cover
Contact Name
Oktavia Rahayu Puspitarini
Contact Email
oktaviarahayu@unisma.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
dinamikarekasatwa@gmail.com
Editorial Address
Fakultas Peternakan Universitas Islam Malang, Jl. MT Haryono 193, Malang 65144
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Dinamika Rekasatwa: Jurnal Ilmiah (e-Journal)
ISSN : 23383720     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Dinamika Rekasatwa (Jurnal Ilmu dan Teknologi Peternakan) Merupakan Jurnal Hasil Penelitian yang Diterbitkan Secara Berkala oleh Fakultas Peternakan Universitas Islam Malang (terbit 2 kali setahun)
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 429 Documents
PENGARUH PENAMBAHAN EKSTRAK BIJI PEPAYA (Carica Papaya L.) PADA AIR MINUM TERHADAP KONSUMSI PAKAN PRODUKSI TELUR DAN KONVERSI PAKAN PUYUH Cendana Mulya; Sunaryo Sunaryo; Umi Kalsum
Dinamika Rekasatwa: Jurnal Ilmiah (e-Journal) Vol 6, No 01 (2023): Dinamika Rekasatwa
Publisher : Dinamika Rekasatwa: Jurnal Ilmiah (e-Journal)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh penambahan ekstrak biji pepaya terhadap konsumsi pakan, produksi telur, dan konversi pakan. Materi yang digunakan dalam penelitian ini adalah 320 ekor puyuh betina berumur 24-26 Minggu. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode eksperimen Rancangan Acak Lengkap (RAL). dengan 4 perlakuan dan 4 ulangan. Setiap perlakuan diberi penambahan sari biji papaya dengan tingkat yang berbeda dalam air minum, P0 = air minum tanpa saribiji pepaya (kontrol), P1 = air minum + 12 ml sari biji pepaya, P2 = air minum + 14 ml sari biji pepaya, dan P3 = air minum + 16 ml sari biji pepaya. Hasil penelitian ini adalah penambahan ekstrak biji pepaya berpengaruh nyata terhadap konsumsi pakan dan produksi telur, dan konversi pakan berpengaruh nyata (P<0,05). Rerata asupan pakan (gram/hari/ekor) selama penelitian adalah: P3 : 20,07a,  P2 : 20,5ab, P1 : 20,37ab,  dan P0 : 20,56b. Rata-rata jumlah telur yang diletakkan adalah:Perlakuan P0 : 81,31a, P1 : 84,23ab, P2 : 85,95 bc, dan P3 : 88,33c. dan konversi pakan, yaitu P3 :2,26a, P2 : 2,34ab, P1 : 2,41b, dan P0 : 2,56c. Disimpulkan bahwa penambahan ekstrak biji pepaya ke dalam air minum mempengaruhi konsumsi pakan, produksi telur, dan konversi pakan. Hal ini dapat meningkatkan performa puyuh umur 24-26 minggu.                                                                                                                   Kata Kunci : ekstrak biji pepaya, hasil produksi, burung puyuh
STUDI KASUS KAWIN BERULANG PADA SAPI PERAH PERANAKAN FRISIAN HOLLAND DI WILAYAH KERJA PETUGAS KESEHATAN HEWAN BATU Lilasaidah Munawaroh; Nurul Humaidah; Dedi Suryanto
Dinamika Rekasatwa: Jurnal Ilmiah (e-Journal) Vol 3, No 02 (2020): Dinamika Rekasatwa
Publisher : Dinamika Rekasatwa: Jurnal Ilmiah (e-Journal)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Rendahnya kemampuan reproduksi merupakan permasalahan reproduksi yang sering terjadi pada sapi perah peternakan rakyat di Indonesia.  Salah satu tanda masalah reproduksi ialah kawin berulang (repeat breeding). Tujuan penelitian ialah menganalisa faktor-faktor yang terkait dengan terjadinya repeat breeding pada sapi perah PFH di wilayah kerja petugas kesehatan hewan Batu. Metode penelitian adalah survey. Materi penelitian ini adalah data dari 50 ekor sapi perah PFH yang mengalami minimum 4 kali kejadian kawin berulang. Data primer didapatkan dari wawancara langsung dengan peternak dan data Sekunder diperoleh dari rekording petugas kesehatan hewan. Data disajikan dalam bentuk prosentase kemudian disajikan secara deskriptif. Hasil pengkajian menunjukkan bahwa kejadian kawin berulang terjadi pada peternakan yang tidak melakukan rekording (60%), tidak ada penambahan mineral pakan (66%), sapi tidak diberi kesempatan exercise (86%), sapi dengan produksi susu 11-20 lt/ekor/hari (60%), sapi yang telah partus lebih 3 kali (72%), sapi dengan masa kering 50 hari (50%), sapi dengan BCS 2 (50%), tidak dilakukan pemotongan kuku (74%) dan sapi yang pernah mengalami retensi plasenta (34%). Kesimpulan adalah kasus kawin berulang sering terjadi pada peternakan dengan manajemen yang kurang baik terkait rekording, pakan dan penanganan kesehatan hewan.
PENGARUH TINGKAT PENAMBAHAN BAKTERI Lactobacillus fermentum TERENKAPSULASI DALAM PAKAN TERHADAP KONSUMSI, PERTAMBAHAN BOBOT BADAN, DAN KONVERSI PAKAN PADA BROILER PERIODE FINISHER Heider Ali Mansyur; M. Farid Wadjdi; Umi Kalsum
Dinamika Rekasatwa: Jurnal Ilmiah (e-Journal) Vol 2, No 1 (2019): Edisi Khusus Dinamika Rekasatwa
Publisher : Dinamika Rekasatwa: Jurnal Ilmiah (e-Journal)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh tingkat penambahan bakteri Lactobacillus fermentum terenkapsulasi pada pakan broiler finisher. Terhadap konsumsi, Pertambahan Bobot Badan (PBB), dan konversi pakan. Materi yang digunakan adalah broiler periode finisher sebanyak 48 ekor. Penelitian percobaan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan bobot badan awal rata-rata = 971,625 ± 61,73851 dan KK = 6%. Parameter yang diteliti konsumsi, PBB dan konversi pakan. Data yang diperoleh dianalisis ragam dan uji Beda Nyata Terkecil (BNT). Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa penambahan bakteri Lactobacillus fermentum terenkapsulasiberpengaruh tidak nyata (P>0,05) terhadap konsumsi pakan broiler periode finisher, rataan konsumsi pakan (gram/ekor) dengan masing-masing perlakuan P0= 2096,58, P4= 2103,58, P6=2159,67, dan P8= 2138,67. Hasil analisis ragam menunjukan bahwa berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap (PBB) broiler periode finisher dengan masing-masing perlakuan (gram/ekor) P0= 1165,17a, P4= 1198,75ab, P6= 1283,33bc, P8= 1306,83C. Hasil analisis ragam juga menunjukan berpengaruh nyata (P<0,050) terhadap konversi pakan broiler periode finisher dengan masingmasing perlakuan (gram/ekor) P0= 1,82c, P4= 1,75bc, P6= 1,69ab dan P8= 1,64a. Kesimpulan dari penelitian ini yaitu angka penambahan 8 gram bakteri Lactobacillus fermentum terenkapsulasi dapatmeningkat secara nyata (PBB) dan menurunkan nilai konversi pakan.Kata kunci: broiler, enkapsulasi, Lactobacillus fermentum, peformans
PENGARUH PENAMBAHAN BIJI KORO PEDANG DAN GAPLEK TERFERMENTASI Aspergillus niger PADA PAKAN BROILER PERIODE FINISHER TERHADAP TINGKAT KECERNAAN BAHAN KERING DAN BAHAN ORGANIK fiqi Iqbal; M farid Wadjdi; Badat Muwakhid
Dinamika Rekasatwa: Jurnal Ilmiah (e-Journal) Vol 6, No 2 (2023): Dinamika Rekasatwa
Publisher : Dinamika Rekasatwa: Jurnal Ilmiah (e-Journal)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui dan mengevaluasi tingkat penambahan biji koro pedang (Canavalia ensirformis) dan gaplek terfermentasi yang terbaik dalam pakan broiler fase finisher. Materi yang digunakan kapang Aspergilus niger, broiler umur 21 hari, pakan komersial, tepung gaplek, dan biji koro pedang. Metode percobaan pada penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) 4 perlakuan dan 4 kelompok, P0: 100% pakan komersial, P1: 100% pakan komersial + campuran gaplek koro fermentasi 15%, P2: 100% pakan komersial + campuran gaplek koro fermentasi 20%, P3: 100% pakan komersial + campuran gaplek koro fermentasi 25%. Variabel yang diamati yaitu tingkat kecernaan bahan kering (KcBK) dan kecernaan bahan organik (KcBO). Analisis ragam menghasilkan bahwa penambahan campuran KGF dengan pakan komersial yang diberikan pada perlakuan menunjukkan berpengaruh nyata (P<0,05) pada tingkat kecernaan bahan kering dan kecernaan bahan organik dan berpengaruh nyata pada rata – rata kelompok (P<0,05) terhadap tingkat kecernaan bahan kering dan kecernaan bahan organik. Adapun nilai rata – rata pada tingkat kecernaan bahan kering (KcBK) yaitu P0: 66,62%, P1: 67,73%, P2: 68,32%, P3: 69,51%. Nilai rata – rata pada tingkat kecernaan bahan organik (KcBO) yaitu P0: 69,40%, P1: 70,75%, P2: 71,39%, P3: 72,18%. Kesimpulan dalam penelitian ini yaitu tingkat kecernaan bahan kering dan kecernaan bahan organic dapat meningkat dengan menambahkan campuran pakan Biji Koro Pedang dan Gaplek yang sudah di fermetasi dengan Aspergilus niger. Kata kunci: broiler finisher, konversi pakan, biji koro pedang, tepung gaplek, aspergilus niger. 
STUDI KASUS FASCIOLOSIS SAPI POTONG DI RUMAH POTONG HEWAN SINGKAWANG KALIMANTAN BARAT Muhammad Rahul Khadafi; Nurul Humaidah; Dedi Suryanto
Dinamika Rekasatwa: Jurnal Ilmiah (e-Journal) Vol 5, No 02 (2022): Dinamika Rekasatwa
Publisher : Dinamika Rekasatwa: Jurnal Ilmiah (e-Journal)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang berpengaruh terhadap kasus Fasciolosis sapi potong di Singkawang Kalimantan Barat. Materi penelitian ini adalah 50 data hati Fasciolosis dari 100 ekor sapi yang dipotong di rumah potong hewan (RPH) Singkawang serta data survey di 50 peternak pemilik sapi potong terinfeksi Fasciola hepatica. Metode penelitian adalah survey.  Data ditabulasikan dalam bentuk persentase dan dianalisa secara deskriptif. Variabel yang diamati adalah karakteristik peternak, performa sapi potong, Manajemen pemeliharaan, pengetahuan peternak tentang Fasciolosis, supporting pemerintah, pencegahan dan pengobatan. Hasil penelitian dari persentase tertinggi menunjukkan bahwa karateristik peternak meliputi umur yaitu peternak berusia 41-60 tahun 58%. Pendidikan peternak tertinggi yaitu SMA 46%. Pengalaman beternak 6-10 tahun 54%. Kepemilikan ternak 88% ternak pribadi. Performa sapi meliputi jenis sapi yaitu Sapi Bali 50%. Umur sapi yaitu 3–4 tahun sebesar 56%. Berat badan yaitu 100–150 kg 58%. Pemeliharaan ekstensif 54%. Pemberian pakan hijauan sebanyak 54%. Pengetahuan Fasciolosis adalah 100% peternak pernah mendengar faciolosis, pengetahuan gejala Fasciolosis 76% tahu. Pencegahan Fasciolosis 74% peternak tidak tahu. Pengobatan Fasciolosis 88% peternak tahu. Supporting pemerintah adalah 60% menyampaikan tidak ada penyuluhan. Pengobatan gratis dari pemerintah 76% menjawab tidak mendapatkan. Peternak yang melakukan pencegahan Fasciolosis tidak ada sama sekali atau 0%. Peternak yang melakukan pengobatan Fasciolosis ada 88%. Kesimpulan adalah Ketidaktahuan akan pencegahan Fasciolosis dan kurangnya suporting pemerintah dengan penyuluhan Fasciolosis adalah faktor utama penyebab tingginya Fasciolosis. Saran adalah melakukan edukasi tentang pencegahan Fasciolosis kepada peternak baik oleh pemerintah setempat maupun perguruan tinggi.Kata kunci : fasciolosis, zoonosis, rumah potong hewan, post mortem
PENGARUH BERBAGAI JENIS GULA TERHADAP NILAI pH, SINERESIS DAN KUALITAS ORGANOLEPTIK YOGHURT Musoffin, Abdul; Kentjonowaty, Inggit; Puspitarini, Oktavia Rahayu
Dinamika Rekasatwa: Jurnal Ilmiah (e-Journal) Vol 7, No 1 (2024): Dinamika Rekasatwa
Publisher : Dinamika Rekasatwa: Jurnal Ilmiah (e-Journal)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa dan mengetahui pengaruh berbagai jenis gula terhadap nilai pH, sineresis dan kualitas organoleptik yoghurt. Materi yang digunakan dalam penelitian ini adalah susu sapi 3 liter, gula tebu, gula aren, gula batu masing-masing jenis 100 g, bibit yoghurt sebanyak 3% dan form organoleptik. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah percobaan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) 4 perlakuan dan 5 ulangan. P0 yoghurt tanpa penambahan gula, P1 yoghurt + gula tebu 4%, P2 yoghurt + gula aren 4%, P3 yoghurt + gula batu 4%. Variabel yang diamati nilai pH, sineresis, kualitas organoleptik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa berdasarkan analisis ragam penambahan berbagai macam jenis gula dalam yoghurt berpengaruh sangat nyata (P0,01) terhadap nilai pH, sineresis dan kualitas organoleptik. Adapun nilai pH P0 = 4,11a, P1 = 4,16b, P2 = 4,21c, P3 = 4,12a. Nilai sineresis (%) P0 = 4,734b, P1 = 4,512a, P2 = 4,526a, P3 = 4,688a. Nilai kualitas organoleptik warna P0 = 4,46c, P1 = 3,66b, P2 = 2,08a, P3= 4,54c. Rasa P0 = 4,18c, P1 = 3,86b, P2 = 3,64a, P3 = 3,84b. Tekstur P0 = 3,16b, P1 = 3,76c, P2 = 4,06d, P3 = 2,86a, Kesukaan P0 = 3,12a, P1 = 4,10c, P2 = 4,26d, P3 = 3,62d. Kesimpulan bahwa penambahan berbagai jenis gula dalam yoghurt mempengaruhi nilai pH, sineresis dan kualitas organoleptik. Penambahan jenis gula aren 4% menghasilkan kualitas terbaik dengan nilai pH 4,21, nilai sineresis 4,526% dan nilai kualitas organoleptik warna: tidak putih, rasa: agak asam-asam tekstur: kental, kesukaan: suka.Kata kunci: yoghurt, sukrosa, nilai pH, sineresis, kualitas organoleptik
PERBANDINGAN UKURAN TUBUH PADA BERBAGAI WARNA BULU DAN NUKLEOTIDA GEN TYROSINASE (TYR) BURUNG KENARI (Serinus canaria) DAN BURUNG MERPATI (Columba livia domestica) Armada armada; Mudawamah mudawamah; Oktavia Rahayu Puspitarini
Dinamika Rekasatwa: Jurnal Ilmiah (e-Journal) Vol 1, No 1 (2019): Edisi Khusus Dinamika Rekasatwa
Publisher : Dinamika Rekasatwa: Jurnal Ilmiah (e-Journal)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian dilaksanakan dari tanggal 09 sampai 29 Desember 2017. Lokasi penelitian bertempat di pasar burung Splendid Jl. Brawijaya no. 6, Klojen, Kauman, Kota Malang. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis perbandingan warna bulu pada nukleotida gen tyrosinase (TYR). Materi yang digunakan adalah 15 burung kenari dan 15 burung merpati (polos ,mosaic,putih). Metode penelitian ini menggunakan (1) survei di pasar burung Splendid Malang untuk data ukuran tubuh kenari dan merpati (2) studi literatur untuk data nukleotida National Center for Biotehnologi Information (NCBI), data nukleotida burung kenari dari hasil penelitian Mudawamah et al. ( 2014). Variabel yang diamati panjang shank, lingkar dada, panjang tubuh berbagai warna bulu serta perbandingan nukleotida gen TYR kenari dan merpati. Data yang diperoleh dianalisis statistik menggunakan uji t tidak berpasangan untuk ukuran tubuh, perbandingan nukleotida secara deskriptif dengan software Basic Lokal Alignmant Search Tool (BLAST) NCBI. Hasil analisis uji t tidak berpasangan menunjukkan perbedan yang sangat nyata (P ˂0,01) hanya pada sifat panjangshank mosaic dan lingkar dada putih burung kenari dan merpati. Panjang shank kenari mosaic 2,65 cm dan merpati 4,32 cm, sedangkan ukuran lingkar dada kenari putih 3,84 cm dan merpati 10,93 cm. Jumlah nukleotida pada gen TYR kenari dan merpati 100% sama dengan panjang basa 1995. Kesimpulan penelitian ini adalah burung kenari memiliki kisaran rataan ukuran tubuh lebih kecil dibandingkan kisaran rataan ukuran tubuh burung merpati. Nukleotida dari gen TYR pada kenari dan merpati sama yaitu jumlah basa adenin (A)= 547, timin (T) = 512, citosin (C) = 475, guanin (G)= 460 dan N (A atau G atau C atau T) =1.Kata kunci : Ukurun tubuh, gen TYR, Kenari, Merpati
PENGARUH IMBANGAN JERAMI PADI DAN TEBON JAGUNG YANG DI FERMENTASI aspergillus niger PADA PAKAN COMPLETE TERHADAP KONSUMSI PAKAN,PBBH & KONVERSI PAKAN KAMBING PE Nata, Wishnu Sajiwa; Muwakhid, Badat; Sumartono, Sumartono
Dinamika Rekasatwa: Jurnal Ilmiah (e-Journal) Vol 7, No 1 (2024): Dinamika Rekasatwa
Publisher : Dinamika Rekasatwa: Jurnal Ilmiah (e-Journal)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrakpenting untuk mempertimbangkan nutrisi yang dibutuhkan kambing Pakan yang diberikan harus sesuai dengan kebutuhan nutrisi kambing. untuk pertumbuhan dan perkembangan yang optimal. Makanan lengkap biasanya mengandung 12,8% hingga 1% protein. tumbuh memerlukan makanan dengan kandungan protein 12-14% dan energi metabolis 2,8 mkal/kg. Oleh karena itu, penting untuk memperhatikan jumlah kandungan nutrisi pakan komplit, terutama PK, karena sangat penting untuk pertumbuhan kambing. yang banyak di manfaatkan untuk pakan ternak jenis Jerami padi dengan BK 92%, PK 5,3%, LK 3,3%, dan SK 32,1% yang ada di tulungagung. PBBH antar perlakuan dari tertinggi pada perlakuan P1 dan terendah P5. PBBH tertinggi P1 0.22 kg, dan terendah P5 0.11 kg. P1 memiliki rataan paling tinnggi dan P5 memiliki rataan paling rendah, hal ini di duga karena semakin meningkatnya tingkat campuran jerami padi pada pakan kambing PE. Penggunaan imbangan jerami padi 16% dan tebon jagung 37% dalam pakan complete berpengaruh terhadap PBBH dan konversi pakan. Perlakuan yang optimal pada komposisi pakan adalah 16% dibanding 37% dalam pakan complete menunjukan rataan konsumsi pakan 1.890 g/ekor/hari, PBBH 220 g/ekor/hari, konversi pakan 8.15.Kata kunci: Kambing PE, Komsumsi Pakan , PBBH, Konversi Pakan.
PERBEDAAN PENAMBAHAN DDGS TERHADAP JUMLAH PRODUKSI DAN BERAT JENIS SUSU SAPI PERAH ANTARA DI KUD DADI JAYA DENGAN PETERNAKAN RAKYAT Mochammad Basyori Alwi; Inggit Kentjonowaty
Dinamika Rekasatwa: Jurnal Ilmiah (e-Journal) Vol 6, No 01 (2023): Dinamika Rekasatwa
Publisher : Dinamika Rekasatwa: Jurnal Ilmiah (e-Journal)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah menganalisis perbedaan penambahan DDGS (Distiller’s Dried Grains with Solubles)terhadap produktivitas susu dan kualitas susu sapi perah PFH. Penelitian ini di lakukan di KUD Dadi Jaya, Pasuruan dan materi yang digunakan yaitu 20 ekor sapi Peranakan Friesian Holstein yang berumur 4 tahun pada periode laktasi yang ke 3 dan pada laktasi bulan yang ke 3 dengan produktivitas susu rata-rata 15 liter/hari. Kelompok sapi A adalah sapi milik KUD Dadi Jaya yang diberikan penambahan DDGS 3kg/ekor/hari dan kelompok B adalah sapi peternakan rakyat yang tidak diberikan DDGS. Metode pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan metode pengamatan pada data primer, yaitu diperoleh dari data recording produksi susu kedua peternak yang diamati selama 30 hari. Analisis data yang digunakan yaitu menggunakan uji-t. Hasil penelitian diperoleh rata-rata produksi susu dan BJ pada kelompok A yang berasal dari 10  ekor sapi PFH di KUD Dadi Jaya selama 30 hari dengan penambahan DDGS yaitu A1 (14,43liter BJ 1,024g/ml ), sapi A2 (14,34liter BJ 1,025g/ml), sapi A3 (14,93 liter BJ 1,025g/ml), sapi A4 (14,52 liter BJ 1,024g/ml), sapi A5 (14,86 liter BJ 1,024g/ml), sapi A6 (14,48 liter BJ 1,025g/ml), sapi A7 (14,13 liter BJ 1,024g/ml), sapi A8 (14,26 liter BJ 1,025g/ml), sapi A9 (15,35 liter BJ 1,025g/ml) dan rata-rata produksi susu yang dihasilkan A10 yaitu sebesar 15,67 liter dan BJ yang dihasilkan 1,025g/ml.  Pada kelompok B berasal dari sapi PFH peternakan rakyat. Setiap sapi memiliki produksi  susu yang berbeda. Sapi B menunjukkan rata-rata produksi susu yang dihasilkan selama 30 hari tanpa penambahan DDGS yaitu sapi B1 (10,90 liter BJ 1,023g/ml) sapi B2 (10,11 liter BJ 1,023 g/ml ), sapi B3 (13,86 liter BJ 1,024 g/ml), sapi B4 (10,27 liter BJ 1,023 g/ml), sapi B5 (10,30 liter BJ 1,024 g/ml), sapi B6 (10,69 liter BJ 1,023 g/ml), sapi B7 (10,24 liter BJ 1,024 g/ml), sapi B8 (10,14 liter BJ 1,025 g/ml), sapi B9 (10,47 liter BJ 1,024 g/ml) dan rata-rata produksi susu yang dihasilkan B10 yaitu sebesar 10,65 liter dan BJ yang dihasilkan 1,025g/ml. Analisis statistik dengan menggunakan uji-t menunjukkan rata-rata produksi susu di KUD Dadi Jaya dengan penambahan DDGS 14,70 liter dan BJ yang dihasilkan 1,025g/ml, dan pada produksi susu dan BJ yang dihasilkan dari peternakan rakyat yang tidak menggunakan penambahan DDGS yaitu 10,77 liter dan BJ 1,024. Disimpulkan bahwa rata-rata produksi susu dan BJ dengan penambahan DDGS dan tanpa pemberian DDGS berbeda (P<0,5) yang berarti memberikan pengaruh yang nyata terhadap pemberian DDGS pada ternak sapi PFH di KUD Dadi Jaya dan peternakan rakyat.Kata kunci : DDGS, produksi, susu, BJ
PENGARUH PERBEDAAN DOSIS TEPUNG RUMPUT KEBAR (Biophytum petersianum) TERHADAP PERFORMANCE REPRODUKSI KELINCI BETINA LOKAL Riyadi riyadi; Nurul Humaidah; Umi Kalsum
Dinamika Rekasatwa: Jurnal Ilmiah (e-Journal) Vol 2, No 1 (2019): Edisi Khusus Dinamika Rekasatwa
Publisher : Dinamika Rekasatwa: Jurnal Ilmiah (e-Journal)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan menganalisa pengaruh suplemen tepung rumput kebar (Biophytum petersianum) terhadap performan reproduksi kelinci betina local. Materi penelitian adalah 16 kelinci indukan lokal yang telah melahirkan 2 kali, dengan bobot badan 2-2,5 Kg. Pakan berupa konsentrat dan hijauan sebagai pakan pokok dengan jumlah konsentrat 85 gram dan hijauan500 gram ekor/hari. Metode Penelitian eksperimental dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL). Perlakuan yang diberikan adalah perbedaan pemberian dosis tepung rumput kebar yaitu P0=0 gr, P1 = 3 gr, P2 = 5 gr, P3 = 7 gr. Variabel yang diamati adalah jumlah dan bobot anak sekelahiran. Data yang diperoleh dianalisa varian (ANOVA) dan uji BNT. Hasil penelitian menunjukkan bahwaperbedaan dosis tepung rumput kebar memberikan pengaruh sangat nyata (P<0,01) terhadap Jumlah anak yang dilahirkan dan tidak berpengaruh nyata (P>0,05) terhadap bobot badan anak yang dilahirkan. Bilai rataan jumlah anak yang dilahirkan yaitu P0=4,25a; P1=5a; P3=7,50ab, P2=8,75b. Sedangkan rataan bobot badan anak yang dilahirkan yaitu P0=52,19; P1=49,62; P2=51,40;P3=56,21. Kesimpulan dari penelitian ini adalah Pemberian Tepung Rumput Kebar berpengaruh terhadap jumlah anak sekelahiran pada induk kelinci betina local dan Pemberian Tepung Rumput Kebar sebesar 5 gram meningkatkan jumlah anak sekelahiran yaitu rata-rat 8-9 ekor dengan ratarata bobot badan 51,40 gramKata kunci : tepung, rumput kebar, pakan, kelinci, performa reproduksi