cover
Contact Name
Abdullah Maulani
Contact Email
jmanuskripta@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
jmanuskripta@gmail.com
Editorial Address
Gedung VIII Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, Depok 16424 Jawa Barat
Location
,
INDONESIA
MANUSKRIPTA
ISSN : 22525343     EISSN : 23557605     DOI : https://doi.org/10.33656/manuskripta
MANUSKRIPTA aims to provide information on Indonesian and Southeast Asian manuscript studies through publication of research-based articles. MANUSKRIPTA is concerned with the Indonesian and Southeast Asian manuscript studies, the numerous varieties of manuscript cultures, and manuscript materials from Southeast Asian society. It also considers activities related to the care and management of Southeast Asian manuscript collections, including cataloguing, conservation, and digitization.
Articles 115 Documents
Naskah Ulu MNB 07.55: Wacana dan Praktik Sosial Begadisan pada Kelompok Etnik Serawai di Bengkulu Sarwono, Sarwit
Manuskripta Vol 7 No 1 (2017): Manuskripta
Publisher : Masyarakat Pernaskahan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33656/manuskripta.v7i1.77

Abstract

This research aims to disscuss about Ulu MNB 07.55 manuscript related to social practice of begadisan in Serawai ethnic group of Bengkulu. The research based on text as discourse, that is knowledge about social practices, of how things are or must be done, together with specific evaluations and legitimations of, and purposes for, these practices. Based on codex data, known that MNB 07.55 manuscript derived from Serawai ethnic group of Bengkulu, written approximately in the mid-twentieth century. At that time (even until today), the social practice of begadisan still carried out intensively by the ethnic. Furthermore, this manuscript containts a dialogue between unmarriage bachelors and girls. In this connection, the writing of this manuscript is not intended as a record of events begadisan objectively, but is intended as the construction of knowledge about the practice of begadisan that it contains a certain value and legitimacy of identity and social functions of the author of the text. In the context of writing, the manuscript can be seen as a re-contextualization begadisan practice. === Penelitian ini bertujuan untuk mendiskusikan tentang Ulu MNB 07.55 yang berkaitan dengan paktik-praktik sosial begadisan di Serawak, salah satu etnis Bengkulu. riset ini berdasarkan diskursus teks naskah tersebut yang memuat pengetahuan tentang hal itu, bagaimana sesuatu yang harus diselesaikan beserta evaluasi yang spesifik, legitimasi, dan tujuan ritual tersebut dilakukan. Berdasarkan naskah tersebut, diketahui bahwa MNB 07.55 berasal dari etnis Serawai, Bengkulu, ditulis kira-kira pertengahan abad ke-20. pada masa itu sampai hari ini, praktik-praktik sosial begadisan tetap dilestarikan dengan baik oleh etnis tersebut. Lebih lanjut, naskah ini memuat dialog antara lelaki perjaka dengan gadis yang hendak disuntingnya. Dalam relasinya, penulisan manuskrip ini tidak hanya merekam aktivitas begadisan semata, melainkan juga membangun pemahaman tentang nilai-nilai legitimasi identitas dan fungsi sosial yang terdapat pada ritual begadisan yang terdapat pada teks naskah ini. Dalam konteks penulisan, naskah ini juga dapat ditinjau sebagai pengembalian konteks ritual begadisan.
Replika Naskah Nusantara sebagai Pengembangan Seni, Budaya, dan Sastra Putra, Dwi Mahendra
Manuskripta Vol 7 No 1 (2017): Manuskripta
Publisher : Masyarakat Pernaskahan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33656/manuskripta.v7i1.78

Abstract

The reconstruction of the manuscript in the form of a replica is a process of copying the manuscript to the exact extent possible in its original form, in terms of size, distance margin, distance of script, initial and final script, lontar size and typology script. The replica of the manuscript is made to preserve the manuscript which is a relic of the past with infinite value content. Through manuscripts, people can know how art, literature, and culture of the past. Writing system script using syllabic system writing system as the Nusantara script in general. Reconstruction of the Nusantara manuscripts, especially manuscripts made from lontar done with the aim to restore the tradition that has been lost to the community. Nusantara writing tradition is a process of appreciation of the arts in terms of writing skills, literature, and most important is the practice, and preservation of cultural values ​​of the past is very valuable. In addition to materials, techniques, and stationery became a decisive factor in trace the art, literature, and culture of the past. Stationery in every tradition needs to be reconstructed, to be developed in their own traditions. === Rekonstruksi naskah berupa replika merupakan suatu proses penyalinan naskah sedapat mungkin persis dengan bentuk aslinya, baik dari segi ukuran, jarak margin, jarak aksara, aksara awal dan akhir, ukuran lontar maupun tipologi aksara. Replika naskah dibuat guna melestarikan naskah yang merupakan peninggalan masa lampau dengan kandungan nilai tak terhingga. Melalui naskah, masyarakat dapat mengetahui bagaimana seni, sastra, dan budaya masa lampau. Sistem penulisan aksara menggunakan sistem penulisan yang bersifat silabik sistem sebagaimana layaknya aksara nusantara pada umumnya. Rekonstruksi naskah nusantara khususnya naskah-naskah yang berbahan lontar dilakukan dengan tujuan mengembalikan tradisi yang telah hilang kepada masyarakatnya. Tradisi tulis Nusantara merupakan suatu proses penghayatan terhadap seni dalam artian keterampilan menulis, olah sastra, dan yang terpenting adalah pengamalan, serta pelestarian nilai-nilai budaya masa lampau yang sangat bernilai. Selain bahan, teknik, dan alat tulis pun menjadi faktor penentu dalam menelusuri jejak seni, sastra, dan budaya masa lampau. Alat tulis dalam setiap tradisi perlu direkonstruksi kembali, untuk dapat dikembangkan dalam tradisi masing-masing.
Kontribusi Naskah Sasak bagi Pembentukan Karakter Bangsa Jamaluddin, Jamaluddin
Manuskripta Vol 7 No 1 (2017): Manuskripta
Publisher : Masyarakat Pernaskahan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33656/manuskripta.v7i1.79

Abstract

Lombok is one of areas of rich old manuscripts. The content includes various important information in various fields, such as literature, religion, history, law, politics, customs and character values. The manuscripts do not only use local languages but also use various languages, such as Sasak, Malay, Sanskrit, Javanese, Arabic, Balinese and Bugis. These manuscripts are portraits of Sasak civilization that are rich in intellectual treasures. Some of the Sasak manuscripts contain important character values to build the nation’s civilization. Some examples are Dajal, Babad Selaparang, Kotaragama, and Dewi Rengganis manuscripts. The Babad Selaparang contains the character value of hard-working, passionate, sincere, and tawakal. Moreover, in the Dajal manuscript it is stated that the society will prosper if the people have religious value in which people do not envy with each other, must be noble, while the leader himself should be fair and affectionate to his people. === Lombok merupakan salah satu daerah yang kaya dengan naskah-naskah kuno. Naskah-naskah tersebut di dalamnya mencakup berbagai informasi penting, dan bermacam bidang kehidupan, seperti sastra, agama, sejarah, hukum, politik, adat-istiadat, nilai-nilai karakter. naskah-naskahnya bukan hanya menggunakan bahasa lokal, melainkan menggunakan berbagai macam bahasa, seperti bahasa Sasak, bahasa Melayu, Sansekerta, Bahasa Jawa Madya, bahasa Arab, bahasa Bali, dan sedikit menggunakan bahasa Bugis. Naskah-naskah tersebut menjadi potret dari peradaban masyarakat Sasak yang kaya akan khazanah intelelektual. Beberapa naskah Sasak mengandung nilai karakter yang penting untuk membangun peradaban bangsa. Naskah-naskah tersebut seperti Naskah Dajal, Naskah Babad Selaparang, Naskah Kotaragama, dan Naskah Dewi Rengganis. Misalnya dalam Babad Selaparang, mengandung nilai karakter bekerja keras, semangat, ikhlas, dan tawakal; dalam Naskah Dajal disbeutkan bahwa masyarakat akan sejahtera apabila rakyat mimiliki nilai religius, di dalamnya orang-orang tidak berhati dengki, harus berhati mulia. Sementara pemimpin sendiri harus bersifat adil dan kasih sayang kepada rakyatnya.
Pola Perjalanan Spiritual dalam Karya Sastra Jawa Abad XVIII melalui Naskah Jaka Slewah Rahayu, Wiwien Widyawati
Manuskripta Vol 7 No 1 (2017): Manuskripta
Publisher : Masyarakat Pernaskahan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33656/manuskripta.v7i1.80

Abstract

Modern Javanese literature has taken a great deal of influence from colonial literature, and one genre that was widely written is journey tale. This genre was popularly written as novels. While the genre might seem new, journey tales exist in Classic Javanese literature. However, there are slight differences between journey tales of Modern Javanese literature and that of the Classics. This paper discusses the patterns of journey tales in Classic and Modern Javanese literature. The subject of this paper is the Jaka Slewah Corpus. By studying the corpus, it can be assumed that the patterns of Classic Javanese journey tales will be discovered. The paper will implement philology and translation theories in the early stages of the research due to the Jaka Slewah corpus’s nature as a manuscript, which calls for philological study before further actions. After the text have been transliterated and translated, it is then studied using semiotics to discover the patterns within. === Salah satu genre cerita dalam kesustraan Jawa Modern, yang benyak mendapat pengaruh dari bangsa kolonial, yang banyak ditulis adalah kisah perjalanan. Genre ini cukup populer ditulis dalam bentuk novel. Namun sebenarnya, dalam sastra Jawa Klasik, juga sudah terdapat genre kisah perjalanan. Akan tetapi terdapat perbedaan antara kisah perjalanan dalam sastra Jawa Klasik dengan sastra Jawa Modern. Penelitian ini akan menguraikan pola perjalanan yang terdapat dalam karya sastra Jawa Klasik. Adapun yang menjadi obyek penelitian adalah Korpus Jaka Slewah. Melalui penelitian terhadap korpus Jaka Slewah diasumsikan akan diketahui pola perjalanan yang ada di dalam sastra Jawa Klasik. Untuk membedahnya akan digunakan teori filologi dan teori terjemahan pada tahap awal, hal ini disebabkan korpus Jaka Slewah yang menjadi obyek penelitian merupakan manuskrip sehingga memerlukan tindakan filologis sebelum dikaji lebih lanjut. Setelah teks ditransliterasi dan diterjemahkan, kemudian teks dikaji dengan menggunakan teori semiotik untuk mengetahui bentuk atau pola kisah perjalanan yang ada di dalamnya.
Hikayat Purasara: Komunikasi Visual Ilustrasi Wayang pada Naskah Sastra Betawi Abad ke-19 Raden, Agung Zainal Muttakin; Andrijanto, Mohamad Sjafei
Manuskripta Vol 7 No 1 (2017): Manuskripta
Publisher : Masyarakat Pernaskahan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33656/manuskripta.v7i1.81

Abstract

This paper discusses about one of collection National Library of Republic Indonesia, Hikayat Purasara. Its a part of Betawi literature in the end 19th century which contains wayang story in prose form and this manuscript is codex unicus. It has a code with number ML178 in a microfilm roll 660.04. The illustration is very unique because it aims to construct an communication with the plot. In another side, this manuscript indicates culture combinations which bind up in one opus. It uses Jawi script with narrative form and Malay language. But also found Javanese-Sundanese languages with Malay-Betawi dialect. Wayang illustrations in this manuscript is an communication concept which describes social and moral messages. Further more, it has to get more attention like make comics, animations, or films which makes it more attractive and compatible with young generation. It aims to make the opus understood easily and learned the contents by today and future generations. === Penelitian ini membahas salah satu naskah koleksi Perpustakaan Nasional, yaitu Hikayat Purasara. Naskah ini termasuk dalam sastra Betawi akhir abad 19. Naskah ini memuat kisah wayang yang berbentuk prosa, dan merupakan naskah tunggal. Kode naskah adalah ML178 dan dialihmediakan dalam bentuk mikrofilm dengan nomor rol 660.04. Penyajian ilustrasi wayang yang terdapat dalam naskah ini memiliki keunikan tersendiri, yakni sebuah bentuk komunikasi yang dibangun untuk memperkuat isi cerita. Selain itu, naskah ini menunjukkan adanya akulturasi kebudayaan yang terjalin sehingga menghasilkan sebuah karya yang harmonis. Aksara yang digunakan adalah aksara Jawi dengan penyampaian cerita bersifat naratif menggunakan bahasa Melayu namun ada pula bahasa Jawa-Sunda yang menggunakan dialek Melayu Betawi. Ilustrasi wayang yang terdapat dalam naskah ini merupakan sebuah bentuk konsep komunikasi yang dituangkan melalui gambar yang mengandung pesan sosial. Karya sastra ini perlu mendapat perhatianantara lain mengubahnya ke dalam bentuk media lain seperti komik atau film animasi, yang menarik bagi generasi muda dan disesuaikan dengan perkembangan zaman. Hal ini perlu dilakukan agar karya tersebut lebih mudah dipahami dan dipelajari isi dan pesannya oleh generasi saat ini maupun yang akan datang.
Menziarahi Masa Lalu untuk Masa Kini melalui Naskah Pakualaman II Christomy, Tommy
Manuskripta Vol 7 No 1 (2017): Manuskripta
Publisher : Masyarakat Pernaskahan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33656/manuskripta.v7i1.82

Abstract

Naskah-Naskah Skriptorium Pakualaman Periode Paku Alam II (1830—1858)
The Serat Samud Within and Beyond Javanese Palace Circles Ricci, Ronit
Manuskripta Vol 7 No 2 (2017): Manuskripta
Publisher : Masyarakat Pernaskahan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33656/manuskripta.v7i2.83

Abstract

This paper discusses about Javanese text Serat Samud or Suluk Samud. The story tells about Jewish scholar, Samud Ibnu Salam who make some dialogues with prophet Muhammad. It was translated from Arabic into Javanese since 17c. There are many versions in archipelago, include Malay, Bugis, Arabic and Makassar. If its compared with another textual traditions, and this can be understood as evidence that Serat Samud indeed is considered important by the community of Java in the past. The text copied and read in the Javanese court, including the Palace of Surakarta and Pakualaman duchy. From the other side, its clear that the text copied outside palace, like in village and pesantren. This paper will formulate our ideas about presence or absence of boundaries between inside and outside of the palace of Java in the eighteenth and nineteenth centuries. === Artikel ini membicarakan teks Jawa yang berjudul Serat Samud atau Suluk Samud. Cerita teks ini mengenai seorang pandhita Yahudi bernama Samud Ibnu Salam yang berdialog dengan Nabi Muhammad. Cerita ini diterjemahkan ke dalam bahasa Jawa sekitar abad ke-17, kiranya dari bahasa Arab. Di Nusantara terdapat banyak versi, termasuk dalam bahasa Melayu, Bugis, Arab dan Makassar, dan ini bisa dipahami sebagai bukti bahwa Serat Samud memang dianggap penting oleh masyarakat Jawa di masa lampau. Serat Samud disalin dan dibaca di lingkungan istana Jawa, termasuk Keraton Surakarta and Kadipaten Pakualaman. Dari sisi lain, jelas juga bahwa banyak naskah Serat Samud disalin di luar keraton dan istana, di desa dan di pesantren. Tulisan ini merumuskan ide-ide kita mengenai ada tidaknya semacam batasan antara keraton dan non-keraton di Jawa selama abad kedelapan dan kesembilan belas.
Dari Pdf Ke Flipping Manuscript: Upaya Kemas Ulang Hasil Katalogisasi Naskah Kuno Melayu di Provinsi Riau Sudiar, Nining; Mafar, Fiqru; H, Rosman
Manuskripta Vol 7 No 2 (2017): Manuskripta
Publisher : Masyarakat Pernaskahan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33656/manuskripta.v7i2.84

Abstract

This paper explains recreated old manuscript in flipping form. It is manuscript from digitalization result in research of cataloging and conserving Malay manuscript in Riau Province in first year. Generally, digitizing result will produce digital files in portable document format (.pdf). Basically, type of this file is general form in digitizing process. But, digitizing result in this form has not attractive view for young generation. And flipping form is one of the solution of this problem. It aims to give best and attractive experience for reading manuscript. This method can produce an digitizing result of Malay manuscript with flipping effect delightly. === Artikel ini membahas tentang kemas ulang naskah kuno dalam bentuk flipping. Naskah kuno yang konversikan ke dalam bentuk flipping adalah naskah kuno hasil digitalisasi dalam penelitian Katalogisasi dan Konservasi Naskah Kuno Melayu di Provinsi Riau pada tahun pertama. Pada umumnya, hasil digitalisasi naskah kuno akan menghasilkan file digital dalam bentuk *pdf. Pada dasarnya jenis file ini merupakan jenis file yang paling umum digunakan dalam proses digitalisasi. Namun, hasil digitalisasi dalam bentuk *pdf memiliki tampilan yang monoton dan kurang menarik bagi generasi masa kini. Solusinya, guna memberikan pengalaman membaca naskah digital yang lebih menyenangkan, hasil digitalisasi dikonversikan ke dalam bentuk flipping. Melalui metode ini mampu menghasilkan sebuah hasil digitalisasi naskah kuno Melayu dengan efek flipping yang lebih menyenangkan.
Wawacan Pandita Sawang sebagai Naskah Keagamaan: Tinjauan Kedudukan dan Fungsi Suherman, Agus
Manuskripta Vol 7 No 2 (2017): Manuskripta
Publisher : Masyarakat Pernaskahan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33656/manuskripta.v7i2.85

Abstract

Religious matter always comes in every part of life as one of basic human needs, include its also recorded in old manuscripts. Wawacan Pandita Sawang (WPS) is one of manuscript which contains religious values (Islam). With analytic descriptive approach, this paper reveals religous values which contained in WPS. Furthermore, this paper also discusses about philologycal matter around, like copying, spreading manuscript, and its position and story function. Based on analytical result, WPS is very full of religious values with basics material of Islam. It starts from self-understanding through process of creation, maternity, death, principles of Islam, and wudhu. Pupuh poemis used to present religious values in this manuscript. So, besides as advices, it also provide a sense of entertainmentthrough wawacan rebound. === Sebagai salah satu kebutuhan dasar, masalah keagamaan senantiasa hadir dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk terekam dalam naskah-naskah kuna. Wawacan Pandita Sawang (WPS) merupakan salah satu naskah Sunda kuna yang berisi tentang keagamaan (Islam). Dengan menggunakan metode analisis deskriptif, tulisan ini mengungkap nilai-nilai keagamaan yang terkandung dalam naskah WPS. Selain itu tulisan ini juga disertai pembahasan seputar permasalahan filologis yang melingkupinya: penyalinan atau penyebaran naskah, serta kedudukan dan fungsi cerita. Berdasarkan hasil analisis, WPS sangat sarat dengan nilai-nilai keagamaan dengan cakupan materinya sangat mendasar. Diawali dari pemahaman diri melalui proses penciptaan (dalam kandungan), kelahiran, kematian, ritual rukun Islam, dan wudhu. Penghadiran ajaran agama dalam naskah ini dikemas dalam bentuk puisi pupuh, sehingga kedudukan dan fungsinya di samping sebagai ajaran atau petuah, juga memberikan rasa hiburan melalui lantunan tembang wawacan.
Pujangga (Kraton) Jawa Vs Agen dalam Pandangan Bordieu Wulandari, Arsanti
Manuskripta Vol 7 No 2 (2017): Manuskripta
Publisher : Masyarakat Pernaskahan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33656/manuskripta.v7i2.86

Abstract

Generally, among the Javanese kingdom, there are poets who are employed specifically to produce texts or engage in the process of creating texts within the palace. These poets are the "hands" of the Kings to write down a story, advice or teachings that the King will pass on to his children or citizens. Furthermore, the texts produced are often anonymous. This indicates that writers and copywriters are still just behind the scenes. This paper will discuss the phenomenon and compare it with Bordieu's concept of agent concept which he thinks is highly influenced by habitus, capital, and strategy so that it affects the author's position and legitimacy of the results in the literary arena. This article makes the text SB 169: Babad Ngayogyakarta HB IV-V written by Tumenggung Sasra Adipura in 1869 and has been copied back in 1881 by Carik Sastra Pratama Nom, son of Patma Pratama, as the main corpus which comparated with Bordieu's concept. === Pada umumnya, di kalangan kerajaan Jawa terdapat pujangga yang dipekerjakan khusus untuk memproduksi teks atau terlibat dalam proses penciptaan teks di lingkungan istana. Pujangga-pujangga inilah yang menjadi “tangan” para Raja untuk menuliskan sebuah cerita, nasehat atau ajaran yang akan disampaikan Raja kepada anak-anaknya ataupun warganya. Lebih lanjut, teks-teks yang dihasilkan seringkali anonim. Hal ini mengindikasikan penulis dan penyalin naskah masih sekedar berperan di belakang layar. Makalah ini akan membahas fenomena tersebut dan membandingkannya dengan konsep Bordieu tentang konsep agen yang menurutnya sangat dipengaruhi oleh habitus, modal, dan strategi sehingga berdampak pada posisi pengarang dan legitimasi hasilnya dalam arena sastra. Artikel ini menjadikan teks SB 169: Babad Ngayogyakarta HB IV-V yang ditulis oleh Tumenggung Sasra Adipura pada tahun 1869 dan telah disalin kembali pada tahun 1881 oleh Carik Sastra Pratama Nom anak dari Patma Pratama sebagai korpus yang dibandingkan dengan konsep Bordieu.

Page 6 of 12 | Total Record : 115