cover
Contact Name
Muhammad Hadi Widanto
Contact Email
lppm@unsurya.ac.id
Phone
+6282113935439
Journal Mail Official
lppm@unsurya.ac.id
Editorial Address
LPPM Universitas Dirgantara Marsekal Suryadarma Kampus A Universitas Dirgantara Marsekal Suryadarma lt. 2 No. 210 Jl. Halim Perdana Kusuma No.1, RT.1/RW.9, Halim Perdana Kusuma Kec. Makasar, Kota Jakarta Timur, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 13610
Location
Kota adm. jakarta timur,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Manajemen Kesehatan dan Keperawatan
ISSN : 3063069X     EISSN : 30629225     DOI : https://doi.org/10.35968/7v6eq255
Core Subject : Health,
AIM Tujuan utama dari jurnal ini adalah untuk menyediakan platform bagi para Mahasiswa, Dosen, Peneliti, praktisi profesional di bidang kesehatan untuk berbagi pengetahuan, pengalaman, dan penelitian terkini yang relevan dengan manajemen kesehatan dan keperawatan. Kami bertujuan untuk mendorong pertukaran gagasan yang inovatif dan solusi praktis yang dapat meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan dan pengelolaan sumber daya di berbagai konteks pelayanan kesehatan. SCOPE Jurnal ini mencakup berbagai topik dalam manajemen kesehatan dan keperawatan, termasuk namun tidak terbatas pada: Strategi manajemen kesehatan Kebijakan kesehatan dan peraturan Manajemen operasional rumah sakit dan fasilitas kesehatan lainnya Manajemen sumber daya manusia di bidang kesehatan Inovasi dalam manajemen layanan kesehatan Penggunaan teknologi informasi dalam manajemen kesehatan Manajemen risiko dan kualitas dalam pelayanan kesehatan Manajemen keperawatan klinis dan administratif Evaluasi dan penelitian kesehatan masyarakat Kolaborasi lintas disiplin dalam manajemen kesehatan Keperawatan medikal bedah Keperawatan Kegawatdaruratan dan bencana keperawatan anak keperawatan maternitas keperawatan jiwa keperawatan gerontik keperawatan komunitas manajemen dan kepemimpinan keperawatan Jurnal ini menyambut kontribusi dari para peneliti, praktisi, akademisi, dan pemangku kepentingan lainnya yang tertarik dalam pengembangan teori dan praktik manajemen kesehatan dan keperawatan.
Articles 73 Documents
Implementasi Terapi Minuman Rebusan Daun Salam terhadap Penurunan Kadar Asam Urat pada Keluarga Dengan Gout Arthritis di Kelurahan Halim Perdanakusuma Puspitasari, Tanaya; Pujiastuti, Nawang; Khaerul Amri
Jurnal Manajemen Kesehatan dan Keperawatan Vol. 3 No. 1 (2026): Jurnal Manajemen Kesehatan dan Keperawatan
Publisher : Universitas Dirgantara Marsekal Suryadarma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35968/f2kbxm44

Abstract

Penyakit asam urat atau gout arthitis adalah salah satu jenis radang sendi yang terjadi karena adanya penumpukan kristal. Asam urat tinggi dapat terjadi bila tubuh terlalu banyak purin. Kondisi ini dapat terjadi pada sendi mana pun, seperti di jari kaki, pergelangan kaki, lutut, dan paling sering di jempol kaki. Banyak metode pengobatan untuk mengobati asam urat dengan farmakologi atau non farmakologi. Sebagai tanaman obat, daun salam (Syzygium polyanthum wight) dapat menurunkan kadar hiperurisemia dalam darah. Tanin, minyak atsiri, dan komponen flavonoid yang terdapat pada daun salam dapat membantu meringankan artritis gout. Ikatan rangkap struktur flavonoid memungkinkan mengendalikan metabolisme asam urat dengan mengikat aktivitas proses degradasi purin. Untuk lebih membantu menghilangkan kelebihan asam urat, tanin dan minyak esensial dapat meningkatkan produksi urin oleh ginjal. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh terapi air rebusan daun salam terhadap penurunan kadar asam urat. Jenis penelitian yang diterapkan pada penelitian ini adalah deskriptif dengan pendekatan studi kasus. Penelitian ini menggunakan dua pasien gout arthitis ditandai dengan peningkatan asam urat di kelurahan halim Perdanakusuma dengan subjek responden yang memenuhi kriteria inklusi. Setelah dilakukan pemberian terapi non-farmakologi rebusan air daun salam selama 4 hari pasien menunjukkan adanya perubahan kadar asam urat pada responden ke-1: 8,3 mg/dl menjadi 5,6 mg/dl dan responden ke-2: 8,5 mg/dl menjadi 3,9 mg/dl. Terapi pemberian Rebusan Air Daun Salam dapat menurunkan Kadar Asam Urat pada keluarga yang menderita asam urat.   Gouty Arthritis is a type of arthritis that occurs due to the accumulation of crystals. High uric acid can occur when the body has too much purine. This condition can occur in any joint, such as in the toes, ankles, knees, and most often in the big toe. There are many treatment methods for treating gout with pharmacology or non-pharmacology. As a medicinal plant, bay leaves (Syzygium polyanthum wight) can reduce hyperuricemia levels in the blood. Tannins, essential oils, and flavonoid components found in bay leaves can help relieve gouty arthritis. The double bond of the flavonoid structure allows it to control uric acid metabolism by binding to the activity of the purine degradation process. To further help eliminate excess uric acid, tannins and essential oils can increase urine production by the kidneys. The purpose of this study was to determine the effect of bay leaf boiled water therapy on reducing uric acid levels. Method: The type of research that will be applied in this study is descriptive with a case study approach. This study used patients suffering from gout in Halim Perdanakusuma sub-district with 2 respondent subjects who had met the inclusion and exclusion criteria. After being given non-pharmacological therapy of boiled bay leaf water for 4 days, the patient showed a change in uric acid levels in the 1st respondent from 8.3 mg/dl to 5.6 mg/dl and the 2nd respondent from 8.5 mg/dl to 3.9 mg/dl. Therapy of Bay Leaf Water Decoction can reduce Uric Acid Levels in families suffering from gout.
Implementasi Pemberian Terapi Akupresur Titik Hegu (LI4) Untuk Menurunkan Nyeri Dismenorea Nurhalizah, Naila; Meylawati, Luluk Eka; Rahayu, Wahyuni Dwi
Jurnal Manajemen Kesehatan dan Keperawatan Vol. 3 No. 1 (2026): Jurnal Manajemen Kesehatan dan Keperawatan
Publisher : Universitas Dirgantara Marsekal Suryadarma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35968/3yat5468

Abstract

Dismenorea merupakan nyeri saat menstruasi yang sering dialami remaja perempuan dan dapat mengganggu aktivitas sehari-hari. Penatalaksanaan nyeri umumnya masih mengandalkan terapi farmakologis, padahal pendekatan nonfarmakologis dapat menjadi alternatif yang lebih aman dan mudah diterapkan. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan penerapan terapi akupresur pada titik Hegu (LI4) dalam menurunkan nyeri dismenorea pada remaja. Penelitian ini menggunakan desain studi kasus deskriptif pada dua subjek remaja yang mengalami dismenorea. Intervensi dilakukan dengan pemberian terapi akupresur titik Hegu (LI4) 1 kali per hari selama 3 hari berturut-turut. Pengukuran nyeri dilakukan sebelum dan sesudah intervensi menggunakan Numeric Rating Scale (NRS), dengan instrumen berupa standar prosedur operasional, format pengkajian nyeri, dan lembar observasi. Hasil studi menunjukkan adanya penurunan skala nyeri pada kedua subjek. Pada subjek 1, skala nyeri menurun dari 5 menjadi 1, sedangkan pada subjek 2 menurun dari 6 menjadi 2 setelah 3 hari intervensi. Temuan ini menunjukkan bahwa penerapan terapi akupresur titik Hegu (LI4) berhubungan dengan penurunan nyeri dismenorea pada kedua subjek. Terapi ini berpotensi menjadi intervensi keperawatan nonfarmakologis yang dapat dilakukan secara mandiri, meskipun temuan ini masih bersifat deskriptif dan terbatas pada jumlah subjek yang kecil.   Dysmenorrhea is menstrual pain commonly experienced by adolescent girls and may interfere with daily activities. Pain management is still frequently reliant on pharmacological therapy, whereas non-pharmacological approaches may provide a safer and more practical alternative. This study aimed to describe the implementation of acupressure at the Hegu point (LI4) in reducing dysmenorrhea pain among adolescents. A descriptive case study design was employed involving two adolescent subjects with dysmenorrhea. The intervention consisted of Hegu point (LI4) acupressure administered once daily for three consecutive days. Pain intensity was assessed before and after the intervention using the Numeric Rating Scale (NRS). The instruments used included a standard operating procedure, a pain assessment form, and an observation sheet. The findings demonstrated a reduction in pain intensity in both subjects. In subject 1, the pain score decreased from 5 to 1, while in subject 2 it decreased from 6 to 2 after three days of intervention. These findings indicate that the implementation of Hegu point (LI4) acupressure was associated with a reduction in dysmenorrhea pain in both subjects. This therapy may serve as a potential non-pharmacological nursing intervention that can be performed independently; however, the findings remain descriptive and are limited by the small number of subjects.
Implementasi Terapi Teknik Grounding (Stress Ball) Dalam Menurunkan Perilaku Self-Harm pada Pasien Halusinasi Pendengaran di Panti Sosial Bina Laras Cipayung Salsabila, Aura; Fahruji, Aziz; Wulandari, Nur Afni
Jurnal Manajemen Kesehatan dan Keperawatan Vol. 3 No. 1 (2026): Jurnal Manajemen Kesehatan dan Keperawatan
Publisher : Universitas Dirgantara Marsekal Suryadarma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35968/dt4bbr21

Abstract

Halusinasi pendengaran, terutama yang bersifat memerintah, dapat meningkatkan risiko perilaku menyakiti diri (self-harm) pada pasien dengan gangguan jiwa. Intervensi nonfarmakologis yang sederhana dan aplikatif diperlukan untuk membantu pasien mengalihkan perhatian dari stimulus halusinatif ke realitas. Penelitian ini bertujuan menggambarkan implementasi terapi teknik grounding menggunakan stress ball dalam menurunkan perilaku self-harm pada pasien dengan halusinasi pendengaran di Panti Sosial Bina Laras Cipayung. Penelitian ini menggunakan desain studi kasus deskriptif pada tiga pasien yang mengalami halusinasi pendengaran disertai perilaku self-harm. Intervensi diberikan selama empat hari. Pengukuran tingkat self-harm dilakukan sebelum dan sesudah intervensi menggunakan Self-Harm Screening Inventory (SHSI), disertai observasi langsung dan pencatatan respon harian pasien. Hasil menunjukkan adanya penurunan skor self-harm pada seluruh responden, yaitu dari 7 menjadi 2 pada responden 1, dari 11 menjadi 3 pada responden 2, dan dari 14 menjadi 5 pada responden 3. Selama intervensi, pasien juga tampak lebih mampu mengalihkan fokus dari isi halusinasi, lebih tenang, dan lebih kooperatif. Temuan ini menunjukkan bahwa teknik grounding menggunakan stress ball berpotensi membantu menurunkan perilaku self-harm pada pasien dengan halusinasi pendengaran. Intervensi ini dapat dipertimbangkan sebagai salah satu pendekatan nonfarmakologis sederhana dalam praktik keperawatan jiwa, meskipun penelitian lebih lanjut dengan jumlah sampel yang lebih besar masih diperlukan.   Auditory hallucinations, particularly command hallucinations, may increase the risk of self-harming behavior in patients with mental disorders. A simple and practical non-pharmacological intervention is needed to help patients shift their attention from hallucinatory stimuli to reality. This study aimed to describe the implementation of a grounding technique using a stress ball to reduce self-harming behavior among patients with auditory hallucinations at Panti Sosial Bina Laras Cipayung. A descriptive case study design was employed involving three patients who experienced auditory hallucinations accompanied by self-harming behavior. The intervention was administered for four days. The level of self-harm was assessed before and after the intervention using the Self-Harm Screening Inventory (SHSI), supported by direct observation and daily response records. The results showed a decrease in self-harm scores in all participants, from 7 to 2 in respondent 1, from 11 to 3 in respondent 2, and from 14 to 5 in respondent 3. During the intervention, patients also appeared more able to shift their focus away from hallucinatory content, became calmer, and showed better cooperation. These findings indicate that the grounding technique using a stress ball may help reduce self-harming behavior in patients with auditory hallucinations. This intervention may be considered a simple non-pharmacological approach in psychiatric nursing practice; however, further studies with larger samples are needed.