cover
Contact Name
Yogi Setiawan
Contact Email
jurnal.P4I@gmail.com
Phone
+62851733700892
Journal Mail Official
jurnal.P4I@gmail.com
Editorial Address
Lingkungan Handayanai, Kel. Leneng, Kec. Praya, Kab. Lombok Tengah
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
EDUCATIONAL: Jurnal Inovasi Pendidikan dan Pengajaran
ISSN : 27752585     EISSN : 27752593     DOI : https://doi.org/10.51878/educational.v4i4
Core Subject : Education,
Jurnal ini berisi artikel hasil pemikiran dan penelitian yang ditulis oleh para guru, dosen, pakar, ilmuwan, praktisi, dan pengkaji dalam semua disiplin ilmu yang berkaitan dengan pedidikan dan pengajaran.
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 379 Documents
PENGETAHUAN KADER TENTANG STUNTING DAN KEMAMPUAN DETEKSI DINI BALITA STUNTING: PENDEKATAN CROSS-SECTIONAL Fikriyah, Wilda Azka; Wijayanti, Lumastari Ajeng
EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan & Pengajaran Vol. 6 No. 2 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/educational.v6i2.10166

Abstract

Indonesia’s national development agenda set a stunting prevalence target of 14% by 2024, positioning it as a critical public health priority aimed at fostering optimal human development from the earliest stages of life. Strengthening the role of community health cadres has been identified as a central strategy, encompassing health education delivery, promotion of healthy lifestyles, and more effective execution of stunting prevention initiatives. This research was conducted to examine the association between cadres’ knowledge regarding stunting and their proficiency in conducting early identification of stunting cases among toddlers. A cross-sectional approach was adopted, with 40 participants recruited according to established inclusion criteria, and the Spearman Rank correlation test was applied to evaluate the degree of association between the study variables. Results revealed a statistically significant positive correlation, with a coefficient of 0.572 placing the relationship in the moderate strength category. This finding underscores that cadres’ early detection proficiency is substantially shaped by the quality and quantity of information they receive, emphasizing the need for sustained educational interventions and comprehensive resource provision. ABSTRAK Pemerintah Indonesia menetapkan target penurunan prevalensi stunting menjadi 14% dalam RPJMN 2024 sebagai bagian dari upaya strategis peningkatan kualitas sumber daya manusia sejak dini. Penguatan peran kader posyandu menjadi salah satu pilar utama dalam implementasi program tersebut, mencakup fungsi edukasi, pemodelan perilaku hidup sehat, dan pelaksanaan kegiatan pencegahan stunting di tingkat komunitas. Studi ini dirancang untuk mengkaji keterkaitan antara kapasitas pengetahuan kader dan kecakapan mereka dalam mengidentifikasi stunting pada anak usia di bawah lima tahun secara dini. Metode yang digunakan adalah desain Cross Sectional dengan melibatkan 40 responden yang ditentukan berdasarkan kriteria inklusi tertentu, serta analisis data melalui uji Spearman Rank guna mengukur derajat keterkaitan antarvariabel. Dari hasil analisis diperoleh nilai koefisien korelasi sebesar 0,572, menunjukkan adanya hubungan positif pada tingkat kekuatan sedang antara pengetahuan kader tentang stunting dan kapasitas deteksi dini mereka. Hal ini mengindikasikan bahwa akses terhadap informasi yang memadai merupakan faktor determinan penting dalam membentuk kecakapan kader, sehingga program edukasi yang terstruktur dan penyediaan bahan pembelajaran yang komprehensif perlu mendapat perhatian lebih serius.
KEPEMIMPINAN KEPALA SEKOLAH DALAM PENGEMBANGAN MANAJEMEN BERBASIS SEKOLAH PADA JENJANG SEKOLAH DASAR Rambe, Mahadi Kesuma; Purnama, Iwan; Siregar, Sakinah Ubudiyah; Siregar, Marlina; Harahap, Aziddin
EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan & Pengajaran Vol. 6 No. 2 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/educational.v6i2.10169

Abstract

ABSTRACT This study is grounded in the importance of the principal’s role as an educational leader. School program planning constitutes a strategic responsibility aimed at improving educational quality through the implementation of School-Based Management. This study aims to describe the principal’s leadership in planning the development of School-Based Management (SBM) at SD Negeri 01 Pangkatan using a qualitative approach with a descriptive method. The research subjects include the principal, classroom teachers, Physical Education (PJOK) teachers, and educational staff, with data collected through interviews, observations, and documentation. The data were analyzed through stages of data reduction, data display, and conclusion drawing. The findings indicate that the principal’s leadership in planning SBM development is carried out in a participatory manner by involving teachers and educational staff in formulating the school’s vision and mission, designing work programs, and managing school resources. The principal acts as a director, coordinator, and decision-maker, supported by effective communication and coordination, enabling the development of systematic programs aligned with school needs. Therefore, participatory and communicative leadership contributes to enhancing stakeholder involvement and improving the quality of education. ABSTRAK Penelitian ini dilandasi oleh pentingnya peran kepala sekolah sebagai pemimpin dalam dunia pendidikan. Perencanaan program sekolah merupakan tanggung jawab strategis untuk mendorong peningkatan mutu pendidikan melalui penerapan Manajemen Berbasis Sekolah. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan kepemimpinan kepala sekolah dalam merancang pengembangan Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) di SD Negeri 01 Pangkatan dengan pendekatan kualitatif metode deskriptif. Subjek penelitian meliputi kepala sekolah, guru kelas, guru PJOK, serta tenaga kependidikan, dengan teknik pengumpulan data berupa wawancara, observasi, dan dokumentasi. Data dianalisis melalui tahapan reduksi, penyajian, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kepemimpinan kepala sekolah dalam perencanaan pengembangan MBS dilaksanakan secara partisipatif dengan melibatkan guru dan tenaga kependidikan dalam perumusan visi dan misi, penyusunan program kerja, serta pengelolaan sumber daya sekolah. Kepala sekolah berperan sebagai pengarah, koordinator, dan pengambil keputusan, didukung oleh komunikasi dan koordinasi yang baik sehingga program sekolah tersusun secara sistematis sesuai kebutuhan. Dengan demikian, kepemimpinan yang partisipatif dan komunikatif berkontribusi dalam meningkatkan keterlibatan warga sekolah dan mutu pendidikan.
KONSEP GOOD GOVERNANCE PADA MASA KHULAFAUR RASYIDIN: RELEVANSI DENGAN PRAKTIK PENDIDIKAN DEMOKRASI INDONESIA Nurwahyuningsih, Rahma; urniawati, Septian Dwi; Ayu, Defita Diah; Rohmah, Isnaini A Sifa; A.Q.J., Muh.Muhyihuddin; Hakiman, Hakiman
EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan & Pengajaran Vol. 5 No. 4 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/educational.v5i4.10258

Abstract

ABSTRACT This study is grounded in the ongoing challenges facing the quality of democracy in Indonesia, particularly weaknesses in accountability, transparency, and justice within governance practices. It aims to re-examine the leadership values of the Khulafaur Rasyidin and assess their relevance within the framework of contemporary good governance. The research employs a qualitative approach with a historical-comparative design, drawing on classical Islamic sources especially the works of al-Tabari as well as recent scholarly literature on governance. The analysis is conducted through systematic stages, including data selection, thematic categorization, and comparative interpretation between historical practices and the realities of Indonesian democracy. The findings reveal that governance practices during the era of the Khulafaur Rasyidin embodied key principles of good governance, such as participatory decision-making through shura, leadership accountability, transparency in public resource management, equitable law enforcement, and a strong orientation toward social justice. These results indicate that such values are not merely historical but remain conceptually and practically relevant in addressing contemporary democratic challenges. Theoretically, this study contributes by proposing an integrative framework that bridges Islamic ethical leadership values with modern governance systems. Practically, the internalization of these moral and spiritual values has the potential to strengthen leadership integrity, enhance public trust, and promote more participatory, transparent, and sustainable governance. ABSTRAK Penelitian ini berangkat dari problem kualitas demokrasi di Indonesia yang masih menghadapi kelemahan pada aspek akuntabilitas, transparansi, dan keadilan dalam tata kelola pemerintahan. Studi ini bertujuan mengkaji kembali nilai-nilai kepemimpinan pada masa Khulafaur Rasyidin serta menilai relevansinya dalam kerangka good governance kontemporer. Pendekatan yang digunakan adalah kualitatif dengan desain historis-komparatif melalui penelaahan literatur klasik Islam, khususnya karya al-Tabari, serta kajian ilmiah mutakhir terkait tata kelola pemerintahan. Analisis dilakukan secara bertahap melalui seleksi data, pengelompokan tematik, dan interpretasi komparatif antara praktik historis dan realitas demokrasi Indonesia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa praktik pemerintahan pada masa Khulafaur Rasyidin merefleksikan prinsip-prinsip utama good governance, seperti partisipasi berbasis shura, akuntabilitas kepemimpinan, keterbukaan pengelolaan publik, penegakan hukum yang setara, serta orientasi pada keadilan sosial. Temuan ini menegaskan bahwa nilai-nilai tersebut tidak hanya memiliki dimensi historis, tetapi juga relevan secara konseptual dan aplikatif dalam menjawab tantangan demokrasi modern. Secara teoretis, penelitian ini berkontribusi dengan menawarkan kerangka integratif antara nilai etis kepemimpinan Islam dan sistem tata kelola modern. Secara praktis, internalisasi nilai moral-spiritual tersebut berpotensi memperkuat integritas kepemimpinan, meningkatkan kepercayaan publik, serta mendorong terwujudnya tata kelola pemerintahan yang lebih partisipatif, transparan, dan berkelanjutan.
BETWEEN THE BOOK AND GOOGLE CLASSROOM: ISLAMIC JURISPRUDENCE EDUCATION IN THE DIGITAL ERA Yudiono, Iqbal Ramadhan Irsyad; Hakim, Pratiwi Rahmah; Hadi, Abdurrahman; Makalitutu, Fadhel Ikhlasul Amal; Myoriuke, Milevtra; Abdurrohman, Ayman Hammam
EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan & Pengajaran Vol. 5 No. 4 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/educational.v5i4.10259

Abstract

ABSTRACT The rapid advancement of digital technology has brought fundamental changes to educational practices, including fiqh learning, which has traditionally been dominated by classical text-based approaches. This transformation calls for the development of a learning model capable of bridging the depth of Islamic scholarly traditions with the flexibility of digital environments. This study aims to analyze how the integration of classical fiqh texts and digital platforms can maintain epistemological depth while enhancing learning relevance. The research employs a qualitative approach using a library research design, analyzing 26 academic sources published within the last ten years. Data were examined through stages of selection, thematic categorization, and interpretation to identify patterns of integration, advantages, and emerging challenges. The findings indicate that the use of digital platforms expands access to learning materials, promotes independent learning, and enhances interaction through multimodal media and online discussion spaces. However, several challenges remain, including limited digital competence among educators, suboptimal instructional design, and reduced intensity of pedagogical interaction, which may affect the transmission of adab and spiritual values. This study concludes that a value-based integration model is needed, positioning digital technology as a supporting medium rather than a replacement for traditional scholarship. The implementation of this model requires strengthening teacher capacity, institutional support, and pedagogical alignment to ensure that innovation remains grounded in the ethical and intellectual values of Islamic education. ABSTRAK Perkembangan pesat teknologi digital telah membawa perubahan mendasar dalam praktik pendidikan, termasuk dalam pembelajaran fiqh yang selama ini didominasi oleh pendekatan berbasis kitab klasik. Perubahan ini menuntut adanya formulasi model pembelajaran yang mampu menghubungkan kedalaman tradisi keilmuan Islam dengan fleksibilitas lingkungan digital. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana integrasi antara teks klasik fiqh dan platform digital dapat mempertahankan kedalaman epistemologis sekaligus meningkatkan relevansi pembelajaran. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain library research, dengan menganalisis 26 sumber akademik yang terbit dalam sepuluh tahun terakhir. Data dianalisis melalui tahapan seleksi, kategorisasi tematik, dan interpretasi untuk mengidentifikasi pola integrasi, kelebihan, serta tantangan yang muncul. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemanfaatan platform digital mampu memperluas akses terhadap materi, mendorong kemandirian belajar, serta meningkatkan interaksi melalui penggunaan media multimodal dan ruang diskusi daring. Namun demikian, terdapat sejumlah kendala, seperti keterbatasan kompetensi digital pendidik, kualitas desain pembelajaran yang belum optimal, serta berkurangnya intensitas interaksi pedagogis yang berpengaruh pada penanaman nilai adab dan spiritualitas. Penelitian ini menyimpulkan bahwa diperlukan model integrasi berbasis nilai yang menempatkan teknologi digital sebagai media pendukung, bukan pengganti tradisi keilmuan. Implementasi model ini memerlukan penguatan kapasitas pendidik, dukungan institusi, serta keselarasan pedagogis agar inovasi tetap berakar pada nilai etika dan intelektual pendidikan Islam.
OPTIMALISASI MANAJEMEN KEUANGAN SEKOLAH DALAM PENGGUNAAN DANA BOS UNTUK MENINGKATKAN KINERJA GURU SEKOLAH DASAR Putra, Darpansyah; Harahap, Aziddin; Siregar, Marlina; Siregar, Sakinah Ubudiyah; Junita, Junita
EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan & Pengajaran Vol. 6 No. 2 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/educational.v6i2.10270

Abstract

ABSTRACT The urgency of effective management of School Operational Assistance (BOS) funds is a crucial factor in supporting teacher performance and improving the quality of learning. This study aims to analyze the management of BOS funds at SDN 43 Bilah Hulu, identify the challenges encountered, and formulate strategies to optimize school financial management. The study employed a descriptive qualitative approach through observation, interviews, and documentation involving the principal, treasurer, teachers, operator, and school committee as informants. Data were analyzed through data condensation, data display, and conclusion drawing, supported by source and technique triangulation. The results indicate that BOS fund management has been carried out systematically through planning, organizing, implementation, and supervision functions that are participatory, well-directed, and accountable. The funds are utilized for providing learning facilities, technology-based media, and enhancing teachers’ competencies through training and teacher working groups (KKG). The main challenges include limited funds, prioritization of budget allocation, managerial capacity, and issues in supervision and reporting. Optimization strategies are implemented through participatory planning, prioritizing learning quality, strengthening supervision, and ensuring transparency and accountability. The study concludes that the success of BOS fund utilization is largely determined by the school’s managerial capacity in setting priorities, building coordination, and maintaining accountability, which in turn has a tangible impact on teacher performance and the quality of learning. ABSTRAK Urgensi pengelolaan dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) yang efektif menjadi faktor penting dalam mendukung kinerja guru dan peningkatan mutu pembelajaran. Fokus penelitian ini adalah menganalisis pengelolaan dana BOS di SDN 43 Bilah Hulu, mengidentifikasi kendala yang dihadapi, serta merumuskan strategi optimalisasi manajemen keuangan sekolah. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi dengan kepala sekolah, bendahara, guru, operator, dan komite sekolah sebagai informan. Analisis data dilakukan melalui kondensasi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan dengan triangulasi sumber dan teknik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengelolaan dana BOS telah dilaksanakan secara sistematis melalui fungsi perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, dan pengawasan yang partisipatif, terarah, serta akuntabel. Pemanfaatan dana diarahkan pada penyediaan sarana pembelajaran, media berbasis teknologi, serta pengembangan kompetensi guru melalui pelatihan dan KKG. Kendala utama meliputi keterbatasan dana, penentuan prioritas anggaran, kemampuan manajerial, serta tantangan dalam pengawasan dan pelaporan. Strategi optimalisasi dilakukan melalui perencanaan partisipatif, prioritas pada mutu pembelajaran, penguatan pengawasan, serta penerapan transparansi dan akuntabilitas. Simpulan penelitian menegaskan bahwa keberhasilan pemanfaatan dana BOS ditentukan oleh kapasitas manajerial sekolah dalam menetapkan prioritas, membangun koordinasi, dan menjaga akuntabilitas sehingga berdampak nyata pada kinerja guru dan kualitas pembelajaran.
PERAN PETANI KENTANG UNTUK MENANAMKAN JIWA MANDIRI PADA ANAK USIA DINI DI DESA BANARAN WONOSOBO Sugiyanto, Bambang; Syam, Robingun Suyud El; Asri, Maulidya Anggraeni Puspita
EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan & Pengajaran Vol. 6 No. 2 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/educational.v6i2.10271

Abstract

ABSTRACT This study is motivated by the importance of fostering independence from an early age as a foundation for children’s character development, particularly within farming families that have unique life dynamics. The family environment of potato farmers in Banaran Village, Wonosobo, provides contextual learning experiences through daily activities. This study aims to describe the role of potato farmers in instilling independence in early childhood and to identify the supporting and inhibiting factors. The study employs a qualitative approach with a case study design. The research subjects are potato farming families with children aged 3–6 years, supported by informants such as PAUD teachers and community leaders selected through purposive sampling. Data were collected through observation, interviews, and documentation, and analyzed using data reduction, data display, and conclusion drawing, with validity ensured through triangulation. The results show that the role of farmers is not limited to economic fulfillment but also shapes family life patterns that instill values of discipline, responsibility, hard work, initiative, and perseverance through modeling and habituation. Children are accustomed to being independent in daily activities and are also involved in simple farming tasks. Supporting factors include consistent habituation, an active family environment, and a culture of mutual cooperation, while inhibiting factors include limited parental time, differences in children’s characteristics, and a lack of awareness of stimulative parenting. In conclusion, the role of potato farmers is strategic in shaping early childhood independence. ABSTRAK Penelitian ini dilatarbelakangi oleh pentingnya penanaman kemandirian sejak usia dini sebagai dasar pembentukan karakter anak, khususnya dalam keluarga petani dengan dinamika kehidupan khas. Lingkungan keluarga petani kentang di Desa Banaran, Wonosobo, memberikan pengalaman belajar kontekstual melalui aktivitas sehari-hari. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan peran petani kentang dalam menanamkan kemandirian anak usia dini serta mengidentifikasi faktor pendukung dan penghambatnya. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis studi kasus. Subjek penelitian adalah keluarga petani kentang yang memiliki anak usia 3–6 tahun, dengan informan pendukung guru PAUD dan tokoh masyarakat yang dipilih secara purposive. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi, kemudian dianalisis melalui reduksi, penyajian data, dan penarikan kesimpulan serta diuji dengan triangulasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peran petani tidak hanya pada pemenuhan ekonomi, tetapi juga membentuk pola hidup keluarga yang menanamkan nilai disiplin, tanggung jawab, kerja keras, inisiatif, dan ketekunan melalui keteladanan dan pembiasaan. Anak dibiasakan mandiri dalam aktivitas sehari-hari serta terlibat dalam kegiatan pertanian sederhana. Faktor pendukung meliputi pembiasaan konsisten, lingkungan keluarga aktif, dan budaya gotong royong, sedangkan hambatan meliputi keterbatasan waktu orang tua, perbedaan karakter anak, dan kurangnya kesadaran pengasuhan. Dengan demikian, peran petani kentang bersifat strategis dalam membentuk karakter mandiri anak usia dini.
KONSEP DASAR MANAJEMEN SUMBER DAYA MANUSIA PENDIDIKAN DALAM PENGUATAN KOMITMEN ORGANISASI GURU: SYSTEMATIC LITERATURE REVIEW Hanif, Nur Fahmuddin; Luvianingtias, Shera Nabila; Lestari, Rahayu; Junaidah, Junaidah; Septuri, Septuri
EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan & Pengajaran Vol. 6 No. 2 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/educational.v6i2.10480

Abstract

This study aims to examine the basic concepts of educational human resource management (HRM) in strengthening teachers' organizational commitment through a Systematic Literature Review (SLR) approach. The method used includes a literature search in reputable databases such as Google Scholar, Scopus, and ScienceDirect, with the inclusion criteria of national and international articles within the last five years that are relevant to the research topic. The analysis process is carried out through the stages of selection, extraction, and thematic synthesis of data to identify patterns of relationships between HRM practices and teachers' organizational commitment. The results of the study indicate that educational HRM has a strategic role in increasing organizational commitment through the functions of planning, competency development, performance evaluation, and providing teacher motivation and welfare. Teachers' multidimensional organizational commitment including affective, sustainability, and normative dimensions is significantly influenced by effective HRM practices, such as transformational leadership, a positive organizational culture, and a conducive work environment. In addition, organizational commitment acts as a mediating variable linking HRM with improved performance and positive work behaviors, such as Organizational Citizenship Behavior (OCB). Thus, the implementation of holistic, humanistic and sustainable HR is the key to strengthening the commitment of teacher organizations and improving the quality and competitiveness of educational institutions. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji konsep dasar manajemen sumber daya manusia (MSDM) pendidikan dalam penguatan komitmen organisasi guru melalui pendekatan Systematic Literature Review (SLR). Metode yang digunakan meliputi penelusuran literatur pada database bereputasi seperti Google Scholar, Scopus, dan ScienceDirect, dengan kriteria inklusi artikel nasional dan internasional dalam lima tahun terakhir yang relevan dengan topik penelitian. Proses analisis dilakukan melalui tahap seleksi, ekstraksi, dan sintesis data secara tematik untuk mengidentifikasi pola hubungan antara praktik MSDM dan komitmen organisasi guru. Hasil kajian menunjukkan bahwa MSDM pendidikan memiliki peran strategis dalam meningkatkan komitmen organisasi melalui fungsi perencanaan, pengembangan kompetensi, evaluasi kinerja, serta pemberian motivasi dan kesejahteraan guru. Komitmen organisasi guru yang bersifat multidimensional—meliputi dimensi afektif, keberlanjutan, dan normatif—dipengaruhi secara signifikan oleh praktik MSDM yang efektif, seperti kepemimpinan transformasional, budaya organisasi yang positif, serta lingkungan kerja yang kondusif. Selain itu, komitmen organisasi berperan sebagai variabel mediasi yang menghubungkan MSDM dengan peningkatan kinerja dan perilaku kerja positif, seperti Organizational Citizenship Behavior (OCB). Dengan demikian, implementasi MSDM yang holistik, humanistik, dan berkelanjutan menjadi kunci dalam memperkuat komitmen organisasi guru serta meningkatkan kualitas dan daya saing lembaga Pendidikan  
ANALISIS MODEL COOPERATIVE PROJECT BASED LEARNING DALAM PENGEMBANGAN 4C DAN HASIL BELAJAR SISWA DITINJAU DARI POLA PEMBENTUKAN KELOMPOK: PEREKRUTAN MANDIRI VS DITENTUKAN GURU Nurlaili, Eva Alvi; Maharani, Fareza Chandri
EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan & Pengajaran Vol. 6 No. 2 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/educational.v6i2.10481

Abstract

21st-century education demands mastery of the 4C skills to face global challenges through innovative learning models. This study focuses on analyzing the effectiveness of the Cooperative Project Based Learning model in improving 4C competencies and student learning outcomes based on group formation patterns. This quasi-experimental study with a non-equivalent control group design was conducted at MTsN 3 Kediri City in January 2026. Researchers involved two experimental classes to compare the method of recruiting group members independently by students versus groups determined directly by the teacher. The research stages included a pretest, implementation of the excretory organ miniature project, presentation, and final evaluation through a posttest and 4C questionnaire. Data were analyzed using non-parametric tests assisted by SPSS because they were not normally distributed. The results of the Mann-Whitney test showed no significant differences between groups in the pretest (p = 0.970), posttest (p = 0.947), or 4C scores (p = 0.964). However, the Wilcoxon test proved a significant increase in both classes with a p value of 0.001. The main conclusion states that the CPjBL model is very effective in improving academic achievement and 4C competencies, although the group formation mechanism does not have a significant impact on this effectiveness. Teachers are advised to continue using this collaborative model to optimize the potential for social interaction, creativity, communication, collaboration, and critical reasoning of all students in a deep, holistic, transparent, accurate, objective, systematic, comprehensive, consistent, educational, and effective manner. ABSTRAK Pendidikan abad ke-21 menuntut penguasaan keterampilan 4C guna menghadapi tantangan global melalui model pembelajaran inovatif. Penelitian ini berfokus pada analisis efektivitas model Cooperative Project Based Learning dalam meningkatkan kompetensi 4C dan hasil belajar siswa berdasarkan pola pembentukan kelompok. Studi kuasi eksperimen dengan desain non-equivalent control group ini dilaksanakan di MTsN 3 Kota Kediri pada Januari 2026. Peneliti melibatkan dua kelas eksperimen guna membandingkan metode perekrutan anggota kelompok secara mandiri oleh siswa melawan kelompok yang ditentukan langsung oleh guru. Tahapan penelitian meliputi pretest, pelaksanaan proyek pembuatan miniatur organ ekskresi, presentasi, serta evaluasi akhir melalui posttest dan angket 4C. Data dianalisis menggunakan uji non-parametrik berbantuan SPSS karena tidak berdistribusi normal. Hasil uji Mann-Whitney menunjukkan tidak ada perbedaan signifikan antar kelompok pada nilai pretest (p=0,970), posttest (p=0,947), maupun skor 4C (p=0,964). Namun, uji Wilcoxon membuktikan adanya peningkatan signifikan pada kedua kelas dengan nilai p=0,001. Simpulan utama menyatakan bahwa model CPjBL sangat efektif meningkatkan capaian akademis dan kompetensi 4C, meskipun mekanisme pembentukan kelompok tidak memberikan pengaruh yang berarti terhadap efektivitas tersebut. Guru disarankan tetap menggunakan model kolaboratif ini untuk mengoptimalkan potensi interaksi sosial, kreativitas, komunikasi, kolaborasi, serta nalar kritis seluruh siswa secara mendalam, holistik, transparan, akurat, objektif, sistematis, menyeluruh, konsisten, edukatif, dan berdaya guna.  
IMPLEMENTASI MODEL PEMBELAJARAN BEHAVIORISTIK DAN KONSTRUKTIVISTIK DALAM PROJECT-BASED LEARNING: STUDI KASUS Hakim, Lukmanul; Ridlo, M. Rasyid
EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan & Pengajaran Vol. 6 No. 2 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/educational.v6i2.10633

Abstract

ABSTRACT This study examines the implementation of behaviorist and constructivist learning models within the Project-Based Learning (PjBL) framework and their contribution to student learning independence. A descriptive qualitative case study was conducted at SMA Negeri 1 Pringgabaya, utilizing observation, in-depth interviews with teachers, and analysis of learning documents. The research focused on Indonesian Language subjects applying a behaviorist approach and Chemistry subjects applying a constructivist approach. The findings reveal that in the Indonesian Language subject, the behaviorist model within PjBL effectively instilled discipline and basic skills through stimulus-response-reinforcement, as seen in structured news production projects. However, this approach was less effective in developing deep conceptual understanding. Conversely, in the Chemistry subject, the constructivist model within PjBL successfully fostered critical thinking and creativity through independent experimentation, such as ice cream making based on freezing point depression concepts. Nevertheless, this approach showed weaknesses in reinforcement and continuous evaluation aspects. This study concludes that a complementary integration of behaviorist principles (structure and reinforcement) and constructivist principles (self-discovery) within PjBL can create a more balanced learning environment, effectively support learning independence, and holistically optimize students' cognitive and affective development. ABSTRAK Penelitian ini mengkaji implementasi model pembelajaran behavioristik dan konstruktivistik dalam kerangka Project-Based Learning (PjBL) dan kontribusinya terhadap kemandirian belajar peserta didik. Studi kasus kualitatif deskriptif dilakukan di SMA Negeri 1 Pringgabaya dengan melibatkan observasi, wawancara mendalam dengan guru, dan analisis dokumen pembelajaran. Fokus penelitian pada mata pelajaran Bahasa Indonesia yang menerapkan pendekatan behavioristik dan mata pelajaran Kimia yang menerapkan pendekatan konstruktivistik. Temuan penelitian menunjukkan bahwa pada mata pelajaran Bahasa Indonesia, model behavioristik dalam PjBL efektif membentuk disiplin dan keterampilan dasar melalui stimulus-respon-penguatan, seperti dalam proyek pembuatan berita yang terstruktur. Namun, pendekatan ini kurang mengembangkan pemahaman konseptual mendalam. Di sisi lain, pada mata pelajaran Kimia, model konstruktivistik dalam PjBL berhasil mengembangkan kemampuan berpikir kritis dan kreativitas melalui eksperimen mandiri seperti pembuatan es krim berdasarkan konsep penurunan titik beku. Kendati demikian, pendekatan ini menunjukkan kelemahan dalam aspek penguatan dan evaluasi berkelanjutan. Studi ini menyimpulkan bahwa integrasi komplementer antara prinsip behavioristik (struktur dan penguatan) dan konstruktivistik (penemuan mandiri) dalam PjBL dapat menciptakan lingkungan pembelajaran yang lebih seimbang, efektif mendukung kemandirian belajar, serta mengoptimalkan perkembangan kognitif dan afektif peserta didik secara holistik.