cover
Contact Name
Muhammad Hadi Widanto
Contact Email
lppm@unsurya.ac.id
Phone
+6282113935439
Journal Mail Official
lppm@unsurya.ac.id
Editorial Address
LPPM Universitas Dirgantara Marsekal Suryadarma Kampus A Universitas Dirgantara Marsekal Suryadarma lt. 2 No. 210 Jl. Halim Perdana Kusuma No.1, RT.1/RW.9, Halim Perdana Kusuma Kec. Makasar, Kota Jakarta Timur, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 13610
Location
Kota adm. jakarta timur,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Manajemen Kesehatan dan Keperawatan
ISSN : 3063069X     EISSN : 30629225     DOI : https://doi.org/10.35968/7v6eq255
Core Subject : Health,
AIM Tujuan utama dari jurnal ini adalah untuk menyediakan platform bagi para Mahasiswa, Dosen, Peneliti, praktisi profesional di bidang kesehatan untuk berbagi pengetahuan, pengalaman, dan penelitian terkini yang relevan dengan manajemen kesehatan dan keperawatan. Kami bertujuan untuk mendorong pertukaran gagasan yang inovatif dan solusi praktis yang dapat meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan dan pengelolaan sumber daya di berbagai konteks pelayanan kesehatan. SCOPE Jurnal ini mencakup berbagai topik dalam manajemen kesehatan dan keperawatan, termasuk namun tidak terbatas pada: Strategi manajemen kesehatan Kebijakan kesehatan dan peraturan Manajemen operasional rumah sakit dan fasilitas kesehatan lainnya Manajemen sumber daya manusia di bidang kesehatan Inovasi dalam manajemen layanan kesehatan Penggunaan teknologi informasi dalam manajemen kesehatan Manajemen risiko dan kualitas dalam pelayanan kesehatan Manajemen keperawatan klinis dan administratif Evaluasi dan penelitian kesehatan masyarakat Kolaborasi lintas disiplin dalam manajemen kesehatan Keperawatan medikal bedah Keperawatan Kegawatdaruratan dan bencana keperawatan anak keperawatan maternitas keperawatan jiwa keperawatan gerontik keperawatan komunitas manajemen dan kepemimpinan keperawatan Jurnal ini menyambut kontribusi dari para peneliti, praktisi, akademisi, dan pemangku kepentingan lainnya yang tertarik dalam pengembangan teori dan praktik manajemen kesehatan dan keperawatan.
Articles 73 Documents
Hubungan Interdialytic Weight Gain (IDWG) dengan Tingkat Kelelahan Pada Pasien Hemodialisis RSUD Dr. Achmad Mochtar Bukittinggi Tahun 2025 Khairi, Dwiki; Reny Chaidir; Amelia, Dona
Jurnal Manajemen Kesehatan dan Keperawatan Vol. 2 No. 4 (2026): Jurnal Manajemen Kesehatan dan Keperawatan
Publisher : Universitas Dirgantara Marsekal Suryadarma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35968/f3h5gh13

Abstract

Gagal ginjal kronik (GGK) adalah kondisi yang memerlukan hemodialisis jangka panjang, dan kelelahan fisik merupakan salah satu komplikasi yang umum dialami pasien. Salah satu faktor penyebabnya adalah Interdialytic Weight Gain (IDWG), yaitu peningkatan berat badan antara dua sesi dialisis, yang berpengaruh pada kepatuhan terapi dan kualitas hidup pasien. Penelitian ini bertujuan mengetahui hubungan antara IDWG dan tingkat kelelahan pada pasien GGK di Unit Hemodialisa RS Achmad Mochtar Bukittinggi. Desain penelitian menggunakan metode kuantitatif analitik dan pendekatan cross‑sectional. Populasi berjumlah 133 pasien yang menjalani hemodialisis rutin pada April 2025, dan seluruhnya diambil sebagai sampel (total sampling), sehingga diperoleh 102 subjek yang sesuai kriteria inklusi dan eksklusi. IDWG dihitung menggunakan rumus IDWG%, sedangkan kelelahan diukur dengan kuesioner FACIT‑F. Analisis data menggunakan uji Spearman Rank menunjukkan hasil sebagai berikut: pada pasien dengan IDWG ringan, 84,4 % mengalami kelelahan ringan; IDWG sedang, 71,1 % mengalami kelelahan berat; dan IDWG berat, 88 % mengalami kelelahan berat. Nilai p = 0,000 dan koefisien korelasi 0,567 menandakan adanya hubungan positif yang signifikan dengan kekuatan sedang antara IDWG dan tingkat kelelahan. Disarankan agar perawat hemodialisis secara aktif memantau IDWG melalui pencatatan intake–output dan penimbangan, memberikan edukasi pembatasan cairan terkait kelelahan, serta berkolaborasi dengan tim interdisipliner untuk intervensi komprehensif.    Chronic kidney disease (CKD) patients undergoing long‑term hemodialysis often suffer from physical fatigue, which negatively impacts their therapy adherence and overall quality of life. A principal contributor to this fatigue is Interdialytic Weight Gain (IDWG)—namely, weight gained between two dialysis sessions. This cross‑sectional analytical study at the Hemodialysis Unit of Achmad Mochtar Hospital Bukittinggi involved 133 patients undergoing routine hemodialysis in April 2025, with 102 subjekts meeting inclusion and exclusion criteria. IDWG was calculated using the IDWG% formula and fatigue levels were measured via the validated FACIT‑F questionnaire. Data analysis using the Spearman rank correlation revealed that among patients with mild IDWG, 84.4% experienced mild fatigue; in the moderate IDWG group, 71.1% suffered severe fatigue; and in the severe IDWG group, 88.0% endured severe fatigue. The test yielded a p‑value of 0.000 and a correlation coefficient of 0.567, signifying a statistically significant, moderate, and positive association between higher IDWG and more severe fatigue. These findings align with prior studies demonstrating the physiological link between fluid overload and fatigue in hemodialysis patients. As a result, hemodialysis nurses are advised to actively monitor IDWG through intake–output tracking and regular weighing, educate patients on the importance of fluid restriction to reduce fatigue, and collaborate with interdisciplinary teams to implement comprehensive interventions aimed at improving patient outcomes
Pengaruh Pemberdayaan Staf Keperawatan terhadap Kinerja Pelayanan di Rumah Sakit: Literature Review metilda; Listanty Widya Anggraeni; Irmawati; Andre Maulana; Kurniawati; Kartika Firdasari
Jurnal Manajemen Kesehatan dan Keperawatan Vol. 2 No. 4 (2026): Jurnal Manajemen Kesehatan dan Keperawatan
Publisher : Universitas Dirgantara Marsekal Suryadarma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35968/k1est224

Abstract

Pemberdayaan staf keperawatan merupakan komponen penting dalam peningkatan mutu layanan rumah sakit, namun masih menghadapi berbagai tantangan seperti lemahnya infrastruktur organisasi, kurangnya dukungan institusi, dan rendahnya keterlibatan perawat dalam pengambilan keputusan. Kondisi tersebut berdampak pada motivasi, kinerja, serta keselamatan pasien, sehingga kajian ilmiah mengenai efektivitas pemberdayaan menjadi semakin mendesak. Penelitian ini bertujuan menganalisis secara sistematis pengaruh pemberdayaan struktural dan psikologis terhadap kinerja pelayanan keperawatan, serta mengidentifikasi dimensi pemberdayaan dan intervensi yang terbukti efektif dalam meningkatkan kualitas layanan. Metode yang digunakan adalah Systematic Literature Review (SLR) berbasis pedoman PRISMA 2020 dengan menelaah 30 artikel terbitan 2021–2025 terkait pemberdayaan struktural, pemberdayaan psikologis, dan kinerja keperawatan. Hasil analisis menunjukkan bahwa pemberdayaan struktural berpengaruh signifikan terhadap motivasi kerja (p=0,000) dan kinerja perawat (p=0,016), sementara pemberdayaan psikologis meningkatkan keterlibatan kerja dengan koefisien 0,487 (p<0,05). Employee Empowerment dan Knowledge Management menjelaskan 41,9% variasi kinerja pegawai. Intervensi coaching meningkatkan skor kinerja dari 1,68 menjadi 2,94 (p=0,005) dan pelatihan Patient Centered Care meningkatkan pengetahuan perawat hingga 95,7%. Secara keseluruhan, temuan menegaskan bahwa pemberdayaan struktural dan psikologis berperan penting dalam meningkatkan motivasi, keterlibatan, dan kinerja keperawatan, dengan pelatihan terstruktur sebagai strategi pendukung yang efektif.   Nurse empowerment is a critical component in improving hospital service quality; however, it continues to face challenges such as weak organizational infrastructure, limited institutional support, and low nurse involvement in decision-making. These conditions affect motivation, performance, and patient safety, making research on effective empowerment strategies increasingly urgent. This study aims to systematically analyze the influence of structural and psychological empowerment on nursing service performance and to identify empowerment dimensions and interventions proven effective in enhancing service quality. A Systematic Literature Review (SLR) guided by PRISMA 2020 was conducted by reviewing 30 articles published between 2021 and 2025 addressing structural empowerment, psychological empowerment, and nursing performance. Findings indicate that structural empowerment significantly improves work motivation (p=0.000) and nurse performance (p=0.016), while psychological empowerment enhances work engagement with a coefficient of 0.487 (p<0.05). Employee Empowerment and Knowledge Management explain 41.9% of performance variation. Coaching interventions increased performance scores from 1.68 to 2.94 (p=0.005), and Patient-Centered Care training improved nurses’ knowledge by 95.7%. Overall, the review confirms that structural and psychological empowerment substantially improve motivation, engagement, and nursing performance, with structured training serving as an effective supporting strategy.
Implementasi Kompres Aloe Vera Terhadap Nyeri Payudara Pada Ibu Post Partum Di RSAU dr. Esnawan Antariksa Zahra, Hilma Fajrianie; Meylawati, Luluk; Rahayu, Wahyuni
Jurnal Manajemen Kesehatan dan Keperawatan Vol. 2 No. 4 (2026): Jurnal Manajemen Kesehatan dan Keperawatan
Publisher : Universitas Dirgantara Marsekal Suryadarma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35968/n12wc543

Abstract

Nyeri payudara akibat pembengkakan pada masa nifas merupakan salah satu masalah yang sering dialami ibu post partum dan dapat mengganggu kenyamanan serta keberhasilan proses menyusui. Penatalaksanaan nonfarmakologis diperlukan sebagai alternatif yang aman dan mudah diterapkan dalam praktik keperawatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi penerapan kompres aloe vera terhadap penurunan skala nyeri payudara pada ibu post partum di RSAU dr. Esnawan Antariksa. Desain penelitian yang digunakan adalah studi kasus deskriptif dengan subjek dua orang ibu nifas yang mengalami nyeri payudara, dipilih berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi. Intervensi berupa pemberian kompres aloe vera dilakukan satu kali sehari selama empat hari. Pengukuran nyeri dilakukan sebelum dan sesudah intervensi menggunakan skala nyeri numerik melalui lembar observasi. Hasil penelitian menunjukkan adanya penurunan skala nyeri pada kedua subjek, dari skala nyeri awal 3 menjadi 0 setelah empat hari intervensi. Temuan ini menunjukkan bahwa kompres aloe vera berpotensi menjadi intervensi keperawatan nonfarmakologis yang efektif dalam menurunkan nyeri payudara pada ibu post partum. Intervensi ini dapat direkomendasikan sebagai bagian dari asuhan keperawatan maternitas untuk meningkatkan kenyamanan ibu menyusui.   Breast pain due to engorgement during the postpartum period is a common problem that may affect maternal comfort and the success of breastfeeding. Non-pharmacological management is needed as a safe and practical alternative in nursing care. This study aimed to evaluate the implementation of aloe vera compresses in reducing breast pain among postpartum mothers at RSAU dr. Esnawan Antariksa. A descriptive case study design was employed involving two postpartum mothers who experienced breast pain and were selected based on inclusion and exclusion criteria. The intervention consisted of applying aloe vera compresses once daily for four consecutive days. Pain intensity was measured before and after the intervention using a numerical pain scale through observation sheets. The results showed a decrease in pain intensity in both subjects, from an initial pain score of 3 to 0 after four days of intervention. These findings indicate that aloe vera compresses have the potential to be an effective non-pharmacological nursing intervention for reducing breast pain in postpartum mothers. This intervention may be recommended as part of maternal nursing care to enhance breastfeeding comfort.
Efektivitas Edukasi Hand Hygiene Dalam Upaya Menurunkan Penyakit ISPA Dengan Metode Audio Visual Pada Anak Usia Pra Sekolah Chintya Dewi; Fitri Anggraeni; Dwi Ambarwati
Jurnal Manajemen Kesehatan dan Keperawatan Vol. 2 No. 4 (2026): Jurnal Manajemen Kesehatan dan Keperawatan
Publisher : Universitas Dirgantara Marsekal Suryadarma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35968/g0hkyx14

Abstract

Anak usia prasekolah merupakan kelompok rentan terhadap Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) akibat sistem imun yang belum berkembang optimal. Salah satu upaya pencegahan yang dapat dilakukan adalah peningkatan perilaku hand hygiene sejak dini melalui edukasi kesehatan. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan implementasi edukasi hand hygiene menggunakan media audio visual serta kecenderungan perubahannya terhadap keterampilan mencuci tangan dan gejala ISPA pada anak usia prasekolah di PSAA Balita Tunas Bangsa. Penelitian ini menggunakan desain studi kasus dengan pendekatan deskriptif. Subjek penelitian dipilih secara purposive sampling sebanyak empat anak prasekolah yang mengalami ISPA. Intervensi berupa edukasi hand hygiene berbasis audio visual diberikan selama tiga hari berturut-turut. Pengumpulan data dilakukan menggunakan lembar observasi keterampilan hand hygiene dan klasifikasi gejala ISPA sebelum dan sesudah intervensi. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan rata-rata skor keterampilan hand hygiene dari 13,1 menjadi 17,4 serta penurunan rata-rata skor klasifikasi gejala ISPA dari 8 menjadi 3,5. Temuan ini menunjukkan adanya kecenderungan perbaikan keterampilan mencuci tangan yang diikuti dengan penurunan gejala ISPA setelah pemberian edukasi. Meskipun demikian, penelitian ini memiliki keterbatasan pada jumlah subjek yang kecil dan desain deskriptif sehingga hasilnya belum dapat digeneralisasikan. Penelitian ini dapat menjadi dasar bagi pengembangan intervensi edukasi kesehatan berbasis audio visual dalam praktik keperawatan komunitas anak.   Preschool-aged children are a vulnerable population to Acute Respiratory Infections (ARI) due to their immature immune systems. One preventive strategy to reduce ARI risk is promoting proper hand hygiene behavior through early health education. This study aimed to describe the implementation of audio-visual-based hand hygiene education and its observed tendency to improve handwashing skills and reduce ARI symptoms among preschool children at PSAA Balita Tunas Bangsa. This research employed a descriptive case study design. Four preschool children diagnosed with ARI were selected using purposive sampling. The intervention consisted of hand hygiene education delivered through audio-visual media over three consecutive days. Data were collected using observation sheets assessing hand hygiene skills and ARI symptom classification before and after the intervention. The results showed an increase in the average hand hygiene skill score from 13.1 to 17.4, along with a decrease in the average ARI symptom classification score from 8 to 3.5. These findings indicate a tendency toward improved hand hygiene skills accompanied by reduced ARI symptoms following the educational intervention. However, this study is limited by a small sample size and a descriptive design, which restrict the generalizability of the findings. Nevertheless, the results may serve as preliminary evidence to support the development of audio-visual-based health education interventions in pediatric community nursing practice.
Optimalisasi Perencanaan, Pengorganisasian, dan Pelaksanaan Dokumentasi Implementasi Asuhan Keperawatan Melalui Sistem CARE TAG di RS X Kabupaten Jember Ulfah, Choiria Firdatul; Wisnugati, Ardho Yuwono; Susanto, Tantut; Iriawandani, Debie Saktyana
Jurnal Manajemen Kesehatan dan Keperawatan Vol. 2 No. 4 (2026): Jurnal Manajemen Kesehatan dan Keperawatan
Publisher : Universitas Dirgantara Marsekal Suryadarma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35968/hj2nqr25

Abstract

Pendokumentasian asuhan keperawatan merupakan indikator penting mutu pelayanan rumah sakit, namun masih sering mengalami ketidaklengkapan dan inkonsistensi. Audit internal di RS X Kabupaten Jember menunjukkan rendahnya kepatuhan dokumentasi, khususnya pada komponen SBAR, edukasi pasien, verifikasi oleh dokter penanggung jawab pasien (DPJP), dan instruksi profesional pemberi asuhan (PPA). Penelitian ini bertujuan menganalisis efektivitas penerapan sistem CARE-TAG (Clinical Assessment & Recording Evaluation – Training & Guidance) dalam meningkatkan kepatuhan dokumentasi keperawatan. Penelitian ini menggunakan desain pre–post intervention tanpa kelompok kontrol dengan pendekatan deskriptif. Subjek penelitian melibatkan 17 perawat di Ruang Catleya RS X yang dipilih melalui total sampling. Intervensi CARE-TAG dilakukan melalui in house training, penggunaan checklist monitoring harian, supervisi langsung, self-assessment, serta umpan balik real-time. Evaluasi dilakukan selama empat hari terhadap kelengkapan dokumentasi SBAR, instruksi PPA, edukasi pasien, discharge planning, dan verifikasi DPJP. Hasil penelitian menunjukkan peningkatan kepatuhan dokumentasi, dengan kelengkapan SBAR meningkat dari 61,54% menjadi 100% dan instruksi PPA mencapai kepatuhan penuh sejak hari ketiga. Dokumentasi edukasi pasien dan discharge planning mencapai 84,6%, sementara verifikasi DPJP masih rendah. CARE-TAG efektif meningkatkan kepatuhan dokumentasi keperawatan dalam jangka pendek dan memerlukan dukungan kolaborasi interprofesional serta integrasi teknologi untuk keberlanjutan.   Nursing care documentation is a key indicator of hospital service quality; however, it often remains incomplete and inconsistent. An internal audit at Hospital X in Jember Regency revealed low compliance in nursing documentation, particularly in SBAR components, patient education, verification by attending physicians, and professional caregiver instructions. This study aimed to analyze the effectiveness of the CARE-TAG (Clinical Assessment & Recording Evaluation – Training & Guidance) system in improving nursing documentation compliance. This study employed a pre–post intervention design without a control group using a descriptive approach. The participants were 17 nurses working in the Catleya Ward of Hospital X, recruited through total sampling. The CARE-TAG intervention included in-house training, daily monitoring checklists, direct supervision, self-assessment, and real-time feedback. Documentation compliance was evaluated over four consecutive days, focusing on SBAR documentation, professional caregiver instructions, patient education, discharge planning, and physician verification. The findings showed improved documentation compliance, with SBAR completeness increasing from 61.54% to 100% and professional caregiver instructions achieving full compliance by the third day. Documentation of patient education and discharge planning reached 84.6%, whereas physician verification remained low. CARE-TAG was effective in improving short-term nursing documentation compliance and requires strengthened interprofessional collaboration and health information technology integration to ensure sustainability
Implementasi Kompres Hangat dengan Warm Water Zack (WWZ) terhadap Penurunan Skala Nyeri pada Pasien Dyspepsia di Ruang Merpati RSAU Dr. Esnawan Antariksa Apriyani, Depi; Fresia, Sinta; Harwina Widya Astuti
Jurnal Manajemen Kesehatan dan Keperawatan Vol. 3 No. 1 (2026): Jurnal Manajemen Kesehatan dan Keperawatan
Publisher : Universitas Dirgantara Marsekal Suryadarma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35968/wvx6hx13

Abstract

Dispepsia merupakan gangguan pencernaan yang ditandai dengan nyeri atau ketidaknyamanan pada perut bagian atas, kembung, mual, muntah, dan rasa cepat kenyang. Salah satu intervensi nonfarmakologis yang dapat digunakan untuk membantu menurunkan nyeri pada pasien dispepsia adalah kompres hangat menggunakan Warm Water Zack (WWZ). Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan perubahan skala nyeri sebelum dan sesudah pemberian kompres hangat dengan WWZ pada pasien dispepsia di Ruang Merpati RSAU dr. Esnawan Antariksa. Penelitian ini menggunakan desain studi kasus deskriptif pada dua subjek dengan keluhan nyeri akibat dispepsia. Instrumen yang digunakan adalah lembar observasi skala nyeri. Intervensi kompres hangat dengan WWZ diberikan selama 3 hari berturut-turut, kemudian dilakukan pengamatan skala nyeri sebelum dan sesudah tindakan. Hasil menunjukkan bahwa pada subjek A skala nyeri menurun dari 6 menjadi 0, sedangkan pada subjek B menurun dari 5 menjadi 0 setelah tiga hari intervensi. Temuan ini menunjukkan bahwa pemberian kompres hangat dengan WWZ pada kedua subjek disertai penurunan skala nyeri dan dapat dipertimbangkan sebagai intervensi nonfarmakologis untuk membantu meningkatkan kenyamanan pasien dispepsia.   Dyspepsia is a digestive disorder characterized by pain or discomfort in the upper abdomen, bloating, nausea, vomiting, and early satiety. One of the non-pharmacological interventions that can be used to help reduce pain in patients with dyspepsia is a warm compress using Warm Water Zack (WWZ). This study aimed to describe changes in pain scale before and after the application of warm compress therapy using WWZ in dyspepsia patients in the Merpati Ward of RSAU dr. Esnawan Antariksa. This study employed a descriptive case study design involving two subjects experiencing pain associated with dyspepsia. The instrument used was a pain scale observation sheet. The warm compress intervention using WWZ was administered for three consecutive days, and pain scale observations were conducted before and after each intervention. The results showed that the pain scale in Subject A decreased from 6 to 0, while in Subject B it decreased from 5 to 0 after three days of intervention. These findings indicate that the application of warm compresses using WWZ in both subjects was accompanied by a reduction in pain scale and may be considered a non-pharmacological intervention to help improve comfort in patients with dyspepsia.
Efektivitas Pemberian Jus Buah Alpukat Terhadap Penurunan Nyeri Menstruasi Pada Remaja Di Universitas Dirgantara Marsekal Suryadarma Putri, Bulan Artameivia; Luluk Eka Meylawati; Wahyuni Dwi Rahayu
Jurnal Manajemen Kesehatan dan Keperawatan Vol. 3 No. 1 (2026): Jurnal Manajemen Kesehatan dan Keperawatan
Publisher : Universitas Dirgantara Marsekal Suryadarma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35968/pwv3xb15

Abstract

Nyeri menstruasi merupakan keluhan umum pada remaja perempuan yang dapat mengganggu aktivitas sehari-hari. Salah satu upaya nonfarmakologis yang dapat digunakan untuk membantu mengurangi nyeri menstruasi adalah pemberian jus buah alpukat. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan perubahan intensitas nyeri menstruasi setelah pemberian jus buah alpukat pada remaja di Universitas Dirgantara Marsekal Suryadarma. Penelitian ini menggunakan desain studi kasus deskriptif pada dua remaja yang mengalami nyeri menstruasi dan memenuhi kriteria penelitian. Instrumen yang digunakan meliputi standar prosedur operasional pemberian jus buah alpukat, lembar observasi, dan skala nyeri Numeric Rating Scale (NRS). Intervensi diberikan berupa jus buah alpukat dua kali sehari, yaitu pagi dan sore, selama lima hari berturut-turut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada subjek 1 skala nyeri menurun dari 5 menjadi 1, sedangkan pada subjek 2 menurun dari 6 menjadi 2 setelah intervensi. Temuan ini menunjukkan adanya penurunan intensitas nyeri menstruasi pada kedua subjek selama periode pemberian jus buah alpukat. Dengan demikian, jus buah alpukat berpotensi menjadi intervensi nonfarmakologis pendamping untuk membantu mengurangi nyeri menstruasi pada remaja. Namun, temuan ini masih terbatas pada dua kasus sehingga diperlukan penelitian dengan sampel yang lebih besar dan desain yang lebih kuat.   Menstrual pain is a common complaint among adolescent girls and may interfere with daily activities. One non-pharmacological approach that may help reduce menstrual pain is the administration of avocado juice. This study aimed to describe changes in menstrual pain intensity after the administration of avocado juice among adolescents at Universitas Dirgantara Marsekal Suryadarma. A descriptive case study design was used involving two adolescents experiencing menstrual pain who met the study criteria. The instruments included a standard operating procedure for avocado juice administration, observation sheets, and the Numeric Rating Scale (NRS) for pain assessment. The intervention consisted of administering avocado juice twice daily, in the morning and afternoon, for five consecutive days. The results showed that the pain score in subject 1 decreased from 5 to 1, while in subject 2 it decreased from 6 to 2 after the intervention. These findings indicate a reduction in menstrual pain intensity in both subjects during the period of avocado juice administration. Therefore, avocado juice may be considered a potential complementary non-pharmacological intervention to help reduce menstrual pain in adolescents. However, these findings are limited to two cases; thus, further studies with larger samples and stronger research designs are needed.
Implementasi Teknik Relaksasi Benson dalam Menurunkan Nyeri pada Ibu Post Sectio Caesarea: Studi Kasus di RSAU dr. Esnawan Antariksa Lulu Shiefa Aisya Aprilia; Rahayu, Wahyuni Dwi; Meylawati, Luluk Eka
Jurnal Manajemen Kesehatan dan Keperawatan Vol. 3 No. 1 (2026): Jurnal Manajemen Kesehatan dan Keperawatan
Publisher : Universitas Dirgantara Marsekal Suryadarma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35968/39vp0s04

Abstract

Angka persalinan dengan metode Sectio Caesarea (SC) terus meningkat dan sering disertai nyeri pascaoperasi yang dapat mengganggu kondisi fisik dan psikologis ibu, sehingga diperlukan intervensi nonfarmakologis yang aman dan mudah diterapkan. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi implementasi teknik relaksasi Benson dalam menurunkan intensitas nyeri pada ibu post SC. Desain penelitian menggunakan studi kasus deskriptif dengan pendekatan observasi pre–post pada dua ibu post SC di Ruang Nuri RSAU dr. Esnawan Antariksa. Subjek dipilih secara purposive sesuai kriteria inklusi. Intervensi berupa teknik relaksasi Benson diberikan selama tiga hari berturut-turut dengan frekuensi dua kali sehari selama 10–15 menit per sesi. Intensitas nyeri diukur menggunakan Numeric Rating Scale (NRS) sebelum dan sesudah intervensi, kemudian dianalisis secara deskriptif. Hasil menunjukkan penurunan intensitas nyeri pada kedua subjek, yaitu dari skala 6 menjadi 3 pada Subjek I dan dari 7 menjadi 3 pada Subjek II. Teknik relaksasi Benson berpotensi membantu menurunkan nyeri pada ibu post SC, namun hasil ini perlu ditafsirkan secara hati-hati karena jumlah subjek terbatas.   The rate of Caesarean section (CS) deliveries continues to increase and is often associated with postoperative pain that may affect the physical and psychological condition of mothers, highlighting the need for safe and applicable non-pharmacological interventions. This study aimed to identify the implementation of the Benson relaxation technique in reducing pain intensity among post-CS mothers. A descriptive case study with a pre–post observational approach was conducted on two post-CS mothers in the Nuri Room of RSAU dr. Esnawan Antariksa. Subjects were selected using purposive sampling based on inclusion criteria. The intervention consisted of the Benson relaxation technique administered twice daily for three consecutive days (10–15 minutes per session). Pain intensity was measured using the Numeric Rating Scale (NRS) before and after the intervention and analyzed descriptively. The results showed a reduction in pain intensity in both subjects, from a score of 6 to 3 in Subject I and from 7 to 3 in Subject II. The Benson relaxation technique has the potential to reduce post-CS pain; however, the findings should be interpreted with caution due to the limited number of subjects.
Implementasi Latihan Slow Deep Breathing dengan Kombinasi Aromatherapy Mawar Pada Keluarga Hipertensi di Kelurahan Kebon Pala Rara Nindita; Amri, Khaerul; Pujiastuti, Nawang
Jurnal Manajemen Kesehatan dan Keperawatan Vol. 3 No. 1 (2026): Jurnal Manajemen Kesehatan dan Keperawatan
Publisher : Universitas Dirgantara Marsekal Suryadarma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35968/dhd8qw88

Abstract

Hipertensi merupakan masalah kesehatan yang ditandai dengan peningkatan tekanan darah sistolik ≥140 mmHg dan/atau diastolik ≥90 mmHg, serta berisiko menimbulkan komplikasi serius apabila tidak terkontrol. Intervensi nonfarmakologis, seperti Slow Deep Breathing (SDB) dan aromaterapi mawar, diketahui dapat memberikan efek relaksasi yang berpotensi membantu menurunkan tekanan darah. Penelitian pendahuluan ini bertujuan untuk menggambarkan perubahan tekanan darah sebelum dan sesudah pemberian latihan Slow Deep Breathing yang dikombinasikan dengan aromaterapi mawar pada individu dengan hipertensi ringan dalam konteks keluarga di RW 10 Kelurahan Kebon Pala, Jakarta Timur. Penelitian menggunakan pendekatan deskriptif pre-post terhadap dua partisipan perempuan berusia 55 tahun dan 59 tahun yang dipilih secara purposive. Intervensi diberikan selama tiga hari berturut-turut, masing-masing selama 15 menit pada setiap sesi. Pengukuran tekanan darah dilakukan menggunakan tensimeter digital sebelum sesi intervensi pertama dan setelah hari ketiga intervensi. Hasil menunjukkan bahwa tekanan darah partisipan pertama menurun dari 150/81 mmHg menjadi 134/75 mmHg, sedangkan partisipan kedua menurun dari 153/100 mmHg menjadi 135/89 mmHg. Rata-rata penurunan tekanan darah sistolik sebesar 13,7 mmHg dan diastolik sebesar 5,8 mmHg. Temuan ini menunjukkan bahwa latihan Slow Deep Breathing yang dikombinasikan dengan aromaterapi mawar berpotensi membantu menurunkan tekanan darah pada individu dengan hipertensi ringan. Namun, karena jumlah partisipan sangat terbatas dan durasi intervensi singkat, hasil penelitian ini perlu dipahami sebagai temuan awal dan masih memerlukan konfirmasi melalui penelitian dengan sampel yang lebih besar serta desain yang lebih kuat.   Hypertension is a health problem characterized by systolic blood pressure of ≥140 mmHg and/or diastolic blood pressure of ≥90 mmHg and may lead to serious complications if not properly controlled. Non-pharmacological interventions, such as Slow Deep Breathing (SDB) and rose aromatherapy, are known to induce relaxation and may help reduce blood pressure. This preliminary study aimed to describe changes in blood pressure before and after the implementation of Slow Deep Breathing combined with rose aromatherapy in individuals with mild hypertension within a family setting in RW 10, Kebon Pala, East Jakarta. The study used a descriptive pre-post approach involving two female participants aged 55 and 59 years who were selected purposively. The intervention was administered for three consecutive days, with each session lasting 15 minutes. Blood pressure was measured using a digital sphygmomanometer before the first intervention session and after the third day of intervention. The results showed that the first participant’s blood pressure decreased from 150/81 mmHg to 134/75 mmHg, while the second participant’s blood pressure decreased from 153/100 mmHg to 135/89 mmHg. The average reduction in systolic and diastolic blood pressure was 13.7 mmHg and 5.8 mmHg, respectively. These findings suggest that Slow Deep Breathing combined with rose aromatherapy may help reduce blood pressure in individuals with mild hypertension. However, due to the very limited number of participants and the short duration of intervention, these findings should be interpreted as preliminary and require further confirmation through studies with larger samples and more rigorous designs.
Pengaruh Senam Yoga Terhadap Tekanan Darah pada Keluarga Lansia Dengan Masalah Kesehatan Hipertensi di Kelurahan Kebon Pala Priyanjani, Desinta Putri; Amri, Khaerul; Pujiastuti, Nawang
Jurnal Manajemen Kesehatan dan Keperawatan Vol. 3 No. 1 (2026): Jurnal Manajemen Kesehatan dan Keperawatan
Publisher : Universitas Dirgantara Marsekal Suryadarma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35968/frgjv738

Abstract

Hipertensi merupakan salah satu penyakit degeneratif yang banyak terjadi pada lansia. Selain pengobatan farmakologis, penanganan hipertensi juga dapat dilakukan secara non-farmakologis, salah satunya dengan senam yoga yang terbukti membantu menurunkan tekanan darah melalui teknik pernapasan, relaksasi, dan gerakan tubuh. Tujuan mengetahui pengaruh senam yoga terhadap tekanan darah pada keluarga lansia dengan masalah hipertensi di RW 10 Kelurahan Kebon Pala. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif komparatif dengan pendekatan studi kasus terhadap dua individu pada keluarga dengan masalah Kesehatan hipertensi, yaitu Ny. T 71 tahun dan Ny. R 60 tahun, yang mengalami hipertensi ringan. Intervensi berupa senam yoga dilakukan selama dua minggu dengan frekuensi dua kali per minggu selama 30 menit. Data instrumen yang digunakan pada penelitian ini tensimeter digital dan lembar observasi tekanan darah. Hasil: Sebelum dilakukan senam yoga, tekanan darah Ny. T adalah 152/95 mmHg dan Ny. R sebesar 151/90 mmHg. Setelah intervensi, tekanan darah menurun menjadi 146/90 mmHg (Ny. T) dan 144/90 mmHg (Ny. R). Terdapat penurunan rerata tekanan darah sistolik sebesar 10 mmHg dan diastolik 21 mmHg. Terapi senam yoga memberikan pengaruh positif dalam menurunkan tekanan darah pada lansia dengan hipertensi. Intervensi ini dapat menjadi alternatif non-farmakologis yang aman dan efektif dalam mendukung pengelolaan hipertensi pada keluarga lansia.   Hypertension is one of the degenerative diseases that commonly occurs in the elderly and can increase the risk of various health complications. In addition to pharmacological treatment, hypertension management can also be  carried out through non-pharmacological approaches, one of which is yoga exercise, which can help reduce blood pressure through breathing techniques, relaxation, and body movements. This study aimed to determine the effect of yoga exercise on  blood pressure in elderly families with hypertension in RW 10, Kebon Pala Village. This study used a descriptive case study design with a pre-test and post-test approach involving two individuals in a family with hypertension, namely Mrs. T (71 years old) and Mrs. R (60 years old) who experienced mild hypertension. The intervention in the form of yoga exercise was conducted for two weeks with a frequency of four sessions, each lasting 30 minutes. The research instruments used were a digital sphygmomanometer and a blood pressure observation sheet. The results showed that before the intervention (pre-test), the blood pressure of Mrs. T was 152/95 mmHg and Mrs. R was 151/90 mmHg. After the yoga exercise intervention for two weeks (post- test), the blood pressure decreased to 132/80 mmHg for Mrs. T and 130/80 mmHg for Mrs. R. The conclusion of this study indicates that yoga exercise has a positive effect   in reducing blood pressure in elderly patients with hypertension. This intervention can be used as a safe and effective non-pharmacological alternative therapy to support hypertension management in elderly families