cover
Contact Name
Ahmad Yousuf Kurniawan
Contact Email
frontbiz@ulm.ac.id
Phone
+6281211109125
Journal Mail Official
frontbiz@ulm.ac.id
Editorial Address
Program Studi Agribisnis, Jurusan Sosial Ekonomi Pertanian, Fakultas Pertanian, Universitas Lambung Mangkurat Jl. Jend. Ahmad Yani Km. 36, Banjarbaru, Kalimantan Selatan 70714, Indonesia
Location
Kota banjarmasin,
Kalimantan selatan
INDONESIA
Frontier Agribisnis
ISSN : -     EISSN : 30481260     DOI : https://doi.org/10.20527/frontbiz
Frontier Agribisnis adalah jurnal yang dikelola Program Studi Agribisnis, Fakultas Pertanian, Universitas Lambung Mangkurat. Tema jurnal ini mencakup agribisnis secara umum, meliputi: analisis penyediaan input pertanian, analisis usaha tani dan perkebunan, analisis pengolahan dan pemasaran hasil pertanian, penyuluhan dan komunikasi pertanian, pemberdayaan masyarakat, dan analisis kebijakan pertanian. Terbit 4 kali dalam satu tahun (Maret, Juni, September dan Desember).
Articles 697 Documents
TINGKAT KESEJAHTERAAN KELUARGA PETANI KARET DI DESA SUNGAI ALANG KECAMATAN KARANG INTAN Raudatina Raudatina; Kamiliah Wilda; Hairi Firmansyah
Frontier Agribisnis Vol 2, No 1 (2018)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/frontbiz.v2i1.594

Abstract

Tingkat kesejahteraan adalah salah satu konsep yang digunakan untuk menyatakan kualitas hidup suatu masyarakat atau individu. Tujuan dari penelitian ini yaitu utk mengetahui keadaan sosial ekonomi petani karet (umur, pendidikan formal, luas lahan, pendapatan petani dan pengalaman), untuk mengetahui tingkat kesejahteraan keluarga petani karet. Data yang digunakan adalah primer dan sekunder. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode survey. Penentuan wilayah penelitian dilakukan secara sengaja (purposive), yaitu di Desa Sungai Alang Kecamatan Karang Intan. Jumah sampel yang diambil 30 orang keluarga petani. Analisis yg digunakan yaitu analisis deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan keadaan sosial ekonomi keluarga petani relatif baik karena sebagian besar petani berada dalam usia produktif (63,33%), pengalaman berusahatani cukup lama rata-rata 14 tahun, jumlah tanggungan keluarga relatif kecil rata-rata 4 orang, untuk pekerjaan masyarakat lebih banyak bekerja sebagai petani karet saja, pendapatan petani rata-rata Rp 22.097.227 ha/thn, untuk kepemilikan lahan hak milik sendiri, luasan lahan rata-rata 1,25 ha, tetapi dalam pendidikan masih kurang karena rata-rata petani hanya lulusan SD (43,33%). Tingkat kesejahteraan keluarga petani terbesar pada tahapan keluarga sejahtera II yakni sebanyak 10 responden (33,34%) dan terendah pada tahapan keluarga prasejahtera yakni sebanyak 4 responden (13,33%). Penyebab banyaknya keluarga sejahtera II karena sebagian petani responden sudah dpt memenuhi semua kebutuhan dasar dan kebutuhan sosial psikologisnya dan penyebab keluarga petani jatuh pada tahap keluarga prasejahtera karena tidak mampu memenuhi kebutuhan dasarnya dari segi kesehatan.Kata kunci: tingkat kesejahteraan, petani karet
ANALISIS KELAYAKAN USAHA PENGOLAHAN TEMPE DI DESA SEMARAS KECAMATAN PULAU LAUT BARAT KABUPATEN KOTABARU (Studi Kasus Usaha “Tempe Ibu Masnah”) Khairul Amin; Rifiana Rifiana; Luki Anjardiani
Frontier Agribisnis Vol 8, No 2 (2024)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/frontbiz.v8i2.13038

Abstract

Kedelai digunakan sebagai sumber bahan baku dalam industri pertanian. Tempe merupakan jenis makanan yang dihasilkan dari fermentasi kedelai menggunakan jamur yang disebut Rhizopus oligosporus. Tempe memiliki ciri khas warna putih, tekstur yang padat, dan rasa yang unik. Usaha tempe milik Ibu Masnah merupakan satu-satunya usaha tempe yang ada di Desa Semaras dan Kecamatan Pulau Laut Barat. Usaha ini telah beroperasi selama satu dekade. Namun, karena lokasinya yang jauh dari pusat kota, upaya pemasarannya terbatas pada kabupaten. Selain itu, kapasitas produksinya terbatas karena usaha ini belum memperluas pasarnya ke luar kabupaten. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengkaji pendapatan dan kelayakan usaha produksi tempe Ibu Masnah di Desa Semaras, Kecamatan Pulau Laut Barat, Kabupaten Kotabaru. Penelitian ini dilakukan di tempat produksi tempe Ibu Masnah yang beralamat di Jalan Provinsi RT.03 Desa Semaras, Kecamatan Pulau Laut Barat, Kabupaten Kotabaru. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan Ibu Masnah, pemilik usaha pengolahan tempe Ibu Masnah, sebagai subjek utama. Ibu Masnah, seorang produsen tempe di Kecamatan Pulau Laut Barat, memperole hkeuntungan sebesar Rp17.901.505 dalam satu bulan. Studi R/CRatio menghasilkan nilai 1,66 yang menunjukkan bahwa R/CRatio lebih dari 1. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa usaha pengolahan tempe Ibu Masnah layak secara finansial.
Analisis Pendapatan Usahatani Kelapa Sawit Rakyat Di Desa Kampung Baru, Kecamatan Pelaihari, Kabupaten Tanah Laut Ahmad Ripani; Abdullah Dja'far; Emy Rahmawati
Frontier Agribisnis Vol 3, No 4 (2019)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/frontbiz.v3i4.1994

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahuiberapa besarnya biaya, penerimaan, pendapatan dan keuntungan. Penelitian ini dilaksanakan mulai dari bulan Februari 2018 sampai dengan September 2019 di Desa Kampung Baru. Jenis data yang digunakan adalah data primer dan data sekunder. Responden sebanyak 30 orang petani kelapa sawit rakyat. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa rata-rata biaya yang dikeluarkan petani kelapa sawit rakyat di Desa Kampung Baru, Kecamatan Pelaihari, Kabupaten Tanah Laut pada tanaman umur 12 tahun adalah sebagai berikut: penyusutan eksplisit nilai tanaman sebesar Rp  9.289.874, biaya panen sebesar Rp 3.240.000, penyusutan implisit nilai tanaman sebesar Rp 4.104.462, biaya panen sebesar Rp 8.160.000, penerimaan sebesar Rp 58.800.000, pendapatan sebesar Rp 46.270.126 dan keuntungan sebesar Rp 34.005.664 perusahataninya. Jika dihitung dalam satuan perhektar, maka rata-rata penyusutan eksplisit nilai tanaman sebesar Rp  6.193.249, biaya panen sebesar Rp 2.160.000, penyusutan implisit nilai tanaman sebesar Rp 2.736.308, biaya panen sebesar Rp 5.440.000,  penerimaan sebesar Rp 39.200.000, pendapatan sebesar Rp 30.846.751 dan keuntungan sebesar Rp 22.670.443.Kata kunci: kelapa sawit, penyusutan nilai tanaman, penerimaan, pendapatan, keuntungan
Analisis Daya Saing Ekspor Kunyit Indonesia di Pasar Internasional Aulia Rahmah; Hairin Fajeri; Sadik Ikhsan
Frontier Agribisnis Vol 5, No 3 (2021)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/frontbiz.v5i3.5925

Abstract

Kunyit merupakan salah satu komoditas ekspor yang berpotensi besar bagi Indonesia di pasar internasional. Menurut data dari UN Commodity Trade Statistic, Indonesia selama 5 tahun berturut-turut selalu menjadi salah satu negara pengekspor kunyit terbesar dipasar internasional. Namun, ekspor kunyit Indonesia pada tahun 2019 mengalami penurunan signifikan dari ekspor tahun 2018. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis struktur pasar kunyit dalam perdagangan kunyit di pasar internasional, menganalisis daya saing kunyit Indonesia serta menganalisis spesialisasi perdagangan kunyit Indonesia di pasar internasional. Data yang digunakan adalah data sekunder berupa cross section 8 negara pengekspor kunyit terbesar yaitu India, Myanmar, Indonesia, Viet Nam, Belanda (Netherlands), Inggris (United Kingdom), Prancis (France) dan Jerman (Germany). Data dalam bentuk time series 10tahun (2010-2019) yang bersumber dari UN Comtrade, International Trade Centre(ITC), dan Badan Pusat Statistik Indonesia (BPS). Metode analisis data yang digunakan adalah analisis Hirschman Herfindahl Index (HHI), Concentration Ratio (CR) untuk struktur pasar, analisis Revealed Symmetric Comparative Advantage (RSCA) untuk daya saing dan Indeks Spesialisasi Perdagangan(ISP) untuk spesialisasi perdagangan kunyit. Hasil penelitian menunjukkan bahwa struktur pasar kunyit dunia selama 10 tahun adalah pasar oligopoli penuh tipe II atau pasar very high oligopoly. Nilai RSCA kunyit Indonesia menunjukkan bahwa pada tahun 2011, 2014, 2015, 2016 dan 2017 Indonesia menempati posisi ketiga terkuat dalam ekspor kunyit,namun padatahun 2010, 2012, 2013 dan 2018 turun keposisi keempat terkuat dalam ekspor kunyit di pasar internasional. Spesialisasi perdagangan kunyit Indonesia selama 10tahun berdasarkan nilai ISP menunjukkan cenderung sebagai pengekspor kunyit di pasar internasional dengan daya saing kuat. Ekspor kunyit Indonesia masih dalam tahapan pertumbuhan ekspor di pasar internasional. Kunyit Indonesia memiliki potensi dan daya saing kuat dilihat dari jumlah permintaan yang besar baik dari dalam maupun luar negeri, potensi sumber daya alam yang mendukung serta kondisi iklim Indonesia sesuai dengan pengusahaan kunyit.
Analisis Pemasaran Selada Hidroponik di Banjarbaru (Studi Kasus Iyin Hidroponik) Rahman Robiansyah; Kamiliah Wilda; Nina Budiwati
Frontier Agribisnis Vol 7, No 3 (2023)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/frontbiz.v7i3.10318

Abstract

Hidroponik merupakan metode pertanian inovatif yang melibatkan budidaya tanaman tanpa bergantung pada media tanah tradisional lahan yang sempit dapat dimanfaatkan untuk menanam secara hidroponik. Iyin Hidroponik merupakan salah satu produsen sayuran hidroponik di Kota Banjarbaru terletak di Kelurahan Guntung Payung, Kecamatan Landasan Ulin. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis saluran pemasaran dan fungsi pemasaran yang. dan menganalisis besar biaya, margin, keuntungan pemasaran, farmer's share dan efisiensi pemasaran pada Iyin hidroponik. Metode pengumpulan sampel yang digunakan dalampenelitian ini adalah metode Snowball Sampling (bola salju). Berdasarkan hasil penelitian, Saluran pemasaran pada usahatani Iyin Hidroponik terdapat tiga fungsi pemasaran meliputi fungsi pertukaran, fisik, dan fasilitas. Pada saluran I farmer share sebesar 100% dan pada saluran II sebesar 87,5%, pada saluran II biaya pemasaran sebesar Rp578,00/batang dan Rp2.890,00/Kg, keuntungan Rp422,00/Batang dan Rp2.110,00/Kg, margin Rp1.000,00/Batang dan Rp5.000,00/Kg, dengan efisiensi 7,22%. pada saluran III farmer share 70%, biaya pemasaran Rp355,43/Batang dan Rp1.777,15/Kg, keuntungan Rp264,457/Batang dan Rp1.322,285/Kg, margin Rp3.000,00/Batang dan Rp15.000,00/Kg dengan efisiensi 3,55%.
Analisis Efesiensi Alokatif Usahatani Ubi Alabio (Dioscorea Alata, L) di Lahan Rawa Lebak Kecamatan Sungai Pandan Kabupaten Hulu Sungai Utara Tinah Tinah; Abdurrahman Abdurrahman; Luki Anjardiani
Frontier Agribisnis Vol 6, No 4 (2022)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/frontbiz.v6i4.7818

Abstract

Ubi alabio merupakan subsektor pertanian pangan yang mempunyai peluang untuk dikembangkan. Tujuan penelitian ini adalah i) Menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi produksi ubi alabio; ii) Menganalisis tingkat efesiensi alokatif (harga) pada usahatani ubi alabio. Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer. Sumber data diperoleh dari responden dan instansi terkait seperti Badan Pusat Statistik, Dinas Pertanian, dan Balai Penyuluh Pertanian. Data dianalisis dengan fungsi produksi Cobb- Douglass analisis regresi linier berganda melalui program SPSS 25 dan linier programing pada software excel untuk menambahkan variabel manajemen TER yang mana berfungsi meminimalkan indeks bias manajemen. pengambilan sampel dilakukan dengan acak sebanyak 50 sampel dari 294 populasi. Hasil penelitian menunjukan variabel luas lahan, jumlah bibit, tenaga kerja dan obat-obatan berpengaruh nyata (signifikan) terhadap produksi ubi alabio. Efisiensi alokatif (harga) pada penggunaan faktor produksi luas lahan, bibit dan obat-obatan sudah mencapai tahap efisiensi secara harga sedangkan faktor produksi tenaga kerja tidak mencapai efesien dan perlu dikurangi penggunaan inputnya.
PROFIL USAHATANI AGRIBISNIS MELON (Studi Kasus pada Usahatani Melon Milik Bapak Faisal di Kelurahan Guntung Manggis Banjarbaru) Megawati Megawati; Emy Rahmawati; Luki Anjardiani
Frontier Agribisnis Vol 2, No 4 (2018)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/frontbiz.v2i4.667

Abstract

Indonesia merupakan negara dengan komoditas yang kaya dan luas akan pertanian, sebagian besar penduduk adalah petani. Buah-buahan Indonesia yang diperkirakan permintaannya akan terus meningkatan salah satunya adalah buah melon. Data luas lahan usahatani melon di Banjarbaru menurut Dinas Pertanian memiliki kisaran 1-2 Hektar dengan hasil produksi berfluktuasi di tiap periodenya. Penelitian ini dilaksanakan pada usahatani milik Bapak Faisal di Kelurahan Guntung Manggis yang dimulai sejak tahun 2013. Metode yang digunakan dalam penelitian adalah metode studi kasus, dengan analisa data secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukan Profil Usahatani Agribisnis Melon yang terdiri dari pengolahan lahan sampai dengan panen sudah berlangsung secara baik dan terarah, karena 1 ha menghasilkan ± 21,6 ton hal tersebut menunjukkan tahapan dalam setiap bagian berjalan dengan semestinya dan sesuai standar. Adapun analisis keuangan permusim tanam terdiri dari total biaya sebesar Rp 61.203.530 dan total penerimaan sebesar Rp 177.120.000 diperoleh keuntungan sebesr Rp 115.916.470 permusim tanam. Permasalahan pada Usahatani Melon milik Bapak Faisal yaitu Serangan penyakit, yang menyebabkan buah busuk dan tidak dapat dipanen permasalahan ini masih belum bisa dikendalikan. Bibit yang digunakan dari usahatani milik Bapak Faisal diperoleh dari agen ataupun toko sarana produksi. Bibit melon tergolong bibit mahal dengan harga yang bervariasi dari harga Rp 125.000–Rp 150.000 per bungkus tergantung dari ketersediaan agen.Kata kunci: melon, profil usahatani
ANALISIS USAHA DODOL KANDANGAN DI DESA TELAGA BIDADARI, KECAMATAN SUNGAI RAYA, KABUPATEN HULU SUNGAI SELATAN (STUDI KASUS : DODOL MAMA ALFI) Nurmahlina Nurmahlina; Abdurrahman Abdurrahman; Hairin Fajeri
Frontier Agribisnis Vol 4, No 1 (2020)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/frontbiz.v4i1.2629

Abstract

Indonesia memiliki jumlah penduduk sekitar 266,91 juta jiwa. Dengan jumlah penduduk tersebut makanan ringan akan banyak diperlukan dan menjadi produk yang potensial dipasaran. Makanan yang ada sangat beragam baik makanan ringan modern maupun tradisional, salah satunya dodol. Dodol ialah makanan khas Indonesia yang dijumpai di berbagai daerah dan merupakan cemilan semi basah. Kandangan merupakan tempat produksi dodol di Kalimantan Selatan salah satunya adalah dodol asli Kandangan produksi Mama Alfi. Usaha dodol kandangan ini berdiri sejak tahun 1988 pemiliknya adalah sepasang suami istri yaitu Bapak Suhaimi dan istri beliau bernama Ibu Hamdanah. Usaha ini merupakan usaha turun temurun dari keluarga Bapak Suhaimi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui seberapa besar biaya, penerimaan, keuntungan, tingkat kelayakan, serta pendistribusian dodol Kandangan produksi Mama Alfi. Metode yang digunakan adalah studi kasus, metode ini hanya menerapkan penelitian pada satu kasus saja. Perhitungan ini dilakukan pada periode satu bulan yaitu bulan September 2019 (01-30 September). Berdasarkan hasil penelitian ini menyatakan bahwa biaya yang dikeluarkan sebesar Rp 77.893.386, penerimaan sebesar Rp 90.020.000, keuntungan sebesar Rp 12.126.614, dan tingkat kelayakan dinyatakan bahwa RCR>1 yaitu 1,15 yang artinya bahwa usaha dodol Kandangan produksi Mama Alfi ini menguntungkan dan layak untuk diteruskan. Sedangkan pendistribusian dilakukan ke pedagang pengecer di berbagai daerah dan ada juga konsumen yang langsung membeli ke tempat produksi dodol Mama Alfi. Kata kunci: revenue cost ratio (RCR), usaha, dodol kandangan, biaya
Sistem Tataniaga Karet Rakyat di Desa Sebamban Baru Kecamatan Kintap Kabupaten Tanah Laut I Putu Pajeng Sutra Negara; Hairi Firmansyah; Usamah Hanafie
Frontier Agribisnis Vol 5, No 2 (2021)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/frontbiz.v5i2.5973

Abstract

Sektor perkebunan adalah salah satu sektor perkebunan terbesar di Indonesia. Perkebunan karet merupakan perkebunan yang dijadikan sebagai sumber pendapatan utama bagi masyarakat. Tujuan dari penelitian ini ialah: (1) untuk mengetahui tingkat kesejahteraan petani karet yang terdapat di desa Sebamban Baru; (2) untuk mengidentifikasi sistem tataniaga yang terdapat di Desa Sebamban Baru; (3) untuk menghitung margin, farmer share, tingkat profitabilitas terhadap biaya serta tingkat efisiensi tataniaga; (4) untuk mengetahui masalah yang dihadapi oleh lembaga-lembaga tataniaga karet. Penelitian ini dilaksanakan di Desa Sebamban Baru Kecamatan Kintap Kabupaten Tanah Laut. Metode yang digunakan adalah Metode stratified random sampling dan metode snowball sampling. Berdasarkan hasil penelitian terdapat 2 keluarga petani prasejahtera, KS l terdapat 6 keluarga petani, KS II terdapat 3 keluarga petani, KS lll terdapat 10 keluarga petani dan KS III+ terdapat 3 keluarga petani. Diketahui terdapat dua sistem tataniaga, Saluran I: petani-pengumpul besar-pabrik dan Saluran II: petani-pengumpul kecil-pengumpul besar-pabrik. Pada Saluran I harga beli dipetani Rp 10.400/kg, harga jual kepabrik Rp 11.600/kg, margin sebesar Rp 1.200/kg, biaya pemasaran Rp 820/kg, keuntungan Rp 380/kg, dan farmer share 92,2%. Saluran II harga beli di petani Rp 10.400/kg, harga beli di pengumpul kecil Rp 10.700/kg, harga jual ke pabrik Rp 11.700/kg, total margin Rp 1.300/kg, total biaya pemasaran Rp 770/kg, keuntungan pengumpul kecil Rp 200/kg dan keuntungan pengumpul besar Rp 330/kg dan farmer share 91,4%. Tingkat profitabilitas terhadap biaya dalam Saluran l yakni 46%. Saluran II pada pengumpul kecil sebesar 200% dan pengumpul besar 49,2%. Efisiensi pemasaran dalam Saluran I yaitu 7,06% dan Saluran II yaitu 6,58%, jadi saluran yang lebih efisien adalah Saluran II. Kendala yang dihadapi yaitu kualitas karet masih kurang baik atau tidak sesuai standar pabrik dan resiko penyusutan berat karet tinggi.
Analisis Nilai Tambah Pengolahan Kelapa dalam Menjadi Kopra di Desa Babirah Kecamatan Pulau Hanaut Kabupaten Kotawaringin Timur Nur Raisatur Rasyidah; Yudi Ferrianta; Yusuf Azis
Frontier Agribisnis Vol 7, No 3 (2023)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/frontbiz.v7i3.10350

Abstract

Kopra adalah putih lembaga (endosperm) buah kelapa dalam yang sudah dikeringkan dengan sinar matahari ataupun panas buatan. Proses produksi kopra berlangsung selama 10 hari menggunakan metode pengolahan Kopra FMS (Fair Merchantable Sundried). Penelitian dilakukan di Desa Babirah Kecamatan Pulau Hanaut Kabupaten Kotawaringin Timur Provinsi Kalimantan Tengah, pada Bulan Maret 2023 sampai Bulan Mei 2023. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui nilai tambah yang dapat diciptakan dengan mengolah kelapa dalam menjadi kopra dan permasalahan yang dihadapi pengusaha ketika pelaksanaan proses produksi pengolahan kopra. Metode pengambilan sampel yang digunakan yaitu metode sensus dengan mengambil seluruh populasi yaitu 7 pengusaha kopra di Desa Babirah sebagai responden penelitian. Analisis nilai tambah dihitung dengan menggunakan metode nilai tambah yang dikemukakan oleh Hayami, dkk (1987). Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan input sebesar 1.657,14 kg/proses akan menghasilkan 1.035,71 kg/proses dengan perolehan nilai tambah sebesar Rp 2.878,84/kg dan rasio nilai tambah sebesar 70,86% yang termasuk dalam kategori rasio nilai tambah tinggi karena nilainya lebih dari 40%. Hasil nilai tambah didistribusikan sebagai imbalan tenaga kerja sebesar Rp 1.250/kg atau 43,42% dan keuntungan usaha sebesar Rp 1.628,84/kg atau 56,58%. Permasalahan yang dihadapi oleh pengusaha kopra yaitu adanya persaingan kopra dengan produk pengganti yaitu kelapa sawit dan terbatasnya akses terhadap pasar serta terbatasnya infrastruktur desa.