cover
Contact Name
Tri Suyatno
Contact Email
jurnalpatisambhida6@gmail.com
Phone
+6282242558496
Journal Mail Official
jurnalpatisambhida6@gmail.com
Editorial Address
Jl. Kantil, Bulusari, Bulusulur, Kec. Wonogiri, Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah 57615
Location
Kab. wonogiri,
Jawa tengah
INDONESIA
Patisambhida : Jurnal Pemikiran Buddha dan Filsafat Agama
ISSN : -     EISSN : 27459268     DOI : -
PATISAMBHIDA adalah Jurnal Pemikiran Buddha dan Filsafat Agama yang menerbitkan artikel berbasis penelitian berbagai topik dalam ruang lingkup pembahasan mengenai Pemikiran Buddha maupun Filsafat Agama
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 57 Documents
Upaya Tokoh Agama Buddha Untuk Meningkatan Keaktifan Umat Melalui Kegiatan Anjangsana: (Studi Kasus Pada Umat Buddha di Sidomulyo) Sari, Santika
PATISAMBHIDA : Jurnal Pemikiran Buddha dan Filsafat Agama Vol. 2 No. 1 (2021): PATISAMBHIDA - Jurnal Pemikiran Buddha dan Filsafat Agama
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Buddha Negeri Raden Wijaya Wonogiri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53565/patisambhida.v2i1.867

Abstract

Peran tokoh agama Buddha untuk meningkatkan keaktifan umat Buddha di Sidomulyo dalam mengikuti kegiatan keagamaan, dan untuk mendiskripsikan faktor-faktor yang mempengaruhi keaktifan, serta menganalisis pengaruh kegiatan Anjangsana dalam meningkatkan keaktifan umat. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriftif kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Penggunaan studi kasus sebagai metode penelitian dikarenakan oleh adanya fenomena unik yang terjadi di Sidomulyo. Yakni pelaksanaan kegiatan anjangsana sebagai upaya meningkatkan keaktifan umat dalam mengikuti kegiatan keagamaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Peran tokoh agama Buddha untuk meningkatkan keaktifan umat Buddha dalam mengikuti kegiatan keagamaan di Vihara Sidomulyo meliputi: (1) Membuat program kegiatan, (2) Mengajak umat secara langsung melalui kegiatan kunjungan anggota, (3) Mempersiapkan kegiatan secara matang, (4) Melibatkan umat dalam berbagai kegiatan, (5) Membangun komunikasi yang baik dengan umat maupun sesama pimpinan di lingkup Vihara Vimalakirti Sidomulyo. Faktor yang mempengaruhi keaktifan umat dapat dibedakan menjadi: (1) Suasana kegiatan, (2) karakteristik pimpinan, (3) Hubungan sesama umat, (4) adanya budaya ewuh perkewuh. Sedangkan kegiatan Anjangsana memiliki pengaruh yang kuat terhadap keaktifan umat dalam mengikuti berbagai kegiatan keagamaan yang diprogramkan oleh Majelis maupun pimpinan di lingkungan Vihara Vimalakirti Sidomulyo.
Pengaruh Motivasi Beragama Buddha Terhadap Puja Bakti Di Vihara Dharmasari Dusun Windusari Kabupaten Banjarnegara Karnoto, Karnoto
PATISAMBHIDA : Jurnal Pemikiran Buddha dan Filsafat Agama Vol. 2 No. 1 (2021): PATISAMBHIDA - Jurnal Pemikiran Buddha dan Filsafat Agama
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Buddha Negeri Raden Wijaya Wonogiri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53565/patisambhida.v2i1.868

Abstract

Motivasi Beragama terhadap Pelaksanaan Puja Bakti umat Buddha di Vihara Dharmasari dilatarbelakangi oleh permasalahan tentang menurunnya pelaksanaan puja bakti disebabkan oleh kurangnya motivasi dalam beragama. Hal tersebut terlihat dari banyaknya umat Buddha yang melaksanakan puja bakti ketika ada Bhikkhu saja dan masih banyak umat Buddha beranggapan bahwa puja bakti sebatas rutinitas yang tidak wajib. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui seberapa besar motivasi beragama yang sudah dimiliki umat Buddha dalam pelaksanaan puja bakti umat Buddha di Vihara Dharmasari. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan pendekatan regresi. Sampel penelitian ini adalah umat Buddha di Vihara Dharmasari berjumlah 40 orang. Teknik pengumpulan data menggunakan angket tentang motivasi beragama dan puja bakti. Uji asumsi menggunakan uji normalitas, heterokedastisitas dan autokorelasi. Data dianalisis dengan teknik analisis regresi linier sederhana dengan menggunakan bantuan program komputer SPSS versi 15.0 for windows. Hasil penelitian yang diperoleh menunjukkan bahwa: ada pengaruh motivasi beragama terhadap pelaksanaan puja bakti yang ditunjukkan dengan tingkat signifikansi sebesar 0,000 < 0,05. Hal ini menunjukkan bahwa motivasi beragama memiliki kontribusi dalam mempengaruhi pelaksanaan puja bakti sebesar 68%, dan 32% dipengaruhi oleh faktor lain. Artinya motivasi beragama umat Buddha di Vihara Dharmasari Dusun Windusari tergolong cukup tinggi, sehingga masih banyak faktor yang dapat mempengaruhi pelaksanaan puja bakti.
Tradisi Nyadran Punden Dan Umat Buddha Di Dusun Lamuk, Kabupaten Temanggung Andriyani, Lasmi
PATISAMBHIDA : Jurnal Pemikiran Buddha dan Filsafat Agama Vol. 2 No. 2 (2021): PATISAMBHIDA - Jurnal Pemikiran Buddha dan Filsafat Agama
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Buddha Negeri Raden Wijaya Wonogiri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53565/patisambhida.v2i2.870

Abstract

Tradisi Nyadran sebagai sebuah kearifan lokal yang turun temurun dari generasi ke generasi selanjutnya, kegiatan tradisi Nyadran Punden merupakan pembersihan makam leluhur dan melaksanakan doa bersama. Nyadran di Dusun Lamuk ini ada sebuah keunikannya tersendiri yaitu dengan adanya pertunjukan merti dusun dan hanya ditujukan untuk makam leluhur Lamuk yang bernama Eyang Coguno. Tradisi Nyadran Punden di Dusun Lamuk sudah dilaksanakan sejak tahun 1977. Permasalahan dalam penelitian ini yaitu bagaimana tradisi nyadran bisa bertahan dan apa fungsi dan makna tradisi nyadran Punden di Dusun Lamuk Desa Kalimanggis Kecamatan Kaloran Kabupaten Temanggung. Tujuan dalam penelitian ini yaitu untuk mengetahui langkah langkah yang ditempuh untuk mempertahankan tradisi nyadran di Dusun Lamuk dan untuk mengetahui fungsi dan makna tradisi nyadran Punden di Dusun Lamuk Desa Kalimanggis Kecamatan Kaloran Kabupaten Temanggung. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif kualitatif..Sedangkan teknik yang digunakan yaitu observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian ini adalah terdapat bentuk, fungsi, dan makna dalam tradisi nyadran Punden. Bentuk tradisi nyadran merupakan serangkaian dari prosesi, tradisi, dan ritual. Prosesi tersebut diantaranya bersih-bersih, puja bakti, selamatan, nyadran, dan acara hiburan. Tradisi nyadran mempunyai fungsi bagi masyarakat sebagai fungsi sosial, fungsi religi, fungsi pendidikan, melestarikan kebudayaan, dan berfungsi sebagai hiburan. Selain itu simbol dan makna tersebut bisa didapatkan pada kembang boreh, kembang telon, kemenyan, nasi tumpeng dan jajan pasar. Berdasarkan hasil simpulan terdapat beberapa saran bagi masyarakat supaya tradisi nyadran ini tetap dipertahankan agar tidak dilupakan dan juga tradisi ini bisa untuk melestarikan kebudayaan lokal.
Makna Tradisi Paninian Masyarakat Adat Dayak Meratus dan Relasinya Dengan Agama Buddha Hanida, Hanida; Asih, Situ; Try Purnomo , Danang
PATISAMBHIDA : Jurnal Pemikiran Buddha dan Filsafat Agama Vol. 4 No. 1 (2023): PATISAMBHIDA - Jurnal Pemikiran Buddha dan Filsafat Agama
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Buddha Negeri Raden Wijaya Wonogiri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53565/patisambhida.v4i1.871

Abstract

Paninian dalam masyarakat adat Dayak Meratus, mengetahui makna ritual Paninian yang dilaksanakan oleh masyarakat adat Dayak Meratus, dan mengetahui relasi ritual Paninian dengan agama Buddha. Penelitian ini dilaksanakan di Desa Guntung Tarap Kecamatan Kelumpang Hulu Kabupaten Kotabaru Kalimantan Selatan. Penelitian ini merupakan jenis penelitian kualitatif dengan metode yang digunakan adalah studi kasus. Metode yang digunakan dalam pengumpulan data penelitian yaitu melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Serta keabsahan data menggunakan teknik triangulasi data. Hasil penelitian menunjukan, bahwa: tata cara pelaksanaan tradisi Paninian oleh masyarakat adat Dayak Meratus biasanya dilaksanakan setelah musim panen padi. Ritual Paninian diantaranya, yaitu memberikan sesaji (ubo rampe), membacakan mantra, dan memanjatkan doa sesuai harapan masing-masing pelaksana ritual.
Makna Simbolik Tumpeng Dalam Selamatan dan Nilai-Nilai Ajaran Buddha Pada Masyarakat Umat Buddha di Kulon Progo Ngadat
PATISAMBHIDA : Jurnal Pemikiran Buddha dan Filsafat Agama Vol. 4 No. 1 (2023): PATISAMBHIDA - Jurnal Pemikiran Buddha dan Filsafat Agama
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Buddha Negeri Raden Wijaya Wonogiri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53565/patisambhida.v4i1.873

Abstract

Masyarakat Indonesia khususnya masyarakat Jawa sampai saat ini masih memegang dan nguri-uri budaya leluhur. Salah satu budaya leluhur yang masih dilestarikan adalah penggunaan tumpeng dalam setiap selamatan yang dilakukan oleh masyarakat khususnya umat Buddha di Kabupaten Kulon Progo. Budaya jawa dan ajaran agama Buddha memiliki merupakan budaya yang berbeda tetapi dalam praktik dalam masyarakat budaya dan agama Buddha dapat berjalan secara berdampingan. Perbedaan dari dua budaya tersebut saling berakulturasi satu dengan lainnya perbedaan budaya dan ajaran agama Buddha. Hal tersebut menjadi dasar dalam penelitian mengapa budaya penggunaan tumpeng dalam selamatan masih dilakukan oleh masyarakat jawa khususnya umat Buddha di Kabupaten Kulon Progo khu, Bagaimana proses selamatan dengan menggunakan tumpeng, serta nilai-nilai tumpeng dalam ajaran agama Buddha dalam masyarakat umat Buddha di Kabupaten Kulon Progo. Tujuan penelitian adalah menguraikan makna simbolik yang terkadung dalam tumpeng sehingga masih lestari, menguraikan proses pelaksanaan selamatan dengan menggunakan tumpeng, serta menjelaskan nilai-nilai tumpeng dalam ajaran Agama Buddha. Agar tujuan penelitian dapat dicapai peneliti menggunakan metode penelitian lapangan. Peneliti melakukan pengambilan data dengan tiga tahap yaitu melalui observasi, dokumentasi, dan wawancara sebagai data yang akan diolah dan dianalisis dan menjadi simpulan dalam peneitian ini. Hasil dari penelitian ini adalah Budaya tumpeng sebagai simbul metu dalan sing lempeng artinya ini petunjuk bagi masyarakat yang melakukan, selain itu proses selamatan tumpengan dilakukan dengan mengkolaborasikan dengan menggunakan tradisi jawa dengan menggunakans sesepuh lingkungan masyarakat dan dengan tradisi pembacaan paritta manggala sera nilai ajaran buddha yang terkandung dalam selamatan tumpeng adalah penghormatan pada luluhur, dengan berfikir, berucap dan bertindak baik.
Makna Simbolik Altar Klenteng An Hwa Tian: (Studi Deskriptif Tentang Bentuk dan Makna Altar Klenteng An Hwa Tian di Kabupaten Kotabaru Kalimantan Selatan) Veronika Honger, Steffi
PATISAMBHIDA : Jurnal Pemikiran Buddha dan Filsafat Agama Vol. 4 No. 1 (2023): PATISAMBHIDA - Jurnal Pemikiran Buddha dan Filsafat Agama
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Buddha Negeri Raden Wijaya Wonogiri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53565/patisambhida.v4i1.874

Abstract

Umat Buddha Tridharma Klenteng An Hwa Tian masih banyak yang belum memahami makna simbolik pada altar dan keterlibatan makna altar sesungguhnya bagi umat di Kabupaten Kotabaru. Hal ini ditunjukkan karena memang tidak adanya pemberian pembelajaran mengenai makna simbolik pada tiap altar di klenteng. Penelitian ini bertujuan untuk : (1) mendeskripsikan bentuk altar di Klenteng An HwaTian. (2) mendeskripsikan makna simbolik altar di Klenteng An Hwa Tian. (3) mendeskripsikan implikasi makna altar di Klenteng An Hwa Tian bagi umat Buddha di Kotabaru. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan pendekatan studi deskriptif yang dilakukan di Klenteng An Hwa Tian Kabupaten Kotabaru Kalimantan Selatan. Teknik pengumpulan data menggunakan wawancara, dokumentasi, observasi. Adapun teknik untuk menentukan informan digunakan metode purposive sampling, dimana peneliti menentukan jumlah informan sejumlah 7 orang yang terdiri dari 3 pengurus, yaitu dianggap sebagai informan kunci dan 4 umat Buddha yang memberikan data tambahan terkait makna simbolik altar kelenteng An Hwa Tian. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa, a) bentuk pada altar terdapat lima bentuk yaitu bentuk langit, rumah, goa, pagoda, alam semesta. b) ada 10 altar altar dengan rupang dan makna yang berbeda. Altar pertama adalah Ye Huang Ta Tie (Thien Kung/Tuhan), altar kedua adalah Kong Tek Cun Ong (Dewa Tuan Rumah), altar ketiga adalah Thien Sang Sen Mu (Dewi Penguasa Lautan), altar keempat adalah Kwan Se Im Posat (Dewi Welas Asih), altar kelima Hok Tek Cin Sin (Dewa Bumi), altar keenam Hoe Ciang (Dewa Hutan), altar ketujuh Kwan Kong (Dewa Panglima), altar kedelapan San Sen (Dewa Gunung dan Pengobatan), altar kesembilan Tri Dharma (Konghucu, Buddha, Maha Dewa), altar kesepuluh Semienfo (Dewa Brahma). c) Implikasi dari makna altar di Klenteng An Hwa Tian diantaranya: umat memiliki sikap religi dengan cara terus menjaga, menghormati, menjalankan tradisi etnis Tionghoa yang sudah menjadi turun-temurun di Klenteng An Hwa Tian, selain itu umat juga memberikan persembahan pada setiap altar saat sedang memperingati hari-hari penting dan lainnya
Relevansi Makna Tradisi Slametan Kematian Dan Upacara Sembahyang Kematian Pada Majelis Agama Buddha Nichiren Shoshu Buddha Dharma Indonesia Winarsih, Winarsih; Asih, Situ; Sukarti, Sukarti
PATISAMBHIDA : Jurnal Pemikiran Buddha dan Filsafat Agama Vol. 3 No. 2 (2022): PATISAMBHIDA - Jurnal Pemikiran Buddha dan Filsafat Agama
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Buddha Negeri Raden Wijaya Wonogiri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53565/patisambhida.v3i2.875

Abstract

Setiap kehidupan didunia ini pasti akan mengalamai sebuah kematian, tidak mengenal dari keluarga kaya maupun keluarga miskin. disetiap tempat memiliki tradisi yang berbeda dalam menyemayamkan leluhurnya. Pada agama buddha terdapat upacara yang berbeda dengan tradisi budaya setempat. Slametan kematian dan upacara sembahyang kematian serta relevansi antara tradisi Slametan kematian dengan upacara sembahyang kematian agama Buddha Majelis Nichiren Shoshu Buddha Dharma Indonesia (MNSBDI). Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif. Pengambilan data dilakukan dengan wawancara, observasi, dan dokumentasi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tradisi Slametan kematian dan upacara sembahyangan kematian MNSBDI di Dukuh Gupit ini tidak dapat dipisahkan karena saling berkaitan satu sama lain mengikuti tradisi nenek moyang dan adanya akulturasi campuran atau akulturasi antara kepercayaan nenek moyang dan agama. Keduanya penting untuk di laksanakan agar arwah mendiang mendapatkan sumbangan doa dari sanak saudara yang di tinggalkan supaya arwahnya mendapat tempat yang lebih baik, terbebas dari pederitaan, sehingga dapat terlahir di alam yang bahagia dan dapat mencapai kesadaran Buddha. Makna dari upacara Slametan kematian dan sembahyang kematian yaitu sebagai wujud bakti seorang anak kepada orangtua dan arwah leluhur yang telah meninggal.
Menumbuhkan Karakter Saddha-Carita Pada Remaja Buddhis Wiyono, Teguh
PATISAMBHIDA : Jurnal Pemikiran Buddha dan Filsafat Agama Vol. 3 No. 1 (2022): PATISAMBHIDA - Jurnal Pemikiran Buddha dan Filsafat Agama
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Buddha Negeri Raden Wijaya Wonogiri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53565/patisambhida.v3i1.876

Abstract

Dampak langkah-langkah yang telah ditempuh dalam menumbuhkan saddha-carita pada remaja Buddhis melalui pujabakti anjangsana di Vihara Dhamma Guna Dukuh Sampetan, Kecamatan Gladagsari, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif. Penelitian kualitatif adalah metode penelitian yang digunakan untuk meneliti pada kondisi obyek yang alamiah, (sebagai lawannya adalah eksperimen) dimana peneliti adalah sebagai instrumen kunci, analisa data bersifat induktif, dan hasil penelitian kualitatif lebih menekankan makna dari pada generalisasi. Langkah-langkah yang ditempuh untuk menumbuhkan karakter saddha-carita pada remaja Buddhis melalui pujabakti anjangsana, meliputi 1) Kebaktian atau pujabakti, dan pelafalan paritta suci; 2) Dhammadesana atau ceramah dhamma; 3) Diskusi dhamma; dan 4) Karya seni lagu dan gending jawa. Melalui kegiatan-kegiatan tersebut maka karakter saddha-carita para remaja dapat terjaga dan tumbuh secara bertahan. Implikasi atas telah dilaksanakannya langkah-langkah yang telah ditempuh yang terdiri dari pujabakti dan pelafalan paritta suci, dhammadesana, diskusi dhamma, dan karya seni lagu dan gending jawa, adalah sebagai berikut: 1) Menjaga atau memupuk keyakinan kepada Tri Ratna; 2) Menambah pengetahuan, pemahaman dan keterampilan tentang ajaran Dhamma; 3) Memupuk rasa persaudaraan di antara para remaja; 4) Melestarikan kebudayaan Jawa dan kesenian yang dikolaborasikan dengan ajaran Buddha; dan 5) Menambah berkah karma baik yang sejalan dengan Manggala Sutta, dimana kegiatan yang dilakukan merupakan berkah utama
Metode Penyuluh Agama Buddha Dalam Merefleksikan Nilai-Nilai Moderasi Beragama Bagi Umat Buddha Yudiyanto, Yudiyanto; Try Purnomo , Danang
PATISAMBHIDA : Jurnal Pemikiran Buddha dan Filsafat Agama Vol. 2 No. 2 (2021): PATISAMBHIDA - Jurnal Pemikiran Buddha dan Filsafat Agama
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Buddha Negeri Raden Wijaya Wonogiri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53565/patisambhida.v2i2.878

Abstract

Sumber daya manusia penyuluhan agama buddha di indonesia sangat sedikit sekali terutama didaerah-daerah terpencil. Dengan demikian seorang penyuluh harus pandai membagikan waktunya untuk mengunjungi vihara-vihara dan memberikan penyuluhan kepada umat buddha. selain itu penyuluh dituntun untuk mengadakan inovasi dan menyampaikan materi kepada umat buddha karena tidak semua umat mempunyai pemahaman yang sama, salah satu metode penyuluhan yang dilakukan penyuluh agama Buddha di Dusun Pringamba Desa Aribaya dalam merefleksikan nilai-nilai moderasi beragama. Moderasi beragama merupakan kebijakan yang membantu terciptanya harmoni dalam mengelola keagamaan yang beragam. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif deskriptif. Subjek penelitian penyuluh agama Buddha, ketua vihara, umat Buddha, dan Kepala Desa Aribaya. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik observasi, wawancara, dan dokumentasi. Keabsahan data penelitian menggunakan trianggulasi. Hasil penelitian ini menunjukkan metode penyuluhan yang digunakan penyuluh adalah dengan metode teknik komunikasi langsung, metode ceramah dengan memanfaatkan indera pendengaran umat, dan metode pendekatan perorangan, kelompok, dan massal. Upaya yang dilakukan adalah dengan merencanakan program, menciptakan harmoni sosial, mengelola situasi kondisi, memulai dan menghadiri pertemuan, mengajak hidup terbuka, menggunakan kata bermanfaat, menjalankan penyuluhan dengan pikiran, ucapan, dan perbuatan berdasarkan cinta kasih. Implikasi terinternalisasinya moderasi beragama berdasarkan indikator nilai kebangsaan, toleransi, anti kekerasan, dan akomodatif budaya lokal.
Peran Dharmaduta Keliling Terhadap Pemahaman Buddha Dhamma: Vihara Metta Manggala, Pati-Jawa Tengah Widodo, Hadi; Siswoyo, Eko
PATISAMBHIDA : Jurnal Pemikiran Buddha dan Filsafat Agama Vol. 2 No. 2 (2021): PATISAMBHIDA - Jurnal Pemikiran Buddha dan Filsafat Agama
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Buddha Negeri Raden Wijaya Wonogiri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53565/patisambhida.v2i2.883

Abstract

Agama Buddha Indonesia merupakan agama minoritas dan perkembangannya pun sangat lamban bahkan dapat dikatakan macet, karena generasi penerus sangatlah minim dan dikarenakan beberapa faktor umat Buddha tidak sedikit yang berpindah ke kepercayaan lain. Untuk itu diperlukan seorang dharmaduta untuk menguatkan atau memupuk keyakinan masyarakat terutama pada daerah-daerah pelosok. Untuk mensiati kekurangan dharmaduta dibentuklah dharmaduta keliling. Dharmaduta keliling mempunyai pengaruh penting dalam membina dan memberikan pelayanan bagi umat. Tujuan dalam penelitian ini; 1) Mengetahui peran Dharmaduta keliling dalam pembinaan dan pelayanan untuk meningkatkan keyakinan umat Buddha, 2) Mengetahui kemampuan Dharmaduta keliling untuk melaksanakan tugas membabarkan Dharma, 3) Mengetahui pemahaman Dharma umat Buddha. Penelitian yang dilakukan di Vihara Metta Manggala ini merupakan penilitian kualilatif dan jenis penelitian yang digunakan adalah deskriptive. Teknik pengumpulan data yaitu dengan wawancara pada informan, observasi dan dokumentasi. Teknik analisis data dengan tiga tahap, reduksi data, penyajian dan kesimpulan. Keabsahan data menggunakan uji kredibilitas (credibility) data, uji depenabilitas (reliabilitas) data, uji transferabilitas (validitas eksternal), dan uji komfirmabilitas (objektifitas). Hasil penelitian menunjukan bahwa peran Dharmaduta sangat besar untuk pemahaman Dharma umat Buddha, kemampuan Dharmaduta meliputi; kemampuan pengetahuan, kemampuan mengajar, dan motivasi sangat baik. Fasilitas yang cukup memadahi mendukung pembabaran Dharma lebih maksimal. Meningkatnya keyakinan dan pemahaman Aspek sila yang menimbulkan harmoni dalam hati dan pikiran disebut Samadhana, Aspek paññā secara harfiah paññā berarti memahami, mengetahui secara penuh atau tepat, untuk memperoleh kebijaksanaan merupakan kebahagiaan (sukho paññāya paṭilābho)