cover
Contact Name
Adek Cerah Kurnia Azis
Contact Email
adek_peros@yahoo.com
Phone
+6285278021981
Journal Mail Official
gorgajurnalsenirupa@unimed.ac.id
Editorial Address
Jl. Willem Iskandar / Pasar V, Medan, Sumatera Utara – Indonesia Kotak Pos 1589, Kode Pos 20221
Location
Kota medan,
Sumatera utara
INDONESIA
Gorga : Jurnal Seni Rupa
ISSN : 23015942     EISSN : 25802380     DOI : https://doi.org/10.24114/gr.v9i1
Core Subject : Education, Art,
Gorga : Jurnal Seni Rupa terbit 2 (dua) kali setahun pada bulan Juni dan Desember, berisi tulisan/artikel hasil pemikiran, hasil penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat yang ditulis oleh para pakar, ilmuwan, praktisi (seniman), dan pengkaji dalam disiplin ilmu kependidikan, kajian seni, desain, dan pembelajaran seni dan budaya.
Articles 846 Documents
STUDI TENTANG BUSANA PENGANTIN PRIA ADAT BASANDIANG DUO DI NAGARI AIR BANGIS KABUPATEN PASAMAN BARAT Amira, Dini; Suci, Puji Hujria
Gorga : Jurnal Seni Rupa Vol. 13 No. 1 (2024): Gorga : Jurnal Seni Rupa
Publisher : Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/gr.v13i01.58665

Abstract

Each region has its own characteristics of bridal clothing which are generally not known to many people. Nagari Air Bangis West Pasaman Regency has the traditional basandiang duo groom™s clothing. The traditional Basandiang Duo wedding attire is unique in men™s clothing designs, with gold sprinkling which has its own meaning. The purpose of the research is to describe the design and meaning of the Basandiang Duo traditional groom™s outfit. The exploration technique is subjective spellbinding strategy. Primary data and secondary data are the two categories of data. Techniques for gathering data through interviews, observation, and documentation. The information investigation procedure utilized is enlightening subjective examination with information decrease steps, information show, check and ends. The results showed that in terms of absolute clothing and complementary traditional groom clothing basandiang duo there are designs and meanings. Absolute clothing such as 1) Batabua suit means that a man is able to provide a living to his wife, 2) White shirt symbolizes a man™s heart that is clean and internally ready to face exposure in the household, 3) Rent a loose Lambuak means that a man™s steps are light in his affairs, 4) Kain Sasempang means the simplicity of a man, 5) Cawek means perseverance. Clothing complements such as 1) Deta symbolizes a leader fol his wife, 2) kaluang laca means a man can see certain situations and conditions, 3) Tali Liwuang symbolizes the Minangkabau kingdom of Darul Qara, 4) Dagger whose placement is tilted to tha left means a man must think twice before acting. 5) Shoes symbolize equality of degree and equality of vision and mission between husband and wife. For the design on traditional groom™s clothing decoration basandiang duo in the form of the pleats and other decorations totaling seven means an understanding of a man who can control and clean his seven outer and seven inner.Keywords: design, meaning, groom™s clothesAbstrakMasing-masing daerah mempunyai karakteristik pada busana pengantin yang secara umum belum banyak diketahui oleh banyak orang. Nagari Air Bangis Kabupaten Pasaman Barat memiliki busana pengantin adat basandiang duo. Busana Pengantin adat Basandiang duo memiliki keunikan pada desain busana pria, yaitu salah satunya desain jas dengan taburan emas yang memilik makna tersendiri.. Tujuan penelitian adalah untuk mendeskripsikan desain dan makna busana pengantin pria adat basandiang duo. Metode penelitian menerapkan metode deskripif kualitatif. Data primer dan data sekunder ialah jenis data yang digunakan. Pengumpulan data menggunakan teknik pengamatan, interview, dan dokumentasi. Dengan langkah reduksi data, penyajian data, verifikasi dan penarikan kesimpulan maka analisis deskriptif kualitatif dapat digunakan untuk analisis data. Penelitian ini menyatakan hasil bahwa dilihat dari busana mutlak dan pelengkap busana pengantin pria adat basandiang duo terdapat desain dan makna. Busana mutlak seperti 1) Jas Batabua bermakna bahwa seorang, pria sudah mampu memberikan nafkah kepada istrinya, 2) Kemeja warna putih menjadi lambang hati pria yang bersih dan siap secara bathin menghadapi terpaan didalam rumah tangga, 3) Sewa Lambuak yang longgar bermakna agar langkah kaki pria ringan dalam urusannya, 4) Kain Sasempang bermakna kesederhanaan seorang pria, 5) Cawek bermakna keistiqomahan. Pelengkap busana seperti 1) Deta melambangkan seorang pemimpin untuk istrinya, 2) Kaluang Laca bermakna seorang pria dapat melihat situasi dan kondisi tertentu, 3) Tali Liwuang melambangkan kerajaan minangkabau darul qara, 4) Keris yang peletakannya miring ke kiri bermakna seorang pria harus berpikir dua kali sebelum bertindak, 5) Sepatu melambangkan persamaan derajat dan persamaan visi dan misi antara suami dengan istrinya. Untuk desain hiasan busana pengantin pria adat basandiang duo berupa lipitan dan hiasan lainnya yang berjumlah tujuh bermakna pemahaman tentang seorang pria yang bisa mengendalikan dan membersihkan tujuh zahirnya dan tujuh batinnya.Kata Kunci: desain, makna, busana pengantin pria Authors:Dini Amira : Universitas Negeri PadangPuji Hujria Suci : Universitas Negeri PadangReferencesErnatip, E., Chrystyawati, E., Refisrul, R., Maryetti, M., & S, R. (2004). Arti Simbolik Ragam Hias pada Peralatan Upacara Perkawinan di Nagari Air Bangis Kabupaten Pasaman. CV. Faura Abadi.Ernawati, & dkk. (2008). Tata Busana Jilid I,II, dan III. Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan.Febrina, F., Yasnidawati, Y., & Idrus, Y. (2013). Studi Busana Pengantin Tradisional di Alam Surambi Sungai Pagu. Journal of Home Economics and Tourism, 4(2). https://ejournal.unp.ac.id/index.php/jhet/article/view/2476Hayati, A., & Nelmira, W. (2022). Studi Tentang Sulaman Benang Emas Memakai Kaca Dan Cermin Pada Pelaminan Di Desa Naras I Kota Pariaman. Gorga¯: Jurnal Seni Rupa, 11(2), 338. https://doi.org/10.24114/gr.v11i2.37683Ibrahim, A., Djafri, Bafiman, B., Yanis, M., Alimunar, A., Ilyas, M., & Akbar, R. (2017). Pakaian Adat Tradisional Daerah Sumatera Barat. Jurnal Sains Dan Seni ITS, 6(1), 51“66. http://repositorio.unan.edu.ni/2986/1/5624.pdf%0Ahttp://fiskal.kemenkeu.go.id/ejournal%0Ahttp://dx.doi.org/10.1016/j.cirp.2016.06.001%0Ahttp://dx.doi.org/10.1016/j.powtec.2016.12.055%0Ahttps://doi.org/10.1016/j.ijfatigue.2019.02.006%0Ahttps://doi.org/10.1Marthala, A. E. (2015). Pakaian Pengantin Dalam Perkawinan Masyarakat Minangkabau Padang. Humaniora, 53(9), 158.Novrita, S. Z., & Pratiwi, M. (2022). Makna Motif Batik Di Kabupaten Solok Selatan Studi Kasus Pada Sanggar Azyanu Batik 1000 Rumah Gadang. Gorga¯: Jurnal Seni Rupa, 11(2), 628.  Ernatip, E., Chrystyawati, E., Refisrul, R., Maryetti, M., & S, R. (2004). Arti Simbolik Ragam Hias pada Peralatan Upacara Perkawinan di Nagari Air Bangis Kabupaten Pasaman. CV. Faura Abadi.Ernawati, & dkk. (2008). Tata Busana Jilid I,II, dan III. Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan.Febrina, F., Yasnidawati, Y., & Idrus, Y. (2013). Studi Busana Pengantin Tradisional di Alam Surambi Sungai Pagu. Journal of Home Economics and Tourism, 4(2). https://ejournal.unp.ac.id/index.php/jhet/article/view/2476Hayati, A., & Nelmira, W. (2022). Studi Tentang Sulaman Benang Emas Memakai Kaca Dan Cermin Pada Pelaminan Di Desa Naras I Kota Pariaman. Gorga¯: Jurnal Seni Rupa, 11(2), 338. https://doi.org/10.24114/gr.v11i2.37683Ibrahim, A., Djafri, Bafiman, B., Yanis, M., Alimunar, A., Ilyas, M., & Akbar, R. (2017). Pakaian Adat Tradisional Daerah Sumatera Barat. Jurnal Sains Dan Seni ITS, 6(1), 51“66. http://repositorio.unan.edu.ni/2986/1/5624.pdf%0Ahttp://fiskal.kemenkeu.go.id/ejournal%0Ahttp://dx.doi.org/10.1016/j.cirp.2016.06.001%0Ahttp://dx.doi.org/10.1016/j.powtec.2016.12.055%0Ahttps://doi.org/10.1016/j.ijfatigue.2019.02.006%0Ahttps://doi.org/10.1Marthala, A. E. (2015). Pakaian Pengantin Dalam Perkawinan Masyarakat Minangkabau Padang. Humaniora, 53(9), 158.Novrita, S. Z., & Pratiwi, M. (2022). Makna Motif Batik Di Kabupaten Solok Selatan Studi Kasus Pada Sanggar Azyanu Batik 1000 Rumah Gadang. Gorga¯: Jurnal Seni Rupa, 11(2), 628. https://doi.org/10.24114/gr.v11i2.39652Ramadhan, M. S., Yulianti, K. N., & Ananta, D. (2022). Inovasi Produk Fashion Dengan Menerapkan Karakter Visual Chiaroscuro Menggunakan Teknik Cetak Tinggi Cukil Kayu Block Printing. Gorga¯: Jurnal Seni Rupa, 11(1), 192. https://doi.org/10.24114/gr.v11i1.33052Refisrul, & dkk. (204 C.E.). Tatakrama Suku Bangsa Minangkabau di Nagari Air Bangis Kabupaten Pasaman Provinsi Sumatera Barat. Proyek Pengkajian dan Pemanfaatan Sejarah dan Tradisi.Werdini, H. P., & Puspaneli, P. (2023). Pengembangan Media Moodboard Busana Pesta pada Mata Pelajaran Desain Busana oleh Siswa Kelas XI di SMK N 03 Payakumbuh. Jurnal Pendidikan Tambusai, 7, 14312“14316. https://www.jptam.org/index.php/jptam/article/view/8666Yuliarma. (2016). The Art Of Embroidery Designs. Kepustakaan Populer Gramedia.Yunus, R. ., Efi, A., & Yuliarma, Y. (2014). Studi tentang Busana Pengantin Tradisional Kurai Bukittinggi. Journal of Home Economics and Tourism, 6(2).Yusmerita, Y., Aryati, Y., & Suci, P. H. (2023). Application of environment learning models to the results of motive design in decorative design courses. JPPI (Jurnal Penelitian Pendidikan Indonesia), 9(2), 999. https://doi.org/10.29210/020232862
Development of Video Tutorial Learning Media for Fashion Illustration Using Photoshop Oktriana, Vern Edlyn; Yusmerita, Yusmerita
Gorga : Jurnal Seni Rupa Vol. 13 No. 2 (2024): Gorga : Jurnal Seni Rupa
Publisher : Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/gr.v13i2.58729

Abstract

Due to a dearth of video tutorials, only a small percentage of students are proficient in digital design creation, especially for creating digital designs using digital applications. Students find it difficult to operate the Photoshop application and are unfamiliar with the functions of its tools. This study aimed to evaluate the reliability of video lesson materials for fashion illustration design using the Photoshop application for the 2022 fashion students at Universitas Negeri Padang. The Research and Development (R&D) approach, using the 4D model, was the methodology used in this research. Primary data was collected using questionnaires, interviews, and observations. A scoring sheet with an explanation of the Likert scale was used as the study instrument. Data analysis was the method utilized in this research the media validity test findings yielded a 94.56% score, and the material expert validity obtained a score of 89.08%, resulting in a total score of 91.82%, which falls into the 'very valid' category. Meanwhile, a score of  92.22% was earned in the practicality administered by the course lecture. The small group practicality trial had a score of 96.4%, and the large group trial scored 85.45%, both indicating a 'very practical' category. In conclusion, the video tutorial media can be used as a learning media in the Fashion Illustration lecture process.
PERANCANGAN VIDEO DOKUMENTER PROSES PRODUKSI SASIRANGAN SEBAGAI MEDIA EDUKASI Nurfitri, Rina; Adaptian, Juan Areca; Kanthi, Yekti Asmoro
Gorga : Jurnal Seni Rupa Vol. 13 No. 1 (2024): Gorga : Jurnal Seni Rupa
Publisher : Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/gr.v13i01.58733

Abstract

Sasirangan is a traditional Banjar cloth craft originating from South Kalimantan. Apart from being a cultural heritage, sasirangan also has the potential to support the local economy, which by preserving this traditional art can create job opportunities and improve the livelihoods of sasirangan artisans, as well as help maintain the sustainability of local economic activities and provide added value to cultural tourism. However, there are still many people in South Kalimantan who do not know the process behind making sasirangan, which is one of the reasons for not having the opportunity to learn or follow the practice of making sasirangan from school activities, community activities and so on. Therefore, the design of a short documentary video on the process of making sasirangan was carried out as a solution. This research uses the Design Thinking method as a design procedure. Data collection was carried out by means of literature studies, questionnaires, observations, and interviews. This research resulted in the design of short documentary videos as the main media, which were distributed using the Youtube platform, as well as several supporting media as tools to attract the target audience. Based on the testing conducted with the target audience, this documentary video is deemed suitable as an educational medium. Therefore, future research should include an in-depth analysis of specific aspects of the video that are most effective in supporting learning, such as duration, presentation style, and the use of multimedia.Keywords: Sasirangan, Video, Documentary, EducationAbstrakSasirangan merupakan kerajinan kain tradisional suku Banjar yang berasal dari Kalimantan Selatan. selain sebagai warisan budaya, sasirangan juga memiliki potensi untuk mendukung ekonomi lokal, yang mana dengan melestarikan seni tradisional ini dapat menciptakan peluang kerja dan meningkatkan mata pencaharian para pengrajin sasirangan, serta membantu menjaga keberlanjutan kegiatan ekonomi lokal dan memberikan nilai tambah pada pariwisata budaya. Akan tetapi, masih banyak masyarakat Kalimantan Selatan yang belum mengetahui bagaimana proses dibalik pembuatan sasirangan, yang mana salah satu penyebabnya adalah tidak sempat mempelajari atau mengikuti praktek pembuatan sasirangan baik dari kegiatan sekolah, komunitas dan sebagainya. Maka dari itu, perancangan video pendek dokumenter proses pembuatan sasirangan dilakukan sebagai solusi. Penelitian menggunakan metode Design Thinking sebagai prosedur perancangan. Pengambilan data dilakukan dengan cara studi pustaka, kuisioner, observasi, dan wawancara. Penelitian ini menghasilkan perancangan video dokumenter pendek sebagai media utama, yang disebarkan dengan memanfaatkan platform Youtube, serta beberapa media pendukung sebagai alat bantu untuk menarik target audiens. Berdasarkan pengujian yang dilakukan kepada target audiens, video dokumenter ini layak sebagai media edukasi sehingga pada penelitian selanjutnya perlu dilakukan analisis mendalam mengenai aspek-aspek spesifik dari video yang paling efektif dalam mendukung pembelajaran, seperti durasi, gaya penyajian, dan penggunaan multimedia.Kata Kunci: Sasirangan, Video, Dokumenter, EdukasiAuthors:Rina Nurfitri : Sekolah Tinggi Informatika & Komputer IndonesiaJuan Areca Adaptian : Sekolah Tinggi Informatika & Komputer IndonesiaYekti Asmoro Kanthi : Sekolah Tinggi Informatika & Komputer IndonesiaReferencesGanie, T. N. (2014). Sasirangan Kain Khas Tanah Banjar. Kalimantan Selatan: Tuas Media.Jonathan, S. (2006). Metode penelitian kuantitatif dan kualitatif. Graha Ilmu.Kholis, N. (2016). Kain Tradisional Sasirangan œIrma Sasirangan Kampung Melayu Kalimantan Selatan.Marzuki, M. R. (2005). Panduan Penelitian Bidang Bisnis dan Sosial. Yogyakarta: Ekonisia Kampus Fakultas Ekonomi UII.Mulyani, D. C., Pujiyanto, P., & Nurfitri, R. (2020). Perancangan Video Pariwisata Kawah Wurung Bondowoso Sebagai Media Promosi. MAVIS: Jurnal Desain Komunikasi Visual, 2(01), 20“25.Novrita, S. Z., Yusmerita, Y., Puspaneli, P., Fridayati, L., & Vebyola, F. (2023). Pengembangan Video Tutorial Teknik Batik Tulis Sebagai Media Pembelajaran Pada Mata Kuliah Batik Di Departemen Ikk Fpp Unp. Gorga¯: Jurnal Seni Rupa, 12(1), 91. https://doi.org/10.24114/gr.v12i1.39760Rianto, A. (2010). Metodologi Penelitian Hukum dan Sosial. Jakarta: Granit.Rusman. (2011). Model-model pembelajaran: Mengembangkan profesionalisme guru. Rajawali Pers/PT Raja Grafindo Persada.Siti Aisyah1*, Ferdian Ondira Asa2, Z., & Dwi Mutia Sar. (2023). Kelayakan Media Pembelajaran Berbasis Video Tutorial Pada Materi Batik Di Program Studi Pendidikan Seni Rupa. Gorga¯: Jurnal Seni Rupa, 12(November).Sugiyono, S. (2017). Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D. Bandung: Alfabeta. Procrastination And Task Avoidance: Theory, Research and Treatment. New York: Plenum Press, Yudistira P, Chandra.Toding, R. E., Poerbaningtyas, E., & Nurfitri, R. (2022). Perancangan Corporate Identity Cv Arya Wasa Sebagai Citra Perusahaan. Gorga J. Seni Rupa, 11(2), 480“488.Winarsih, T. (2015). Kain Sasirangan dan asal-usul batik di Indonesia. CV Sabdo Pinilih.
PERANCANGAN LOGO ˜BATAR FUN™ SEBAGAI IDENTITAS VISUAL DALAM BOARD GAME MATEMATIKA Nurhandayani, Eti Fitri; Asril, Asril; Zam, Rizwel
Gorga : Jurnal Seni Rupa Vol. 13 No. 1 (2024): Gorga : Jurnal Seni Rupa
Publisher : Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/gr.v13i01.58802

Abstract

Educational games are games designed for educational purposes. ˜Batar Fun™ is a board game designed to implement education in it. ˜Batar Fun™ is an educational board game that discusses learning mathematics using flat shapes. Board game are designed to attract children™s interest in learning, especially fourth grade elementary school. This entity was appointed because it saw the importance of mathematics in various aspects of life which is a challenge for most children. However, in this case, the board game does not yet have a visual identity that can represent the game itself. The aim of this research is to produce a visual identity in the form of a logo for the board game ˜Batar Fun™. The design method refers to Robin Landa™s method, namely the Five Phases of the Graphic Design Process which consists of 5 stages, namely, orientation, analysis, conceptual design, design development, and implementation. The result of this design produce a visual identity in the form of a logo that can represent the ˜Batar Fun™ board game, supporting media, and other promotional media to support and introduce the ˜Batar Fun™ board game product to the public. The resulting logo is in accordance with the board game background so that it can present the contents of the board game. The logo also has a simple appearance and is easy for the public to remember.Keywords: Batar Fun Logo, Board Game, Visual IdentityAbstrakGame edukasi merupakan permainan yang dirancang untuk tujuan pendidikan. ˜Batar Fun™ sebagai salah satu board game yang dirancang dengan mengimplementasikan edukasi di dalamnya. ˜Batar Fun™ merupakan salah satu board game edukatif yang membahas mengenai pembelajaran matematika pada materi bangun datar. Board game dirancang untuk menarik minat belajar anak khususnya pada anak Sekolah Dasar kelas IV. Entitas ini diangkat karena melihat pada pentingnya matematika dalam berbagai aspek kehidupan yang menjadi tantangan tersendiri bagi sebagian besar anak. Namun dalam hal ini, board game tersebut belum memiliki identitas visual yang dapat merepresentasikan permainan itu sendiri. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menghasilkan identitas visual berupa logo pada permainan Board Game ˜Batar Fun™. Metode perancangan merujuk kepada metode dari Robin Landa yaitu Five Phases of the Graphic Design Process yang terdiri dari 5 tahapan yaitu, orientation, analysis, conceptual design, design development, dan implementation. Hasil dari perancangan ini menghasilkan identitas visual berupa logo yang dapat mempresentasikan board game ˜Batar Fun™, media pendukung, dan media promosi lainnya guna mendukung dan memperkenalkan produk board game ˜Batar Fun™kepada publik. Logo yang dihasilkan sudah sesuai dengan latar belakang board game sehingga dapat mempresentasikan isi dari board game tersebut. Logo juga memiliki tampilan yang simpel dan mudah untuk diingat oleh publik.Kata Kunci: Board Game, Identitas Visual, Logo Batar Fun. Authors:Eti Fitri Nurhandayani : Institut Seni Indonesia Padang PanjangAsril : Institut Seni Indonesia Padang PanjangRizwel Zam : Institut Seni Indonesia Padang Panjang ReferencesAhmad, Asrullah, Aldo Susanto, and Erwin Candrawira. 2023. œIklan Layanan Masyarakat Terkait Pentingnya Investasi Digital. Jurnal Desain 10(3): 493“512.Alim, Bulan, and Edy Chandra. 2023. œRebranding Umkm Mentai Melalui Perancangan Identitas Visual. Gorga¯: Jurnal Seni Rupa 12(1): 174.Aulia, Fauzan, Hendra Afriwan, and Dini Faisal. 2021. œKonsistensi Logo Dalam Membangun Sistem Identitas. Gorga¯: Jurnal Seni Rupa 10(2): 439“44.Calvin, L, B A Hananto, and C D Zuki. 2022. œAnalisis Kebutuhan Perancangan Identitas Visual Pada Board Game ˜Antapura: Poerwakala.™ Prosiding Konferensi Mahasiswa Desain Komunikasi Visual (KOMA DKV) 2: 288“93.Cuaca, Michelle Angela, Jayanto Ginon Warjoyo, and Budi Darmo. 2023. œPerancangan Ulang Identitas Visual Sebuah Usaha Elektronik Rumah Tangga. Gorga¯: Jurnal Seni Rupa 12(1): 26.Fadli, Arizal, Suharno, and Akhmad Arif Musadad. 2017. œDeskripsi Analisis Kebutuhan Media Pembelajaran Berbasis Role Play Game Education Untuk Pembelajaran Matematika. Prosiding Seminar Nasional Teknologi Pendidikan (1): 52“57.Kelvin, and Brian Alvin Hananto. 2021. œPerancangan Ulang Brand Identity Board Board ˜Si Anak Nakal.™ Prosiding Konferensi Mahasiswa Desain Komunikasi Visual 1(1): 472“81.Lemuela, Jemima Katherine, and Edy Chandra. 2023. œPerancangan Identitas Visual Layanan Mobile Grooming Hi Pets. Gorga¯: Jurnal Seni Rupa 12(02).Ningtiyas, Retnoningtiyas, Pujiyanto Pujiyanto, and Mahendra Wibawa. 2020. œSebuah Perancangan Brand Identity Oina Craft Sebagai Identitas Perusahaan Kriya Di Kota Malang. MAVIS¯: Jurnal Desain Komunikasi Visual 2(2): 58“66.Rahmadianto, Sultan Arif. 2021. œPerancangan Logo Dan Media Promosi Le Jaune Patisserie. Jurnal Desain Komunikasi Visual Asia 4(2): 59“68.Rizkha, Ida Aminahrul, and Meirina Lani Anggapuspa. 2022. œPerancangan Board Game Pengenalan Gizi Seimbang Sebagai Media Edukasi Anak Usia 9-12 Tahun. Jurnal Barik 4(1): 175“89. https://ejournal.unesa.ac.id/index.php/JDKV/article/view/48614.Subianto, Ismail Bambang, and Dhika Quarta Rosita. 2023. œRedesain Logo UMKM A4 Photography. Jurnal Desain 10(3): 627.Sujanto, Angela Maria Nadya et al. 2021. œPerancangan Poster Dan Kalender Sebagai Bentuk Implementasi Display Type Malangka Berdasarkan Studi Vernakular Tana Toraja. de-lite: Journal of Visual Communication Design Study & Practice 1(2): 69“76.Tiffany, F, M Hartono, and G Sujatmiko. 2019. œPerancangan Board Game Sebagai Souvenir Khas Kota Surabaya. Calyptra 7(2): 1434“45.Wijaya, Priscilia, Arief Agung, and Jacky Cahyadi. 2016. œPerancangan Board Game Untuk Mengenalkan Rambu Lalu Lintas Terhadap Anak Usia 5-6 Tahun. Jurnal DKV Adiwarna 1(8): 1“8.Wulandari, Murini, Ayu Purba, and Rinanda. 2021. œPerancangan Board Game Edukatif Tentang Budaya Indonesia Untuk Anak Sekolah Dasar. Jurnal FSD 2(1): 163“76. https://e-journal.potensi-utama.ac.id/ojs/index.php/FSD/article/view/1197.
POLA AKTIVITAS MASYARAKAT SEBAGAI HIRARKI KAMPUNG NAGA SEBAGAI WARISAN BUDAYA CERDAS Budiarto, Asri; Sunarmi, Sunarmi; Soewarlan, Santosa
Gorga : Jurnal Seni Rupa Vol. 13 No. 1 (2024): Gorga : Jurnal Seni Rupa
Publisher : Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/gr.v13i1.59293

Abstract

The pattern of community activities in Tasikmalaya, Kampung Naga can be identified as a cultural transformation that exists in the neighborhood of the traditional house and can be seen with the expanse of agricultural lands and water ponds at the forefront of the residential area. Overlaying the houses of indigenous people and other facilities in a certain pattern unity. It can be stated that the livelihoods of the indigenous people of Kampung Naga form a village pattern from the available activity lands. The existence of the flow of life of the indigenous people of Kampung Naga as a place to live not only contains the meaning of the village, but the existence of the Ciwulan river as a sign and meaning of life. The customary leader's residence is characterized by the location of the customary leader's house which is in a higher area and becomes the orientation (direction) for the surrounding houses. This research wants to know the flow of the activities of the Kampung Naga community towards the existence of their customs that reflect a strong understanding of the importance of cultural sustainability and tradition. The community realizes that customary activities as a cultural heritage are the basis for their survival, which can be shown by their high involvement and responsibility for their ancestral heritage. The activities of the indigenous people of Kampung Naga as the place where one returns from.As far as someone who leaves one day will return to the place where he was born. So there is a very strong emotional bond between the village and one's soul. The Village Hierarchy in the site in Kampung Naga has characteristics with tiered ascending contours as a local land condition that reflects the adaptation of indigenous activities to the natural environment and local wisdom. This is the same as the identical pattern of Sundanese villages that have distinctive elements also found in the settlement pattern of Kampung Naga. Through settlement patterns as seen in Kampung Naga, the community has historically developed settlement strategies that are in accordance with the activities and characteristics of the environment and social needs.Keywords: Kampung Naga hierarchy, cultural heritageAbstrakPola aktivitas masyarakat di kampung naga Tasikmalaya dapat diidentifikasi sebagai transformasi budaya yang ada dalam lingkungan perkampungan rumah adat dan dapat dilihat dengan adanya  hamparan lahan-lahan pertanian dan kolam-kolam air di bagian terdepan pada kawasan permukiman. Hamparan rumah-rumah masyarakat adat dan fasilitas lain dalam kesatuan pola tertentu. Hal ini dapat dinyatakan bahwa mata pencaharian masyarakat adat kampung Naga membentuk pola kampung dari lahan-lahan aktivitas yang tersedia. Adanya aliran kehidupan masyarakat adat Kampung Naga sebagai tempat tinggal yang tidak hanya mengandung arti kampung, tetapi adanya sungai Ciwulan sebagai tanda dan makna kehidupan. Tempat tinggal pimpinan adat ditandai oleh Letak rumah ketua adat yang berada di daerah lebih tinggi dan menjadi orientasi (arah) bagi rumah warga yang ada disekitarnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui alur aktivitas masyarakat Kampung Naga terhadap eksistensi adat istiadat mereka yang mencerminkan pemahaman kuat akan pentingnya keberlanjutan budaya dan tradisi. Masyarakat menyadari bahwa aktivitas adat sebagai warisan budaya merupakan dasar bagi kelangsungan hidupnya dapat di  tunjukkan dengan keterlibatan dan tanggung jawab yang tinggi terhadap warisan leluhur mereka. Aktivitas masyarakat adat Kampung Naga sebagai tempat asal seseorang kembali (bali geusan ngajadi). Sejauh-jauhnya seseorang yang pergi suatu saat akan kembali lagi ketempat asalnya dilahirkan. Sehingga ada ikatan emosional sangat kuat antara kampung dengan jiwa seseorang. Hirarki Kampung dalam tapak di Kampung Naga memiliki karakteristik dengan kontur naik berjenjang sebagai keadaan tanah setempat yang mencerminkan adaptasi aktivitas masyarakat adat  terhadap lingkungan alam dan kearifan lokal. Hal ini sama sebagai identik pola perkampungan masyarakat Sunda yang memiliki elemen khas juga ditemukan di  dalam pola pemukiman Kampung Naga. Melalui pola pemukiman seperti yang terlihat di Kampung Naga, masyarakatnya secara historis telah mengembangkan strategi pemukiman yang sesuai dengan aktivitas dan karakteristik lingkungan dan kebutuhan sosialnya.Kata Kunci: Hirarki Kampung  Naga, Warisan budaya Authors:Asri Budiarto : Institut Seni Indonesia SurakartaSunarmi : Institut Seni Indonesia SurakartaSantosa Soewarlan : Institut Seni Indonesia SurakartaReferences:Adimihardja, K. (1993). Kebudayaan dan Lingkungan. Bandung: Ilham Jaya.Anto, A. A., Sunarmi, & Soewarlan, S. (2024). Kampung Naga¯: Exploration of Traditional Architecture and. Lakar: Jurnal Arsitektur, 07(01), 85“100. https://doi.org/http://dx.doi.org/10.30998/lja.v7i1.22100Basrowi. (2005). Pengantar Sosiologi. Bogor: Ghalia Indonesia.Koentjaningrat. (2009). Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta: PT Rineka Cipta.Linton, R. (1984). Antropologi, Sutau Penyelidikan tentang Manusia. Bandung: Jemmars.Maslucha, L. (2009). KAMPUNG NAGA: Sebuah Representasi Arsitektur sebagai Bagian dari Budaya. El-HARAKAH, 11(1), 35“49. https://doi.org/10.18860/el.v1i1.421Mikaresti, P., & Mansyur, H. (2022). Pewarisan Budaya Melalui Tari Kreasi Nusantara. Gorga¯: Jurnal Seni Rupa, 11(1), 147-155. https://doi.org/10.24114/gr.v11i1.33333Oktovan, R. N., Suryamah, D., & Dwiatmini, S. (2020). Pewarisan Budaya dalam Kesenian. Jurnal Budaya Etnika, 4(2), 114“125. https://jurnal.isbi.ac.id/index.php/etnika/article/view/1566Padma, A. (2001). Kampung Naga, Permukiman Warisan Karuhun. Bandung: Foris.Ranjabar, J. (2006). Sistem Sosial Budaya Indonesia: Suatu Pengantar. Bogor: PT Ghalia Indonesia.Rusnandar, N. (2013). Seba¯: the Culmination of Baduy ™S Religious Ritual in Kabupaten (Regency) Lebak, The Province Banten. Patanjala, 5(1), 83“100. https://doi.org/http://dx.doi.org/10.30959/patanjala.v5i1.163Sonia, T., & Sarwoprasodjo, S. (2020). Peran Lembaga Adat dalam Pelestarian Budaya Masyarakat Adat Kampung Naga, Desa Neglasari, Kecamatan Salawu, Tasikmalaya. Jurnal Sains Komunikasi Dan Pengembangan Masyarakat [JSKPM], 4(1), 113“124. https://doi.org/10.29244/jskpm.4.1.113-124Syukri, A., Azis, A. C. K., Olendo, Y. O., Elpalina, S., & Syam, C. (2023). Koleksi Museum Adityawarman¯: Sebagai Sumber Belajar Seni Dan Budaya. Gorga: Jurnal Seni Rupa, 12(November), 488“494. https://doi.org/https://doi.org/10.24114/gr.v12i2.51471Tri Sulistyo, E., & Sunarmi. (2021). Emotional Intelligence And Balanced Personality In Javanese Cultural. Intelligence And Balanced Personality In Javanese Cultural Understanding-Palarch™s Journal Of Archaeology Of Egypt/Egyptology, 18(4), 3344. https://archives.palarch.nl/index.php/jae/article/view/6827Widjaja, A. W. (1986). Komunikasi dan Hubungan Masyarakat. Jakarta: Bina Aksara.
LANGKAH MELESTARIKAN GOLOK WALAHIR SEBAGAI SALAH SATU IDENTITAS BUDAYA MASYARAKAT SINDANGKERTA TASIKMALAYA Muttaqin, Zulkarnain; Pebriyani, Nyoman Dewi; Suharto, Suharto
Gorga : Jurnal Seni Rupa Vol. 13 No. 1 (2024): Gorga : Jurnal Seni Rupa
Publisher : Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/gr.v13i01.59493

Abstract

Preserving the cultural identity of the region is the absolute responsibility of all elements of society, as without it, there would be no national identity. Golok Walahir is a crucial cultural artifact from the village of Walahir Sindangkerta, Tasikmalaya, West Java. With the passing of the last skilled blacksmith, Puh Bihot, in 1955, there are no more successors to the maker of Golok Walahir. It is imperative that we take immediate and decisive action to ensure the preservation of Golok Walahir as a fundamental cultural symbol of Walahir Sindangkerta. This study aims to provide clear and actionable steps for the preservation of Golok Walahir for the younger generation. Using qualitative descriptive methods, the research conducted in the village of Walahir involved rigorous fieldwork and data literacy research. The obtained data from the elders and local residents, in combination with previous research and field observations, has been analyzed and structured into a compelling narrative that will resonate with the younger generation and the wider community. The outcomes of this study have resulted in concrete steps for the transfer of information regarding Golok Walahir such as oral, written, digital platform anf prototyping wich is adapted to the needs of the younger generation. In conclusion, it is crucial to undertake precise measures to transfer this preservation information to the younger generation, allowing Golok Walahir to endure as a key cultural identity of Walahir Sindangkerta.Keywords: golok, preservation, sindangkerta, walahiAbstrakMelestarikan identitas budaya daerah adalah kewajiban seluruh elemen masyarakat, karena tanpanya tidak akan ada identitas nasional. Golok Walahir adalah salah satu wujud artefak budaya dari desa Walahir Sindangkerta Tasikmalaya Jawa Barat yang sudah tidak ada lagi penerus pembuatnya, empu pandai besi terakhir yaitu Puh Bihot meninggal pada tahun 1955. Dengan tidak adanya lagi penerus pandai besi pembuat golok Walahir, diperlukan upaya pelestarian agar golok Walahir tetap dapat dijadikan sebagai salah satu identitas budaya Walahir Sindangkerta. Pengkajian ini bertujuan untuk merumuskan langkah-langkah pelestarian golok Walahir bagi generasi muda. Metode yang digunakan kualitatif deskriptif, penelitian dilakukan di desa Walahir, dilakukan selama lima hari dilanjutkan dengan penelitian melalui literasi data selama tiga bulan. Data tentang golok Walahir yang didapatkan dari sesepuh dan warga adat Walahir melalui wawancara, hasil penelitian sebelumnya dan observasi lapangan yang peneliti lakukan dianalisa lalu dideskripsikan menjadi sebuah narasi yang dapat diterima oleh generasi muda dan masyarakat umum. Hasil dari pengkajian ini adalah langkah langkah alih informasi golok Walahir berupa penuturan lisan, tulisan, platform digital dan prototyping golok yang disesuaikan dengan kebutuhan generasi muda. Kesimpulan dari pengkajian ini adalah diperlukan langkah alih informasi pelestarian golok Walahir yang tepat bagi generasi muda sebagai penerus agar golok Walahir lestari sebagai salah satu identitas budaya Walahir Sindangkerta.Kata Kunci: golok, pelestarian, sindangkerta, walahir Authors:Zulkarnain Muttaqin : Institut Seni Indonesia DenpasarNyoman Dewi Pebriyani : Institut Seni Indonesia DenpasarSuharto : Institut Seni Indonesia Denpasar ReferencesAwa, P. (2014, Mei 1). Wawancara golok Walahir. (T. Z. M, Interviewer)Awa, P. (2023, Oktober 9). Wawancara golok Walahir II. (T. Z. M, Interviewer)Devanny Gumulya, M. (2017). Desain Sebagai Strategi di Rencana Bisnis Desain Produk Tas Dengan Pendekatan Teori Semantik. IDEALOG, 275-287.Dolly Simon Kristian, A. F. (2015). Pengembangan Sistem ReplikasiI dan Redundansi Untuk Meningkatkan Kehandalan Basisdata MYSQL . Jurnal Teknologi dan Sistem Komputer, 523.Husni Mubarat, H. I. (2024). Visualisasi dan Makna Filosofis Tanjak Sebagai Ikon Budaya Lokal Pada Struktur Bangunan Di Kota Palembang. Gorga: Jurnal Seni Rupa, 148.Lestamega, V. M. (2024). Kajian Estetika Perupa Muda Lukisan Ridha Nursafitri Berjudul: Hedonisme Dalam Pandangan Hidup Minangkabau. Gorga: Jurnal seni Rupa, 151.Muttaqin, T. Z. (2015, 9 16). Rekonstruksi Visual Golok Walahir oleh Pak Awa Sebagai Upaya Pelestarian Identitas Budaya Masyarakat Desa Sindangkerta Kabupaten Tasikmalaya. hal. 149.Muttaqin, T. Z. (2019). Golok Walahir Sebagai Identitas Budaya Masyarakat Desa Sindangkerta Kabupaten Tasikmalaya. ATRAT, 41-50.Nurhandayani, E. F., & Zam, R. (2024). Perancangan logo ' batar fun' sebagai identitas visual dalam board game matematika. Gorga: Jurnal Seni Rupa, 194.Prasetyo, A. A. (2022). Golok Sebagai Identitas Budaya Betawi. Bekasi: Universitas Mercu Buana.Samson. (2024, April 18). Pewarisan. (T. Z. M, Interviewer)Sernilia Malino, Z. S. (2023). Kajian Organologi Musik Pompang Toraja: Bentuk, Fungsi, dan Makna. Tonika: Jurnal Penelitian dan Pengkajian Seni,, 87-105.Sulasno, W. F. (2020). Application of Legal Protection of Cultural Products Intellectual Property Machetes Ciomas in the District of Ciomas Regency of Serang. Literatus, 78-86.Zainuri Sabta Nugraha, F. K. (2019). Refleksi Pembelajaran Anatomi Pada Mahasiswa Kedokteran Fase Ketiga Melalui Applied and Clinical Question. Refleksi pembelajaran alternatif, 21-27.
Preserving Cultural Heritage Through Sasando Performance Art Management Natonis, Rolfi Junyanto; Hartono, Hartono; Saearani, Muhammad Fazli Taib Bin
Gorga : Jurnal Seni Rupa Vol. 13 No. 2 (2024): Gorga : Jurnal Seni Rupa
Publisher : Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/gr.v13i2.59499

Abstract

Sasando is a traditional musical instrument typical of Rote Island, Indonesia which is currently threatened with extinction. One effort to preserve this cultural heritage is through Sasando Performing Art Management. This study aims to analyze Sasando Performing Art Management strategies in efforts to preserve cultural heritage. The research method used is a qualitative case study by collecting data through interviews, observations, and documentation studies. The results showed that there were four main components in Sasando performance art management, namely planning, organizing, implementing, and supervising. At the planning stage, the identification of potential, SWOT analysis, and determining conservation goals.
PENGARUH MORDAN KAPUR TOHOR DAN TUNJUNG TERHADAP HASIL MOTIF ECOPRINT MENGGUNAKAN DAUN KENIKIR (COSMOS CAUDATUS) PADA BAHAN SATIN BRIDAL Umaira, Umaira; Adriani, Adriani
Gorga : Jurnal Seni Rupa Vol. 13 No. 1 (2024): Gorga : Jurnal Seni Rupa
Publisher : Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/gr.v13i01.59914

Abstract

The research aims to utilize the leaves of the Cosmos caudatus in the manufacture of environmentally friendly textile motifs through ecoprint techniques with hammering methods using mordan and fixator. The study aims to describe the names of colors, the clarity of leaf patterns, wash resistance, and the influence of tohor and tohor lime mordans on ecoprint results. This research is an experiment that uses bridal satin material as an object, with the technique of hammering ecoprint on the leaves using tohor limestone mordans and tunches. The primary data in this study was collected through questionnaires. Data analysis techniques are performed with percentage frequency and analyzed with SPSS (Statistical Product and Service Solutions) version 26.0. The color name that uses the tohor limestone mordan produces a warm brown color, and the color name of the bone leaf produces the color canary yellow, and the mordan tunjunga produces a gray color, and the bone color name produces an olive color. To obtain the name of that color in the test using the colorblind assistand, The use of both types of mordan on the ecoprint leaf produces a leaf motif with clarity that covers details such as ends, edges, and leaf base, as well as the bone structure of the leaf (main neck, branch bones, and leaf veins) that are clearly printed on the bridal satin material. After three washes, the color resistance of the resulting ecocrypt leaves on the satin bridal material using the tohor limestone mordan and the spruce showed a slight decrease in color.Keywords: Ecoprint, Kenikir Leaves, Mordant, Satin BridalAbstrakPenelitian ini bertujuan untuk memanfaatkan daun kenikir (Cosmos caudatus) dalam pembuatan motif tekstil ramah lingkungan melalui teknik ecoprint dengan metode hammering, menggunakan mordan dan fiksator. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan nama-nama warna, kejelasan bentuk motif daun, daya tahan cuci, serta pengaruh mordan kapur tohor dan tunjung pada hasil ecoprint. Penelitian ini adalah sebuah eksperimen yang menggunakan bahan satin bridal sebagai objek, dengan teknik hammering ecoprint pada daun kenikir menggunakan mordan kapur tohor dan tunjung. Data primer dalam penelitian ini dikumpulkan melalui kuesioner. Teknik analisis data dilakukan dengan persentase frekuensi dan dianalisis dengan SPSS (Statistical Product and Service Solutions) versi 26.0. Nama warna yang menggunakan mordan kapur tohor menghasilkan warna warm brown, dan nama warna tulang daun menghasilkan warna canary yellow dan mordan tunjung menghasilkan nama warna grey dan nama warna tulang daun menghasilkan warna olive, untuk memperoleh nama warna tersebut diuji menggunakan colorblind assistant. Penggunaan kedua jenis mordan pada ecoprint daun kenikir menghasilkan motif daun dengan kejelasan yang mencakup detail seperti ujung, tepi, pangkal daun, beserta struktur tulang daun (tulang utama, tulang cabang, dan urat daun) yang tercetak dengan jelas pada bahan satin bridal. Setelah tiga kali pencucian, ketahanan warna hasil ecoprint daun kenikir pada bahan satin bridal dengan menggunakan mordan kapur tohor dan tunjung menunjukkan sedikit penurunan warna.KataKunci: Ecoprint, Daun Kenikir, Mordan, Satin Bridal Authors:Umaira : Universitas Negeri PadangAdriani : Universitas Negeri Padang ReferencesAdriani, & Atmajayanti, C.(2023). Pengaruh Mordan Tunjung Dan Kapur Sirih Terhadap Hasil Ecoprint Daun Iler.(Coleus Scutellarioides Linn Benth) Gorga Jurnal Seni Rupa, 12(01), 231“236.Anugrah, H., & novrita, S. Z. (2023). Penerapan Eco Print Daun Jati..( Tectona Grandis ) Pada..Bahan Katun Menggunakan..Mordan Tawas. 7, 1“8.Arsa, F., & Adriani. (2024) Pengaruh..Mordan Terhadap Hasil Ecoprint Daun Pepaya Jepang (Cnidoscolus...Aconitifolius)...Pada Bahan..Katun. Gorga Jurnal Seni Rupa. https://doi.org/10.24114/gr.v13i01.52845Darmadi, Hamid. 2014. Metodologi..Penelitian Pendidikan..dan Sosial. Bandung: Alfabeta.Dwiyanti, W., Ibrahim, M., & Trimulyono, G. (2014). Pengaruh ekstrak daun kenikir (cosmos caudatus) terhadap pertumbuhan bakteri Bacillus cereus secara In Vitro. Lentera Bio, 3(1), 1-5. https://ejournal.unesa.ac.id/index.php/lenterabio/article/view/7082Ernawati dan Nelmira, Weni. 2008. Tata Busana Jilid 3. Jakarta: Direktorat Pendidikan Menengah Kejuruan.Fitri, E. R., & Adriani, A. 2023. Pembuatan Ekstrak Pewarna Alam Kayu Mahoni untuk Benang Songket Di Studio Pinankabu Canduang Kabupaten Agam. Relief: Journal of Craft, 2(1), 33-37. http://journal.isipadangpanjang.ac.id/index.php/RELIEF/article/view/327Fatihaturahmi, & Novrita, S. Z. (2019). Pengaruh Perbedaan Mordan Tawas dan Kapur Sirih Terhadap Hasil Pencelupan Ekstrak Daun Sawo Menggunakan Bahan Sutera. Gorga Jurnal Seni Rupa, 08(01), 237“242Haryanti, N. H., & Wardhana, H. (2019). Pengaruh komposisi campuran pasir silika dan kapur tohor pada bata ringan berbahan limbah abu terbang batubara. Jurnal Fisika Indonesia, 21(3), 11-15.Revianti, M. M., & Novrita, S. Z. (2019). Pengaruh Mordan Terhadap Pencelupan ekstrak Daun Puring (Codiaeum Variegatum) pada Bahan Katun. Gorga: Jurnal Seni Rupa, 8(2), 403-408.https://scholar.google.com/scholar?cites=7390780869448167194&as_sdt=2005&sciodt=0,5&hl=idSaputri, A., & Novrita, S. Z. (2021). Perbedaan Berat Mordan Tunjung, Tawas dan Kapur Sirih terhadap Hasil Pencelupan Kulit Buah Alpukat Pada Bahan Katun. Jurnal Pendidikan, Busana, Seni dan Teknologi, 3(2), 80-90.Setya, W. P. & Novrita, S. Z. (2020). Pengaruh Mordan Kapur Sirih Dan Tunjung Terhadap Hasil Pencelupan Ekstrak Batang Pisang Ambon Pada        Bahankatun. Jurnal Kapita Selekta Geografi, 3(2), 47-59. https://ksgeo.ppj.unp.ac.id/index.php/ksgeo/article/download/400/247Suci, P. H. (2019). Pelatiha Pembuatan Motif Kain Dengan Metode Ecoprint Di Nagari Tabek Panjang Kecamatan Baso Kabupaten Agam. Journal Of Community Service, 1 (1), 200-207.Wulan, Suryaning. 2018. Budi Daya Kenikir Secara Organik. Bandung: Mitra Sarana Edukasi.
FUNGSI MOTIF GURDA PADA BATIK YOGYAKARTA Septianti, Septianti
Gorga : Jurnal Seni Rupa Vol. 13 No. 1 (2024): Gorga : Jurnal Seni Rupa
Publisher : Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/gr.v13i01.60214

Abstract

Batik has various decorative patterns in its motifs, in batik in Yogyakarta you often see the gurda motif combined with other motifs. The gurda motif is used as a form of reflection of Indonesian culture. This article reviews the gurda motif in terms of function in batik in Yogyakarta. The method used is a descriptive qualitative method with an aesthetic and social approach to understand the form and function of the gurda motif. Apart from that, the aesthetic approach helps in dissecting the function of the gurda motif towards values and paying attention to the current scope of society. To dissect the gurda motif using Edmund Burke Felman's theory in understanding its function. By using Felman's theory, three functions were found, namely spiritual function, social function and industrial commodity function. Through this article, it will result in a change in function from sacred to a form of social strata which will turn into an industrial commodity which is ultimately used as a mass item. Apart from this, we can see a comprehensive change in the significance of the gurda motif in the spiritual realm, which aims to clarify its contemporary function.Keywords: batik, gurda, motif,  YogyakartaAbstrakBatik memiliki berbagai raham hias pada motifnya, pada batik yang ada di Yogyakarta sering kali dilihat motif gurda yang dikombinasikan dengan motif lain. Motif gurda digunakan sebaga bentuk refleski budaya bangsa Indonesia. Tulisan ini mengulas mengenai motif gurda dari segi fungsi pada batik di Yogyakarta. Metode yang digunakan yaitu metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan estetika dan sosial untuk dapat memahami bentuk dan fungsi dari bentuk motif gurda tersebut. Selain itu dengan pendekatan estetika membantu dalam membedah fungsi yang terdapat pada motif gurda terhadap nilai-nilai dan memperhatikan lingkup masyarakat pada saat ini. Untuk membedah mengenai motif gurda dengan menggunakan teori Edmund Burke Felman dalam memahami fungsinya. Dengan menggunakan teori dari Felman ditemukan tiga fungsi yaitu fungsi sebagai spiritual, fungsi sosial, dan fungsi sebagai komoditas industri. Melalui tulisan ini menghasilkan adanya perubahan fungsi dari sakral hingga sebagai bentuk strata sosial yang akan berubahan mejadi barang komoditas industri yang akhirnya digunakan sebagai barang masal.  Selain hal tersebut dapat dilihat adanya perubahan  komprehensif terhadap signifikansi motif gurda dalam ranah spiritual, yang bertujuan untuk memperjelas fungsi kontemporernya.Kata Kunci:batik, gurda, motif, Yogyakarta Author:Septianti : ISI Yogyakarta ReferencesAtmojo, W. T. (2011). Barong dan Garuda dari Sakral ke Profan. Yogyakarta: Pascasarjana ISI Yogyakarta.Cahya, H. E. (2018). Partisipasi Masyarakat, Kegiatan Pendidikan Membatik, Pelestarian Budaya Lokal Membatik Di Dusun Semin. Jurnal Kebijakan Pendidikan Vol., 7(2), 120“130.Falahi, Y., & Hermawan, H. (2023). Konsumerisme Pada Batik Dalam Perspektif Identitas, Komoditas, dan Gayat Hidup. Katarupa, 1 No.1(Vol. 1 No. 1 (2023): Katarupa Volume 1 no 1 2023), 11“20. Retrieved from https://journals.itb.ac.id/index.php/katarupa/article/view/21067Feldman, E. B. (1991). Art As Image And Idea (Sp Gustami). Yogyakarta: Fakultas Seni Rupa ISI Yogyakarta.Harmoko. (1996). Indonesia Indah Buku ke-8 " Batik. Jakarta: TMII.Jesper, J. E., & Pirngadie, M. (2017). Batik: Seni Kerajinan Pribumi di Hindia Belanda. Yogyakarta: DEKRANAS.Kawindrasusanta, K. (1981). Mengenai Seni Batik di Yogyakarta. Yogyakarta: Balai Besar Kerajinan dan Batik.Murtihadi, & Mukminatun. (1979). Pengetahuan Teknologi Batik. Jakarta: Departemen pendidikan dan Kebudayaan.Novrita, S. Z., & Pratiwi, M. (2022). Makna Motif Batik Di Kabupaten Solok Selatan Studi Kasus Pada Sanggar Azyanu Batik 1000 Rumah Gadang. Gorga¯: Jurnal Seni Rupa, 11(2), 628. https://doi.org/10.24114/gr.v11i2.39652Santana, S. (2007). Menulis Ilmiah Metode Penelitian Kualitatif. Jakarta: OBOR.Septianti. (2019). Gurda Pada Batik Larangan Yogyakarta. Yogyakarta: Tesis Pascasarjana ISI Yogyakarta.Septianti. (2020). Kajian Bentuk, Fungsi, Dan Makna Simbolik Motif Gurda Pada Batik Larangan Yogyakarta. INVENSI (Jurnal Penciptaan Dan Pengkajian Seni), 5(1), 65“80. https://doi.org/10.24821/invensi.v1i1.4125Suwito, S. Y., Marwito, T., Damami, Riswinarno, & Gupta, D. (2010). Nilai Budaya dan Filosofi Upacara Sekaten di Yogyakarta. Yogyakarta: Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Yogyakarta.Suyanto, A. N. (2002). Sejarah Kerajinan Batik Indonesia. Yogyakarta: Rumah Penerbit Merapi.Trixie, A. A. (2017). Filosofi Motif Batik Sebagai Identitas Bangsa Indonesia. Paradigma, 19(2), 127“130.
Designing Children's Book: Tommy & Darkness to Overcome Fear of Shadows (Ages 6-12) Darmo, Budi; Sanjaya, Budi; Crysantie, Maylea; Tjiu, Meiliana; Agustino, Matthew
Gorga : Jurnal Seni Rupa Vol. 13 No. 2 (2024): Gorga : Jurnal Seni Rupa
Publisher : Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/gr.v13i2.60959

Abstract

Children often feel fear of shadows in the dark, which frequently arises from imaginary creatures or their dreams. This fear disrupts their emotional development and affects their sleep routines, leading to issues like insomnia and anxiety. Addressing this issue through effective educational tools such as children's books is crucial, especially in Indonesia where children's interest in reading is still very low. This project aims to create a children's book titled "Tommy & Darkness," designed to help children aged 6-12 overcome their fear of shadows. The story follows a young boy named Tommy who learns to confront and understand his fear with the help of a friendly guide. The book employs the Design Thinking method from the Hasso-Plattner Institute of Design at Stanford to creatively and engagingly demonstrate that fear can be overcome through empathy and courage. This method emphasizes understanding the user's experience, encouraging children to relate to Tommy's journey. The book also aims to enhance children's emotional resilience in facing everyday challenges by showing that fear is a natural part of life and can be managed with the right mindset and support. Illustrated with vivid, colorful artwork, "Tommy & Darkness" captures children's attention and makes the story more engaging. Ultimately, this project seeks to foster a culture of reading in Indonesia while providing valuable lessons in emotional intelligence and resilience.