cover
Contact Name
Tri Suyatno
Contact Email
jurnalpatisambhida6@gmail.com
Phone
+6282242558496
Journal Mail Official
jurnalpatisambhida6@gmail.com
Editorial Address
Jl. Kantil, Bulusari, Bulusulur, Kec. Wonogiri, Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah 57615
Location
Kab. wonogiri,
Jawa tengah
INDONESIA
Patisambhida : Jurnal Pemikiran Buddha dan Filsafat Agama
ISSN : -     EISSN : 27459268     DOI : -
PATISAMBHIDA adalah Jurnal Pemikiran Buddha dan Filsafat Agama yang menerbitkan artikel berbasis penelitian berbagai topik dalam ruang lingkup pembahasan mengenai Pemikiran Buddha maupun Filsafat Agama
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 57 Documents
Matapitu-Upatthanam Dalam Perspektif Buddhis Widodo, Hadi
PATISAMBHIDA : Jurnal Pemikiran Buddha dan Filsafat Agama Vol. 3 No. 2 (2022): PATISAMBHIDA - Jurnal Pemikiran Buddha dan Filsafat Agama
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Buddha Negeri Raden Wijaya Wonogiri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53565/patisambhida.v3i2.884

Abstract

Di kalangan agama dan filosofis, konsep keluarga sering dilihat sebagai landasan moral dan etika yang membentuk inti masyarakat. Dalam agama Buddha sendiri, salah satu agama besar yang berakar kuat pada filosofi dan kehidupan praktis, terdapat sebuah konsep yang secara khusus menekankan pentingnya hubungan keluarga, yaitu Mātāpitu-Upaṭṭhānaṁ Konsep yang mengarah terhadap bagaimana seseorang memberi penghargaan dan penghormatan serta wujud berbati terhadap orang tua, sebagai salah satu aspek penting dalam praktik kehidupan yang diyakini umat Buddha. Mātāpitu-Upaṭṭhānaṁ nilai-nilai etika dan moral yang mendasari ajaran Buddha. Kami menganalisis teks-teks klasik Buddhis untuk mendapatkan pemahaman yang lebih dalam tentang bagaimana konsep ini diterapkan dalam praktik spiritual, dalam kehidupan bermasyarakat dan bagaimana dampaknya terhadap pembentukan karakter dan sikap individu. Dalam melaksanakan penlitian penulis menggunakan metode kepustakaan, yaitu metode yang melibatkan analisis mendalam terhadap berbagai sumber teks. Mātāpitu-Upaṭṭhānaṁ membantu individu membangun karakter etika dan moral yang kokoh. Praktik ini merangsang pengembangan sikap empati, pengendalian diri, dan pengorbanan, yang merupakan inti dari kebajikan Buddhisme. Dalam mengintegrasikan praktik ini dalam kehidupan sehari-hari, individu dapat membentuk landasan moral yang memandu tindakan mereka dan menciptakan lingkungan yang mendukung pertumbuhan spiritual.
Analisis Vyaggapajja Terhadap Keluarga Hitta Sukhaya Siswoyo, Eko
PATISAMBHIDA : Jurnal Pemikiran Buddha dan Filsafat Agama Vol. 2 No. 1 (2021): PATISAMBHIDA - Jurnal Pemikiran Buddha dan Filsafat Agama
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Buddha Negeri Raden Wijaya Wonogiri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53565/patisambhida.v2i1.896

Abstract

Berbagai jenis kebutuhan dasar seperti yang telah disebutkan, ternyata dalam memenuhinya ternyata tidaklah mudah dan apabila tidak terpenuhi kebutuhan dasar dalam sebuah keluarga, dapat mengakibatkan ketidak bahagiaan keluarga dan ketidak bahagiaan yang telah mencapai taraf serius dapat mengakibatkan ketidak bahagiaan keluarga namun pada Setiap perumah tangga mengharapkan keluarga yang bahagia baik lahir dan batinnya namun umat buddha banyak kurang memahami bagaimana mengamalkan nilai-nilai dari vyaggapajja sutta yang diajarkan oleh sang Buddha. metode penulisan menggunakan studi kepustaaan. Adapun tujuan dan pertimbangan dari penulisan meggunakan metode penelitian studi kepustakaan ini adalah untuk memperjelas permasalahan, maksudnya dengan adanya studi kepustakaan itu, maka permasalahan yang dikemukakan akan semakin jelas arah. Untuk membentuk hitta sukhaya (keluarga bahagia), suami istri perlu tahu bagaimana cara menjalan kehiduan keluarga dan tahu tentang cara memperoleh kebahagiaan keluarga dalam kehiduan sekarang yaitu: Memiliki ketekunan (utthana-sampada), memiliki keseksamaan (arakkha-sampada), memiliki sahabat yang baik (kalyana-mitta )dan hidup seras, selaras serta seimbang (samma-jivikata
Peranan Meditasi Empat Appamanna Dalam Meningkatkan Kerukunan Antar Umat Beragama Praptiyono, Kabul; Supriyanta, Yepta
PATISAMBHIDA : Jurnal Pemikiran Buddha dan Filsafat Agama Vol. 4 No. 1 (2023): PATISAMBHIDA - Jurnal Pemikiran Buddha dan Filsafat Agama
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Buddha Negeri Raden Wijaya Wonogiri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53565/patisambhida.v4i1.897

Abstract

Pada hakekatnya setiap manusia mempunyai sifat fanatik namun pada setiap individu satu dengan yang lain tidak sama dalam tingkat fanatiknya. Begitu juga sebagai umat Buddha yang menjalani hidup tentunya lebih berat dalam mempertahankan atau mengendalikan sifta fanatiknya. Fenomena yang terjadi berdasarkan penelitian melalui studi kepustakaan menunjukkan bahwa masih banyak yang belum mengerti manfaat pelaksanaan meditasi empat appamanna dalam menciptakan kerukunan antar umat beragama. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif deskriptif, dengan jenis Kepustakaan (Library Researh) yang bertumpu pada kajian dan telaah teks. tujuan untuk mengungkap kejadian atau fakta yang terjadi. teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian adalah sebagai berikut: (1) teknik observasi, (2) teknik komunikasi, (3) teknik pengukuran, dan (5) teknik telaah dokumen dan buku-buku yang berkaitan dengan masalah kerukunan umat beragama, Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini dengan cara reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Dengan terjalin kerukuna antar umat beragama maupun seagama menjadi faktor utama untuk terjalin bersatunya bangsa dan Negara. Dalam membina kehidupan bernegara warga bernegara yang damai dan tentram harus berpedoman pada kerukunan, sila yang baik, kedermawanan, dan kebijaksanaan mendasari kerukunan. Selain itu salah satu faktor kerukunan antar umat beragama salah satunya mengembangkan sifat cinta kasih, belas kasihan, perasaan simpati, keseimbangan batin, sehingga kehidupan seagama dan antar umat beragama dapat terwujud dalam kehidupan sehari-hari. Kata Kunci: Meditasi, Empat Appamanna, Kerukunan Antar Umat Beragama
Menekan Kemiskinan Keluarga Melalui Ditthadhammikattha Empat Praptiyono, Kabul; Siswoyo, Eko
PATISAMBHIDA : Jurnal Pemikiran Buddha dan Filsafat Agama Vol. 3 No. 1 (2022): PATISAMBHIDA - Jurnal Pemikiran Buddha dan Filsafat Agama
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Buddha Negeri Raden Wijaya Wonogiri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53565/patisambhida.v3i1.898

Abstract

Kemiskinan keluarga ini telah disebabkan oleh ketidak semangat dalam mencari nafkah, selalu merasa putus asa dalam mengumpulkan kekayaan, lengah dalam menjaga harta kekayaan, tidak bisa memilih teman yang baik, yang mana yang bisa diajak kerja sama dalam mengelola suatu pekerjaan agar mendapat hasil yang baik, memiliki sifat kekikiran terlalu irit dalam penggunaan hartanya dan tidak pernah mau membagi sedikitpun ke orang lain. Penelitian tentang banyaknya kemiskinan keluarga ini menggunakan metode kepustakaan. Sumber primer penelitian diperoleh dari Kitab Suci Tri Pitaka yang lebih merujuk pada Sutta (kumpulan kotbah Buddha), sumber sekunder penelitian diperoleh dari buku-buku refrensi, dan beberapa situs internet. Proses analisis data melalui beberapa tahap yaitu analisis selama pengumpulan data, analisis setelah data terkumpul, dan analisis pemaparan data. Manusia selalu ingin bahagia baik jasmani maupun rohani. Kebahagiaan jasmani yakni apabila segala kebutuhan telah tercukupi dengan memiliki harta yang melimpah, dalam memperoleh harta kekayaan dalam keluarga harus berpedoman pada Empat Ditthadhammikattha yang benar. Dengan memiliki semangat dan rajin dalan mencari nafkah, penuh hati-hati dalam menjaga harta kekayaan, mempunyai sahabat yang baik, dan dengan cara hidup yang seimbang antara pengeluaran serta penghasilan. Maka kaum Gharavasa akan memperoleh kekayaan yang benar yang sesuai jalan Dhamma.
Samma Vaca Sebagai Pedoman Kualitas Pergaulan Umat Buddha di Masyarakat Suyatno, Tri
PATISAMBHIDA : Jurnal Pemikiran Buddha dan Filsafat Agama Vol. 3 No. 2 (2022): PATISAMBHIDA - Jurnal Pemikiran Buddha dan Filsafat Agama
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Buddha Negeri Raden Wijaya Wonogiri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53565/patisambhida.v3i2.909

Abstract

Pergaulan di masyarakat merupakan sebuah keharusan bagi manusia dalam pemenuhan kewajibannya sebagai makhluk sosial. Banyak hal yang dilakukan agar dapat bergaul di masyarakat. Banyak orang yang menggunakan kemampuan- kemampuan yang dimilikinya agar dapat diterima dengan baik dalam masyarakat. Hal ini disebabkan karena pergaulan di masyarakat sangat penting dalam kehidupan manusia. Namun dalam kehidupan sehari- hari masih banyak orang yang belum bisa bergaul dengan baik di masyarakat. Hal ini banyak disebabkan oleh tingkah laku yang bersangkutan. Masyarakat memiliki cara yang tersendiri dalam menilai apakah orang tersebut baik atau tidak, atau lebih kita kenal dengan sebutan norma-norma yang berlaku di masyarakat. Banyak orang yang tidak diterima di masyarakat karena pelanggaran-pelanggaran norma yang ia lakukan. Dalam agama Buddha diajarkan bagi seseorang yang ingin bergaul di masyarakat, yaitu harus menjalankan atau menggunkan Samma Vaca. Metode tersebut adalah karena dalam metode ini penulis memiliki tujuan dan pertimbangan untuk memperjelas masalah serta untuk mencari dukungan dan fakta. Dengan adanya studi kepustakaan ini maka permasalahan yang dikemukakan akan semakin jelas arah dan bentuknya. Selanjutnya untuk mencari dukungan dan fakta, informasi atau teori-teori dalam menentukan landasan teori alasan dalam penelitian ini. Selain itu juga melakukan pendekatan – pendekatan secara rasional terhadap masalah dan fakta – fakta yang ada. Pemilihan metode pustaka didasarkan pada pertimbangan penelitian yang beradapan langsung dengan data yang siap dipakai dan sumber yang sudah ada di perpustakaan. Selalu berkata jujur dan menjaga kewaspadaan. Dengan melaksanakan Samma Vaca dalam kehidupan sehari-hari maka akan semakin mudah dan diterima bagi seseorang untuk bergaul di masyarakat
Peran Orang Tua Dalam Menumbuhkan Keyakinan Dan Spiritual Pada Remaja: (Vihara Dharma Dwipa dan Vihara Vimala Kirti Kabupaten Ponorogo) Lusiana
PATISAMBHIDA : Jurnal Pemikiran Buddha dan Filsafat Agama Vol. 3 No. 1 (2022): PATISAMBHIDA - Jurnal Pemikiran Buddha dan Filsafat Agama
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Buddha Negeri Raden Wijaya Wonogiri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53565/patisambhida.v3i1.911

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana peran orangtua dalam menumbuhkan keyakinan dan spiritual pada remaja di Vihara Dharma Dwipa dan Vihara Vimala Kirti Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif yang dilakukan di Vihara Dharma Dwipa dan Vihara Vimala Kirti Kabupaten Ponorogo. Teknik pengumpulan data menggunakan observasi, dokumentasi dan wawancara. Adapun teknik pemilihan informan dengan menggunakan teknik purposive sampling. Informan dalam penelitian ini adalah orangtua yang memiliki anak remaja Buddhis di Vihara Dharma Dwipa dan Vihara Vimala Kirti Kabupaten Ponorogo. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam menumbuhkan keyakinan dan spiritual pada remaja orangtua menggunakan cara yang berbeda-beda. Berdasarkan hasil pengumpulan data ditemukan ada beberapa cara dari peran orangtua yang peneliti temukan. Peran tersebut orang tua lakukan dengan cara menasehati, motivasi pergi ke vihara, melakukan kebiasaan puja bakti. Orangtua membiasakan anak untuk melakukan kebiasaan agar menjadi generasi penerus Agama Buddha
Moderasi Beragama Perspektif Pengalaman Keagamaan Joachim Wach Saumantri, Theguh
PATISAMBHIDA : Jurnal Pemikiran Buddha dan Filsafat Agama Vol. 4 No. 2 (2023): PATISAMBHIDA - Jurnal Pemikiran Buddha dan Filsafat Agama
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Buddha Negeri Raden Wijaya Wonogiri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53565/patisambhida.v4i2.991

Abstract

Manusia pada hakikatnya adalah makhluk yang memiliki kecenderungan untuk mencari makna dalam kehidupan. Dalam realitas yang beragam, kecenderungan ini muncul sebagai respons terhadap kompleksitas dunia. Dalam konteks ini, moderasi beragama muncul sebagai kerangka yang relevan untuk mengarahkan pengalaman keagamaan di tengah beragamnya pandangan dan keyakinan. penelitian ini bertujuan menggali lebih dalam tentang pandangan Joachim Wach dalam memahami moderasi beragama melalui analisis konsep pengalaman keagamaannya. Penelitian ini merupakan sebuah studi pustaka (library research) dengan pendekatan filosofis yang bertujuan untuk mendalami konsep atau teori dari seorang tokoh dalam hal ini pemikiran Joachim Wach. Hasil penelitian menunjukkan bahwa moderasi beragama dalam perspektif pengalaman keagamaan Joachim Wach menunjukkan bahwa sikap yang seimbang, terbuka, dan toleran terhadap praktik dan keyakinan agama adalah fondasi yang kuat untuk menjaga perdamaian, mempromosikan toleransi, dan membentuk masyarakat yang inklusif. Dalam Ekspresi Pengalaman Keagamaan, sikap moderat memainkan peran yang penting dalam membentuk hubungan yang seimbang antara dimensi spiritual dan tindakan konkret dalam kehidupan sehari-hari.
Aktualisasi Konsep Moderasi Beragama Dalam Sutta Pitaka Pada Kehidupan Beragama Umat Buddha Sukarti
PATISAMBHIDA : Jurnal Pemikiran Buddha dan Filsafat Agama Vol. 4 No. 2 (2023): PATISAMBHIDA - Jurnal Pemikiran Buddha dan Filsafat Agama
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Buddha Negeri Raden Wijaya Wonogiri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53565/patisambhida.v4i2.1012

Abstract

Moderasi beragama direalisasikan dalam bentuk toleransi antar maupun intern umat beragama. Keberagaman agama dapat menimbulkan konsep yang berbeda dalam memahami makna moderasi. Tujuan penulisan untuk mendeskripsikan aktualisasi konsep moderasi beragama dalam Sutta Pitaka pada kehidupan beragama umat Buddha. Artikel ini disusun menggunakan metode kualitatif studi pustaka dengan pendekatan deskriptif analitis. Hasil pembahasan merujuk pada hasil penelitian yang menemukan bahwa moderasi dipahami oleh umat Buddha sebagai suatu bentuk keharmonisan yang tumbuh pada masyarakat plural seperti halnya di dusun Sodong merupakan wujud sederhana aktualisasi moderasi beragama karena adanya prinsip-prinsip yang diyakini bersama-sama yaitu: 1) hubungan kekerabatan yang mendalam; 2) adanya slogan berupa ungkapan “sing penting rukun” meskipun berbeda-beda agama; 3) tidak perlu saling mempengaruhi dan fanatik yang berlebihan; 4) serta konsep yang dipegang kuat yaitu bahwa semua agama pasti mengajarkan hal-hal yang baik. Umat Buddha berpedoman kepada ajaran Buddha dalam Sutta Pitaka dalam kehidupan bermasyarakat dan beragama dengan tidak meninggalkan cara hidup yang penuh dengan cinta kasih (metta) dan toleransi.
Memahami Konsep Meditasi Dalam Kajian Sutta-Sutta Dalam Suttapiṭaka Fendy, Fendy; Surya, Julia; Angela, Shelfia; Suyati, Suyati; Lie, Nie
PATISAMBHIDA : Jurnal Pemikiran Buddha dan Filsafat Agama Vol. 4 No. 2 (2023): PATISAMBHIDA - Jurnal Pemikiran Buddha dan Filsafat Agama
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Buddha Negeri Raden Wijaya Wonogiri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53565/patisambhida.v4i2.1040

Abstract

This article aims to explain the understanding of meditation, which is useful for achieving a state of perfect mental health, peace and tranquility. This is because not all have a complete understanding of meditation, on the contrary, the diversity of types of meditation has resulted in many perspectives on meditation, some of which are contrary to Buddhist teachings, such as meditation to gain wealth, attractive appearance, or supernatural powers. This research uses literature and literature review methods. Literature review with reference review, review of literature publications by previous researchers related to the topic to be researched. The author not only collects theories but various reference sources including journals, Buddhist scriptures and books. From the literature search, the discussion includes: types of meditation to train the mind, conditions that support meditation, the benefits of meditation, samatha bhavana and vipassana bhavana meditation practice, and also current meditation practices, as well as the implications of meditation practice for householders in everyday life as more and more the urgent need to be able to organize oneself better in facing various roles in the family, work and environment.
Serba-Serbi Praktik Dana Dalam Agama Buddha : Sebuah Diskursus Alberto Ardiansyah, Alberd
PATISAMBHIDA : Jurnal Pemikiran Buddha dan Filsafat Agama Vol. 4 No. 2 (2023): PATISAMBHIDA - Jurnal Pemikiran Buddha dan Filsafat Agama
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Buddha Negeri Raden Wijaya Wonogiri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53565/patisambhida.v4i2.1046

Abstract

Artikel ini membahas praktik dana dalam agama Buddha, menggali konsep dāna atau amal sebagai landasan kebajikan yang melibatkan pemberian fisik, kepercayaan, perlindungan, dan ajaran. Dipaparkan bahwa dāna bukan hanya tentang memberikan materi, tetapi menciptakan fondasi karakter dan kehidupan spiritual. Manggala Sutta dan kutipan-kutipan lainnya menyoroti pentingnya dāna sebagai aspek sentral kebajikan, menciptakan esensi kebaikan hati dan belas kasihan dalam komunitas Buddha. Metode penelitian kepustakaan digunakan dengan analisis isi untuk menyimpulkan informasi dari berbagai sumber, termasuk sutta-sutta dan penelitian terdahulu. Definisi dan fungsi dāna diuraikan, memberikan pemahaman mendalam tentang peran praktik ini dalam pemurnian mental dan kontribusi pada kesejahteraan masyarakat. Konsep berbagai jenis dana, seperti amisa dana (pemberian fisik), paricaya dana (pemberian kepercayaan), abhaya dana (pemberian perlindungan), dan dhamma dana (pemberian ajaran), dijelaskan dengan rinci. Artikel menyoroti poin-poin penting, termasuk cara berdana dengan keyakinan, hormat, tepat waktu, kemurahan hati, dan tanpa mencelakai. Manfaat berdana tidak hanya mencakup kesejahteraan duniawi, tetapi juga pertumbuhan spiritual. Sang Buddha memuji berbagai jenis pemberian yang murni dari kedua pihak, pemberi dan penerima. Akhirnya, artikel menyampaikan bahwa pemahaman dan praktik dana diharapkan membimbing praktisi menuju pengalaman hidup yang lebih kaya dan bermakna dalam konteks agama Buddha.