cover
Contact Name
Yogi Setiawan
Contact Email
jurnal.P4I@gmail.com
Phone
+62851733700892
Journal Mail Official
jurnal.P4I@gmail.com
Editorial Address
Lingkungan Handayanai, Kel. Leneng, Kec. Praya, Kab. Lombok Tengah
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
EDUCATIONAL: Jurnal Inovasi Pendidikan dan Pengajaran
ISSN : 27752585     EISSN : 27752593     DOI : https://doi.org/10.51878/educational.v4i4
Core Subject : Education,
Jurnal ini berisi artikel hasil pemikiran dan penelitian yang ditulis oleh para guru, dosen, pakar, ilmuwan, praktisi, dan pengkaji dalam semua disiplin ilmu yang berkaitan dengan pedidikan dan pengajaran.
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 479 Documents
ANALISIS NILAI-NILAI PENDIDIKAN ISLAM DALAM KEGIATAN EKSTRAKULIKULER HIZBUL WATHAN DI SD Rifdah Alifiyah; Budi Haryanto
EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan & Pengajaran Vol. 6 No. 2 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/educational.v6i2.9638

Abstract

This study aims to analyze the content and implementation of Islamic educational values in the extracurricular activities of Hizbul Wathan at SD Muhammadiyah 9 Ngaban Tanggulangin. This study is motivated by the importance of strengthening character education based on Islamic values through non-formal activities in Muhammadiyah elementary schools. The method used is qualitative research with a phenomenological approach to understand the meaning of the internalization of values that occur in scouting activities. The research subjects included Hizbul Wathan coaches, fourth to sixth grade students, and the school principal. Data collection techniques were carried out through observation, open interviews, and documentation, while data validity was tested through source triangulation. The results showed that the values of faith, worship, morals, and social values were internalized in an integrated manner through habit formation, role modeling, and direct experience. The values of faith and worship are reflected through communal prayer, the habit of greeting others, the correction of intentions, and the interpretation of every activity as a form of obedience to Allah SWT. Moral values are evident in discipline, responsibility, politeness, and the example set by humanistic and compassionate mentors. Meanwhile, social values develop through teamwork, mutual assistance (ta'awun), solidarity, and concern for the school environment. The high level of student participation shows the growth of intrinsic motivation as a result of a religious and enjoyable coaching approach. Thus, Hizbul Wathan functions as an effective medium for the internalization of Islamic educational values in an applicable and contextual manner at the elementary school level. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kandungan serta implementasi nilai-nilai pendidikan Islam dalam kegiatan ekstrakurikuler Hizbul Wathan di SD Muhammadiyah 9 Ngaban Tanggulangin. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh pentingnya penguatan pendidikan karakter berbasis nilai Islam melalui kegiatan nonformal di sekolah dasar Muhammadiyah. Metode yang digunakan adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan fenomenologis untuk memahami makna internalisasi nilai yang terjadi dalam aktivitas kepanduan. Subjek penelitian meliputi pembina Hizbul Wathan, siswa kelas IV–VI, dan kepala sekolah. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara terbuka, dan dokumentasi, sedangkan keabsahan data diuji melalui triangulasi sumber. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai aqidah, ibadah, akhlak, dan sosial terinternalisasi secara terpadu melalui pembiasaan, keteladanan, dan pengalaman langsung. Nilai aqidah dan ibadah tercermin melalui doa bersama, pembiasaan salam, pelurusan niat, serta pemaknaan setiap aktivitas sebagai bentuk ketaatan kepada Allah Swt. Nilai akhlak tampak dalam sikap disiplin, tanggung jawab, sopan santun, serta keteladanan pembina yang humanis dan penuh kasih sayang. Sementara itu, nilai sosial berkembang melalui kerja regu, tolong-menolong (ta’awun), solidaritas, dan kepedulian terhadap lingkungan sekolah. Tingginya partisipasi siswa menunjukkan tumbuhnya motivasi intrinsik sebagai hasil pendekatan pembinaan yang religius dan menyenangkan. Dengan demikian, Hizbul Wathan berfungsi sebagai media efektif dalam internalisasi nilai-nilai pendidikan Islam secara aplikatif dan kontekstual di tingkat sekolah dasar.
HUBUNGAN ANTARA KEMAMPUAN MEMBUAT KOLASE DENGAN TINGKAT KREATIVITAS SISWA SANGGAR BIMBINGAN AT-TANZIL MALAYSIA Clara Rizkina Agustin; Sri Widayati; Ridha Sarwono
EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan & Pengajaran Vol. 6 No. 2 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/educational.v6i2.9650

Abstract

Creativity is an important aspect in student development that can be stimulated through art activities, one of which is collage making. However, studies on the relationship between collage making ability and students' creativity are still limited, especially in the guidance studio environment. This study aims to analyze the relationship between collage making ability and students' creativity at the At-Tanzil Guidance Studio in Malaysia. The study used a quantitative approach with a correlational design. All studio students were used as research subjects with a saturated sampling technique. Data were obtained through collage making practice tests and creativity questionnaires that had met the criteria for validity and reliability. Data analysis techniques were carried out using the Pearson Product Moment correlation test assisted by statistical software. The results of the study showed a positive and significant relationship between students' ability to make collages and their level of creativity. These findings indicate that collage making activities can be used as an effective learning alternative in developing creativity. This study is expected to contribute to educators in designing art learning activities oriented towards developing students' creative potential. ABSTRAKKreativitas merupakan aspek penting dalam perkembangan siswa yang dapat distimulasi melalui kegiatan seni, salah satunya pembuatan kolase. Namun, kajian mengenai hubungan kemampuan membuat kolase dengan kreativitas siswa masih terbatas, khususnya pada lingkungan sanggar bimbingan.Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara kemampuan membuat kolase dengan kreativitas siswa di Sanggar Bimbingan At-Tanzil Malaysia. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain korelasional. Seluruh siswa sanggar dijadikan subjek penelitian dengan teknik sampling jenuh. Data diperoleh melalui tes praktik pembuatan kolase serta angket kreativitas yang telah memenuhi kriteria validitas dan reliabilitas. Teknik analisis data dilakukan menggunakan uji korelasi Pearson Product Moment berbantuan perangkat lunak statistik. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan positif dan signifikan antara kemampuan siswa dalam membuat kolase dengan tingkat kreativitas yang dimiliki. Temuan ini mengindikasikan bahwa kegiatan membuat kolase dapat dijadikan sebagai salah satu alternatif untuk pembelajaran yang efektif dalam mengembangkan kreativitas. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi pendidik dalam merancang kegiatan pembelajaran seni yang berorientasi pada pengembangan potensi kreatif siswa.
PENYUSUNAN INSTRUMEN ASESMEN KETERAMPILAN VOKASIONAL MEMBUAT KUE COKLAT BERBAHAN EGGDROP UNTUK SISWA DENGAN HAMBATAN INTELEKTUAL Wilda Rojanah; Eka Yuli Astuti
EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan & Pengajaran Vol. 6 No. 2 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/educational.v6i2.9663

Abstract

The development of vocational skills for students with intellectual disabilities requires appropriate assessment instruments to measure their abilities and learning progress. This study aims to develop a performance-based assessment instrument for eggdrop-based chocolate cake making skills spesifically designed for students with intellectual disabilities phase D. The study used a descriptive qualitative approach implemented at Pelita Al Karomah Special Education School teachers with two special education teachers and two validators as subjects. The development process was carried out through three stages: preparation with a literature review and need analysis, preparation of an instrument covering three main aspects (work readiness, manufacturing process and product results), and validation and limited trials. The instrument was designed using task analysis principles by breaking down complex tasks into simple, sequential, and observable steps, equipped with a 1-4 scale scoring rubric based on hierarchical prompting. Validation results showed the instrument met content validity criteria with clear, observable indicators that were appropriate to student characteristics. Limited trials demonstrated its practicality with a 15-20 minute completion time and ease of use by teachers. The developed instrument enables objective and systematic assessment that supports individualized learning planning and documentation of student learning progress in culinary vocational skills. ABSTRAK Pengembangan keterampilan vokasional bagi peserta didik dengan hambatan intelektual memerlukan instrumen asesmen yang tepat untuk mengukur kemampuan dan perkembangan belajar mereka. Penelitian ini bertujuan untuk menyusun instrumen asesmen berbasis kinerja pada keterampilan pembuatan kue coklat berbahan dasar eggdrop yang dirancang khusus untuk peserta didik dengan hambatan intelektual fase D. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif yang dilaksanakan di Sekolah Khusus Pelita Al Karomah dengan subjek dua orang guru pendidikan khusus dan dua orang validator. Proses pengembangan dilakukan melalui tiga tahap yaitu persiapan dengan kajian literatur dan analisis kebutuhan, penyusunan instrumen yang mencakup tiga aspek utama (kesiapan kerja, proses pembuatan, dan hasil produk), serta validasi dan uji coba terbatas. Instrumen dirancang menggunakan prinsip analisis tugas dengan memecah tugas kompleks menjadi langkah-langkah sederhana dan berurutan yang dapat diamati, dilengkapi rubrik penilaian skala 1-4 berdasarkan hirarki prompting. Hasil validasi menunjukkan instrumen memenuhi kriteria validitas konten dengan indikator yang jelas, dapat diobservasi, dan sesuai karakteristik peserta didik. Uji coba terbatas menunjukkan kepraktisan dengan efisiensi waktu pengisian 15-20 menit dan kemudahan penggunaan oleh guru. Instrumen yang dikembangkan memungkinkan asesmen yang objektif dan sistematis yang mendukung perencanaan pembelajaran terindividualisasi serta dokumentasi kemajuan belajar siswa dalam keterampilan vokasional tataboga.  
ANALISIS KEMAMPUAN BERPIKIR KREATIF SISWA DALAM PEMBELAJARAN IPAS MELALUI MODEL PROBLEM BASED LEARNING DI SEKOLAH DASAR Afifah Setyaningrum; Meidawati Suswandari
EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan & Pengajaran Vol. 6 No. 2 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/educational.v6i2.9737

Abstract

The purpose of this study was to describe the process of developing creative thinking skills in science (IPAS) subjects through the Problem Based Learning (PBL) model in grade VI students of Mertan 1 Elementary School. The data collection techniques used included observation, interviews, and documentation with 7 students from grade IV as the subjects. The data analysis technique applied was interactive data analysis through four stages: data collection, data reduction, data presentation, and drawing conclusions, processed using NVivo version 12. The results of the study indicate that students’ creative thinking skills through PBL developed comprehensively: fluency of thinking produced various alternative problem-solving ideas and initial ideas; flexibility of thinking generated new solutions and different ways of collecting information; originality of thinking resulted in presenting outcomes independently and contributing actively to discussions; and the development of thinking processes produced detailed idea elaboration, systematic explanation of investigation steps, and evaluation of results with logical improvement measures. ABSTRAK Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan proses kemampuan berpikir kreatif dalam mata pelajaran IPAS melalui model Problem-Based Learning siswa kelas VI Sekolah Dasar Negeri Mertan 1. Teknik pengumpulan data yang digunakan terdiri dari observasi, wawancara, dan dokumentasi, dengan subjek kelas IV yang terdiri dari 7 siswa, sedangkan teknik analisis data yang digunakan adalah teknik analisis data interaktif melalui empat tahapan, meliputi pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan yang diolah melalui Nvivo versi 12. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kemampuan berpikir kreatif pada siswa melalui PBL berkembang secara menyeluruh, kelancaran berpikir menghasilkan berbagai alternatif pemecahan masalah dan ide awal, keluwesan berpikir menghasilkan solusi baru dan cara pengumpulan informasi yang berbeda, keaslian berpikir menghasilkan penyampaian hasil dengan cara sendiri dan kontribusi nyata dalam diskusi, serta pengembangan proses berpikir menghasilkan elaborasi ide yang rinci, penjelasan langkah penyelidikan secara sistematis, dan evaluasi terhadap hasil yang diperoleh dengan langkah perbaikan yang logis.
UPAYA MENINGKATKAN KEMAMPUAN MENGENAL LINGKUNGAN MELALUI KEGIATAN BERKEBUN PADA ANAK USIA 4-5 TAHUN Dewi Krisiyanti Monita; Nahdiyah Hidayah
EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan & Pengajaran Vol. 6 No. 2 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/educational.v6i2.9741

Abstract

Early childhood is a golden period of brain development that requires integrated stimulation, but environmental awareness is often hampered by conventional learning methods that lack direct experience for students. This study aims to optimize ecological literacy through gardening activities for twenty students aged four to five years at KB Al-Kautsar Banjarnegara. Using a Classroom Action Research design with a spiral model, this study was conducted in two cycles involving the stages of scenario planning, implementation of planting actions, systematic observation, and critical reflection in the field. Data collection was carried out through direct observation techniques on three main indicators that were analyzed using simple descriptive statistics. The research findings show a substantial increase in children's capacity in each cycle: the ability to recognize plant types increased significantly from 40% to 95%, understanding of plant care procedures increased from 45% to 90%, and the manifestation of caring attitudes towards the surrounding environment grew from 40% to 80%. These results prove that outdoor experience-based learning methods are able to transform abstract material into concrete understanding that is imprinted in children's long-term memory. The main conclusion confirms that gardening activities are a highly effective contextual pedagogical strategy in improving the ability to recognize the environment while simultaneously building naturalist intelligence and responsible character in early childhood in a sustainable manner. ABSTRAK Fase usia dini merupakan periode keemasan perkembangan otak yang memerlukan stimulasi terintegrasi, namun pengenalan lingkungan seringkali terhambat oleh metode pembelajaran konvensional yang kurang melibatkan pengalaman langsung bagi peserta didik. Penelitian ini bertujuan untuk mengoptimalkan literasi ekologis melalui aktivitas berkebun pada dua puluh anak didik usia empat hingga lima tahun di KB Al-Kautsar Banjarnegara. Menggunakan rancangan Penelitian Tindakan Kelas dengan model spiral, studi ini dilaksanakan dalam dua siklus yang melibatkan tahapan perencanaan skenario, pelaksanaan tindakan menanam, observasi sistematis, serta refleksi kritis di lapangan. Pengumpulan data dilakukan melalui teknik observasi langsung terhadap tiga indikator utama yang dianalisis menggunakan statistik deskriptif sederhana. Temuan penelitian menunjukkan peningkatan kapasitas anak secara substansial pada setiap siklus: kemampuan mengenali jenis tanaman meningkat signifikan dari 40% menjadi 95%, pemahaman tata cara merawat tumbuhan naik dari 45% menjadi 90%, dan manifestasi sikap peduli terhadap lingkungan sekitar tumbuh dari 40% ke angka 80%. Hasil ini membuktikan bahwa metode pembelajaran berbasis pengalaman di luar ruangan mampu mentransformasi materi abstrak menjadi pemahaman konkret yang membekas pada ingatan jangka panjang anak. Simpulan utama menegaskan bahwa kegiatan berkebun merupakan strategi pedagogis kontekstual yang sangat efektif dalam meningkatkan kemampuan mengenal lingkungan sekaligus membangun kecerdasan naturalis serta karakter bertanggung jawab pada anak usia dini secara berkelanjutan.
MENGATASI OVERTHINKING: TANTANGAN MAHASISWA PAI MENUJU GURU PROFESIONAL Agus Susanti
EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan & Pengajaran Vol. 6 No. 2 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/educational.v6i2.9743

Abstract

ABSTRACT This study aims to describe the challenges faced by Islamic Education (PAI) students in their academic journey toward teacher professionalism, particularly regarding the phenomenon of overthinking, which often arises as a form of anxiety and self-doubt. Using a qualitative method with a phenomenological approach, the research explores the experiences of seven PAI students from the 2021 cohort at UIN Raden Intan Lampung through interviews, observations, and documentation, and analyzes them thematically to uncover the essential meaning of their experiences. The findings reveal that overthinking negatively affects productivity, emotional stability, and self-confidence, yet simultaneously serves as a medium for building resilience and mental toughness. The strategies employed by students to manage overthinking include integrating psychological and spiritual approaches, such as strengthening Islamic values and fostering a supportive academic environment. These findings affirm that Islamic higher education plays a crucial role in shaping professional PAI teachers, not only through mastery of knowledge but also through psychological and spiritual balance that supports the development of character, exemplary conduct, and readiness to face the dynamics of the educational world.   ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan tantangan mahasiswa Pendidikan Agama Islam (PAI) dalam proses akademik menuju profesionalisme guru, khususnya terkait fenomena overthinking yang kerap muncul sebagai bentuk kecemasan dan keraguan diri. Dengan menggunakan metode kualitatif berpendekatan fenomenologi, penelitian ini menggali pengalaman tujuh mahasiswa PAI angkatan 2021 UIN Raden Intan Lampung melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi, serta dianalisis secara tematik untuk menemukan makna esensial dari pengalaman mereka. Hasil penelitian menunjukkan bahwa overthinking berdampak pada penurunan produktivitas, kestabilan emosional, dan kepercayaan diri, namun sekaligus menjadi sarana pembentukan resiliensi dan ketangguhan mental. Strategi pengelolaan overthinking yang dilakukan mahasiswa meliputi integrasi pendekatan psikologis dan spiritual, seperti penguatan nilai-nilai Islam, serta dukungan lingkungan akademik yang kondusif. Temuan ini menegaskan bahwa pendidikan tinggi Islam berperan penting dalam membentuk guru PAI yang profesional, tidak hanya melalui penguasaan ilmu pengetahuan, tetapi juga melalui keseimbangan psikologis dan spiritual yang mendukung pembentukan karakter, keteladanan, dan kesiapan menghadapi dinamika dunia pendidikan.
TINDAK TUTUR ILOKUSI DALAM PIDATO SAMBUTAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA PADA ACARA KEAGAAMAN: SEBUAH KAJIAN PRAGMATIK Ratna Khoirunnisa; Dhea Tisane Ardhan; Ifa Saidatuningtyas
EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan & Pengajaran Vol. 6 No. 2 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/educational.v6i2.9744

Abstract

Presidential speeches at religious events are often viewed as mere ceremonial formalities, yet they contain crucial pragmatic strategies for influencing public attitudes. This study examines the illocutionary speech acts in President Prabowo Subianto's welcoming speech at the 2025 National Christmas Celebration to describe their types, dominant types, and communicative functions. Using a descriptive qualitative approach with a content analysis method, the research stages include data collection from the official website of the Cabinet Secretariat and classification of speech segments based on John Searle's theory. The analysis results identified 31 occurrences of illocutionary speech acts in 25 speech segments. Quantitatively, the assertive type dominated with 12 findings (38.7%), followed by expressive with 7 findings (22.6%), directive with 5 findings (16.1%), and commissive with 4 findings (12.9%), with no declarative speech acts. The findings indicate that assertive dominance functions to frame the factual narrative of the nation's condition, while expressive strengthens interpersonal relationships with the audience. Directive speech acts are used as instruments of moral persuasion to maintain unity, while commissive speeches emphasize the government's promise of performance for the welfare of the people. The main conclusion of this study confirms that the president's speech is a strategic political discourse that utilizes a variety of linguistic strategies to construct meaning and influence in communication in the public sphere. This study demonstrates that speech choices play a vital role in shaping the image of inclusive leadership in Indonesia's multicultural society. ABSTRAK Pidato presiden dalam acara keagamaan sering kali hanya dipandang sebagai formalitas seremonial, padahal di dalamnya terkandung strategi pragmatik krusial untuk memengaruhi sikap publik. Penelitian ini mengkaji tindak tutur ilokusi dalam pidato sambutan Presiden Prabowo Subianto pada Perayaan Natal Nasional 2025 guna mendeskripsikan jenis, tipe dominan, serta fungsi komunikatifnya. Menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode analisis isi, tahapan penelitian meliputi pengumpulan data dari situs resmi Sekretariat Kabinet dan klasifikasi segmen pidato berdasarkan teori John Searle. Hasil analisis mengidentifikasi 31 kemunculan tindak tutur ilokusi dalam 25 segmen pidato. Secara kuantitatif, tipe asertif mendominasi dengan 12 temuan (38,7%), diikuti ekspresif 7 temuan (22,6%), direktif 5 temuan (16,1%), dan komisif 4 temuan (12,9%), tanpa adanya tindak tutur deklaratif. Temuan menunjukkan bahwa dominasi asertif berfungsi membingkai narasi faktual kondisi bangsa, sementara ekspresif memperkuat relasi interpersonal dengan audiens. Tindak tutur direktif digunakan sebagai instrumen persuasi moral untuk menjaga persatuan, sedangkan komisif menegaskan janji kinerja pemerintah bagi kesejahteraan rakyat. Simpulan utama penelitian ini menegaskan bahwa pidato presiden merupakan wacana politik strategis yang memanfaatkan keragaman strategi kebahasaan untuk membangun makna dan pengaruh komunikasi di ruang publik. Kajian ini membuktikan bahwa pilihan tuturan berperan vital dalam membentuk citra kepemimpinan yang inklusif pada masyarakat Indonesia yang multikultural.  
EFEKTIVITAS KONSELING COGNITIVE BEHAVIOR DENGAN TEKNIK REFRAMING UNTUK MENINGKATKAN KEBAHAGIAAN BERBASIS NILAI-NILAI TRI HITA KARANA BAGI REMAJA KORBAN PERCERAIAN Ni Wayan Cindy Amelia Putri; I Ketut Gading; Wayan Eka Paramartha
EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan & Pengajaran Vol. 6 No. 2 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/educational.v6i2.9764

Abstract

Happiness is a condition where individuals tend to remember positive experiences rather than negative ones. Happiness can also be defined as a positive emotion that fuels enthusiasm and gives meaning to every individual's actions. According to the local value of Tri Hita Karana, happiness is a harmonious relationship between humans and God (Parahyangan), between humans and others (Pawongan), and between humans and the environment (Palemahan). This study addresses the low happiness of adolescent victims of divorce, which often causes emotional trauma, depression, and difficulties in social adaptation. The impacts of parental divorce include loss of affection, mental stress, and environmental changes, with triggering factors such as economics, conflict, and infidelity. This study tested the effectiveness of Cognitive Behavior counseling using the Reframing technique to increase the happiness of adolescents at the Dana Punia Orphanage, Singaraja. This intervention changed negative thought patterns into positive perspectives through stages such as identifying perceptions, reframing, and follow-up. The hypothesis stated that the intervention was effective in increasing happiness indicators such as spiritual calm and harmonious relationships. This study used a quasi-experimental design with a Pretest-Posttest control group experimental research design with 10 samples of adolescents aged 15-21 years (5 experimental groups, 5 control groups). The intervention consisted of six sessions, measured using a Tri Hita Karana-based happiness questionnaire. Reframing techniques included rational strategies, perception modification, and homework for habituation. Cognitive Behavior Counseling with Reframing integrated with local Tri Hita Karana values effectively restored happiness through cognitive and behavioral changes. This research differs from previous studies by focusing on specific intervention experiments in the Balinese context. ABSTRAKKebahagiaan adalah kondisi individu yang cenderung mengingat pengalaman positif dibandingkan dengan pengalaman negatif. Kebahagiaan juga dapat diartikan sebagai emosi positif yang memicu semangat dan memberikan makna dalam setiap tindakan individu. Menurut nilai lokal Tri Hita Karana, kebahagiaan merupakan keharmonisan hubungan antara manusia dengan Tuhan (Parahyangan), hubungan antara manusia dengan sesama (Pawongan), dan hubungan antara manusia dengan lingkungan (Palemahan). Penelitian ini mengatasi rendahnya kebahagiaan remaja korban perceraian, yang sering menyebabkan trauma emosional, depresi, dan kesulitan adaptasi sosial. Dampak perceraian orang tua termasuk kehilangan kasih sayang, tekanan mental, dan perubahan lingkungan, dengan faktor pemicu seperti ekonomi, konflik, dan perselingkuhan. Menguji efektivitas konseling Cognitive Behavior teknik Reframing untuk meningkatkan kebahagiaan remaja di Panti Asuhan Dana Punia, Singaraja. Intervensi ini mengubah pola pikir negatif menjadi perspektif positif melalui tahapan seperti identifikasi persepsi, reframing, dan tindak lanjut. Hipotesis menyatakan intervensi tersebut efektif dalam meningkatkan indikator kebahagiaan seperti ketenangan spiritual dan hubungan harmonis. Penelitian ini menggunakan desain quasi-eksperimen dengan design penelitian eksperimen Pretest-Posttest control group dengan 10 sampel remaja usia 15-21 tahun (5 kelompok eksperimen, 5 kontrol). Intervensi dilakukan 6 sesi, diukur dengan kuesioner kebahagiaan berbasis Tri Hita Karana. Teknik Reframing meliputi rasional strategi, modifikasi persepsi, dan homework untuk pembiasaan. Konseling Cognitive Behavior dengan Reframing diintegrasikan dengan nilai lokal Tri Hita Karana efektif memulihkan kebahagiaan melalui perubahan kognitif dan perilaku. Penelitian ini membedakan diri dari studi sebelumnya dengan fokus eksperimen intervensi spesifik pada konteks Bali.
STRATEGI MANAJERIAL KEPALA SEKOLAH UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS LAYANAN EKSTRAKURIKULER KARATE Rimang Andani; Rudi Hariawan; Hardiansyah Hardiansyah
EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan & Pengajaran Vol. 6 No. 2 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/educational.v6i2.9807

Abstract

ABSTRACT Extracurricular activities are an important component of educational programs that contribute to the development of students’ potential, skills, and character beyond formal classroom learning. However, the quality of extracurricular services in schools often faces various managerial challenges, including limited facilities, program coordination, and stakeholder involvement. This study aims to examine the principal’s managerial strategies in improving the quality of karate extracurricular services at SMP Negeri 4 Kuripan. This research employed a qualitative approach with a case study design. Data were collected through participatory observation, in-depth interviews with the principal, vice principal, extracurricular supervisors, and students, as well as document analysis. The findings indicate that the improvement of service quality is achieved through four systematic stages: program identification, provision of facilities, active communication with parents, and resolution of operational constraints, supported by regular evaluations and a gradual sanction mechanism. The strategy for managing parental involvement is implemented by integrating the POAC management functions (Planning, Organizing, Actuating, and Controlling) supported by effective communication. The main challenges identified include scheduling conflicts, limited facilities and infrastructure, and students’ motivation. It can be concluded that the success of the karate extracurricular program depends on a well-structured internal management system, strategic partnerships with parents, and the school’s ability to adaptively address operational challenges in order to create a holistic supporting ecosystem. ABSTRAK Kegiatan ekstrakurikuler merupakan bagian penting dari program pendidikan yang berperan dalam mengembangkan potensi, keterampilan, serta karakter peserta didik di luar pembelajaran formal. Namun, kualitas layanan ekstrakurikuler di sekolah sering menghadapi berbagai tantangan manajerial, seperti keterbatasan sarana, koordinasi program, dan keterlibatan pemangku kepentingan. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji strategi manajerial kepala sekolah dalam meningkatkan kualitas layanan ekstrakurikuler karate di SMP Negeri 4 Kuripan. Menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus, data dikumpulkan melalui observasi partisipatif, wawancara mendalam dengan kepala sekolah, wakil kepala sekolah, guru pembina, dan peserta, serta studi dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peningkatan kualitas layanan dicapai melalui penerapan empat tahap sistematis: identifikasi program, penyediaan sarana, komunikasi aktif dengan orang tua, dan penyelesaian kendala operasional, yang dilengkapi dengan evaluasi rutin dan mekanisme sanksi bertahap. Strategi pengelolaan keterlibatan orang tua diimplementasikan dengan mengintegrasikan fungsi manajemen POAC (Planning, Organizing, Actuating, Controlling) yang didukung komunikasi efektif. Kendala utama yang dihadapi meliputi penjadwalan, keterbatasan sarana-prasarana, dan motivasi siswa. Disimpulkan bahwa keberhasilan program ekstrakurikuler karate bergantung pada struktur manajemen internal yang baik, kemitraan strategis dengan orang tua, dan kemampuan sekolah dalam mengatasi tantangan operasional secara adaptif untuk menciptakan ekosistem pendukung yang holistik.
PENGEMBANGAN MEDIA PEMBELAJARAN GAME ROLE PLAY BERBASIS PROYEK PADA MATERI AKAD DAN JUAL BELI Rohmat Hidayattullah; Anita Puji Astutik
EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan & Pengajaran Vol. 6 No. 2 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/educational.v6i2.9815

Abstract

ABSTRACT The importance of innovation in instructional media in religious education encourages teachers to develop more interactive and contextual methods so that students can understand learning materials more meaningfully. This study aims to develop a project-based role-play game learning media on the topic of contracts (akad) and buying–selling transactions for second-grade students of Madrasah Aliyah. The background of this research is the low level of student engagement in Fiqh learning due to conventional approaches that are less contextual and interactive. The method used is Research and Development (R&D) with the ADDIE model, which includes the stages of analysis, design, development, implementation, and evaluation. The results show that the developed media effectively increases students’ active participation, practical understanding of the material, and social skills such as communication and collaboration. Limited trials indicate positive responses from both students and teachers, although several technical constraints were encountered, such as limited instructional time and initial adaptation to the role-play method. In conclusion, this learning media is feasible to be used to improve the quality of Fiqh learning so that it becomes more contextual, engaging, and aligned with the characteristics of Generation Z, while also supporting more collaborative, participatory, and experiential learning in the school environment. ABSTRAK Pentingnya inovasi media pembelajaran dalam pendidikan agama mendorong guru untuk mengembangkan metode yang lebih interaktif dan kontekstual agar siswa dapat memahami materi secara lebih bermakna. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan media pembelajaran berupa game role play berbasis proyek pada materi akad dan jual beli untuk siswa kelas 2 Madrasah Aliyah. Latar belakang penelitian ini adalah rendahnya keterlibatan siswa dalam pembelajaran Fikih akibat pendekatan konvensional yang kurang kontekstual dan interaktif. Metode yang digunakan adalah Research and Development (R&D) dengan model ADDIE yang meliputi tahapan analisis, perancangan, pengembangan, implementasi, dan evaluasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa media yang dikembangkan efektif meningkatkan partisipasi aktif siswa, pemahaman materi secara aplikatif, serta keterampilan sosial seperti komunikasi dan kerja sama. Uji coba terbatas menunjukkan respon positif dari siswa dan guru, meskipun terdapat kendala teknis seperti keterbatasan waktu dan adaptasi awal terhadap metode role play. Kesimpulannya, media pembelajaran ini layak digunakan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran Fikih yang kontekstual, menyenangkan, dan sesuai dengan karakteristik generasi Z, serta berpotensi mendukung pembelajaran yang lebih kolaboratif, partisipatif, dan berorientasi pada pengalaman belajar nyata di lingkungan sekolah.