cover
Contact Name
M Zainul Hafizi
Contact Email
amakfizi@gmail.com
Phone
+6282111132092
Journal Mail Official
chatrabaru@gmail.com
Editorial Address
Jl. Padat Karya Komplek Green Rich Residence Blok A 32, RT 004 RW 015, Kelurahan Saigon, Kec. Pontianak Timur, Kalimantan Barat. 78132
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
Chatra: Jurnal Pendidikan dan Pengajaran
ISSN : -     EISSN : 30258065     DOI : 10.62238
Chatra; Jurnal Pendidikan dan Pengajaran memiliki fokus utama pada penelitian, tinjauan teoritis, dan konsep-konsep konseptual yang berkaitan dengan berbagai aspek pendidikan di semua tingkat, termasuk sekolah dasar, menengah, dan pendidikan tinggi. Ruang lingkupnya mencakup analisis kurikulum, strategi pembelajaran, psikologi pendidikan, teknologi dalam pendidikan, manajemen pendidikan, kebijakan pendidikan, pendidikan inklusif, pendidikan multikultural, serta isu-isu relevan dalam bidang pendidikan. Tujuannya adalah untuk mengembangkan pemahaman mendalam tentang berbagai elemen yang memengaruhi kualitas pendidikan dan pengajaran, serta memberikan panduan dan wawasan yang bermanfaat bagi praktisi pendidikan, peneliti, dan para pemangku kepentingan dalam meningkatkan efektivitas dan kualitas pendidikan secara keseluruhan. Lebih detailnya dirincikan sebagai berikut: 1. Teori dan landasan pendidikan dan pembelajaran 2. Filsafat pendidikan dan pembelajaran 3. Teknologi pendidikan dan pembelajaran 4. Media pendidikan dan pembelajaran 5. Evaluasi Pendidikan 6. Manajemen Pendidikan 7. Inovasi pendidikan dan pembelajaran 8. Pendidikan untuk semua 9. Pendidikan formal 10. Pendidikan informal 11. Pendidikan non formal 12. pendidikan pedesaan 13. Pendidikan perkotaan 14. Kurikulum pendidikan dan pembelajaran 15. Pengembangan Pendidikan 16. Kebijakan pendidikan dan pembelajaran 17. Metode dan strategi pembelajaran 18. Penilaian pembelajaran
Articles 81 Documents
Digital Competencies, AI Usage, and Informal Learning Effects on Teachers’ Effectiveness in Islamic Schools Muhammad Kashif Majeed; Tunku Badariah Ahmad; Aizat Bind Shamssudin
Chatra: Jurnal Pendidikan dan Pengajaran Vol. 4 No. 1 (2026): Chatra: Jurnal Pendidikan dan Pengajaran
Publisher : CV. Yazri Aksara Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62238/chatra.v4i1.357

Abstract

The rapid expansion of digital technologies has reshaped teaching practices, yet their combined influence on teacher effectiveness in resource-constrained Islamic schools remains insufficiently explored. This study aims to examine how digital competencies, AI usage, and digital informal learning interact to enhance teachers’ effectiveness. A quantitative approach was employed using a cross-sectional survey design involving 440 teachers from Islamic secondary schools in Kot Addu, Pakistan. Data were analyzed using Structural Equation Modeling (SEM) to assess both direct and indirect relationships among variables. The findings indicate that digital competencies have the strongest influence on teachers’ effectiveness, followed by AI usage and digital informal learning, all of which show significant positive effects. The results suggest that digital competence serves as a foundational capability that enables teachers to utilize AI tools effectively and engage in continuous professional learning. However, disparities in infrastructure and access remain critical barriers, particularly in rural areas. While the study provides an integrated perspective on technology-enhanced teaching, its cross-sectional design and reliance on self-reported data may limit generalizability. These findings offer practical insights for designing integrated teacher development strategies in digital education contexts. Perkembangan teknologi digital telah mengubah praktik pembelajaran, namun pengaruh terpadu terhadap efektivitas guru di sekolah Islam dengan keterbatasan sumber daya masih belum banyak dikaji. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana kompetensi digital, penggunaan AI, dan pembelajaran informal digital berkontribusi terhadap efektivitas guru. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain survei cross-sectional yang melibatkan 440 guru sekolah menengah Islam di Kot Addu, Pakistan. Data dianalisis menggunakan Structural Equation Modeling (SEM) untuk menguji hubungan langsung dan tidak langsung antar variabel. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kompetensi digital memiliki pengaruh paling kuat terhadap efektivitas guru, diikuti oleh penggunaan AI dan pembelajaran informal digital yang juga berpengaruh positif signifikan. Temuan ini menegaskan bahwa kompetensi digital menjadi fondasi utama dalam pemanfaatan teknologi pembelajaran. Namun, keterbatasan infrastruktur dan akses masih menjadi hambatan, terutama di wilayah rural. Penelitian ini memberikan implikasi praktis bagi pengembangan strategi peningkatan kompetensi guru berbasis teknologi.
Digital Religious Learning and Virtual Communities: Evolving Confraternal Bonds in Mouride Education in Touba Senegal Alassane SOW
Chatra: Jurnal Pendidikan dan Pengajaran Vol. 4 No. 1 (2026): Chatra: Jurnal Pendidikan dan Pengajaran
Publisher : CV. Yazri Aksara Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62238/chatra.v4i1.358

Abstract

The rapid development of digital technology has transformed religious practices and reshaped learning processes within religious communities. In this context, the Mouride community in Touba, Senegal presents a compelling case of how social media is integrated into religious life. This study aims to examine how digital media transform religious learning practices, social relationships, and actor roles within the Mouride community. The study employs a qualitative approach with a case study design, involving approximately twenty purposively selected participants, including religious leaders and community members. Data were collected through in-depth interviews, participant observation on digital platforms, and content analysis, and were analyzed using thematic analysis. The findings reveal that social media function as pedagogical spaces that enable participatory and collaborative learning, while also reshaping confraternal bonds into hybrid forms of online and offline interaction. In addition, actor roles have shifted toward more interactive and inclusive dynamics. This study concludes that digitalization not only expands access to religious learning but also creates dynamic educational ecosystems, while introducing challenges related to authority and the authenticity of religious practices. Perkembangan teknologi digital telah mentransformasi praktik keagamaan dan cara pembelajaran berlangsung dalam komunitas religius. Dalam konteks ini, komunitas Mouride di Touba, Senegal menunjukkan dinamika menarik dalam mengintegrasikan media sosial ke dalam aktivitas keagamaan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana media digital mentransformasi praktik pembelajaran keagamaan, relasi sosial, dan peran aktor dalam komunitas Mouride. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus, melibatkan sekitar dua puluh partisipan yang dipilih secara purposif, terdiri dari tokoh agama dan anggota komunitas. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi partisipatif pada platform digital, serta analisis konten, dan dianalisis menggunakan teknik analisis tematik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa media sosial berfungsi sebagai ruang pedagogis yang memungkinkan pembelajaran partisipatif dan kolaboratif, sekaligus membentuk ulang ikatan konfraternal dalam bentuk relasi hibrida antara daring dan luring. Selain itu, terjadi transformasi peran aktor menuju model yang lebih interaktif dan terbuka. Penelitian ini menyimpulkan bahwa digitalisasi tidak hanya memperluas akses pembelajaran keagamaan, tetapi juga membentuk ekosistem pendidikan baru yang dinamis, sekaligus menghadirkan tantangan terkait otoritas dan autentisitas praktik keagamaan.
Student Stress and Anxiety in an Educational Perspective Zihori Maulida; M Zainul Hafizi
Chatra: Jurnal Pendidikan dan Pengajaran Vol. 4 No. 1 (2026): Chatra: Jurnal Pendidikan dan Pengajaran
Publisher : CV. Yazri Aksara Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62238/chatra.v4i1.393

Abstract

This study explores the experiences of stress and anxiety among students at the Institut Pendidikan Nusantara Global (IPNG), focusing on their causes, manifestations, and coping strategies. Employing a descriptive qualitative approach, data were collected through in-depth interviews, observation, and documentation, and analyzed thematically to capture holistic patterns and themes of student experiences. Findings indicate that students experience multidimensional stress encompassing cognitive, emotional, and physical aspects, including fatigue, sleep disturbances, and feelings of being overwhelmed. To manage stress, students employ various coping strategies such as social support, time management, and relaxation activities. The study underscores the importance of a holistic approach combining the enhancement of students’ internal capacities with the management of a supportive and responsive academic environment. Practical implications include the development of counseling programs, stress management workshops, and adaptive academic policies. The study’s limitations concern generalizability, as data were collected solely from IPNG students and are context-specific. Penelitian ini bertujuan mengeksplorasi pengalaman stres dan kecemasan mahasiswa di Institut Pendidikan Nusantara Global (IPNG), dengan fokus pada faktor penyebab, manifestasi, dan strategi coping yang diterapkan. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan pengumpulan data melalui wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi, serta analisis tematik untuk mengidentifikasi pola dan tema pengalaman mahasiswa secara holistik. Hasil menunjukkan bahwa mahasiswa mengalami stres multidimensional yang melibatkan aspek kognitif, emosional, dan fisik, termasuk kelelahan, gangguan tidur, dan perasaan kewalahan. Untuk mengatasi hal ini, mahasiswa mengembangkan berbagai strategi coping, seperti dukungan sosial, manajemen waktu, dan aktivitas relaksasi. Temuan menekankan pentingnya pendekatan holistik yang memadukan penguatan kapasitas internal mahasiswa dengan pengelolaan lingkungan akademik yang suportif dan responsif. Implikasi praktis meliputi pengembangan program konseling, workshop manajemen stres, dan kebijakan akademik yang adaptif. Keterbatasan penelitian terkait pada generalisasi, karena data hanya berasal dari mahasiswa IPNG dan sifat kualitatif yang kontekstual.
The Effect of the Flipped Classroom Model on Elementary Students’ Science Literacy Pit Syahni; Ahmad Khoiri; Joni Albar
Chatra: Jurnal Pendidikan dan Pengajaran Vol. 4 No. 1 (2026): Chatra: Jurnal Pendidikan dan Pengajaran
Publisher : CV. Yazri Aksara Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62238/chatra.v4i1.394

Abstract

This study examines students’ science literacy through the implementation of the flipped classroom model in an elementary school context. The research is grounded in the persistent challenge of low science literacy, often associated with limited student engagement and teacher-centered instructional practices. Positioned within a quantitative framework, this study employs a pre-experimental one-group pretest–posttest design to analyze changes in students’ performance before and after the intervention. The participants consisted of 15 fifth-grade students at SDN 20 Tanjung Keramat, selected using a saturated sampling technique. Data were collected using a science literacy test adapted from PISA indicators and analyzed using descriptive statistics and the Wilcoxon Signed-Rank Test. The results indicate a consistent increase in students’ scores, with all participants demonstrating improvement and no decline observed. Statistical analysis reveals a significant difference between pretest and posttest results, suggesting that the flipped classroom model is associated with enhanced science literacy. These findings highlight the potential of structured active learning environments in supporting deeper conceptual understanding. However, the use of a pre-experimental design and a small sample size limits the generalizability of the results. Future research is recommended to employ more rigorous designs and broader samples. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kemampuan literasi sains siswa melalui penerapan model pembelajaran flipped classroom pada konteks sekolah dasar. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh rendahnya literasi sains siswa yang sering dikaitkan dengan rendahnya keterlibatan belajar serta dominasi pembelajaran berpusat pada guru. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain pre-experimental one-group pretest–posttest untuk mengidentifikasi perubahan kemampuan siswa sebelum dan sesudah perlakuan. Subjek penelitian berjumlah 15 siswa kelas V di SDN 20 Tanjung Keramat yang dipilih menggunakan teknik sampling jenuh. Data dikumpulkan melalui tes literasi sains yang disusun berdasarkan indikator PISA dan dianalisis menggunakan statistik deskriptif serta uji Wilcoxon Signed-Rank. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan skor pada seluruh siswa tanpa adanya penurunan nilai. Analisis statistik juga menunjukkan perbedaan yang signifikan antara hasil pretest dan posttest, yang mengindikasikan bahwa penerapan flipped classroom berkaitan dengan peningkatan literasi sains siswa. Temuan ini menunjukkan pentingnya pembelajaran aktif yang terstruktur dalam mendukung pemahaman konsep secara lebih mendalam. Namun demikian, penggunaan desain pre-experimental dan ukuran sampel yang terbatas menjadi keterbatasan dalam penelitian ini. Penelitian selanjutnya disarankan menggunakan desain yang lebih kuat dan cakupan sampel yang lebih luas.  
The Impact of Electronic Device Use on Students’ Academic Performance and Daily Activities Zidni Ma’ruf; Ariel Alfachri; Daffa Ramadhan Putra Endito; Mikhael Raja Yudistyra
Chatra: Jurnal Pendidikan dan Pengajaran Vol. 4 No. 2 (2026): Chatra: Jurnal Pendidikan dan Pengajaran
Publisher : CV. Yazri Aksara Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62238/chatra.v4i2.413

Abstract

This study aimed to explore the influence of electronic device use on the academic performance and daily activities of students in the Electrical Engineering Study Program at Politeknik Negeri Sriwijaya. A qualitative descriptive approach was employed involving six students aged 18–22 years who were selected through purposive sampling. Data were collected through semi-structured interviews and group discussions and analyzed using thematic analysis. The findings revealed that electronic devices contributed positively to academic activities by improving access to learning materials, facilitating communication, and supporting students’ understanding of course content. However, participants also reported several challenges associated with prolonged device use, including eye strain, physical fatigue, reduced concentration, technology dependence, and changes in social interaction patterns. Overall, the findings indicate that electronic devices have become integral to students’ academic and daily lives. While these technologies provide substantial educational benefits, their effective use requires balanced and responsible engagement to minimize potential physical, psychological, and social consequences.Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi pengaruh penggunaan perangkat elektronik terhadap kinerja akademik dan aktivitas sehari-hari mahasiswa Program Studi Teknik Elektro di Politeknik Negeri Sriwijaya. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan melibatkan enam mahasiswa berusia 18–22 tahun yang dipilih melalui teknik purposive sampling. Data dikumpulkan melalui wawancara semi-terstruktur dan diskusi kelompok, kemudian dianalisis menggunakan analisis tematik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perangkat elektronik memberikan kontribusi positif terhadap aktivitas akademik melalui kemudahan akses terhadap sumber belajar, peningkatan komunikasi akademik, dan dukungan terhadap pemahaman materi perkuliahan. Namun demikian, penggunaan perangkat elektronik secara intensif juga menimbulkan berbagai tantangan, seperti kelelahan mata, kelelahan fisik, penurunan konsentrasi, ketergantungan terhadap teknologi, serta perubahan pola interaksi sosial. Temuan penelitian menunjukkan bahwa perangkat elektronik telah menjadi bagian penting dalam kehidupan akademik dan aktivitas sehari-hari mahasiswa. Oleh karena itu, penggunaan teknologi secara seimbang dan bertanggung jawab diperlukan untuk memaksimalkan manfaat pendidikan sekaligus meminimalkan dampak negatif yang mungkin muncul.
The Utilization of Artificial Intelligence in English Language Learning in the Nahdlatul Wathan Environment Sudiani; Herman Zuhdi; Muhammad Salim
Chatra: Jurnal Pendidikan dan Pengajaran Vol. 4 No. 2 (2026): Chatra: Jurnal Pendidikan dan Pengajaran
Publisher : CV. Yazri Aksara Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62238/chatra.v4i2.430

Abstract

The rapid development of artificial intelligence has transformed various aspects of education, including English language teaching. This study aims to describe the utilization of artificial intelligence in English language teaching within the Nahdlatul Wathan educational environment, examine teachers’ perceptions of its use, and identify the supporting factors, challenges, and future opportunities associated with its implementation. A qualitative approach with a case study design was employed in three Nahdlatul Wathan secondary schools, namely SMAS NW Pendem, SMK NW Janapria, and MAS NW Lengarak, located in Janapria District, Central Lombok Regency. The participants consisted of three English teachers and two school leaders selected through purposive sampling. Data were collected through semi-structured interviews, observations, and document analysis and were analyzed using the interactive model of Miles, Huberman, and Saldaña. The findings reveal that artificial intelligence is primarily utilized as a supporting tool for developing instructional materials, designing assessments, enhancing vocabulary and grammar instruction, and assisting writing activities. Teachers generally expressed positive perceptions of AI while emphasizing the need for information verification and responsible use. The study suggests that artificial intelligence can support innovation in English language teaching when integrated critically, ethically, and under the guidance of teachers as the primary actors in the educational process.Perkembangan kecerdasan artifisial telah mendorong perubahan dalam berbagai aspek pendidikan, termasuk pembelajaran Bahasa Inggris. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pemanfaatan kecerdasan artifisial dalam pembelajaran Bahasa Inggris di lingkungan Nahdlatul Wathan, menganalisis persepsi guru terhadap penggunaannya, serta mengidentifikasi faktor pendukung, penghambat, dan peluang pengembangannya. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus yang dilakukan pada SMAS NW Pendem, SMK NW Janapria, dan MAS NW Lengarak di Kecamatan Janapria, Kabupaten Lombok Tengah. Informan penelitian terdiri atas tiga guru Bahasa Inggris dan dua informan dari unsur pimpinan sekolah yang dipilih secara purposif. Data dikumpulkan melalui wawancara semi-terstruktur, observasi, dan dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan model Miles, Huberman, dan Saldaña. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kecerdasan artifisial dimanfaatkan sebagai alat bantu dalam penyusunan materi, pembuatan evaluasi, pengembangan kosakata dan tata bahasa, serta pendampingan keterampilan menulis. Guru memiliki persepsi yang positif terhadap penggunaan AI, meskipun tetap menyoroti pentingnya verifikasi informasi dan pengawasan terhadap penggunaannya. Temuan ini menegaskan bahwa AI berpotensi mendukung inovasi pembelajaran Bahasa Inggris apabila diintegrasikan secara kritis, etis, dan tetap menempatkan guru sebagai aktor utama dalam proses pendidikan.
Sosiologi Lembaga Pendidikan: Praktik Tasamuh dalam Pembelajaran Pendidikan Agama Islam di MTs Ma’arif NU 1 Patikraja Niha Zahrotul; Muh Hanif
Chatra: Jurnal Pendidikan dan Pengajaran Vol. 4 No. 2 (2026): Chatra: Jurnal Pendidikan dan Pengajaran
Publisher : CV. Yazri Aksara Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62238/chatra.v4i2.431

Abstract

Praktik keberagamaan yang inklusif menjadi salah satu tantangan penting dalam pendidikan Islam di tengah meningkatnya kompleksitas masyarakat multikultural. Penelitian ini bertujuan menganalisis implementasi nilai tasamuh dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) di sekolah berbasis Ma’arif serta kontribusinya terhadap pembentukan sikap keberagamaan peserta didik. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan perspektif sosiologi pendidikan. Data diperoleh melalui wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi, kemudian dianalisis secara tematik berdasarkan konsep tasamuh, karakteristik pendidikan Ma’arif, dan keberagamaan inklusif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai tasamuh diinternalisasikan melalui materi pembelajaran yang membahas perbedaan mazhab, tradisi keagamaan, dan etika sosial, serta melalui strategi pembelajaran dialogis yang mendorong keterbukaan terhadap perbedaan. Praktik tersebut berkontribusi pada terbentuknya sikap moderat, penghargaan terhadap keragaman, dan kemampuan siswa dalam membangun interaksi sosial yang harmonis. Temuan ini menegaskan bahwa pembelajaran PAI tidak hanya berfungsi sebagai sarana transmisi pengetahuan keagamaan, tetapi juga sebagai ruang pembentukan budaya toleransi. Penelitian ini memberikan implikasi bagi pengembangan pendidikan Islam yang moderat, dialogis, dan responsif terhadap dinamika masyarakat multikultural.  The development of inclusive religious attitudes has become a significant challenge for Islamic education within increasingly multicultural societies. This study aims to examine the implementation of tasamuh (religious tolerance) in Islamic Religious Education (PAI) learning in Ma’arif-based schools and its contribution to students’ religious attitudes. Employing a qualitative approach within the sociology of education perspective, data were collected through in-depth interviews, observations, and document analysis. The study was analyzed using the concepts of tasamuh, Ma’arif educational characteristics, and inclusive religiosity as analytical frameworks. The findings reveal that tasamuh values are internalized through learning materials addressing differences in Islamic schools of thought, religious traditions, and social ethics, as well as through dialogical teaching strategies that encourage openness toward diverse perspectives. These practices contribute to the development of moderate attitudes, respect for diversity, and students’ capacity to establish harmonious social relationships. The findings indicate that Islamic Religious Education serves not only as a medium for transmitting religious knowledge but also as a space for cultivating a culture of tolerance. This study provides practical implications for strengthening moderate, dialogical, and socially responsive Islamic education in multicultural contexts.
A Model of Religious Value Internalization through Daily Habituation in Early Childhood Character Formation Siska Perdina; Siti Aisyah; Ratin Wahyu Juni Atma
Chatra: Jurnal Pendidikan dan Pengajaran Vol. 4 No. 2 (2026): Chatra: Jurnal Pendidikan dan Pengajaran
Publisher : CV. Yazri Aksara Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62238/chatra.v4i2.432

Abstract

The internalization of religious values in early childhood is essential for fostering religious character; however, the processes through which such values become embedded in children's daily behavior remain insufficiently understood. This study aimed to analyze the process of religious value internalization through daily habituation in strengthening early childhood character. A qualitative descriptive approach was employed at TK IT Al-Mumtaz Pontianak, involving three teachers as research participants. Data were collected through observations, semi-structured interviews, and document analysis, and were analyzed using the interactive model of data condensation, data display, and conclusion drawing. The findings revealed that religious value internalization develops through three interconnected stages: religious ritual habituation as the value introduction stage, socio-religious habituation as the value cultivation stage, and moral habituation as the character reinforcement stage. These stages collectively facilitate the transformation of religious values from ritual experiences into relatively stable character traits. The study contributes a conceptual model of religious value internalization that highlights the developmental relationship between ritual, social, and moral habituation. The findings provide practical guidance for designing religious character education programs in early childhood settings.Internalisasi nilai religius pada anak usia dini memiliki peran penting dalam pembentukan karakter religius, namun proses bagaimana nilai tersebut berkembang menjadi perilaku sehari-hari masih memerlukan kajian yang lebih mendalam. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis proses internalisasi nilai religius melalui pembiasaan harian dalam memperkuat karakter anak usia dini. Penelitian menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif yang dilaksanakan di TK IT Al-Mumtaz Pontianak dengan melibatkan tiga orang guru sebagai partisipan penelitian. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara semi-terstruktur, dan analisis dokumen, kemudian dianalisis menggunakan model interaktif yang meliputi kondensasi data, penyajian data, serta penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa internalisasi nilai religius berlangsung melalui tiga tahapan yang saling berkaitan, yaitu pembiasaan ritual keagamaan sebagai tahap pengenalan nilai, pembiasaan sosial religius sebagai tahap penanaman nilai, dan pembiasaan moral sebagai tahap penguatan karakter. Ketiga tahapan tersebut membentuk proses yang memungkinkan nilai religius berkembang menjadi karakter yang relatif menetap. Penelitian ini menghasilkan model konseptual internalisasi nilai religius yang dapat digunakan sebagai rujukan dalam pengembangan pendidikan karakter berbasis religius pada anak usia dini.
Teachers’ and Parents’ Roles in Shaping Children’s Learning Behavior in the Digital Era at the Indonesia–Malaysia Borderland Dwi Surti Junida; Nurmila Sari Djau
Chatra: Jurnal Pendidikan dan Pengajaran Vol. 4 No. 2 (2026): Chatra: Jurnal Pendidikan dan Pengajaran
Publisher : CV. Yazri Aksara Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62238/chatra.v4i2.433

Abstract

This study examines the roles of teachers and parents in shaping children's learning behavior in the digital era within the Indonesia–Malaysia borderland. A qualitative case study approach was employed in Entikong, West Kalimantan, involving an experienced elementary school teacher as the primary informant. Data were collected through a semi-structured interview and analyzed using thematic analysis. The findings indicate that digital technology functions as both a learning resource and a source of distraction. Children's learning behavior is influenced by parental supervision, teacher guidance, school regulations, and broader social environments. While digital platforms provide opportunities for accessing information and supporting independent learning, challenges related to excessive technology use, declining learning discipline, and changing social behavior remain evident. The study highlights the importance of collaboration between families and schools in promoting responsible technology use and positive learning habits. These findings contribute to understanding children's learning behavior in digitally connected borderland communities. Penelitian ini bertujuan mengkaji peran guru dan orang tua dalam membentuk perilaku belajar anak pada era digital di wilayah perbatasan Indonesia–Malaysia. Penelitian menggunakan pendekatan studi kasus kualitatif yang dilaksanakan di Entikong, Kalimantan Barat, dengan melibatkan seorang guru sekolah dasar berpengalaman sebagai informan utama. Data dikumpulkan melalui wawancara semi-terstruktur dan dianalisis menggunakan analisis tematik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa teknologi digital berfungsi sekaligus sebagai sumber belajar dan sumber distraksi. Perilaku belajar anak dipengaruhi oleh pengawasan orang tua, bimbingan guru, regulasi sekolah, serta lingkungan sosial yang lebih luas. Meskipun platform digital menyediakan peluang untuk memperoleh informasi dan mendukung pembelajaran mandiri, tantangan berupa penggunaan teknologi yang berlebihan, menurunnya disiplin belajar, dan perubahan perilaku sosial masih ditemukan. Penelitian ini menegaskan pentingnya kolaborasi antara keluarga dan sekolah dalam membangun penggunaan teknologi yang bertanggung jawab serta perilaku belajar yang positif pada komunitas perbatasan yang semakin terhubung secara digital.
ChatGPT and the Creativity of Art Education Students: A Qualitative Study of Its Use in Learning Nurmila Sari Djau; M Zainul Hafizi
Chatra: Jurnal Pendidikan dan Pengajaran Vol. 4 No. 2 (2026): Chatra: Jurnal Pendidikan dan Pengajaran
Publisher : CV. Yazri Aksara Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62238/chatra.v4i2.434

Abstract

The development of artificial intelligence technology has created new opportunities to support learning processes and foster students’ creativity in higher education. One of the most widely used technologies is ChatGPT, which assists users in accessing information, generating ideas, and completing various academic tasks. This study aims to explore the use of ChatGPT in learning and examine its contribution to the creativity of Art Education students at the Faculty of Teacher Training and Education, Tanjungpura University. The study employed a qualitative approach with an intrinsic case study design. The participants consisted of ten second-semester students selected through purposive sampling. Data were collected through semi-structured interviews and analyzed using the interactive model of Miles and Huberman. The findings reveal that ChatGPT is utilized as a source of inspiration for creativity development, a tool for content creation and learning support, a means of enhancing learning efficiency, and a resource for independent learning. However, its use also presents challenges related to technological dependency, information validity, originality of work, and academic ethics. The study concludes that ChatGPT has the potential to support students’ creativity when used critically, reflectively, and responsibly within the learning process. Perkembangan teknologi kecerdasan buatan telah menghadirkan berbagai peluang baru dalam mendukung proses pembelajaran dan pengembangan kreativitas mahasiswa di pendidikan tinggi. Salah satu teknologi yang banyak dimanfaatkan adalah ChatGPT, yang mampu membantu pengguna dalam memperoleh informasi, mengembangkan ide, dan menyelesaikan berbagai aktivitas akademik. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi pemanfaatan ChatGPT dalam pembelajaran serta memahami kontribusinya terhadap kreativitas mahasiswa Pendidikan Seni Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Tanjungpura. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus intrinsik. Informan penelitian terdiri atas sepuluh mahasiswa semester dua yang dipilih melalui teknik purposive sampling. Data dikumpulkan melalui wawancara semi-terstruktur dan dianalisis menggunakan model interaktif Miles dan Huberman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ChatGPT dimanfaatkan sebagai sumber inspirasi dalam pengembangan kreativitas, pendukung produksi konten dan pembelajaran, sarana yang meningkatkan efisiensi belajar, serta alat bantu yang mendukung pembelajaran mandiri. Namun demikian, pemanfaatannya juga menghadirkan tantangan yang berkaitan dengan ketergantungan teknologi, validitas informasi, orisinalitas karya, dan etika akademik. Penelitian ini menyimpulkan bahwa ChatGPT berpotensi mendukung kreativitas mahasiswa apabila digunakan secara kritis, reflektif, dan bertanggung jawab dalam proses pembelajaran.