cover
Contact Name
Avi Meilawati
Contact Email
avimeilawati@uny.ac.id
Phone
+6285820103395
Journal Mail Official
avimeilawati@uny.ac.id
Editorial Address
Jl. Colombo no 1 Yogyakarta
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Jurnal Ikadbudi : Jurnal Ilmiah Bahasa, Sastra, dan Budaya Daerah
ISSN : 20897537     EISSN : 26858282     DOI : https://doi.org/10.21831/ikadbudi.v13i1
Ikadbudi journal is a journal belonging to the professional organization IKADBUDI (Indonesian cultural lecturer association) which accommodates thoughts and research on language, literature, regional culture and learning.
Articles 117 Documents
LEGENDA ULAR DALAM BUDAYA JAWA Yopi Ruki Kusuma, Nanny Sri Lestari Yopi Ruki Kusuma, Nanny Sri Lestari
JURNAL IKADBUDI Vol 8 (2019): JURNAL IKADBUDI
Publisher : Fakultas Bahasa Seni dan Budaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/ikadbudi.v8i0.26892

Abstract

LEGENDA ULAR DALAM BUDAYA JAWA Yopi Ruki Kusuma,  Nanny Sri LestariUniversitas Indonesiapbintangpagi@gmail.com AbstrakCerita adalah bagian dari kehidupan manusia.Sejak zaman dahulu manusia sudah mengenal kegiatan bercerita.Gagasan tentang cerita dapat berasal dari mana saja.Lingkungan alam tempat manusia hidup dapat memberikan gagasan tentang cerita.Masyarakat memanfaatkan kesempatan ini sesuai dengan zamannya. Cerita dapat berbentuk apa saja mulai dari dongeng, mitos, cerita rakyat dan legenda.Legenda biasanya hidup di kalangan rakyat.Di sisi lain teknologi penyampaian cerita juga sangat mempengaruhi, seseorang dalam bercerita. Hal yang paling sederhana adalahcara menyampaian cerita. Zaman dahulu menyampaikan cerita dsangat sederhana. Zaman sekarang cara menyampaikan cerita yang paling mudah adalah melalui media massa seperti majalah, koran atau yang lainnya.Media massa yang paling dekat dengan masyarakat adalah media cetak seperti koran atau majalah. Melalui rubrik dalam majalah masyarakat dapat membaca cerita sebagai hiburan.Para pengarang dapat menyampaikan berbagai gagasan cerita sampil menyampaikan pesan.Dengan penyampaian yang ringan tanpa harus berfikir secara filosofis masyarakat dapat meninkmati cerita sebagai hiburan.Rubrik seperti cerita pendek dan sejenisnya mendapat perhatian yang banyak dari masyarakat. Di sisi lain, situasi ini, juga memberi kesempatan bagi banyak pengarang untuk terus menerus berkarya dan menyebarluaskan gagasannya. Kata kunci: alam, cerita, legenda, lingkungan, ular
Tradisi Tedhak Siten sebagai kearifan lokal budaya Jawa dalam perspektif masyarakat desa Dondong Yuniati, Kurnia Maudina; Andriyani, Atikah; Wijayanti, Kenfitria Diah
Jurnal IKADBUDI Vol. 13 No. 1 (2024)
Publisher : Fakultas Bahasa Seni dan Budaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/ikadbudi.v13i1.58900

Abstract

AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan tahapan prosesi, wujud uba rampe, dan makna filosofis tradisi Tedhak Siten dalam perspektif masyarakat Desa Dondong. Penelitian ini dilaksanakan di Desa Dondong. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan pendekatan etnografi. Sumber data dalam penelitian ini adalah informan, tempat, peristiwa, dan dokumen. Data dalam penelitian ini berupa data primer yaitu rekaman tradisi, rekaman wawancara, dan catatan lapangan. Data sekunder berupa dokumen yang mendukung dan berkaitan. Teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling dan snowball sampling. Data dikumpulkan dengan cara wawancara, observasi, dan analisis dokumen. Keabsahan data diuji dengan cara triangulasi dan review informan. Analisis data dilakukan dengan analisis taksonomi. Hasil yang di dapatkan dalam penelitian ini adalah prosesi tradisi Tedhak Siten dalam perspektif masyarakat Desa Dondong dan pelestarian yang didapat dilaksanakan melalui pendidikan.Kata kunci: tradisi Tedhak Siten; kearifan lokal; desa Dondong; pelestarian budaya AbstractThis study aims to describe prosession, philosophical meaning, and equipment of Tedhak Siten tradition in perspective Dondong Village. This study do with ethnographic qualitative study was applied. The data source in this study was informants , place, event, and documents. The primary data in this study were documentation of the, oral data and notes from interviews. Secondary data in this study are there documents related. The sample was selected using the purposive and snowball sampling techniques. The data were collected through interviews, natural observation, and document analysis. The data were validated using method and data source triangulation and informants' review. The obtained data were analyzed using the taxonomy analysis technique. The study finding is described the procession or Tedhak Siten in perspektif Dondong Village and preservation with study class.Keywords: Tedhak Siten tradition; local wisdom; Dondong Village; culture preservation
INTEGRASI ETIKA JAWA DALAM PEMBELAJARAN KOOPERATIF MODEL JIGSAW SEBAGAI ALTERNATIF REVITALISASI KEARIFAN LOKAL - Nurhidayati
JURNAL IKADBUDI Vol 3, No 10 (2014): Jurnal Ikadbudi
Publisher : Fakultas Bahasa Seni dan Budaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/ikadbudi.v3i10.12040

Abstract

Etika Jawa merupakan salah satu bentuk kearifan lokal Jawa yang dapat dijadikan sebagai pedoman manusia dalam menjalani kehidupannya. Nilai-nilai dalam etika Jawa mengatur hubungan manusia dengan Tuhan, sesama, alam semesta, dan diri sendiri. Adapun nilai-nilai etika Jawa tersebut meliputi: eling, waspada, percaya, rukun, hormat, catur weweka, tepa slira, rumangsan, dan memayu hayuning bawana. Nilai-nilai luhur dalam etika Jawa tersebut diintegrasikan dalam pembelajaran sebagai usaha membangun generasi muda yang berkarakter. Tujuan tersebut sesuai dengan tujuan pendidikan nasional yang tercantum dalam kurikulum 2013. Integrasi nilai-nilai etika Jawa salah satunya dilakukan melalui pembelajaran kooperatif model Jigsaw. Model pembelajaran Jigsaw memberikan interaksi aktif antar siswa dalam diskusi kelompok besar dan kelompok kecil. Berbagai sikap dan pendapat dalam berdiskusi merupakan bentuk integrasi etika Jawa sebagai revitalisasi kearifan lokal. Dengan demikian, siswa dapat mengenal, memahami, dan menerapkan nilai-nilai luhur dalam kearifan lokal Jawa melalui pembelajaran kooperatif model Jigsaw.Kata kunci: etika Jawa, pembelajaran kooperatif model Jigsaw, kearifan lokalAbstract Java ethics is one form of local knowledge of Java which can be used as a guide to live a human life. Ethical values in Java regulate human relationships with God, others, the universe, and ourselves. The Java ethical values include: eling 'remember', waspada 'alert, be careful,' percaya 'believe', rukun ‘harmonious’, hormat ‘respectful’, catur weweka, tepa slira, rumangsan, and memayu hayuning bawana. Noble values in Java ethics are integrated in the learning of young people in an effort to build character. These objectives in accordance with national education goals stated in the 2013 curriculum integration ethical values Java one done through Jigsaw cooperative learning models. Jigsaw learning models provide active interaction between students in large group discussions and small groups. Various attitudes and opinions in the discussion is a form of ethical integration of Java as a revitalization of local knowledge. Thus, students can recognize, understand, and apply the noble values of the local knowledge of Java through the Jigsaw cooperative learning models. Keywords: ethics Java, jigsaw cooperative learning models, local wisdom
STRATEGI PEMBELAJARAN BAHASA JAWA DI SMP MUHAMMADIYAH BOARDING SCHOOL YOGYAKARTA Suwarna Suwarna; Panca Aditya Subekti
JURNAL IKADBUDI Vol 6, No 1 (2017): Jurnal Ikadbudi
Publisher : Fakultas Bahasa Seni dan Budaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/ikadbudi.v6i1.18201

Abstract

ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan strategi pembelajaran bahasa Jawa dan faktor yang melatarbelakangi penggunaan berbagai macam strategi tersebut sehingga menjadikan pembelajaran bahasa Jawa di SMP Muhammdiyah Boarding School(MBS)Yogayakarta berbeda dari sekolah umum lainnya. Penelitian ini adalah penelitian kualitatif. Sumber data penelitian adalah siswa dan guru bahasa Jawa dengan objek penelitian strategi pembelajaran bahasa Jawa di sekolah tersebut. Teknik pengumpulan data dengan observasi, wawancara, dokumentasi dan angket. Keabsahan data dengan cara uji kredibilitas, transferabilitas, dan reabilitas. Teknik analisis data menggunakan reduksi data, penyajian data dan pengambilan kesimpulan. Strategi yang digunakan dalam kegiatan pembelajaran berdasarkanposisi bahasa Jawa sebagai bahasa kedua dan bahasa asing di MBS, ada   strategi memori, kognitif, kompensasi, meta-kognitif,  afektif, dan sosial. Faktor pemilihan strategi tersebut antara lain: tujuan pembelajaran, siswa, kurikulum, sarana prasarana, materi dan waktu, akses informasi dan komunikasiKata kunci: Strategi Pembelajaran, Bahasa ke Dua dan Asing, Basa Jawa, Boarding School ABSTRACTThis study aims to determine the strategy used in the Javanese language learning in SMP Muhammadiyah Yogyakarta Boarding School (MBS) and factors behind the selection of strategies. This study is a qualitative research. Data sources were students and teachers with the Javanese language object Javanese language learning strategy research at the school. The technique of collecting data was through observation, interviews, documentation and questionnaire. Validity of test data was by credibility, transferability and reliability. Data were analyzed using data reduction, data presentation and conclusions. The strategy used in the learning activities based on the position of the Javanese language as a second language and foreign languages in MBS, there are memory strategies, cognitive, compensation, meta-cognitive, affective, and social.The strategy selection factors islearning objectives, students, curriculum, facilities, materials and time, access to information and communication.Keyword: Learning Strategy, Second and Foreign Languages, Javanese language, Boarding School
KRITIK SOSIAL PADA WAYANG CAKRUK Prastowo, Galang; Widayat, Afendy; Widyastuti, Sri Harti; Purwadi, Purwadi
Jurnal IKADBUDI Vol. 11 No. 1 (2022)
Publisher : Fakultas Bahasa Seni dan Budaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/ikadbudi.v11i1.61390

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan konflik-konflik sosial yang dikemukakan dalam wayang Cakruk, mendeskripsikan wujud kritik sosial yang disampaikan oleh wayang Cakruk, dan menguak pesan yang disampaikan dari konflik-konflik sosial dalam wayang Cakruk. Wayang Cakruk adalah wayang berbahasa Jawa, atau bahasa Jawa campuran, yang disajikan oleh dalang, dan sering menyertakan bintang tamu. Wayang Cakruk menyajikan cerita keseharian yang terdapat di sekitar masyarakat Jawa dewasa ini, sehingga berisi kritik sosial bagimasyarakat Jawa.Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif deskriptif, karena data yang diolah merupakan data kualitatif yang berbentuk kata-kata, yakni kata-kata dalam cerita yang ada pada wayang Cakruk. Data penelitian ini didapatkan dari hasil transkripsi dari ucapan dalang wayang Cakruk atau ucapan bintang tamu yang menyertai pementasannya. Data yang didapat  berupa berbagai deskripsi yang menyangkut konflik sosial yang terdapat dalam wayang Cakruk, wujud kritik sosial dalam wayang Cakruk dan pesan yang disampaikan dari konflik sosial dalam wayang Cakruk. Data dianalisa dengan menggunakan penafsiran hermeneutic Gadamer, terutama penafsiran yang menempatkan penafsir pada horizon dalang sekaligus penonton, yakni kemungkinan makna yang dimaksudkan oleh dalang dengan meleburkan penafsiran oleh peneliti.Hasil penelitian ini ditemukan beberapa kritik sosial yang disampaikan dalang atupun bintang tamu. Kritik sosial yang ditemukan ada yang diambil dari lingkungan keluarga, bermasyarakat hingga menyangkut instansi pemerintahan daerah, yakni menyangkut masalah etika remaja, sikap tuan rumah yang meremehkan tamu, KDRT, penyalah-gunaan wewenang, kolusi dan korupsi, dan kejahatan narkoba.
KAJIAN NILAI DIDAKTIK DALAM SASTRA BALI KLASIK: MENGGALI KEUNGGULAN KEARIFAN LOKAL SEBAGAI PENDIDIKAN MORAL GENERASI MUDA SAAT INI I Nengah Duija
JURNAL IKADBUDI Vol 6, No 1 (2017): Jurnal Ikadbudi
Publisher : Fakultas Bahasa Seni dan Budaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/ikadbudi.v6i1.18187

Abstract

ABSTRAKPengkajian sastra klasik sudah saatnya diperlukan sebagai sebuah pendekatan budaya dalam mengantisipasi tergerusnya tata nilai generasi muda sekarang ini. Asumsi mendasar yang patut menjadi urgensi pengkajian itu adalah, bahwa sastra Bali Klasik sesungguhnya sebuah cermin diri dari masyarakat Bali itu sendiri (masuluh ring sastra=bercermin pada sastra/pengetahuan). Oleh karena itu, tentu sastra mengandung tata nilai yang adhi luhung (nora na mitra mangluwihana waraguna maruhur=tidak ada sahabat yang melebihi keagungan ilmu pengetahuan yang tinggi). Penelitian ini bermaksud untuk mengungkapkan nilai-nilai didaktik yang terkandung dalam kesusastraan Bali klasik dan relevansi nilai-nilai itu dalam mengembangkan pendidikan moral generasi muda saat ini.Pengkajian ranah ini belum banyak diteliti oleh putra daerah maupun peneliti luar daerah, akan tetapi penelitian kearah itu telah dilakukan oleh para pakar sastra Bali. Penelitian ini menggunakan metode sosiologi sastra dengan menerapkan teori reseptif, dengan langkah kajian sebagai berikut :Teknik pengumpulan datanya diawali dengan pengumpulan teks yang dijadikan sumber kajian yaitu : Geguritan Putra Sasana, Geguritan Basur, Cerita Tantri, dan Cerita Bhagawan Dhomya. Analsis datanya secara deskriptif kualitatifdengan bertumpu pada teks sumber sebagai bahan analisis.Analisis data ini diawali dengan kajian nilai-nilai didaktik yang terkandung dalam cerita klasik Bali dan relevansinya bagi pendidikan moralgenerasi muda saat ini.Hasil analisis ternyata banyak sekali terkandung nilai-nilai didaktik dalam keempat sumber naskah di atas, yang dapat ditransformasikan untuk sistem pendidikan dewasa ini, antara lain:konsep pendidikan seumur hidup, pendidikan akal, tanggung jawab guru dan murid, ini diteruskan kepada anak didik, yang sesungguhnya dapat dijadikan materi pengayaan pengetahuan kearifan lokal yang mampu memberikan rambu-rambu moralitas yang baik di kalangan generasi muda saat ini, yang lebih cenderung hanya menggunakan paradigma pendidikan Barat dibandingkan membangun kepribadian berdasarkan tata nilai yang telah diwariskan oleh nenek moyang dalam bentuk sastra-sastra klasik. Untuk itu perlu diadakan pembinaan oleh intansi terkait untuk lebih mengarahkan diri pada peranan ilmu humaniora dalam rangka meningkatkan kualitas manusia dengan cara pendidikan budi pekerti dengan menggali kearifan local sebagai keunggulan budaya di mana masyarakat itu hidup dan berkembang.Kata kunci: teks dedaktik, sastra Bali klasik, kearifan localABSTRACTThe classical literary review is necessary as a cultural approach in anticipating  the  degradation  of  the  values  of  today‟s  young  generation.  The fundamental assumption that should be urgency of the study is that the classical Balinese literature is actually a self-reflection of the Balinese society itself (masuluh ring sastra = reflecting on the literature/knowledge). Therefore, of course the literature contains worthy value (nora na mitra mangluwihana waraguna maruhur = no friend exceed the greatness of science). The study intends to reveal the didactic values contained in classical Balinese literature and the relevance of those values in developing the moral education of the young generation today.The study of this domain has not been widely studied by the local researcher and researchers outside the region, but research in that direction has been done by experts of Balinese literature. The present study used sociology method of literature by applying receptive theory, with the following study steps: Data collection techniques began by collecting the texts that were used as the sources of the study, such as: Geguritan Putra Sasana, Geguritan Basur, Tantri story, and Bhagawan Dhomya story. Data analysis used descriptive qualitative relied on source texts as the material of analysis. Data analysis began with the study of didactic values contained in Balinese classical story and the relevance to the moral education of young generation today.Analysis result shows that many didactic values contained in the four text sources above, which can be transformed to the education system today, namely: the concept of education for life, the intellectual education, the responsibilities of teachers and students, is passed on to the students, which can actually be the material of enrichment of knowledge of local wisdom that is able to give a good sign of good morality among young people today, who are more likely to only use Western educational paradigm than building a personality based on the values that have been inherited by the ancestors in the form of classical literatures. Therefore, it needs to be guided by the relevant institution to be more directed to the role of the humanities sciences in order to improve the quality of human by way of moral education by exploring local wisdom as a cultural excellence in which the community lives and thrives.Key words: Didactic Text, Balinese Classical Literature, Local Wisdom
LITERASI KEBUDAYAAN MELALUI MEDIA SOSIAL Sutrisna Wibawa; Yatun Romdonah Awaliah
JURNAL IKADBUDI Vol 10, No 1 (2021): Jurnal Ikadbudi
Publisher : Fakultas Bahasa Seni dan Budaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/ikadbudi.v10i1.49910

Abstract

Arus  modernisasi  saat  ini  tidak  bisa  dibendung,  terutama  dalam  bidang  teknologi informasi yang berdampak pada aspek kehidupan masyarakat, tidak terkecuali interaksi sosial. Kini,    semakin  banyak  media  sosial  (medsos)  untuk  berkomunikasi  dan  berinteraksi  sosial seperti instagram, face book, whatsapp, line, dan lainnya. Medsos tidak hanya sebagai wahana komunikasi  dan  silaturahim,    tetapi  juga  sebagai  sarana  informasi,  termasuk    informasi mengenai  kebudayaan.    Informasi  kebudayaan  yang  dikemas  dan  disajikan  secara  menarik, maka akan banyak yang ingin mempelajarinya. Melalui media sosial generasi muda bisa belajar literasi kebudayaan. Kini mulai banyak akun-akun di media sosial khususnya Instagram yang melakukan hal tersebut. Kajian ini dilakukan untuk melihat sejauh mana literasi kebudayaan di media sosial. Melalui metode deskiptif analitik dengan teknik pengumpulan data menggunakan studi pustaka dan dokumentasi diperoleh kesimpulan bahwa literasi kebudayaan melalui media sosial sangat efektif dan banyak diminati oleh generasi milenial.
TINJAUAN SUPERSTRUKTUR DAN NILAI MORAL DALAM LAKON WISANGGENI LAIR Aris Aryanto
JURNAL IKADBUDI Vol 4, No 10 (2015): Jurnal Ikadbudi
Publisher : Fakultas Bahasa Seni dan Budaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/ikadbudi.v4i10.12031

Abstract

Superstruktur membahas mengenai dunia jiwa. Tinjauan superstruktur akan dapat memunculkan suatu pandangan baru yang dapat disebut sebagai “kritik terhadap politik kebudayaan”. Lakon Wisanggeni Lair merupakan sebuah cerita yang muncul dan dianggap baru di luar kitab Mahabharata dan Ramayana. Namun yang menarik, kemunculan lakon wayang Wisanggeni Lair di jagad pewayangan Jawa seakan-akan menjadi nafas baru dalam falsafah hidup Jawa meskipun lakon wayang Wisanggeni Lair kurang begitu populer di masyarakat. Bagaimanapun juga dapat memberikan nilai-nilai moral bagi kehidupan saat ini. Tujuan penelitian ini untuk mendeskripsikan peran tokoh Wisanggeni yang terefleksi dalam lakon Wisanggeni Lair dan nilai moral yang terdapat dalam lakon Wisanggeni Lair. Bentuk penelitian ini adalah penelitian kualitatif deskriptif dengan menggunakan pendekatan hermeneutik. Teknik pengumpulan data menggunakan teknik pustaka dan teknik simak catat. Sumber data penelitian ini adalah lakon Wisanggeni Lair. Lakon Wisanggeni Lair menyiratkan bahwa tokoh Wisanggeni sebagai sosok sentral pendobrak tradisi, pendobrak hierarki, hegemoni, dan struktur. Buktinya, Bethara Guru sebagai penguasa tertinggi dapat dikalahkan dengan mudah oleh Wisanggeni. Dalam kacamata superstruktur, munculnya lakon Wisanggeni Lair dibuat oleh orang dari “njaban benteng” karena tidak puas dengan pemerintahan kraton. Selain itu, munculnya tokoh Wisanggeni diciptakan untuk mencoba membentuk narasi agung baru untuk mengalahkan narasi agung kadewatan. Nilai moral yang terdapat dalam lakon Wisanggeni Lair yaitu : cinta kasih dan pantang menyerah.  Kata kunci : superstruktur, nilai moral, lakon Wisanggeni Lair.
IRAWAN SEBAGAI KORBAN MEDAN PERANG DALAM PERISTIWA KEMATIAN IRAWAN MENURUT SASTRA LAKON TRADISI PEDALANGAN YOGYAKARTA Bambang Sulanjari
JURNAL IKADBUDI Vol 5, No 12 (2016): Jurnal Ikadbudi
Publisher : Fakultas Bahasa Seni dan Budaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/ikadbudi.v5i12.12305

Abstract

Naratif Kematian Irawan menurut tradisi pedalangan Yogyakarta telah mengalami “pergeseran” dari induknya: Mahabharata Sansekerta. Menurut tradisi pedalangan Yogyakarta Irawan mati sebelum perang baratayuda dimulai. Naratif kematian Irawan seperti itu, tidak dijumpai dalam Mahabharata Sansekerta maupun kitab-kitab Jawa Kuna.Pergeseran letak naratif kematian Irawan dalam tradisi pedalangan Yogyakarta tersebut, tampaknya bukan hal yang tanpa alasan, karena lakon yang memuat naratif tersebut termasuk Lakon Baratayuda, yaitu lakon yang dikeramatkan dan sangat ketat diwariskan. Untuk memahami kasus ini dilakukan pengkajian tokoh seperti yang pernah dilakukan oleh Alf Hiltebeitel yang berhasil menembus makna Mahabharata melalui pendekatan epik, mite, dan ritual.Peristiwa kematian Irawan dalam tradisi pedalangan Yogyakarta erat kaitannnya dengan Baratayuda. Terbunuhnya Irawan rupanya menyarankan ke arah upacara korban pada tataran ritual. Naratif kematian Irawan tersebut rupanya mengacu pada pemujaan kepada Durga pembunuh Mahisasura. Dengan terlaksananya korban Irawan, maka Pandawa pun memperoleh jaminan kemenangan dalam Baratayuda.Kata kunci: kematian Irawan; tradisi pedalangan Yogyakarta; pendekatan epik, mite dan ritual AbstractThe death of Irawan narrative in the tradition of Yogyakarta puppetry has undergone a "shift" of the origin text: Sanskrit Mahabharata. According to the tradition of Yogyakarta puppetry Irawan die before the Baratayuda war began. Irawan death narrative as such, is not found in the Sanskrit Mahabharata and the books of the Old Javanese.Shifting the narrative the death of Irawan in Yogyakarta puppetry tradition, it seems is not without reason, because the lakon that contains the narrative included Baratayuda lakon, that lakon is sacred and very tight inherited. To understand this case do figures study such ever undertaken by Alf Hiltebeitel who was penetrates the meaning of the Mahabharata through epic, myth, and ritual approach.Irawan death scene in the traditions of Yogyakarta puppetry connected closely with Baratayuda. The kill of Irawan apparently suggested direction sacrifice at the level of ritual approach. The death of Irawan narrative was apparently referring to the cult of Durga Mahisasura killer. With the implementation of Irawan victim, the Pandavas victory was assured in Baratayuda.Key words: the death of Irawan; the tradition of Yogyakarta puppetry; epic, myth, and ritual approach
DRUPADI DAN SRIKANDHI WANITA-WANITA TANGGUH HASIL RESEPSI PENGARANG JAWA TERHADAP MAHABHARATA Sri Harti Widyastuti
JURNAL IKADBUDI Vol 7, No 1 (2018): Jurnal Ikadbudi
Publisher : Fakultas Bahasa Seni dan Budaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/ikadbudi.v7i1.42598

Abstract

Mahabharata merupakan karya besar dan kompleks yang sering disebut sebagai karya adi luhung, karena menceritakan tokoh-tokoh dan persoalan kewiraan manusia. Tujuan penulisan ini untuk mendeskripsikan bentuk resepsi dan latar belakang resepsi pujangga Jawa terhadap Mahabharata. Teori resepsi sastra yang digunakan berpijak pada pandangan bagaimana pembaca ahli memaknai karya sastra. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif disertai teknik pembacaan secara hermeneutik. Hasil penulisan menunjukkan bahwa pujangga dan penulis sastra Jawa meresepsi cerita Mahabharata sesuai dengan pandangan hidup dan local colour dalam kehidupannya. Disebabkan proses ini maka Mahabharata diresepsi oleh pujangga dan penulis Jawa dalam varian alur dan karakter penokohan. Alur dan karakter penokohan menyebabkan peristiwa cerita yang berbeda. Adapun resepsi pengarang Jawa terhadap Mahabharata berpusat pada sayembara Drupadi, hal ini mencirikan interpretasi pengarang Jawa yang menyesuaikan lokal budaya Jawa. Terjadi pengembangan cerita dalam sayembara tersebut berupa pelarangan poliandri dan pernikahan yang harus direstui orang tua. Pada cerita tentang Srikandhi, eksistensi Srikandhi diangkat lebih luas oleh pengarang Jawa, penulis Jawa mengangkat Srikandhi menjadi tokoh kesetaraan gender. Kata kunci: Mahabharata, adi luhung, resepsi, poliandri

Page 10 of 12 | Total Record : 117