cover
Contact Name
Mokhammad Miftakhul Huda
Contact Email
fenomenaj9@gmail.com
Phone
+6285649117381
Journal Mail Official
fenomenaj9@gmail.com
Editorial Address
Jl. Mataram No.1, Karang Mluwo, Mangli, Kaliwates, Jember, East Java, Indonesia 68136
Location
Kab. jember,
Jawa timur
INDONESIA
FENOMENA: Journal of Social Science
ISSN : 14125439     EISSN : 26567369     DOI : https://doi.org/10.35719/fenomena.v22i2
Core Subject : Social,
Aims, Focus And Scope A. Aims: FENOMENA is a leading peer-reviewed and open-access journal, which publishes scholarly works of researchers and scholars from around the world and specializes in the Social Sciences. The journal also has a strong interest in the scientific development of theory that is of global significance. B. Focus: This journal focuses on publishing the highest quality scientific articles emphasizing contemporary Asian issues with interdisciplinary and multidisciplinary approaches. C. Scope: This journal seeks to publish articles that deal with educational development, politics, law, humanities and cultural studies, and economic issues in Asia. Its scope consists of: 1. Education (Curriculums, Teaching, and Learning, Islamic Education, Educational Technology); 2. Politics (Structure and Agency in Social Dynamics, the Role of Government and Non-Governmental Organizations, Concepts and Practical Sociology, Islamic Politics, Government and Public Administration); 3. Law (Human Rights, Social Justice, Islamic Law, Criminal Law, International Relations, Civil Law, Constitutional Law, Customary Law); 4. Humanities and Cultural Studies (Cultural Studies as a Constitutive field, Religion Studies, Islamic Studies, Philosophy, Ethics, Consciousness, Cross-cultural studies, Theology, Psychology, Spirituality, Human Geography, Anthropology, Local Wisdom); 5. Economics (Business and Entrepreneurship, Management, Accounting, Public Finance, Economic Development, and Islamic Economics).
Articles 444 Documents
Epistemologi, Intelektual, dan Problem Dikotomi Keilmuan Pesantren (Studi Kasus di Pondok Pesantren As-Safi’i Desa Nogosari, Kecamatan Rambipuji, Kabupaten Jember): Epistemology, Intellectual, and the Problem of Knowledge Dichotomy in Islamic Boarding Schools (Case Study at As-Safi’i Islamic Boarding School, Nogosari Village, Rambipuji District, Jember Regency) Hafidz, Hafidz
Fenomena Vol 14 No 2 (2015): FENOMENA: Journal of the Social Sciences
Publisher : LP2M UIN KH.Achmad Siddiq Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35719/fenomena.v14i2.583

Abstract

This study begins by developing a paradigm for managing Islamic boarding schools (pesantren) toward systematic, continuous, dynamic, and comprehensive educational thinking and direction. Systematic means that the educational direction is structured in stages of achievement, organized within a well-planned framework and evaluation monitoring. Continuous means that the educational direction is integrated with various evolving sciences without limiting itself to individualistic religious knowledge but also encompassing socially oriented religious knowledge. Dynamic means that the educational direction is more inclusive, open, and constantly evolving, not confined to a single school of thought but capable of exploring and developing existing schools of thought, as it is not an absolute, uncriticizable science. Comprehensive means that the educational direction is further developed in discussing the progress of knowledge, as the source of knowledge is one, namely the Qur’an and the Sunnah of the Prophet, which are then categorized into various disciplines for ease of discussion, and there is no concept of halal or haram in knowledge, as all knowledge ultimately leads to the glorification of the Creator, Allah Swt. Penelitian ini dimulai dengan mengembangkan paradigma pengelolaan pesantren menuju pemikiran dan arah pendidikan yang sistematis, berkesinambungan, dinamis, dan komprehensif. Sistematis artinya arah pendidikan lebih disusun dalam tahapan-tahapan pencapaian yang tersusun dalam satu perencanaan dan monitoring evaluasi yang baik. Berkesinambungan artinya, arah pendidikan dipadukan dengan berbagai perkembangan keilmuan yang terus berkembang tanpa membatasi diri pada satu keilmuan agama yang sifatnya individualistik, namun juga pada keilmuan agama yang sifatnya sosial. Dinamis artinya, arah pendidikan lebih inklusif, terbuka, dan terus bergerak, tidak terjebak pada satu pemikiran mazhab saja, namun dapat menclaah dan mengembangkan pemikiran mazhab yang sudah ada sebab ia bukanlah ilmu harga mati yang tidak dapat dikritik. Komprehensif artinya arah pendidikan lebih dikembangkan pada pembahasan perkembangan ilmu sebab pada dasarnya sumber ilmu itu satu, yakni al-Qur’an dan Sunnah Rasul, yang kemudian untuk memudahkan pembahasan dikelompokkan dalam berbagai disiplin ilmu tersendiri dan tidak ada halal dan haram dalam ilmu sebab pada dasarnya semua ilmu muaranya menuju pada pengagungan sang Khalik, Allah Swt.
Pendidikan Pesantren sebagai Alternatif Pendidikan Nasional di Era Globalisasi: Pesantren Education as an Alternative to National Education in the Globalization Era Rodliyah, Hj. St.
Fenomena Vol 14 No 2 (2015): FENOMENA: Journal of the Social Sciences
Publisher : LP2M UIN KH.Achmad Siddiq Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35719/fenomena.v14i2.584

Abstract

The shift from a centralized to a decentralized governance system provides significant opportunities for pesantren, especially for Kyai as community leaders and role models, to become a substantial asset in fostering unity and disseminating advanced information in the globalization era, which demands knowledge and technology. Pesantren is part of societal infrastructure that has macrocosmically awakened communities to possess idealism, intellectual capabilities, and noble behavior to organize and build a perfect national character. This can be observed from the pesantren strategies developed within its internal educational culture. For instance, through intellectual discourse standardized by classical Islamic texts (kitab kuning), pesantren has been able to cultivate dynamic thinking. If pesantren education progresses, develops, and achieves high quality, it will undoubtedly become an alternative to national education in the globalization era, ensuring that children not only gain general knowledge but also religious knowledge and noble morals. Perubahan sistem pemerintahan dari sentralistik menjadi desentralistik memberikan peluang besar bagi pesantren, khususnya Kyai sebagai pimpinan dan panutan masyarakat, menjadi modal besar dalam membangun kebersamaan dan menyebarkan informasi-informasi yang maju di era globalisasi yang memerlukan ilmu pengetahuan dan teknologi saat ini. Pesantren merupakan bagian dari infrastruktur masyarakat yang secara makro telah menyadarkan komunitas masyarakat untuk mempunyai idealisme, kemampuan intelektual, dan perilaku mulia guna menata dan membangun karakteristik bangsa yang paripurna. Ini dapat dilihat dari strategi pesantren yang dikembangkan dalam kultur internal pendidikan pesantren. Misalnya, melalui diskursus intelektual dengan standarisasi kitab kuning atau khazanah intelektual Islam klasik, pesantren telah mampu mengembangkan dinamika pemikirannya. Jika pendidikan pesantren sudah maju dan berkembang serta memiliki kualitas yang tinggi, tentunya pendidikan pesantren akan menjadi alternatif pendidikan nasional di era globalisasi bagi masyarakat untuk memberikan jaminan bagi anak-anaknya tidak hanya jaminan menjadi manusia yang berilmu pengetahuan umum saja, namun juga memiliki ilmu pengetahuan agama, serta akhlak yang mulia.
Peran Pesantren dalam Pembinaan Akhlak di Era Globalisasi: The Role of Islamic Boarding Schools (Pesantren) in Moral Development in the Globalization Era Muis, Abdul
Fenomena Vol 14 No 2 (2015): FENOMENA: Journal of the Social Sciences
Publisher : LP2M UIN KH.Achmad Siddiq Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35719/fenomena.v14i2.585

Abstract

Islamic boarding schools (pesantren) have great potential to create quality human resources, provided they can adapt to ongoing globalization without losing their distinctive characteristics. There are several reasons why pesantren have greater opportunities compared to other educational institutions: first, pesantren accommodate the nation's youth with limitless education; second, pesantren education balances physical and spiritual needs; third, pesantren education is widespread across various regions; and fourth, pesantren education aligns with sharia principles and social values in society. Pondok pesantren memiliki peluang besar dalam menciptakan SDM yang berkualitas dengan catatan pondok pesantren mampu beradaptasi dengan globalisasi yang sedang terjadi tanpa meningkatkan watak kepesantrenannya. Ada beberapa alasan mengapa pesantren mempunyai peluang lebih besar daripada lembaga pendidikan lainnya: pertama, pesantren yang ditempati generasi bangsa dengan pendidikan yang tiada batas; kedua, pendidikan pesantren yang memberikan keseimbangan antara pemuasan lahir dan batin; ketiga, pendidikan pesantren telah tersebar di berbagai wilayah; dan keempat, pendidikan pesantren sesuai dengan prinsip-prinsip syariah dan sosial di masyarakat.
Strategi Muhadharah sebagai Metode Pelatihan Dakwah bagi Kader Da'i di Pesantren Daarul Fikri Malang: Muhadharah Strategy as a Da'wah Training Method for Da'i Cadres at Daarul Fikri Islamic Boarding School, Malang Setiawan, Eko
Fenomena Vol 14 No 2 (2015): FENOMENA: Journal of the Social Sciences
Publisher : LP2M UIN KH.Achmad Siddiq Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35719/fenomena.v14i2.586

Abstract

Education in Islamic boarding schools is a discourse that is always interesting to study, discuss, and research. Daarul Fikri Islamic Boarding School strives to regenerate students to become da'i (preachers), as da'i cadres are a necessity for its students. This research is qualitative, producing descriptive data in the form of written or spoken words from people and observable behavior. Through muhadharah, students are trained to speak like a da'i delivering sermons, having previously been equipped with da'wah techniques and message delivery methods. This aims to build their confidence in public speaking. Pendidikan di pesantren menjadi wacana yang selalu menarik untuk dikaji, dibahas, dan diteliti. Pesantren Daarul Fikri berupaya meregenerasi santri menjadi da'i, karena kader da'i merupakan kebutuhan bagi santri di sana. Penelitian ini termasuk penelitian kualitatif, yaitu penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang dapat diamati. Melalui muhadharah, santri dilatih untuk berbicara layaknya seorang da'i yang sedang berdakwah, yang sebelumnya telah dibekali teknik dakwah dan penyampaian pesan dakwah. Hal ini bertujuan agar mereka memiliki keberanian berbicara di depan umum.
Language Barriers and Cultural Differences Faced by Thai Students in Learning Experiences at STAIN Jembe Indrayani, Ninuk
Fenomena Vol 14 No 2 (2015): FENOMENA: Journal of the Social Sciences
Publisher : LP2M UIN KH.Achmad Siddiq Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35719/fenomena.v14i2.587

Abstract

The issue of language barriers is crucial in social interactions and cultural differences among foreign students. With language and cultural challenges, they must strive harder to achieve their academic goals. This research focuses on the phenomenon of Thai students studying in the Islamic Education (PAI) program, Tarbiyah Department at STAIN Jember. Using a qualitative approach, the study aims to identify the problems faced by these students in their learning experiences at STAIN Jember and the solutions they undertake. Permasalahan tentang kendala bahasa menjadi penting dalam pergaulan dan perbedaan budaya di antara mahasiswa asing. Dengan permasalahan bahasa dan budaya, mereka harus berjuang untuk mendapatkan ilmu yang ingin mereka raih dengan upaya yang lebih sulit. Penelitian ini fokus pada fenomena adanya mahasiswa Thailand yang sedang menuntut ilmu dalam prodi PAI jurusan Tarbiyah STAIN Jember. Dengan pendekatan kualitatif, penelitian ini berusaha mengidentifikasi permasalahan yang dialami oleh mahasiswa tersebut dalam pengalaman belajarnya di STAIN Jember dan upaya solusi yang mereka lakukan.
Pembelajaran dengan Pendekatan Open-Ended untuk Meningkatkan Kemampuan Berpikir Kreatif: Learning with an Open-Ended Approach to Improve Creative Thinking Skills Kholil, Mohammad
Fenomena Vol 14 No 2 (2015): FENOMENA: Journal of the Social Sciences
Publisher : LP2M UIN KH.Achmad Siddiq Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35719/fenomena.v14i2.588

Abstract

Rapid technological developments require people to adapt quickly. Those who can adapt quickly are creative individuals. Therefore, schools need to implement learning methods that can enhance students' creativity so they can face extremely rapid technological advancements. One such method is learning with an open-ended approach. This research is a qualitative descriptive study using classroom action research to improve students' creative thinking skills and learning outcomes. The research was conducted at SMA Satya Dharma Balung during the odd semester of 2013-2014. Data were collected from observations during learning, field notes, and interviews. The learning steps with the open-ended approach that can improve students' creative thinking skills are: (1) the teacher presents open-ended problems, (2) students solve the problems individually, (3) students engage in group discussions, and (4) students participate in class discussions. The researcher (teacher) provides sufficient time for students to solve problems individually or in groups, allowing them greater flexibility. The researcher actively involves students in concluding the lesson during class discussions to observe their creative thinking skills. The findings showed an improvement in students' creative thinking skills, with the first cycle scoring 30.02% (fairly good category) and the second cycle scoring 35.42% (fairly good category). Although both cycles fell under the same category, quantitatively, students' creative thinking skills increased from 30.02% to 35.42%. For learning outcomes, both cycles achieved the very good category, with the percentage of students completing their studies at 78.57% in the first cycle and 89.29% in the second cycle. Perkembangan teknologi yang pesat menuntut masyarakat untuk mampu beradaptasi dengan cepat. Orang yang dapat beradaptasi dengan cepat adalah orang yang kreatif. Oleh karena itu, di sekolah perlu diterapkan metode pembelajaran yang dapat meningkatkan kreativitas siswa agar mereka mampu menghadapi perkembangan teknologi yang sangat pesat. Salah satu metode pembelajaran yang dapat meningkatkan kemampuan berpikir kreatif siswa adalah pembelajaran dengan pendekatan open-ended. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif dengan jenis penelitian tindakan kelas untuk meningkatkan kemampuan berpikir kreatif dan hasil belajar siswa. Penelitian dilakukan di SMA Satya Dharma Balung pada semester ganjil 2013-2014. Data diambil dari observasi selama pembelajaran, catatan lapangan, dan wawancara. Langkah-langkah pembelajaran dengan pendekatan open-ended yang dapat meningkatkan kemampuan berpikir kreatif siswa adalah: (1) guru memberikan masalah open-ended, (2) siswa menyelesaikan masalah secara individu, (3) siswa melakukan diskusi kelompok, dan (4) siswa melakukan diskusi kelas. Peneliti (guru) memberikan waktu yang cukup bagi siswa untuk menyelesaikan masalah secara individu maupun kelompok sehingga siswa lebih fleksibel dalam menyelesaikan masalah. Peneliti melibatkan siswa secara aktif untuk menyimpulkan pelajaran pada diskusi kelas sehingga dapat terlihat kemampuan berpikir kreatif siswa. Temuan penelitian menunjukkan adanya peningkatan kemampuan berpikir kreatif siswa, yaitu kemampuan berpikir kreatif siswa pada siklus I sebesar 30,02% dalam kategori cukup baik dan pada siklus II sebesar 35,42% dalam kategori cukup baik. Meskipun kemampuan berpikir kreatif siswa pada kedua siklus berada dalam kategori yang sama, tetapi secara kuantitatif kemampuan berpikir kreatif siswa meningkat dari 30,02% menjadi 35,42%. Untuk hasil belajar siswa, pada siklus I dan siklus II mencapai kategori sangat baik dengan persentase ketuntasan belajar siswa pada siklus I sebesar 78,57% dan pada siklus II sebesar 89,29%.
Naskah-Naskah Keislaman Pandalungan: Islamic Manuscripts of Pandalungan Ardiansyah, Muhammad
Fenomena Vol 14 No 2 (2015): FENOMENA: Journal of the Social Sciences
Publisher : LP2M UIN KH.Achmad Siddiq Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35719/fenomena.v14i2.589

Abstract

This paper is more of a report on preservation, conservation, and reconstruction activities of Islamic intellectual heritage through the inventory of manuscripts found in the Pandalungan region. This is important given the discovery of many manuscripts in poor and neglected conditions. The manuscripts themselves have yet to be explored in terms of their content and historical dimensions. The content and historical dimensions of these manuscripts can provide valuable information and knowledge for historiographical studies and the social history of Islamic intellectualism in the Pandalungan region. This initiative is an initial effort to prepare a database of Islamic manuscripts in Pandalungan, which can be used as a basis for further research on the intellectual heritage of Indonesian Islam, particularly in Pandalungan. Thus, these manuscripts will remain readable and alive as dynamic entities within communities that continue to evolve. The study of these manuscripts is also expected to reconstruct the intellectual heritage and social history of past societies. Through these manuscripts, we hope to write the social history and intellectual traditions of Pandalungan Islam from an "insider" perspective, not an "outsider" one. Philology serves as the approach—loosely applied—in this activity. This approach is based on the assumption that manuscripts, as heritage, contain thoughts, emotions, traditions, customs, and cultures that once existed and are still relevant to contemporary conditions. Tulisan ini lebih merupakan laporan kegiatan preservasi, pelestarian, dan rekonstruksi khazanah intelektual keislaman melalui inventarisasi naskah-naskah yang terdapat di wilayah Pandalungan. Ini penting dilakukan mengingat banyak ditemukan naskah-naskah dengan kondisi yang memprihatinkan, tak terawat. Naskah-naskah itu sendiri belum tergali dari segi content dan dimensi kesejarahannya. Content dan dimensi kesejarahan naskah tersebut dapat memberikan informasi maupun pengetahuan yang berharga dalam kajian historiografi maupun sejarah sosial intelektual Islam di wilayah Pandalungan. Kegiatan ini merupakan ikhtiar awal menyiapkan database naskah-naskah keislaman di wilayah Pandalungan yang dapat digunakan sebagai bahan studi lanjut bagi penelitian warisan intelektual Islam Nusantara, khususnya di wilayah Pandalungan. Naskah-naskah tersebut, dengan demikian, akan terbaca dan tetap hidup sebagai sesuatu yang bersifat dinamis, dalam komunitas yang terus bergerak dan berubah. Kajian naskah-naskah ini juga diharapkan mampu merekonstruksi khazanah intelektual dan sejarah sosial kehidupan masyarakat di masa lalu. Dari khazanah naskah-naskah ini kita berharap bisa menulis sejarah sosial dan tradisi intelektual keislaman Pandalungan dari perspektif “kita”, bukan “orang lain.” Filologi menjadi instrumen pendekatan –yang digunakan secara longgar– dalam kegiatan ini. Pendekatan ini berangkat dari asumsi mengenai karakteristik manuskrip sebagai heritage yang diduga mengandung buah pikiran, perasaan, tradisi, adat-istiadat, dan budaya yang pernah ada, dan dianggap masih relevan dengan kondisi kekinian.
Wirid Dzikir Al-Ghafilin K.H. Achmad Siddiq (Upaya Pembaruan Tarekat): Wirid Dzikir Al-Ghafilin by K.H. Achmad Siddiq (An Effort in Renewing the Tariqa) Ni’am, H. Syamsun
Fenomena Vol 14 No 2 (2015): FENOMENA: Journal of the Social Sciences
Publisher : LP2M UIN KH.Achmad Siddiq Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35719/fenomena.v14i2.592

Abstract

According to Kyai Achmad, there are three terms derived from the Qur'an to describe the characteristics of Islam: at-tawassuf, al-i’tidal, and at-tawazan. These three can manifest in all aspects of religious, social, national, and state life. Therefore, Kyai Achmad coined the motto: “at-tawassuth wal i’tidal fi jami’il ahwal” can be reflected in the aspects of hablun minAllah wa hablun min an-nas. There are several fundamental reasons why research on Kyai Achmad Siddiq's Sufi thoughts was conducted. The findings of this research indicate that the teachings and practices of Sufism—especially the tariqa—by Kyai Achmad Siddiq necessitate an effort to renew tariqas that operate outside Sunni corridors. Furthermore, Kyai Achmad Siddiq's thoughts through his Sufi teachings have had profound and fundamental implications. Menurut Kyai Achmad, ada tiga istilah yang diambil dari al-Qur’an dalam menggambarkan karakteristik agama Islam, yaitu at-tawassuf, al-i’tidal dan at-tawazan. Ketiganya dapat termanifestasikan dalam semua aspek kehidupan beragama, bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Karena itu, Kyai Achmad membuat semboyan: “at-tawassuth wal i’tidal fi jami’il ahwal” bisa tercermin dalam aspek hablun minAllah wa hablun min an-nas. Ada beberapa alasan mendasar kenapa dilakukan penelitian tentang pemikiran tasawuf Kyai Achmad Siddiq. Temuan dari penelitian ini adalah ajaran dan praktek tasawuf—khususnya tarekat—Kyai Achmad Siddiq, adalah perlu adanya upaya pembaruan tarekat terhadap tarekat-tarekat yang menjalankan praktek-praktek tarekat di luar koridor Sunni, dan pemikiran Kyai Achmad Siddiq melalui ajaran-ajaran tasawufnya telah membantu implikasi jauh dan mendasar.
Wisata Religi di Kabupaten Jember: Religious Tourism in Jember Regency Chotib, Moh.
Fenomena Vol 14 No 2 (2015): FENOMENA: Journal of the Social Sciences
Publisher : LP2M UIN KH.Achmad Siddiq Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35719/fenomena.v14i2.591

Abstract

The culture of the Jember community, which places kyai (religious leaders) as revered figures even after their passing, has led to many kyai graves being frequently visited in Jember Regency. These graves are often considered sacred places believed to be the most suitable for praying to God for specific purposes, as well as for praying for the souls of the respective kyai. Budaya masyarakat Jember yang menempatkan kyai sebagai figur panutan yang tetap dihormati meski telah lama wafat menyebabkan banyak makam kyai yang selalu diziarahi di wilayah Kabupaten Jember. Makam kyai juga sering dianggap sebagai tempat keramat yang dipercaya sebagai tempat paling tepat untuk berdoa kepada Tuhan dengan tujuan tertentu, di samping mendoakan arwah kyai yang bersangkutan.
Post-Construction Challenges in Infrastructure Development: An Ecotheological Perspective on Achieving SDGs Andriani, Andriani
Fenomena Vol 23 No 2 (2024): FENOMENA: Journal of the Social Sciences
Publisher : LP2M UIN KH.Achmad Siddiq Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35719/fenomena.v23i2.598

Abstract

The construction of Dhoho Airport in Kediri is expected to stimulate local economic growth but also presents notable risks to achieving the 17 Sustainable Development Goals (SDGs). This study provides a critical evaluation from an Eco-Theology perspective, an approach rarely used in Indonesian infrastructure and SDG research, thereby offering fresh ethical-environmental insights. Using a qualitative descriptive method, data were gathered from literature, official documents, and interviews. The findings reveal partial SDG achievement (Goals 1, 4, 8, 11, and 17), while others remain unmet (Goals 2, 3, 5–7, 12–16). Major challenges include conversion of productive agricultural land, heightened noise and air pollution (noise levels reaching 43.72% in Grogol Village), and increased risks of landslides and flooding due to inadequate water management in hilly areas. Originality and Significance this research fills a gap by integrating eco-theological ethics into infrastructure evaluation, highlighting moral responsibilities often overlooked in policy debates on sustainability. The study bridges theology, ecology, and development studies, emphasizing that sustainable infrastructure must address not only technical and economic goals but also humanity’s ethical duty to protect and care for the environment. Pembangunan Bandara Dhoho di Kediri diharapkan dapat mendorong pertumbuhan ekonomi lokal, namun juga menimbulkan risiko signifikan terhadap pencapaian 17 Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs). Studi ini memberikan evaluasi kritis dari perspektif Eco-Theology, pendekatan yang jarang digunakan dalam penelitian infrastruktur dan SDGs di Indonesia, sehingga menawarkan wawasan etis-lingkungan yang baru. Menggunakan metode deskriptif kualitatif, data dikumpulkan dari literatur, dokumen resmi, dan wawancara. Hasil penelitian menunjukkan pencapaian sebagian SDGs (Tujuan 1, 4, 8, 11, dan 17), sementara yang lain belum terpenuhi (Tujuan 2, 3, 5–7, 12–16). Tantangan utama meliputi konversi lahan pertanian produktif, peningkatan polusi suara dan udara (tingkat kebisingan mencapai 43,72% di Desa Grogol), serta risiko longsor dan banjir yang meningkat akibat pengelolaan air yang tidak memadai di daerah berbukit. Keaslian dan Signifikansi penelitian ini mengisi celah dengan mengintegrasikan etika ekoteologi ke dalam evaluasi infrastruktur, menyoroti tanggung jawab moral yang sering diabaikan dalam debat kebijakan tentang keberlanjutan. Studi ini menjembatani teologi, ekologi, dan studi pembangunan, menekankan bahwa infrastruktur berkelanjutan harus tidak hanya memenuhi tujuan teknis dan ekonomi tetapi juga kewajiban etis manusia untuk melindungi dan merawat lingkungan.

Filter by Year

2002 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 24 No 2 (2025): FENOMENA: Journal of the Social Sciences Vol 24 No 1 (2025): FENOMENA: Journal of the Social Sciences Vol 23 No 2 (2024): FENOMENA: Journal of the Social Sciences Vol 23 No 1 (2024): FENOMENA: Journal of the Social Sciences Vol 22 No 2 (2023): FENOMENA: Journal of the Social Sciences Vol 22 No 1 (2023): FENOMENA: Journal of the Social Sciences Vol 21 No 2 (2022): FENOMENA: Journal of the Social Sciences Vol 21 No 1 (2022): FENOMENA: Journal of the Social Sciences Vol 20 No 2 (2021): FENOMENA: Journal of the Social Sciences Vol 20 No 1 (2021): FENOMENA: Journal of the Social Sciences Vol 19 No 2 (2020): FENOMENA: Journal of the Social Sciences Vol 19 No 1 (2020): FENOMENA: Journal of the Social Sciences Vol 18 No 2 (2019): FENOMENA: Journal of the Social Sciences Vol 18 No 1 (2019): FENOMENA: Journal of the Social Sciences Vol 17 No 1 (2018): FENOMENA: Journal of the Social Sciences Vol 16 No 2 (2017): FENOMENA: Journal of the Social Sciences Vol 15 No 2 (2016): FENOMENA: Journal of the Social Sciences Vol 15 No 1 (2016): FENOMENA: Journal of the Social Sciences Vol 14 No 2 (2015): FENOMENA: Journal of the Social Sciences Vol 14 No 1 (2015): FENOMENA: Journal of the Social Sciences Vol 13 No 2 (2014): FENOMENA: Journal of the Social Sciences Vol 13 No 1 (2014): FENOMENA: Journal of the Social Sciences Vol 12 No 2 (2013): FENOMENA: Journal of the Social Sciences Vol 12 No 1 (2013): FENOMENA: Journal of the Social Sciences Vol 11 No 2 (2012): FENOMENA: Journal of the Social Sciences Vol 11 No 1 (2012): FENOMENA: Journal of the Social Sciences Vol 10 No 2 (2011): FENOMENA: Journal of the Social Sciences Vol 10 No 1 (2011): FENOMENA: Journal of the Social Sciences Vol 9 No 2 (2010): FENOMENA: Journal of the Social Sciences Vol 9 No 1 (2010): FENOMENA: Journal of the Social Sciences Vol 8 No 2 (2009): FENOMENA: Journal of the Social Sciences Vol 8 No 1 (2009): FENOMENA: Journal of the Social Sciences Vol 7 No 2 (2008): FENOMENA: Journal of the Social Sciences Vol 7 No 1 (2008): FENOMENA: Journal of the Social Sciences Vol 6 No 2 (2007): FENOMENA: Journal of the Social Sciences Vol 6 No 1 (2007): FENOMENA: Journal of the Social Sciences Vol 5 No 2 (2006): FENOMENA: Journal of the Social Sciences Vol 5 No 1 (2006): FENOMENA: Journal of the Social Sciences Vol 4 No 2 (2005): FENOMENA: Journal of the Social Sciences Vol 4 No 1 (2005): FENOMENA: Journal of the Social Sciences Vol 3 No 2 (2004): FENOMENA: Journal of the Social Sciences Vol 3 No 1 (2004): FENOMENA: Journal of the Social Sciences Vol 2 No 2 (2003): FENOMENA: Journal of the Social Sciences Vol 2 No 1 (2003): FENOMENA: Journal of the Social Sciences Vol 1 No 2 (2002): FENOMENA: Journal of the Social Sciences Vol 1 No 1 (2002): FENOMENA: Journal of the Social Sciences More Issue