cover
Contact Name
Surnayanti
Contact Email
surnayanti@fp.unila.ac.id
Phone
+6282373398378
Journal Mail Official
jopfe@fp.unila.ac.id
Editorial Address
Universitas Lampung. Jl. Prof. Dr. Sumantri Brojonegoro No. 1 Bandar Lampung, 35145, INDONESIA.
Location
Kota bandar lampung,
Lampung
INDONESIA
Journal of People, Forest And Environment
Published by Universitas Lampung
ISSN : -     EISSN : 28076796     DOI : https://doi.org/10.23960/jopfe
Core Subject : Agriculture, Social,
Journal of People, Forest and Environment (JOPFE) publishes state of the art results of primary findings and synthesized articles containing significant contribution to science and its theoretical application in areas related to people, forest and environment research and its broad linkage. Manuscripts in Bahasa Indonesia or English are welcome.
Articles 63 Documents
IDENTIFIKASI TUTUPAN LAHAN TERBUKA HIJAU DI KOTA MADYA BANDAR LAMPUNG MENGGUNAKAN ALGORITMA MACHINE LEARNING MODEL GAUSSIAN MIXTURE MODEL (GMM) Muhammad Rofi; Trio Santoso; Rudi Hilmanto; Gunardi Djoko Winarno
Journal of People, Forest and Environment Vol. 5 No. 1 (2025): Mei
Publisher : University of Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pertumbuhan kota yang pesat di Kota Madya Bandar Lampung mendorong kebutuhan akan pemantauan dan pengelolaan lahan terbuka hijau (RTH) secara efektif. RTH memiliki peran vital dalam menjaga keseimbangan ekosistem dan kualitas lingkungan perkotaan. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi tutupan lahan terbuka hijau menggunakan pendekatan machine learning dengan algoritma Gaussian Mixture Model (GMM). Data citra satelit resolusi menengah digunakan sebagai basis pengolahan spasial, yang kemudian diproses melalui tahapan pra-pemrosesan seperti koreksi geometrik dan peningkatan citra. GMM diterapkan untuk melakukan klasifikasi tak terawasi terhadap jenis tutupan lahan berdasarkan spektrum nilai piksel. Hasil analisis menunjukkan bahwa algoritma GMM mampu memetakan area RTH dengan akurasi yang cukup tinggi, dan memberikan informasi spasial yang mendukung perencanaan kota berkelanjutan. Studi ini menegaskan potensi penggunaan metode machine learning dalam pemetaan tutupan lahan secara efisien dan adaptif di wilayah urban.
PENGGUNAAN BERBAGAI INDEKS VEGETASI UNTUK PENGENALAN CEPAT DAN AKURAT PERUBAHAN TUTUPAN LAHAN MANGROVE DI KECAMATAN LABUHAN MARINGGAI KABUPATEN LAMPUNG TIMUR Muhammad Agung Permana; Rudi Hilmanto; Trio Santoso; Indriyanto Indriyanto
Journal of People, Forest and Environment Vol. 5 No. 1 (2025): Mei
Publisher : University of Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Ekosistem mangrove memiliki fungsi ekologis yang penting, antara lain sebagai penahan abrasi, habitat biota perairan, penyerap karbon, serta penunjang ekonomi masyarakat pesisir. Namun kawasan mangrove di Kecamatan Labuhan Maringgai mengalami degradasi serius akibat konversi lahan, abrasi pantai, dan tekanan aktivitas masyarakat pesisir yang tidak terkendali. Pemantauan kondisi mangrove dapat dilakukan dengan memanfaatkan teknologi penginderaan jauh. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan kinerja indeks vegetasi NDVI, GNDVI, dan SAVI dalam mendeteksi kerapatan tutupan lahan mangrove secara cepat dan akurat, serta melakukan reklasifikasi dan estimasi perubahan luas tutupan mangrove periode 2013–2025. Penelitian ini dilakukan pada bulan Februari 2025 di Kecamatan Labuhan Maringgai, Kabupaten Lampung Timur, Lampung. Metode yang digunakan meliputi analisis citra satelit Landsat 8 dengan pengolahan NDVI, GNDVI, dan SAVI, dilengkapi validasi lapangan melalui Ground Truth Point (GTP). Hasil penelitian menunjukkan bahwa NDVI dengan model regresi cubic memiliki akurasi tertinggi dalam mendeteksi kerapatan mangrove dengan nilai R² sebesar 0,978 dan F sebesar 237,969. Sementara itu, GNDVI dan SAVI lebih efisien menggunakan model linear karena sederhana namun stabil. Reklasifikasi peta indeks vegetasi menunjukkan bahwa tutupan mangrove di Kabupaten Lampung Timur mengalami dinamika yang fluktuatif, dengan peningkatan pada tahun 2015–2017 namun penurunan drastis sejak 2019 hingga mencapai titik terendah pada 2025 akibat tekanan antropogenik dan abrasi pantai.
IDENTIFIKASI SIFAT KAYU GERGAJIAN PADA INDUSTRI PENGGERGAJIAN (STUDI KASUS: WILAYAH SEKITAR KESATUAN PENGELOLAAN HUTAN (KPH) PESAWARAN) Siska Dewi Mauly Nasution; Susni Herwanti; Christine Wulandari; Indra Gumay Febryano
Journal of People, Forest and Environment Vol. 5 No. 1 (2025): Mei
Publisher : University of Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jopfe.v5i1.10345

Abstract

Industri penggergajian kayu di Indonesia memainkan peran penting dalam pemanfaatan sumber daya hutan dan mendukung perekonomian lokal. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi sifat kayu gergajian yang digunakan dalam industri sawmill di Kabupaten Pesawaran, khususnya di Kecamatan Way Ratai dan Kecamatan Gedong Tataan. Data dikumpulkan melalui observasi langsung, wawancara dengan pemilik industri, serta studi literatur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa industri sawmill di wilayah ini memanfaatkan berbagai jenis kayu dari hutan rakyat, termasuk bayur (Pterospermum javanicum), durian (Durio zibethinus), jati (Tectona grandis), mahoni (Swietenia macrophylla), dan jabon (Neolamarckia cadamba). Identifikasi kayu yang diamati meliputi sifat fisis, mekanis, dan kimia. Secara fisis, kayu memiliki variasi dalam berat jenis, kadar air, dan arah serat yang memengaruhi stabilitas dan ketahanannya. Dari aspek mekanis, kayu diklasifikasikan berdasarkan kelas kuatnya, dari kelas I (sangat kuat) hingga kelas V (kurang kuat). Hasil penelitian menunjukkan bahwa kayu dengan kelas kuat antara tertinggi yaitu kayu jati yang tergolong dalam kelas II sedangkan kayu sengon, waru dan jabon tergolong kelas kuat rendah yaitu III- IV sehingga hal tersebut yang menentukan penggunaannya dalam konstruksi dan industri mebel. Sifat kimia kayu memiliki kandungan selulosa dan lignin, juga berpengaruh terhadap daya tahan kayu terhadap serangan organisme perusak, sehingga penelitian ini dapat menjadi acuan bagi industri pengolahan kayu dalam memilih bahan baku yang sesuai dengan kebutuhan produksi dan mempertimbangkan aspek keberlanjutan dalam pengelolaan hutan rakyat. 
PERBANDINGAN OBJEK DAN DAYA TARIK SERTA FASILITAS DAN PELAYANAN PADA DESTINASI EKOWISATA MANGROVE PETENGORAN DAN MANGROVE CUKU NYI NYI Jamilatut Toriqoh; Gunardi Djoko Winarno; Trio Santoso; Bainah Sari Dewi
Journal of People, Forest and Environment Vol. 5 No. 1 (2025): Mei
Publisher : University of Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jopfe.v5i1.10388

Abstract

Ekowisata yang berbasis alam dan lingkungan banyak diminati wisatawan lokal dan mancanegara serta kerap menjadi isu nasional adalah ekowisata mangrove. Terdapat dua destinasi ekowisata Mangrove yang paling menarik di Kabupaten Pesawaran, Provinsi Lampung yaitu Mangrove Petengoran dan Mangrove Cuku Nyi Nyi. Tujuan Penelitian ini yaitu membandingkan Tingkat persepsi pengunjung pada kedua Lokasi tersebut. Penelitian dilaksanakan pada bulan Oktober-Desember 2024. Penelitian ini menggunakan metode kuesioner dan wawancara secara langsung kepada 30 responden dianalisis secara deskriptif dengan menggunakan skala pengukuran yaitu skala likert. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa Lokasi Mangrove Cuku Nyi Nyi memiliki hasil yang baik pada indikator karakteristik alam dan objek wisata, serta fasilitas dan pelayanan yang disajikan.
Potensi Tanaman MPTS (Multi Purpose Trees Species) di Kawasan RHL Desa Girimulyo Lampung Timur Vania Eveline Simanjuntak; Komang Intan Gayatri; Surnayanti; Machya Kartika Tsani; Sugeng P. Harianto
Journal of People, Forest and Environment Vol. 5 No. 1 (2025): Mei
Publisher : University of Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jopfe.v5i1.11807

Abstract

Hutan memiliki fungsi penting sebagai penyangga kehidupan, namun tekanan akibat alih fungsi lahan menurunkan keanekaragaman hayati sehingga diperlukan program Rehabilitasi Hutan dan Lahan (RHL) dengan tanaman Multi Purpose Tree Species (MPTS). Penelitian ini bertujuan mengetahui potensi tanaman MPTS di kawasan RHL Desa Girimulyo, Lampung Timur. Metode penelitian menggunakan observasi lapangan pada 36 petak ukur berukuran 25 × 40 m² dengan data jenis, diameter, dan tinggi tanaman yang dianalisis melalui kerapatan, frekuensi, dominansi, dan Indeks Nilai Penting (INP). Hasil penelitian menemukan enam jenis MPTS, yaitu alpukat (Persea americana), durian (Durio zibethinus), jengkol (Pithecellobium jiringa), kelapa (Cocos nucifera), kelengkeng (Litchi chinensis), dan petai (Leucaena leucocephala). Alpukat mendominasi pada tingkat pancang (INP 192,17), tiang (295,16), dan pohon (221,56), menunjukkan adaptasi dan peran ekologis yang kuat, sementara jenis lain hanya ditemukan pada fase tertentu. Indeks keanekaragaman Shannon-Wiener (H’) tergolong rendah (0–0,43) pada semua fase pertumbuhan, dengan kemerataan dan kekayaan spesies juga masih rendah. Disimpulkan bahwa alpukat berpotensi besar dalam mendukung keberhasilan program RHL sekaligus meningkatkan ekonomi masyarakat, namun rendahnya keanekaragaman jenis menandakan perlunya penambahan variasi tanaman MPTS guna memperkuat keberlanjutan ekosistem.
Analisis Persebaran Reptil di Laboratorium Lapang Terpadu Universitas Lampung (Reptile Distribution Analysis in the Integrated Field Laboratory, University of Lampung) Nimas Ayu Fatmawati; Bainah Sari Dewi; Rusita Rusita; Yulia Rahma Fitriana
Journal of People, Forest and Environment Vol. 1 No. 2 (2021): November 2021
Publisher : University of Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jopfe.v1i2.5051

Abstract

Abstract : Reptiles play an important role in an ecosystem as one part of the food chain and some of them are environmental bio-indicators. The purpose of this study was to obtain information and determine the distribution and presence of reptiles in three habitats. This research was conducted in December 2020-January 2021 at the Integrated Field Laboratory. The method used is a Visual Encounter Survey (VES) or a Visual Encounter Survey with a combination of Time Search and taking the coordinates of the species with GPS. The results were analyzed using the Arcgis 10.3 application and google earth. The results showed that the distribution of reptiles in the three habitats was in the even or homogeneous category. This is due to several factors, such as the availability of food and the adjacent habitat, which makes it easier for reptiles to change locations. Reptiles are indicators of environmental balance that must be identified by conducting monitoring and further research to reduce threats or reptile species such as hunting and trade in liars. Abstrak : Reptil berperan penting dalam suatu ekosistem sebagai salah satu bagian dari penyusun rantai makanan dan beberapa diantaranya merupakan bio-indikator lingkungan. Tujuan dari penelitian ini adalah mendapatkan informasi dan mengetahui persebaran dan keberadaan reptil pada tiga habitat. Penelitian ini dilakukan pada bulan Desember 2020-Januari 2021 di Laboratorium Lapang Terpadu. Metode yang digunakan adalah Visual Encounter Survey (VES) atau Survei Perjumpaan Visual dengan kombinasi Time Search serta mengambil titik koordinat spesies teramati dengan GPS. Hasilnya dianalisis  dengan menggunakan aplikasi Arcgis 10.3 dan google earth. Hasil penelitian menunjukkan bahwa persebaran reptil pada ketiga habitat termasuk ke dalam kategori merata atau homogen. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor seperti ketersediaan pakan dan lokasi habitat yang berdekatan yang memudahkan reptil untuk berpidah lokasi. Reptil adalah indikator keseimbangan lingkungan yang harus diketahui keberadaannya dengan melakukan monitoring dan penelitian lanjutan untuk mengurangi ancaman ataupun gangguan spesies reptil seperti perburuan dan perdagangan liar. Kata kunci : reptil; persebaran jenis; bio-indikator.
KEANEKARAGAMAN JENIS TUMBUHAN BERKHASIAT OBAT DI BLOK PEMANFAATAN HUTAN PENDIDIKAN KONSERVASI TERPADU TAMAN HUTAN RAYA WAN ABDUL RACHMAN LAMPUNG Kartika Puspa Dewi; Afif Bintoro; Ceng Asmarahman; Duryat Duryat
Journal of People, Forest and Environment Vol. 1 No. 2 (2021): November 2021
Publisher : University of Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jopfe.v1i2.5114

Abstract

Taman Hutan Raya Wan Abdul Rachman merupakan salah satu hutan konservasi yang merupakan habitat berbagai spesies tumbuhan. Tumbuhan yang terdapat pada Tahura WAR memiliki banyak manfaat, salah satunya sebagai obat tradisional. Oleh karena itu dilakukan penelitian dengan tujuan untuk mengetahui spesies tumbuhan apa saja yang berkhasiat obat pada Blok Pemanfaatan Hutan Pendidikan Konservasi Terpadu Tahura WAR Lampung. Penelitian dilakukan dengan membuat petak contoh sebanyak 27 plot menggunakan metode garis berpetak, plot yang digunakan berukuran 20 x 20 m untuk tingkat pohon, 10 x 10 m untuk tingkat  tiang, 5 x 5 m untuk tingkat pancang, 2 x 2 m untuk tingkat semai, dan 1 x 1 m untuk tumbuhan bawah. Dari hasil penelitian diperoleh 32 jenis tumbuhan obat yang berasal dari 21 famili yang berbeda.
DEVELOPMENT OF NATURAL TOURISM POTENTIAL TNBBS (RESORT BALIK BUKIT CASE STUDY) Novita Siti Rahayu; Bainah Sari Dewi
Journal of People, Forest and Environment Vol. 3 No. 1 (2023): Mei
Publisher : University of Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jopfe.v3i1.5343

Abstract

  ABSTRACT. Ecotourism is a development concept that comes from the tourism industry, can be tainable. The purpose of this research is to determine the potential of ecotourism in Balik Bukit Resort TNBBS, to know the role of managers in the development of natural tourism in Balik Bukit TNBBS Resort, to know the role of the community in the development of ecotourism at Balik Bukit Resort TNBBS, to identify the role of students towards TNBBS. The research location is at Balik Bukit Resort TNBBS in August 2021. The method used in this research is direct observation or direct observation and interviews with keynote speakers or very influential people. The results obtained are the ecotourism potential found at Balik Bukit Resort TNBBS there are three waterfalls, namely a waterfall Sepapah Kiri, a waterfall named Sepapah Kanan and a waterfall named Way Asahan, rivers, Campgrounds, Education Center Kokedama, diversity forest orchid species and landscape ecology. The role of the manager in the management of tourism objects is directly involved in the management, security of visitors, ticket booths and providing facilities. The role of the community in the development of tourism objects helps the manager in providing guide services, services for selling and transportation. The role of students in the National Park is to assist in the development of tourism objects, and research.Keywords: Development.,Ecotourism., Management., Society., Tourism.
Type Of Dung Beetle Forest Unila Integrated Conservation Education On Utilization Block In Tahura War Sigit Prayogi; Bainah Sari Dewi; Yulia Rahma Fitriana; Sugeng P Harianto
Journal of People, Forest and Environment Vol. 3 No. 1 (2023): Mei
Publisher : University of Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jopfe.v3i1.5563

Abstract

Dung beetles are very important decomposer components in secondary forest ecosystems. This dung beetle plays an important role because the beetle has a role in breaking down the feces of various types of animals. This study aims to determine the species diversity of the Dung Beetle in the UNILA HPKT Arboretum in the Tahura War Utilization Block. The tools used in this study were tools such as hoes, traps made of buckets measuring ± 1 liter and containing ± 500 ml of water and plastic cups containing feces, then plastic cups connected to wires, and cameras. The materials used in this study were cow feces, deer feces and goat feces which were still fresh. The method in this study used the trap method. The diversity of dung beetle species in the 3 months of the study found 3 species, namely Catharsius molossus (H' = 0.92), Oryctes rhinoceros (H' = 0.97), and Aphodius marginellus (H' = 1.01). The suggestion from this study is that the results of the study show that the diversity of dung beetles in Tahura WAR in the utilization block is relatively low because of the low vegetation cover and food sources.
BEHAVIOR OF TIMOR DEER (Cervus Timorensis) ON TYPES OF FEED IN DEER CAPTURE LAMPUNG UNIVERSITY Imam Adhi Wijaya; Bainah Sari Dewi; Sugeng P. Harianto
Journal of People, Forest and Environment Vol. 3 No. 1 (2023): Mei
Publisher : University of Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jopfe.v3i1.5565

Abstract

One of the important components in managing wildlife in captivity is the availability of forage plants (Setiawan, 2018). The main diet of deer is leaves and grasses, so these animals can consume almost all types of leaves and grass, are resistant to water shortages so that they are able to adapt to agro-ecosystem conditions. The purpose of the study was to determine the types of drop-in feed for Timor deer in the deer captivity at the University of Lampung. Data collection is done with primary data and secondary data. Data regarding the analysis of the deer's feed preference level was obtained from direct observation (Zaistev, 2015) using the palatability and description methods. With this method, recording, weighing the type of feed provided by the manager and analysis of the adequacy of deer feed in captivity is carried out. Observations were carried out for 14 days with time intervals starting from 06.00-18.00 WIB. Perceptions were pursued for 14 days with rest span beginning from 06.00-18.00 WIB. In view of the seven sorts of drop-in feed above, elephant grass (Pennisetum purpureum) is a kind of food that is extremely well known with deer with a genuinely enormous level of inclination, which is 56.14%, then, at that point, trailed by grass rayutan 12.40%, sauhen grass with a level of 9 .14%, lamtoro with a level of 8.57%, teki grass 5.83%, reeds 4.68%, and sembung sambat 3.77%. The food that was first chosen and eaten by the deer was elephant grass (Pennisetum purpureum) and proceeded with sauhen grass (Penicum colonum). Higher elephant grass (Pennisetum purpureum).