pendonor seringkali gagal dalam seleksi donor disebabkan karena kadar hemoglobin yang rendah. Kadar hemoglobin dipengaruhi oleh beberapa factor, salah satunya adalah kebiasaan konsumsi teh karena dalam teh terkandung senyawa tannin yang dapat menghambat penyerapan zat besi. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh kebiasaan minum teh pada masyarakat di Dusun Kopeng, Desa Kepuharjo terhadap Kadar Hemoglobin masysarakat yang merupakan calon pendonor. Metode: Penelitian dilakukan dengan desain cross sectional untuk mencari pengaruh kebiasaan minum teh terhadap kadar hemoglobin. Responden dalam penelitian sebanyak 46 orang dengan kriteria inklusi adalah warga yang memiliki kebiasaan minum teh, dalam usia produktif (17-45 tahun), berat badan 45-65 kg sedangkan untuk kriteria eksklusi yaitu warga yang sedang menstruasi, hamil, dan usia lanjut. Hasil: Berdasarkan hasil uji regresi linier sederhana dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh kebiasaan minum teh terhadap kadar hemoglobin calon pendonor di Dusun Kopeng, Desa Kepuharjo dengan nilai signifikansi 0,000 0,005. Simpulan: Kebiasaan minum teh pada warga Dusun Kopeng berpengaruh terhadap kadar hemoglobin yang berdampak pada rendahnya kadar hemoglobin, sehingga tidak memenuhi kriteria pendonor. Kadar hemoglobin dapat ditingkatkan dengan mengurangi konsumsi kebiasaan konsumsi teh dengan mengganti teh dengan air putih.
FAKTOR INDIVIDU YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN INFEKSI SALURAN PERNAFASAN AKUT (ISPA) PADA ANAK BALITA DI KOTA METRO TAHUN 2011 Herlina Herlina; Sadiman Sadiman
Jurnal Kesehatan Metro Sai Wawai Vol 4, No 2 (2011): JURNAL KESEHATAN METRO SAI WAWAI
Publisher : Poltekkes Kemenkes Tanjung Karang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26630/jkm.v4i2.1161

Abstract

Abstrak. Infeksi Saluran Pernafasan Akut (Pneumonia) merupakan pembunuh utama anak dibawah usia lima tahun di dunia. Penyakit ISPA di Indonesia selalu menempati urutan pertama penyebab kematian pada kelompok bayi dan balita. Survey mortalitas yang dilakukan Subdit ISPA tahun 2005 menempatkan ISPA (Pneumonia) sebagai penyebab kematian terbesar di Indonesia dengan presentase 22,30% dari kematian balita. Angka kejadian ISPA pada balita di Provinsi Lampung dalam waktu 3 tahun mengalami peningkatan. Tahun 2004 sebesar 27,24%, tahun 2005 meningkat 29,88%, tahun 2006 meningkat sebesar 46,29%, dan  tahun 2007 mengalami penurunan sebesar 13,06% serta tahun 2008 terjadi peningkatan lagi sebesar 21,16%  Kejadian ISPA pada Balita Di Kota Metro tahun 2009 degan rincian: Puskesmas Banjarsari 61%, Puskesmas Karang Rejo 47 %, Puskesmas Metro 15 %, Puskesmas Purwosari 8%, Puskesmas Yosomulyo 5%, Puskesmas Ganjar Agung 3%, Puskesmas Mulyojati dan Sumbersari Bantul masing-masing 2%, Puskesmas Iringmulyo 1% dan Puskesmas Yosodadi 0%, Tujuan umum penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor individu yang berhubungan dengan kejadian ISPA di Kota Metro tahun 2010.Rancangan penelitian ini adalah analitik dengan pendekatan cross sectional. Subjek penelitian adalah anak balita yang berobat di Puskesmas se Kota Metro. Sampel berjumlah 277 anak Balita yang diambil secara acak sederhana. Uji statistik dengan uji Chi Square. Hasil penelitian didapatkan Proporsi kejadian ISPA sebesar 64,3%. terdapat 3 variabel tidak ada hubungan dengan kejadian ISPA yang meliputi: variabel (p=0,436), variabel jenis kelamin (p=1,00), dan variabel status gizi (p=0,236). Terdapat hubungan dengan kejadian ISPA meliputi: berat badan lahir (p=0.017) nilai OR=9,68, pemberian vitamin A  (p=0,026) nilai OR=1,97, ASI eksklusif (p=0,028) nilai OR=1,87, Imunisasi (p=0,012) nilai OR=2,66.
Peningkatan Ekspresi Matrix Metalloproteinase-9 Ligamentum Sacrouterina dan Otot Levator Ani Postpartum Rattus Norvegicus Novida Ariani
Jurnal Kesehatan Metro Sai Wawai Vol 14, No 2 (2021): Jurnal Kesehatan Metro Sai Wawai
Publisher : Poltekkes Kemenkes Tanjung Karang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26630/jkm.v14i2.2997

Abstract

Background: Vaginal delivery is a risk factor for pelvic organ prolapse. The biomolecular mechanism that links it is still unclear, thought to be through Matrix Metalloproteinase 9 (MMP-9). Purpose: This study aims to determine the increase in MMP-9 in the supporting tissues of the pelvic organs, especially the sacrouterine ligament and levator ani muscles in the postpartum period. Methods: This study was an observational cohort study on 5 female rats of Rattus norvegicus Wistar strain. Which were divided into nulliparous groups, postpartum day 1, day 3, and day 7. MMP-9 expression was calculated and analyzed using ANOVA. Results: There was a significant difference (p=0.01) of MMP-9 expression in the sacrouterine ligament between nulliparous rats, postpartum day 1, day 3, and day 7. There was also a significant difference (p=0.00) levator ani muscle MMP-9 expression between nulliparous rats, postpartum day 1, day 3, and day 7. There was a trend of increasing MMP-9 expression on the 1st to 3rd day postpartum, then decreasing gradually on the 7th day. Conclusion: Delivery changes the expression of MMP-9 in pelvic floor tissues such as the sacrouterine ligament and levator ani muscle and these changes are time-dependent.Abstrak. Latar Belakang: Persalinan pervaginam merupakan faktor resiko prolaps organ panggul. Mekanisme biomolekuler yang menghubungkannya masih belum jelas, diduga melalui perantaraan Matriks Metalloproteinase 9 (MMP-9). Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peningkatan MMP-9 pada jaringan penyokong organ panggul, terutama ligamentum sacrouterina dan otot levator ani periode post partum. Metode: Penelitian ini adalah studi observational cohort pada 5 tikus betina Rattus norvegicus strain Wistar. Yang terbagi menjadi kelompok nullipara, postpartum hari ke-1, hari ke-3 dan hari ke-7.. Preparat jaringan ligamentum sacrouterina dan otot levator ani diwarnai dengan imunohistokimia. Ekspresi MMP-9 dihitung dan dianalisa dengan menggunakan ANOVA. Hasil: Terdapat perbedaan yang signifikan (p=0,01) ekspresi MMP-9 pada ligamentum sacrouterina antara tikus nullipara, postpartum hari ke-1, hari ke-3, dan hari ke-7. Terdapat pula perbedaan yang signifikan (p=0,00) ekspresi MMP-9 otot levator ani antara tikus nullipara , postpartum hari ke-1, hari ke-3, dan hari ke-7.  Tampak tren peningkatan ekspresi MMP-9 pada hari ke-1 hingga ke-3 postpartum, selanjutnya menurun bertahap pada hari ke-7. Simpulan: Persalinan mengubah ekspresi MMP-9 pada jaringan dasar panggul seperti ligamentum sacrouterina dan otot levator ani dan perubahan ini bersifat time-dependently.
FAKTOR KUALITAS PEMANTAUAN PERTUMBUHAN BALITA OLEH KADER POSYANDU DI KELURAHAN KEDATON KOTA BANDAR LAMPUNG Dewi Sri Sumardilah
Jurnal Kesehatan Metro Sai Wawai Vol 6, No 2 (2013): Jurnal Kesehatan Metro Sai Wawai
Publisher : Poltekkes Kemenkes Tanjung Karang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26630/jkm.v6i2.1345

Abstract

Pemantauan pertumbuhan balita di posyandu merupakan kegiatan dalam upaya deteksi dini munculnya masalah gizi pada balita. Capaian pemantauan pertumbuhan balita yang dilakukan oleh kader posyandu ternyata masih belum memuaskan karena cakupan D/S dan N/D masih  rendah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor kualitas pemantauan pertumbuhan balita oleh kader di Posyandu di Kelurahan Kedaton Kota Bandar Lampung. Rancangan penelitian yang digunakan adalah potong lintang dengan jumlah responden 72 orang kader posyandu (total populasi). Sebagai variabel dependen adalah kualitas pemantauan pertumbuhan balita, sedangkan variabel independen adalah cara menimbang, cara mencatat hasilpenimbangan, dan cara menginterpretasikan hasil penimbangan. Data dikumpulkan dengan menggunakan daftar pertanyaan terstruktur (kuesioner) dan dianalisis dengan menggunakan uji chi square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 59,7% dari seluruh kader yang diteliti ternyata kualitas pemantauan pertumbuhan yang dilakukannya tergolong tidak baik, terdapat hubungan yang bermakna antara cara menimbang balita dengan kualitas pemantauan pertumbuhan (p = 0,014), ada hubungan yang bermakna antara cara mencatat/plotting hasil penimbangan dengan kualitas pemantauan pertumbuhan (p = 0,044), dan ada hubungan antara cara menginterpretasikan hasil penimbangan dengan kualitas pemantauan pertumbuhan. Disarankan kepada petugas puskesmas untuk melakukan pendampingan dan bimbingan teknis kepada kader posyandu setiap kali dilaksanakan kegiatan posyandu. Selain itu, untuk mendukung kegiatan pemantauan pertumbuhan balita oleh kader maka di setiap posyandu perlu dilengkapi sarana dan prasarana diantaranya dacin yang sudah dikalibrasi dan lembar SKDN.

Filter by Year

2011 2025


Filter By Issues
All Issue Vol. 18 No. 2 (2025): Jurnal Kesehatan Metro Sai Wawai Vol. 18 No. 1 (2025): Jurnal Kesehatan Metro Sai Wawai Vol. 17 No. 2 (2024): Jurnal Kesehatan Metro Sai Wawai Vol. 17 No. 1 (2024): Jurnal Kesehatan Metro Sai Wawai Vol. 16 No. 2 (2023): Jurnal Kesehatan Metro Sai Wawai Vol. 16 No. 1 (2023): Jurnal Kesehatan Metro Sai Wawai Vol. 15 No. 2 (2022): Jurnal Kesehatan Metro Sai Wawai Vol 15, No 1 (2022): Jurnal Kesehatan Metro Sai Wawai Vol 14, No 2 (2021): Jurnal Kesehatan Metro Sai Wawai Vol 14, No 1 (2021): Jurnal Kesehatan Metro Sai Wawai Vol 13, No 2 (2020): Jurnal Kesehatan Metro Sai Wawai Vol 13, No 1 (2020): Jurnal Kesehatan Metro Sai Wawai Vol 12, No 2 (2019): Jurnal Kesehatan Metro Sai Wawai Vol 12, No 1 (2019): Jurnal Kesehatan Metro Sai Wawai Vol 11, No 2 (2018): Jurnal Kesehatan Metro Sai Wawai Vol 11, No 1 (2018): Jurnal Kesehatan Metro Sai Wawai Vol 10, No 2 (2017): Jurnal Kesehatan Metro Sai Wawai Vol 10, No 1 (2017): Jurnal Kesehatan Metro Sai Wawai Vol 9, No 2 (2016): Jurnal Kesehatan Metro Sai Wawai Vol. 9 No. 1 (2016): Jurnal Kesehatan Metro Sai Wawai Vol 8, No 2 (2015): Jurnal Kesehatan Metro Sai Wawai Vol 8, No 1 (2015): Jurnal Kesehatan Metro Sai Wawai Vol 7, No 2 (2014): JURNAL KESEHATAN METRO SAI WAWAI Vol 7, No 1 (2014): Jurnal Kesehatan Metro Sai Wawai Vol 6, No 2 (2013): Jurnal Kesehatan Metro Sai Wawai Vol 6, No 1 (2013): Jurnal Kesehatan Metro Sai Wawai Vol 5, No 2 (2012): Jurnal Kesehatan Metro Sai Wawai Vol 5, No 1 (2012): Jurnal Kesehatan Metro Sai Wawai Vol 4, No 2 (2011): JURNAL KESEHATAN METRO SAI WAWAI Vol 4, No 1 (2011): JURNAL KESEHATAN METRO SAI WAWAI More Issue