cover
Contact Name
Mokhammad Miftakhul Huda
Contact Email
fenomenaj9@gmail.com
Phone
+6285649117381
Journal Mail Official
fenomenaj9@gmail.com
Editorial Address
Jl. Mataram No.1, Karang Mluwo, Mangli, Kaliwates, Jember, East Java, Indonesia 68136
Location
Kab. jember,
Jawa timur
INDONESIA
FENOMENA: Journal of Social Science
ISSN : 14125439     EISSN : 26567369     DOI : https://doi.org/10.35719/fenomena.v22i2
Core Subject : Social,
Aims, Focus And Scope A. Aims: FENOMENA is a leading peer-reviewed and open-access journal, which publishes scholarly works of researchers and scholars from around the world and specializes in the Social Sciences. The journal also has a strong interest in the scientific development of theory that is of global significance. B. Focus: This journal focuses on publishing the highest quality scientific articles emphasizing contemporary Asian issues with interdisciplinary and multidisciplinary approaches. C. Scope: This journal seeks to publish articles that deal with educational development, politics, law, humanities and cultural studies, and economic issues in Asia. Its scope consists of: 1. Education (Curriculums, Teaching, and Learning, Islamic Education, Educational Technology); 2. Politics (Structure and Agency in Social Dynamics, the Role of Government and Non-Governmental Organizations, Concepts and Practical Sociology, Islamic Politics, Government and Public Administration); 3. Law (Human Rights, Social Justice, Islamic Law, Criminal Law, International Relations, Civil Law, Constitutional Law, Customary Law); 4. Humanities and Cultural Studies (Cultural Studies as a Constitutive field, Religion Studies, Islamic Studies, Philosophy, Ethics, Consciousness, Cross-cultural studies, Theology, Psychology, Spirituality, Human Geography, Anthropology, Local Wisdom); 5. Economics (Business and Entrepreneurship, Management, Accounting, Public Finance, Economic Development, and Islamic Economics).
Articles 576 Documents
Desain Pendidikan Karakter Berbasis Pondok Pesantren: Studi Pondok Pesantren Al-Karomah Bali: Character Education Design Based on Islamic Boarding School: A Case Study of Al-Karomah Islamic Boarding School, Bali Siti Qosidah; Nurhadi Nurhadi; I. Mustofa Zuhri
Fenomena Vol 17 No 1 (2018): FENOMENA: Jurnal Penelitian Islam Indonesia
Publisher : LP2M Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35719/fenomena.v17i1.284

Abstract

Character education in Indonesia faces serious challenges due to the decline of national morality, such as corruption and student brawls, necessitating an effective educational design. This study aims to analyze the character education design based on Islamic boarding schools at Al-Karomah Islamic Boarding School, Bali. Employing a qualitative case study approach, data were collected through observation, interviews, and documentation. The findings reveal that the character education design employs four main model approaches: Ahlussunnah Wal-Jama'ah-based character education, habituation-based character education, exemplary character education, and discipline-based character education. In conclusion, the integration of these four models proves effective in shaping students who are faithful, morally upright, and insightful. This study recommends that other Islamic boarding schools adopt such a holistic approach, blending traditional values with modern management to strengthen the nation's character resilience in the era of globalization. Pendidikan karakter di Indonesia menghadapi tantangan serius akibat merosotnya moral bangsa, seperti korupsi dan tawuran pelajar, sehingga diperlukan desain pendidikan yang efektif. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis desain pendidikan karakter berbasis pondok pesantren di Pondok Pesantren Al-Karomah, Bali. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif jenis studi kasus, data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa desain pendidikan karakter di pesantren ini menggunakan empat model pendekatan utama, yaitu pendidikan karakter ala Ahlussunnah Wal-Jama'ah, pendidikan karakter berbasis pembiasaan, pendidikan karakter melalui keteladanan, dan pendidikan karakter berbasis kedisiplinan. Kesimpulannya, integrasi keempat model tersebut terbukti efektif membentuk santri yang beriman, berakhlak mulia, dan berwawasan luas. Penelitian ini merekomendasikan agar pesantren lain mengadopsi pendekatan holistik tersebut serta memadukan nilai-nilai tradisional dengan manajemen modern untuk memperkuat ketahanan karakter bangsa di era globalisasi.
Konsep Tri Hita Karana Dalam Pandangan Masyarakat Hindu Tengger: The Concept of Tri Hita Karana in the Perspective of the Tengger Hindu Community Ismail Sholeh; Siti Nur Azizatul Luthfiyah
Fenomena Vol 17 No 1 (2018): FENOMENA: Jurnal Penelitian Islam Indonesia
Publisher : LP2M Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35719/fenomena.v17i1.285

Abstract

The Tengger Hindu community in Argosari Village faces the challenge of maintaining social harmony amid religious conversion and modernization pressures, yet they demonstrate strong social cohesion. This study aims to analyze the application of the Tri Hita Karana concept, which encompasses harmonious relationships with God, fellow humans, and nature, within the unique local context of Tengger. This research employs a qualitative approach with a case study design, collecting data through in-depth interviews with traditional leaders, shamans, and residents, as well as participatory observation. The main findings reveal that the Tengger Hindu community believes in God as Sang Hyang Widi Wasa, who encompasses everything, including the atman within every living being. In social relations, they firmly hold the principle of Tat Twan Asi ("I am you"), which fosters high tolerance, including interfaith marriages and joint celebrations with Muslims. Regarding nature, they have customary rules prohibiting land sales because the earth is considered ancestral heritage and a "mother" that must be preserved. In conclusion, Tri Hita Karana is not merely a Hindu teaching but a universal concept integrated with local customs and traditions, recommended as a model of harmony for other multicultural societies. Masyarakat Hindu Tengger di Desa Argosari menghadapi tantangan mempertahankan harmoni sosial di tengah perubahan keyakinan agama dan tekanan modernisasi, namun tetap menunjukkan kohesi sosial yang kuat. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis penerapan konsep Tri Hita Karana yang meliputi hubungan harmonis dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam dalam konteks keunikan lokal Tengger. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus, mengumpulkan data melalui wawancara mendalam terhadap tokoh adat, dukun, dan warga, serta observasi partisipatif di lapangan. Temuan utama menunjukkan bahwa masyarakat Hindu Tengger meyakini Tuhan sebagai Sang Hyang Widi Wasa yang meliputi segala sesuatu, termasuk atman dalam diri setiap makhluk. Dalam hubungan sosial, mereka memegang teguh prinsip Tat Twan Asi ("aku adalah kamu") yang melahirkan toleransi tinggi, termasuk terhadap pernikahan beda agama dan perayaan hari raya bersama umat Islam. Terkait alam, mereka memiliki aturan adat yang melarang penjualan tanah karena bumi dianggap sebagai warisan leluhur dan "ibu" yang harus dilestarikan. Kesimpulannya, Tri Hita Karana bukan sekadar ajaran Hindu tetapi konsep universal yang terintegrasi dengan adat dan tradisi lokal, sehingga direkomendasikan sebagai model kerukunan bagi masyarakat multikultural lainnya.
Menggugat Islam Indonesia Dalam Mewujudkan Religious Peacebuilding Di Era Konflik: Challenging Indonesian Islam in Realizing Religious Peacebuilding in the Era of Conflict Asy'ari Asy'ari
Fenomena Vol 16 No 2 (2017): FENOMENA: Jurnal Penelitian Islam Indonesia
Publisher : LP2M Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35719/fenomena.v16i2.286

Abstract

Plurality in Indonesia has the potential to generate both harmony and multidimensional conflict, including religiously charged violence that emerged after the reform era. This article aims to challenge the position of Indonesian Islam as the majority religion in realizing religious peacebuilding amid an era of conflict. Through a qualitative library research approach, the author analyzes various communal conflict phenomena such as the Situbondo, Tasikmalaya, and Ambon riots, while exploring the concepts of dialogue, peace education, and Djohan Effendi’s secularism as resolution strategies. The main findings indicate that Indonesian Islam holds great potential as a source of peace, but religious symbols are often used to justify violence due to absolutism, fanaticism, and exclusivism. In conclusion, a peace militancy from religious leaders, implementation of empathetic interreligious dialogue, and an inclusive educational curriculum from an early age are required to transform the culture of violence into a culture of peace. The recommendation is that religious and political actors must integrate universal religious values such as justice and humanity into every concrete action of conflict prevention. Pluralitas di Indonesia berpotensi melahirkan harmoni sekaligus konflik multidimensional, termasuk kekerasan bernuansa agama yang muncul pasca reformasi. Artikel ini bertujuan menggugat posisi Islam Indonesia sebagai agama mayoritas dalam mewujudkan religious peacebuilding di tengah era konflik. Melalui pendekatan kualitatif berbasis kajian pustaka, penulis menganalisis berbagai fenomena konflik komunal seperti kerusuhan Situbondo, Tasikmalaya, dan Ambon, serta mengeksplorasi konsep dialog, pendidikan perdamaian, dan sekularisme ala Djohan Effendi sebagai strategi resolusi. Temuan utama menunjukkan bahwa Islam Indonesia memiliki potensi besar sebagai sumber perdamaian, namun seringkali simbol-simbol agama dimanfaatkan untuk membenarkan kekerasan akibat sikap absolutisme, fanatisme, dan eksklusivisme. Kesimpulannya, diperlukan militansi perdamaian dari para agamawan, implementasi dialog antaragama yang empatik, serta kurikulum pendidikan inklusif sejak dini untuk mentransformasi budaya kekerasan menuju budaya damai. Rekomendasinya, aktor agama dan politik harus mengintegrasikan nilai-nilai universal agama seperti keadilan dan kemanusiaan dalam setiap aksi konkret pencegahan konflik.
Dialog Dan Pluralitas Jalan Tengah: Gerbang Mewujudkan Harmoni Sosial: Dialogue and Pluralism as a Middle Path: A Gateway to Achieving Social Harmony Sofiah Sofiah
Fenomena Vol 16 No 2 (2017): FENOMENA: Jurnal Penelitian Islam Indonesia
Publisher : LP2M Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35719/fenomena.v16i2.287

Abstract

The phenomenon of social conflicts and violence among internal Muslim groups in Indonesia, such as the attacks in Sampang and Jember, reflects a critical issue where religious plurality is often met with exclusivism and claims of absolute truth. The grand theoretical framework of this study is rooted in the Islamic concept that pluralism (plurality) is sunnatullah (divine law), yet its empirical reality is frequently contradicted by rigid and fanatical interpretations. This article aims to examine how dialogue within Islamic teachings serves as an integrative medium to address religious divergence and achieve social harmony. To achieve this objective, the study employs a qualitative library research method, analyzing Qur'anic verses, hadith, and scholarly interpretations, particularly from Tafsir al-Misbah and works on inclusive Islam. The most important findings reveal that the Qur'an contains over 1,700 dialogical expressions and establishes clear ethics for dialogue, including sincerity, respectful listening, objectivity, and focusing on common platforms. The study concludes that dialogue is an effective and constructive tool for fostering social harmony, but its success is often hindered by exclusivist attitudes. It is recommended that Muslim communities actively develop egalitarian, creative, and constructive communication channels while adhering to Qur'anic ethical guidelines. Fenomena konflik sosial dan kekerasan antar kelompok internal Muslim di Indonesia, seperti kasus penyerangan di Sampang dan Jember, mencerminkan isu krusial dimana pluralitas seringkali dihadapi dengan sikap eksklusivisme dan klaim kebenaran mutlak. Peta besar teori dalam artikel ini berakar pada konsep Islam bahwa pluralitas adalah sunnatullah, namun realitas empirisnya kerap bertolak belakang karena penafsiran yang kaku dan fanatik. Artikel ini bertujuan untuk mengkaji bagaimana dialog dalam ajaran Islam dapat berfungsi sebagai media integratif untuk menyikapi perbedaan pemahaman keagamaan demi mewujudkan harmoni sosial. Untuk mencapai tujuan tersebut, penelitian ini menggunakan metode studi pustaka kualitatif dengan menganalisis ayat-ayat Al-Qur'an, hadis, serta penafsiran ulama, terutama dari Tafsir al-Misbah dan karya tentang Islam inklusif. Temuan terpenting menunjukkan bahwa Al-Qur'an memuat lebih dari 1.700 ungkapan dialogis dan menetapkan etika dialog yang jelas, seperti niat tulus, mendengarkan dengan hormat, objektivitas, serta fokus pada titik persamaan. Kesimpulannya, dialog adalah sarana efektif dan konstruktif untuk kerukunan, namun sering terhambat oleh sikap eksklusivistik. Penelitian merekomendasikan agar komunitas Muslim mengembangkan komunikasi yang egaliter, kreatif, dan konstruktif dengan berpedoman pada etika Al-Qur'an.
Memotret Tipologi Tasawuf Kontemporer: Capturing the Typology of Contemporary Sufism Mahjuddin Mahjuddin
Fenomena Vol 16 No 2 (2017): FENOMENA: Jurnal Penelitian Islam Indonesia
Publisher : LP2M Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35719/fenomena.v16i2.288

Abstract

The phenomenon of contemporary Sufism emerges as a response to the inability of modern sociology and materialistic progress to provide spiritual peace, often neglecting metaphysical reality and social morality. This article aims to examine the typology, basic doctrines, and social applications of contemporary Sufism, distinguishing it from classical Sufism. Using a library research approach with descriptive-analytical method, the study explores various perspectives from figures such as Fazlur Rahman, Ahmad Najib Burhani, and Sudirman Tebba. The findings show that contemporary Sufism integrates individual piety (through dhikr and sunnah practices) with social piety (through infaq, zakat, and concern for society and the environment). It rejects extreme asceticism and fatalism, promoting engagement with economy, governance, law, education, and mental health. The study concludes that contemporary Sufism offers a balanced spiritual-social model, with recommendations to apply its doctrines in daily life for inner happiness and communal well-being. Fenomena tasawuf kontemporer muncul sebagai respons terhadap ketidakmampuan sosiologi modern dan kemajuan materialistik dalam memberikan ketenteraman spiritual, yang sering mengabaikan realitas metafisik dan moral sosial. Artikel ini bertujuan mengkaji tipologi, doktrin dasar, dan penerapan sosial tasawuf kontemporer, serta membedakannya dengan tasawuf klasik. Dengan metode penelitian kepustakaan dan pendekatan deskriptif-analitis, studi ini mengeksplorasi berbagai perspektif dari tokoh seperti Fazlur Rahman, Ahmad Najib Burhani, dan Sudirman Tebba. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tasawuf kontemporer mengintegrasikan kesalehan individual (melalui zikir dan amalan sunah) dengan kesalehan sosial (melalui infak, zakat, dan kepedulian pada masyarakat serta lingkungan). Tasawuf ini menolak asketisme ekstrem dan fatalisme, serta mendorong keterlibatan dalam ekonomi, pemerintahan, hukum, pendidikan, dan kesehatan mental. Kesimpulannya, tasawuf kontemporer menawarkan model spiritual-sosial yang seimbang, dengan rekomendasi untuk mengamalkan doktrinnya dalam kehidupan sehari-hari demi kebahagiaan batin dan kesejahteraan bersama.
Islam Nusantara Dalam Perspektif Pemikiran Liberal Abdurrahman Wahid: Islam Nusantara from the Perspective of Abdurrahman Wahid's Liberal Thought Ubaidillah Ubaidillah
Fenomena Vol 16 No 2 (2017): FENOMENA: Jurnal Penelitian Islam Indonesia
Publisher : LP2M Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35719/fenomena.v16i2.289

Abstract

Indonesia’s ethnically and religiously plural society is highly prone to conflict, particularly when issues of ethnicity, religion, race, and intergroup relations are disturbed. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) developed liberal thought emphasizing democracy, pluralism, and the indigenization of Islam as the foundation of national life. This study aims to examine Gus Dur’s liberal thought on Islam Nusantara within the context of post-New Order political struggles. The method used is library research with a qualitative-descriptive approach, analyzing Gus Dur’s works and related literature. The results show that Gus Dur rejected the structural formalization of Islam, instead prioritizing the moral, ethical, and spiritual substance of Islam in state life. He believed Pancasila is final because none of its values contradict Islamic principles. In conclusion, Gus Dur’s Islam Nusantara prioritizes openness, tolerance, and respect for minorities. The recommendation is that interreligious and social-humanitarian dialogue must be continuously enhanced to maintain national harmony. Masyarakat Indonesia yang plural secara etnis dan agama sangat rentan terhadap konflik, terutama jika isu suku, agama, ras, dan antargolongan terganggu. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) mengembangkan pemikiran liberal yang menekankan demokrasi, pluralisme, dan pribumisasi Islam sebagai landasan kehidupan berbangsa. Penelitian ini bertujuan mengkaji pemikiran liberal Gus Dur tentang Islam Nusantara dalam konteks pergulatan politik pasca-Orde Baru. Metode yang digunakan adalah studi kepustakaan dengan pendekatan kualitatif-deskriptif, menganalisis karya-karya Gus Dur dan literatur terkait. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Gus Dur menolak formalisasi Islam secara struktural, sebaliknya mengedepankan substansi moral, etika, dan spiritual Islam dalam kehidupan bernegara. Ia meyakini Pancasila final karena tidak bertentangan dengan prinsip dasar Islam. Kesimpulannya, Islam Nusantara versi Gus Dur mengedepankan keterbukaan, toleransi, dan penghormatan terhadap minoritas. Rekomendasinya, dialog antaragama dan sosial-kemanusiaan perlu terus ditingkatkan untuk menjaga kerukunan nasional.
Pandangan Terhadap Ahl Al-Kitab: Kontroversi Tanpa AKhir: Views on the People of the Book: An Endless Controversy Zainal Anshari; Zainuddin Zainuddin
Fenomena Vol 16 No 2 (2017): FENOMENA: Jurnal Penelitian Islam Indonesia
Publisher : LP2M Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35719/fenomena.v16i2.290

Abstract

The concept of Ahl al-Kitab (People of the Book) in Islam has long generated ongoing debate, particularly regarding its inclusive yet distinctive recognition of non-Muslim religious communities. This study aims to examine the terminological and interpretive development of Ahl al-Kitab in the Qur’an, hadith, and classical and contemporary Islamic scholarship, as well as its practical implications for social interaction, especially concerning food and marriage. Using a library research method with a descriptive-analytical approach, this study analyzes primary sources including Qur’anic exegesis, hadith collections, and works of fiqh and tafsir. The findings reveal that while the majority of scholars limit Ahl al-Kitab to Jews and Christians, a significant minority—including Abu Hanifah, Muhammad Abduh, and Muhammad Rasyid Ridlo—argue for a broader inclusion of Zoroastrians, Sabians, Hindus, Buddhists, and Confucians on the basis that every nation has received a divine messenger. Furthermore, divergent legal opinions persist regarding the permissibility of consuming meat slaughtered by Ahl al-Kitab and intermarriage with them. The study concludes that the flexible interpretation of Ahl al-Kitab offers a theological basis for cosmopolitanism and interfaith coexistence, but recommends contextual fatwas aligned with contemporary realities. Konsep Ahl al-Kitab dalam Islam telah melahirkan kontroversi berkepanjangan terkait pengakuan terhadap komunitas non-Muslim tanpa menyamakan semua agama. Penelitian ini bertujuan mengkaji perkembangan terminologis dan penafsiran Ahl al-Kitab dalam al-Qur’an, hadis, serta pemikiran ulama klasik dan kontemporer, beserta implikasinya terhadap interaksi sosial seperti makanan dan pernikahan. Menggunakan metode penelitian kepustakaan dengan pendekatan deskriptif-analitis, penelitian ini menganalisis sumber-sumber primer seperti tafsir, kitab hadis, dan fiqih. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun mayoritas ulama membatasi Ahl al-Kitab pada Yahudi dan Nasrani, sebagian signifikan lain—termasuk Abu Hanifah, Muhammad Abduh, dan Muhammad Rasyid Ridlo—memperluas cakupan tersebut meliputi Majusi, Shabi’un, Hindu, Buddha, dan Konghucu dengan argumentasi bahwa setiap umat memiliki rasul. Selain itu, perbedaan pendapat masih kuat mengenai kehalalan sembelihan Ahl al-Kitab dan pernikahan dengan mereka. Kesimpulannya, penafsiran fleksibel tentang Ahl al-Kitab memberikan landasan teologis bagi kosmopolitanisme dan koeksistensi antaragama, namun merekomendasikan fatwa kontekstual yang sesuai dengan realitas zaman modern.
Pengaruh In-the-Job Training Dan Off-the-Job Training Terhadap Peningkatan Kinerja Guru Pendidikan Anak Usia Dini: The Influence of In-the-Job Training and Off-the-Job Training on Improving the Performance of Early Childhood Education Teachers Vera Firdaus; Hisbiyatul Hasanah
Fenomena Vol 16 No 2 (2017): FENOMENA: Jurnal Penelitian Islam Indonesia
Publisher : LP2M Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35719/fenomena.v16i2.291

Abstract

The quality of education in Indonesia remains a serious concern, particularly due to the low performance of teachers, which directly impacts national competitiveness and human resource development. This study is grounded in human resource management theory, specifically training and development, which emphasizes the role of structured job training to enhance employee performance. The research aims to examine the influence of in-the-job training and off-the-job training on improving the performance of early childhood education teachers in Sumbersari, Jember. A quantitative pre-experimental design with a one-group pretest-posttest method was employed. The sample consisted of 50 teachers selected through purposive sampling from the PAUD teacher working group in Sumbersari District. Data were analyzed using a paired sample t-test. The results showed a significant difference in teacher performance before and after the training intervention, with the mean score increasing from 69.56 to 77.42, and a Sig. (2-tailed) value of 0.000 < 0.05. It is concluded that both in-the-job and off-the-job training effectively improve teacher performance. It is recommended that educational institutions regularly integrate such training models into professional development programs to sustain teacher competency enhancement. Kualitas pendidikan di Indonesia masih menjadi perhatian serius, terutama karena rendahnya kinerja guru yang berdampak langsung pada daya saing bangsa dan pengembangan sumber daya manusia. Penelitian ini berlandaskan pada teori manajemen sumber daya manusia, khususnya pelatihan dan pengembangan, yang menekankan pentingnya pelatihan kerja terstruktur untuk meningkatkan kinerja karyawan. Penelitian bertujuan menguji pengaruh pelatihan in the job dan off the job terhadap peningkatan kinerja guru PAUD di Kecamatan Sumbersari, Jember. Metode yang digunakan adalah kuantitatif dengan desain pre-eksperimen one-group pretest-posttest. Sampel sebanyak 50 guru dipilih melalui purposive sampling dari anggota KKG PAUD Kecamatan Sumbersari. Analisis data menggunakan uji t sampel berpasangan. Hasil penelitian menunjukkan terdapat perbedaan signifikan kinerja guru sebelum dan sesudah pelatihan, dengan nilai rata-rata meningkat dari 69,56 menjadi 77,42, serta nilai Sig. (2-tailed) 0,000 < 0,05. Kesimpulannya, pelatihan in the job dan off the job terbukti efektif meningkatkan kinerja guru. Direkomendasikan agar institusi pendidikan secara rutin mengintegrasikan model pelatihan tersebut ke dalam program pengembangan profesional guna menjaga peningkatan kompetensi guru secara berkelanjutan.
Supervisi Kepala Madrasah Dalam Peningkatan Kinerja Guru: The Principal's Supervision in Enhancing Teacher Performance Abdul Hamid
Fenomena Vol 16 No 2 (2017): FENOMENA: Jurnal Penelitian Islam Indonesia
Publisher : LP2M Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35719/fenomena.v16i2.292

Abstract

The low quality of teacher performance remains a critical issue in many educational institutions, particularly at the elementary madrasah level, where academic supervision is often not implemented optimally. Based on the central role of the principal in achieving educational goals, this research aims to reveal how academic supervision is carried out to improve teacher performance. A qualitative approach was employed, using interviews, participant observation, and documentation at Madrasah Ibtidaiyah Sirajul Ulum, Probolinggo. The findings show that individual techniques such as orientation for new teachers, classroom observation, and individual conferences, as well as group techniques including teacher meetings, workshops, bulletin boards, and field trips, have been implemented but remain suboptimal. The main obstacles include the principal’s busy schedule due to external meetings and the lack of readiness among some teachers to be supervised. The study concludes that academic supervision has not yet run effectively and recommends routine, well-planned supervision activities to enhance teacher professionalism and learning quality. Rendahnya kualitas kinerja guru masih menjadi isu krusial di banyak lembaga pendidikan, khususnya di madrasah ibtidaiyah, di mana supervisi akademik sering kali belum berjalan optimal. Berdasarkan peran sentral kepala madrasah dalam mencapai tujuan pendidikan, penelitian ini bertujuan mengungkap pelaksanaan supervisi akademik untuk meningkatkan kinerja guru. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan teknik wawancara, observasi partisipatif, dan dokumentasi di MI Sirajul Ulum, Probolinggo. Temuan menunjukkan bahwa teknik individual seperti orientasi guru baru, observasi kelas, dan percakapan individual, serta teknik kelompok seperti rapat dewan guru, workshop, buletin board, dan karyawisata telah dilaksanakan namun belum optimal. Hambatan utama adalah kesibukan kepala madrasah karena rapat di luar sekolah dan kurangnya kesiapan sebagian guru untuk disupervisi. Kesimpulannya, supervisi akademik belum berjalan efektif, dan direkomendasikan perlunya kegiatan supervisi yang rutin dan terencana guna meningkatkan profesionalisme guru serta kualitas pembelajaran.
Bercerita Dan Pembiasaan: Metode Penguatan Nilai Multikultural Di Madrasah: Storytelling and Habituation: Methods for Strengthening Multicultural Values in Madrasah Imam Bukhari
Fenomena Vol 16 No 2 (2017): FENOMENA: Jurnal Penelitian Islam Indonesia
Publisher : LP2M Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35719/fenomena.v16i2.293

Abstract

The phenomenon of Indonesia's multi-ethnic, religious, and cultural society has the potential to generate conflict if values of togetherness are not instilled from an early age. Multicultural education becomes a crucial strategy for building social cohesion, especially in Islamic elementary schools. This study aims to describe the methods of instilling multicultural values and their impact on student behavior. This descriptive qualitative study was conducted in four madrasahs in Kraksaan District through observation, interviews, and documentation, with inductive data analysis. The findings reveal that the most frequently used methods are storytelling and behavioral habituation. Both methods effectively transform students' attitudes from rejecting differences to being more tolerant and appreciative of peers from diverse backgrounds. However, the main obstacles faced by teachers include a lack of mastery of storytelling techniques, limited media, and inconsistencies between values taught at school and habits at home and in the community. In conclusion, strengthening multicultural values through storytelling and habituation positively influences students' behavioral changes. It is recommended to enhance teachers' storytelling competencies, provide learning media, and strengthen partnerships with parents to create value consistency. Fenomena masyarakat Indonesia yang majemuk secara etnis, agama, dan budaya berpotensi menimbulkan konflik jika nilai-nilai kebersamaan tidak ditanamkan sejak dini. Pendidikan multikultural menjadi strategi penting untuk membangun kohesi sosial, terutama di madrasah ibtidaiyah. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan metode penanaman nilai multikultural serta dampaknya terhadap perilaku siswa. Studi kualitatif deskriptif ini dilakukan di empat madrasah di Kecamatan Kota Kraksaan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi, dengan analisis data secara induktif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa metode yang paling sering digunakan adalah bercerita dan pembiasaan perilaku. Kedua metode ini terbukti efektif mengubah sikap siswa dari tidak menerima perbedaan menjadi lebih toleran dan menghargai teman yang berbeda latar belakang. Namun, kendala utama yang dihadapi guru adalah kurangnya penguasaan teknik bercerita dan keterbatasan media, serta inkonsistensi antara nilai yang diajarkan di sekolah dengan kebiasaan di rumah dan lingkungan masyarakat. Kesimpulannya, penguatan nilai multikultural melalui bercerita dan pembiasaan berdampak positif pada perubahan perilaku siswa. Direkomendasikan peningkatan kompetensi guru dalam metode bercerita, penyediaan media pembelajaran, serta penguatan kemitraan dengan orang tua untuk menciptakan konsistensi nilai.

Filter by Year

2002 2026


Filter By Issues
All Issue Vol 25 No 1 (2026): FENOMENA: Journal of the Social Sciences Vol 24 No 2 (2025): FENOMENA: Journal of the Social Sciences Vol 24 No 1 (2025): FENOMENA: Journal of the Social Sciences Vol 23 No 2 (2024): FENOMENA: Journal of the Social Sciences Vol 23 No 1 (2024): FENOMENA: Journal of the Social Sciences Vol 22 No 2 (2023): FENOMENA: Jurnal Penelitian Islam Indonesia Vol 22 No 2 (2023): FENOMENA: Journal of the Social Sciences Vol 22 No 1 (2023): FENOMENA: Journal of the Social Sciences Vol 22 No 1 (2023): FENOMENA: Jurnal Penelitian Islam Indonesia Vol 21 No 2 (2022): FENOMENA: Jurnal Penelitian Islam Indonesia Vol 21 No 2 (2022): FENOMENA: Journal of the Social Sciences Vol 21 No 1 (2022): FENOMENA: Journal of the Social Sciences Vol 21 No 1 (2022): FENOMENA: Jurnal Penelitian Islam Indonesia Vol 20 No 2 (2021): FENOMENA: Journal of the Social Sciences Vol 20 No 2 (2021): FENOMENA: Jurnal Penelitian Islam Indonesia Vol 20 No 1 (2021): FENOMENA: Jurnal Penelitian Islam Indonesia Vol 20 No 1 (2021): FENOMENA: Journal of the Social Sciences Vol 19 No 2 (2020): FENOMENA: Journal of the Social Sciences Vol 19 No 2 (2020): FENOMENA: Jurnal Penelitian Islam Indonesia Vol 19 No 1 (2020): FENOMENA: Journal of the Social Sciences Vol 19 No 1 (2020): FENOMENA: Jurnal Penelitian Islam Indonesia Vol 18 No 2 (2019): FENOMENA: Jurnal Penelitian Islam Indonesia Vol 18 No 2 (2019): FENOMENA: Journal of the Social Sciences Vol 18 No 1 (2019): FENOMENA: Journal of the Social Sciences Vol 18 No 1 (2019): FENOMENA: Jurnal Penelitian Islam Indonesia Vol 17 No 2 (2018): FENOMENA: Jurnal Penelitian Islam Indonesia Vol 17 No 1 (2018): FENOMENA: Jurnal Penelitian Islam Indonesia Vol 16 No 2 (2017): FENOMENA: Jurnal Penelitian Islam Indonesia Vol 16 No 1 (2017): FENOMENA: Jurnal Penelitian Islam Indonesia Vol 15 No 2 (2016): FENOMENA: Jurnal Penelitian Islam Indonesia Vol 15 No 1 (2016): FENOMENA: Jurnal Penelitian Islam Indonesia Vol 14 No 2 (2015): FENOMENA: Jurnal Penelitian Islam Indonesia Vol 14 No 1 (2015): FENOMENA: Jurnal Penelitian Islam Indonesia Vol 13 No 2 (2014): FENOMENA: Jurnal Penelitian Islam Indonesia Vol 13 No 1 (2014): FENOMENA: Jurnal Penelitian Islam Indonesia Vol 12 No 2 (2013): FENOMENA: Jurnal Penelitian Islam Indonesia Vol 12 No 1 (2013): FENOMENA: Jurnal Penelitian Islam Indonesia Vol 11 No 2 (2012): FENOMENA: Jurnal Penelitian Islam Indonesia Vol 11 No 1 (2012): FENOMENA: Jurnal Penelitian Islam Indonesia Vol 10 No 2 (2011): FENOMENA: Jurnal Penelitian Islam Indonesia Vol 10 No 1 (2011): FENOMENA: Jurnal Penelitian Islam Indonesia Vol 9 No 2 (2010): FENOMENA: Jurnal Penelitian Islam Indonesia Vol 9 No 1 (2010): FENOMENA: Jurnal Penelitian Islam Indonesia Vol 8 No 2 (2009): FENOMENA: Jurnal Penelitian Islam Indonesia Vol 8 No 1 (2009): FENOMENA: Jurnal Penelitian Islam Indonesia Vol 7 No 2 (2008): FENOMENA: Jurnal Penelitian Islam Indonesia Vol 7 No 1 (2008): FENOMENA: Jurnal Penelitian Islam Indonesia Vol 6 No 2 (2007): FENOMENA: Jurnal Penelitian Islam Indonesia Vol 6 No 1 (2007): FENOMENA: Jurnal Penelitian Islam Indonesia Vol 5 No 2 (2006): FENOMENA: Journal Penelitian STAIN Jember Vol 5 No 1 (2006): FENOMENA: Journal Penelitian STAIN Jember Vol 4 No 2 (2005): FENOMENA: Journal Penelitian STAIN Jember Vol 4 No 1 (2005): FENOMENA: Journal Penelitian STAIN Jember Vol 3 No 2 (2004): FENOMENA: Journal Penelitian STAIN Jember Vol 3 No 1 (2004): FENOMENA: Journal Penelitian STAIN Jember Vol 2 No 2 (2003): FENOMENA: Journal Penelitian STAIN Jember Vol 2 No 1 (2003): FENOMENA: Journal Penelitian STAIN Jember Vol 1 No 2 (2002): FENOMENA: Journal Penelitian STAIN Jember Vol 1 No 1 (2002): FENOMENA: Journal Penelitian STAIN Jember More Issue