cover
Contact Name
Mokh. Yahya
Contact Email
myahyaiainska@gmail.com
Phone
+6285726965279
Journal Mail Official
tabasajurnal@gmail.com
Editorial Address
Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Mas Said Surakarta Jl. Pandawa, Pucangan, Kartasura Sukoharjo 57168, Jawa Tengah Indonesia
Location
Kab. sukoharjo,
Jawa tengah
INDONESIA
Tabasa: Jurnal Bahasa, Sastra Indonesia, dan Pengajarannya
ISSN : 27460789     EISSN : 27460770     DOI : https://doi.org/10.22515/tabasa
Core Subject : Education,
Tabasa: Jurnal Bahasa, Sastra Indonesia, dan Pengajarannya facilitates and disseminates scientific articles from academics, teachers, and observers of Indonesian language and literature which includes the following focus and scope. 1. Indonesian language and its development 2. Indonesian literature and its development 3. Teaching Indonesian 4. Teaching Indonesian literature 5. Teaching Indonesian to Foreign Speakers (BIPA) 6. Malay Language and Literature
Articles 92 Documents
Traces of Local Language in Lembak Ethnic Folktales: Inventory and Documentation as a Medium of Cultural Literacy Nugroho, Agung; Puspita Sari, Inda; Cekman; Houtman
Tabasa: Jurnal Bahasa, Sastra Indonesia, dan Pengajarannya Vol. 7 No. 01 (2026)
Publisher : UIN Raden Mas Said Surakarta, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22515/tabasa.v7i01.14511

Abstract

Folklore is an important medium for preserving regional languages and transmitting cultural values to the community. However, most Lembak ethnic folklore has not been systematically documented, thus facing the potential for extinction as the number of speakers of the local language decreases. This study aims to identify the uniqueness of the language, document the folklore, and uncover the cultural values contained in Lembak ethnic folklore as a medium for local cultural literacy. This study uses a qualitative approach with vocabulary and linguistic element inventory methods, story documentation through transcription and transliteration processes, and content analysis to examine the cultural values contained in the story texts. The results show that the Lembak language has distinctive phonological, morphological, and syntactic characteristics, which are reflected in vocabulary, traditional expressions, and sentence patterns that represent the community's oral traditions. The documentation of the folklore also successfully captures local history, community cosmology, heroic values, and traditional beliefs as part of Lembak cultural identity. The content analysis reveals the existence of moral, social, religious values, and local wisdom that are relevant to strengthening character education. Thus, Lembak ethnic folklore has the potential to become an effective local cultural literacy medium to support the preservation of regional languages, strengthen cultural identity, and become a source of contextual learning in educational environments.   Cerita rakyat merupakan salah satu media penting dalam pelestarian bahasa daerah dan transmisi nilai budaya kepada masyarakat. Namun, sebagian besar cerita rakyat etnik Lembak belum terdokumentasi secara sistematis sehingga berpotensi mengalami kepunahan seiring berkurangnya penutur bahasa daerah. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi kekhasan bahasa, mendokumentasikan cerita rakyat, serta mengungkap nilai-nilai budaya yang terkandung dalam cerita rakyat etnik Lembak sebagai media literasi budaya lokal. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode inventarisasi kosakata dan unsur linguistik, dokumentasi cerita melalui proses transkripsi dan transliterasi, serta analisis isi untuk mengkaji nilai budaya yang terdapat dalam teks cerita. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bahasa Lembak memiliki karakteristik fonologis, morfologis, dan sintaktis yang khas, yang tercermin dalam kosakata, ungkapan tradisional, dan pola kalimat yang merepresentasikan tradisi tutur masyarakat. Dokumentasi cerita rakyat juga berhasil merekam sejarah lokal, kosmologi masyarakat, nilai kepahlawanan, serta kepercayaan tradisional sebagai bagian dari identitas budaya Lembak. Analisis isi mengungkap adanya nilai moral, sosial, religius, dan kearifan lokal yang relevan dengan penguatan pendidikan karakter. Dengan demikian, cerita rakyat etnik Lembak berpotensi menjadi media literasi budaya lokal yang efektif untuk mendukung pelestarian bahasa daerah, memperkuat identitas budaya, serta menjadi sumber pembelajaran kontekstual di lingkungan pendidikan.
Feminine Metaphors and Archipelagic Ecological Narratives in Contemporary Indonesian Short Stories Assalam, Muhammad Hafidz; Wening Udasmoro; Aprinus Salam; Wahyu Wiji Astuti; Deswandito Dwi Saptanto
Tabasa: Jurnal Bahasa, Sastra Indonesia, dan Pengajarannya Vol. 7 No. 01 (2026)
Publisher : UIN Raden Mas Said Surakarta, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22515/tabasa.v7i01.14633

Abstract

This study aims to explore recent Indonesian short stories written by women in their efforts to produce feminine metaphors as a form of resistance against the singular truth of masculinity. In narrating their short stories, female writers produce feminine metaphors shaped by the ecological conditions surrounding them. These feminine narratives are presented as an accentuation of women's defense against the ecological damage suffered by islands inhabited by humans. The patriarchal system combined with greedy capitalism and modernism has damaged the ecology of the islands where humans live. Through literary works, women carry out symbolic resistance by producing new metaphors as a representation of the mainstreaming of women in their involvement in creating an egalitarian relationship between humans and nature. This study uses the narrative theory approach from Helene Cixous which was then developed into feminine metaphors by Leslie Rabine. Based on an exploratory analysis of linguistic data in the short stories Mandi Mayah and Kesaksian di Titik Didih by Deasy Tirayoh, and Angin Berkabar Hujan by Dian Nangin, the results show that feminine metaphors are closely related to the ecological elements of the islands, including the sea, plantations, and agriculture. In this case, the sea, plantations, and agriculture are combined with efforts to resist patriarchy, capitalism, and modernism through the accentuation of symbolic and metaphorical language. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi cerita pendek Indonesia mutakhir yang ditulis oleh perempuan dalam upaya untuk menghasilkan metafora feminin sebagai bentuk perlawanan terhadap kebenaran tunggal maskulinitas. Dalam menarasikan cerpennya, penulis perempuan menghasilkan metafora feminin yang dibentuk dari kondisi ekologis di sekitar penulis sendiri. Narasi feminin ini disajikan sebagai penekanan pada pembelaan perempuan terhadap kerusakan ekologis yang diderita oleh pulau-pulau yang dihuni manusia. Sistem patriarki yang dikombinasikan dengan kapitalisme yang serakah dan modernisme telah merusak ekologi pulau-pulau tempat manusia tinggal. Melalui karya sastra, perempuan melakukan perlawanan simbolis dengan menghasilkan metafora baru sebagai representasi dari pengarusutamaan perempuan dalam keterlibatannya dalam menciptakan hubungan egaliter antara manusia dan alam. Penelitian ini menggunakan pendekatan teori naratif dari Helene Cixous yang kemudian dikembangkan menjadi metafora feminin oleh Leslie Rabine. Berdasarkan analisis eksploratif data linguistik dalam cerita pendek Mandi Mayah dan Kesaksian di Titik Didih karya Deasy Tirayoh, dan Angin Berkabar Hujan karya Dian Nangin, hasil analis menunjukkan bahwa metafora feminin sangat terkait dengan unsur-unsur ekologis pulau, termasuk laut, perkebunan, dan pertanian. Dalam hal ini, laut, perkebunan, dan pertanian dikorelasikan dengan upaya untuk melawan patriarki, kapitalisme, dan modernisme melalui penekanan pada bahasa simbolis dan metaforis.  

Page 10 of 10 | Total Record : 92