cover
Contact Name
Auliya Ghazna Nizami
Contact Email
auliyanizami@uinsa.ac.id
Phone
+6281915490279
Journal Mail Official
jurnalkomparatif@uinsa.ac.id
Editorial Address
Jl. Ahmad Yani No.117, Jemur Wonosari, Kec. Wonocolo, Surabaya, Jawa Timur 60237
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Komparatif: Jurnal Perbandingan Hukum dan Pemikiran Islam
ISSN : -     EISSN : 30261643     DOI : https://doi.org/10.15642/komparatif.v3i2
The Komparatif furnishes an international and regional scholarly forum for research on Comparative Mazahib, Law, and Islamic Thought. Taking an expansive view of the subject, the journal brings together all disciplinary perspectives. It publishes peer-reviewed articles on the historical, cultural, social, philosophical, political, anthropological, literary, artistic and other aspects of Comparative Mazahib, Law, and Islamic Thought in all times and places.
Arjuna Subject : Ilmu Sosial - Hukum
Articles 45 Documents
Kriminalisasi Ajaran Komunisme sebagai Kejahatan terhadap Keamanan Negara Perspektif Hukum Pidana Islam Najib, M. Ainun
Komparatif: Jurnal Perbandingan Hukum dan Pemikiran Islam Vol. 4 No. 1 (2024): Juni
Publisher : Department of Comparative Mazhab Comparative, Fakulty of Shariah and Law

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15642/komparatif.v4i1.2193

Abstract

Abstract: Traumatised by the tragedy of the 30 September Movement of the Communist Party of Indonesia (G30SPKI), the Indonesian government took preventive steps so that the tragedy would not be repeated. This step is to criminalise the teachings of Communism/Marxism-Leninism as a crime against state security in Law Number 27 of 1999. This decision then received a lot of criticism because it was considered to limit a person's right to express opinions, and was deemed incompatible with the principle of criminalisation. This paper aims to examine the government's decision from the perspective of Islamic criminal law and Islamic penology. This research uses a normative method that examines law as a normative concept, and the research data is collected using literature study techniques sourced from various sources such as books, journals and law books. The results of this study show that the government's decision to criminalise the teachings of communism in Law Number 27 of 1999 is part of the punishment of ta'zir. However, the formulation of the article should not use formal delicacies and make punishment the ultimate remedy.Keywords: Criminalisation; Crime; Security; Islamic Criminal Law. Abstrak: Trauma dengan tragedi Gerakan 30 September Partai Komunis Indonesia (G30SPKI) membuat pemerintah Indonesia mengambil langkah preventif agar tragedi tersebut tidak terulang kembali. Langkah tersebut adalah dengan mengkriminalisasi ajaran Komunisme/Marxisme-Leninisme sebagai kejahatan terhadap keamanan negara di Undang-Undang Nomor 27 Tahun 1999. Keputusan ini kemudian mendapat banyak kritik karena dianggap membatasi hak seseorang untuk menyatakan pendapat, dan dianggap tidak sesuai dengan asas kriminalisasi. Tulisan ini bertujuan untuk mengkaji keputusan pemerintah dalam perspektif hukum pidana Islam dan penologi Islam. Penelitian ini menggunakan metode normatif yang mengkaji hukum sebagai suatu konsep norma, kemudian data penelitian ini dikumpulkan dengan menggunakan teknik studi kepustakaan yang bersumber dari berbagai sumber seperti buku, jurnal dan buku hukum. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa keputusan pemerintah yang mengkriminalisasi ajaran komunisme dalam Undang-Undang Nomor 27 Tahun 1999 merupakan bagian dari hukuman ta'zir. Meski demikian, rumusan pasalnya tidak boleh menggunakan delik formil dan menjadikan hukuman sebagai ultimum remedium.Kata Kunci: Kriminalisasi; Kriminalisasi; Kejahatan; Keamanan; Hukum Pidana Islam.  
Penggunaan Nama yang Berbeda pada Akad Nikah dan Buku Nikah Perspektif Hukum Islam dan Hukum Positif Awwalia, Risnanda Anandari; Ulya, Zakiyatul
Komparatif: Jurnal Perbandingan Hukum dan Pemikiran Islam Vol. 4 No. 1 (2024): Juni
Publisher : Department of Comparative Mazhab Comparative, Fakulty of Shariah and Law

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15642/komparatif.v4i1.2306

Abstract

Abstract: Marriage is a sacred institution regulated by both Islamic law and positive law. Despite these regulations, marriage practices often involve cultural customs, such as using different names during the wedding ceremony at the Rembang District KUA. People frequently request to be married under a name different from their official documentation. This raises an interesting question for examination: the practice of marriage with different names at the KUA and the analysis of the validity of such marriages under Islamic law and positive law. This research employs field research methods with a qualitative approach. Data was collected through interviews and documentation. The collected data is analysed deductively. The results indicate that marriages with different names at the Rembang District KUA follow the marriage registration procedures, from registration to the issuance of the marriage certificate, with the difference lying in the use of names. Local customs, concerns about marital failure, the desire for a harmonious family, and permission from the KUA influence the use of different names. This practice does not conflict with Islamic law because the pillars and conditions of marriage are fulfilled, making the marriage valid under Islamic law. However, this practice contradicts positive law, specifically PMA Number 20 of 2019 concerning Marriage Registration, due to inconsistencies between the names used in the ceremony and those recorded.Keywords: Validity of Marriage; Different Names; Islamic Law; Positive Law. Abstrak: Perkawinan adalah sesuatu yang sakral yang diatur dalam hukum Islam dan hukum positif. Meskipun sudah diatur, praktik perkawinan sering melibatkan budaya masyarakat, seperti penggunaan nama berbeda saat akad nikah di KUA Kecamatan Rembang. Masyarakat sering meminta dinikahkan dengan nama yang berbeda dari dokumen kependudukannya. Hal ini menimbulkan pertanyaan yang menarik untuk dikaji, yaitu terkait praktik perkawinan dengan nama berbeda di KUA tersebut serta keabsahan perkawinan ini dalam pandangan hukum Islam dan hukum positif. Penelitian ini merupakan penelitian lapangan dengan pendekatan kualitatif. Data dikumpulkan melalui wawancara dan dokumentasi. Data yang terkumpul dianalisis seacra deduktif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perkawinan dengan nama berbeda di KUA Kecamatan Rembang mengikuti prosedur pencatatan nikah, mulai dari pendaftaran hingga penyerahan buku nikah, dengan perbedaan terletak pada penggunaan nama. Penggunaan nama berbeda tersebut dilatarbelakangi oleh adat yang berlaku di masyarakat, kekhawatiran kegagalan rumah tangga, keinginan keluarga harmonis, serta izin dari KUA. Praktik ini tidak bertentangan dengan hukum Islam karena rukun dan syarat perkawinan terpenuhi, sehingga sah menurut hukum Islam. Namun, praktik ini tidak sejalan dengan hukum positif, khususnya PMA Nomor 20 Tahun 2019 tentang Pencatatan Pernikahan, karena terdapat ketidaksesuaian antara nama yang digunakan dalam pelaksanaan dan pencatatan.Kata Kunci: Keabsahan Perkawinan; Nama berbeda; Hukum Islam; Hukum Positif.
أحكام الحضانة في الفقه الإسلامي وقانون الأحوال الشخصية الليبي Isniba, Abdallah Elsharif Ahmed; Ezbeyda, Hamed Abdelsalam Mansour
Komparatif: Jurnal Perbandingan Hukum dan Pemikiran Islam Vol. 4 No. 1 (2024): Juni
Publisher : Department of Comparative Mazhab Comparative, Fakulty of Shariah and Law

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15642/komparatif.v4i1.2380

Abstract

Abstract: There are childcare problems from the perspective of Sharia and the Personal Status Law. This research deals with the provisions of custody in Islamic jurisprudence compared to the Libyan Personal Status Law. The research is a normative jurisprudential and inductive approach by Comparative analysis through the study of the provisions of Islamic Sharia related to the subject of research and compared with the provisions of the Libyan Personal Status Law. The study reached several results that the Libyan Personal Status Law "Marriage and Divorce Law No. 10 of 1984", with regard to the provisions of custody is largely consistent with the provisions of custody in Islamic jurisprudence, and that custody is required based on the most compassion and mercy of the child, so the right of women to custody is ahead of men, and the right of the mother is ahead of everyone, and obligated the father of the child At his expense of housing, food, drink and custody fees, and the custodian does not prevent the guardian of the child from seeing the child, in order to preserve the growth and stability of the child emotionally and psychologically.Keywords: Custody; Islamic Law; Personal Status Law. الملخص: يدور موضوع الدراسة حول الحضانة باعتبارها من أهم الأمور التي أولتها الشريعة الإسلامية عناية خاصة. لذلك هذا البحث يتناول أحكام الحضانة في الفقه الإسلامي مقارنة بقانون الأحوال الشخصية الليبي رقم 10 لسنة 1984م. ويوضح بشكل لا لبس فيه كافة الحقوق والواجبات الشرعية والقانونية لحفظ وصيانة الأطفال، والمنهج الذي اتبعه الباحث هو المنهج الاستقرائي المقارن التحليلي من خلال دراسة أحكام الشريعة الإسلامية المتعلقة بموضوع البحث ومقارنتها بنصوص قانون الأحوال الشخصية الليبي، وتوصلت الدراسة لعدة نتائج أهمها: أن قانون الأحوال الشخصية الليبي" قانون الزواج والطلاق رقم 10 لسنة 1984م"، فيما يتعلق بأحكام الحضانة يتفق إلى حد كبير مع أحكام الحضانة في الفقه الإسلامي، وأن الحضانة تتعين بناءً على الأكثر شفقة ورحمة بالمحضون لذلك كان حق النساء في الحضانة مقدم على الرجال، وحق الأم مقدم على الجميع، وألزمت والد المحضون بنفقته من مسكن ومأكل ومشرب وأجرة حضانته، ولا تمنع الحاضنة ولي المحضون من رؤية الصغير، حفاظاً على نمو واستقرار المحضون عاطفياً ونفسياً.الكلمات المفتاحية: الحضانة؛ الفقه؛ قانون الأحوال الشخصية
Golput Perspektif Ulama Nahdlatul Ulama dan Ulama Muhammadiyah Miqdad, Agil; Hamdan S., Muhammad; Surya Firmansyah, Rio Aji
Komparatif: Jurnal Perbandingan Hukum dan Pemikiran Islam Vol. 4 No. 1 (2024): Juni
Publisher : Department of Comparative Mazhab Comparative, Fakulty of Shariah and Law

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15642/komparatif.v4i1.2382

Abstract

Abstract: GOLPUT occurs in every election activity held every 5 years. The GOLPUT law has become a debate among Islamic scholars in Indonesia. This research aims to examine the law of GOLPUT in depth, according to Nahdlatul Ulama scholars and Muhammadiyah scholars. This research is normative—data collection by literature data search. The data was analysed comparatively, namely comparing the GOLPUT law according to Nahdlatul Ulama scholars and Muhammadiyah scholars. This study concludes that the law of GOLPUT, according to the Nahdlatul Ulama scholars, is haram, and some scholars say that the law is mubah. According to Muhammadiyah scholars, the law of GOLPUT is haram, and some scholars say makruh. The opinion that haram is based on the nash is about the obligation to choose a leader, and if you do not select the law, it is haram. The opinion of Nahdlatul scholars is that GOLPUT mubah is because GOLPUT is a worldly affair; if it is done, it does not incur sin, and if it is not done, it does not incur a reward. Meanwhile, the opinion of Muhammadiyah Ulama is that GOLPUT is makruh because there is no nash that mentions GOLPUT, but there is a nash that requires choosing leaders in a group, so if you do not choose, the law is makruh. Keywords: GOLPUT; Election; Nahdlatul Ulama scholars; Muhammadiyah scholars. Abstak: GOLPUT terjadi di setiap kegiatan PEMILU yang diselenggarakan 5 tahun sekali. Hukum GOLPUT menjadi perdebatan di kalangan ulama Islam di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji secara mendalam tentang hukum GOLPUT menurut ulama Nahdlatul Ulama dan ulama Muhammadiyah. Penelitian ini merupakan penelitian normatif. Pengumpulan data dengan metode pencarian data kepustakaan. Data tersebut dianalisis secara komparatif yaitu membandingkan hukum GOLPUT menurut ulama Nahdlatul Ulama dan ulama Muhammadiyah. Penelitian ini menyimpulkan bahwa hukum GOLPUT menurut ulama Nahdlatul Ulama ialah haram dan ada ulama yang mengatakan hukumnya mubah. Adapun menurut ulama Muhammadiyah hukum GOLPUT ialah haram dan ada ulama yang mengatakan makruh. Pendapat yang mengatakan haram didasarkan pada nash tentang kewajiban memilih pemimpin, maka jika tidak memilih hukumnya haram. Pendapat Ulama Nahdhatul ulama yang mengatakan GOLPUT mubah dikarenakan bahwa GOLPUT merupakan urusan duniawi apabila dilakukan tidak mendapat dosa, dan apabila tidak dilakukan maka tidak juga mendapat pahala. Sedangkan pendapat dari Ulama Muhammadiyah bahwa GOLPUT merupakan hal makruh dikarenakan tidak ada nash yang menyebutkan GOLPUT, namun ada nash yang mewajibkan memilih pemimpin di dalam sebuah kelompok, maka jika tidak memilih maka hukumnya makruh. Kata kunci: GOLPUT; PEMILU; ulama Nahdlatul Ulama; ulama Muhammadiyah.
Pertanggungjawaban Komando dalam Pelanggaran Hak Asasi Manusia di Indonesia Pravidjayanto, Mochammad Rafi; Alfatoni, Muhammad Aqil; Fajrin, Muslihah Yunita
Komparatif: Jurnal Perbandingan Hukum dan Pemikiran Islam Vol. 4 No. 1 (2024): Juni
Publisher : Department of Comparative Mazhab Comparative, Fakulty of Shariah and Law

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15642/komparatif.v4i1.2388

Abstract

Abstract: The ineffectiveness of legal norms in Article 42 paragraphs (1) and (2) of Law Number 26 of 2000, which contains the material of command accountability, has implications for the impunity of gross human rights violators committed by law enforcement officials. This paper aims to find out the principles, problems, and ideal concepts in command accountability, which will then be internationalised in the National Code of Law (KUHP) with the hope that in the future the a quo article can be effective in ensnaring perpetrators of gross human rights violations, through juridical-normative methods with a conceptual approach, and a statute approach. The results of this article are, first, the existence of inequality in subjective elements in Articles 598-599 of the National Criminal Code, which relates to gross human rights, and Article 42 of Law Number 26 of 2000. This has the potential to ensnare the legal subject of citizens who incidentally are not obligors, so that it is more effective to include the element of command accountability in the explanation of the word "everyone" in the National Criminal Code. Second, in the procedural law of human rights courts, there is a recommendation to use reverse proof strictly by focusing on proving the causal relationship between the involvement of military commanders or civilian superiors and their soldiers or subordinates. Standardisation of evidence is also needed so that cases of gross human rights violations can be resolved immediately.Keywords: Command Responsibility; National Criminal Code; Gross Humanitarian Violence. Abstrak: Ketidakefektifan norma hukum dalam Pasal 42 ayat (1) dan (2) Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2000 yang memuat materi pertanggungjawaban komando, berimplikasi pada impunitas pelanggar Hak Asasi Manusia berat (HAM berat) yang dilakukan oleh aparat penegak hukum. Tulisan ini bertujuan untuk mengetahui prinsip, problematika, dan konsep ideal dalam pertanggungjawaban komando yang selanjutnya akan di internaslisasikan dalam Kitab Undang-Undang Hukum Nasional (KUHP Nasional) dengan harapan kedepannya pasal a quo tersebut dapat efektif dalam menjerat pelaku pelanggaran HAM berat. Melalui metode yuridis-normatif dengan pendekatan konseptual (conceptual approach), dan pendekatan perundang-undangan (statute approach). Adapun hasil tulisan ini yakni pertama, adanya ketimpangan dalam unsur subjektif dalam Pasal 598-599 KUHP Nasional yang mengatur terkait dengan tindak pidana yang berkaitan dengan HAM berat, dan Pasal 42 Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2000. Hal tersebut memiliki potensi dalam menjerat subjek hukum warga negara yang notabene bukan pemangku kewajiban sehingga lebih efektifnya memasukkan unsur pertanggungjawaban komando pada penjelasan kata “setiap orang” dalam KUHP Nasional. Kedua, pada hukum acara pengadilan HAM terdapat rekomendasi menggunakan pembuktian terbalik secara ketat dengan berfokus pada pembuktian hubungan kausal antara keterlibatan komandan militer atau atasan sipil dengan prajurit atau bawahannya. Standarisasi alat bukti juga diperlukan agar kasus pelanggaran HAM berat di dapat segera terselesaikan.Kata Kunci: Pertanggungjawaban Komando; Kitab Undang-Undang Hukum Pidana; Pelanggaran Hak Asasi Manusia Berat.
Pengumbaran Konflik Rumah Tangga di Media Sosial Perspektif Hukum Islam Sakinah, Sakinah; Shavia, Andina Najma
Komparatif: Jurnal Perbandingan Hukum dan Pemikiran Islam Vol. 4 No. 2 (2024): Desember
Publisher : Department of Comparative Mazhab Comparative, Fakulty of Shariah and Law

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15642/komparatif.v4i2.2460

Abstract

Abstract: Conflict in the household is inevitable, where husbands and wives often have different views. In the modern era, domestic conflicts are often no longer resolved in a closed and discreet manner but are expressed on social media or in public spaces in the form of personal stories, emotional statements, accusations, or insults. This study uses a descriptive analytical method with a literature study approach to analyse this phenomenon. The results of the study show that the disgrace of the family in public spaces or social media can damage the honour of individuals and families and have the potential to cause defamation and moral destruction of the community. Based on the Islamic law perspective, Islam teaches emotional maturity, honesty, and sincerity in resolving conflicts. In conclusion, Islam emphasised the importance of resolving problems wisely, maintaining family privacy and building harmony through a mature spiritual and emotional approachKeywords: Domestic conflicts, social media, Islamic law.Abstrak: konflik dalam rumah tangga merupakan hal yang tidak dapat dihindari, di mana suami dan istri sering memiliki pandangan yang berbeda. Di era modern, konflik rumah tangga sering kali tidak lagi diselesaikan secara tertutup dan bijaksana melainkan diungkapkan di media sosial atau ruang public dalam bentuk cerita pribadi, pernyataan emosional, tuduhan, atau penghinaan. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif analitik dengan pendekatan studi kepustakaan untuk menganalisis fenomena tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengumbaran aib keluarga di ruang publik atau media sosial dapat merusak kehormatan individu dan keluarga serta berpotensi menyebabkan pencemaran nama baik dan kehancuran moral masyarakat. Dalam perspektif hukum Islam, Islam mengajarkan kedewasaan emosi, kejujuran, dan keikhlasan dalam menyelesaikan konflik. Islam menekankan pentingnya penyelesaian masalah secara bijak, menjaga privasi keluarga dan membangun keharmonisan melalui pendekatan spiritual dan emosional yang matang.Kata kunci: Konflik rumah tangga, etika, media sosial, hukum Islam.  
Pernikahan Akibat Perjodohan di Desa Ketapang Probolinggo Perspektif Utilitarianisme Jeremy Bentham dan Abu Zahrah Umami, Risa; Nizami, Auliya Ghazna
Komparatif: Jurnal Perbandingan Hukum dan Pemikiran Islam Vol. 4 No. 2 (2024): Desember
Publisher : Department of Comparative Mazhab Comparative, Fakulty of Shariah and Law

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15642/komparatif.v4i2.2462

Abstract

Abstract: This study explores the phenomenon of arranged marriages in Ketapang Village, Probolinggo, with a focus on the role of parents in determining their children's spouses through arranged marriages. In Islam, a wali (father or grandfather) has the ijbar right to marry off their child, but ideally, this decision should be accompanied by the child's consent to avoid coercion. The study analyzes arranged marriages using the utilitarianism theory of Jeremy Bentham and Abu Zahrah, who each assess actions based on the balance of pleasure and pain, as well as the long-term benefits for individuals and families. The study found several couples who married through arranged marriages, which could harm the parties involved. According to Jeremy Bentham's Utilitarianism, this practice contradicts the principle of happiness. Meanwhile, according to Abu Zahrah, marriage should fulfil the values of justice and benefit. Consequently, the implications of their utilitarian theories support the need for stricter regulations and education to protect individual rights, especially those of women.Keywords: Arranged Marriage, Ijbar Right, Utilitarianism. Abstrak: Penelitian ini mengeksplorasi fenomena perjodohan di Desa Ketapang, Probolinggo, dengan fokus pada peran orang tua dalam menentukan pasangan anak melalui perjodohan. Dalam Islam, seorang wali (ayah atau kakek) memiliki hak ijbar untuk menikahkan anaknya, namun idealnya keputusan ini disertai persetujuan anak untuk menghindari keterpaksaan. Studi ini menganalisis perjodohan menggunakan teori utilitarianisme dari Jeremy Bentham dan Abu Zahrah, yang masing-masing menilai tindakan berdasarkan keseimbangan kesenangan dan rasa sakit serta manfaat jangka panjang bagi individu dan keluarga. Ditemukan terdapat beberapa pasangan yang menikah akibat perjodohan yang dapat merugikan pihak-pihak terkait. Dalam pandangan utilitarianisme Jeremy Bentham praktik perjodohan tersebut bertentangan dengan prinsip kebahagiaan. Sedangkan menurut Abu Zahrah dalam pernikahan harus memenuhi nilai-nilai keadilan dan kemaslahatan. Sehingga dalam impilkasinya, teori utilitarianisme menurut dua tokoh tersebut mendukung perlunya penerapan regulasi yang lebih tegas serta edukasi untuk melindungin hak-hak individu khusunya perempuan. Kata kunci: Perjodohan, Hak Ijbar, Utilitarianisme.
Ayah Tiri sebagai Wali Nikah Perspektif Empat Mazhab Fitri, Riskha; Hadi, Mukhammad Nur
Komparatif: Jurnal Perbandingan Hukum dan Pemikiran Islam Vol. 4 No. 2 (2024): Desember
Publisher : Department of Comparative Mazhab Comparative, Fakulty of Shariah and Law

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15642/komparatif.v4i2.2477

Abstract

Abstract: Marriage is a physical and mental bond between a man and a woman that aims to form a happy and eternal family. In marriage, some pillars and conditions determine the validity of a marriage. One of them is the presence of a guardian. Islamic Law Pluralism refers to the diversity of views, madzhab, in the application of valid Islamic law. In this case, there are differences of opinion in the fiqh madzhab in determining the law. Therefore, in this study, the author examines the validity of the stepfather as a marriage guardian based on the views of the madzhab imams, with a case study focusing on the Office of Religious Affairs (KUA) of Kraton District, Pasuruan Regency. This research uses a qualitative approach with a comparative analysis method. Data collection was conducted through interviews with the KUA and strengthened by literature review from the fiqh books of the four main madhhabs: Hanafi, Maliki, Shafi'i, and Hanbali. The results of the study reveal that there are different views among the madzhab imams regarding the validity of stepfathers as marriage guardians. Stepfather as a marriage guardian, according to the views of Imam Hanafi and Imam Maliki, allows the stepfather to be a marriage guardian because, according to Imam Maliki, the right of ijbar wali is owned by every Muslim. And according to Imam Hanafi, it is permissible to marry without a guardian or ask someone else to marry him. Meanwhile, according to Imam Hanbali and Imam Syafi'i, a stepfather is not valid as a marriage guardian because a stepfather is not a nasab guardian and does not have the right of ijbar.Keywords: Marriage Guardian, Stepfather, Imams of the Madzhab, Islamic Marriage Law. Abstrak: Pernikahan merupakan ikatan lahir batin antara seorang pria dan wanita yang bertujuan untuk membentuk keluarga yang bahagia dan kekal. Dalam pernikahan terdapat rukun dan syarat yang menentukan sahnya suatu pernikahan tersebut. Salah satunya yaitu adanya wali. Pluralisme Hukum Islam mengacu pada keragaman pandangan, madzhab dalam penerapan hukum islam yang sah. Dalam hal ini terdapat perbedaan pendapat madzhab fiqih dalam menetapkan hukum. Oleh karena itu, pada penelitian ini penulis mengkaji keabsahan ayah tiri sebagai wali nikah berdasarkan pandangan para imam mazhab, dengan studi kasus yang berfokus pada Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Kraton, Kabupaten Pasuruan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode analisis-komparatif. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara dengan pihak KUA, serta diperkuat dengan kajian literatur dari kitab-kitab fiqh empat madzhab utama: Hanafi, Maliki, Syafi’i, dan Hanbali. Hasil penelitian mengungkap adanya perbedaan pandangan di antara imam madzhab terkait keabsahan ayah tiri sebagai wali nikah. Ayah tiri menjadi wali nikah menurut pandangan Imam Hanafi dan Imam Maliki memperbolehkan ayah tiri menjadi wali nikah dikarenakan menurut Imam Maliki hak ijbar wali dimiliki oleh setiap muslim. Dan menurut Imam Hanafi memperbolehkan nikah tanpa wali atau meminta orang lain untuk menikahkannya. Sedangkan menurut Imam Hanbali dan Imam Syafi’i, ayah tiri tidak sah menjadi wali nikah dikarenakan ayah tiri bukan termasuk wali nasab dan tidak memiliki hak ijbar.Kata kunci: Wali Nikah, Ayah Tiri, Imam Mazhab, Hukum perkawinan Islam.  
Pengasuhan Orang Tua Sambung Dalam Mewujudkan Keluarga yang Harmonis Perspektif Hukum Islam Supardi, Thaniya Elisa Putri; Musyafaah, Nur Lailatul
Komparatif: Jurnal Perbandingan Hukum dan Pemikiran Islam Vol. 4 No. 2 (2024): Desember
Publisher : Department of Comparative Mazhab Comparative, Fakulty of Shariah and Law

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15642/komparatif.v4i2.2478

Abstract

Abstract: There is a stigma in society that considers parents to be not good, even though there are parents who are able to educate their children well. This research aims to discuss the parenting of continuous parents in realising a harmonious family according to Islamic law. This research is empirical research with a qualitative approach. Data collection using interview techniques and observation was then analysed deductively, utilising the perspective of Islamic law. The results of the study show that there are 2 differences in the parenting of the parents for their children: 1) SAW. SAW was treated well by his parents, he continued. He received affection and was given the freedom to do the activities he wanted as long as he brought a good influence, was invited to discuss and cooperate in all things, and the child received guidance from his father (2) YPA. YPA is not treated well and even has unresolved problems. The parenting pattern tends to be permissive, namely, the child is given complete freedom in all things, not getting direction or guidance from his parents. According to Islamic law, the role of parents connected from SAW is in accordance with the provisions of Islamic law, while YPA parents are not in accordance with Islamic law. In essence, parents, both biological and interconnected parents, have a responsibility to educate and take care of their children properly. Keywords: Harmonious Family, Parenting, Stepparents. Abstrak: Terdapat stigma masyarakat yang menganggap orang tua sambung tidak baik, padahal terdapat orang tua sambung yang mampu mendidik anak sambungnya dengan baik. Penelitian ini bertujuan membahas tentang pengasuhan orang tua sambung dalam mewujudkan keluarga yang harmonis meurut hukum Islam. Penelitian ini merupakan penelitian yuridis empiris dengan pendekatan kualitatif. Pengumpulan data menggunakan teknik wawancara dan observasi kemudian dianalisis secara deduktif dengan menggunakan perspektif hukum Islam. Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa terdapat 2 perbedaan pengasuhan orang tua sambung terhadap anak sambungnya; 1) SAW. SAW diperlakukan baik oleh orang tua sambungnya. Ia mendapakan kasih sayang dan diberi kebebasan untuk melakukan aktivitas yang diinginkannya selama membawa pengaruh baik, diajak berdiskusi dan bekerjasama dalam segala hal, serta anak mendapat bimbingan dari ayah sambungnya, (2) YPA. YPA tidak diperlakukan dengan baik, bahkan mempunyai permasalahan yang belum terselesaikan. Pola pengasuhannya cenderung permisif yakni anak diberi kebebasan penuh dalam segala hal, tidak mendapatkan arahan maupun bimbingan dari orang tuanya. Menurut hukum Islam, peran orang tua sambung dari SAW sesuai dengan ketentuan hukum Islam sedangkan orang tua YPA kurang sesuai dengan hukum Islam. Pada hakikatnya, orang tua, baik orang tua kandung maupun sambung memiliki tanggung jawab untuk mendidik dan mengasuh anaknya dengan baik. Kata kunci: Keluarga Harmonis, Pengasuhan, Orang Tua Sambung.  
Kesejahteraan Rumah Tangga dalam Pernikahan Jarak Jauh dan Pernikahan Konvensional Perspektif Maqāṣid Sharī’ah Fazila, Nafiza Nur; Nugroho, Irzak Yuliardy
Komparatif: Jurnal Perbandingan Hukum dan Pemikiran Islam Vol. 4 No. 2 (2024): Desember
Publisher : Department of Comparative Mazhab Comparative, Fakulty of Shariah and Law

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15642/komparatif.v4i2.2473

Abstract

Abstract: This study aims to compare the level of household welfare in Long Distance Marriage (LDM) couples and conventional couples in Sumengko Village, Kwadungan District, Ngawi Regency, based on the perspective of Maqāṣid Sharī'ah. Well-being is measured through two main aspects of Maqāshid Syar̄ah: the preservation of the soul (Ḥifẓ al-Nafs) and the preservation of property (Ḥifẓ al-Māl). This study used a qualitative approach with interviews and observation methods on four couples, consisting of two LDM pairs and two conventional pairs. The data is analyzed comparatively. LDM couples face challenges such as limited communication, emotional management, and physical distance that affect emotional relationships. In contrast, conventional couples face problems in decision-making, daily relationship dynamics, and household financial management. The results of the study show that the household welfare of both types of couples has its advantages and disadvantages, depending on their ability to maintain a balance of soul and property according to the principles of Maqāṣid Sharī'ah. LDM couples show the ability to build independence and emotion management, which is formed from a more structured long-distance communication pattern. In contrast, conventional couples tend to be superior in their day-to-day in-person interactions, but face greater challenges in aligning decisions together, especially when it comes to financial aspects. Keywords: Household Welfare, Long Distance Marriage Couples, Conventional Couples, Maqāṣid Sharī'ah, Ḥifẓ al-Nafs, Ḥifẓ al-Māl. Abstrak: Penelitian ini bertujuan membandingkan tingkat kesejahteraan rumah tangga pada pasangan Long Distance Marriage (LDM) dan pasangan konvensional di Desa Sumengko, Kecamatan Kwadungan, Kabupaten Ngawi, berdasarkan perspektif Maqāṣid Sharī’ah. Kesejahteraan diukur melalui dua aspek utama Maqāshid Syar̄ah: pelestarian jiwa (Ḥifẓ al-Nafs) dan pelestarian harta (Ḥifẓ al-Māl). Studi ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode wawancara dan observasi terhadap empat pasangan, terdiri dari dua pasangan LDM dan dua pasangan konvensional. Data dianalisis secara komparatif. Pasangan LDM menghadapi tantangan seperti keterbatasan komunikasi, pengelolaan emosi, serta jarak fisik yang memengaruhi hubungan emosional, sedangkan pasangan konvensional menghadapi masalah dalam pengambilan keputusan, dinamika hubungan sehari-hari, dan pengelolaan keuangan rumah tangga. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kesejahteraan rumah tangga pada kedua jenis pasangan memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing, tergantung pada kemampuan mereka dalam menjaga keseimbangan jiwa dan harta sesuai prinsip Maqāṣid Sharī’ah. Pasangan LDM menunjukkan kemampuan dalam membangun kemandirian dan pengelolaan emosi, yang terbentuk dari pola komunikasi jarak jauh yang lebih terstruktur. Sebaliknya, pasangan konvensional cenderung lebih unggul dalam interaksi langsung sehari-hari, tetapi menghadapi tantangan yang lebih besar dalam menyelaraskan keputusan bersama, terutama terkait aspek finansial. Kata kunci: Kesejahteraan Rumah Tangga, Pasangan Long Distance Marriage, Pasangan Konvensional, Maqāṣid Sharī’ah, Ḥifẓ al-Nafs, Ḥifẓ al–Māl.