cover
Contact Name
Masda Surti Simatupang
Contact Email
jurnal.dialektika@uki.ac.id
Phone
+6282244341592
Journal Mail Official
jurnal.dialektika@uki.ac.id
Editorial Address
Fakultas Sastra dan Bahasa Universitas Kristen Indonesia, Gedung AB Jln. Mayjend Sutoyo no. 2, Cawang Jakarta 13630
Location
Kota adm. jakarta timur,
Dki jakarta
INDONESIA
DIALEKTIKA: JURNAL BAHASA, SASTRA DAN BUDAYA
ISSN : 23382635     EISSN : 27981371     DOI : https://doi.org/10.33541/dia.v9i1
FOCUS AND SCOPE Journal of Dialektika is a professional, double-blind peer-reviewed international journal devoted to promoting scholarly knowledge and exchanging academic research and professional findings on all aspects of English such as English literature, second or foreign language (ESL/EFL) learning, including translation studies. To this end, Dialektika publishes theoretical and empirical studies in the form of original research, research reviews, case studies, conceptual frameworks, and innovative educational and social ideas with both regional and global perspectives. Dialektika has a clear preference for manuscripts with a solid theoretical foundation and tangible educational and research implications. We, therefore, invite original submissions from around the world that fit within this aim. Authors are encouraged to submit complete, unpublished, original, and full-length articles that are not under review elsewhere. The online version of the journal is free to access and download.
Articles 112 Documents
SHAPING AUTONOMOUS LEARNERS IN EFL ONLINE LEARNING L. Angelianawati
DIALEKTIKA: JURNAL BAHASA, SASTRA DAN BUDAYA Vol. 8 No. 2 (2021): DESEMBER
Publisher : Prodi Sastra Inggris UKI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33541/dia.v8i2.3731

Abstract

Abstrak Artikel ini mengulas fenomena otonomi pembelajar dalam konteks pembelajaran bahasa Inggris sebagai bahasa asing di Indonesia. Otonomi pelajar telah menjadi topik yang signifikan dalam pendidikan bahasa baru-baru ini sebagai hasil dari penekanan pada refleksi dan tanggung jawab pelajar untuk proses belajarnya sendiri. Banyak guru bahasa, di sisi lain, yang berkomitmen pada pemusatan dan otonomi pembelajar, berjuang dalam hal bagaimana memelihara otonomi pembelajar atau setidaknya untuk mewujudkan konsep otonomi pembelajar di kelas bahasa terutama dalam konteks pembelajaran saat ini yang telah bergeser dari pembelajaran tatap muka menjadi pembelajaran online, dan kini mulai berubah menjadi pembelajaran tatap muka dan atau blended learning. Tujuan studi ini adalah untuk mengulas permasalahan dan cara untuk membentuk otonomi pembelajar di kelas bahasa Inggris. Kesimpulannya, membentuk pembelajar otonom dalam lingkungan pembelajaran bahasa Inggris sebagai bahasa asing harus mempertimbangkan prinsip-prinsip pembelajaran otonom. Pendampingan guru tidak boleh absen selama proses pembelajaran bahasa melainkan memfasilitasi proses tersebut, walaupun inti dari belajar otonom adalah menuntut peserta didik untuk belajar secara mandiri. Kata kunci: pembelajar otonom, Bahasa Inggris sebagai bahasa asing, pembelajaran online Abstract The paper focuses on learner autonomy in the English as a Foreign Language (EFL) learning context in Indonesia. Learner autonomy has become an essential topic in recent language education due to an emphasis on learner reflection and taking responsibility for one’s learning processes. Many language teachers who are committed to learner-centeredness and autonomy struggle with how to nurture student autonomy or at the very least to promote the concept of learner autonomy in the language classroom, especially in the current context of learning which has shifted from face-to-face to online learning, and now starting to change into face-to-face and or blended learning. The study’s objective is to ascertain the ways and issues shaping learner autonomy in EFL online classrooms. In conclusion, shaping autonomous learners in an EFL environment should consider the principles of autonomous learning. Teachers’ assistance should not be absent during the language learning process but facilitate the process, even though the essence of autonomous learning is to require learners to learn independently. Keywords: autonomous learner, EFL, online learning
NATIVE AMERICAN REPRESENTATION IN SHERMAN ALEXIE’S SHORT STORY THE TRIAL OF THOMAS BUILDS-THE-FIRE Mike Wijaya Saragih
DIALEKTIKA: JURNAL BAHASA, SASTRA DAN BUDAYA Vol. 8 No. 2 (2021): DESEMBER
Publisher : Prodi Sastra Inggris UKI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33541/dia.v8i2.3732

Abstract

Abstract This paper aims to show the representation of Native Americans in Sherman Alexie's short story The Trial of Thomas-Builds-the-Fire, which is part of his story collections The Lone Ranger and Tonto Fistfight in Heaven (1993). The main character, Thomas-Builds-the-Fire, represents native Americans. This paper will analyze Thomas as a subaltern who was oppressed by white hegemony. The presence of fairy tales as media voicing out Thomas' thoughts and feeling as the subaltern interprets something deeper. The present writer will use Gayatri C. Spivak's theories which are subaltern and representation, to analyze the forms of Native American representation. The result shows there are two forms of representation used in the story. They are "to represent," meaning "the idea of representing something," and "re-present," meaning "the idea of bringing back." However, both forms of representation stated in the story failed to make the subaltern speak or be heard. Kata kunci: fairy tales, Native American, representation, subaltern Abstrak Tulisan ini bertujuan untuk menunjukkan representasi penduduk asli atau pribumi Amerika dalam cerpen Sherman Alexie yang berjudul The Trial of Thomas-Builds-the-Fire, yang merupakan bagian dari buku kumpulan cerita pendek karya Sherman Alexie yang berjudul The Lone Ranger dan Tonto Fistfight in Heaven (1993). Penduduk asli atau pribumi Amerika direpresentasikan oleh tokoh utama Thomas-Builds-the-Fire. Tulisan ini akan berfokus pada Thomas sebagai subaltern yang tertindas oleh hegemoni kulit putih. Kehadiran dongeng sebagai media yang menyuarakan pikiran dan perasaan Thomas sebagai subaltern memaknai sesuatu yang lebih dalam. Untuk menemukan bentuk-bentuk representasi penduduk asli atau pribumi Amerika akan diterapkan konsep Subaltern dan Representasi oleh Gayatri C. Spivak. Hasil dari penelitian ini adalah ditemukannya dua bentuk representasi di dalam teks, yaitu representasi (represent) sebagai “yang mewakili” dan representasi (re-present) sebagai “yang menghadirkan kembali”. Kedua bentuk representasi yang muncul di dalam teks gagal membuat subaltern bersuara maupun didengar. Keywords: dongeng, pribumi Amerika, representasi, subaltern
AFIKSASI DALAM PENINGKATAN VALENSI VERBA BAHASA JAWA DAN BAHASA BANJAR Zindi Nadya Wulandari
DIALEKTIKA: JURNAL BAHASA, SASTRA DAN BUDAYA Vol. 8 No. 2 (2021): DESEMBER
Publisher : Prodi Sastra Inggris UKI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33541/dia.v8i2.3733

Abstract

Abstrak Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif yang bertujuan untuk untuk mengetahui proses afiksasi yang berperan terhadap peningkatan valensi verba dalam bahasa Jawa dan bahasa Banjar. Data dalam penelitian ini diperoleh dari penutur asli bahasa Jawa, bahasa Banjar. Peneliti juga menggunakan data yang berasal dari buku yang ditulis oleh Wedhawati dan kamus bahasa Banjar. Data yang diperoleh dianalisa menggunakan teori valensi menurut Haspelmath dan Wedhawati. Hasil analisis menunjukkan bahwa dalam bahasa Jawa, proses afiksasi yang mempengaruhi perubahan valensi yaitu imbuhan prefiks n- dan sufiks –ake, prefiks di- dan sufiks –i, prefiks di dan sufiks –ake serta prefiks n- dan sufiks –ake, prefiks ng-, prefiks n- dan sufiks -i, sufiks -an dan prefiks ng-. Sedangkan dalam bahasa Banjar, proses afiksasi yang mempengaruhi peningkatan valensi yaitu prefiks maN- dan sufiks -akan, prefiks m- dan sufiks -akan, prefiks ba- dan suffiks -an, prefiks maN- dan suffiks -i, prefiks di- dan suffiks -akan, prefiks ma-, prefiks di- dan prefiks -ta. Kata kunci: Afiksasi, Bahasa Banjar, Bahasa Jawa, Valensi verba Abstract This research is qualitative research and the aim of this research is to find the affixation process which increase the verb valence in Javanese and Banjarese. The data in this study were obtained from native speakers of Javanese, Banjarese. Researcher also used data from a book written by Wedhawati and Banjarese dictionary. The data obtained were analyzed using the valence theory of verbs according to Haspelmath and Wedhawati. The results of the analysis show that in Javanese, the affixation process that affects changes in valence is the insertion of prefix n- and suffix -ake, prefix di- and suffix -i, prefix di and suffix -ake and prefix n- and suffix -ake, prefix ng-, prefix n- and suffix -i, suffix -an and prefix ng-. Meanwhile in Banjarese, the affixation process that affects the increase in valence is prefix maN- and suffix -akan, prefix m- and suffix -akan, prefix ba- and suffix -an, prefix maN- and suffix -i, prefix di- and suffix -akan, prefix ma-, prefix di- and prefix -ta. Keywords: Affixation, Banjarese, Javanese, Verb valence
Efektivitas Komunikasi Verbal dan Non Verbal Dalam Komunikasi antar Budaya christian purba; Chontina Siahaan
DIALEKTIKA: JURNAL BAHASA, SASTRA DAN BUDAYA Vol. 9 No. 1 (2022): JUNI
Publisher : Prodi Sastra Inggris UKI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33541/dia.v9i1.3835

Abstract

Communication develops in line with increasingly advanced technology. Communication carried out by the community is only limited to talking regardless of whether the interaction is effective or not. This research was conducted to find out the communication patterns that are usually carried out by the people of East Jakarta, represented by thirty-seven participants with sixteen of them being students of the Indonesian Christian University. Using the questionnaire method to obtain data this research uses a qualitative approach with a descriptive method. The results showed that the communication pattern of the people of East Jakarta had a habit of using verbal methods combined with nonverbal methods. This is done because he wants the message conveyed orally or in writing to be clearly received and the feelings or emotional messages from the communicator are conveyed properly. Thirty-two people admitted that they often interacted with people from different cultures with various interaction locations, namely schools, cafes, campuses, social media, churches, and even while playing video games. In intercultural communication conducted by participants with a percentage of 81.1% with 30 people claiming to prefer using Indonesian because it makes it easier to interact, but in contrast to participants who prefer to adapt their language to the other person. This is done to provide a sense of comfort to the communicant in interacting.
Mistik-Romantik pada Novel Drama dari Krakatau Karya Kwee Tek Hoay: Representasi Sastra Bencana Heri Isnaini
DIALEKTIKA: JURNAL BAHASA, SASTRA DAN BUDAYA Vol. 9 No. 1 (2022): JUNI
Publisher : Prodi Sastra Inggris UKI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33541/dia.v9i1.3970

Abstract

Artikel ini membahas konsep mistik-romantik pada tragedi bencana meletusnya gunung Krakatau pada novel Drama dari Krakatau karya Kwee Tek Hoay. Novel ini terinspirasi oleh novel Baron Edward Bulwer-Lytton yang berjudul The Last Day of Pompeii yang diterbitkan tahun 1834. Drama dari Krakatau karya Kwee Tek Hoay disajikan dengan konsep realis yakni dengan menampilkan deskripsi meletusnya gunung Krakatau pada tahun 1883. Artikel ini bertujuan menunjukkan konsep tersebut dengan menganalisisnya berdasarkan tataran tanda dalam konvensi novel. Mistik-romantik dalam novel ini dimaknai sebagai peristiwa yang digambarkan dalam perpektif sastrawan atas peristiwa bencana yang terjadi melalui kacamata karya sastra. Meletusnya gunung berapi Krakatau yang menewaskan puluhan ribu orang dan membuat bencana lain tersebut diposisikan sebagai bagian intertekstualitas oleh Kwee Tek Hoay dalam sudut pandang sastra. Sekaitan dengan itu, sastra dapat dipahami sebagai dokumen sejarah yang menggambarkan peristiwa secara jujur. Akhirnya, artikel ini menunjukkan novel Drama dari Krakatau sebagai alat dokumentasi tentang peristiwa bencana dengan balutan romansa cerita khas novel Melayu Tionghoa. Kata Kunci: Krakatau, Kwee Tek Hoay, mistik-romantik, novel, sastra bencana Abstract This article discusses the mystical-romantic concept of the tragedy of the eruption of Mount Krakatau in the novel “Drama dari Karakatau” by Kwee Tek Hoay. The novel was inspired by Baron Edward Bulwer-Lytton's novel The Last Day of Pompeii published in 1834. The drama from Krakatau by Kwee Tek Hoay is presented with a realist concept, namely by displaying a description of the eruption of Mount Krakatau in 1883. This article aims to demonstrate the concept by analyzing it based on the state of signs in the novel convention. The mystics in this novel are interpreted as events depicted in the literati's perspective of catastrophic events that occur through the lens of literary works. The eruption of the Krakatau volcano that killed tens of thousands of people and made another disaster was positioned as part of intertextuality by Kwee Tek Hoay from a literary point of view. Related to it, literature can be understood as a historical document that describes events honestly. Finally, this article shows the novel “Drama dari Krakatau” as a tool for documentation of catastrophic events wrapped in the romance of stories typical of Chinese Malay novels. Keywords: Krakatau, Kwee Tek Hoay, mystic-romantic, novel, disaster literature
Pola Komunikasi dan Distorsi Tujuan Tradisi Madihin Kalimantan Selatan Ahmad Imam Muttaqin
DIALEKTIKA: JURNAL BAHASA, SASTRA DAN BUDAYA Vol. 9 No. 2 (2022): DESEMBER
Publisher : Prodi Sastra Inggris UKI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33541/dia.v9i2.3977

Abstract

Tradisi Madihin yang tumbuh dan berkembang di Kalimantan Selatan merupakan sebuah media penyampaian pesan dan nasihat namun dikemas dalam bentuk hiburan. Berbentuk pantun yang disusun sedemikian rupa dan dituturkan dengan alunan khas Madihin serta diiringi dengan tabuhan rebana. Namun, tujuan pelaksanaan Madihin kini semakin terdistorsi dengan banyaknya pihak yang tidak mengetahui tujuan pelaksanaan Madihin, mereka hanya menganggap Madihin sebagai hiburan. Penlitian ini bertujuan untuk mengetahui pola komunikasi dalam Madihin dan untuk mengetahui keberadaan distorsi tersebut. Sebagai dasar dari penelitian ini digunakan teori etnografi komunikasi milik Muriel Saville Troike yang memuat ciri suatu tindak tutur dan berbagai hal yang menyertai tindak tutur tersebut. Dalam penelitian ini digunakan metode wawancara terhadap 2 orang pamadihinan dengan teknik simak catat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat distorsi tujuan tersebut yang dapat dilihat dari maraknya unggahan tentang Madihin di media sosial. Juga ditemukannya pola komunikasi Madihin yang kebanyakan ditentukan oleh setting dan participants. Pada penelitian ini juga ditemukan adanya distorsi dari tujuan semula madihin sebagai sebuah media nasehat, informasi, dan doa serta pujian menjadi hanya sebatas sebuah hiburan dengan memuat kalimat-kalimat yang tidak ada nasehat ataupun informasi bermanfaat di dalamnya, hanya murni sebatas kalimat-kalimat biasa yang dilantunkan dengan nada khas madihin dan diiringi dengan alunan tabuhan tarbang.
Conceptual Blending dalam Kalimat Jenaka Bahasa Jawa Zindi Nadya Wulandari
DIALEKTIKA: JURNAL BAHASA, SASTRA DAN BUDAYA Vol. 9 No. 1 (2022): JUNI
Publisher : Prodi Sastra Inggris UKI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33541/dia.v9i1.3980

Abstract

Abstrak Bahasa Jawa merupakan bahasa sehari-hari yang digunakan masyarakat suku Jawa untuk berkomunikasi, sehingga wajar jika banyak ditemukan fenomena-fenomena kebahasaan yang terjadi pada penggunaan bahasa Jawa pada masyarakat penutur bahasa Jawa. Salah satu fenomena yang kerap ditemukan dalam penggunaan atau penuturan bahasa Jawa adalah fenomena kalimat jenaka yang digunakan untuk komedi atau lawakan. Kalimat jenaka merupakan humor yang dapat digunakan sebagai sarana untuk mempermudah masuknya informasi atau suatu pesan yang ingin disampaikan. Penelitian ini merupakan sebuah penelitian kualitatif yang bertujuan untuk mengungkapkan makna dari kalimat jenaka digunakan oleh masyarakat suku Jawa dalam bertutur sehari-hari. Data dalam penelitian berupa data tertulis yang dikutip dari laman internet. Peneliti menggunakan teknik catat yang digunakan untuk mencatat kalimat jenaka bahasa Jawa yang akan dianalisa. Kemudian data tersebut dianalisa menggunakan teori konseptual blending oleh Fauconnier. Hasil dari analisis data menunjukkan bahwa kalimat jenaka dalam bahasa Jawa tidak jarang mengandung kosa kata yang bermakna ganda dan makna yang terkandung dalam kalimat jenaka tersebut cenderung bersifat implisit atau tersirat. Selain itu, kalimat jenaka dalam bahasa Jawa juga bisa digunakan sebagai sarana untuk mengungkapkan isi hati, sebagai sarana untuk bercanda, bahkan sebagai kalimat sindiran. Kata kunci: kalimat jenaka, bahasa Jawa, blending konseptual Abstract This study is a qualitative research that aims to reveal the meaning of witty sentences used by Javanese people in daily speech. The data in the study are written data quoted from the internet pages. The researcher uses a note-taking technique that is used to record the Javanese humorous sentences that will be analyzed. Then the data was analyzed using the conceptual blending theory by Fauconnier. The results of the data analysis show that witty sentences in Javanese often contain vocabularies that have multiple meanings and the meanings contained in these witty sentences tend to be implicit or implied as a satire. Keywords: witty sentences, Javanese, conceptual blending
The Impact of Liberal Feminism Movement in A Promptbook He and She Sunarti Desrieny Tambunan; Ratna Safitri
DIALEKTIKA: JURNAL BAHASA, SASTRA DAN BUDAYA Vol. 9 No. 1 (2022): JUNI
Publisher : Prodi Sastra Inggris UKI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33541/dia.v9i1.3997

Abstract

Liberal feminism is a universal approach in which women and men are equal in basic rights such as education, work, financial security, voting and many more. This research aims to find out the impact of emancipation movement in a promptbook entitled He and She play using Tong and Botts’ theory. The method used in this research is a descriptive qualitative method. The result shows that most of the characters in the promptbook accept the movement, except Keith, Ruth’s boyfriend, who thinks women in his era act like superiors because of the movement. He does not accept it by showing that his girlfriend cannot have a higher position than him. She cannot work and just stay at home after they get married. At the end, he will only cut his girlfriend’s half-life. This movement can give good or bad impact for the society or surroundings, especially the men. For those who are old-fashioned thinking, this can be a threat.
Pengelompokan Kosakata Bahasa Inggris yang Salah Dilafalkan oleh Para Mahasiswa dalam Sesi Perkenalan Diri Gunawan Tambunsaribu; Yules Orlando Sianipar
DIALEKTIKA: JURNAL BAHASA, SASTRA DAN BUDAYA Vol. 9 No. 1 (2022): JUNI
Publisher : Prodi Sastra Inggris UKI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33541/dia.v9i1.4003

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengelompokkan kosakata yang memiliki ciri bunyi yang sama yang dilafalkan salah oleh para mahasiswa dan menemukan faktor yang sangat dominan membuat para mahasiswa masih sulit melafalkan kelompok kosakata tersebut. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan teknik purposive sampling dalam memilih partisipan. Partisipan yang dipilih adalah 40 orang mahasiswa Universitas Gunadarma jurusan Teknik Informatika. Para partisipan adalah mahasiswa yang sedang belajar mata kuliah Bahasa Inggris Bisnis 2 di semester genap 2020-2021. Dari hasil penelitian, penulis mengelompokkan kosakata yang dilafakan salah oleh para mahasiswa ke dalam 9 kelompok kosakata berdasarkan ciri bunyi yang sama yakni; 1) Kelompok kata dengan huruf ‘gh’, 2) Kelompok kata dengan huruf ‘sh’, 3) Kelompok kata dengan huruf ‘al’, 4) Kelompok kata dengan huruf yang tak ‘e’ berbunyi, 5) Kelompok kata dengan huruf ‘ir’ , 6) Kelompok kata dengan huruf ‘k’ tak berbunyi, 7) Kelompok kata dengan huruf ‘ph’, 8) Kelompok kata dengan huruf ‘c’ berbunyi /s/, dan 9) kelompok kata dengan huruf ‘g’ berbunyi /dʒ/. Faktor yang paling mempengaruhi mahasiswa menemukan kesullitan dalam melafalkan kosakata bahasa Inggris adalah faktor bahasa pertama mereka yaitu bahasa Indonesia. Diharapkan hasil penelitian ini dapat menambah pengetahuan dan keterampilan para siswa dalam melafalakn kosakata dengan lebih baik dan fasih. Hasil penelitian ini juga dapat berguna bagi para instruktur/guru bahasa Inggris sebagai bahan materi ajar khususnya pada mata kuliah speaking dan pelafalan. Hasil penelitian ini juga dapat digunakan oleh peneliti lainnya sehubungan dengan kajian pelafalan bahasa. Kata kunci: Pelafalan Bahasa Inggris, Kelompok Kosakata, Mahasiswa
WACANA IMIGRAN DAN PEKERJA ASING DI INDONESIA: STUDI ANALISIS WACANA BERBASIS LINGUISTIK KORPUS Irham Irham
DIALEKTIKA: JURNAL BAHASA, SASTRA DAN BUDAYA Vol. 9 No. 1 (2022): JUNI
Publisher : Prodi Sastra Inggris UKI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33541/dia.v9i1.4008

Abstract

Kebijakan pemerintah tentang undang-undang imigrasi dan pekerja asing berdampak pada pemberitaan di media Indonesia, baik cetak maupun daring. Pembeirtaan dibanjiri dengan isu imigran dan pekerja asing. Beberapa dari media tersebut memberikan pemberitaan yang bernuansa positif, beberapa yang lain memberitakan kebijakan tersebut dalam frame negatif. Artikel hendak membahas fenomena penggunaan kata imigran dan pekerja asing dalam media di Indonesia dengan menggunakan pendekatan analisis wacana berbasis linguistik korpus. SEALANG dan Corpora Collection adalah dua korpus yang digunakan sebagai sumber data dalam penelitian ini diasmping dari media daring Kompas, Jawapos, dan Republika. Berdasarkan temuan dalam penelitian ini, kata imigran dan pekerja asing memiliki dimensi medan makna yang relatif berbeda dari beberapa hasil penelitian serupa sebelumnya. Perbedaan medan makna dapat disebabkan oleh konteks kejadian di mana kata tersebut muncul, misalnya, konteks sosial dan politik.

Page 3 of 12 | Total Record : 112