cover
Contact Name
Muhammad Hadi Widanto
Contact Email
lppm@unsurya.ac.id
Phone
+6282113935439
Journal Mail Official
lppm@unsurya.ac.id
Editorial Address
LPPM Universitas Dirgantara Marsekal Suryadarma Kampus A Universitas Dirgantara Marsekal Suryadarma lt. 2 No. 210 Jl. Halim Perdana Kusuma No.1, RT.1/RW.9, Halim Perdana Kusuma Kec. Makasar, Kota Jakarta Timur, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 13610
Location
Kota adm. jakarta timur,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Manajemen Kesehatan dan Keperawatan
ISSN : 3063069X     EISSN : 30629225     DOI : https://doi.org/10.35968/7v6eq255
Core Subject : Health,
AIM Tujuan utama dari jurnal ini adalah untuk menyediakan platform bagi para Mahasiswa, Dosen, Peneliti, praktisi profesional di bidang kesehatan untuk berbagi pengetahuan, pengalaman, dan penelitian terkini yang relevan dengan manajemen kesehatan dan keperawatan. Kami bertujuan untuk mendorong pertukaran gagasan yang inovatif dan solusi praktis yang dapat meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan dan pengelolaan sumber daya di berbagai konteks pelayanan kesehatan. SCOPE Jurnal ini mencakup berbagai topik dalam manajemen kesehatan dan keperawatan, termasuk namun tidak terbatas pada: Strategi manajemen kesehatan Kebijakan kesehatan dan peraturan Manajemen operasional rumah sakit dan fasilitas kesehatan lainnya Manajemen sumber daya manusia di bidang kesehatan Inovasi dalam manajemen layanan kesehatan Penggunaan teknologi informasi dalam manajemen kesehatan Manajemen risiko dan kualitas dalam pelayanan kesehatan Manajemen keperawatan klinis dan administratif Evaluasi dan penelitian kesehatan masyarakat Kolaborasi lintas disiplin dalam manajemen kesehatan Keperawatan medikal bedah Keperawatan Kegawatdaruratan dan bencana keperawatan anak keperawatan maternitas keperawatan jiwa keperawatan gerontik keperawatan komunitas manajemen dan kepemimpinan keperawatan Jurnal ini menyambut kontribusi dari para peneliti, praktisi, akademisi, dan pemangku kepentingan lainnya yang tertarik dalam pengembangan teori dan praktik manajemen kesehatan dan keperawatan.
Articles 62 Documents
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kinerja Perawat di Rumah Sakit: Sebuah Studi Literatur Isnita Dewi Fortuna
Jurnal Manajemen Kesehatan dan Keperawatan Vol. 1 No. 4 (2025): Jurnal Manajemen Kesehatan dan Keperawatan
Publisher : Universitas Dirgantara Marsekal Suryadarma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35968/wnyrep90

Abstract

Kinerja perawat merupakan elemen kunci dalam sistem pelayanan kesehatan, yang mempengaruhi kualitas asuhan pasien, keselamatan, dan efisiensi operasional rumah sakit. Kajian teori ini bertujuan untuk menganalisis berbagai faktor yang mempengaruhi kinerja perawat di rumah sakit melalui pendekatan literature review dengan metode deskriptif kualitatif. Analisis dilakukan berdasarkan hasil penelitian dan literatur ilmiah dalam lima tahun terakhir, meliputi variable seperti self-efficacy, beban kerja, motivasi kerja, kepemimpinan, kepuasan kerja, kompetensi, serta budaya organisasi dan lingkungan kerja. Hasil kajian menunjukkan bahwa kinerja perawat dipengaruhi oleh kombinasi faktor internal, seperti keyakinan diri dan motivasi, serta faktor eksternal, termasuk gaya kepemimpinan, budaya organisasi, dan lingkungan kerja. Implikasi praktis dari kajian ini mencakup rekomendasi bagi manajemen rumah sakit untuk meningkatkan kinerja perawat melalui pengelolaan beban kerja, pelatihan berkala, penciptaan budaya kerja yang positif, dan pemberian insentif yang memotivasi. Penelitian mendatang diharapkan dapat mengesksplorasi interaksi antar variable dalam konteks rumah sakit yang lebih luas, termasuk variable seperti burnout, stress kerja, dan tingkat turnover, untuk memperkaya pemahaman tentang dinamika kinerja perawat.   Nurses’ performance is a critical element in a healthcare system, influencing patient care quality, safety, and hospital operational efficiency. This theoretical review aims to analyze various factors affecting nurses’ performance in hospitals through a literature review approach using a qualitative descriptive method. The analysis is based on research findings and scientific literatures from the last five years, covering variables such as self-efficacy, workload, work motivation, leadership, job satisfaction, competence, organizational culture, and work environment. This review reveals that nurses’ performance is influenced by a combination of internal factors, such as self-confidence and motivation, and external factors, including leadership style, organizational culture, and work environment. Practical implications of this study include recommendations for hospital management to enhance nurses’ performance by managing workloads, providing regular training, fostering a positive work culture, and offering motivational incentives. Future studies are encouraged to explore interactions between variables in broader hospital context, including variables such as burnout, work stress, and turnover rate, to enrich the understanding of the dynamics of nurses’ performance.
Efektivitas Edukasi Dalam Peningkatan Pengetahuan Infeksi Menular Seksual pada Remaja Yusri Ariansyah; Fitri Anggraeni; Dwi Ambarwati
Jurnal Manajemen Kesehatan dan Keperawatan Vol. 2 No. 1 (2025): Jurnal Manajemen Kesehatan dan Keperawatan
Publisher : Universitas Dirgantara Marsekal Suryadarma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35968/jhr52z04

Abstract

Pergaulan bebas berkaitan dengan gaya hidup dengan hubungan interpersonal intim tanpa ada komitmen yang jelas atau aturan yang ditetapkan, terutama dalam hubungan seksual. Hal ini sering berhubungan dengan kebebasan personal dan eksplorasi seksual, tetapi juga dapat memiliki konsekuensi yang serius. Pergaulan bebas dapat bervariasi, mulai dari hubungan non-monogami yang disepakati bersama hingga aktivitas seksual yang tidak bertanggung jawab dan amat sangat banyak kasus yang terjadi di kalangan remaja. Edukasi Infeksi Menular Seksual dalam Meningkatkan Pengetahuan Remaja di SMPN 268 Jakarta dengan tujuan untuk melihat atau mengetahui sejauh mana pengetahuan anak usia remaja tentang infeksi menular seksual di kalangan remaja. Subjek penelitian mengikutsertakan 32 orang dengan membandingkan pengetahuan sebelum dan setelah dilakukannya edukasi. Metode yang digunakan adalah metode pengumpulan data dengan instrumen yang digunakan adalah kuesioner yang dirancang menggunakan skala Guttman dengan 20 pernyataan untuk mengukur pengetahuan tentang infeksi menular seksual. Metode penilaian kuesioner ini sederhana, setiap jawaban benar diberi nilai 1, sementara jawaban salah diberi nilai 0. Teknik ini membantu peneliti untuk secara objektif mengukur peningkatan pengetahuan sebelum dan setelah sesi edukasi. Hasil penelitian ini perbandingan nilai rata-rata pengetahuan infeksi menular seksual sebelum dan sesudah dilakukan tindakan edukasi yaitu 54,71 : 71,40 menunjukkan adanya peningkatan sehingga implementasi edukasi dapat meningkatkan pengetahuan infeksi menular seksual pada remaja di SMPN 268 jakarta   Promiscuity is associated with a lifestyle involving intimate interpersonal relationships without clear commitment or established rules, particularly in the context of sexual relations. This behavior is often linked to personal freedom and sexual exploration, but it can also lead to serious consequences. Promiscuity can take various forms, ranging from consensual non-monogamous relationships to irresponsible sexual activities. A significant number of such cases are found among adolescents. The study titled "Sexually Transmitted Infection (STI) Education in Improving Adolescents' Knowledge at SMPN 268 Jakarta" aims to assess the level of knowledge among adolescents regarding sexually transmitted infections. The study involved 32 participants, with a comparative analysis of their knowledge before and after the educational intervention. The method employed in this study was data collection through a questionnaire. The instrument used was designed based on the Guttman scale, consisting of 20 statements intended to measure knowledge about STIs. The scoring system was straightforward: each correct answer was given a score of 1, while incorrect answers were scored 0. This method enabled the researchers to objectively evaluate the improvement in knowledge before and after the educational session. The results showed a significant increase in the average knowledge score, from 54.71 before the intervention to 71.40 after. This indicates that the implementation of educational sessions can effectively enhance adolescents’ understanding of sexually transmitted infections at SMPN 268 Jakarta.
Implementasi Pemberian Teh Rosela terhadap Penurunan Tekanan Darah Tinggi dengan Hipertensi  di Kelurahan Kebon Pala Braviero Boyadewa; Nawang pujiastuti; Khaerul Amri
Jurnal Manajemen Kesehatan dan Keperawatan Vol. 2 No. 1 (2025): Jurnal Manajemen Kesehatan dan Keperawatan
Publisher : Universitas Dirgantara Marsekal Suryadarma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35968/5fgkfr12

Abstract

Hipertensi merupakan tekanan darah sistolik lebih dari 140 mmHg dan tekanan darah diastolik lebih dari 90 mmHg, hipertensi disebut juga dengan tekanan darah tinggi. Banyak metode pengobatan untuk mengobati hipertensi muncul sebagai hasil kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi termasuk penggunaan obatobatan tradisional seperti kayu manis (cinnamomun zeylanicum) dan bunga rosela (Hibiscus sabdariffa). Tanaman seperti Hibiscus Sabdariffa (HS) kaya akan manfaat kesehatan antara lain antioksidan, dan efek antidislipidemia. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh terapi teh rosela pada keluarga yang anggotanya menderita hipertensi. Jenis penelitian yang akan diterapkan pada penelitian ini adalah deskriptif dengan pendekatan studi kasus model deskriptif komparatif. Kasus penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektifitas implementasi teh rosela terhadap penurunan tekanan darah. penelitian ini menggunakan pasien yang menderita penyakit hipertensi di kelurahan kebon pala dengan 2 subjek responden yang telah memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Setelah dilakukan pemberian terapi non-farmakologi teh rosela selama 7 hari pasien menunjukkan adanya perubahan tekanan darah rata-rata penurunan sistole 12 mmHg dan diastole 10 mmHg. Terapi pemberian teh rosela dapat menurunkan tekanan darah pada keluarga yang menderita hipertensi derajat 1 menjadi normal-tinggi.   Hypertension is a systolic blood pressure of more than 140 mmHg and a diastolic blood pressure of more than 90 mmHg, hypertension is also called high blood pressure. Many treatment methods for treating hypertension have emerged as a result of advances in science and technology including the use of traditional medicines such as cinnamon (cinnamomun zeylanicum) and roselle flowers (Hibiscus sabdariffa). Plants such as Hibiscus Sabdariffa (HS) are rich in health benefits including antioxidants and antidyslipidemia effects. The aim of this research is to determine the effect of roselle tea therapy on families whose members suffer from hypertension. The type of research that will be applied in this research is descriptive witht a comparative descriptive model case study approach. This research case aims to determine the effectiveness of the implementation of rosella tea on lowering blood pressure. this study used patients suffering from hypertension in the Kebon Pala sub-district with 2 respondent subjects who met the inclusion and exclusion criteria. : After administering nonpharmacological therapy with roselle tea for 7 days, the patient showed changes in blood pressure. in blood pressure.average decrease in systolic blood pressure of 12 mmHg and dyastolic blood pressure 10 mmHg. Roselle tea therapy can reduce blood pressure in families suffering from grade 1 hypertension to normal-high.  
Implementasi Foot Massage Pada Keluarga Dengan Masalah Hipertensi Di Kelurahan Kebon Pala Muhammad Ramadani; Khaerul Amri; Nawang Pujiastuti
Jurnal Manajemen Kesehatan dan Keperawatan Vol. 2 No. 1 (2025): Jurnal Manajemen Kesehatan dan Keperawatan
Publisher : Universitas Dirgantara Marsekal Suryadarma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35968/kj7ygj24

Abstract

Hipertensi merupakan penyakit berbahaya yang mendapat julukan The Silent Killer, karena hipertensi dapat menyerang tanpa adanya tanda atau gejala yang muncul pada tubuh. Penanganan tekanan darah tinggi dalam penelitian ini menggunakan terapi non-konvensional berupa foot massage. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh sebelum dan sesudah foot massage pada klien hipertensi, serta mengetahui manfaat tambahan dari terapi tersebut. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif dengan mengumpulkan informasi, menganalisis masalah, dan melakukan intervensi dalam rentang waktu yang telah ditentukan. Subjek penelitian adalah klien dengan hipertensi tahap I, yang tinggal di Desa Kebon Pala. Penelitian dilaksanakan selama 7 hari dengan durasi foot massage selama 30–45 menit per sesi. Hasil dari foot massage menghasilkan perasaan lebih tenang, nyaman, dan mengalami relaksasi setelah setiap sesi foot massage. Klien juga menyampaikan bahwa terapi ini membuat mereka tidur lebih nyenyak di malam hari dan merasa lebih ringan di bagian kaki. Hal ini menunjukkan bahwa selain menurunkan tekanan darah, foot massage juga memberikan manfaat psikologis dan fisiologis berupa relaksasi serta meningkatkan kualitas istirahat. Kesimpulan dari penelitian ini adalah bahwa foot massage efektif menurunkan tekanan darah secara signifikan pada lansia dengan hipertensi tahap I dan juga memberikan manfaat tambahan berupa relaksasi serta kenyamanan secara subjektif.   Hypertension is a dangerous disease that gets the nickname The Silent Killer, because hypertension can attack without any signs or symptoms that appear in the body. Handling high blood pressure in this study uses non-conventional therapy in the form of foot massage. The purpose of this study was to determine the effect before and after foot massage on hypertensive clients, as well as to determine the additional benefits of the therapy. The method used is descriptive method by collecting information, analyzing problems, and intervening within a predetermined time span. The research subjects were clients with stage I hypertension, who lived in Kebon Pala Village. The study was conducted for 7 days with the duration of foot massage for 30-45 minutes per session. The results of foot massage resulted in a feeling of calmness, comfort, and relaxation after each foot massage session. Clients also reported that this therapy made them sleep better at night and feel lighter in the legs. This shows that in addition to lowering blood pressure, foot massage also provides psychological and physiological benefits in the form of relaxation and improved quality of rest. The conclusion of this study is that foot massage is effective in significantly reducing blood pressure in elderly with stage I hypertension and also provides additional benefits in the form of relaxation and subjective comfort.
Implementasi Relaksasi Nafas Dalam Terhadap Tingkat Emosi Pasien Dengan Resiko Perilaku Kekerasan Bonita Nurherawati; Nur Afni Wulandari; Aziz Fahruji
Jurnal Manajemen Kesehatan dan Keperawatan Vol. 2 No. 1 (2025): Jurnal Manajemen Kesehatan dan Keperawatan
Publisher : Universitas Dirgantara Marsekal Suryadarma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35968/wh0zet15

Abstract

Perilaku kekerasan adalah sebuah kondisi emosi dalam mengungkapkan suatu kemarahan yang dimanifestasikan dalam bentuk fisik. Penyebab resiko perilaku kekerasan dapat terjadi karena faktor predisposisi dan presipitasi. Salah satu teknik yang dapat dilakukan untuk mengontrol perilaku kekerasan adalah dengan cara melakukan relaksasi nafas dalam. Teknik relaksasi nafas dalam tidak hanya memberikan ketenangan secara fisik melainkan dapat menciptakan ketenangan jiwa.  Tujuan penelitian ini untuk mengetahui perubahan tingkat emosi pasien dengan resiko perilaku kekerasan sebelum dan setelah dilakukan implementasi relaksasi nafas dalam. Metode penelitian ini adalah deskriptif dengan pendekatan studi kasus melalui teknik wawancara dan observasi. Subjek yang digunakan dalam penelitian ini ada sebanyak 2 responden. Hasil penelitian menunjukan adanya perbedaan tingkat emosi pasien sebelum dan setelah dilakukan terapi relaksasi nafas dalam yang diukur menggunakan lembar observasi tanda dan gejala resiko perilaku kekerasan. Pada responden I sebelum dilakukan terapi relaksasi nafas dalam menunjukan 15 tanda dan gejala lalu berkurang menjadi 13 tanda dan gejala sementara responden II sebelum dilakukan terapi relaksasi nafas dalam menunjukan 11 tanda dan gejala lalu berkurang menjadi 9 tanda dan gejala resiko perilaku kekerasan. Dengan demikian dapat ditarik kesimpulan bahwa implementasi relaksasi nafas dapat membantu pasien dengan resiko perilaku kekerasan dalam mengontrol emosi.   Violent behavior is an emotional condition in expressing anger that is manifested in physical form. The cause of the risk of violent behavior can occur due to predisposition and precipitation factors. One technique that can be done to control violent behavior is by doing deep breathing relaxation. Deep breathing relaxation techniques not only provide physical calm but can create mental calm. The purpose of this study was to determine changes in the level of emotion of patients with a risk of violent behavior before and after the application of deep breathing relaxation. This research method is descriptive with a case study approach through interview and observation techniques. The subjects used in this study were 2 respondents. The results of the study showed differences in the level of emotion of patients before and after deep breathing relaxation therapy was measured using an observation sheet of signs and symptoms of the risk of violent behavior. In respondent I before deep breathing relaxation therapy showed 15 signs and symptoms then reduced to 13 signs and symptoms While respondent II before deep breathing relaxation therapy showed 11 signs and symptoms then reduced to 9 signs and symptoms of the risk of violent behavior. Thus it can be concluded that the application of breathing relaxation can help patients with a risk of violent behavior in controlling their emotions.
Implementasi Kompres Hangat Untuk Menurunkan Skala Nyeri Pada Pasien Gastritis di RSAU dr. Esnawan Antariksa *, Gita Cahya Ramadhani; Harwina Widya Astuti; Sinta Fresia
Jurnal Manajemen Kesehatan dan Keperawatan Vol. 2 No. 1 (2025): Jurnal Manajemen Kesehatan dan Keperawatan
Publisher : Universitas Dirgantara Marsekal Suryadarma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35968/7nrt5j95

Abstract

Gastritis atau penyakit maag merupakan suatu kondisi peradangan pada mukosa atau dinding lambung akibat peningkatan asam lambung yang menimbulkan rasa tidak nyaman pada perut, kembung, mual, dan rasa panas atau terbakar pada perut bagian atas. Angka kejadian penyakit Gastritis di Indonesia sebesar 40,8% dari 238.452.952 jiwa penduduk dan merupakan penyakit yang menempati urutan ketiga dari 10 penyakit terbanyak di DKI Jakarta pada tahun 2020. Upaya mengatasi masalah nyeri akibat gastritis salah satu intervensi keperawatan mandiri adalah dengan pemberian terapi non farmakologi yaitu kompres hangat. Tujuan dari penelitian ini adalah memberikan gambaran implementasi kompres hangat untuk mengurangi skala nyeri pada pasien gastritis. Desain penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengan pendekatan studi kasus. Jumlah subyek studi penelitian sebanyak dua subyek studi. Instrumen penelitian yang digunakan pada penelitian ini yaitu lembar observasi skala nyeri Visual Analog Scale. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa subyek I dengan skala nyeri sebelum implementasi yaitu skala nyeri 6 dan sesudahnya dengan skala nyeri 0, begitu juga dengan subyek II dari skala nyeri 6 lalu diberikan implementasi menjadi skala nyeri 0. Kesimpulan dari penelitian ini adalah kompres hangat efektif untuk menurunkan skala nyeri pada pasien gastritis di RSAU dr. Esnawan Antariksa.     Gastritis or ulcer disease is an inflammatory condition of the stomach mucosa or wall due to an increase in stomach acid which causes abdominal discomfort, bloating, nausea, and burning in the upper abdomen. The incidence of gastritis in Indonesia is 40.8% of the 238,452,952 population and is a disease that ranks third out of the 10 most common diseases in DKI Jakarta in 2020. In an effort to overcome the problem of pain due to gastritis, one of the independent nursing interventions is to provide non-pharmacological therapy, namely warm compresses. The purpose of this study was to describe the implementation of warm compresses to reduce the pain scale in gastritis patients. This research design is descriptive research with a case study approach. The number of research study subjects was two study subjects. The research instrument used in this study was the Visual Analog Scale pain scale observation sheet. The results of this study indicate that subject I with a pain scale before implementation is a pain scale of 6 and afterward with a pain scale of 0, as well as subject II from a pain scale of 6 and then given implementation to a pain scale of 0. The conclusion of this study is that warm compresses are effective for reducing pain scales in gastritis patients at RSAU dr. Esnawan Antariksa.
Implementasi Breathing Exercise Terhadap Fatigue pada Pasien Hemodialisa Di RSAU dr. Esnawan Antariksa Kasih Maharani, Valencia; Harwina Widya Astuti; Sinta Fresia
Jurnal Manajemen Kesehatan dan Keperawatan Vol. 2 No. 1 (2025): Jurnal Manajemen Kesehatan dan Keperawatan
Publisher : Universitas Dirgantara Marsekal Suryadarma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35968/4gkshn62

Abstract

Gagal ginjal diartikan sebagai kerusakan ginjal yang ditandai dengan penurunan laju filtrasi glomerulus di angka 15 ml/menit/1,73 m2. Penyakit gagal ginjal kronis meningkat sebesar 50% dari tahun sebelumnya. Seseorang yang mengalami gagal ginjal diharuskan menjalani terapi hemodialisa untuk kelangsungan hidup. Salah satu keluhan yang sering dialami pasien pada saat menjalani hemodialisa yaitu fatigue atau kelelahan. Fatigue dapat diatasi dengan teknik non farmakologi yaitu breathing exercise dengan tujuan menurunkan tingkat fatigue yang dialami. Tujuan dari penelitian ini yaitu memberikan gambaran implementasi pada tindakan keperawatan dalam melaksanakan breathing exercise terhadap fatigue pada pasien hemodialisa di RSAU dr. Esnawan Antariksa. Desain penelitian ini yaitu penelitian deskriptif dengan studi kasus. Penelitian ini menggunakan dua subyek sebagai studi. Instrumen yang digunakan pada penelitian ini yaitu kuesioner facit fatigue scale. Hasil penelitian menunjukan bahwa peningkatan pada skor fatigue dengan jumlah > 30, dimana subyek 1 didapatkan hasil skor 38 dan 39, kemudian subyek 2 didapatkan hasil skor 34 dan 31, angka tersebut masuk ke dalam kriteria lelah ringan. Kesimpulan yang didapatkan pada penelitian ini yaitu breathing exercise dapat mengatasi tingkat fatigue pada pasien hemodialisa di RSAU dr. Esnawan Antariksa.   Acute kidney injuryis defined as kidney damage characterized by a decrease in the glomerular filtration rate at 15 ml/minute/1.73 m2. Chronic acute kidney injuryhas increased by 50% from the previous year. A person who experiences acute kidney injuryis required to undergo hemodialysis therapy for survival. One of the complaints often experienced by patients during hemodialysis is fatigue. Fatigue can be overcome with non-pharmacological techniques, namely breathing exercise with the aim of reducing the level of fatigue experienced. The purpose of this study is to provide an overview of the implementation of nursing actions in carrying out breathing exercises for fatigue in hemodialysis patients at RSAU dr. Esnawan Antariksa. The design of this study is descriptive research with a case study. This study has two study subjects. The instrument used in this study is the facit fatigue scale questionnaire. The results of the study showed that the increase in fatigue scores with a total of > 30, where subject 1 obtained scores of 38 and 39, then subject 2 obtained scores of 34 and 31, these numbers are included in the criteria for mild fatigue. The conclusion obtained in this study is that breathing exercise can overcome fatigue levels in hemodialysis patients at RSAU dr. Esnawan Antariksa.
Terapi Genggam Jari dan Nafas Dalam Untuk Menurunkan Tekanan Darah Pada Keluarga Lansia dengan Masalah Kesehatan Hipertensi Tania, Adinda Putri; Amri, Khaerul; Pujiastuti, Nawang
Jurnal Manajemen Kesehatan dan Keperawatan Vol. 2 No. 1 (2025): Jurnal Manajemen Kesehatan dan Keperawatan
Publisher : Universitas Dirgantara Marsekal Suryadarma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35968/7gx2rg03

Abstract

Hipertensi merupakan salah satu masalah kesehatan utama pada lansia yang dapat meningkatkan risiko komplikasi serius seperti stroke dan penyakit jantung, sehingga diperlukan upaya non-farmakologis yang mudah diterapkan dalam keluarga untuk mengontrol tekanan darah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas implementasi terapi genggam jari dan napas dalam dalam menurunkan tekanan darah pada keluarga lansia dengan hipertensi. Penelitian ini menggunakan desain deskriptif dengan pendekatan studi kasus, dilakukan selama tiga hari pada tanggal 3–5 Juni 2024, dengan frekuensi satu kali terapi setiap pagi selama 20–30 menit. Subjek penelitian berjumlah dua orang lansia hipertensi yang dipilih secara purposive. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis deskriptif komparatif terhadap hasil pengukuran tekanan darah sebelum dan sesudah intervensi. Hasil menunjukkan adanya penurunan tekanan darah sistolik sebesar 3–4 mmHg dan diastolik sebesar 7– 10 mmHg pada kedua subjek setelah dilakukan terapi. Temuan ini menunjukkan bahwa terapi genggam jari dan napas dalam berpotensi menjadi intervensi non- farmakologis yang efektif dan mudah diterapkan dalam keluarga untuk membantu mengontrol tekanan darah pada lansia hipertensi. Hypertension is one of the major health problems among the elderly and significantly increases the risk of serious complications such as stroke and heart disease. Therefore, simple and non-pharmacological interventions that can be applied within families are needed to help control blood pressure. This study aims to examine the effectiveness of implementing finger-holding therapy combined with deep breathing exercises in reducing blood pressure among elderly family members with hypertension. A descriptive case study design was employed, conducted over a three- day period from June 3 to June 5, 2024, with one therapy session per day in the morning lasting 20–30 minutes. The study involved two purposively selected elderly individuals diagnosed with hypertension. Data were analyzed using descriptive comparative analysis based on blood pressure measurements taken before and after the intervention. The results indicated a decrease in systolic blood pressure by 3–4 mmHg and diastolic blood pressure by 7–10 mmHg in both participants following the therapy. These findings suggest that finger-holding therapy combined with deep breathing has the potential to serve as an effective and easily applicable non- pharmacological intervention for managing blood pressure in elderly individuals within a family setting.  
Peran Manajemen Keperawatan dalam Pencegahan Wrong Patient Surgery: Studi Keselamatan Pasien khairinnisa, Risalah; Aura Zahra, Alinda; Indika Putri, Dinda; Catleya Hadi, Jesica; Ridwan, Heri
Jurnal Manajemen Kesehatan dan Keperawatan Vol. 2 No. 1 (2025): Jurnal Manajemen Kesehatan dan Keperawatan
Publisher : Universitas Dirgantara Marsekal Suryadarma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35968/3c8aq772

Abstract

Dalam ruang lingkup pembedahan, peran manajerial bertambah krusial, mengingat tingginya risiko dan kompleksitas prosedur yang dilakukan. Salah satu indikator utama mutu pelayanan kesehatan adalah keselamatan pasien, didefinisikan sebagai proses penyedia pelayanan yang aman dalam fasilitas kesehatan, dengan tujuan mencegah terjadinya cedera akibat kesalahan medis. Metode penelitian ini menggunakan studi literature sistematis, dengan data subjektif diperoleh dengan melalui penelusuran artikel ilmiah dengan kriteria artikel berbahasa Indonesia atau Inggris, dipublikasikan dalam jurnal ilmiah nasional maupun internasional yang terakreditasi, dan membahas langsung topik yang berkaitan, serta dipublikasikan dalam kurun waktu 5 tahun terakhir (2020–2025) dari berbagai database terpercaya seperti PubMed, Scopus, ScienceDirect, dan Google Scholar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelatihan tenaga kesehatan, penerapan surgical safety checklist (seperti SURPASS dan WHO SSC), serta komunikasi efektif dalam tim bedah berperan signifikan dalam menurunkan kejadian Wrong Patient Surgery (WPS). Pembahasan menyoroti bahwa hambatan seperti beban kerja berlebih, konflik antara perawat dan pasien, serta budaya menyalahkan masih menjadi tantangan besar dalam implementasi sistem keselamatan pasien. Simpulan dari studi ini adalah bahwa manajemen keperawatan yang kuat, berbasis bukti, dan kolaboratif sangat penting untuk mencegah insiden WPS serta meningkatkan mutu dan keamanan pelayanan di ruang bedah.   In the scope of surgery, managerial roles become increasingly crucial due to the high risk and complexity of procedures. One of the main indicators of healthcare quality is patient safety, which aims to prevent harm resulting from medical errors. This study uses a literature review method, with subjective data obtained through a search of scientific articles in Indonesian or English, published in accredited national and international journals, directly discussing relevant topics, and released within the last five years (2020–2025) from trusted databases such as PubMed and Google Scholar. The findings indicate that healthcare worker training, the implementation of surgical safety checklists (such as SURPASS and WHO SSC), and effective communication within surgical teams play a significant role in reducing incidents of Wrong Patient Surgery (WPS). The discussion highlights that challenges such as excessive workloads, conflicts between nurses and patients, and organizational culture remain major obstacles in implementing patient safety systems. This study concludes that strong, evidence-based, and collaborative nursing management is essential in preventing WPS and improving the quality and safety of care in surgical units. Nurses who participated in brief training sessions showed a significant improvement in compliance with checklist usage, with results indicating statistical significance (p < 0.05).
Efektivitas Terapi Tertawa terhadap Tanda dan Gejala Risiko Perilaku Kekerasan pada Pasien Gangguan Jiwa Fahrezi, Reyhan; Nur Afni Wulandari; Aziz Fahruji
Jurnal Manajemen Kesehatan dan Keperawatan Vol. 2 No. 2 (2025): Jurnal Manajemen Kesehatan dan Keperawatan
Publisher : Universitas Dirgantara Marsekal Suryadarma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35968/n42k4678

Abstract

Risiko perilaku kekerasan merupakan kondisi yang umum ditemukan pada pasien gangguan jiwa, yang ditandai dengan gejala verbal maupun fisik yang dapat membahayakan diri sendiri, orang lain, atau lingkungan sekitar. Salah satu intervensi non-farmakologis yang dapat digunakan untuk mengontrol emosi, khususnya kemarahan, adalah terapi tertawa. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh terapi tertawa terhadap perubahan tanda dan gejala pada pasien dengan risiko perilaku kekerasan. Desain penelitian menggunakan studi kasus deskriptif terhadap dua pasien yang memenuhi kriteria inklusi di Panti Bina Laras Harapan Sentosa II Jakarta Timur. Data dikumpulkan menggunakan lembar observasi tanda dan gejala risiko perilaku kekerasan berdasarkan sembilan indikator. Terapi tertawa diberikan sebanyak tiga sesi dalam tiga hari berturut-turut. Hasil menunjukkan bahwa sebelum intervensi, Responden I menunjukkan tiga tanda dan gejala, sedangkan Responden II menunjukkan empat gejala. Setelah intervensi, kedua responden mengalami penurunan menjadi dua gejala. Penurunan paling konsisten terjadi pada gejala verbal seperti nada suara tinggi dan bicara keras. Terapi tertawa terbukti memberikan pengaruh positif dalam menurunkan intensitas tanda dan gejala perilaku kekerasan. Efektivitas terapi ini diduga berkaitan dengan peningkatan hormon endorfin yang berperan dalam menurunkan ketegangan emosional dan meningkatkan kenyamanan psikologis pasien.   The risk of violent behavior is a common condition found in patients with mental disorders, characterized by verbal and physical symptoms that can harm themselves, others, or the surrounding environment. One of the non-pharmacological interventions that can be used to control emotions, especially anger, is laughter therapy. This study aims to determine the effect of laughter therapy on changes in signs and symptoms in patients at risk of violent behavior. The research design used a descriptive case study of two patients who met the inclusion criteria at Panti Bina Laras Harapan Sentosa II, East Jakarta. Data were collected using an observation sheet of signs and symptoms of risk of violent behavior based on nine indicators. Laughter therapy was given for three sessions in three consecutive days. The results showed that before the intervention, Respondent I showed three signs and symptoms, while Respondent II showed four symptoms. After the intervention, both respondents experienced a decrease to two symptoms. The most consistent decrease occurred in verbal symptoms such as high voice tone and loud speech. Laughter therapy was shown to have a positive influence in reducing the intensity of signs and symptoms of violent behavior. The effectiveness of this therapy is thought to be related to the increase in endorphins which play a role in reducing emotional tension and increasing the psychological comfort of patients.