cover
Contact Name
Auliya Ghazna Nizami
Contact Email
auliyanizami@uinsa.ac.id
Phone
+6281915490279
Journal Mail Official
jurnalkomparatif@uinsa.ac.id
Editorial Address
Jl. Ahmad Yani No.117, Jemur Wonosari, Kec. Wonocolo, Surabaya, Jawa Timur 60237
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Komparatif: Jurnal Perbandingan Hukum dan Pemikiran Islam
ISSN : -     EISSN : 30261643     DOI : https://doi.org/10.15642/komparatif.v3i2
The Komparatif furnishes an international and regional scholarly forum for research on Comparative Mazahib, Law, and Islamic Thought. Taking an expansive view of the subject, the journal brings together all disciplinary perspectives. It publishes peer-reviewed articles on the historical, cultural, social, philosophical, political, anthropological, literary, artistic and other aspects of Comparative Mazahib, Law, and Islamic Thought in all times and places.
Arjuna Subject : Ilmu Sosial - Hukum
Articles 45 Documents
Hukm al-Zawaj baina Mukhtalif al-Adyan fi Nadzariyyah al-Fuqaha Dyabat, Etaher Ali Saad
Komparatif: Jurnal Perbandingan Hukum dan Pemikiran Islam Vol. 1 No. 2 (2021): Desember
Publisher : Department of Comparative Mazhab Comparative, Fakulty of Shariah and Law

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15642/komparatif.v1i2.1933

Abstract

Abstract:  This article discusses the jurisprudence of marriage between different religions in the theory of jurists. This normative legal research examines the law of interreligious marriage according to jurists and its effects. The research data was analyzed descriptively. The study concluded that the marriage of a Muslim woman to a Christian is not permissible in Islamic law. About the ruling on a Muslim marrying a woman from a biblical woman, the permissibility of a Muslim marrying a woman in writing is a desire for Islam. Still, this origin is considered with several restrictions, namely: 1- Making sure that she is biblical in the sense that she is a Jew or a Christian who believes in God and His messages and the hereafter and is not an atheist or apostate from her religion, and this is what abounds in the West. 2- To be chaste and immune. 3- There should be no fitna behind the marriage to the Scriptures or specific or likely harm. Concerning the ruling on a Muslim woman marrying a non-Muslim, the scholars are unanimous in prohibiting it. This is because Allah says in Surah Al-Baqarah: Verse 221. Keywords: interreligious marriage, jurists, Muslim, Muslim, jurisprudence.  الملخص:  يناقش هذا المقال عن حكم الزواج بين مختلف الأديان في نظرية الفقهاء. هذا البحث هو بحث قانوني معياري يبحث في قانون الزواج بين الأديان وفقا للفقهاء وآثاره. تم تحليل بيانات البحث بشكل وصفي. وخلصت الدراسة إلى أن زواجَ المسلمةِ من المسيحي غير جائز في الشريعة الإسلامية. وأما حكم زواج المسلم من الكتابية، إباحة زواج المسلم من الكتابية ترغيباً لها بالإسلام، ولكن هذا الأصل معتبر بعدة قيود وهي: 1- الإستيثاق من كونها كتابية بمعنى أنها يهودية أو نصرانية التي تؤمن بالله ورسالاته والدار الآخرة وليست ملحدة أو مرتدة عن دينها، وهذا ما يكثر في الغرب. 2- أن تكون عفيفة محصنة 3- ألا يكون من وراء الزواج من الكتابية فتنة ولا ضرر محقق أو مرجح. وأما حكم زواج المسلمة بغير المسلم، فقد أجمع العلماء على تحريمه. وذلك لقول الله تعالى في سورة البقرة: الآية 221. الكلمات المفتاحية: الزواج بين الأديان، الفقهاء، المسلم، المسلمة، الفقه
Menyalurkan Zakat untuk Sekolah dan Pesantren perspektif Syaikh Abdul Wahhab Al-Sya’rani dan Syekh Mahmud Syaltut Bastoni, Ahmad; Hidayatullah , Erik; Rohman, Muhammad Taufiqur
Komparatif: Jurnal Perbandingan Hukum dan Pemikiran Islam Vol. 2 No. 1 (2022): Juni
Publisher : Department of Comparative Mazhab Comparative, Fakulty of Shariah and Law

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15642/komparatif.v2i1.1934

Abstract

Abstract: This article examines the law on distributing Zakat to schools and Islamic boarding schools from the perspective of Syaikh Abdul Wahhab al-Sya'rani and Syaikh Mahmud Syaltut. This article results from library research, which is descriptive and analytical using a comparative approach method. The data sources for this research are books by Shaykh Abdul Wahab al-Sya'rani and works by Mahmud Syaltut. Using documentation data processing techniques, the data is organized, edited and analyzed using an inductive mindset. The results of the research reached two conclusions. First, Shaykh Abdul Wahab Sya'rani agrees with the four schools of thought (Hanafi, Maliki, Syafi'i and Hambali), namely stating that it is not permissible to distribute Zakat to other than those mentioned by Allah in His word QS. At-Taubah, 9: (60). Zakat may not be distributed to build mosques, bridges, etc. The target does not have ownership rights regarding Zakat, even though it is a pious charity. The sentence innamā in that verse becomes a barrier to other than the eight groups that Allah has determined. Second, according to Syaikh Mahmud Syaltut, mosque financing is included in zakat expenditure as stated in the QS. At-Taubah, 9: (60) with the name sabilillah. In the current context, this opinion aligns with the idea of Al-Azhar cleric and reformer Sayid Muhammad Rasyid Ridha, who interpreted the meaning of sabilillah as unlimited groups of zakat recipients. Keywords: Zakat law, schools and Islamic boarding schools, comparative analysis, Syaikh Abdul Wahab al-Sya'rani, and Syaikh Mahmud Syaltut. Abstrak: Artikel ini mengkaji hukum menyalurkan zakat untuk sekolah dan pesantren perspektif Syaikh Abdul Wahhab al-Sya’rani dan Syekh Mahmud Syaltut. Tulisan ini adalah hasil penelitian pustaka (library research) yang bersifat deskriptif analitis dengan menggunakan metode pendekatan komparatif. Sumber data penelitian ini adalah kitab karya Syaikh Abdul Wahab al-Sya’rani dan karya Mahmud Syaltut. Dengan teknik pengolahan data dokumentasi data kemudian diatur, disunting, dan dianalisis dengan pola pikir induktif. Hasil penelitian mendapatkan dua kesimpulan. Pertama, Syaikh Abdul Wahab Sya’rani sependapat dengan mazhab empat (Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Hambali), yaitu menyatakan tidak bolehnya mendistribusikan zakat kepada selain yang disebutkan Allah dalam firman-Nya QS. At-Taubah, 9: (60). Zakat tidak boleh didistribusikan untuk membangun masjid, jembatan dan lain sebagainya. Alasannya adalah, sasaran tersebut tidak memiliki hak kepemilikan dalam hal zakat, walaupun berfungsi sebagai amal soleh. kalimat innamā  dalam ayat itu menjadi pembatas terhadap selain delapan golongan yang telah ditentukan Allah. Kedua, menurut Syaikh Mahmud Syaltut, pembiayaan masjid termasuk dalam pembelanjaan zakat sebagaimana dinyatakan dalam QS. At-Taubah, 9: (60) dengan nama sabilillah. Pendapat ini, dalam konteks masa kini sejalan dengan pendapat ulama Al-Azhar dan tokoh pembaharu Sayid Muhammad Rasyid Ridha yang memaknai pengertian sabilillah dengan golongan penerima zakat tidak terbatas. Kata kunci: Hukum zakat, sekolah, dan pesantren, analisis komparatif, Syaikh Abdul Wahab al-Sya’rani, dan Syaikh Mahmud Syaltut
Hukum Shalat Jumat Secara Daring Pada Masa Pandemi Covid-19 Menurut Prof. Wawan Gunawan Dan Hasil Fatwa Majelis Tarjih Wa Tajdid Muhammadiyah Syahida, Lubabah Shobrina; Sari, Yasinta Dwi Permata; Bayhaqi, M. Irsyad
Komparatif: Jurnal Perbandingan Hukum dan Pemikiran Islam Vol. 3 No. 1 (2023): Juni
Publisher : Department of Comparative Mazhab Comparative, Fakulty of Shariah and Law

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15642/komparatif.v3i1.1935

Abstract

Penelitian ini berjudul Studi Komparatif Hukum Shalat Jumat secara Daring pada Masa Pandemi Covid-19 Menurut Prof. Wawan Gunawan dan Hasil Fatwa Majelis Tarjih wa Tajdid Muhammadiyah. Penelitian ini dilakukan untuk menjawab pertanyaan Bagaimana analisis pendapat Profesor Wawan Gunawan Abdul Wahid terhadap Hukum pelaksanaan Sholat Jum’at secara online saat pandemi. Bagaimana analisis Fatwa Majelis Tarjih Muhammadiyah terhadap Hukum pelaksanaan Sholat Jum’at secara online saat pandemi. Dan Bagaimana analisis komparatif terhadap kehujjahan dalil yang digunakan oleh Profesor Wawan Gunawan Abdul Wahid dengan Fatwa Majelis Tarjih Muhammadiyah. Penelitian ini berjenis penelitian pustaka (library research). Sifat penelitian ini yakni deskriptif analitis dengan menggunakan metode pendekatan komparatif. Sumber data yang digunakan yaitu data primer dan sekunder. Dengan teknik pengolahan data dokumentasi yang kemudian diatur, disunting dan dianalisis induktif. Hasil penelitian mendapatkan dua kesimpulan. Pertama, menurut Wawan pelaksanaan Shalat Jumat pada masa pandemi covid-19 memperbolehkan dengan cara streaming (daring) dengan berlandaskan maqāṣid al-shāri’ah, yaitu ḥifdh al-nafs (menjaga jiwa). Hal ini sebagai upaya menjembatani para pihak yang kurang puas dengan himbauan mengganti Shalat Jumat dengan Shalat Zuhur dan dilaksanakan di rumah. Kedua, menurut MTT Muhammadiyah, tidak diperbolehkan mengadakan sesuatu yang baru dalam cara-cara beribadah, termasuk pelaksanaan sholat jum’at yang dilakukan secara daring. Perbedaan pendapat yang terjadi antara Wawan dengan Majelis Tarjih dan Tajdid Muhammadiyah adalah suatu hal kewajaran. Meskipun Wawan adalah bagian didalamnya sebagai anggota, namun tidak menutup kemungkinan akan ada perbedaan pendapat yang signifikan. Persoalan fiqh yang terjadi juga membutuhkan respon yang cepat dan sesuai dengan fakta yang terjadi dilapangan. Maka dalam merespon masalah-masalah fiqh yang ada, seharusnya Wawan menggunakan dalil-dalil yang sesuai dengan Hukum Islam, bukan menyesuaikan dalil atas fakta namun fakta yang didudukkan sesuai dengan Syariat. Seperti halnya penjelasan yang disampaikan oleh pihak MTT Muhammadiyah.
Tathawwur al-Mar’ah al-Muslimah fi al-Mujtama’ al-Libyi Masoud, Amera J; Syafaq, Hammis
Komparatif: Jurnal Perbandingan Hukum dan Pemikiran Islam Vol. 2 No. 1 (2022): Juni
Publisher : Department of Comparative Mazhab Comparative, Fakulty of Shariah and Law

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15642/komparatif.v2i1.1958

Abstract

Abstract: This article discusses the development of Muslim women in Libya. Women in society play a role that surpasses the role of men in the growth and development of society, as women are half of society. Women in the pre-Islamic era were a commodity that men owned, and they did not have any rights. At the beginning of Islam's advent, women's status changed a lot, and women became entitled to many rights and status. In addition to obtaining all their rights recognized by the Islamic religion and accompanied by Libyan legislation, Libyan women have incited the inclusion of women's rights through the ratification of international conventions and women's participation in all fields. Women's rights are their right to education, their right to choose a husband, their right to litigation, to defend their financial rights and to remedy injustice against them, women's right to work and to hold public office, women's right to judicial and litigation functions,  women's right to political participation and community development, and women's right to health care. Keywords: Women, Muslimah, Islam, Libya.   الملخص: إن هذه المقالة تبحث تطور المرأة المسلمة في ليبيا. المرأة في المجتمع  تلعب دورًا يتفوق على دور الرجل في نماء المجتمع وتطوره، فالمرأة هي نصف المجتمع. كانت المرأة في الجاهلية عبارة عن سلعة تخضع لملكية الرجل ، ولم تكن لها أي من الحقوق. وبداية ظهور الاسلام تغير وضع المرأة كثيرا واصبحت المرأة لها كثيرا من الحقوق واصبحت لها مكانة. إن المرأة الليبية اضافة الي حصولها على جميع حقوقها التي اقرها الدين الاسلامي وواكبتها التشريعات الليبية التطور فحرضت على تضمين حقوق المرأة من خلال التصديق على المواثيق الدولية ومشاركة المرأة في كل المجالات. فحقوق المرأة هي حقّها  في التربية والتعليم، حقّها في اختيار الزوج وحقها في التَّقاضي والدِّفاع عن حُقوقها الماليّة ورفع الظلم عنها، حق المرأة  في العمل و تولي الوظائف العامة، حق المرأة في تولي الوظائف القضائية والتقاضي، حق المرأة في المشاركة السياسية و تنمية المجتمع، وحق المرأة والرعاية الصحية. الكلمات الرئيسيه: المرأة، المسلمة، اسلام، ليبيا.
Tathawwur al-Alam al-Islamiy fi Libya wa Khashaishuhu Dyabat, Etaher Ali Saad; Syafaq, Hammis
Komparatif: Jurnal Perbandingan Hukum dan Pemikiran Islam Vol. 2 No. 2 (2022): Desember
Publisher : Department of Comparative Mazhab Comparative, Fakulty of Shariah and Law

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15642/komparatif.v2i2.1959

Abstract

Abstract:  In this article, the researcher presents the development of the Islamic world in Libya and beginning by talking about the entry of Islam into Libya and focusing on the Maliki school, which is one of the most prominent elements of this development, and then presents the role of the Senussi movement. It turns out that the entry of Islam to Libya and its development was early since the Islamic conquest of it in the first century AH and the seventh AD in the time of Caliph Omar bin Al-Khattab, and Libya embraced in the period of the Islamic conquest has the remains of some companions, may God be pleased with them, who were martyred in order to spread Islam in this country, the most famous of which are Al-Munaidher Al-Afriqi in the city of Tripoli, Ruwaifa Al-Ansari in the city of Al-Bayda, Abu Sajeef bin Qais in the city of Misrata, Zuhair Al-Balawi, Abu Mansour Al-Farsi and Abdullah bin Righteousness and both three in the city of Derna, and the development of Islam with the spread of the Maliki school and the emergence of scholars who contributed to its dissemination not only in Libya but in all countries of the Arab Maghreb, such as Sheikh Ali bin Ziyad Trabelsi, where the Maliki school was among the foundations in the development of Islam in Libya, and was associated with various aspects and formed an identity for Libyans throughout the ages, and the Senussi method formed a significant role in the development of Islam in Libya and played an essential role in spreading Maliki jurisprudence and the pure Sufi way far away On heresies and superstitions and in the dissemination of Maliki jurisprudence, as well as in the jihad movement against the Italian colonizer. Keywords: evolution, world, sect, Islam, Libya. الملخص: في هذه المقالة يعرض الباحث لتطور العالم الإسلامي في ليبيا والبداية بالحديث عن دخول الإسلام لليبيا ومركزا على المذهب المالكي الذي يعد من أبرز عناصر هذا التطور ثم يعرض لدور الحركة السنوسية. يتبين أن دخول الإسلام لليبيا وتطوره بها كان مبكرا منذ الفتح الإسلامي لها في القرن الهجري الأول السابع الميلادي في زمن الخليفة عمر بن الخطاب ، واحتضنت ليبيا في فترة الفتح الإسلامي لها رفات بعض الصحابة رضي الله عنهم الذين استشهدوا في سبيل نشر الإسلام في هذا البلد من أشهرهم المنيذر الأفريقي في مدينة طرابلس، ورويفع الأنصاري في مدينة البيضاء، وأبو سجيف بن قيس في مدينة مصراته، وزهير البلوي وأبو منصور الفارسي وعبد الله بن بر وكلا الثلاثة في مدينة درنة، وتطور الإسلام بانتشار المذهب المالكي وبروز علماء ساهموا في نشره ليس في ليبيا فقط بل في كل أقطار المغرب العربي مثل الشيخ علي بن زياد الطرابلسي، حيث كان المذهب المالكي من بين الأسس في تطور الإسلام في ليبيا، وارتبط بالنواحي المختلفة وشكل هوية لليبيين على مر العصور، كما شكلت الطريقة السنوسية دورا كبيرا في تطور الإسلام في ليبيا ولعبت أدورا مهما في نشر الفقه المالكي والطريقة الصوفية النقية البعيدة عن البدع والخرفات وفي نشر الفقه المالكي وكذلك في حركة الجهاد ضد المستعمر الإيطالي. الكلمات المفتاحية: تطور، العالم، المذهب، الإسلام، ليبيا.
Dalil Kerusakan Lingkungan Hidup Sebagai Dasar Pemenuhan Unsur Kerugian Negara Dalam Tindak Pidana Korupsi : Berdasarkan Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 2633/K/Pid.Sus/2018 Febrianto, Wahyu; Afriani, Sri; Jaya, Eni
Komparatif: Jurnal Perbandingan Hukum dan Pemikiran Islam Vol. 3 No. 2 (2023): Desember
Publisher : Department of Comparative Mazhab Comparative, Fakulty of Shariah and Law

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15642/komparatif.v3i2.1965

Abstract

Penelitian hukum ini menganalisis dan mengkaji beberapa permasalahan. Pertama, Bagaimana Hukum Pidana mengkaji kasus korupsi yang mengaibatkan kerusakan lingkungan sebagai dampak permanen dari korupsi sesuai dengan ketentuan perundang-undangan nasional. Kedua, Apakah ratio decidendi yang digunakan oleh Hakim sudah tepat dalam memutuskan perkara kasus korupsi tersebut sebagai akibat dari kerusakan lingkungan yang memiliki dampak pada kerugian negara. Penelitian ini adalah penelitian hukum normatif yang bersifat preskriptif, dengan pendekatan kasus. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalil kerusakan lingkungan hidup dalam tindak pidana korupsi sebagai pemenuhan unsur kerugian Negara disesuaikan dengan ketentuan perundang-undangan yang berlaku dan analisis terhadap pertimbangan majelis hakim (ratio decidendi) dalam mengadili suatu perkara tentang kerusakan lingkungan Negara dalam tindak pidana korupsi.
Urgensi Penetapan Restitusi dalam Klausul Putusan di Lingkungan Pengadilan Negeri Probolinggo Najib, M. Ainun
Komparatif: Jurnal Perbandingan Hukum dan Pemikiran Islam Vol. 3 No. 2 (2023): Desember
Publisher : Department of Comparative Mazhab Comparative, Fakulty of Shariah and Law

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15642/komparatif.v3i2.2002

Abstract

Anak sudah mulai menjadi pusat perhatian dalam sistem peradilan pidana di Indonesia, baik anak korban, anak saksi maupun anak pelaku tindak pidana. Perhatian ini bisa dilihat dengan perubahan paradigma terhadap penangan kasus anak dalam beberapa undang-undang yang terkait. Namun, masalah ditemukan ketika pelaku dan korbannya adalah sama-sama anak. Masalah tersebut adalah dengan adanya benturan kepentingan. Dengan demikian diperlukan kompromi untuk menyelesaikan benturan kepentingan tersebut. Oleh karenanya penulis angkat masalah restitusi yang dapat menjadi jalan penyelesaian masalah. Penelitian ini merupakan penelitian hukum normatif yang mengkaji putusan yang ada di Pengadilan Probolinggo, data tersebut kemudian diperkuat dengan wawancara terjadap hakim di Pengadilan Negeri Probolinggo. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat benturan kepentinga, dimana kepentingan anak korban adalah pemberatan hukuman terhadap pelaku, dan kepentingan anak pelaku ada keringanan hukuman. Pada spergemuluan kepentingan tersebut dimenangkan oleh anak pelaku, sebab dalam beberapa putusan hukumannya diringankan. Dan jalan keluar agar kedua belah pihak tidak ada yang dirugikan adalah dengan menetapkan restitusi dalam klausul putusan.
Fikih Pemimpin dan Pernikahan Beda Agama: Kontekstualisasi Kaidah Taṣarruf al-Imām ‘alā al-Ra’iyyah Manūṭun bi al-Maṣlaḥah Fausi, Achmad; Mubarok, Jaih
Komparatif: Jurnal Perbandingan Hukum dan Pemikiran Islam Vol. 3 No. 2 (2023): Desember
Publisher : Department of Comparative Mazhab Comparative, Fakulty of Shariah and Law

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15642/komparatif.v3i2.2003

Abstract

Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 24/PUU-XX/2022 tanggal 31 Januari 2023  tidak mengakomodir pernikahan beda agama. Ratio legis putusan tersebut tidak bisa dilepaskan oleh rumusan fikih keindonesiaan yang melarang nikah beda agama. Namun, dalam praktiknya, terjadi kesenjangan antara tataran ideal norma hukum (das sollen) dengan praktik peradilan (das sein). Putusan Nomor 423/Pdt.P/2023/PN Jkt.Ut yang mengabulkan permohonan pencatatan nikah beda agama telah menimbulkan disparitas putusan, sehingga Mahkamah Agung harus menertibkannya melalui Surat Edaran Mahkamah Agung Nomor 2 Tahun 2023 tentang  Petunjuk Bagi Hakim dalam Mengadili Perkara Permohonan Pencatatan Perkawinan Antar-Umat yang Berbeda Agama dan Kepercayaan. Penelitian ini merupkan penelitian kualitatif dengan mengolah sumber-sumber primer yang berasal dari putusan, buku, jurnal, ataupun kitab,  menggunakan metode deskriptif analitik, serta menganalisis masalah menggunakan teori kaidah fikih Taṣarruf al-Imām ‘alā al-Ra’iyyah Manūṭun bi al-Maṣlaḥah. Hasil penelitian memaparkan bahwa larangan pernikahan beda agama merupakan kebijakan/keputusan pemimpin yang berorientasi pada kemaslahatan umum. Pernikahan adalah peristiwa sakral, sehingga menjadi tugas pemimpin untuk mengaturnya demi melindungi kemaslahatan agama , melindungi kemaslahatan  jiwa  setiap  warga  negara, melindungi  kemaslahatan  akal  manusia  dari  berbagai  kerusakan, melindungi  keturunan,  dan melindungi  harta. Fikih keindonesiaan dan Undang-Undang Perkawinan yang sampai saat ini mengunci pengharaman nikah beda agama tidak hanya semata-mata mempertimbangkan bunyi nash, aspek psikologis, konteks sosial, dan realitas hukum perkawinan yang bersendikan Pancasila dan UUD NRI 1945, tapi juga sebagai upaya pencapaian dalam menarik kemanfaatan dan mencegah kemudaratan.
Muhammad Imarah's Thought on Fiqh Moderation al-Banna, Ahmad Hasan; Rosyidah, Umi; Syafaq, Hammis
Komparatif: Jurnal Perbandingan Hukum dan Pemikiran Islam Vol. 3 No. 2 (2023): Desember
Publisher : Department of Comparative Mazhab Comparative, Fakulty of Shariah and Law

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15642/komparatif.v3i2.2037

Abstract

Abstract: Modern scholars know the clash of two conflicting currents of thought, between the extreme right (tafrith) and the extreme left (ifrath) currents. This is very dangerous for Islamic civilization. Therefore, wasathiy (moderate) Islamic scholars, such as Muhammad Imarah (1931-2020) seek to direct Muslims to understand and implement the teachings of wasathoy Islam. This article discusses Muhammad Imarah's thoughts on the fiqh of moderation. This research is literature and qualitative. Data collection is carried out through a literature review and analyzed descriptively. The results of the study concluded that about moderation fiqh, Muhammad Imarah argued that moderate ijtihad needs to be developed for now. Muhammad Imarah stated that the relationship between text and ijtihad is always side by side (al-talazum wa al musahabah daiman wa abadan), there is a text, there is ijtihad and ijtihad departs from the text, and ijtihad is to peel the meaning contained in a text to decide the fiqh law of the text. The fiqh verdict is subjective because it takes the form of conjecture (al-dhan).
Paradigma Ibadah Haji dan Umroh Ditinjau Berdasarkan Perspektif Hukum Islam dan Hukum Positif di Indonesia Wulandari, Suci; Azizi, Salman Daffa Nur; Hidayat, Rifqi Thariq
Komparatif: Jurnal Perbandingan Hukum dan Pemikiran Islam Vol. 3 No. 2 (2023): Desember
Publisher : Department of Comparative Mazhab Comparative, Fakulty of Shariah and Law

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15642/komparatif.v3i2.2137

Abstract

Indonesia is a country where the majority of its citizens embrace Islam. So Indonesia has become part of the largest Muslim countries in the world. As a Muslim, it is appropriate to carry out the Shari'a and religious rules correctly, such as carrying out the pillars of Islam. One of the pillars of Islam is the fifth pillar of Islam, namely the Hajj pilgrimage for anyone who is able. The word capable means being physically, mentally, and financially capable. The Hajj and Umrah pilgrimages are recommendations that should be carried out if someone has been declared baligh or mukhallaf. In its implementation, it turns out that Indonesia has provided regulations that are expected to provide a legal umbrella other than Islamic law. This paper uses a normative approach and data taken from various relevant literature sources based on the literature study. This article aims to determine the legal basis for implementing the Hajj and Umrah pilgrimages from the perspective of Islamic law and positive law in Indonesia.