cover
Contact Name
Muhammad Hadi Widanto
Contact Email
lppm@unsurya.ac.id
Phone
+6282113935439
Journal Mail Official
lppm@unsurya.ac.id
Editorial Address
LPPM Universitas Dirgantara Marsekal Suryadarma Kampus A Universitas Dirgantara Marsekal Suryadarma lt. 2 No. 210 Jl. Halim Perdana Kusuma No.1, RT.1/RW.9, Halim Perdana Kusuma Kec. Makasar, Kota Jakarta Timur, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 13610
Location
Kota adm. jakarta timur,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Manajemen Kesehatan dan Keperawatan
ISSN : 3063069X     EISSN : 30629225     DOI : https://doi.org/10.35968/7v6eq255
Core Subject : Health,
AIM Tujuan utama dari jurnal ini adalah untuk menyediakan platform bagi para Mahasiswa, Dosen, Peneliti, praktisi profesional di bidang kesehatan untuk berbagi pengetahuan, pengalaman, dan penelitian terkini yang relevan dengan manajemen kesehatan dan keperawatan. Kami bertujuan untuk mendorong pertukaran gagasan yang inovatif dan solusi praktis yang dapat meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan dan pengelolaan sumber daya di berbagai konteks pelayanan kesehatan. SCOPE Jurnal ini mencakup berbagai topik dalam manajemen kesehatan dan keperawatan, termasuk namun tidak terbatas pada: Strategi manajemen kesehatan Kebijakan kesehatan dan peraturan Manajemen operasional rumah sakit dan fasilitas kesehatan lainnya Manajemen sumber daya manusia di bidang kesehatan Inovasi dalam manajemen layanan kesehatan Penggunaan teknologi informasi dalam manajemen kesehatan Manajemen risiko dan kualitas dalam pelayanan kesehatan Manajemen keperawatan klinis dan administratif Evaluasi dan penelitian kesehatan masyarakat Kolaborasi lintas disiplin dalam manajemen kesehatan Keperawatan medikal bedah Keperawatan Kegawatdaruratan dan bencana keperawatan anak keperawatan maternitas keperawatan jiwa keperawatan gerontik keperawatan komunitas manajemen dan kepemimpinan keperawatan Jurnal ini menyambut kontribusi dari para peneliti, praktisi, akademisi, dan pemangku kepentingan lainnya yang tertarik dalam pengembangan teori dan praktik manajemen kesehatan dan keperawatan.
Articles 65 Documents
Efektivitas Terapi Bermain Origami Terhadap Perkembangan MotorikHalus Pada Anak Usia Pra Sekolah Nazwa, Widya Raya; Fitri Anggraeni; Dwi Ambarwati
Jurnal Manajemen Kesehatan dan Keperawatan Vol. 2 No. 3 (2025): Jurnal Manajemen Kesehatan dan Keperawatan
Publisher : Universitas Dirgantara Marsekal Suryadarma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35968/h2w1fs96

Abstract

Perkembangan motorik halus pada anak usia prasekolah merupakan aspek penting yang memengaruhi kemampuan belajar dan aktivitas sehari-hari. Banyak anak prasekolah, termasuk di PSAA Balita Tunas Bangsa, mengalami hambatan dalam perkembangan ini. Terapi bermain origami diyakini dapat menstimulasi motorik halus anak, namun masih sedikit penelitian yang dilakukan di lingkungan panti asuhan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dampak terapi bermain origami terhadap perkembangan motorik halus anak usia prasekolah di PSAA Balita Tunas Bangsa. Penelitian menggunakan desain studi kasus deskriptif kuantitatif dengan pendekatan purposive sampling terhadap 6 anak usia 5–6 tahun. Data dikumpulkan melalui observasi menggunakan KPSP dan lembar observasi terapi origami, kemudian dianalisis secara naratif dan tabulatif. Skor KPSP pre-test dan post-test menunjukkan nilai maksimal tiga pada semua subjek, menandakan perkembangan motorik halus yang sesuai. Namun, hasil observasi selama tiga hari menunjukkan peningkatan kemampuan koordinasi tangan dan ketelitian gerakan, dengan rata-rata skor meningkat dari 3,0 menjadi 4,5. Hasil ini menunjukkan bahwa terapi bermain origami efektif sebagai stimulasi perkembangan motorik halus dan dapat diterapkan oleh orang tua maupun institusi, serta menjadi referensi bagi mahasiswa keperawatan dalam pengembangan ilmu dan penelitian selanjutnya.   Fine motor development in preschool-aged children is a crucial aspect that influences their learning ability and daily activities. Many preschoolers, including those at PSAA Balita Tunas Bangsa, experience delays in this area. Origami play therapy is believed to stimulate fine motor skills, yet research in orphanage settings remains limited. This study aims to determine the impact of origami play therapy on the fine motor development of preschool children at PSAA Balita Tunas Bangsa. The study used a descriptive case study with a quantitative approach and purposive sampling involving 6 children aged 5–6 years. Data were collected through observations using the KPSP and origami therapy observation sheets, then analyzed narratively and in tabular form. KPSP pre-test and post-test scores showed the maximum score (3) for all subjects, indicating appropriate fine motor development. However, observations over three days revealed an improvement in hand coordination and precision of movement, with the average score increasing from 3.0 to 4.5. These results indicate that origami play therapy is effective as a stimulation method for fine motor development and can be applied by parents and institutions, as well as serve as a reference for nursing students in advancing knowledge and future research.
Efektivitas Terapi Bermain Meronce Manik Terhadap Perkembangan Motorik Halus Pada Anak Usia Pra Sekolah Hasna, Sania; Fitri Anggraeni; Dwi Ambarwati
Jurnal Manajemen Kesehatan dan Keperawatan Vol. 2 No. 3 (2025): Jurnal Manajemen Kesehatan dan Keperawatan
Publisher : Universitas Dirgantara Marsekal Suryadarma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35968/c31e5p72

Abstract

Berdasarkan data UNICEF, sekitar 27,5% anak usia 3–6 tahun mengalami gangguan perkembangan motorik. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh terapi bermain meronce manik terhadap perkembangan motorik halus anak usia pra sekolah di PSAA Balita Tunas Bangsa Cipayung. Desain penelitian ini adalah studi kasus dengan pendekatan deskriptif dan teknik purposive sampling. Instrumen yang digunakan meliputi wawancara, KPSP motorik halus, dan lembar observasi aktivitas meronce. Hasil menunjukkan bahwa meskipun skor KPSP tetap stabil (3:3) dengan kategori "Sesuai", rata-rata persentase perkembangan motorik halus meningkat dari 83,3% menjadi 97,2%, termasuk dalam kategori "Berkembang Sangat Baik". Kesimpulannya, terapi bermain meronce manik efektif dalam mendukung perkembangan motorik halus anak pra sekolah.   According to UNICEF data, approximately 27.5% of children aged 3–6 years experience delays in motor development. This study aims to evaluate the effect of bead-stringing play therapy on the fine motor development of preschool-aged children at PSAA Balita Tunas Bangsa Cipayung. This research used a case study design with a descriptive approach and purposive sampling technique. The instruments used included interviews, the fine motor section of the KPSP, and observation sheets of the bead-stringing activities. The results showed that although the KPSP scores remained stable (3:3) with a "Appropriate" category, the average percentage of fine motor development increased from 83.3% to 97.2%, falling into the "Very Well Developed" category. In conclusion, bead-stringing play therapy is effective in supporting the fine motor development of preschool children.
SIP-DAL (Sistem Informasi Pemulangan: Dengarkan, Ajarkan, Dan Bekali) Dalam Meningkatkan Mutu Pelayanan Discharge Planning Di RS Perkebunan Jember, Klinik Jember zainudin, harsah bahtiar; Khoirul Romadhan; Tantut Susanto; Niken Wahyu Puspitarini
Jurnal Manajemen Kesehatan dan Keperawatan Vol. 2 No. 3 (2025): Jurnal Manajemen Kesehatan dan Keperawatan
Publisher : Universitas Dirgantara Marsekal Suryadarma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35968/q92pxc06

Abstract

Manajemen keperawatan berperan penting dalam menjaga mutu layanan kesehatan, salah satunya melalui perencanaan pemulangan pasien (discharge planning). Edukasi pemulangan sering belum optimal karena tidak adanya media standar, materi yang tidak seragam, dan penyampaian informasi yang terburu-buru, sehingga berpotensi meningkatkan angka readmisi dan menurunkan kepuasan pasien. Penelitian ini mengembangkan inovasi Sistem Informasi Pemulangan: Dengarkan, Ajarkan, dan Bekali (SIP-DAL) untuk meningkatkan efektivitas discharge planning di Ruang Anthurium 3 RS Perkebunan Jember Klinik. Metode yang digunakan mencakup pendekatan partisipatif melalui pengkajian 6M, analisis USG, penyusunan inovasi berbasis SWOT, implementasi, dan evaluasi. Inovasi diwujudkan dalam bentuk booklet edukasi digital berisi materi perawatan, penggunaan obat, tanda bahaya, jadwal kontrol, dan modifikasi gaya hidup yang diakses melalui QR Code dan Google Drive. Uji coba pada 20 pasien menunjukkan peningkatan pemahaman hingga 100% dan kemudahan akses media sebesar 80%.. SIP-DAL terbukti efektif meningkatkan pemahaman pasien, mendukung akreditasi rumah sakit, serta berpotensi menurunkan angka readmisi dan meningkatkan kepuasan pasien. Program ini layak diintegrasikan ke dalam standar operasional prosedur pelayanan keperawatan dan dikembangkan lebih lanjut untuk optimalisasi mutu layanan.   Nursing management plays an important role in maintaining the quality of healthcare services, one of which is through effective discharge planning. Patient discharge education is often suboptimal due to the absence of standardized media, inconsistent educational materials, and the hurried delivery of information, which may increase readmission rates and decrease patient satisfaction. This study developed the Discharge Information System: Listen, Teach, and Equip (SIP-DAL) to enhance the effectiveness of discharge planning in the Anthurium 3 Ward of Jember Klinik Plantation Hospital. The method employed a participatory approach consisting of 6M assessment, USG analysis, SWOT-based innovation design, implementation, and evaluation. The innovation was realized in the form of a digital educational booklet containing materials on home care, medication usage, warning signs, follow-up schedules, and lifestyle modification, accessible via QR Code and Google Drive. A trial conducted on 20 patients demonstrated a 100% improvement in patient understanding and 80% satisfaction with the accessibility of the digital media. SIP-DAL proved effective in improving patient comprehension, supporting hospital accreditation, and potentially reducing readmission rates while enhancing patient satisfaction. This program is recommended for integration into the standard operating procedures of nursing services and further development to optimize service quality.    
Implementasi Penggunaan Gadget Terhadap Perkembangan Bahasa Pada Anak Usia Pra Sekolah ayuvinansi, hilda; Fitri Anggraeni; Dwi Ambarwati
Jurnal Manajemen Kesehatan dan Keperawatan Vol. 2 No. 3 (2025): Jurnal Manajemen Kesehatan dan Keperawatan
Publisher : Universitas Dirgantara Marsekal Suryadarma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35968/zweckz70

Abstract

Kemajuan teknologi informasi mendorong peningkatan penggunaan gadget, termasuk pada anak usia prasekolah (5–6 tahun), yang berdampak terhadap kemampuan komunikasi dan proses pembelajaran. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan pengaruh penggunaan gadget terhadap perkembangan bahasa anak usia prasekolah di wilayah RT 06/RW 12 PGT V Kelurahan Halim. Penggunaan gadget yang diarahkan secara tepat berpotensi mendukung perkembangan kognitif, sementara pemakaian berlebihan berisiko mengurangi interaksi sosial serta memperlambat pencapaian kemampuan bahasa. Penelitian menggunakan pendekatan deskriptif melalui metode studi kasus. Subjek terdiri dari empat anak yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Data dikumpulkan melalui wawancara, Kuesioner Pra Skrining Perkembangan (KPSP), dan lembar observasi penggunaan gadget. Intervensi berlangsung selama tiga hari, dari 1 hingga 3 Mei 2025. Hasil menunjukkan adanya peningkatan skor observasi perkembangan bahasa, dari rata-rata pre-test 2,3 (kategori Belum Berkembang) menjadi 4,5 (kategori Berkembang) pada post-test, dengan selisih 2,2 poin. Sementara hasil KPSP menunjukkan seluruh subjek berada dalam kategori sesuai usia. Temuan ini menunjukkan adanya perubahan setelah intervensi gadget yang diarahkan, dengan penggunaan yang disesuaikan pada tahapan usia perkembangan anak.   The development of information technology has driven the increased use of gadgets, including among preschool children (ages 5–6), which impacts communication and learning. This study examines the effects of gadget use on the language development of preschool children in RT 06/RW 12 PGT V, Halim Subdistrict. While controlled gadget use can support cognitive development, excessive use may reduce social interaction and hinder language development. This research employs a descriptive case study approach. The subjects consisted of four children selected using purposive sampling. Data were collected through interviews, the Pre-Screening Developmental Questionnaire (KPSP), and observation sheets on gadget use. The study, conducted from May 1 to 3, 2025, revealed an improvement in language skills following gadget use intervention. Based on the KPSP results, children's language development remained in the stable category. Meanwhile, observation results showed that the pre-test score of 2.3 (categorized as Not Yet Developed) increased to 4.5 in the post-test (categorized as Developed), with a difference of 2.2 points.Thus, wisely and appropriately implemented gadget use has been proven to have a positive impact on the language development of preschool children. Gadgets can serve as an alternative medium for language stimulation, provided they are used in accordance with the child’s developmental needs.
Si-MANTAP (Sistem Inovasi Manajemen dan Tata Pengawasan Asuhan Keperawatan) pada Ruang Anthurium 2, Rumah Sakit Perkebunan Jember Bayu Tri Utami; Dekcy Vrista Tri Anggoro; Tantut Susanto; Dwi Lianasari
Jurnal Manajemen Kesehatan dan Keperawatan Vol. 2 No. 3 (2025): Jurnal Manajemen Kesehatan dan Keperawatan
Publisher : Universitas Dirgantara Marsekal Suryadarma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35968/hnqt1p85

Abstract

Kelengkapan dokumentasi asuhan keperawatan merupakan indikator penting mutu pelayanan dan keselamatan pasien, namun masih sering terhambat oleh lemahnya sistem supervisi serta rendahnya konsistensi perawat dalam pengisian rekam medis elektronik (ERM). Penelitian ini bertujuan untuk mengimplementasikan dan mengevaluasi efektivitas program SI-MANTAP (Sistem Inovasi Manajemen dan Tata Pengawasan Asuhan Keperawatan) sebagai inovasi supervisi berbasis digital untuk meningkatkan kelengkapan dokumentasi keperawatan di ruang Anthurium 2 Rumah Sakit Perkebunan Jember Klinik. Penelitian menggunakan desain pre–post implementation study dengan pendekatan deskriptif kuantitatif. Kegiatan meliputi sosialisasi, simulasi, dan implementasi supervisi berbasis teknologi melalui Google Form yang diisi secara real time oleh kepala ruang dan ketua tim selama periode 4–16 Agustus 2025. Data kelengkapan dokumentasi dievaluasi berdasarkan lima indikator: pengkajian awal, diagnosa keperawatan, perencanaan/intervensi, implementasi, dan evaluasi keperawatan. Hasil menunjukkan adanya peningkatan signifikan dari hari ke hari: pada awal pelaksanaan, kelengkapan pengkajian awal hanya mencapai 50% dan evaluasi 0%, sedangkan setelah penerapan reminder elektronik meningkat menjadi 91,7% di hari kedua dan mencapai 100% pada seluruh indikator di hari ketiga. Implementasi SI-MANTAP terbukti mampu meningkatkan kepatuhan perawat terhadap standar SDKI, SIKI, dan SOP melalui supervisi digital yang terstruktur. SI-MANTAP terbukti efektif sebagai inovasi manajemen keperawatan dalam memperkuat mutu dokumentasi berbasis ERM dan mendukung peningkatan keselamatan pasien. The completeness of nursing care documentation is a key indicator of service quality and patient safety; however, it is often hindered by weak supervision systems and inconsistent nurse compliance in electronic medical record (ERM) documentation. This study aimed to implement and evaluate the effectiveness of the SI-MANTAP (System for Innovation in Management and Supervision of Nursing Care) program as a digital-based supervision innovation to improve the completeness of nursing documentation in the Anthurium 2 ward of RSP Jember Klinik. This study employed a pre–post implementation design with a descriptive quantitative approach. The activities included socialization, simulation, and digital-based supervision using real-time Google Form submissions by ward heads and team leaders from August 4th to 16th, 2025. Documentation completeness was evaluated through five indicators: initial assessment, nursing diagnosis, planning/intervention, implementation, and evaluation. The results indicated a significant daily improvement: at the beginning, initial assessments were 50% complete and evaluations 0%, which increased to 91.7% on the second day and achieved 100% across all indicators on the third day after introducing an electronic reminder system. The implementation of SI-MANTAP effectively enhanced nurses’ compliance with SDKI, SIKI, and SOP standards through structured digital supervision. In conclusion, SI-MANTAP proved to be an effective nursing management innovation that improves ERM-based documentation quality and supports patient safety enhancement.  
Literatur Review: Hubungan Kepemimpinan Transformasional dengan Depresi pada Anak Usia Sekolah Saputri, Iga Ayu; Dwiantoro, Luky
Jurnal Manajemen Kesehatan dan Keperawatan Vol. 2 No. 3 (2025): Jurnal Manajemen Kesehatan dan Keperawatan
Publisher : Universitas Dirgantara Marsekal Suryadarma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35968/x6w1xs13

Abstract

Masa usia sekolah merupakan periode penting dalam perkembangan anak, di mana berbagai tantangan sosial dan emosional mulai muncul. Salah satu masalah yang dapat terjadi adalah depresi, yang dipengaruhi oleh faktor lingkungan, termasuk gaya kepemimpinan perawat dalam memberikan asuhan dan pembinaan. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi hubungan antara kepemimpinan transformasional perawat dan penurunan risiko depresi pada anak usia sekolah. Kajian ini menggunakan metode literature review melalui penelusuran artikel ilmiah yang diterbitkan antara tahun 2018–2024 dari database PubMed, Scopus, dan Google Scholar dengan kata kunci “transformational leadership”, “nurse”, “depression”, dan “school-age children”. Sebanyak 10 artikel memenuhi kriteria inklusi dan dianalisis menggunakan pendekatan sintesis tematik. Hasil kajian menunjukkan bahwa penerapan kepemimpinan transformasional perawat—meliputi perilaku karismatik, motivasi inspirasional, stimulasi intelektual, dan perhatian individual—berkontribusi terhadap peningkatan dukungan emosional anak, penguatan resiliensi psikologis, serta penurunan risiko depresi. Kesimpulannya, gaya kepemimpinan transformasional memiliki peran penting dalam menciptakan lingkungan asuhan keperawatan yang suportif bagi kesehatan mental anak usia sekolah. Penelitian selanjutnya disarankan untuk mengevaluasi efektivitas model intervensi kepemimpinan transformasional perawat terhadap pencegahan depresi anak secara empiris.   The school-age period represents a critical stage of child development, during which various social and emotional challenges begin to emerge. One of the issues that may occur is depression, which can be influenced by environmental factors, including the leadership style of nurses in providing care and guidance. This study aims to identify the relationship between nurses’ transformational leadership and the reduction of depression risk among school-age children. This review employed a literature review method by searching scientific articles published between 2018 and 2024 from PubMed, Scopus, and Google Scholar databases using the keywords “transformational leadership,” “nurse,” “depression,” and “school-age children.” A total of 10 eligible articles were analyzed using thematic synthesis. The findings indicate that nurses’ transformational leadership—consisting of charismatic behavior, inspirational motivation, intellectual stimulation, and individualized consideration—contributes to enhancing children’s emotional support, strengthening psychological resilience, and reducing the risk of depression. In conclusion, transformational leadership plays a significant role in fostering a supportive nursing environment for school-age children’s mental health. Further empirical studies are recommended to evaluate the effectiveness of transformational leadership-based nursing interventions in preventing childhood depression.
Hubungan Work-Life Balance dan Beban Kerja dengan Keinginan Pindah Kerja pada Perawat Rumah Sakit X Isnita Dewi Fortuna
Jurnal Manajemen Kesehatan dan Keperawatan Vol. 2 No. 3 (2025): Jurnal Manajemen Kesehatan dan Keperawatan
Publisher : Universitas Dirgantara Marsekal Suryadarma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35968/w4cv8g17

Abstract

Work-life balance menjadi isu penting bagi tenaga kesehatan, khususnya perawat, karena tingginya tekanan kerja menuntut kinerja optimal dan membuat perawat harus menyelesaikan berbagai tugas secara bersamaan. Penelitian ini bertujuan menganalisis work-life balance, beban kerja, dan keinginan pindah kerja pada perawat serta mengidentifikasi hubungan di antara ketiga variabel tersebut. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif deskriptif korelasional dengan 35 responden perawat. Data dikumpulkan melalui kuesioner yang mengukur tingkat work-life balance, beban kerja, dan keinginan pindah kerja, kemudian dianalisis secara deskriptif untuk melihat distribusi frekuensi, persentase, dan arah hubungan antarvariabel. Hasil penelitian menunjukkan sebagian besar responden memiliki work-life balance tinggi (48,6%), beban kerja berat (42,8%), dan keinginan pindah kerja tinggi (42,5%). Terdapat kecenderungan hubungan negatif antara work-life balance dan keinginan pindah kerja, hubungan positif antara beban kerja dan keinginan pindah kerja, serta hubungan negatif antara work-life balance dan beban kerja. Semakin baik keseimbangan kehidupan kerja perawat, semakin rendah keinginan mereka untuk berpindah kerja, sedangkan beban kerja yang tinggi meningkatkan keinginan tersebut. Manajemen rumah sakit diharapkan dapat meningkatkan work-life balance melalui penjadwalan kerja yang fleksibel, dukungan sosial, dan pembagian beban kerja yang proporsional.   Work-life balance has become a crucial issue among healthcare professionals, particularly nurses, as high job demands require optimal performance and simultaneous completion of multiple tasks. This study aims to analyze work-life balance, workload, and turnover intention among nurses, as well as to identify the relationships among these variables. A quantitative descriptive-correlational approach was used with 35 nurse respondents. Data were collected using questionnaires measuring levels of work-life balance, workload, and turnover intention, and were analyzed descriptively to determine frequency distribution, percentages, and relationship tendencies among variables. The results show that most respondents had a high level of work-life balance (48.6%), a heavy workload (42.8%), and a high turnover intention (42.5%). There was a negative relationship between work-life balance and turnover intention, a positive relationship between workload and turnover intention, and a negative relationship between work-life balance and workload. The findings indicate that better work-life balance lowers nurses’ intention to leave, while heavier workloads increase it. Hospital management is expected to improve nurses’ work-life balance through flexible scheduling, social support, and proportional workload distribution.
Implementasi Edukasi terhadap Pengetahuan Bahaya Seks Bebas pada Usia Remaja Indriastuti, Deby; Fitri Anggraeni; Dwi Ambarwati
Jurnal Manajemen Kesehatan dan Keperawatan Vol. 2 No. 4 (2026): Jurnal Manajemen Kesehatan dan Keperawatan
Publisher : Universitas Dirgantara Marsekal Suryadarma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35968/eqc3cs61

Abstract

Pergaulan bebas pada remaja di era milenial masih menjadi isu serius, terutama karena kemajuan teknologi yang memudahkan akses informasi, termasuk yang berisiko. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana implementasi Edukasi terhadap pengetahuan bahaya seks bebas pada usia remaja. Penelitian ini menggunakan desain studi kasus dengan pendekatan deskriptif, melibatkan 32 siswa yang dipilih melalui teknik purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner berisi 20 pertanyaan dengan skala Guttman, di mana setiap jawaban yang benar diberikan nilai 1 dan jawaban yang salah diberikan nilai 0. Proses pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dalam tiga tahap, yaitu dimulai dengan pelaksanaan pre-test untuk mengukur pengetahuan awal, kemudian dilanjutkan dengan pemberian edukasi mengenai bahaya seks bebas, dan diakhiri dengan post-test guna mengevaluasi efektivitas dari edukasi yang telah diberikan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebelum edukasi, 31,25% siswa berada pada kategori pengetahuan rendah, 46,87% cukup, dan 21,80% baik. Setelah edukasi, siswa dengan pengetahuan rendah menurun menjadi 15,62%, kategori cukup menjadi 25%, dan kategori baik meningkat menjadi 59,38%. Rata-rata nilai pengetahuan meningkat dari 62,81 menjadi 78,90 setelah edukasi dilakukan. Kesimpulan yang diperoleh menunjukkan bahwa edukasi efektif dalam meningkatkan pemahaman remaja terhadap bahaya seks bebas.   Free socializing among teenagers in the millennial era remains a serious issue, especially due to technological advances that facilitate access to information, including risky content. This study aims to examine the implementation of Health Education on teenagers' knowledge about the dangers of free sex. The research uses a case study design with a descriptive approach, involving 32 students selected through purposive sampling. Data collection was conducted using a questionnaire containing 20 questions with a Guttman scale, where each correct answer was scored 1 and each incorrect answer scored 0. The data collection process was carried out in three stages: starting with a pre-test to measure initial knowledge, followed by providing education about the dangers of free sex, and concluding with a post-test to evaluate the effectiveness of the education given. The results showed that before the education, 31.25% of students were in the low knowledge category, 46.87% moderate, and 21.80% high. After the education, the percentage of students with low knowledge decreased to 15.62%, moderate to 25%, and those with high knowledge increased to 59.38%. The average knowledge score rose from 62.81 to 78.90 after the education was conducted. The conclusion indicates that health education is effective in improving teenagers' understanding of the dangers of free sex.
Efektivitas Aromaterapi Lemon dalam Mengurangi Nyeri Dismenorea pada Remaja Ajeng Putri Salsabil; Meylawati, Luluk Eka; Rahayu, Wahyuni Dwi
Jurnal Manajemen Kesehatan dan Keperawatan Vol. 2 No. 4 (2026): Jurnal Manajemen Kesehatan dan Keperawatan
Publisher : Universitas Dirgantara Marsekal Suryadarma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35968/cyvena72

Abstract

Dismenorea adalah keluhan nyeri saat menstruasi yang umum terjadi pada remaja putri dan dapat mengganggu aktivitas, kualitas tidur, serta konsentrasi. Salah satu terapi non-farmakologis yang dapat digunakan adalah aromaterapi lemon. Penelitian ini bertujuan mengetahui efektivitas aromaterapi lemon dalam menurunkan tingkat nyeri dismenorea pada remaja. Metode penelitian ini menggunakan desain studi kasus deskriptif dengan dua subjek yang mengalami dismenorea ringan hingga sedang, dipilih melalui kriteria inklusi dan eksklusi. Penelitian dilaksanakan di Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Dirgantara Marsekal Suryadarma pada bulan April hingga Mei 2025. Intervensi dilakukan dengan pemberian aromaterapi lemon melalui diffuser berisi 3 tetes minyak esensial lemon, 2×/hari selama 2 hari. Tingkat nyeri diukur menggunakan Numeric Rating Scale (NRS). Hasil menunjukkan skala nyeri subjek I menurun dari 6 menjadi 0, dan subjek II dari 5 menjadi 2 setelah intervensi. Penurunan nyeri menunjukkan bahwa aromaterapi lemon dapat digunakan sebagai terapi komplementer untuk mengurangi nyeri menstruasi. Karena jumlah subjek sangat terbatas, penelitian ini memiliki keterbatasan dan tidak dapat digeneralisasi. Namun demikian, hasil ini memberikan gambaran awal mengenai potensi aromaterapi lemon dalam penanganan dismenorea.   Dysmenorrhea is a common menstrual pain complaint among adolescent girls and can disrupt activities, sleep quality, and concentration. One non-pharmacological therapy that can be used is lemon aromatherapy. This study aims to determine the effectiveness of lemon aromatherapy in reducing dysmenorrhea pain levels in adolescents. This research method used a descriptive case study design with two subjects experiencing mild to moderate dysmenorrhea, selected through inclusion and exclusion criteria. The study was conducted at the Faculty of Health Sciences, Marshal Suryadarma Air Force University from April to May 2025. The intervention was carried out by administering lemon aromatherapy through a diffuser containing 3 drops of lemon essential oil, 2x/day for 2 days. Pain levels were measured using the Numeric Rating Scale (NRS). The results showed that subject I's pain scale decreased from 6 to 0, and subject II's from 5 to 2 after the intervention. The decrease in pain indicates that lemon aromatherapy can be used as a complementary therapy to reduce menstrual pain. Due to the very limited number of subjects, this study has limitations and cannot be generalized. However, these results provide an initial overview of the potential of lemon aromatherapy in the treatment of dysmenorrhea.
Efektivitas Terapi Bermain Kata Terhadap Perkembangan Bahasa Pada Anak Usia Pra Sekolah Azrina, Natasha Putri; Fitri Anggraeni; Dwi Ambarwati
Jurnal Manajemen Kesehatan dan Keperawatan Vol. 2 No. 4 (2026): Jurnal Manajemen Kesehatan dan Keperawatan
Publisher : Universitas Dirgantara Marsekal Suryadarma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35968/av91jy21

Abstract

Menurut World Health Organization (WHO), gangguan perkembangan bahasa terjadi cukup tinggi di seluruh dunia, dengan angka sebesar 27,5% atau sekitar tiga juta anak. Di Indonesia, Kementerian Kesehatan pada tahun 2023 melaporkan sekitar 0,4 juta (16%) anak mengalami gangguan perkembangan. Salah satu hambatan umum pada anak usia pra sekolah adalah keterlambatan bicara yang berdampak pada kemampuan membaca, verbal, sosial, psikososial, dan prestasi akademik. Oleh karena itu, dibutuhkan strategi efektif dan menyenangkan dalam pembelajaran, baik dari segi metode maupun media, untuk meningkatkan minat dan partisipasi anak. Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh terapi bermain kata terhadap perkembangan bahasa anak usia pra sekolah dengan keterlambatan bicara di PSAA Balita Tunas Bangsa. Desain penelitian menggunakan studi kasus dengan pendekatan deskriptif. Metode yang digunakan non probability sampling dengan pendekatan teknik purposive sampling. Sampel berjumlah 4 anak (2 laki-laki dan 2 perempuan) dengan mayoritas berusia 3 tahun 6 bulan. Instrumen yang digunakan berupa wawancara, lembar observasi bermain kata, dan KPSP. Hasil menunjukkan nilai rata-rata perkembangan bahasa sebelum terapi adalah 1,43 (kurang) dan setelah terapi meningkat menjadi 2,81 (baik) dengan selisih 1,38. Hasil ini menunjukkan bahwa terapi bermain kata efektif meningkatkan perkembangan bahasa pada anak usia pra sekolah dengan keterlambatan bicara di PSAA Balita Tunas Bangsa.   According to the World Health Organization (WHO), language development disorders occur at a relatively high rate worldwide, with a prevalence of 27.5% (3million children. In Indonesia, the Ministry of Health reported in 2023 that around 0.4 million (16%) children experience developmental disorders. One common obstacle among preschool-aged children is speech delay, which affects reading ability, verbal skills, social and psychosocial development, and academic performance. Therefore, effective and enjoyable learning strategies, both in terms of methods and media, are needed to enhance children’s interest and participation. This study aims to examine the effect of word play therapy on the language development of preschool children with speech delays at PSAA Balita Tunas Bangsa. The research design uses a case study with a descr  iptive approach. The method applied is non-probability sampling with a purposive sampling technique. The sample consisted of 4 children (2 boys and 2 girls), the majority of whom were 3 years and 6 months old. The instruments used included interviews, word play observation sheets, and KPSP. The results showed that the average language development score before therapy was 1.43 (poor), which increased to 2.81 (good) after therapy, with a difference of 1.38. These results indicate that word play therapy is effective in improving language development in preschool children with speech delays at PSAA Balita Tunas Bangsa