cover
Contact Name
Mokhammad Miftakhul Huda
Contact Email
fenomenaj9@gmail.com
Phone
+6285649117381
Journal Mail Official
fenomenaj9@gmail.com
Editorial Address
Jl. Mataram No.1, Karang Mluwo, Mangli, Kaliwates, Jember, East Java, Indonesia 68136
Location
Kab. jember,
Jawa timur
INDONESIA
FENOMENA: Journal of Social Science
ISSN : 14125439     EISSN : 26567369     DOI : https://doi.org/10.35719/fenomena.v22i2
Core Subject : Social,
Aims, Focus And Scope A. Aims: FENOMENA is a leading peer-reviewed and open-access journal, which publishes scholarly works of researchers and scholars from around the world and specializes in the Social Sciences. The journal also has a strong interest in the scientific development of theory that is of global significance. B. Focus: This journal focuses on publishing the highest quality scientific articles emphasizing contemporary Asian issues with interdisciplinary and multidisciplinary approaches. C. Scope: This journal seeks to publish articles that deal with educational development, politics, law, humanities and cultural studies, and economic issues in Asia. Its scope consists of: 1. Education (Curriculums, Teaching, and Learning, Islamic Education, Educational Technology); 2. Politics (Structure and Agency in Social Dynamics, the Role of Government and Non-Governmental Organizations, Concepts and Practical Sociology, Islamic Politics, Government and Public Administration); 3. Law (Human Rights, Social Justice, Islamic Law, Criminal Law, International Relations, Civil Law, Constitutional Law, Customary Law); 4. Humanities and Cultural Studies (Cultural Studies as a Constitutive field, Religion Studies, Islamic Studies, Philosophy, Ethics, Consciousness, Cross-cultural studies, Theology, Psychology, Spirituality, Human Geography, Anthropology, Local Wisdom); 5. Economics (Business and Entrepreneurship, Management, Accounting, Public Finance, Economic Development, and Islamic Economics).
Articles 444 Documents
Strategi Perlawanan Senyap Petani Mandiguh terhadap Hegemoni Perhutani: The Silent Resistance Strategy of Mandiguh Farmers Against the Hegemony of Perhutani Muhaimin, Muhaimin
Fenomena Vol 15 No 2 (2016): FENOMENA: Journal of the Social Sciences
Publisher : LP2M UIN KH.Achmad Siddiq Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35719/fenomena.v15i2.478

Abstract

-This research discusses the silent resistance strategy of Mandiguh farmers against the hegemony of Perhutani by cultivating crops in the forest and disregarding land claims and reforestation issues. They only use the forest land for farming purposes. The phenomenon of utilizing forest land without violence while still resisting submission and refusing to be under Perhutani's domination makes the case of Mandiguh farmers intriguing to study. Based on the research, it can be found that the farmers' resistance strategy involves several steps: adherence to Perhutani's statements, maximizing land cultivation (Madurese work ethic), planting Perhutani's hardwood seedlings in tetelan land, uprooting the seedlings whenever possible, replanting the uprooted seedlings, and informing Perhutani that the seedlings died so they can be replanted in the next rainy season. Penelitian ini membahas tentang strategi perlawanan senyap petani Mandiguh terhadap hegemoni Perhutani dengan bercocok tanam di hutan dan mengesampingkan masalah klaim lahan serta reboisasi. Mereka hanya memanfaatkan lahan hutan untuk kepentingan bercocok tanam. Fenomena pemanfaatan lahan hutan tanpa kekerasan tetapi tetap menolak patuh dan tidak mau berada di bawah dominasi Perhutani membuat kasus petani Mandiguh menarik untuk dikaji. Berdasarkan penelitian, dapat ditemukan bahwa strategi perlawanan petani dapat diketahui melalui beberapa langkah, yaitu: kepatuhan terhadap pernyataan Perhutani, mengolah lahan secara maksimal (etos Madura), menanam bibit kayu keras dari Perhutani di lahan tetelan, mencabut bibit setiap ada kesempatan, menancapkan kembali bibit kayu keras yang telah dicabut, dan menyampaikan kepada Perhutani bahwa bibit kayu keras tersebut mati sehingga dapat ditanam kembali pada musim hujan berikutnya.
Tenurial Masyarakat Pinggir Hutan: Forest Tenure of Marginal Communities Hafidz, Hafidz
Fenomena Vol 15 No 2 (2016): FENOMENA: Journal of the Social Sciences
Publisher : LP2M UIN KH.Achmad Siddiq Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35719/fenomena.v15i2.479

Abstract

The wave of resistance continues to color Indonesia's history as the nation has never fully resolved fundamental life issues such as justice, welfare, and prosperity. Awareness and societal values emerge as responses to prolonged social injustice. Therefore, any form of movement or action taken by communities against forest authorities must be understood within the context of social injustice. The massive land occupation by the Kramat Sukoharjo community is a form of resistance against state power during a crisis. This study employs a qualitative approach to comprehend the complex experiences of forest land managers in Kramat Sukoharjo Village, Tanggul District, Jember. The approach focuses on managing philosophical and theoretical meanings and achieving an objective understanding of the values embedded in the research subject. Gelombang perlawanan terus mewarnai sejarah Indonesia karena negara ini belum sepenuhnya menyelesaikan masalah fundamental kehidupan, seperti keadilan, kesejahteraan, dan kemakmuran. Kesadaran dan nilai-nilai masyarakat muncul sebagai respons terhadap ketidakadilan sosial yang berlangsung lama. Oleh karena itu, setiap bentuk gerakan dan aksi yang dilakukan masyarakat terhadap otoritas hutan harus dipahami dalam konteks ketidakadilan sosial. Penguasaan lahan secara masif oleh masyarakat Kramat Sukoharjo merupakan bentuk perlawanan terhadap kekuasaan negara yang sedang dalam krisis. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif untuk memahami pengalaman kompleks masyarakat pengelola lahan hutan di Desa Kramat Sukoharjo, Kecamatan Tanggul, Jember. Pendekatan ini berfokus pada upaya mengelola makna filosofis dan teoretis serta mencapai pemahaman objektif tentang nilai-nilai yang terkandung dalam objek penelitian.
Eksplorasi Etnomatematika Masyarakat Pesisir Selatan Kecamatan Puger Kabupaten Jember: Exploration of Ethnomathematics in the Coastal Community of Puger District, Jember Regency Wahyuni, Indah
Fenomena Vol 15 No 2 (2016): FENOMENA: Journal of the Social Sciences
Publisher : LP2M UIN KH.Achmad Siddiq Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35719/fenomena.v15i2.480

Abstract

The idea of ethnomathematics can enrich mathematical knowledge. If the development of ethnomathematics has been studied, it means that mathematics is taught by incorporating local culture. According to Bishop (1994b), mathematics is a form of culture that integrates into all aspects of society. Essentially, mathematics is a symbolic technology that grows from culturally rooted skills or environmental activities. Thus, an individual's mathematics is influenced by their cultural background, as what they do is based on what they see and feel. Culture affects individual behavior and plays a significant role in developing understanding, including mathematical learning (Bishop, 1991). Mathematics education is inherently intertwined with societal life, contrary to the conventional view that mathematics is a culture-free and value-free science. Ethnomathematics experts argue that the development of mathematics cannot be separated from the culture and values present in society. Gagasan etnomatematika dapat memperkaya pengetahuan matematika. Jika perkembangan etnomatematika telah dikaji, berarti matematika diajarkan dengan memanfaatkan budaya lokal. Menurut Bishop (1994b), matematika merupakan bentuk budaya yang terintegrasi dalam semua aspek masyarakat. Pada hakikatnya, matematika adalah teknologi simbolis yang tumbuh dari keterampilan atau aktivitas lingkungan yang bersifat budaya. Dengan demikian, matematika seseorang dipengaruhi oleh latar belakang budayanya, karena apa yang mereka lakukan berdasarkan apa yang mereka lihat dan rasakan. Budaya memengaruhi perilaku individu dan berperan besar dalam pengembangan pemahaman, termasuk pembelajaran matematika (Bishop, 1991). Pendidikan matematika sebenarnya telah menyatu dengan kehidupan masyarakat, bertentangan dengan konsep konvensional yang memandang matematika sebagai ilmu yang bebas budaya dan nilai. Para ahli etnomatematika berpendapat bahwa perkembangan matematika tidak terlepas dari budaya dan nilai yang ada dalam masyarakat.
Gerakan Kontra Tambang Pasir Besi di Desa Paseban, Jember: Anti-Iron Sand Mining Movement in Paseban Village, Jember Amal, Khusna
Fenomena Vol 15 No 2 (2016): FENOMENA: Journal of the Social Sciences
Publisher : LP2M UIN KH.Achmad Siddiq Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35719/fenomena.v15i2.481

Abstract

The results of this study are expected to be utilized by both formal and non-formal education and civil society organizations to strengthen civic education or citizenship education, which can build critical awareness among the silent majority of society. By strengthening emerging social movements and changes, it is hoped that people can become more critical in their political participation. Further implications include the public being increasingly empowered in negotiating public interests, controlling power, and making the country or government more civilized. An important point to underline is that this study attempts to synthesize or discuss both liberal and non-liberal approaches, which will provide neither empathetic nor critical knowledge in viewing the relational dynamics between civil society, social movements, and change. The study positions civil society as a crucial actor in building constructive opportunities for social change. Furthermore, the study does not take a positivistic view of civil society's role in democracy development, as empirically, it does not positively affect democracy or align with non-liberal views. At the same time, the study avoids the negative non-liberal perspective of civil society and changes involving the destruction of mining symbols, such as investor posts, pro-investor elite residents, and mining tools, which are forms of traditional movements opposing mining. This movement was selected as a negotiating tool for powerless people to claim a successful struggle agenda. Unlike the elite or educated middle classes who typically choose diplomacy and negotiation, the powerless community tends to opt for mass radical movements. The social movements opposing mining succeeded in forcing investors to halt the project and the district government to review the mining exploration policy in accordance with citizens' criticisms, which were deemed not pro-people. Hasil penelitian ini diharapkan dapat dimanfaatkan oleh pendidikan formal maupun nonformal serta organisasi masyarakat sipil untuk memperkuat pendidikan kewarganegaraan yang dapat membangun kesadaran kritis masyarakat mayoritas yang selama ini diam. Dengan memperkuat gerakan sosial dan perubahan yang muncul, diharapkan masyarakat dapat menjadi lebih kritis dalam partisipasi politik mereka. Implikasi lebih lanjut, masyarakat semakin berdaya dalam menegosiasikan kepentingan publik, mengontrol kekuasaan, dan membuat negara atau pemerintah lebih beradab. Poin penting yang perlu digarisbawahi adalah bahwa penelitian ini mencoba mensintesis atau mendiskusikan pendekatan liberal dan non-liberal yang akan memberikan pengetahuan empatik maupun kritis dalam melihat hubungan relasional antara masyarakat sipil, gerakan sosial, dan perubahan. Hasil penelitian menempatkan masyarakat sipil sebagai aktor kunci dalam membangun peluang konstruktif untuk perubahan sosial. Selain itu, penelitian ini tidak menganggap peran masyarakat sipil dalam pengembangan demokrasi secara positivistik karena secara empiris tidak berpengaruh positif terhadap demokrasi maupun pandangan non-liberal. Pada saat yang sama, hasil penelitian menghindari pandangan negatif non-liberal tentang masyarakat sipil dan perubahan yang merusak simbol-simbol tambang seperti posko investor, elit warga pro-investor, dan alat-alat penambangan, yang merupakan bentuk gerakan tradisional dalam menentang tambang. Gerakan ini dipilih sebagai alat negosiasi masyarakat yang tidak berdaya untuk mengklaim agenda perjuangan. Berbeda dengan elit atau kelas menengah terdidik yang biasanya memilih diplomasi dan negosiasi, masyarakat yang tidak berdaya cenderung memilih gerakan massa yang radikal. Gerakan sosial menolak tambang berhasil memaksa investor menghentikan proyek dan pemerintah daerah meninjau ulang kebijakan eksplorasi tambang sesuai dengan kritik warga yang dinilai tidak pro-rakyat.
Islam dan Lingkungan Hidup: Studi Terhadap Fiqh Al-Bi'ah sebagai Solusi Pelestarian Ekosistem dalam Perspektif Maqashid Al-Syari'ah: Islam and Environmental Conservation: A Study of Fiqh Al-Bi'ah as an Ecosystem Preservation Solution from the Perspective of Maqashid Al-Syari'ah Busriyanti, Busriyanti
Fenomena Vol 15 No 2 (2016): FENOMENA: Journal of the Social Sciences
Publisher : LP2M UIN KH.Achmad Siddiq Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35719/fenomena.v15i2.482

Abstract

Fiqh, as one of the Islamic sciences, should be a reference for legal issues. However, the development of fiqh often lags behind societal progress. One such issue is the living environment. Fiqh has yet to serve as a bridge connecting Islamic norms with environmentally conscious communities. To date, fiqh does not address environmental issues comprehensively or thematically. Classical fiqh written by imams of madhhabs only discusses worship, muamalah, jinayah, munakahat, and other topics, while environmental issues (ecology) lack proportional representation in classical Islamic literature. Thus, formulating environmental fiqh (fiqh al-bi'ah) becomes an undeniable necessity. This fiqh outlines ecological behavioral rules for Muslim societies based on sacred texts, aiming to achieve benefits and preserve the environment. The author is interested in further exploring this issue by focusing on three research questions: 1. What is the relationship between Islam and the environment? 2. What is the format of fiqh al-bi'ah, and what is its methodological foundation using the maqashid al-syariah approach? 3. How does maqashid al-syariah function as the basis for formulating fiqh al-bi'ah? This research is a library study employing a multidisciplinary approach, including Ushul Fiqh, maqashid al-syariah, juridical, and sociological perspectives. The findings reveal that in Islam, environmental issues are integral to religious teachings, making environmental sustainability a part of fiqh regulations. Furthermore, with the progression of time, maqashid al-syariah can have both positive and negative impacts on human life and requires expansion. The massive phenomenon of environmental degradation necessitates the inclusion of environmental preservation (hifdz al-bi'ah) in maqashid al-syariah, as current environmental damage has reached a critical level. If not addressed seriously, it will threaten human existence and well-being in the future. Fiqh sebagai salah satu ilmu keislaman seharusnya menjadi rujukan dalam masalah hukum. Namun, perkembangan fiqh saat ini sering tertinggal dari perkembangan masyarakat itu sendiri. Salah satu masalah yang muncul adalah lingkungan hidup. Fiqh belum mampu menjadi jembatan yang menghubungkan norma Islam dengan masyarakat yang sadar lingkungan. Hingga kini, fiqh belum membahas lingkungan secara komprehensif dan tematik. Fiqh klasik yang ditulis oleh imam mazhab hanya membahas ibadah, muamalah, jinayah, munakahat, dan lainnya, sementara isu lingkungan (ekologi) tidak mendapatkan porsi yang proporsional dalam literatur Islam klasik. Oleh karena itu, merumuskan fiqh lingkungan (fiqh al-bi'ah) menjadi kebutuhan yang tidak bisa ditawar lagi. Fiqh ini menjelaskan aturan perilaku ekologis dalam masyarakat Muslim berdasarkan teks-teks suci dengan tujuan mencapai kemaslahatan dan melestarikan lingkungan. Penulis tertarik untuk membahas lebih lanjut isu ini dengan fokus pada tiga pertanyaan penelitian: 1. Bagaimana hubungan antara Islam dan lingkungan? 2. Bagaimana format fiqh al-bi'ah dan dasar metodologisnya dengan pendekatan maqashid al-syariah? 3. Bagaimana maqashid al-syariah berfungsi sebagai dasar perumusan fiqh al-bi'ah? Penelitian ini adalah penelitian kepustakaan dengan pendekatan multidisiplin, yaitu menggunakan pendekatan Ushul Fiqh, maqashid al-syariah, yuridis, dan sosiologis. Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa dalam Islam, isu lingkungan adalah bagian dari ajaran agama, sehingga masalah kelestarian lingkungan harus menjadi bagian dari aturan fiqh. Selain itu, dengan perkembangan zaman, maqashid al-syariah dapat membawa dampak positif maupun negatif bagi kehidupan manusia dan perlu diperluas. Fenomena kerusakan lingkungan yang masif menyebabkan perlunya penambahan maqashid al-syariah dengan pelestarian lingkungan (hifdz al-bi'ah), mengingat kerusakan lingkungan saat ini telah mencapai tingkat yang membahayakan. Jika tidak diselesaikan secara serius, hal ini akan mengancam keberadaan dan kesejahteraan hidup manusia di masa depan.
Konstruksi Sosial Kiai vs Blater tentang Upaya Pertambangan Emas di Kecamatan Silo, Jember: The Social Construction of Kiai vs Blater Regarding Gold Mining Efforts in Silo District, Jember Pujiono, Pujiono
Fenomena Vol 15 No 2 (2016): FENOMENA: Journal of the Social Sciences
Publisher : LP2M UIN KH.Achmad Siddiq Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35719/fenomena.v15i2.483

Abstract

The paradigm and perception of Kiai and Blater about mining are highly influential in society, including in Silo District, Jember. Each has different perceptions, rationalizations, and interests. Additionally, they play a role in advocating their perspectives in the dispute over gold mining in Silo. In this context, the outcome of the contestation of perceptions and rationalizations affects whether the legal mining exploration process can proceed smoothly or not in Silo. This research is qualitative, using a sociological approach and reviewing Peter L. Berger's analysis of social construction. The subjects of this research are Kiai and Blater in Silo, Jember. Paradigma dan persepsi Kiai dan Blater tentang tambang sangat berpengaruh di masyarakat, termasuk di Kecamatan Silo, Jember. Masing-masing memiliki persepsi, rasionalisasi, dan kepentingan yang berbeda. Selain itu, mereka berperan dalam memperjuangkan persepsi mereka dalam sengketa pertambangan emas di Silo. Dalam konteks ini, akhir dari sengketa persepsi dan rasionalisasi ini memengaruhi proses eksplorasi tambang secara legal, apakah dapat berjalan lancar atau tidak di Silo. Penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan menggunakan pendekatan sosiologi dan mengkaji analisis konstruksi sosial Peter L. Berger. Subjek penelitian ini adalah Kiai dan Blater di Silo, Jember.
Reinventing Government Ekowisata Kabupaten Jember: Reinventing Government Ecotourism in Jember Regency Fadli, Ahmad
Fenomena Vol 15 No 2 (2016): FENOMENA: Journal of the Social Sciences
Publisher : LP2M UIN KH.Achmad Siddiq Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35719/fenomena.v15i2.484

Abstract

Regional autonomy has causally opened opportunities for reorienting the local governance system to improve. A system that transcends the norms of a bureaucratic-oriented system by providing the greatest opportunity for regions to manage their areas according to the ideals, aspirations, and hopes of society, with a focus on maximizing public service. This policy is interpreted as a policy derived from local potential and dedicated to the progress and prosperity of the region, capable of serving the community well, enhancing welfare, and ensuring societal tranquility. Implikasi otonomi daerah secara kausalitas telah membuka peluang reorientasi sistem tata kelola pemerintahan daerah untuk menjadi lebih baik. Sebuah sistem yang melampaui normativitas sistem birokratis dengan memberikan peluang sebesar-besarnya kepada daerah untuk mengelola wilayahnya sesuai dengan idealitas, cita-cita, dan harapan masyarakat dalam orientasi maksimalisasi pelayanan publik. Kebijakan ini diartikan sebagai kebijakan yang bersumber dari potensi lokal dan ditujukan untuk kemajuan serta kemakmuran daerah, serta mampu melayani masyarakat dengan baik, meningkatkan kesejahteraan, dan menciptakan ketentraman.
Kearifan Lokal dalam Penanggulangan Bencana Banjir Bandang dan Tanah Longsor di Kecamatan Panti, Kabupaten Jember: Local Wisdom in Disaster Management of Flash Floods and Landslides in Panti Subdistrict, Jember Regency Maskud, Maskud
Fenomena Vol 15 No 2 (2016): FENOMENA: Journal of the Social Sciences
Publisher : LP2M UIN KH.Achmad Siddiq Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35719/fenomena.v15i2.485

Abstract

Disaster management is fundamentally a shared responsibility among all stakeholders. There are three pillars of disaster management actors: the government and local governments, communities, and the business sector. The roles of these three actors are regulated under Law No. 24 of 2007 concerning Disaster Management. However, the reality in Jember Regency, particularly in Panti Subdistrict, differs from expectations. Collaboration and coordination among the government, communities, and the business sector in disaster management have not been optimal. The limited capacity of the government to handle disasters has encouraged local communities to initiate disaster management based on local wisdom. These dual initiatives, from the government and the communities, sometimes form a synthesis of natural disaster management policies that are effective enough to reduce casualties and losses. Based on this background, the focus of this research is: how does local wisdom contribute to the management of flash floods and landslides in Panti Subdistrict, Jember Regency? The research focus includes: the implementation of flash flood and landslide disaster management; types of local wisdom in disaster management; and the impact of local wisdom on the prevention of flash floods and landslides in Panti Subdistrict, Jember Regency. Pada dasarnya, penanggulangan bencana merupakan urusan semua pihak. Ada tiga pilar pelaku penanggulangan bencana, yaitu pemerintah dan pemerintah daerah, masyarakat, serta dunia usaha. Ketiga pelaku tersebut diatur dalam Undang-Undang No. 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana. Namun, kenyataan yang terjadi di Kabupaten Jember, khususnya di Kecamatan Panti, berbeda dengan yang diharapkan. Relasi dan kerja sama dalam penanggulangan bencana antara pemerintah, masyarakat, dan dunia usaha belum berjalan optimal. Keterbatasan kemampuan pemerintah dalam menanggulangi bencana mendorong masyarakat setempat untuk menginisiasi penanggulangan bencana berbasis kearifan lokal (local wisdom). Dua inisiatif ini, dari pemerintah dan masyarakat, terkadang membentuk sintesis kebijakan penanggulangan bencana alam yang cukup efektif untuk mengurangi jumlah korban dan kerugian. Berdasarkan latar belakang tersebut, fokus penelitian ini adalah: bagaimana kearifan lokal dalam penanggulangan bencana banjir bandang dan tanah longsor di Kecamatan Panti, Kabupaten Jember? Fokus penelitian mencakup: implementasi penanggulangan bencana banjir bandang dan tanah longsor; jenis-jenis kearifan lokal dalam penanggulangan bencana; serta dampak kearifan lokal terhadap pencegahan bencana banjir bandang dan tanah longsor di Kecamatan Panti, Kabupaten Jember.
Full Day School dalam Pengembangan Bakat dan Minat Siswa: Full Day School in the Development of Students' Talents and Interests Solihah, Imroatus
Fenomena Vol 15 No 2 (2016): FENOMENA: Journal of the Social Sciences
Publisher : LP2M UIN KH.Achmad Siddiq Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35719/fenomena.v15i2.486

Abstract

Education is closely related to all aspects of human development, including physical, intellectual, emotional, social, and spiritual growth. This development helps humans achieve perfection, improve their lives, and transform natural existence into a civilized and moral one. Students are raw components who need guidance through various instructional activities at school to become the expected graduates. Each learner possesses unique potential, as everyone is born with distinct talents and innate traits, such as the inclination toward monotheism or other inherent abilities. The study results indicate that the talent and interest development program is implemented through extracurricular activities, consisting of compulsory and additional programs. The compulsory program is scouting, while the additional programs include the Science Club, Mathematics Club, English Club, Arabic Club, Exemplary Students, Rohis (Quran recitation and call to prayer), Rohis (Quranic recitation), Rohis (calligraphy), Rohis (Quran memorization), Speech, Presenter, Young Preacher, MC, Choir and Nasyid, Hadroh, Poetry and Short Story Writing, Football or Futsal, Badminton, ICT, BCM, Taekwondo, and Martial Arts. The program is supported by semester plans, annual plans, and extracurricular journals. Evaluation is conducted at the end of the program to ensure the objectives are met. Pendidikan berkaitan erat dengan segala hal yang terkait dengan perkembangan manusia, seperti perkembangan fisik, pikiran, perasaan, kemauan, sosial, hingga perkembangan iman. Perkembangan ini menjadikan manusia lebih sempurna, meningkatkan kehidupan mereka, dan mengubah kehidupan alamiah menjadi kehidupan yang beradab dan bermoral. Siswa merupakan komponen mentah yang perlu dibimbing melalui berbagai kegiatan pembelajaran di sekolah agar menjadi lulusan yang diharapkan. Setiap peserta didik memiliki potensi yang berbeda-beda karena setiap orang dilahirkan dengan berbagai bakat yang unik dan membawa fitrahnya masing-masing, seperti dorongan untuk bertauhid atau potensi bawaan lainnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa program pengembangan bakat dan minat siswa diimplementasikan melalui kegiatan ekstrakurikuler, yaitu program wajib dan program tambahan. Program wajib adalah pramuka, sedangkan program tambahan meliputi Klub Sains, Klub Matematika, Klub Bahasa Inggris, Klub Bahasa Arab, Siswa Teladan, Rohis (Tartil dan Adzan), Rohis (Tilawah), Rohis (Kaligrafi), Rohis (Tahfidz), Pidato, Presenter, Da'i Cilik, MC, Paduan Suara dan Nasyid, Hadroh, Puisi dan Menulis Cerpen, Sepak Bola atau Futsal, Bulu Tangkis, TIK, BCM, Taekwondo, dan Pencak Silat. Pelaksanaan program ini didukung oleh perencanaan semester, rencana tahunan, dan jurnal ekstrakurikuler. Evaluasi dilakukan pada akhir program untuk memastikan tujuan tercapai.
Membangun Kemampuan Koneksi Matematika melalui Strategi Interaksi Peserta Didik Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI) Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Jember: Building Mathematical Connection Skills through Student Interaction Strategies in the Primary Teacher Education Program (PGMI) at the State Islamic Institute (IAIN) Jember Kholli, Mohammad
Fenomena Vol 15 No 2 (2016): FENOMENA: Journal of the Social Sciences
Publisher : LP2M UIN KH.Achmad Siddiq Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35719/fenomena.v15i2.487

Abstract

Learning as a student activity becomes more effective when interaction occurs, whether among students, between students and educators constructively, or between students and learning resources and tools. Through interaction, students can observe, listen, reason, and engage in activities that allow them to construct new knowledge and learning experiences. Learning with interaction strategies to build mathematical connection skills is implemented in three stages: preliminary activities, core activities, and closing activities. In these stages, educators perform several actions to achieve the objectives. Learning with interaction strategies can build mathematical connection skills among D1-grade students in the PGMI program at IAIN Jember, with 80% of students able to connect the concepts of equations and inequalities and apply them in daily life. Overall, the learning outcomes achieved classical completeness, where 93% of students scored 70 or above, with an average score of 81.7. Pembelajaran sebagai aktivitas peserta didik akan lebih efektif jika terjadi interaksi, baik antar peserta didik, antara peserta didik dengan pendidik secara konstruktif, maupun peserta didik dengan sumber dan alat belajar. Melalui interaksi, peserta didik dapat melihat, mendengar, bernalar, dan melakukan aktivitas yang memungkinkan mereka mengonstruksi pengetahuan dan pengalaman belajar baru. Pembelajaran dengan strategi interaksi yang dapat membangun kemampuan koneksi matematika dilaksanakan dalam tiga tahap: kegiatan pendahuluan, inti, dan penutup. Pada ketiga tahap tersebut, terdapat beberapa tindakan yang dilakukan pendidik untuk mencapai tujuannya. Pembelajaran dengan strategi interaksi dapat membangun kemampuan koneksi matematika peserta didik kelas D1 di Prodi PGMI IAIN Jember, yaitu 80% peserta didik mampu menghubungkan konsep persamaan dan pertidaksamaan serta menggunakannya dalam kehidupan sehari-hari. Secara keseluruhan, hasil pembelajaran telah mencapai ketuntasan belajar klasikal, di mana 93% peserta didik mencapai nilai hasil belajar 70 atau lebih, dengan rata-rata nilai 81,7.

Filter by Year

2002 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 24 No 2 (2025): FENOMENA: Journal of the Social Sciences Vol 24 No 1 (2025): FENOMENA: Journal of the Social Sciences Vol 23 No 2 (2024): FENOMENA: Journal of the Social Sciences Vol 23 No 1 (2024): FENOMENA: Journal of the Social Sciences Vol 22 No 2 (2023): FENOMENA: Journal of the Social Sciences Vol 22 No 1 (2023): FENOMENA: Journal of the Social Sciences Vol 21 No 2 (2022): FENOMENA: Journal of the Social Sciences Vol 21 No 1 (2022): FENOMENA: Journal of the Social Sciences Vol 20 No 2 (2021): FENOMENA: Journal of the Social Sciences Vol 20 No 1 (2021): FENOMENA: Journal of the Social Sciences Vol 19 No 2 (2020): FENOMENA: Journal of the Social Sciences Vol 19 No 1 (2020): FENOMENA: Journal of the Social Sciences Vol 18 No 2 (2019): FENOMENA: Journal of the Social Sciences Vol 18 No 1 (2019): FENOMENA: Journal of the Social Sciences Vol 17 No 1 (2018): FENOMENA: Journal of the Social Sciences Vol 16 No 2 (2017): FENOMENA: Journal of the Social Sciences Vol 15 No 2 (2016): FENOMENA: Journal of the Social Sciences Vol 15 No 1 (2016): FENOMENA: Journal of the Social Sciences Vol 14 No 2 (2015): FENOMENA: Journal of the Social Sciences Vol 14 No 1 (2015): FENOMENA: Journal of the Social Sciences Vol 13 No 2 (2014): FENOMENA: Journal of the Social Sciences Vol 13 No 1 (2014): FENOMENA: Journal of the Social Sciences Vol 12 No 2 (2013): FENOMENA: Journal of the Social Sciences Vol 12 No 1 (2013): FENOMENA: Journal of the Social Sciences Vol 11 No 2 (2012): FENOMENA: Journal of the Social Sciences Vol 11 No 1 (2012): FENOMENA: Journal of the Social Sciences Vol 10 No 2 (2011): FENOMENA: Journal of the Social Sciences Vol 10 No 1 (2011): FENOMENA: Journal of the Social Sciences Vol 9 No 2 (2010): FENOMENA: Journal of the Social Sciences Vol 9 No 1 (2010): FENOMENA: Journal of the Social Sciences Vol 8 No 2 (2009): FENOMENA: Journal of the Social Sciences Vol 8 No 1 (2009): FENOMENA: Journal of the Social Sciences Vol 7 No 2 (2008): FENOMENA: Journal of the Social Sciences Vol 7 No 1 (2008): FENOMENA: Journal of the Social Sciences Vol 6 No 2 (2007): FENOMENA: Journal of the Social Sciences Vol 6 No 1 (2007): FENOMENA: Journal of the Social Sciences Vol 5 No 2 (2006): FENOMENA: Journal of the Social Sciences Vol 5 No 1 (2006): FENOMENA: Journal of the Social Sciences Vol 4 No 2 (2005): FENOMENA: Journal of the Social Sciences Vol 4 No 1 (2005): FENOMENA: Journal of the Social Sciences Vol 3 No 2 (2004): FENOMENA: Journal of the Social Sciences Vol 3 No 1 (2004): FENOMENA: Journal of the Social Sciences Vol 2 No 2 (2003): FENOMENA: Journal of the Social Sciences Vol 2 No 1 (2003): FENOMENA: Journal of the Social Sciences Vol 1 No 2 (2002): FENOMENA: Journal of the Social Sciences Vol 1 No 1 (2002): FENOMENA: Journal of the Social Sciences More Issue