cover
Contact Name
Adek Cerah Kurnia Azis
Contact Email
adek_peros@yahoo.com
Phone
+6285278021981
Journal Mail Official
gorgajurnalsenirupa@unimed.ac.id
Editorial Address
Jl. Willem Iskandar / Pasar V, Medan, Sumatera Utara – Indonesia Kotak Pos 1589, Kode Pos 20221
Location
Kota medan,
Sumatera utara
INDONESIA
Gorga : Jurnal Seni Rupa
ISSN : 23015942     EISSN : 25802380     DOI : https://doi.org/10.24114/gr.v9i1
Core Subject : Education, Art,
Gorga : Jurnal Seni Rupa terbit 2 (dua) kali setahun pada bulan Juni dan Desember, berisi tulisan/artikel hasil pemikiran, hasil penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat yang ditulis oleh para pakar, ilmuwan, praktisi (seniman), dan pengkaji dalam disiplin ilmu kependidikan, kajian seni, desain, dan pembelajaran seni dan budaya.
Articles 846 Documents
PERANCANGAN TUAS PADA KURSI RODA UNTUK MEMBANTU MOBILITAS PENYANDANG DIFABEL BERAKTIVITAS DI LUAR Swandhani, Ahmad Riyadi; Wahjudi, Deddy
Gorga : Jurnal Seni Rupa Vol. 12 No. 2 (2023): Gorga : Jurnal Seni Rupa
Publisher : Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/gr.v12i2.47680

Abstract

People with disabilities see wheelchairs as a solution, wheelchairs are a facility for people who can't walk or people who can't walk far. The existence of physical limitations makes a person with disabilities need more attention, a person with disabilities is someone whose rights need to be fulfilled as well as all of us. However, sometimes it is still difficult to get equal access to education, opportunities, and public facilities. The disabled, especially the physically disabled, are very likely to carry out outdoor activities independently, but must be accommodated so that they require various kinds of assistance from wheelchairs, in this case existing products or pedestrians. Mobility becomes an obstacle for them when they want to do activities outside. The design method uses Design Thinking because there is empathy which is the main foundation of this research and the research approach undertaken is descriptive qualitative, namely research conducted by processing data from interviews and observations in the form of data and analysis. Of all these problems, this research focuses on designing a product that can maximize the function of wheelchairs in activities and events even when they have to leave the house for the disabled.Keywords: disabilities, wheelchair, mobility, design, lever. AbstrakPenyandang difabel tunadaksa melihat kursi roda sebagai solusi, kursi roda merupakan suatu fasilitas bagi orang yang tidak bisa berjalan atau orang yang tidak bisa bisa berjalan jauh. Adanya keterbatasan fisik membuat seorang difabel membutuhkan perhatian lebih, Difabel adalah seseorang yang perlu dipenuhi haknya sama halnya dengan kita semua. Namun, terkadang masih sulit mendapatkan akses yang sama di pendidikan, kesempatan, hingga layanan fasilitas umum. Difabel terkhusus tuna daksa sangat memungkinan untuk melakukan aktivitas luar secara mandiri, namun harus diakomodasi sehingga membutuhkan berbagai macam bantuan fasilitas dari kursi rodanya dalam hal ini produk eksisting ataupun pedestrian. Mobilitas menjadi hambatan mereka ketika ingin melakukan aktivitas di luar. Metode perancangan menggunakan Design Thinking dikarenakan terdapat empati yang menjadi landasan utama penelitian ini dan pendekatan penelitian yang dilakukan ialah kualitatif dekspriptif, yaitu penelitian yang dilakukan dengan mengolah data dari hasil wawancara dan observasi yang berupa data dan analisis. Dari seluruh permasalahan tersebut, penelitian ini berfokus pada perancangan sebuah produk yang dapat memaksimalkan fungsi dari kursi roda dalam beraktivitas dan acara apapun bahkan ketika harus keluar rumah bagi difabel.Kata Kunci: difabel, kursi roda, mobilitas, tuas. Authors:Ahmad Riyadi Swandhani : Insitute Teknologi BandungDeddy Wahjudi : Insitute Teknologi Bandung References:Ady, W. G. (2011). Pengembangan Desain Kursi Roda Khususnya pada Lansia Berdasarkan Citra (Image) Produk Dengan Metode Kansei Engineering. Surakarta: Institutional Repository.Aziz, S. (2014). Pendidikan Seks Bagi Anak Berkebutuhan Khusus. Jurnal Kependidikan, 2(2), 182-204.Batan, I. (2006). Pengembangan Kursi Roda Sebagai Upaya Peningkatan Ruang Gerak Penderita Cacat Kaki. Jurnal Teknik Industri 8(2), 97-105.Carr, S., Francis , M., Rivlin , L. G., & Stone , A. M. (1992). Public Space. Cambridge University Press.Dewang, N., & Leonardo , L. (2010). Aksesibilitas Ruang Terbuka Publik bagi Kelompok Masyarakat Tertentu Studi Fasilitas Publik bagi Kaum Difabel di Kawasan Taman Suropati Menteng-Jakarta Pusat. Planesa, 1(1), 213267.Erwin, W. (2017). Strategi dan Metode Mengajar Siswa Di Luar Kelas. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media.Lynch, K. (1965). The City as Environment. Scientific American, 213(3), 209-221.Munawar, I. (2009). Hasil Belajar (Pengertian dan Definisi). Jakarta: Rineka Cipta.Priest, S. (1986). Redefining Outdoor Education: A Matter of Many Relationships. The Journal of Environmental Education, 17(3), 13-15.Saitta, M., Devan, H., Boland, P., & Perry, M. A. (2019). Park-Based Physical Activity Interventions for Persons With Disabilities: A Mixed-Methods Systematic Review. Disability and Health Journal 12(1), 11-23.Santoso, M. &. (2017). Pergeseran paradigma dalam disablitas. Intermestic: Journal of International Studies 1(2), 166-176.Seragih, Y. G., & Azis, A. C. K. (2021). Tinjauan Hasil Gambar Ilustrasi Kartun dengan Objek Binatang. Ekspresi Seni: Jurnal Ilmu Pengetahuan dan Karya Seni, 23(2), 302-318.Soetam, R. (2011). Konsep Dasar Rekayasa Perangkat Lunak. Jakarta: Jakarta Prestasi Pustaka Press.Sugiyono, D. (2013). Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif dan R&D. Alfabeta.Suharto, S., Kuipers, P., & Dorsett , P. (2016). Disability Terminology And The Emergence of ˜Diffability™in Indonesia. Disability & Society, 31(5), 693-712.Suryani, N., Martati, B., & Setiawan, F. (2023). Analisis Karakter Mandiri Dalam Kegiatan Outdoor Siswa Kelas III Sekolah Dasar. Journal on Education, 6(1), 2235-2243.Walzer, M. (1990). The Communitarian Critique of Liberalism. Political Theory, 18(1), 6-23.Wibawa, M., & Suci, A. W. (2021). Perancangan buku œKomunikasi dalam Isyarat sebagai Media Pengenalan Huruf Hijaiyah untuk Anak Tunarungu Berbasis Ilustrasi. Gorga: Jurnal Seni Rupa, 10(1), 201-214.
PERANCANGAN ANIMASI 2D œJIKA KITA TAK PERNAH JADI APA-APA SEBAGAI MOTIVASI INSECURE AKAN MASA DEPAN Nugraheni, Annisa; Rachman, Anung; Kurniawan, Rendya Adi
Gorga : Jurnal Seni Rupa Vol. 12 No. 2 (2023): Gorga : Jurnal Seni Rupa
Publisher : Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/gr.v12i2.47849

Abstract

Every individual must have felt a feeling of insecurity. Insecure is linked to mental health conditions, one of which is anxiety. These feelings, if considered trivial, can cause individuals to hurt themselves. The purpose of this study is to raise the spirit and help reduce insecurity by watching motivational videos as a form of self-healing. This research uses the MDLC (Multimedia Life Development Cycle) method consisting of six stages, namely: Concept, Design, Material Collecting, Assembly, Testing, and Distribution. The result of this study is a 2D animation product entitled "If We Never Become Anything" which is used to raise the audience's enthusiasm about feelings of anxiety, tension, worry, and fear of failure in the future. The conclusion obtained from the research is that this 2D animated video is worth distributing and relating to the audience.Keywords: Animation, insecure, MDLC, Motivation.AbstrakSetiap individu pasti pernah merasakan perasaan insecure dalam dirinya. Insecure terkait dengan kondisi kesehatan mental salah satunya adalah kecemasan. Perasaan tersebut jika dianggap sepele dapat mengakibatkan individu melukai dirinya sendiri hingga percobaan bunuh diri. Penelitian ini bertujuan untuk membangkitkan semangat dan membantu mengurangi insecure dengan cara menonton video motivasi sebagai bentuk self healing. Penelitian ini menggunakan metode MDLC (Multimedia Life Development Cycle) terdiri dari enam tahapan yaitu: Konsep (Concept), Perancangan (Design), Pengumpulan Bahan (Material Collecting), Pembuatan (Assembly), Pengujian (Testing), dan Distribusi (Distribution). Hasil dari penelitian ini adalah produk animasi 2D adaptasi dari buku karya Alvi Syahrin dengan judul yang sama, yaitu œJika Kita Tak Pernah Jadi Apa-Apa yang menceritakan perjalanan seorang remaja yang beranjak dewasa. Animasi 2D ini dikisahkan dengan makna konotasi, yaitu mendaki gunung sebagai representasi perjalanan hidup naik turun dan penuh rintangan. Kesimpulan yang didapatkan dari penelitian adalah video animasi 2D ini layak didistribusikan pada khalayak umum dan relate dengan para audience sehingga dapat digunakan untuk motivasi dalam menghadapi insecure.Kata Kunci: Animasi, Insecure, MDLC, Motivasi.Authors:Annisa Nugraheni : Institut Seni Indonesia SurakartaAnung Rachman : Institut Seni Indonesia SurakartaRendya Adi Kurniawan : Institut Seni Indonesia Surakarta References:Arifin, I., Wahyu, P., & Baharsyah, M. Y. (2020). Pengaruh Salah Pilih Jurusan Terhadap Rasa Putus Asa Mahasiswa Teknik Informatika. 1“5.Cahyo, K. N., Martini, & Riana, E. (2019). Perancangan Sistem Informasi Pengelolaan Kuesioner Pelatihan pada PT Brainmatics Cipta Informatika. Journal of Information System Research (JOSH), 1(1), 45“53. http://ejurnal.seminar-id.com/index.php/josh/article/view/44Jihan Insyirah Qatrunnada, Salma Firdaus, Sofika Dwi Karnila, & Usup Romli. (2022). Fenomena Insecurity di Kalangan Remaja dan Hubungannya dengan Pemahaman Aqidah Islam. IQ (Ilmu Al-Qur™an): Jurnal Pendidikan Islam, 5(02), 139“152. https://doi.org/10.37542/iq.v5i02.655Kholig, L. F. (2022). Pembinaan Kesehatan Mental Remaja Di MTS Ngalaban Desa Bendet Kecamatan Diwek Jombang. Pengabdian Kepada Masyarakat, 1, 45“51.Komarullah, N. A. (2022). Perancangan Konten Interaktif œInsecure Sebagai Kampanye Insecurity Melalui Media Sosial Instagram Untuk Generasi Z. Profil Kesehatan Kab.Semarang, 41, 1“9.Munir. (2012). Multimedia konsep dan aplikasi dalam pendidikan. In Alfabeta (Vol. 58, Issue 12).Noviyanti, A. (2021). Dinamika Kecemasan Karir Pada Mahasiswa Tingkat Akhir. KoPeN: Konferensi Pendidikan Nasional, 2003, 1“23.Nurjannah, U., Suharto, V. T., & Rizaldy, D. R. (2022). Nilai Moral Dan Nilai Pendidikan Dalam Novel œJika Kita Tak Pernah Jadi Apa-Apa Karya Alvi Syahrin. SHAMBHASANA: Seminar Nasional Bahasa, Sastra, Dan Pengajarannya, 1(1), 303“313.Rahayu, P. P., & Irsyadiyah, A. U. (2022). Psikoedukasi Tentang Kesehatan Mental Dan Psikopatologi Pada Masyarakat. Jurnal Pengabdian Masyarakat (Abdira), 2(2), 73“81. https://doi.org/10.31004/abdira.v2i2.135Saputra, P. A., & Retnoningsih, E. (2020). Animasi Interaktif Pengenalan Negara ASEAN Menggunakan Metode Multimedia Development Life Cycle. Journal of Students˜ Research in Computer Science, 1(2), 153“164. https://doi.org/10.31599/jsrcs.v1i2.406Widyastuti, C., Rizki Rahmawati, M., Nadia, F., & Nurliawati, E. (2022). Self-Healing Therapy Untuk Mengatasi Kecemasan. International Conference on Islamic Guidance and Counseling, 2, 295“300. https://vicon.uin-suka.ac.id/index.php/icigc/article/view/689
WORKSHOP SIMA BATIK DESA TANJUNG REJO: PENGEMBANGAN DESAIN BATIK CAP Ammarudin, Ammarudin; Atmojo, Wahyu Tri
Gorga : Jurnal Seni Rupa Vol. 12 No. 2 (2023): Gorga : Jurnal Seni Rupa
Publisher : Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/gr.v12i2.48154

Abstract

Sima Batik is very popular in Tanjung Rejo Village and other areas because of the good quality of its stamped batik so that the potential for income and profit is also visible in the large demand. However, the problem is that the available motifs are very limited. One of the reasons is constraints on time and operational management in producing batik. This means that the Sima Batik workshop has not yet developed batik stamps. The aim of this research is to find out the results of the design process and realization of stamped batik products which are characterized by Tanjung Rejo Village motifs in Tanjung Rejo Village and carry out development. The research is located in Tanjung Rejo Village Jl. Paluh 80 Hamlet XIV, Percut Sei Tuan District, Deli Serdang Regency, North Sumatra. The duration of the research is 3 months from January to March 2023. This type of research is Research and Development (R&D) using the 4-D development model, namely: define, design, develop and disseminate. The tools and materials needed for this development are A4 paper, pencils, erasers, rulers, drawing pens, colored pencils, computer equipment and printers. In the work procedure there are 4 stages, namely: making a stamped batik design, making a batik stamp canting, finishing, and product validation. Data collection techniques through observation, documentation, interviews and questionnaires. The instruments used in this development are cellphone cameras, notebooks, stationery and laptops. Data analysis techniques use validity analysis, practicality and effectiveness analysis. The results of the development are 6 motifs, namely: crab, mangrove, shrimp, bamboo, stork and rice motifs. From the six motifs, 3 types of stamped batik designs were produced which were applied to tote bags.Keywords: batik, stamp, design, development, motif. AbstrakSima Batik sangat diminati di Desa Tanjung Rejo dan daerah lainnya karena kualitas batik capnya yang bagus sehingga potensi penghasilan dan keuntungan juga terlihat dengan banyaknya permintaan. Namun, permasalahannya motif yang tersedia sangat terbatas. Salah satu alasannya adalah terkendala pada waktu dan manajemen operasional dalam memproduksi batik. Hal ini membuat workshop Sima Batik belum melakukan pengembangan cap batik. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui hasil proses desain dan perwujudan produk batik cap yang bercirikan motif Desa Tanjung Rejo di Desa Tanjung Rejo dan dilakukan pengembangan. Penelitian berlokasi di Desa Tanjung Rejo Jl. Paluh 80 Dusun XIV, Kecamatan Percut Sei Tuan, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara. Durasi penelitian selama 3 bulan sejak Januari hingga Maret 2023. Jenis penelitian ini adalah Research and Development (R&D) dengan menggunakan model pengembangan 4-D yaitu: define, design, develop, dan disseminate. Alat dan bahan yang dibutuhkan dalam pengembangan ini adalah kertas A4, pensil, penghapus, penggaris, pulpen gambar, pensil warna, perangkat computer, dan printer. Dalam prosedur kerja terdapat 4 tahapan yaitu: membuat desain batik cap, membuat canting cap batik, finishing, dan validasi produk. Teknik pengumpulan data melalui observasi, dokumentasi, wawancara, dan kuesioner. Instrumen yang digunakan dalam pengembangan ini adalah kamera handphone, buku catatan, alat tulis, dan laptop. Teknik analisis data menggunakan analisis kevalidan, analisis kepraktisan dan efektivitas. Hasil pengembangan berupa 6 motif yaitu: motif kepiting, mangrove, udang, bambu, bangau, dan padi. Dari keenam motif dihasilkan 3 jenis desain batik cap yang luarannya diterapkan pada tote bag.Kata Kunci: batik, cap, desain, pengembangan, motif. Authors:Ammarudin : Universitas Negeri MedanWahyu Tri Atmojo : Universitas Negeri Medan References: Arini, A. M., & Ambar, B. (2011). Batik: Warisan Adiluhung Nusantara. Yogyakarta: Andi Offset.BPS Deli Serdang. (2014). Deli Serdang Dalam Angka/ Deli Serdang in Gambars. Deli Serdang: Badan Pusat Statistik Kabupaten Deli Serdang.Dhani, Siti Rama; Sri Wiratma & Misgiya. (2020). Tinjauan Hasil Kerajinan Batik Cap di Batik Sumut Medan Tembung Berdasarkan Warna, Motif, dan Harmonisasi. Gorga: Jurnal Seni Rupa, 9(1), 88-93.Delila, T., & Wiratma, S. (2017). Kerajinan Batik Dan Perkembangany Studi Kasus Pada Ardhina Batik Medan. Gorga: Jurnal Seni Rupa, 6(2), 89-102.KBBI. (2008). Kamus Bahasa Indonesia. Jakarta: Pusat BahasaKamala, N., & Adriani, A. (2019). Studi Tentang Motif Dan Pewarnaan Batik Cap Dengan Zat Pewarnaan Alam di Rumah Batik Dewi Busana Kecamatan Lunang Kabupaten Pesisir Selatan. Gorga: Jurnal Seni Rupa, 8(2), 303-307.Krevitsky, N. (1964). Batik: Art and Craft. New York: Reinhold Publishing Corporation New York an Art Horizons Book.Midah, M. (2020). œSumber Desain Motif Sima Batik Hasil Wawancara Pribadi: 31 Januari 2020, Percut Sei Tuan.Seragih, Y. G., & Azis, A. C. K. (2021). Tinjauan Hasil Gambar Ilustrasi Kartun dengan Objek Binatang. Ekspresi Seni: Jurnal Ilmu Pengetahuan dan Karya Seni, 23(2), 302-318.Thiagarajan, S., Semmel, D.S., & Semmel, M.I. (1974). Instructional Development for Training Teacher Of Exceptional Children. Bloomington Indiana: Indiana University.Widya, L. (2002). Fundamental of Art and Desain. Jakarta: Cybermedia College.
PERANCANGAN MOBILE APPS KAMUS SEBAGAI MEDIA DOKUMENTASI BAHASA ISYARAT KHAS BANDUNG DENGAN PERAGA ANIMASI 3D Farosa, Afif Wahyu; Irfansyah, Irfansyah
Gorga : Jurnal Seni Rupa Vol. 12 No. 2 (2023): Gorga : Jurnal Seni Rupa
Publisher : Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/gr.v12i2.48894

Abstract

Sign language, which is the main means of communication for the deaf, has many different variations in each region. As a diversity of languages and cultural identities for people with hearing impairment, regional languages also need to be preserved. Bandung as a city that has the highest type of deaf out of all persons with disabilities in it, has a large and active deaf community in introducing distinctive gestures. In fact, several studies have shown that the development of regional sign language led to the start of the construction of the first special school in the city of Bandung, but there has been no research on sign language in the Bandung area itself. The new media can help maintain the typical Bandung sign language to last longer so that it does not experience changes, transitions and language death. The digital dictionary was chosen to be a medium for documentation of Bandung sign language because it fits the needs of problems regarding language resistance. A digital operating system can be summarized in a single unit in the form of an application that can run on two types of devices, namely desktop and mobile. Referring to the design of a digital dictionary that functions as a tool, it requires usability flexibility, so that the application will be designed on mobile media (mobile apps). The design of the dictionary uses a visual aid in the form of 3-dimensional (3D) animation as a conveyer of the language you are looking for and what you want to know. So the purpose of the linguistic study of Bandung sign language is to be able to document the language in a digital dictionary in the form of a 3D animation display. This research uses the design thinking method with a qualitative approach. Data collection was carried out directly in the Deaf community in the city of Bandung and will develop collectively in line with the findings of regional Bandung sign language.Keywords:sign, language, animation, dictionary, Bandung. AbstrakBahasa isyarat yang menjadi alat komunikasi utama bagi penyandang tunarungu (Tuli) memiliki berbagai macam variasi berbeda pada setiap daerah. Sebagai satu keragaman bahasa dan identitas budaya bagi penyandang Tuli, bahasa daerah juga perlu dilestarikan. Bandung sebagai kota yang memiliki jenis Tuli tertinggi dari seluruh penyandang disabilitas di dalamnya, memiliki komunitas Tuli yang besar dan aktif dalam mengenalkan gerak isyarat khas. Bahkan beberapa penelitian menunjukkan bahwa perkembangan bahasa isyarat daerah mengarah pada dimulainya pembangunan sekolah luar biasa pertama yang berada di kota Bandung, namun penelitian bahasa isyarat derah Bandung sendiri belum ada. Media yang baru dapat membantu mempertahankan bahasa isyarat khas Bandung untuk bertahan lebih lama agar tidak mengalami perubahan, peralihan dan kematian bahasa. Kamus digital dipilih untuk menjadi media dokumentasi bahasa isyarat Bandung karena sesuai dengan kebutuhan dari permasalahan mengenai ketahanan bahasa. Sistem operasi digital dapat diringkas dalam satu kesatuan berbentuk aplikasi yang dapat dijalankan pada dua jenis device, yaitu desktop dan mobile. Mengacu pada perancangan kamus digital yang berfungsi sebagai alat bantu maka membutuhkan fleksibilitas kegunaan, sehingga aplikasi akan dirancang pada media yang bersifat mobile (mobile apps). Perancangan kamus menggunakan peraga dalam bentuk animasi jenis 3 dimensi (3D) sebagai penyampai bahasa yang dicari maupun yang ingin diketahui. Sehingga tujuan dari studi linguistik mengenai bahasa isyarat Bandung adalah untuk dapat menjadi dokumentasi bahasa ke dalam kamus digital dalam bentuk peraga animasi 3D. Penelitian menggunakan metode design thinking dengan pendekatan kualitatif. Pengumpulan data dilakukan secara langsung pada komunitas di Tuli di Kota Bandung dan akan berkembang secara kolektif seiring dengan temuan bahasa isyarat daerah Bandung.Kata Kunci: bahasa, isyarat, animasi, kamus, Bandung. Authors:Afif Wahyu Farosa : Institut Teknologi BandungIrfansyah : Institut Teknologi Bandung References:Agung, L., Kartasudjana, T., & Permana, A. W. (2021). Estetika Nusantara dalam Karakter Gim Lokapala. Gorga: Jurnal Seni Rupa, 10(2), 473-477. https://doi.org/10.24114/gr.v10i2.28556Agustina, A. (2010). Aplikasi Kamus Digital Istilah-Istilah Biologi dengan Menggunakan Visual Basic 6, 0. Doctoral dissertation, Universitas Sumatera Utara. https://repositori.usu.ac.id/handle/123456789/75947 Ahmad, F. (2015). Aplikasi Kamus Digital Bahasa Indonesia-Bahasa Arab Dengan Menggunakan Metode Prototyping. Skripsi, Fakultas Ilmu Komputer. Barkhuus, L., Polichar, V.E. Empowerment through seamfulness: smart phones in everyday life. Pers Ubiquit Comput 15, 629“639 (2011). https://doi.org/10.1007/s00779-010-0342-4   Bahruddin, U., & Qodri, M. (2020). An analysis of the relevance of the items of the National Final Arabic Language Test to the Unit Level Curriculum (KTSP) and Modified Bloom's Classification. Arabiyat: Jurnal Pendidikan Bahasa Arab dan Kebahasaaraban. 7 (1). https://doi.org/10.15408/a.v7i1.12806Dam, R. F., & Siang, T. Y. (2020). Design thinking: Get started with prototyping. Interaction Design Foundation. https://library.parenthelp.eu/wp-content/uploads/2021/03/www.interaction-design.org_.pdf. (diakses tanggal 7 Juli 2023)Creswell, J. W. (2014). A concise introduction to mixed methods research. SAGE publications.Dorian, N. C. (1982). Language loss and maintenance in language contact situations. The loss of language skills, 44-59.Koendoro, D. (2007). Yuk, bikin komik. DAR! Mizan.Mesthrie, R. (Ed.). (2011). The Cambridge handbook of sociolinguistics. Cambridge University Press.Issa, T., & Isaias, P. (2022). Usability and human“computer interaction (hci). In Sustainable Design: HCI, Usability and Environmental Concerns (pp. 23-40). London: Springer London. https://doi.org/10.1007/978-1-4471-7513-1_2Isma, S. T. P. (2012). Signing varieties in Jakarta and Yogyakarta: Dialects or separate languages. Master of Art Thesis, The Chinese University of Hong Kong.Isma, S. T. (2018). Meneliti bahasa isyarat dalam perspektif variasi bahasa. Kongres Bahasa Indonesia., 1-14.Ke, F., Lin Kun Shan, H., Ching, Y. H., & Dwyer, F. (2006). Effects of animation on multi-level learning outcomes for learners with different characteristics: A meta-analytic assessment and interpretation. Journal of Visual Literacy. 26(1), 15-40. https://doi.org/10.1080/23796529.2006.11674630Kukulska-Hulme, A. (2005). Mobile Usability and User Experience. Routledge: London.Ngulum, M. C., & Indriyanti, A. D. (2020). Evaluasi Kualitas Website Simontasi Unesa Menggunakan Metode Webqual Dan Importance Performance Analysis (Ipa). Journal of Informatics and Computer Science (JINACS), 2(01). https://doi.org/10.26740/jinacs.v2n01.p38-42Nielsen, J. (1993): Usability Inspection Methods. John Wiley & Sons: New York.Palfreyman, N. (2017). Sign language varieties of Indonesia a linguistic and sociolinguistic investigation. Sign Language and Linguistics, 20(1), 135“145. https://doi.org/10.1075/sll.20.1.06palPriyatmono, Dody. (2013) Proses Pembuatan Karya Animasi:http://www.dodyanimation.com/2013/08/29/proses-pembuatankarya-animasi/#more-1056. (diakses tanggal 21 Juni 2023).Prilosadoso, B. H., Pujiono, B., Supeni, S., & Setyawan, B. W. (2019). Wayang beber animation media as an effort for preserving wayang tradition based on information and technology. Journal of Physics: Conference Series. Vol. 1339, No. 1, p. 012109. IOP Publishing. https://doi.org/10.1088/1742-6596/1339/1/012109Rahadi, D. R. (2014). Pengukuran usability sistem menggunakan use questionnaire pada aplikasi android. JSI: Jurnal Sistem Informasi (E-Journal), 6(1). https://doi.org/10.36706/jsi.v6i1.772 Ranang, A. S., Basnendar, H., & Asmoro, N. P. (2010). Animasi Kartun dari analog sampai digital. Jakarta: Indeks.Stamp, R., Schembri, A., Fenlon, J., & Rentelis, R. (2015). Sociolinguistic variation and change in British sign language number signs: Evidence of leveling?. Sign Language Studies. 15(2), 151“181. https://doi.org/10.1353/sls.2015.0001Sukintaka. (2004). Teori Pendidikan Jasmani (Filosofi, Pembelajaran dan Masa Depan). Bandung: Penerbit Nuansa.Sudarsono, Blasius. (2003). Menuju Era Baru Dokumentasi. Jakarta: LIPI Press.Suwiryo, A. I. (2013). Mouth movement patterns in Jakarta and Yogyakarta Sign Language: A preliminary study. Hong Kong: CUHK dissertation.Utami, D. (2011). Animasi Dalam Pembelajaran. Majalah Ilmiah Pembelajaran, 7(1). https://doi.org/10.17509/jpp.v16i1.2487  Wijaya, L. L. (2018). Bahasa Isyarat Indonesia Sebagai Panduan Kehidupan Bagi Tuli. http://repositori.kemdikbud.go.id/id/eprint/11034  Yuni, N. (2014). Studi Komparatif Ketrampilan Komunikasi Interpersonal Antara Pengguna Bahasa Isyarat SIBI dengan BISINDO. UniversitasMuhammadiyah Malang, Malang.Yohanes, J. A., Arjawa, I. G. P. B. S., & Punia, I. N. (2013). Bahasa Isyarat Indonesia Dalam Proses Interaksi Sosial Tuli dan œMasyarakat Dengar di Kota Denpasar. OJS Unud, 1-15.  https://doi.org/10.33322/petir.v15i1.1289Yuningsih, F., Hadi, A., & Huda, A. (2018). Rancang bangun animasi 3 Dimensi sebagai media pembelajaran pada mata pelajaran Menginstalasi PC. Voteteknika (Vocational Teknik Elektronika dan Informatika), 2(2). https://doi.org/10.24036/voteteknika.v2i2.4069.
PENCIPTAAN FILM DOKUMENTER œSOTUNG MAGO MENGGUNAKAN GAYA EKSPOSITORY Darma, Surya; Wahyuni, Sri; Polem, Haga Putra Arza
Gorga : Jurnal Seni Rupa Vol. 12 No. 2 (2023): Gorga : Jurnal Seni Rupa
Publisher : Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/gr.v12i2.49069

Abstract

Sotung Mago is a Batak language which means don't disappear. The film Sotung Mago explains anxiety to the younger generation of children who do not know and understand the meaning of art, especially in this case the Toba Batak. According to Dennis Huisman art can be conceptualized as an activity imitating nature, an activity playing around with art forms. Art can be equated with work methods or carpentry methods and techniques. Meanwhile, culture contains the whole understanding of values, norms, knowledge and all social, religious and other structures. Art and culture are usually interrelated or related which are inherited by the community, especially in this case the Batak. However, not a few people have ignored the artistic heritage in the Toba Batak so that the current generation doesn't know about it. The purpose of this research is to explore the creation of the documentary film œSotung Mago using expository style and to visualize several Toba Batak arts through documentary films. The method used refers to the stages of creative creation, namely the Preparation Stage, Incubation Stage, Illumination Stage (inspiration stage), and finally the Verification stage (proof or testing stage). The results of the Creation of the Documentary Film "Sotung Mago" use the expository documentary model so that the visuals look natural, descriptive, and informative through explanations from several relevant sources, and added Voice Over (VO) so that the audience can more easily understand the flow of this expository documentary model. Keywords: sotung mago, batak art, expository.  AbstrakSotung Mago merupakan Bahasa Batak yang memiliki arti jangan sampai menghilang. Film Sotung Mago menjelaskan keresahan kepada anak-anak generasi muda yang kurang mengetahui dan memahami mengenai makna kesenian khususnya dalam hal ini Batak Toba. Menurut Dennis Huisman seni dapat dikonsepsi sebagai kegiatan meniru alam, kegiatan bermain-main dengan bentuk seni. Seni dapat dipadankan dengan cara kerja atau metode dan teknik pertukangan. Sedangkan budaya mengandung keseluruhan pengertian nilai, norma, ilmu pengetahuan serta keseluruhan struktur-struktur sosial, religius dan lain-lain. Kesenian dan kebudayaan biasanya saling berkaitan atau berhubungan yang diwarisi oleh masyarakat khususnya dalam hal ini Batak. Namun, tidak sedikit masyarakat yang telah mengabaikan warisan kesenian dalam Batak Toba sehingga generasi saat ini kurang mengetahui hal tersebut. Tujuan penelitian ini adalah untuk mngekplorasi penciptaan film dokumenter œSotung Mago dengan menggunakan gaya ekspository serta memvisualisasikan beberapa kesenian Batak Toba melalui film dokumenter. Metode yang digunakan merujuk pada tahapan-tahapan penciptaan kreatif yaitu Tahap Preparation (persiapan), tahap Incubation (Pengeraman), Tahap Ilumination (tahap ilham, inspirasi), Terakhir tahap Verification (tahap pembuktian atau pengujian). Hasil Penciptaan Film Dokumenter œSotung Mago menggunakan model dokumenter ekspository agar visualnya terlihat alami, mendesktiptif, dan informatif melalui penjelasan dari beberapa narasumber terkait, dan ditambah dengan Voice Over (VO) sehingga penonton lebih mudah memahami alur model dokumenter ekspository ini.Kata Kunci: sotung mago, kesenian batak, ekspository.  Authors:Surya Darma : Universitas Potensi UtamaSri Wahyuni : Universitas Potensi UtamaHaga Putra Arza Polem : Universitas Potensi UtamaReferences:Armanto, R. B., Paramita, P., & Suryana, S. (2017). Penulisan Skenario Film Panjang. Jakarta : Fakultas Film dan Televisi Institut Kesenian Jakarta. Gerzon, R. A. (2017). Dokumenter : Dari Ide Sampai Produksi. Jakarta: FFTV IKJ. Minawati, R. (2014). Musik Pada Film Bukan Sekedar Latar. Jurnal Musikologi Penciptaan dan Pengkajian. Kartono, G., Sugito, S., & Azis, A. C. K. (2021). Pengembangan Bahan Ajar Bermuatan Lokal Batak untuk Sekolah Menengah di Kota Medan. Gorga: Jurnal Seni Rupa, 10(1), 215-222.Nurcahyani, I. (2017). Penciptaan Film Dokumenter œArtisan Dengan Gaya Ekspositori (Doctoral Dissertation, Institut Seni Indonesia Yogyakarta).Wibowo, P. N. H. (2019). Penciptaan Film Pendek Terinpirasi dari Kotak Pertanyaan Pelajaran Khas di SD Eksperimental Mangunan. TONIL: Jurnal Kajian Sastra, Teater dan Sinema, 16(2).Pratista, H. (2008). Memahami Film. Yogyakarta: Homerian Pustaka.Sahman, H. (1993). Mengenali Dunia Seni Rupa tentang Seni, Karya Seni, Aktifitas Kreatif, Apresiasi, Kritik dan Estetika. Semarang: IKIP Semarang Press.Sugiharti, A. (2016). Perancangan Buku Mengenal Dunia Seni Rupa untuk Anak Usia Dini. Bandung: Universitas Pendidikan Indonesia.Sugiyono, S. (2012). Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D. Bandung: Alfabeta.Wahyuni, S., Darma, S., & Saaduddin. (2021). Penciptaan Film Fiksi œDibalik Sungai Ular Menggunakan Alur Non-Linear. Gorga : Jurnal Seni Rupa, 10 (01), 45-55. https://doi.org/10.24114/gr.v10i1.22018
RATOK SI BUNSU: INTERPRETASI ILAU KE KOMPOSISI PENDEKATAN TRADISI Rahmadhani, Fitri; Asril, Asril; Halim, M.
Gorga : Jurnal Seni Rupa Vol. 12 No. 2 (2023): Gorga : Jurnal Seni Rupa
Publisher : Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/gr.v12i2.49076

Abstract

a tradition of the Solok people in the form of sadness or lamentation which can be found in the Kampai Tabu Karambia Village, Solok City. The function of the bailau was as a medium of information (notification) when a member of the community died overseas whose body could not be brought back to their hometown. Currently, bailau Ilau is only a performing art that is exhibited at certain traditional events so that it becomes bailau creations. Dendang ratok ilau is a source in the creation of new musical compositions, which has a musical phenomenon, namely there is a vocal technique called opmaat and also a tone mode which, if sequenced, can be found tones C, D, Dis, G, and A with intervals of 1, ½, 1 ½ , 1. Ratok Si Bunsu's work was worked on by the method of creating observation, discussion, exploration, realization, guidance, and completion using a traditional approach with the instruments saluang, rabab, canang, gong, ganto, karinding, and gandang tambua. The result of this work is that the creator divides the work into two parts. The first part of the artist's work on the dendang ratok ilau melody uses the principle of combining the two traditional vocals found in bailau art, but there are several tones used to enrich the form of the work. In the second part, the composer develops the melodies found in dendang ratok ilau into several forms of new melodies with vocals and melodic instruments and is reinforced with non-melodic instruments. It can be concluded that working on a composition based on traditional art is not an easy thing, but you have to study and understand the background of the traditional art itself.Keywords: ilau interpretation, ratok si bunsu. AbstrakIlau adalah tradisi masyarakat Solok berupa kesedihan atau ratapan yang bisa ditemui di Kelurahan Kampai Tabu Karambia Kota Solok. Fungsi bailau dahulunya sebagai media informasi (pemberitahuan) ketika salah seorang anggota masyarakat meninggal di perantauan yang jenazahnya tidak bisa dibawa pulang ke kampung halaman. Sekarang ini, bailau hanya sebagai seni pertunjukan yang dipertontonkan pada acara adat tertentu sehingga menjadi bailau kreasi. Dendang ratok ilau menjadi sumber dalam penggarapan komposisi musik baru, yang memiliki fenomena musikal yaitu terdapat teknik vokal yang disebut dengan opmaat dan juga modus nada yang jika diurutkan ditemui nada C, D, Dis, G, dan A dengan interval 1, ½, 1 ½, 1. Karya Ratok Si Bunsu digarap dengan metode penciptaan observasi, diskusi, eksplorasi, realisasi, bimbingan, dan penyelesaian menggunakan pendekatan tradisi dengan instrumen saluang, rabab, canang, gong, ganto, karinding, dan gandang tambua. Hasil dari karya ini adalah pengkarya membagi karya dalam dua bagian. Bagian pertama pengkarya menggarap melodi dendang ratok ilau menggunakan prinsip menggabungkan kedua vokal tradisi yang terdapat pada kesenian bailau, akan tetapi ada beberapa nada yang digunakan untuk memperkaya bentuk garapan. Pada bagian kedua, pengkarya mengembangkan melodi yang terdapat pada dendang ratok ilau menjadi beberapa bentuk melodi baru dengan vokal dan instrumen melodis serta diperkuat dengan instrumen non melodis. Dapat disimpulkan bahwa menggarap sebuah komposisi yang berangkat dari kesenian tradisi itu bukanlah hal yang mudah, melainkan harus mempelajari dan memahami latar belakang dari kesenian tradisi itu sendiri.Kata Kunci: interpretasi ilau, ratok si bunsu. Authors:Fitri Rahmadhani : Institut Seni Indonesia PadangpanjangAsril : Institut Seni Indonesia PadangpanjangM. Halim : Institut Seni Indonesia Padangpanjang References:Arizal, A. (2023). œIstilah Ratok Si Bunsu. Hasil Wawancara Pribadi: 23 Januari 2023, Koto Baru Solok. Basrul, Y. (2023). œBailau di KTK Solok. Hasil Wawancara Pribadi: 22 Januari 2023, KTK Solok. Herdianto, F., Yusnelli, Y., & Antara, F. (2021). Komposisi Musik Badondong Baibo dalam Musik Instrmental. GORGA: Jurnal Seni Rupa, 10(1), 115-124. https://jurnal.unimed.ac.id/2012/index.php/gorga/article/view/24912/15760Malik, C. (2018). Makna Ratok Ilau pada Pertunjukan Bailau di Kampai Tabu Karambia Kota Solok Sumatera Barat. https://lib.pasca.isi.ac.id/index.php?p=show_detail&id=4334Neng, N. (2023). œBailau di KTK Solok. Hasil Wawancara Pribadi: 22 Januari 2023, KTK Solok.Supanggah, R. (2007). Garap Bothekan Karawitan II. Surakarta: ISI Press Surakarta.Syofia, N. (2010). Tari Ilau sebagai Identitas dalam Kehidupan Masyarakat di Kelurahan Kampai Tabu Karambia Kota Solok Sumatera Barat. Tesis Program Pasca Sarjana ISI Padangpanjang.Tegar, K. (2023). Deskripsi dan Transkripsi Bailau pada Laman Youtube Andi Jagger dan Bidang Promosi dan Kebudayaan Dispar Kota Solok (Doctoral dissertation, Universitas Andalas).https://pustaka.fk.unand.ac.id/2016-04-11-15-04-06/skripsi-thesis-disertasi.
EKSPRESI MUSIKAL DALAM PERTUNJUKAN RAPAI BUBEE DI MEE PANGWA TRIENGGADENG PIDIE JAYA PROVINSI ACEH Intan, Intan Rizki; Ediwar, Ediwar; Sastra, Andar Indra; Nursyirwan, Nursyirwan
Gorga : Jurnal Seni Rupa Vol. 12 No. 2 (2023): Gorga : Jurnal Seni Rupa
Publisher : Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/gr.v12i2.49103

Abstract

Rapai Bubée is traditional music typical of the people of Gampong Mee Pangwa, Trienggadeng District, Pidie Jaya Regency, Aceh Province. The form of the Rapai Bubée art performance is different from other Rapai performances. Rapai Bubée uses Bubée as a performance property and the Rapai musical instruments as a sound medium. This research uses several theories related to musical and aesthetic expression by Mondro, whose contents state that, there are three characteristics that become good (beautiful) qualities or build aesthetics from aesthetic objects in general, namely: 1 (one) unity (unity) : 2 (two) complexity : 3 (three) seriousness (intensity).The aim of this research is related to the problem raised, namely uncovering the problem of musical expression in the Rapai Bubée performance in Gampong Mee Pangwa, Trienggadeng District, Pidie Jaya Regency, Aceh Province. The method used in this research is qualitative method. Data collection techniques were carried out using observati techniques, interview techniques and documentation techniques.Keywords: expression, musical, rapai bubée.AbstrakRapai Bubée merupakan musik tradisional khas masyarakat di  Gampong Mee Pangwa Kecamatan Trienggadeng Kabupaten Pidie Jaya Provinsi Aceh. Bentuk pertunjukan kesenian Rapai Bubée berbeda dengan pertunjukan Rapai lainnya. Rapai Bubée menggunakan Bubée sebagai properti pertunjukan dan alat musik Rapai sebagai media bunyi. Penelitian ini mengunakan beberapa teori yang berhubungan dengan ekspresi musikal dan estetika oleh mondro, yang isinya menyebutkan bahwa, ada tiga ciri yang menjadi sifat-sifat baik (indah) atau membangun estetis dari objek estetis pada umumnya yaitu : 1 (satu) kesatuan (unity) : 2 (dua) kerumitan (complexity) : 3 (tiga) kesungguhan (intensity). Tujuan penelitian ini berkaitan dengan masalah yang diangkat yakni mengungkap masalah ekspresi musikal dalam pertunjukan Rapai Bubée di  gampong Mee Pangwa Kecamatan Trienggadeng Kabupaten Pidie Jaya Provinsi Aceh. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan teknik observasi, teknik wawancara dan teknik dokumentasi.Kata Kunci: ekspresi, musikal, rapai bubée. Authors:Intan Rizki Junita Utami : Institut Seni Indonesia PadangpanjangEdiwar : Institut Seni Indonesia PadangpanjangAndar Indra Sastra : Institut Seni Indonesia PadangpanjangNursyirwan : Institut Seni Indonesia Padangpanjang References:Azis, A. C. K., Mesra, M., & Sugito, S. (2021). Pengembangan Bahan Ajar Micro Teaching Bagi Mahasiswa Seni Rupa Universitas Negeri Medan. Gorga: Jurnal Seni Rupa, 10(1), 223-229.Ediwar, E. (2010). Kesenian Bernuansa Islam Suku Melayu Minangkabau. Jurnal UKM, 5(1), 227-249.Nugroho, P. A., Fenriana, I., & Arijanto, R. (2020). Implementasi Deep Learning Menggunakan Convolutional Neural Network (CNN) pada Ekspresi Manusia. Algor, 2(1), 12-20.KBBI. (2008). Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.Marzuwan, M. (2019). Seni Tari Rapai Bubѐe Pidie Jaya. Penerbit: Bravo Darussalam.Rachmawati, I. N. (2007). Pengumpulan data dalam penelitian kualitatif: wawancara. Jurnal Keperawatan Indonesia, 11(1), 35-40.Sanjaya, Wina, (2013). Penelitian Pendidikan. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.Soeharto, M. (1992). Kamus Musik. Jakarta: Gramedia Widia Serana Indonesia.
MUATAN BUDAYA CHINA DALAM DESAIN KARAKTER YUN JIN GAME GENSHIN IMPACT Dewi, Fauzia Nurrahma; Mutiaz, Intan Rizky
Gorga : Jurnal Seni Rupa Vol. 12 No. 2 (2023): Gorga : Jurnal Seni Rupa
Publisher : Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/gr.v12i2.49133

Abstract

Genshin Impact is an open world game where the character details of each religion represent the culture of several countries, one of which is the character design in Liyue which takes representations of Chinese culture. The small details of the combination of cultural representations are the reason this research was conducted to answer the relationship between the use of culture in the game and in the real world. This research will use qualitative methods in the form of Roland Barthes semiotic analysis. The results related to the use of culture in Yun Jin's character design show that Chinese culture shown with idle and skill displays represents the culture of Chinese art called Chinese Peking opera role-playing art with the role played, namely the role of Wusheng. The design used in the design of Yun Jin is one way to renew the introduction of Chinese culture so that it is more easily accepted and recognized in a wide audience. The design used to strengthen the impression given by Yun Jin that as an artist also has an authority that is carried in a display of artwork.Keywords: Chinese culture, genshin impact, liyue, semiotics. AbstrakGenshin Impact merupakan game open world yang detail karakter dari setiap religion merepresentasikan budaya yang ada di beberapa negara, salah satunya yaitu pada desain karakter yang ada di Liyue yang mengambil representasi budaya China. Detail-detail kecil dari perpaduan representasi budaya tersebut menjadi alasan penelitian ini dilakukan guna menjawab keterkaitan dari penggunaan budaya di dalam game dengan di dunia nyata. Penelitian ini akan menggunakan metode kualitatif dalam bentuk analisis semiotika Roland Barthes. Hasil  terkait penggunaan budaya pada desain karakter Yun Jin menunjukan bahwa budaya China yang ditunjukan dengan tampilan idle dan skill merepresentasikan budaya kesenian China yang bernama kesenian bermain peran opera peking China dengan peran yang dimainkan yaitu peran Wusheng. Desain yang digunakan dalam desain Yun Jin menjadi salah satu cara dalam pembaharuan pengenalan budaya China sehingga lebih mudah diterima dan dikenal di khalayak luas. Desain yang digunakan untuk memperkuat kesan yang diberikan Yun Jin bahwa sebagai seorang seniman juga memiliki sebuah kewibawaan yang di bawa di dalam sebuah tampilan karya seni.Kata Kunci:budaya China,genshin impact, semiotika.Authors:Fauzia Nurrahma Dewi : Institut Tegnologi BandungIntan Rizky Mutiaz : Institut Tegnologi Bandung References:Barthes, Roland. 2012. Elemen-Elemen Semiologi Sistem Tanda Bahasa, Hermeneutika, Struktiralisme. Jogjakarta: IRCiSoD.Dwiyanto, A., & Wihardi, D. (2020). Analisis Semiotika Charles Sanders Pierce Pada Cover Majalah Tempo Online Edisi 25 Februari“03 Maret 2019. PANTAREI, 4(03).Fanani, F. (2013). Semiotika Strukturalisme Saussure. Jurnal The Messenger, 5(1), 10-15.Hutasuhut, M. L. (2009). Language, Culture and Society: a Theoretical Analysis of Stuart Halls Representation and Signifying Practices. -.Mahdayeni, M., Alhaddad, M. R., & Saleh, A. S. (2019). Manusia dan Kebudayaan (Manusia dan Sejarah Kebudayaan, Manusia dalam Keanekaragaman Budaya dan Peradaban, Manusia dan Sumber Penghidupan). Tadbir: Jurnal Manajemen Pendidikan Islam, 7(2), 154-165.Mudjiyanto, B., & Nur, E. (2013). Semiotics In Research Method of Communication [Semiotika Dalam Metode Penelitian Komunikasi]. Jurnal Pekommas, 16(1), 73-82.Syakhrani, A. W., & Kamil, M. L. (2022). Budaya Dan Kebudayaan: Tinjauan Dari Berbagai Pakar, Wujud-Wujud Kebudayaan, 7 Unsur Kebudayaan Yang Bersifat Universal. Cross-border, 5(1), 782-791.Keesing, R. (2014). Teori-teori tentang Budaya. Antropologi Indonesia.
KAJIAN REPRESENTASI MISTISISME JAWA PADA MISE EN SCENE LATAR FILM KKN DI DESA PENARI Riadi, Rizka Salsabila; Mutiaz, Intan Rizky
Gorga : Jurnal Seni Rupa Vol. 12 No. 2 (2023): Gorga : Jurnal Seni Rupa
Publisher : Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/gr.v12i2.49137

Abstract

The film industry in Indonesia has grown rapidly since the early 20th century and continues to be one of the people's favorite pastimes. Among the various genres of films released, horror films with elements of mystical myths and Indonesian culture are the most popular among audiences. Horror films have the main objective of evoking audience tension through the exploitation of horror elements, with a tense and frightening atmosphere built through physical and psychological mise en scene elements. This research focuses on the representation of Javanese mysticism in the setting of KKN di Desa Penari, an Indonesian horror film that set a record as a feature film with the highest number of viewers. Descriptive qualitative method was used in this research, with data collection through literature search and visual analysis based on the theories of Mise en Scene, Representation, and Cultural Studies of Javanese Mysticism. The results showed that the film succeeded in creating an immersive atmosphere with the use of representations of Javanese mysticism in various mise en scene elements, especially in the setting of places such as the Forest, Sinden Pool, Bathroom and Tapak Tilas, as well as the properties of Selendang Penari, Dancer Clothing, Kawaturih, and Gamelan Musical Instruments. The application of special effects, light and shadow and color in this film also represents mysticism and Javanese culture. Thus, this film successfully combines the representation of Javanese mysticism with strong cinematic elements, thus creating an interesting and captivating work for the audience.Keywords: KKN, Desa Penari, Film Setting. AbstrakIndustri film di Indonesia berkembang pesat sejak awal abad ke-20 dan terus menjadi salah satu hiburan favorit masyarakat. Di antara berbagai genre film yang dirilis, film horor dengan unsur mitos mistis dan budaya Indonesia menjadi paling populer di kalangan penonton. Film horor memiliki tujuan utama membangkitkan ketegangan penonton melalui eksploitasi unsur-unsur horor, dengan suasana tegang dan menakutkan yang dibangun melalui elemen mise en scene fisik dan psikologis Penelitian ini difokuskan pada representasi mistisisme Jawa dalam latar film KKN di Desa Penari, film horor Indonesia yang mencatat rekor sebagai film layar lebar dengan jumlah penonton terbanyak. Metode kualitatif deskriptif digunakan dalam penelitian ini, dengan pengumpulan data melalui pencarian literatur dan analisis visual berdasarkan teori Mise en Scene, Representasi, dan Kajian Budaya Mistisisme Jawa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa film ini berhasil menciptakan suasana mendalam dengan penggunaan representasi mistisisme Jawa pada unsur mise en scene yang beragam, terutama dalam latar tempat seperti Hutan, Kolam Sinden, Bilik Mandi dan Sanggar Tapak Tilas, serta properti Selendang Penari, Busana Penari, Kawaturih, dan Alat Musik Gamelan. Penerapan efek khusus, cahaya dan bayangan serta warna pada film ini juga merepresentasikan mistisisme dan budaya Jawa. Dengan demikian, film ini berhasil menggabungkan representasi mistisisme Jawa dengan elemen sinematik yang kuat, menciptakan karya yang menarik dan memikat bagi penonton.Kata Kunci: KKN, Desa Penari, Latar Film. Authors:Rizka Salsabila Riadi : Institut Teknologi BandungIntan Rizky Mutiaz : Institut Teknologi Bandung References:Agustina, W. L. (2016). Mitos dan sensualitas dalam perkembangan film horor Indonesia. Patrawidya: Seri Penerbitan Penelitian Sejarah Dan Budaya, 17, 193-208.Bordwell, D., dan Thompson, K. (2008). Film Art: An Introduction, McGraw Hill, 550.Geertz, C. (2013). Agama Jawa : Abangan, Santri, Priyayi dalam Kebudayaan Jawa. Depok: Komunitas Bambu.Gustama, A. (2021). Unsur-unsur Gotik dalam Thread dan Novel KKN di Desa Penari: Kajian Sastra Bandingan. MATAPENA: Jurnal Keilmuan Bahasa, Sastra, dan Pengajarannya, 4(2), 303-316.Halim, B., & Yulius, Y. (2023). Analisis Semiotika Ferdinand De Saussure pada Film œSelesai. Gorga¯: Jurnal Seni Rupa, 12(1), 63“69. https://doi.org/10.24114/gr.v12i1.41423Herusatoto, B. (2008). Simbolisme Jawa. Ombak, Yogyakarta.Khaira, F., Jamarun, N., & Minawati, R. (2022). Mise En Scene Dalam Film Surat Kecil Untuk Tuhan. Gorga: Jurnal Seni Rupa, 11(2), 288-295. https://doi.org/10.24114/gr.v11i2.37425Permana, R. S. M., Puspitasari, L., & Indriani, S. S. (2019). Industri film Indonesia dalam perspektif sineas Komunitas Film Sumatera Utara. ProTVF, 3(2), 185-199.Pinel, V. (2017). Genres et Mouvements au Cinéma, LAROUSSE, Paris, 240.Pratama, H. N., & Rozak, A. (2021). Karakteristik Musikal Pada Film Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck. dalam Jurnal Gorga: Jurnal Seni Rupa, 10(2). https://doi.org/10.24114/gr.v10i2.29202Pratista, H. (2008). Memahami Film. Yogyakarta: Homerian Pustaka.Pratista, H. (2017). Memahami Film (2 ed.). Yogyakarta: Montase Press.Pujiyanto, M. (2011). Warna Berbicara. DeKaVe, 1(2), 1-10.Swandhani, A. R., Wahjudi, D., dan Lukitaningsih, L. (2023). Semiotika Roland Barthes sebagai Pendekatan untuk Mengkaji Logo Kantor Pos. Gorga¯: Jurnal Seni Rupa, 12(1), 182“188. https://doi.org/10.24114/gr.v12i1.43650Tjin, E. (2011). Lighting Itu Mudah!. Jakarta: Bukune.Whitehead, J. (2017). Creating Interior Atmosphere: Mise-en-scène and Interior Design. London: Bloomsbury Publishing.Wiyanto, A. (2002). Terampil Bermain Drama. Jakarta: Grasindo.Yoesoef, M. (2013). Film Horor Sebuah Definisiyang Berubah. Wacana, Journal of the Humanities of Indonesia, 5(2), 1.
PALELINTANGAN DALAM SENI RUPA POP Sudana, I Made; Setem, I Wayan; Mudana, I Wayan
Gorga : Jurnal Seni Rupa Vol. 13 No. 1 (2024): Gorga : Jurnal Seni Rupa
Publisher : Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/gr.v13i01.49166

Abstract

Balinese traditional painting, especially Wayang Kamasan painting, has a long and rich history. However, in the era of globalization and modernization, traditional arts often experience difficulties in surviving. This phenomenon is not unique to Bali, but is happening in traditional art communities around the world. With the advent of digital media, fast-paced urban lifestyles, and changing cultural values, traditional artists often feel pressure to adapt their work to changing market tastes. Some Balinese traditional artists are trying to incorporate modern elements into their work to appeal to the younger generation and the international market, as well as to preserve the culture. Nevertheless, this challenge cannot be ignored and maintain the sustainability of this traditional painting art in the face of increasing modernization trends. This creation discusses the creation of pop art by displaying the form of palelintangan which is poured into several mass cultural products in order to form creative and innovative works. In its creation process, this work follows the principles outlined by Hawkins in his book "Creating Through Dance," which states that creating good painting and dance art involves three main stages: exploration, improvisation, and forming or composition. Palelintangan is a series of paintings that depict astronomical information and provide interpretations of individuals' character and destiny based on their date of birth. By studying palelintangan, one can understand predictions about their personality and fortune. The purpose of creating this is to preserve palelintangan art to remain relevant in the future. The ultimate outcome of this creation process is the production of works inspired by various forms of palelintangan with a touch of modern popular culture embedded within them.Keywords: Birth, Palelintangan, Pop ArtAbstrakSeni lukis tradisional Bali khususnya seni lukis wayang Kamasan mempunyai sejarah yang panjang dan kaya akan makna filosofis seperti cerita Mahabarata, Ramayana, Sutasoma, Tantri, Men Brayut, dan Palelintangan. Namun di era globalisasi dan modernisasi, kesenian tradisional seringkali mengalami kesulitan dalam bertahan. Fenomena ini tidak hanya terjadi di Bali saja, namun dinamika ini terjadi di berbagai komunitas seni tradisional di seluruh dunia. Dengan munculnya media digital, gaya hidup perkotaan yang serba cepat, dan perubahan nilai-nilai budaya, seniman tradisional seringkali merasakan tekanan untuk menyesuaikan karyanya dengan perubahan selera pasar. Beberapa seniman tradisional Bali berusaha memasukkan unsur-unsur modern ke dalam karyanya untuk menarik perhatian generasi muda dan pasar internasional, sekaligus untuk melestarikan budaya. Meski demikian, tantangan ini tidak bisa diabaikan dan menjaga keberlangsungan seni lukis tradisional ini dalam menghadapi tren modernisasi yang semakin meningkat. Penciptaan ini membahas penciptaan seni rupa pop dengan menampilkan bentuk palelintangan yang dituangkan dalam beberapa produk budaya masa agar terbentuk karya yang kreatif dan inovatif. Dalam proses penciptaannya, karya ini mengikuti prinsip-prinsip yang dijelaskan oleh Hawkins dalam bukunya "Creating Through Dance", yang menyatakan bahwa penciptaan seni lukis dan tari yang baik melibatkan tiga tahap utama: eksplorasi, improvisasi, dan pembentukan atau komposisi. Palelintangan adalah sebuah seri lukisan yang menggambarkan informasi ilmu astronomi serta memberikan interpretasi tentang karakter dan nasib seseorang berdasarkan hari kelahiran mereka. Dengan mempelajari palelintangan, seseorang dapat memahami ramalan tentang kepribadian dan nasib mereka. Tujuan dari penciptaan ini adalah untuk melestarikan seni palelintangan agar tetap relevan di masa depan. Hasil akhir dari proses penciptaan ini adalah terciptanya karya-karya yang terinspirasi dari bentuk-bentuk palelintangan dengan sentuhan budaya pop modern di dalamnya.Kata Kunci: Kelahiran, Palelintangan, Seni Rupa PopAuthors:I Made Sudana : ISI DenpasarI Wayan Setem : ISI DenpasarI Wayan Mudana : ISI Denpasar ReferencesGunada, I. Wayan Agus. "Ajaran Agama Hindu Sebagai Inspirasi Penciptaan Karya Seni Lukis Tradisional Bali." Gorga: Jurnal Seni Rupa 9.1 (2020): 158-165.Helai Buku, 2020.Watak Kelahiran Anak yang Dipengaruhi Oleh Wuku, Lintang, Pranamangsa, dan Zodiak,  DAFTAR RUJUKANGunada, I. Wayan Agus. "Ajaran Agama Hindu Sebagai Inspirasi Penciptaan Karya Seni Lukis Tradisional Bali." Gorga: Jurnal Seni Rupa 9.1 (2020): 158-165.Helai Buku, 2020.Watak Kelahiran Anak yang Dipengaruhi Oleh Wuku, Lintang, Pranamangsa, dan Zodiak, https://helaibuku.blogspot.com/2020/10/watak-kelahiran-anak- yang-dipengaruhi.html?m=1 , diakses pada 02 November 2021.I Made Sukanta. 22 November 2021. Rumah Wayang Kamasan, Br. Pande, Desa Kamasan, Kec. Klungkung, Bali.I Wayan Pande Sumantra. 22 November 2021. Rumah Wayang Kamasann. Br. Pande, Desa Kamasan, Kec. Klungkung, Bali.Made Hendra Sasmita dan Salamun Kaulam. (2016). Proses Dan Visualisasi Seni Lukis I Nyoman Mandra. Jurnal Seni Rupa, 4(02), 177“183.Ni Made Sinarwati. 22 November 2021. Rumah Wayang Kamasan, Br. Pande, Desa Kamasan, Kec. Klungkung, Bali.Ni Wayan Sri Wedari. 20 November 2021. Sanggar Wasundari. Br. Sangging, Desa Kamasan, Kec. Klungkung, BaliRajudin, R., M. Miswar, and Y. Muler. "Metode Penciptaan Bentuk Representasional, Simbolik, Dan Abstrak (Studi Penciptaan Karya Seni Murni Di Sumatera Barat, Indonesia). Gorga." Jurnal Seni Rupa 9.2 (2020): 261.Saragih, Lisa Andriani. Analisis Kerajinan Souvenir Diorama Berbahan Limbah Pada Pengrajin Dikraf Berdasarkan Prinsip-Prinsip Desain. Diss. UNIMED, 2018.Setem, Wayan. (2021). KOSARUPA BALI. Denpasar: Prasasti.Soedarsono, R. M. AUTOBIOGRAFI RM SOEDARSONO: Perintis dan Pengembang Pendidikan Seni Pertunjukan di Indonesia Dari Yogyakarta Mendunia untuk Indonesia. UGM PRESS, 2021.Tabrani, Primadi. "Bahasa Rupa Dan Kemungkinan Munculnya Senirupa Indonesia Kontemporer Yang Baru." Jurnal Komunikasi Visual WIMBA 8.1 (2017): 1-12.