cover
Contact Name
Harriyadi
Contact Email
amerta@brin.go.id
Phone
+6281225308529
Journal Mail Official
amerta@brin.go.id
Editorial Address
Direktorat RMPI - BRIN, Gedung BJ Habibie, Jl. M.H. Thamrin No.8, RW.1, Kb. Sirih, Kec. Menteng, Kota Jakarta Pusat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 10340, Jakarta Pusat, Provinsi DKI Jakarta
Location
Kota tangerang selatan,
Banten
INDONESIA
Amerta
Published by BRIN Publishing
ISSN : 02151324     EISSN : 25498908     DOI : https://doi.org/10.55981/amt
Starting at Volume 40 Number 2 December 2022, AMERTA’s objective is to promote the wide dissemination of the results of systematic scholarly inquiries into the broad field of archaeological research in proto-history and history chronology themes in the Indonesian Archipelago. The primary, but not exclusive, audiences are researchers, academicians, graduate students, practitioners, and others interested in archaeological research. AMERTA accepts original articles on historical archaeology-related subjects and any research methodology that meets the standards established for publication in the journal. Papers published in the journal may cover a wide range of topics in historical archaeology, including, but not limited to: 1. Field of archaeological findings in Indonesia’s Proto History, Hindu-Buddhist, Islam, and Colonial periods; 2. New theoretical and methodological analyses; 3. Synthetic overviews of topics in the field of historical archaeology.
Articles 727 Documents
SISTEM INFORMASI ARKEOLOGI: PANGKALAN DATA BERBASIS DARING UNTUK PEREKAMAN DATA ARTEFAK TEMBIKAR DAN KERAMIK DI KAWASAN PERCANDIAN MUARAJAMBI Pojoh, Ingrid H.E.; Sulistyowati, Dian; Fardhyan, Rizky; Nugraha, Arie; Caesario, Dicky
AMERTA Vol. 33 No. 2 (2015)
Publisher : Penerbit BRIN (BRIN Publishing)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak. Kegiatan perekaman data arkeologi sampai sekarang masih menjadi permasalahan tersendiri baik dari segi keterbukaan informasi maupun ketersediaan sarana perekaman data yang terintegrasi. Sistem pangkalan data merupakan salah satu pemecahan mengenai permasalahan tersebut. Manajemen data dan pembuatan konten pangkalan data menunjukan integrasi dari dua ilmu yang berbeda sehingga dapat menghasilkan suatu instrumen perekaman data berbasis dalam jaringan (daring), yaitu suatu cara berkomunikasi yang penyampaian dan penerimaan pesan dilakukan dengan atau melalui jaringan internet. Untuk pengguna, aplikasi ini dapat berfungsi sebagai wadah untuk melakukan penjajakan dalam rangka melakukan penelitian. Untuk pengisi, pangkalan data inimerupakan salah satu instrumen perekaman data yang dapat menghemat waktu dan tenaga. Untuk mahasiswa, pangkalan data ini juga merupakan sarana pembelajaran untuk mempertajam kemampuan analisis. Kegiatan ini berfokus pada pembuatan sistem pangkalan data berbasis daring untuk temuantemuan tembikar dan keramik yang ditemukan di Kawasan Percandian Muarajambi. Kata Kunci: Pangkalan data, Analisis tembikar, Analisis keramik, Perekaman data Abstract. Archaeological Information System: Network-based Data Resource for RecordingPottery and Ceramic Artifacts Data in Muarajambi Temples. Archaeological data recording activity still faces many problems related to the accessibility and availability of an integrated data recording system. Database system is one of the many other solutions to solve the problem. Data management and database content-making have shown integration between two different knowledge that created an instrument for data recording based on network, which is a way to communicate where messages are delivered online. For users, this application can be a media for doing research. As for the filler, this database system becomes a data recording instrument which works effectively and efficiently. For students, this database system can also help to increase the analysis ability. This activity focuses on making a network-based database system for pottery and ceramic artifacts from Muarajambi temples. Keywords: Database resources, Pottery analysis, Ceramic analysis, Data recording
KERUSAKAN SITUS ARKEOLOGI DI KALIMANTAN SELATAN: DAMPAK NEGATIF AKIBAT KEGIATAN MASYARAKAT DAN PEMERINTAH DAERAH Sunarningsih
AMERTA Vol. 31 No. 2 (2013)
Publisher : Penerbit BRIN (BRIN Publishing)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak. Seperti halnya di daerah lain di Indonesia, jumlah situs-situs arkeologi di wilayah KalimantanSelatan terbilang cukup banyak. Ada dua jenis situs di wilayah Kalimantan Selatan ini, yaitu situstertutup dan situs terbuka. Kedua jenis situs tersebut sudah ada yang diteliti secara intensif ada juga yangbelum, dan sebagian sudah ditetapkan menjadi Benda Cagar Budaya (BCB). Fenomena yang terjadipada saat ini adalah masih terjadi aktivitas yang merusak wilayah situs baik yang sudah dilindungimaupun yang belum. Kegiatan tersebut dilakukan baik oleh masyarakat umum di lingkungan situsmaupun atas kebijakan pemerintah daerah setempat. Makalah ini bertujuan untuk melihat kembalikerusakan situs-situs arkeologi di wilayah Kalimantan Selatan akibat dampak negatif dari aktivitasmasyarakat, dan berusaha mendapatkan strategi untuk mengurangi kegiatan yang merugikan. Metodeyang digunakan adalah deskriptif dengan pendekatan induktif. Data dikumpulkan dari hasil studipustaka, yaitu dari laporan yang tersimpan di perpustakaan Balai Arkeologi Banjarmasin, dan darihasil pengamatan penulis saat melakukan penelitian arkeologi. Berdasarkan hasil analisis darimasing-masing kasus, dapat diketahui bahwa kebutuhan ekonomi masyarakat dan pembangunanoleh pemerintah daerah yang banyak mendorong terjadinya kerusakan situs. Aktivitas yang merusakdilakukan karena masih rendahnya pemahaman akan pentingnya sebuah situs purbakala dan masihlemahnya penerapan sangsi terhadap pelanggaran Undang-undang Cagar Budaya.Kata kunci: Situs terbuka, Situs tertutup, Kalimantan Selatan, Benda Cagar Budaya, Undang-undangCagar Budaya. Abstract. The Damage of Archaeological Sites in South Kalimantan: The Negative Impact dueto Community and Local Government Activities. As in other areas in Indonesia, the number ofarchaeological sites in South Kalimantan region are quite a lot. There are two types of sites inSouth Kalimantan region, closed site and open site. Both types have already been investigatedintensively and others only were surveyed with the aim to determine its potential. Some open siteshave already designated as protected areas (as cultural property) and some others have not. Theoccurrence phenomenon is that looting of sites occur either at protected sites or not protected sites.These activities are carried out not only by the general public at surrounding the site but also by thediscretion of local government. This paper aims to review the damage to archaeological sites in SouthKalimantan due to the negative impact of human activity, and tries to work on strategies which willreduce the impacts. The research method used is descriptive with inductive approach. Data have beencollected from the literature, from the report stored in the library of the Archaeological Institute ofBanjarmasin, and from observations of the author while doing archaeological research. Based onthe analysis of each case, it can be seen that the economic needs of society and development by localgovernments encouraging some damages of the sites. The activities were done because there is stilllack of understanding how important the archaeological sites, and the weak application of sanctionsfor The Heritage Act.Keywords: Open sites, Closed sites, South Kalimantan, The Cultural Heritage, The Heritage Act.
PERMUKIMAN KUNA DI KAWASAN WAY SEKAMPUNG, LAMPUNG, PADA MASA ŚRIWIJAYA Saptomo, Nanang
AMERTA Vol. 31 No. 2 (2013)
Publisher : Penerbit BRIN (BRIN Publishing)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak. Lampung pernah menjadi bagian dari wilayah kekuasaan Śriwijaya. Hal ini ditandaioleh temuan Prasasti Palas Pasemah, Bungkuk, dan Batu Bedil yang merupakan prasasti dari masaŚriwijaya. Prasasti, terutama prasasti peringatan, pasti ditempatkan di areal permukiman. Selainlokasi prasasti, kawasan permukiman dapat dilacak melalui tinggalan arkeologis. Melalui pendekatanarkeologi keruangan dapat diperoleh gambaran tentang pola permukiman di sepanjang aliran WaySekampung. Pada dasarnya kawasan di sepanjang sungai dapat dibedakan menjadi kawasan hulu danhilir. Kawasan hulu cenderung merupakan kawasan masyarakat penganut Hindu, sedangkan di hilirmerupakan masyarakat penganut Buddha. Pada kedua permukiman kelompok masyarakat tersebutjuga terdapat jejak religi budaya megalitik.Kata kunci: Prasasti, Permukiman, Arca, Kawasan Hulu, Kawasan Hilir, Hindu, Buddha, Religi, Way Sekampung. Abstract. Old Settlement in Way Sekampung Area, Lampung, during The Śrivijaya Period. Lampung had a Śrivijaya Empire. The inscriptions of Palas Pasemah, Bungkuk, and Batu Bedil arean inscriptions of the Śrivijaya Kingdoms. Inscriptions, especially inscriptions warning, definitelyplaced at the residential location. In addition to the location of the inscription, the settlement canbe traced through the distribution of archaeological remains which have the same background withthe inscription. Through spatial archaeological approaches settlement and community life along theWay Sekampung can be determined. Along the river there are two regions upstream and downstreamareas. Upstream region end to be the Hindu community while downstream is a Buddhist society. Bothgroups are still running religious megalithic culture.Keywords: Inscriptions, Settlements, Statues, the upstream, Downstream, Hindu, Buddhist, Religions,Sekampung River.
RAGAM HIAS ULAR-NAGA DI TEMPAT SAKRAL PERIODE JAWA TIMUR* Santiko, Hariani
AMERTA Vol. 33 No. 2 (2015)
Publisher : Penerbit BRIN (BRIN Publishing)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak. Tinggalan Arkeologi dari masa Hindu-Buddha di Jawa Timur (abad ke-10-16), di antaranya berupa ragam hias ular-naga (ular dengan ciri-ciri fisik naga) yang digambarkan sendiri, maupun bersama tokoh garuḍa. Ragam hias ular-naga ini ditemukan di kompleks percandian, pemandian suci (patirthan), dan di gua-gua pertapaan. Menarik perhatian adalah, ragam hias jenis ini tidak ditemukan pada kepurbakalaan masa sebelumnya, yaitu masa Hindu-Buddha di Jawa Tengah (abad ke-6 sampai awal abad ke-10). Untuk mengetahui gagasan yang melatari dipilihnya artefak tersebut, akan diterapkan metode arkeologi-sejarah, yaitu metode yang menggunakan data artefaktual dan data tekstual, berupa naskah-naskah atau prasasti. Kemunculan garuḍa bersama ular-naga ini, dikemukakan bahwa para seniman Jawa Kuno menggunakan cerita Samudramanthana (Amŗtamanthana) dan cerita Garuḍeya. Kedua cerita tersebut menceritakan pengambilan dan perebutan air suci amŗta (air suci, air penghidupan) antara dewa (śura) dan aśura. Ragam hias ular-naga terdapat pada Pemandian Jalatunda, Candi Kidal dan Candi Jabung, Candi Panataran, Candi Kedaton dan sebagainya. Dipilihnya cerita Samudramanthana dan Garuḍeya terkait dengan mitologi gunung dalam agama Hindu, yang merupakan “tangga naik” ke tempat dewa-dewa di puncaknya. Candi adalah bentuk miniatur dari Mahameru tersebut, tempat amŗta yang dijaga oleh ular-naga. Kata Kunci: Ksirārnawa (Lautan Susu), Kāla-Naga, Matīrtha, Cakra Abstract. Naga-Snake Ornaments at Sacred Places in East Java Period. Among those archaeological remains from Hindu-Buddhist in East Java period, dated from 8th to 16th centuries, was nagasnake ornament (snake with physical characteristic of a dragon) whether it stands alone or with a garuḍa figure. This ornament was found in temples, sacred bathing sites, and meditation caves. This ornament has not been found in earlier Hindu-Buddhist period in Central Java (early 6th to early 10th centuries). In order to understand the ideas behind this ornament selection, a historical-archaeology method was used based on artefactual and textual data, such as old manuscripts or inscriptions. EastJavanese śilpins used garuḍa and naga snake ornaments to manifest the story of Samudramanthana (Amŗtamanthana) and the story of Garudeya. Both stories tell the churning of the Ksirārnawa by the śura and aśura to get the amŗta (the holy water). This ornament can be found at Jalatunda bathing site, Kidal temple, and Jabung temple. The preference to use Samudramanthana and Garudeya stories was related with the mythology of the mountain in Hinduism, which is believed as a “ladder” to Gods’ place. A temple is a miniature of Mahameru, the location of amŗta, guarded by the dragon-snake. Keywords: Ksirārnawa (milk ocean), Kāla-Naga, Matīrtha, Chakra
THE VEDIC RELIGION IN NUSANTARA Santiko, Hariani
AMERTA Vol. 31 No. 2 (2013)
Publisher : Penerbit BRIN (BRIN Publishing)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak. Agama Weda di Nusantara. Pedagang-pedagang yang berlayar dari India dan AsiaTenggara berperanan penting dalam menyebarkan agama-agama India di Nusantara. Para brahmindiundang oleh penguasa-penguasa lokal untuk melegitimasi status baru mereka dan melaksanakanupacara-upacara bagi mereka. Misalnya, menurut sejumlah prasasti yūpa dari abad ke-4 Masehi, Raja Mūlavarman dari Kutai, Muarakaman, Kalimantan Timur, melakukan pekerjaan-pekerjaan mulia(punya-), dengan memberi sumbangan pada persembahan kurban (yajña) yang dilakukan di suatupunyatama. ksetra yang dikenal dengan nama Vaprakeśvara. Yajñas- yajña dilaksanakan oleh paravipra (semacam brahmin) yang datang ke Kalimantan dari berbagai tempat. Dengan membandingkandata arkeologis dan sumber-sumber tertulis, misalnya prasasti-prasasti berbahasa Sansekerta, kita dapatmenyimpulkan bahwa agama Veda merupakan agama India pertama yang dianut oleh para penguasadi Nusantara. Setidaknya tiga raja telah mengundang para brahmin telah untuk melakukan yajña-yajña, misalnya Raja Mūlavarman (dari abad ke-4 Masehi), Raja Pūrnavarman dari Tārumanagara(pada abad ke-5 Masehi), dan Raja Gajayana dari Kanjuruhan, Jawa Timur (pada abad ke-7 Masehi).Raja yang disebutkan terakhir bahkan menganut Sivaisme (Hindu-Saiva), namun ia mengundangpendeta-pendeta Veda untuk melakukan yajña Veda. Ritual-ritual Veda mungkin dilakukan pula di Kota Kapur, Bangka. Tinggalan berupa altar-altar Veda, fragmen arca Visnu, dan temuan-temuan lainditemukan di situs tersebut. Kata kunci: Kampong Keling, Vedi, Vaprakeśvara, Barhis, Vipra, Gŗhyayajña, Śrautayajña, Yūpa. Abstract. The seafaring traders from India as well as from Southeast Asia had an important rolein spreading the Indian religions to Nusantara. The brahmins were invited by the local rulers tolegitimize their new status and doing rituals for them. For instance, according to the yūpa-inscriptionsfrom the 4th century AD, King Mūlavarman from Kutei, Muarakaman, East-Kalimantan was doingmeritorious works (punya-), by giving donations in the sacrificial offerings (the yajñas) performedat a punyatama. ksetra known as Vaprakeśvara. These yajñas were done by the vipras (a kind ofbrahmins) who came to Kalimantan from many places. By comparing the archaeological data withthe written sources, i.e. the Sanskrit inscriptions, we are able to formulate that the Vedic religionwas the earliest Indian religion embraced by the rulers in Nusantara. At least 3 kings had invited thebrahmins to do the Vedic–yajñas, i.e. king Mūlavarman (from the 4th century), king Pūrnavarmanfrom Tārumanagara (in the 5th century), and King Gajayana from Kanjuruhan, East Java (in the 7thcentury). The last mentioned king, actually converted to Sivaism (the Hindu-Saiva), but he invited theVedic priests to do the Vedic yajña. The Vedic rituals probably were also done in Kota Kapur, Bangka.The remains of the Vedic altars, fragments of Visnu statue and other finds were found at that site.Keywords: Kampong Keling, Vedi, Vaprakeśvara, Barhis, Vipra, Gŗhyayajña, Śrautayajña, Yūpa.
Cover Amerta Volume 37, Nomor 1, Tahun 2019 Redaksi Amerta
AMERTA Vol. 37 No. 1 (2019)
Publisher : Penerbit BRIN (BRIN Publishing)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

PERAN MUSEUM MAJAPAHIT SEBAGAI MEDIATOR PELESTARIAN WARISAN BUDAYA DAN INDUSTRI PEMBUATAN BATA Winaya, Atina
AMERTA Vol. 33 No. 2 (2015)
Publisher : Penerbit BRIN (BRIN Publishing)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak. Trowulan, situs arkeologi yang diduga merupakan ibukota Kerajaan Majapahit, mengalami kerusakan yang semakin hari semakin parah seiring dengan perkembangan industri pembuatan bata oleh masyarakat setempat. Museum Majapahit adalah salah satu pihak yang dapat tampil dalam upaya menekan, atau bahkan menghentikan, laju pertumbuhan dan perkembangan industri pembuatan bata tersebut. Penelitian dilakukan untuk memberikan suatu rekomendasi terhadap pengembangan Museum Majapahit pada masa mendatang agar dapat berperan sebagai mediator yang menjembatani kepentingan pelestari budaya (baik pemerintah, arkeolog, akademisi, maupun Lembaga Swadaya Masyarakat) dengan masyarakat Trowulan, khususnya para pembuat bata. Metode yang digunakan dalam penelitian adalah metode kualitatif melalui observasi dan studi literatur, disertai analisis berdasarkan pendekatan new museology dan pendekatan cultural resources management. Berdasarkan hasil penelitian, Museum Majapahit diharapkan berperan sebagai media yang mampu menanamkan dan menumbuhkan kesadaran masyarakat setempat mengenai pentingnya kelestarian Situs Trowulan. Situs yang lestari akan memberikan manfaat dan dampak positif terhadap tiga aspek di dalam kehidupan masyarakat, yaitu aspek ideologis, akademis, dan ekonomis. Kata Kunci: Pelestarian warisan budaya, Industri pembuatan bata, Majapahit, Trowulan Abstract. The Role of Majapahit Museum as a Mediator between Heritage Preservation and BrickMaking Industry. Trowulan, the archaeological site which is believed as the former capital of the Majapahit Kingdom, currently suffers damages caused by the local brick-making industry. Majapahit Museum is one of the institutions which can suppress, or even stop, the growth and development of the brick-making industry. The aim of this research is to provide a recommendation for the development of Majapahit Museum in the future in order to work as a mediator that can bridge both interests between heritage preservation (government, archaeologists, academicians, and non-governmental organizations) and local citizens, especially the brick-makers. The methods used on this research is qualitative method through observation and literature study, followed by analysis based on new museology approach and cultural resources management approach. Based on the result, it is expected that the Majapahit Museum can play a key-role in raising the awareness of local citizens of the importance of the Trowulan site. The preserved site will provide benefits and positive impacts to three aspects in society, which are ideological, academic, and economic aspects. Keywords: Heritage preservation, Brick-making industry, Majapahit, Trowulan
TIPE HUNIAN DAN KARAKTERISTIK BUDAYA SAMPUNGIAN DI SITUS GUA LAWA, PONOROGO Jatmiko; Ruly Fauzi
AMERTA Vol. 39 No. 1 (2021)
Publisher : Penerbit BRIN (BRIN Publishing)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract. Settlement Type and Characteristic of ‘Sampung Culture’ at Lawa Cave Site, Ponorogo. Lawa Cave, located in Sampung (Ponorogo, East Java), is an eponym site for the Sampungian culture. Its status within the cultural framework of the Javanese prehistory remains unclear. This article aims to reveal the type and characteristic of settlement in Lawa Cave, including its position within the historical framework of cave habitation in the archipelago. The descriptive-explanative approach reveals that the distribution of artifacts in Lawa Cave shows a distinctive feature. The bifacial arrowhead reported by Callenfels is associated with bone and pebbles (milling stones) in a relatively thick unit of cultural layer. Based on the emergence of milling stones, the inhabitants of Lawa Cave may have known simple agricultural activities through processing wild plants as their food source. Based on this, Sampungian can be categorized as part of the Para-Neolithic culture, which is also found in several sites in Mainland Southeast Asia. Abstrak. Gua Lawa yang berada di Sampung (Ponorogo, Jawa Timur) merupakan situs eponim bagi budaya Sampungian yang statusnya di dalam kerangka kebudayaan prasejarah Pulau Jawa masih belum jelas. Artikel ini bertujuan untuk mengungkap tipe hunian dan karakteristik budaya Sampungian di Gua Lawa serta kaitannya dengan sejarah perkembangan hunian gua di Nusantara. Melalui pendekatan deskriptif-eksplanatif terlihat bahwasannya distribusi artefak di Gua Lawa menunjukkan suatu ciri khas tersendiri. Himpunan artefak mata panah bifasial, sebagaimana pertama kali dilaporkan oleh Callenfels, faktanya berasosiasi dengan artefak tulang dan kerakal pada suatu unit lapisan budaya yang cukup tebal. Berdasarkan kemunculan artefak kerakalpenggerus, diperkirakan masyarakat penghuni Gua Lawa telah mengenal aktivitas agrikultur sederhana melalui pengolahan tumbuhan liar tertentu sebagai sumber pangan mereka. Berdasarkan hal tersebut, Sampungian dapat dikategorikan sebagai bagian dari budaya Para-Neolitik yang juga dijumpai pada sejumlah situs di Asia Tenggara Daratan.
TAMBANG BATU BARA ORANJE NASSAU, KALIMANTAN SELATAN, DALAM PANDANGAN ARKEOLOGI INDUSTRI Inagurasi, Libra Hari
AMERTA Vol. 33 No. 2 (2015)
Publisher : Penerbit BRIN (BRIN Publishing)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak. Aktivitas pertambangan batu bara di Indonesia dimulai pada abad ke-19. Dalam tulisan ini dikemukakan tinggalan arkeologi dari situs tambang batu bara tertua di Indonesia, yakni tambang batu bara Oranje Nassau. Lokasi situs berada di Desa Pengaron, Kecamatan Pengaron, Kabupaten Banjar, Provinsi Kalimantan Selatan. Kronologi situs berasal dari tahun 1849 (abad ke-19). Oranje Nassau merupakan tambang batu bara yang diusahakan oleh pemerintah Hindia Belanda. Ketika didirikan, lokasi tambang itu menempati wilayah milik Kesultanan Banjarmasin. Tulisan ini bermaksud memberikan gambaran mengenai awal perkembangan industri di Indonesia melalui tambang batu bara tertua Oranje Nassau. Adapun tujuan tulisan ini adalah mengidentifikasi jenis,fungsi, dan hubungan antar tinggalan tambang batu bara dengan menggunakan pendekatan Arkeologi Industri (Industrial Archaeology). Metode yang digunakan adalah deskriptif, historis, dan analisis kontekstual. Hasil yang telah diperoleh yakni teridentifikasinya peninggalan-peninggalan tambang batu bara kuno berasal dari masa Hindia Belanda. Peninggalan-peninggalan tersebut merupakan fasilitas kegiatan penambangan batu bara seperti bangunan monumental untuk menempatkan mesin, sumur lubang galian batu bara, lorong, terowongan, lantai dibuat dari bahan bata, dan roda besi. Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa tambang batu bara merupakan teknologi yang berasal dari luar atau teknologi yang diimpor dari Eropa, bukan asli Indonesia. Kata Kunci: Tambang batu bara, Oranje Nassau, Arkeologi Industri Abstract. Oranje Nassau Coal Mine, South Kalimantan, in view Industrial Archaeology. Coal mining activities in Indonesia started in the 19th century. In the paper is presented archaeological remains on the site of the oldest coal mine in Indonesia, which is the Oranje Nassau coal mine. The site is located in the village of Pengaron, District Pengaron, Banjar regency, South Kalimantan. The chronology of the site is 1849 (mid-19th century). Oranje Nassau is a coal mine operated by the Dutch government. When established, the mine occupied the territory of the Sultanate of Banjarmasin. The intent of this paper is to provide an overview of the early industrial development in Indonesia throughthe oldest coal mine, Oranje Nassau, while the purpose is to identify the type, function, and the relationship between the remains of coal mines by using the approach of Industrial Archaeology. The method used is descriptive, historical and contextual analyses. The results have been obtained by the identification of the relics of the ancient coal mine dating from the Dutch East India period. The relics of the coal mine are part of the coal mining activity facilities such as monumental building to put the machine, the coal pit wells, hallways, tunnels, floors made of brick, and iron wheels. Based on the survey results, it is revealed that coal mining is a technology that comes from outside, or technology imported from Europe, not originated in Indonesia. Keywords: Coal mine, Oranje Nassau, Industrial Archaeology
PEMANFAATAN FAUNA VERTEBRATA DAN KONDISI LINGKUNGAN MASA OKUPASI 8.000 – 550 BP DI SITUS LEANG JARIE, MAROS, SULAWESI SELATAN Fakhri; Budianto Hakim; Yulastri; Salmia; Suryatman
AMERTA Vol. 39 No. 1 (2021)
Publisher : Penerbit BRIN (BRIN Publishing)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract. Utilization Of Vertebrate Fauna And Environmental Conditions Of Occupational Period 8.000 – 550 BP On The Site Of Leang Jarie, Maros, South Sulawesi. Vertebrate Remains from Leang Jarie Site at 8.000-550 BP Occupation in Maros Karst Area, South Sulawesi. The purpose of this study is to provide an overview of vertebrate fauna in Maros Pangkep karstic area, as one of the occupation areas at 8.000 years ago, Specifically, the purpose of this study is to describe of faunal remains found in the 2018-2019 excavation at Leang Jarie Site, Maros, South Sulawesi. This goal is achieved by using the Number of Identified Specimens (NISP) and Minimum Number of Individuals (MNI) calculation methods. The results of the study then showed that the fauna lived alongside human at this site included: fish, lizards, snakes, birds, frogs/toad, small Sulawesi cuscus, microchiroptera, megachiroptera, Sulawesi monkeys, rats, weasel/ferrets, babirussa and sus celebensis, anoa, buffaloes, and dogs. The results of the analysis and identification show that the presence of fauna on the Leang Jarie site is strongly influenced by humans who inhabit this site, this can be seen from the variety of fauna that lives following the changes of humans who inhabit Leang Jarie Sites at 8.000 to 550 BP. This study is one of the references of fauna that have lived and used as a food source or as human life support in this area. Abstrak. Penulisan artikel ini bertujuan untuk memberikan deskripsi tentang fauna vertebrata di kawasan karst Maros Pangkep sebagai salah satu wilayah hunian sejak 8.000 tahun yang lampau, khususnya tentang jenis fauna pada ekskavasi 2018 dan 2019 di Situs Leang Jarie, Maros, Sulawesi Selatan. Penelitian ini menggunakan metode analisis penghitungan number of identified specimens dan penghitungan minimum number of individu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa fauna yang hidup berdampingan dengan manusia di situs itu, antara lain ikan, kadal/biawak, ular, burung, katak/kodok, kuskus kecil Sulawesi, kelelawar pemakan serangga, kelelawar pemakan buah, monyet sulawesi, tikus, musang, babi rusa dan babi Sulawesi, anoa, kerbau, dan anjing. Hasil analisis dan identifikasi menunjukkan bahwa keberadaan fauna di Situs Leang Jarie sangat dipengaruhi oleh manusia yang menghuni situs itu. Hal itu terlihat dari variasi fauna yang hidup mengikutiperubahan manusia yang mendiaminya pada 8.000 sampai 550 BP. Penelitian ini merupakan salah satu referensi informasi fauna yang pernah hidup dan dimanfaatkan sebagai sumber bahan makanan atau sisa fauna yang dimanfaatkan sebagai peralatan penunjang hidup manusia di wilayah tersebut.