cover
Contact Name
Ihwan Amalih
Contact Email
elwaroqoh1234@gmail.com
Phone
+6281999286606
Journal Mail Official
elwaroqoh1234@gmail.com
Editorial Address
Fakultas Dakwah dan Ushuluddin Kampus Pusat Universitas Al-Amien Prenduan Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan, Sumenep, Jawa Timur Kode Pos 69465 email : elwaroqoh1234@gmail.com
Location
Kab. sumenep,
Jawa timur
INDONESIA
El-Waroqoh : Jurnal Ushuluddin Dan Filsafat
ISSN : 25804014     EISSN : 25804022     DOI : 10.28944/el-waroqoh
El Waroqoh: Jurnal Ushuluddin dan Filsafat is a peer reviewed journal which is highly dedicated as public space to deeply explore and widely socialize various creative and brilliance academic ideas, concepts, and research findings from the researchers, academicians, and practitioners who are concerning to develop and promote the religious thoughts, and philosophies. Nevertheless, the ideas which are promoting by this journal not just limited to the concept per se, but also expected to the contextualization into the daily religious life, such as, inter-religious dialogue, Islamic movement, living Quran, living Hadith, and other issues which are socially, culturally, and politically correlate to the Islamic and Muslim community development.
Articles 98 Documents
KAJIAN KOMPARATIF ATAS LARANGAN PRAKTEK EUTHANASIA: PERSPEKTIF ETIKA KEDOKTERAN DAN ETIKA ISLAM Nur Alamsyah; Ismail Ismail
El-Waroqoh : Jurnal Ushuluddin dan Filsafat Vol 7, No 2 (2023)
Publisher : Institut Dirosat Islamiyah Al-Amien Prenduan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.28944/el-waroqoh.v7i2.1358

Abstract

Analisis penelitian ini mengkaji dan menjelaskan larangan praktik euthanasia berdasarkan etika kedokteran dan etika islam. Penelitian ini menggunakan penelitian kepustakaan ( studi kepustakaan ) yang sumber datanya diperoleh dari bahan dokumen dan bahan pustaka dengan cara normatif yakni mengkaji praktik praktik euthanasia dari sudut pandang etika kedokteran dan etika islam. Teknik pengumpulan data mengacu pada sumber kepustakaan yang tujuannya adalah untuk menemukan dokumen atau informasi yang diperoleh dari buku-buku literatur dan jurnal ilmiah sebagai bahan referensi terkait dengan penelitian yang dilakukan. Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa euthanasia adalah tindakan yang bertentangan dengan etika kedokter dan etika islam karena termasuk menghilangkan nyawa orang lain. Berdasarkan kode etik kedokteran yang menjadikan sumpah hipocrates sebagai landasan dilarangnya euthanasia, dalam hal ini seseorang dokter harus selalu mengingat akan kewajiban melindungi hidup makhluk hidup insani dan apabila ditinjau dari sudut pandang ajaran Islam tindakan menghilangkan nyawa orang lain dilarang dengan alasan apapun. Di sini hukum Islam berperan penting dalam menentukan apa yang halal dan haram dalam kaitannya dengan euthanasia. Ketika masyarakat terdampak oleh keadaan yang sangat mendesak, karena dipengaruhi oleh tuntutan jaman atau perkembangan teknologi, ketika masyarakat hanya bertindak semaunya saja, selama mereka berpikir sebagai keputusan yang rasional, tanpa melihat apakah tindakannya tepat atau tidak. benar atau tidak menurut hukum, agama atau etika.
PERAN ISTRI PARA NABI: TELAAH PEMIKIRAN MUHAMMAD AMĪN AL-SYINQĪṬĪ DALAM TAFSIR AḌWĀU AL-BAYĀN Towilatur Rohmah; Abdul Muiz Muiz
El-Waroqoh : Jurnal Ushuluddin dan Filsafat Vol 5, No 1 (2021)
Publisher : Institut Dirosat Islamiyah Al-Amien Prenduan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.28944/el-waroqoh.v5i1.308

Abstract

Al-Qur’ān adalah  kitab  suci yang  diturunkan  Allah SWT  sebagai  penutup  kitab-kitab suci sebelumnya kepada seorang nabi penutup para nabi, yang kata-katanya tidak usang dan kandungannya jauh lebih luas. Sulit  bagi  seseorang yang  tidak  mendalami  bahasa  Arab  untuk  dapat memahami dan merasakannya, namun iman seseorang dilihat dari getaran hatinya ketika mendengar pembacaan ayat-ayat al-Qur’ān. Kesulitan tersebut akan menjadi penghalang  bagi  pembaca  maupun  pendengar  dalam  menyelami  makna  kandungannya. Padahal sebagai sebuah petunjuk, al-Qur’ān harus bisa dipahami, dinikmati, dan diamalkan,  bukan  hanya  sekedar  menjadi  bacaan  ritual  belaka.  Mengatasi  masalah demikian,  al-Qur’ān menempuh  berbagai  cara  guna  mengantar  manusia  kepada kesempurnaan  kemanusiaannya,  antara  lain  dengan  mengemukakan  kisah-kisah  baik bersifat faktual maupun simbolik disamping seperangkat ilmu lainnya. Banyaknya  kisa-kisah  yang  diceritakan  dalam al-Qur’ān terutama  kisah pasangan suami istri pada kehidupan Nabi dan Rasul membuat penulis tertarik memilih  tema  terkait  dengan  peran istri  para Nabi  dalam al-Qur’ān. Untuk itu dengan penelitian ini peneliti ingin mengetahui ayat-ayat tentang Istri para nabi dalam al-Qur’ān dan Peran Istri para nabi dalam al-Qur’ān menurut pemikiran Muhammad Amīn Al-Syinqīṭī Dalam Tafsir Aḍwāu Al-Bayān fī Īḍāhi al-Qur’ān bi al-Qur’ān, sehingga dapat disimpulkan bahwa istri-istri para nabi mempunyai peran sangat penting bagi perjalan dakwah para nabi tersebut. Sebagaimana dijelasakan bahwa istri-istri nabi mempunyai peran memberikan ketenangan, menyalurkan hasrat atau kebutuhan dan kesenanga biologis dan psikologis serta berfungsi sebagai wadah dalam melanjutkan dan memelihara  keturunan demi kelanjutan dakwah para nabi
RELEVANSI NILAI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM QS. Al-HUJURAH PERSPEKTIF KITAB TAFSIR TARBAWÎ LI AL-QUR'ÃN AL-KARÎM KARYA ANWAR ALBÃZ Huda, Muhammad Habib Zainul; Wulandari, Fitri
El-Waroqoh : Jurnal Ushuluddin dan Filsafat Vol 7, No 1 (2023)
Publisher : Institut Dirosat Islamiyah Al-Amien Prenduan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.28944/el-waroqoh.v7i1.1140

Abstract

Krisis moral yang menimpa generasi saat ini, seperti Intoleran, Plagiarisme, Bullying, Pornografi, Kekrasan Siswa Kepada Guru, Pergaulan Bebas (Pacaran), Tawuran Antar Pelajar, Penggunaan Obat Terlarang (Narkoba & Sejenisnya), Merokok Usia Dini, Durhaka Kepada Kedua Orang Tuanya, Kecanduan Game Online, Berbicara Kasar/Kotor, dan berbagai kasus negatif lainnya tanpa disadari semakin hari semakin meningkat. Maka dari itu, tujuan penelitian ini yaitu hendak mencari solusi yang tepat untuk mengatasi berbagai krisis moral generasi saat ini prespektif Anwar al Baaz. Penelitian ini tergolong penelitian Library Research (Kepustakaan), yang sifatnya Deskriptif Analisis, dengan cara pengumpulan data “Dokumentasi”. Selain itu, penulis juga menggunakan Teknik Tematik dan Tahlili dalam proses studi pustakanya, dibantu dengan Teori Doable Movement Fazlur Rahman. Hasil Dari penelitian ini yaitu : (1) Setidaknya ada 5 Pendidikan Karakter dalam Qs. Al Hujurah menurut Anwar al Bazz diantaranya : Takwa, Sabar, Ihsan, Adil, dan Tawasut. (2) Anak didik pada saat ini hendaknya harus senantiasa patuh kepada gurunya, harus menjaga tutur katanya, tidak mudah terprovokasi, tidak memandang rendah seseorang, dan tidak merekam atau memfoto dan memvidio keburukan orang lain. (3). Pendidikan karakter akan tertanam dalam diri anak didik apabila ada kerjasama antara guru, orang tua, saudara, keluarga, masyarakat, bahkan pemerintah.
TARJUMĀN AL-MUSTAFĪD : PROFIL DAN SIGNIFIKANSINYA DALAM SEJARAH TAFSIR INDONESIA Ghozi Mubarok
El-Waroqoh : Jurnal Ushuluddin dan Filsafat Vol 4, No 1 (2020)
Publisher : Institut Dirosat Islamiyah Al-Amien Prenduan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.28944/el-waroqoh.v4i1.416

Abstract

Abstrak: Nilai penting Tarjumān al-Mustafīd, karya Abdurrauf Singkel, dalam sejarah Tafsir di Indonesia atau di Nusantara adalah sesuatu yang tidak terbantahkan. Tetapi kemunculan tafsir ini pada abad ke-17 menyisakan pertanyaan-pertanyaan mengenai kesinambungan tradisi tafsir al-Qur’an di Nusantara, terutama ketika kita dihadapkan pada fase kekosongan karya tafsir sebelum dan setelahnya. Artikel ini berupaya mendeskripsikan profil kitab Tarjumān al-Mustafīd, menjelaskan signifikansinya dalam sejarah tafsir Indonesia, serta menjawab pertanyaan-pertanyaan di seputar kesinambungan dan keterputusan tradisi tafsir di Indonesia pada masa-masa awal tersebut. Menyangkut profil kitab Tarjumān al-Mustafīd, dapat disimpulkan bahwa kitab ini merupakan saduran dari Tafsīr al-Jalālayn ke dalam Bahasa Melayu dan ditulis secara ringkas (ijmālī) dengan tujuan untuk menjadi media dakwah dan pembelajaran al-Qur’an bagi masyarakat umum. Tidak ada jawaban yang final bagi pertanyaan mengapa kitab Tarjumān al-Mustafīd ini tidak didahului oleh karya tafsir lain sebelumnya serta tidak disusul oleh karya penting lain hingga kira-kira dua abad berikutnya. Para peneliti meyakini bahwa “fase keterputusan” itu tidak dapat dilepaskan dari faktor sosial dan politik (bukan hanya faktor intelektual-akademis) pada masa tersebut. Tetapi fakta bahwa Tarjumān al-Mustafīd bisa bertahan dan sampai ke kita dewasa ini juga memperlihatkan bahwa “keterputusan” itu sesungguhnya tidak benar-benar terjadi.
STUDI KITAB HADIS: TIPOLOGI KITAB SUNÃN, MUWATṬA’ DAN MUṢANNAF Moh. Jufriyadi Sholeh
El-Waroqoh : Jurnal Ushuluddin dan Filsafat Vol 4, No 2 (2020)
Publisher : Institut Dirosat Islamiyah Al-Amien Prenduan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.28944/el-waroqoh.v4i2.934

Abstract

Sebagai sumber ajaran Islam, hadis selalu mendapat perhatian khusus dari para ulama dari generasi ke generasi; baik dari aspek riwâyah (periwayatan) dan dari aspek dirâyah (studi hadis). Hal tersebut dilakukan dalam rangka menjaga eksistensi hadis agar tetap terjaga dan tidak hilang, ini dari aspek riwâyat. Adapun dari aspek dirâyah, ulama-ulama hadis tidak pernah berhenti melakukan kajian tentang otentisitas dan validitasnya.Salah satu upaya ulama untuk melestarikan hadis adalah membukukannya menjadi sebuah kitab dengan tipologi dan metodologi penulisan sesuai dengan keinginan penulisnya. Dalam artilel ini stresing penulis menganalisa tipologi dari kitab As-Sunân, Al-Muwatṭa’ dan Al-Muṣannaf karena ketiga tipe dari kitab hadis ini dilhat dari daftar isi kitabnya memiliki kesamaan, tetapi pada realitasnya ada perbedaan yang sangat signifikan dari ketiganya. Kesimpulnnya, Kitab As-Sunân, Al-Muwatṭa’ dan Al-Muṣannaf kesamaan yaitu penyusunan hadisnya sama-sama disusun berdasarkan kajian fiqih dan koleksi hadisnya hanya tertentu pada hadis-hadis fiqih atau hukum. Adapun letak perbedaannya terletak pada koleksi hadisnya dari sisi hadis berdasarkan pada tipe penyandarannya. Kitab As-Sunân mengoleksi hadis-hadis marfû, dan jarang ditemukan hadis-hadis non marfû' di dalamnya, sedangkan Kitab Al-Muwatṭa’ dan Al-Muṣannaf tidak hanya mengoleksi hadis-hadis marfû saja, tetapi di dalamnya juga banyak mengoleksi hadis-hadis mauqûf dan maqhṭu’. 
ETIKA PERGAULAN LAKI-LAKI DAN PEREMPUAN DALAM AL-QUR'AN (Analisis QS. An-Nûr ayat 31-32 Perspektif Penafsiran Hasbi Ash-Shiddiqie Dalam KitabTafsîr An-Nûr) Eka Sulistiyawati
El-Waroqoh : Jurnal Ushuluddin dan Filsafat Vol 8, No 1 (2024)
Publisher : Institut Dirosat Islamiyah Al-Amien Prenduan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.28944/el-waroqoh.v8i1.1600

Abstract

The relationship men and women has recently been widely discussed. Interaction between humans is very necessary because humans are essentially social creatures. However, there are ethics and rules when interacting with other people. In fact, there are many interactions between members of the opposite sex who forget the rules of the shariâ and even go beyond the boundaries of correct social interaction according to the teachings of the Koran. So there are many cases of free sex and womengetting pregnant out of wedlock due to illegal socializing and this a form of lack of ethics in socializing. This research aims to understand more deeply the ethics of male and female relationships by referring to one of the tafsir books, namely Tafsir al- Majid al-Qurân An-Nûr. The method used is a qualitative method white the type of library research. The result of this research are in accordance whit the interpretation of Ash-Shiddiqie QS. An-Nûr verses 30-31 explain the ethics for a woman to always maintain her views and honor when interacting with the opposite sex. What is meant by maintaining one's gaze is not diverting one's gaze to something that can arouse lust and not giving honor to men who are not one's mahram.
KERUKUNAN ANTAR UMAT BERAGAMA AGAMA DALAM AL-QUR’AN PERSPEKTIF TAFSIR FÎ ẒILÃLIL QUR’ÃN Supardi, Agus Kharir
El-Waroqoh : Jurnal Ushuluddin dan Filsafat Vol 6, No 1 (2022)
Publisher : Institut Dirosat Islamiyah Al-Amien Prenduan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.28944/el-waroqoh.v6i1.597

Abstract

Dalam al-Qur’an agama disebut juga dengan al-Dîn yang berarti kemenangan, tuntunan, dan hukum. Secara istilah Agama merupakan ajaran, petunjuk dan aturan Allah kepada manusia, karena agama tuntunan dan cara bagaimana seorang manusia bersikap dan bergaul dengan Allah, Rasul, serta sesama manusia. Agama memiliki pengaruh besar dalam membentuk kepribadian sosial maupun individu. Agama dalam bermasyarakat memiliki dua dampak besar yaitu konflik dan kerukunan. konflik bernuansa agama telah menjadi sejarah seperti Islam dan Kristen-Barat. Namun, konflik agama masih bisa di saksikan oleh manusia dewasa ini. Islam yang merupakan agama rahmat selalu mengajarkan kepada pemeluknya agar cinta damai dan hidup rukun. Oleh karena itu, artikel ini akan mengkaji bagaimanakah pandangan al-Qur’an mengenai kerukunan antar umat beragama dari sudut pandang tafsir Fî zilãlil Qur’ãn serta bagaimana solusi supaya kerukunan antar umat beragama terpelihara. Peneliti akan memakai metode riset pustaka dengan menganalisis serta mendeskripsikan data yang yang terkumpul. Setelah menelaah mengenai ayat-ayat kerukunan antar umat beragama dalam tafsir Fî zilãlil Qur’ãn, peneliti menyimpulkan bahwa kerukunan antar umat beragama merupakan kehidupan masyarakat beragama yang menghormati kebebasan beragama, menghargai dan menjaga tindakan dari perusakan tempat ibadah agama lain, tidak mencela dan menghina ajaran agama lain, mengasihi dan bahu-membahu dalam kehidupan sosial antar umat beragama.
PEMIMPIN IDEAL DALAM AL-QUR’AN (Studi Komparatif Penafsiran Quraish Shihab dan Hamka Kajian QS. Al-Baqarah Ayat 30 dan QS. Shad Ayat 26) syahrulloh muin; Moh Jufriyadi Sholeh
El-Waroqoh : Jurnal Ushuluddin dan Filsafat Vol 7, No 2 (2023)
Publisher : Institut Dirosat Islamiyah Al-Amien Prenduan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.28944/el-waroqoh.v7i2.1535

Abstract

Manusia sebagai makhluk ciptaan Allah SWT yang penuh dengan kesempurnaan. Kesempurnaan manusia karena amanah yang diberikan oleh Allah yang menjadikan manusia sebagai pemimpin di muka bumi. Menjadi pemimpin ideal tentu manusia harus bertanggungjawab mengatur, mengolah, memelihara dan memakmurkan bumi. Di era sekarang banyak pemimpin yang menjadikan Islam sebagai aspek yang penting, akan tetapi sikap Islami belum Tampak dalam diri pemimpin. Al-Quran sendiri merupakan teks yang valid untuk mengetahui hakikat seorang pemimpin secara baik dan utuh, yang menuntun manusia untuk melakukan tugas dan tanggungjawab dalam kepemimpinan. Artikel ini menggunakan pendekatan library research (penelitian kepustakaan), serta penelitian ini menggunakan metode tafsir maudhu’i yaitu mengumpulkan ayat-ayat al-Qur’an yang mempunyai tujuan yang satu dan membahas topik tertentu dengan menonjolkan tema atau topik pembahasan. Adapun rumusan masalah dalam artikel ini adalah bagaimana pemimpin ideal dalam Al Qur’an menurut M Quraish Shihab dan Hamka dan bagaimana letak persamaan dan perbedaan pemimpin ideal dalam Al Qur’an menurut M Quraish Shihab dan Hamka. Adapun hasil penelitian dalam artikel ini bahwasanya M Quraish Shihab dan Hamka telah menafsirkan tentang pemimpin ideal dalam Al-Qur’an yaitu ada beberapa konsep dan ciri khas yang harus dimiliki pemimpin yang ideal di antaranya, Pertama, orang yang berilmu. Kedua, orang yang selalu berjuang. Ketiga, orang yang selalu berkorban. Keempat, Seorang khalifah berpotensi bahkan secara aktual dapat menjauhkan hawa nafsu dalam melakukan kepemimpinan. Kelima, orang yang totalitas. Sedangkan perbedaannya tentang pengertian pemimpin ideal, menurut Quraish Shihab para pemimpin di bumi ini sebagai pengganti Allah dalam menegakkan kehendak-Nya, tetapi bukan karena Allah tidak mampu atau menjadikan manusia berkedudukan sebagai Tuhan, namun karena Allah bermaksud menguji manusia dan memberinya penghormatan. Adapun menurut Hamka pemimpin ideal di artikan sebagai menggantikan Allah, dengan pemahaman bahwa sebagai pengganti Allah bukanlah berarti ia berkuasa pula sebagai Allah dan sama kedudukannya dengan Allah, bukan bermaksud demikian, melainkan manusia diangkat oleh Allah menjadi Khalifah-Nya dengan perintah-perintah tertentu.
PERUMPAMAAN KARAKTERISTIK PENGIKUT NABI MUHAMMAD SAW DALAM SURAT AL-FATH AYAT 29 (STUDI KOMPARATIF DALAM TAFSIR AL-JÃMI’ LI AHKÃM AL-QUR’ÃN DAN TAFSIR ASH-SHA’RÃWÎ) Qurrotul A'yun; Mohammad Fattah
El-Waroqoh : Jurnal Ushuluddin dan Filsafat Vol 5, No 2 (2021)
Publisher : Institut Dirosat Islamiyah Al-Amien Prenduan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.28944/el-waroqoh.v5i2.324

Abstract

Memahami ayat al-Qur’an yang mengandung perumpamaan bukanlah perkara mudah untuk dipahami dengan jelas. Hal ini menunjukkan bahwa isi pesan yang akan disampaikan bersifat sangat penting. Begitu pula mengenai perumpamaan pengikut Nabi Muhammad SAW yang diberikan Allah SWT kepada Rasul-Nya. Pengikut tersebut memiliki potensi iman yang luar biasa hebat dan kuat nya bagai tanaman yang mengeluarkan tunas, sehingga tumbuh subur dan kokoh. Maka dari itu penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana pandangan Al-Qurṭubi dan Syekh Muhammad Mutawalli Ash-Sha’râwî tentang karakteristik pengikut Nabi Muhammad SAW dalam surat al-Fath ayat 29 serta bagaimana pandangan Al-Qurṭubi dan Syekh Muhammad Mutawalli Ash-Sha’râwî tentang perumpamaan karakteristik pengikut Nabi Muhammad SAW dalam surat al-Fath ayat 29. Penelitian ini ditulis dengan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian library research (studi pustaka). Menurut pandangan  Al-Qurṭubi dan Syekh Muhammad Mutawalli Ash-Sha’râwî memberikan karakteristik terhadap pengikut Nabi Muhammad SAW yaitu mereka menyikapi orang kafir dengan bersikap keras, layaknya seekor singa yang menemui mangsanya, dan bersikap lembut terhadap sesama muslim, dan memperbanyak ibadah sholat untuk mendekatkan diri dan dan meraih ridhaNya. Sedangkan perumpamaan pengikut Nabi Muhammad SAW menurut Al-Qurṭubi dan Syekh Muhammad Mutawalli Ash-Sha’râwî ialah seperti benih yang tumbuh kemudian menjadi tunas dan membentuk akar tanaman yang kuat.
ANALISIS WACANA TEUN A. VAN DIJK TERHADAP BUKU QURANREVIEW “YOU ARE LOVED” Yubas Muhammad Ilham; Mohammad Abdul Kholiq Hasan
El-Waroqoh : Jurnal Ushuluddin dan Filsafat Vol 7, No 2 (2023)
Publisher : Institut Dirosat Islamiyah Al-Amien Prenduan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.28944/el-waroqoh.v7i2.1314

Abstract

Kajian ini bertujuan untuk menganalisis buku quranreview “you are loved”. Guna menjawab analisis terhadap buku ini, penulis memilih metode kepustakaan yang dimana sumber primernya adalah buku quranreview ‘’You Are Loved’’ sedangkan sumber sekunder nya pada buku, jurnal, artikel yang sesuai dengan kajian ini. Analisis dengan teori Analisis Wacana Teun A. Van Dijk. Teori ini merupakan teori yang tidak sekedar melihat wacana pada aspek teks semata, tetapi juga meliputi latar belakang dari pembuatan wacana tersebut Hasil kajian inimenunjukkan bahwa penafsiran dalam bukuquranreview “you are loved” hanya memuat kata kata pilihan dalam al-qur’an, seperti khair, aulia, nissa dan rahma. Secara kognisis sosial ditemukan bahwa yang mempengaruhi faktor sosial seperti referensi yang digunakan quranreview seperti tafsir Tafsir al-Wajiz, Imam Al-Qurtubhi, Imam Ath Thabrani, Kitab Az zuhd akarya Imam Ahmad, Ibnu Katsir, Lisanul Arab karyaIbnu Mandzu. Secara analisis konteks sosial, penafsiran dari buku quranreview ini dapat dikatakan relevan dengan isu-isu yang ada di masyarakat Indonesia.

Page 6 of 10 | Total Record : 98