cover
Contact Name
M. Gandhi Amanullah
Contact Email
moh-g-a@fib.unair.ac.id
Phone
+6287702790928
Journal Mail Official
journaljapanologyunair@gmail.com
Editorial Address
Department of Japanese Studies Faculty of Humanities, 2nd floor, Universitas Airlangga Jl. Dharmawangsa Dalam Selatan, Surabaya, Indonesia 60286 Tel.62-31-5035676, fax.62-31-5035807
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Japanology
Published by Universitas Airlangga
ISSN : 29858380     EISSN : 23022876     DOI : https://doi.org/10.20473/jjs
Core Subject : Religion, Social,
Japanology is an international interdisciplinary journal that provides a media for scientific articles that study various aspects of Japan, especially in the social, humanities, language and culture fields. Contributions are invited from scholars around the world. The scope of the journal is Japanese studies which include: - Japanese culture - Japanese language/linguistic - Japanese literature - Japanese society - Representation of Japan in old and new media - Japanese language and culture education - History of Japan
Articles 59 Documents
Toxic Parenting pada Tokoh Ibu dalam Film Mother 2020 Karya Tatsushi Omori: Kajian Psikologi Sastra Nadhira Putri; Aryani, Made; Artana, I Nyoman
Japanology: The Journal of Japanese Studies Vol. 9 No. 1 (2022): Psychology in Japanese Culture
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/jjs.v9i1.51554

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengkaji pola asuh orang tua beracun atau toxic parenting yang diterapkan oleh tokoh orang tua tunggal bernama Akiko, terhadap anaknya, Shuhei. Penelitian ini akan menganalisis bentuk-bentuk toxic parenting dan kondisi psikologis seorang anak yang menjadi korban dari perlakuan toxic parenting. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan metode informal. Penelitian ini menggunakan teori peran keluarga yang dikemukakan oleh Hurlock dan teori psikologi sastra oleh Minderop. Berdasarkan hasil analisis penelitian ini, sebagai seorang ibu, Akiko berperan kuat di dalam keluarga, sehingga hal tersebut membuat Shuhei berada di bawah kendali dan pengaruh Akiko. Gaya pola asuh beracun atau toxic parenting yang diterapkan oleh Akiko merupakan pola asuh yang menyerupai tindakan otoriter. Tindakan otoriter dari Akiko, misalnya terkesan terlalu ketat atau overprotektif dan memberi penolakan kepada Shuhei. Akibat dari beberapa perlakuan tersebut berdampak pada kondisi psikologi yang dialami Shuhei.
ANALISIS HUBUNGAN MAKNA KANJI BER-BUSHU SANZUI HEN (æ°µ) DENGAN ARTI AIR DALAM KATEGORI KATA KERJA JOUYOU KANJI Adis Kusumawati
Japanology: The Journal of Japanese Studies Vol. 8 No. 2 (2020): Cultural Symbols of Japan in Mass Media
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/jjs.v8i2.51556

Abstract

This study examines to analyze the relation between the meaning of kanji and kanji bushu.This research uses Joyo Kanji newest revised edition of 2010 as the source of data. Collected from the joyo kanji, the type that is used are the verbs class category of kanji bushu sanzui hen. The scientific method used in this research is descriptive qualitative method. The data is analayzed concerning the semantic meaning descriptively. As the result of this research, 42 kanji bushu sanzui hen is found that is categorized as verb that is formed of 25 kanji that have correlation with water meaning and 17 kanji do not have relation with the water meaning. The semantic roles found in this research are location, patient, theme, agent, instrument and source. Particles that follows the words correlated to the water meaning by definition, have an important role to show how the relation of bushu sanzui hen with the meaning.                      
PENGGUNAAN KONJUNGSI TOSHITEMO DAN NI SHIRO DALAM BAHASA JEPANG Bunga Ceriandara; Dwi Anggoro Hadiutomo
Japanology: The Journal of Japanese Studies Vol. 8 No. 2 (2020): Cultural Symbols of Japan in Mass Media
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/jjs.v8i2.51557

Abstract

Konjungsi merupakan salah satu komponen penting dalam pembuatan kalimat. Pemahaman konjungsi dengan baik dapat meminimalisir terjadinya kesalahan dalam berkomunikasi. Dalam bahasa Jepang, konjungsi disebut dengan setsuzokushi. Setsuzokushi terbagi dalam tujuh jenis, salah satunya adalah gyakusetsu no setsuzokushi yang cukup sering digunakan dalam pembuatan kalimat. Di dalam gyakusetsu no setsuzokushi terdapat beragam setsuzokushi, seperti toshitemo dan ~ni shiro. Kedua konjungsi tersebut memiliki makna yang sama apabila diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Kesamaan tersebut membuat pembelajar sulit untuk menentukan konjungsi yang tepat. Berdasarkan hal tersebut, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui struktur dan makna dari keduanya, sehingga nantinya dapat diketahui persamaan dan perbedaan yang dimiliki. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif. Penelitian ini menggunakan teori sintaksis dan semantik untuk menentukan struktur dan makna dari kedua konjungsi. Setelah menganalisis setiap data, dapat disimpulkan bahwa secara struktur, kedua konjungsi terletak di tengah kalimat dan dapat melekat pada verba, ajektiva, dan nomina, sedangkan pronomina hanya dapat melekat pada ~ni shiro. Secara makna, kedua konjungsi memiliki makna untuk menunjukkan hal yang berlawanan. Namun, ~ni shiro tidak hanya memiliki makna tersebut, melainkan juga memiliki makna yang lain. One of important components in composing a sentence is conjunction. Mastering the use of conjunction is very essential to avoid misunderstanding. In Japanese, conjunction is also called setsuzokushi. Setsuzokushi has seven types in it, one of which is gyakusetsu no setsuzokushi which is used quite often. Inside gyakusetsu no setsuzokushi, there are various setsuzokushi in it, such as toshitemo and ~ni shiro. Both of setsuzokushi have the same meaning when translated into bahasa Indonesia (Indonesian language). As a result, Indonesian learning Japanese may struggle to choose the right setsuzokushi to use. Based on this issue, this study determines the structure and meaning of each conjunction to find the similarities and differences of each of these conjunctions. The method used in this research is descriptive qualitative. This study uses syntactic and semantic theories to determine the structure and meaning of each conjunction. After analyzing each data, it can be concluded that structurally, both of conjunctions can be attached to the verb word classes, adjectives, and nouns, while the pronouns can only be attached to the conjunction of ~ni shiro. In terms of meaning, both of conjunctions have the same meaning, which can show the opposite. However, ~ni shiro also has another meaning.
FENOMENA GARASU TENJO DALAM DRAMA CHEF: MITSUBOSHI NO KYUSHOKU Ghea Ardiayu Puspitaloka; Srimulyani, Nunuk Endah
Japanology: The Journal of Japanese Studies Vol. 8 No. 2 (2020): Cultural Symbols of Japan in Mass Media
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/jjs.v8i2.51558

Abstract

Garasu tenjo atau glass ceiling merupakan sebuah fenomena yang mengibaratkan adanya langit-langit kaca penghalang naiknya perempuan ke sebuah jabatan tertinggi. Berdasarkan hasil survei AOL Jobs membuktikan bahwa satu dari enam perempuan mengalami diskriminasi di tempat kerja berupa perbedaan gaji dengan karyawan laki-laki, kinerja kurang dipercayai, dan sulitnya mendapatkan promosi jabatan. Fenomena garasu tenjo juga tercermin dalam sebuah drama yang berjudul Chef: Mitsuboshi no Kyushoku yang menceritakan kisah Mitsuko dengan berbagai hambatan dalam karirnya sebagai koki bintang tiga. Kegiatan memasak yang umumnya dilakukan perempuan sebagai unpaid labor memiliki kontradiksi dengan aktivitas memasak sebagai koki (paid labor) yang banyak dilakukan oleh laki-laki membuat perempuan menemui berbagai kesulitan ketika berada di dalamnya sehingga peneliti tertarik untuk meneliti "bagaimana fenomena garasu tenjo di Jepang dalam drama Chef: Mitsuboshi no Kyushoku?”. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dan dikaji dengan menggunakan teori female underrepresentation untuk meneliti kelangkaan perempuan dalam bidang kepemimpinan. Hasil dari penelitian ini adalah fenomena garasu tenjo tercermin dalam dunia koki yang sangat patriarki, bias gender, dan susahnya perempuan mengharmonisasikan tuntutan pekerjaan dengan mengurus keluarga. Garasu tenjo or the glass ceiling phenomenon refers to the imaginary glass ceiling that prevents women from reaching the top position of a company. A survey by AOL Jobs proves that one in six women face discriminations in the workplace, such as different salaries compared to male employees, less appreciation for their performance, and difficulties in getting promotion. The garasu tenjo phenomenon can be seen in Chef: Mitsuboshi no Kyushoku, a drama series about Mitsuko who experiences various obstacles in her career as a three-star chef. Cooking as unpaid labor is generally done by women but cooking as paid labor (chefs) is dominated by men, making it hard for women to strive in that field. This contradiction compelled the author to explore how garasu tenjo phenomenon is represented in the drama Chef: Mitsuboshi no Kyushoku. Using the qualitative research method and female underrepresentation theory, the scarcity of women in the field of leadership is further examined. Analysis result shows that chefs are highly patriarchal occupation with a lot of gender biases, and that women also face the hurdle of balancing work with household responsibilities.
KONSEP UCHI-SOTO DALAM INTERAKSI SOSIAL ORANG JEPANG DI SURABAYA: STUDI KASUS PADA ORANG JEPANG YANG BEKERJA DI UNIVERSITAS AIRLANGGA Nindya Ayu Izarina; Elsy, Putri
Japanology: The Journal of Japanese Studies Vol. 8 No. 2 (2020): Cultural Symbols of Japan in Mass Media
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/jjs.v8i2.51559

Abstract

Kuatnya kesadaran masyarakat Jepang akan konsep in-group dan out-group sering dideskripsikan sebagai kesadaran akan uchi (dalam) - soto (luar), hal ini sudah menjadi karakter masyarakat Jepang sejak dahulu kala. Penelitian ini akan membahas mengenai bagaimana bentuk interaksi sosial orang Jepang di lingkungan kerjanya diluar Jepang dan bagaimana penerapan konsep uchi-soto dalam lingkungan kerjanya diluar Jepang. Penelitian deskriptive kualitatif ini dilakukan dengan metode studi kasus. Objek dari penelitian ini adalah lima orang Jepang yang bekerja di Universitas Airlangga Surabaya. Pengumpulan data dilakukan dengan observasi dan wawancara mendalam. Penelitian ini menggunakan konsep uchi-soto dan konsep interaksi sosial. Konsep ini masih di aplikasikan oleh lima subjek meskipun mereka berada di luar Jepang. Dewasa ini, anggota dari uchi-soto tergantung dari pola pikir masing-masing individu, sudah tidak berdasarkan aturan tradisional. The strong Japanese awareness of in group and out group concept, also often be described as awareness of uchi (inside) and soto (outside) contexts, that has become the Japanese characters since long time ago. In this research, writer will find out about How the social interaction of Japanese in their workplace outside Japan are and how the concepts of Uchi Soto applies in their workplace outside Japan are. This descriptive-qualitative research is done by using case study method. The objects for this research are five Japanese who work at Airlangga University in Surabaya. Data collecting process is done through the observasion and in-depth interview. This research is also based on Uchi-Soto concept and the social interaction concept. This concept is still applied by five subjects although they live outside Japan. Nowadays, the member of uchi and soto depend on individual mindset, not by traditional rules anymore.
FAKTOR LATFAKTOR LATAR BELAKANG DAN KECENDERUNGAN KAUM MUDA SURABAYA DALAM MEMILIH MAKANAN JEPANG ANTARA RESTORAN MARUGAME UDON DAN YOAR BELAKANG DAN KECENDERUNGAN KAUM MUDA SURABAYA DALAM MEMILIH MAKANAN JEPANG ANTARA RESTORAN MARUGAME UDON DAN YOSHINOYA Intan Ryanditha Suhardini
Japanology: The Journal of Japanese Studies Vol. 8 No. 2 (2020): Cultural Symbols of Japan in Mass Media
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/jjs.v8i2.51560

Abstract

Makanan Jepang merupakan salah satu makanan asing yang telah menyebar hingga ke seluruh pelosok dunia. Berbagai macam restoran Jepang sudah sejak lama beroperasi di Indonesia, termasuk di Surabaya. Beberapa restoran Jepang yang sangat populer di kalangan masyarakat Surabaya adalah Yoshinoya dan Marugame Udon. Kedua restoran ini memiliki banyak peminat yang berasal dari berbagai kalangan, termasuk kaum muda. Terdapat beberapa alasan yang melatarbelakangi kaum muda dalam memilih makanan Jepang. Penelitian ini membahas mengenai faktor-faktor yang melatarbelakangi kaum muda Surabaya dalam memilih makanan serta bagaimana kecenderung mereka dalam menentukan makanan Jepang. Penulis menggunakan metode kualitatif dengan data yang digunakan didapat melalui observasi dan proses wawancara terhadap 25 orang informan yang merupakan konsumen makanan Jepang di Surabaya. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa alasan para informan memilih makanan Jepang didasarkan pada faktor ekonomi, faktor religiusitas, faktor sosial-budaya, dan faktor lingkungan. Selain itu, beberapa hal yang dipertimbangkan saat membeli makanan Jepang adalah rasa, porsi, harga, dan halal atau tidaknya makanan. Japanese food is a foreign food that spread all over the world. Many kinds of Japanese restaurants that can be found in Indonesia for long time ago, including in Surabaya. Some Japanese restaurants that are very popular among Surabaya society are Yoshinoya and Marugame Udon. Both Yoshinoya and Marugame Udon have many consumers of every background and age, including at young ages. There are several consumer reasons for choosing Japanese food in these two restaurants. This research discusses the factors why young ages like Japanese foods, and also talks about how consumer tendency in choosing Japanese food. The author uses qualitative method whose data obtained through observation and interview process of 25 informants who are also consumers of Japanese food in Surabaya. The results of this study indicate that the informants chose Japanese food based on economic factors, religious factors, socio-cultural factors, and environmental factors. In addition, several things to consider when buying Japanese food are the taste, portion, price, and whether or not to halal the food.
ANALISIS MASKULINITAS PADA TOKOH PRIA DALAM DRAMA HANAZAKARI NO KIMITACHI E REMAKE Meinar Amelia Asoka; Kirana, Rahaditya Puspa
Japanology: The Journal of Japanese Studies Vol. 8 No. 2 (2020): Cultural Symbols of Japan in Mass Media
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/jjs.v8i2.51561

Abstract

Panjangnya jam kerja pria di Jepang pada saat gelembung ekonomi membuat pria menjadi jauh dari keluarganya dan terpaksa menjalani gaya hidup sebagai penggila kerja yang mengakibatnya terjadinya karoushi (kematian mendadak). Setelah itu pada tahun 1990an, saat gelembung ekonomi jatuh juga semakin memberikan tekanan yang berat bagi pria di Jepang sehingga banyak pria paruh baya yang melakukan bunuh diri. Dari kejadian tersebut, menyebabkan pergerakan pria generasi selanjutnya mulai berkembang karena mereka tidak ingin menjadi seperti ayahnya atau pria paruh baya lainnya. Hal ini mengakibatkan sedikit demi sedikit sistem patriarki yang diidentikkan dengan suami sebagai pencari nafkah dan wanita mengurus pekerjaan rumah tangga serta membesarkan anak semakin melemah. Sehingga maskulinitas di Jepang semakin bergeser dan memunculkan pemuda dengan maskulinitas baru. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan representasi maskulinitas baru Jepang pada tokoh pria dalam drama Jepang Hanazakari no Kimitachi e Remake. Penelitian menggunakan metode kualitatif beserta teori semiologi Barthes untuk mendeskripsikan dan menganalisa makna dan tanda maskulinitas dalam drama. Hasilnya menunjukkan tokoh yang memiliki karakteristik maskulinitas berbeda yaitu maskulinitas baru soushokukei danshi. The length of man's working hours in Japan at the time of the economic bubble, left men far from his family and forced to live a lifestyle as a workaholic that resulted in the occurrence of karoushi (sudden death). After that, in the 1990s, as the economic bubble fell, it also put more pressure on men in Japan, so many middle-aged men committed suicide. From that case, causing the movement of the next generation of men began to develop because they do not want to be like his father or other middle-aged man. This resulted in little by little the patriarchal system identified with the husband as the breadwinner and the woman taking care of household chores and raising the child further weakened. So that masculinity in Japan is increasingly faded and gave rise to youth with new masculinity. The purpose of this study was to describe a new Japanese masculine representation of male characters in the Japanese drama Hanazakari no Kimitachi e Remake. The study used qualitative methods along with Barthes's semiology theory to describe and analyze the meaning and sign of masculinity in drama. The results show there characters who have different masculinity characteristics of new masculinity, it is soushokukei danshi.
MAKNA JUNPAKU DAN SUPPIN PADA TANDA VERBAL IKLAN PRODUK PERAWATAN KULIT SENKA PADA TAHUN 2018-2020 Rahmah Alifiyah Arrosyid
Japanology: The Journal of Japanese Studies Vol. 8 No. 2 (2020): Cultural Symbols of Japan in Mass Media
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/jjs.v8i2.51562

Abstract

Iklan berfungsi sebagai sarana promosi untuk menawarkan barang dan jasa. Seiring perkembangan teknologi komunikasi dan informasi mengakibatkan media untuk beriklan semakin beragam. Salah satunya menggunakan Internet. Internet mejadi salah satu media yang sudah banyak digunakan untuk menampilkan iklan dari suatu produk karena mampu menyampaikan pesan verbal dan nonverbal secara bersamaan. Senka yang dibawahi oleh Shiseido Company merupakan salah satu produk kecantikan yang menggunakan media internet untuk mempromosikan produknya. Penelitian ini menggunakan teori semiotika milik Ferdinand de Saussure guna dapat mengkaji makna di balik tanda verbal pada iklan produk Senka ini. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif. Sampel data yang diambil hanya iklan yang diunggah pada tahun 2018-2020 yang berjumlah 10 poster iklan. Melalui analisis semiotika pada iklan Senka ini, dapat dapat ditarik kesimpulan bahwa iklan senka ini tedapat pengulangan kata junpaku (putih bersih murni)dan  suppin (wajah asli tanpa riasan) yang merupakan usaha produsen untuk menjelaskan keunggulan produknya melalui dua kata tersebut dan membuat konsumen selalu ingat bahwa senka identik dengan junpaku suppin. Advertising serves as a promotional tool to offer goods and services. As the development of communication and information technology causes the media to advertise increasingly diverse. One of them uses the Internet.The internet has become one of the most widely used media to display advertisements of a product because it is able to deliver verbal and nonverbal messages simultaneously. Senka, which is managed by Shiseido Company, is one of the beauty products that uses internet media to promote its products. This research uses Ferdinand de Saussure's semiotics theory in order to be able to examine the meaning behind verbal signs in this Senka product advertisement. The method used is descriptive qualitative. Samples of data taken are only advertisements uploaded in 2018-2020 which amounted to 10 ad posters. Through the semiotic analysis of this Senka advertisement, it can be concluded that this senka ad is a repetition of the words junpaku (pure white) and suppin(real face without makeup), which are producers' efforts to explain the superiority of their products through these two words and make consumers always remember that senka is identical to junpaku suppin.
LEGALISASI LGBT DAN HUBUNGANNYA DENGAN MASYARAKAT MENUA DALAM PERSPEKTIF MAHASISWA JEPANG Rizky Ratnasari
Japanology: The Journal of Japanese Studies Vol. 8 No. 2 (2020): Cultural Symbols of Japan in Mass Media
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/jjs.v8i2.51563

Abstract

Dewasa ini legalisasi LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender) telah meluas di banyak negara termasuk Jepang. Jepang saat ini tengah menghadapi permasalahan demografi, yakni masyarakat yang menua (the aging society) dan terdapat kekhawatiran legalisasi LGBT akan semakin menurunkan tingkat kelahiran yang sudah rendah per tahunnya. Penelitian ini akan menggali pendapat generasi muda Jepang tentang hubungan antara LGBT dan rendahnya tingkat kelahiran dalam masyarakat menua di Jepang. Dengan menggunakan pendekatan kuantitatif melalui angket sebagai teknik pengumpulan data dan konsep the aging society sebagai kerangka pemikiran, penulis memperoleh 46 orang responden mahasiswa yang dipilih secara acak dari berbagai universitas di Jepang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden menyatakan terbuka terhadap LGBT dan diakuinya LGBT secara hukum tidak berdampak terhadap penurunan angka kelahiran di Jepang. Bagi sebagian besar responden, permasalahan demografi di Jepang tidak berhubungan dengan fenomena LGBT dan rendahnya tingkat kelahiran di Jepang memerlukan solusi lain yang lebih kongkrit seperti mempermurah biaya pendidikan dan memberikan tunjangan kepada pengantin baru.                       In the last few years, the legalization of LGBT (Lesbian, Gay, Bisexual, and Transgender) has been spreading in many countries, including Japan. However, Japan is currently facing demographic problems, namely the aging society, and there are concerns that LGBT legalization will further reduce the already low birth rate. This research will explore the views of Japanese youths about the relationship between LGBT and the low birth rate in Japan's aging society. By using a questionnaire to collect quantitative data and keeping the concept of aging society as the main framework, answers from 46 randomly selected Japanese university student respondents were obtained. Final data shows that most respondents are welcome to LGBT, and they don't think the legalization of LGBT has any impact on the declining birth rate in Japan. According to them, the demographic problems in Japan are not related to LGBT and the low birth rate in Japan requires other, more concrete solutions, such as lowering education costs and providing financial support for newlyweds.                           
KARAKTERISASI HIKIKOMORI PADA TOKOH SAGIRI DALAM ANIME EROMANGA SENSEI Atikah Hanum Yuliwarto
Japanology: The Journal of Japanese Studies Vol. 9 No. 2 (2022): Japanese Culture in Education
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/jjs.v9i2.51564

Abstract

The hikikomori phenomenon was first introduced by psychiatrist Saito Tamaki in his book entitled Shakaiteki Hikikomori: Owaranai Shishunki in 1998. This research aimed to analyze the characterization of a hikikomori in character Izumi Sagiri using the semiotic theory of Charles Sanders Peirce. The object of this research is anime Eromanga Sensei by Tsukasa Fushimi and produced by A-1 Picture in 2017. This study is a descriptive qualitative study using data in the form of verbal and visual dialogue in the anime that will be selected and analyzed based on existing signs in accordance with Charles Sanders Peirce's semiotic theory. The results of this study indicate that the character Sagiri has several signs of characterizations of a hikikomori that are compatible with the real world.