MANUSKRIPTA
MANUSKRIPTA aims to provide information on Indonesian and Southeast Asian manuscript studies through publication of research-based articles. MANUSKRIPTA is concerned with the Indonesian and Southeast Asian manuscript studies, the numerous varieties of manuscript cultures, and manuscript materials from Southeast Asian society. It also considers activities related to the care and management of Southeast Asian manuscript collections, including cataloguing, conservation, and digitization.
Articles
115 Documents
Budaya Literasi Masyarakat Melayu Menerusi Kajian Manuskrip Ilmu Bedil (MS31 dan MS101)
Mat, Nor Farhana binti Che;
Ibrahim, Filzah binti;
Baharudin, Rusmadi bin
Manuskripta Vol 9 No 1 (2019): Manuskripta
Publisher : Masyarakat Pernaskahan Nusantara
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.33656/manuskripta.v9i1.110
Masyarakat Adat Karuhun Urang (Akur) Sunda are Sundanese community doctrines based in Paseban Tri Panca Tunggal, Cigugur Sub-Distric, Kuningan Distric, West Java Province. Sundanese teachings that are used as a guide in carrying out customs and traditions are the teachings of Prince Madrais Sadewa Alibassa Kusumaningrat; in the form of speech and writing. Prince Madrais's writing, now in the category of manuscripts, the condition is worrying and has not received proper care and repair. One effort to save the content of the manuscript is the technique of digitizing the manuscript. The problems faced by the manager of Paseban Tri Panca Tunggal in the rescue of manuscripts, are now handled by the knowledge of care and the way of codification; good places and tools for storing manuscripts and the ability to maintain and digitize the manuscript. These efforts expected to provide an understanding of the characteristics, roles, functions, and meaning of the Prince Madrais Manuscript’s in the whole journey of the Nusantara written tradition; can further be utilized to serve as one of the reference sources of the nation's cultural development. === Kitab Bedil (MS31 dan MS01) membicarakan aspek penggunaan senjata api dan pembuatan peluru mempamerkan senarai kosa kata berkaitan sains dan teknologi. Ini menunjukkan bahawa budaya literasi telah menjadi tradisi dalam masyarakat Melayu sejak dahulu lagi. Kajian ini adalah untuk mengungkap budaya literasi masyarakat dalam manuskrip daripada aspek kosa kata persenjataan Melayu pada abad ke-16. Data kajian telah diambil daripada manuskrip milik Dewan Bahasa dan Pustaka sebagai sumber utama, iaitu kitab Ilmu Bedil (MS31 dan MS101). Teks asal manuskrip yang ditransliterasikan kemudiannya dilaksanakan analisis kandungan, sejumlah kosa kata baharu disenaraikan dengan menggunakan sistem Wordsmith. Hasilnya, penyelidik telah menemukan beberapa leksikal dan manual persenjataan yang boleh dikaitkan dengan budaya literasi dan kearifan Melayu tempatan. Kajian yang sedang dilaksanakan sangat signifikan dan dapat memberikan sumbangan yang sangat besar dalam pemerkayaan kosa kata Melayu klasik dan ilmu persejarahan Melayu.
Ragam Langgam Aksara Jawa dari Manuskrip hingga Buku Cetak
Perdana, Aditya Bayu
Manuskripta Vol 10 No 1 (2020): Manuskripta
Publisher : Masyarakat Pernaskahan Nusantara
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.33656/manuskripta.v10i1.112
In its contemporary usage, the Javanese script is often introduced through a few serviceable yet unvaried typefaces which give an impression of monotony and lack of style capable of carrying various design expressions. This current state of style deficiency is unfortunate because a cursory survey on the history of the Javanese script up to the 20th century reveals a rich tradition of calligraphic and typographic styles. Throughout the island, many scribes used regional stylistic variations, sometimes with striking differences and unique quirks no longer seen in today’s writing. The introduction of printing and metal typefaced also brought western typographic practice into the design of the Javanese script, creating a unique design environment where Javanese and European traditions mingled. This paper would introduce the varied styles of the Javanese script in manuscripts and printed books from the 16th ce to the mid 20th ce in the hopes that it will enrich the contemporary use of the Javanese script. === Dalam penggunaan terkini, aksara Jawa kerap diperkenalkan melalui sejumlah typefaces yang memadai namun sayangnya tidak bervariasi, sehingga contoh-contoh kontempora seringkali memberi kesan monoton dan kekurangan gaya yang mampu menyampaikan berbagai ekspresi desain. Hal ini sangat disayangkan karena napak tilas sejarah aksara Jawa hingga abad ke 20 menunjukkan tradisi kaligrafis dan tipografis yang sangat kaya. Di seantero pulau, juru tulis di berbagai daerah menggunakan variasi gayanya masing-masing. Terkadang dengan berbedaan yang sangat mencolok atau kekhasan tulis tidak lagi terlihat dalam penulisan masa kini. Kedatangan teknologi cetak dan metal typeface juga turut memperkenalkan aspek tipografis barat ke dalam desain aksara Jawa, hingga terciptalah suatu ranah desain yang unik dari persilangan tradisi tulis Jawa dan tipograf barat. Tulisan ini akan memberikan uraian singkat mengenai ragam langgam aksara Jawa pada naskah tulisan tangan dan cetak antar abad 16 M hingga 20 M awal sebagai perkenalan awal yang dapat memperkaya penerapan aksara Jawa di abad 21 M.
Konsepsi Raja Melayu dalam Hikayat Petualangan Ajaib Hikayat Kemala Bahrain
Handayani, Rizqi
Manuskripta Vol 10 No 1 (2020): Manuskripta
Publisher : Masyarakat Pernaskahan Nusantara
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.33656/manuskripta.v10i1.113
This article explains the views of the Malay community regarding the concept of a king in one of the magical adventure stories, entitled Hikayat Kemala Bahrain ML 443 (HKB). HKB is one of the classic Malay magical adventures stored in the National Library of the Republic of Indonesia. HKB tells about the adventures of a king in finding his identity as the heir to the kingdom. The results of this study indicate that HKB carries the idea of the Malay king as the caliph on earth (Ḍillullah fī al-‘ālam). However, in formulating the concept of king's leadership, the Malay community was still trapped in the idea of god-king spiritualism (devarāja spiritualism) which became one of the criteria attached to the Malay king. Based on the king's conception presented by HKB, it is clear that the Malay worldview aspires to a leader or king who upholds political and state ethics based on noble moral values that are relevant to various situations and conditions. === Artikel ini menjelaskan pandangan masyarakat Melayu mengenai konsep raja dalam salah satu hikayat petualangan ajaib, yang berjudul Hikayat Kemala Bahrain ML 443 (HKB). HKB merupakan salah satu hikayat petualangan ajaib melayu klasik yang tersimpan di Perpustakaan Nasional RI. HKB bercerita tentang petualangan seorang raja dalam menemukan identitas dirinya sebagai pewaris kerajaan. Penelitian ini merupakan penelitian kepustakaan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa HKB mengusung gagasan tentang raja Melayu sebagai khalifah di muka bumi (Ḍillullah fī al-‘ālam). Namun, dalam merumuskan konsep kepemimpinan raja, masyarakat Melayu masih terjebak pada gagasan tentang spiritualisme dewa-raja (devarāja spiritualism) yang menjadi salah satu kriteria yang melekat pada raja Melayu. Berdasarkan pada konsepsi raja yang ditampilkan HKB maka terlihat jelas bahwa pandangan dunia Melayu mencita-citakan pemimpin atau raja yang menjunjung tinggi etika politik dan kenegaraan yang berbasis pada nilai-nilai moral yang luhur yang relevan dengan berbagai situasi dan kondisi.
Pandhawa Gubah sebagai Representasi Interaksi Metafisik Manusia Jawa dan Perbandingannya dengan Cheritera Pandawa Lima
Novarina, Novarina
Manuskripta Vol 10 No 1 (2020): Manuskripta
Publisher : Masyarakat Pernaskahan Nusantara
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.33656/manuskripta.v10i1.114
This research is a comparative literary study that uses Malay and Javanese versions of Mahabarata text sources. The research objects used were the text edition of Pandhawa Gubah (PG) by Sudibjo Z. Hadisutjipto and the text of Cheritera Pandawa Lima (CPL) by Khalid Hussain. The research method used is descriptive-analysis method. In the comparative study used a comparative literary theory proposed by Endraswara (2011). The results of the text comparison reveal the similarities and differences in the image of Bima figures in the Javanese and Malay versions. The equation as a whole is that both texts contain the same heroic storyline and heroic character, Bima. In addition, Indian influence is still evident in the two texts seen from the nuances of Hinduism that exist in both texts. While the difference is seen in the events that accompany Bima's struggle in achieving his victory. Based on these similarities and differences, it can be seen that the authors attempt to represent the concept of metaphysical interactions vertically and horizontally expressed through PG text. === Penelitian ini adalah satu kajian sastra bandingan yang menggunakan sumber teks Mahabarata versi Melayu dan Jawa. Objek penelitian yang digunakan adalah edisi teks Pandhawa Gubah (PG) karya Sudibjo Z. Hadisutjipto dan teks Cheritera Pandawa Lima (CPL) karya Khalid Hussain. Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif-analisis. Dalam telaah perbandingan digunakan teori sastra bandingan yang dikemukakan Endraswara (2011). Hasil perbandingan teks mengungkapkan adanya persamaan dan perbedaan citra tokoh Bima dalam versi Jawa maupun versi Melayu. Persamaan secara keseluruhan adalah kedua teks tersebut mengandung alur cerita kepahlawanan dan tokoh pahlawan yang sama yaitu Bima. Selain itu, pengaruh India masih tampak dalam kedua teks tersebut dilihat dari nuansa Hinduisme yang ada dalam kedua teks. Sementara perbedaannya tampak pada peristiwa-peristiwa yang menyertai perjuangan Bima dalam mencapai kemenangannya. Berdasarkan persamaan dan perbedaan tersebut tampak adanya upaya penulis untuk merepresentasikan konsep interaksi metafisik secara vertikal dan horizontal yang diungkapkan melalui teks PG.
Penelusuran Jejak Musik Instrumental dalam Naskah Sunda Kuna
Nurwansah, Ilham
Manuskripta Vol 10 No 1 (2020): Manuskripta
Publisher : Masyarakat Pernaskahan Nusantara
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.33656/manuskripta.v10i1.115
Until the early 20th century, the Sundanese region was considered to have no musical history, even though such information contained, among others, the Old Sundanese script. Not many researches on the history of Sundanese music have used Old Sundanese textual sources. This paper discusses aspects of instrumental music found in Old Sundanese texts including terms used to refer to music and the types of musical instruments used. The sources used are Old Sundanese texts from the pre-Islamic period between the 15th and 17th centuries AD. Several Old Sundanese musical instruments are still known and used today with or without changes. Others are no longer known. Old Sundanese musical instruments are played alone or in groups, either on a stage or a parade. Its function is to accompany entertainment and also to accompany the ritual process. The basic material for the body of the musical instrument used is generally bronze metal and wood, including bamboo. === Hingga awal abad ke-20 wilayah Sunda dianggap tidak memiliki sejarah musik, padahal informasi demikian antara lain terdapat dalam naskah Sunda Kuna. Penelitian sejarah musik Sunda pun tampaknya belum banyak yang menggunakan sumber tekstual Sunda Kuna. Tulisan ini membahas aspek-aspek musik instrumental yang terdapat pada teks-teks Sunda Kuna mencakup istilah yang digunakan untuk menyebut musik dan jenis- jenis alat musik yang digunakan. Sumber-sumber yang digunakan yaitu teks Sunda Kuna dari masa pra-Islam antara abad ke-15 sampai abad ke-17 M. Beberapa instrumen musik Sunda Kuna masih dikenal dan digunakan hingga sekarang dengan atau tanpa perubahan. Sebagian lainnya sudah tidak dikenal. Instrumen musik Sunda kuna ada yang dimainkan sendiri maupun berkelompok, baik pada sebuah panggung maupun parade. Fungsinya untuk mengiringi hiburan dan juga mengiringi proses ritual. Bahan dasar badan alat musik yang digunakan umumnya berupa logam perunggu dan kayu-kayuan, termasuk bambu.
Penafsiran Sufistik-Kejawen atas Surah Al-Fatihah Studi Analisis atas Manuskrip Kiai Mustojo
Maulana, Muhammad Masrofiqi
Manuskripta Vol 10 No 1 (2020): Manuskripta
Publisher : Masyarakat Pernaskahan Nusantara
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.33656/manuskripta.v10i1.116
Some interpreters in Java tend to use the mystical style of tasawwuf-kejawen to interpretate the Quran. One of the interpreters is Kiai Mustojo, Campurejo, Sambit, Ponorogo. This article presents the theory of tasawwuf and sufi interpretation, the manungguling kawula-Gusti concept, Kiai Mustojo manuscript identification, and the analysis of manunggaling kawula-Gusti concept in the Kiai Mustojo’s interpretation on al-Fatiha. This interpretation is once of historical evidence that there is an intense contact between Islamic teaching and Javanese mysticism in the inland of Java and it’s as legitimation of his mystical-Kejawen teachings. His interpretation will always reveal the meaning behind the literal meaning of a word in al-Fatiha. Even though, it has a meaning more than connotative meaning, it doesn’t mean the denotative meaning that exist in the Quran is not so important. It causes the connotative meaning becomes a gateway for the entrance to understand of other meanings. === Beberapa mufassir di Jawa cenderung menggunakan corak tasawuf mistik kejawen dalam menafsiri Alquran. Salah satu penafsir yang menggunakan sufistik- kejawen dalam melakukan pembacaan atas Alquran adalah Kiai Mustojo, Campurejo, Sambit, Ponorogo. Artikel ini menampilkan teori tasawwuf dan penafsiran sufi, konsep manunggaling kawula-Gusti, identifikasi naskah Manuskrip Kiai Mustojo dan analisa konsep manunggaling kawula-Gusti dalam penafsiran Kiai Mustojo atas surah al-Fatihah. Penafsiran Kiai Mustojo ini menjadi salah satu bukti historis bahwa adanya hubungan yang begitu intens antara ajaran Islam dan ajaran mistik Jawa di Pedalaman Jawa serta merupakan legitimasi akan ajaran-ajaran mistik Kejawennya. Penafsirannya akan selalu mengungkap makna di balik makna literal sebuah kata dalam al-Fatihah. Meski memiliki makna yang lebih dari makna konotatif, bukan berarti makna denotatif yang ada dalam Alquran tidak begitu penting. Sebab makna literal dari sebuah kata yang ada dalam Alquran menjadi pintu gerbang bagi masuknya pemahaman terhadap makna lain.
Bhīma Svarga: Cerita Tiada Akhir
Anjani, Anggita
Manuskripta Vol 10 No 1 (2020): Manuskripta
Publisher : Masyarakat Pernaskahan Nusantara
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.33656/manuskripta.v10i1.117
Bhīma Svarga Teks Jawa Kuna Abad ke-15 dan Penurunan Naskahnya
Naskah Tafsīr Āyāt Yā ayyuhā al-nās: Tafsir Antikolonialisme Abdul Latif Syakur
Fadilla, Zikra
Manuskripta Vol 11 No 1 (2021): Manuskripta
Publisher : Masyarakat Pernaskahan Nusantara
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.33656/manuskripta.v11i1.118
This article aims to present an analysis of Sheikh Abdul Latif Syakur's response to colonialism in a manuscript entitled Tafsīr Āyāt Yā ayyuhā al-nās (TAYN). This manuscript is an interpretation of the verses of Alquran which begin with yā ayyuhā al-nās. As a form of interaction between the author and the local culture, the work of interpretation will also describe the writer's thoughts. This descriptive qualitative research uses a critical discourse analysis approach which aims to reveal the thoughts of Sheikh Abdul Latif Syakur regarding colonialism based on the text of Tafsīr Āyāt Yā ayyuhā al-nās. The findings of this research indicate that Sheikh Abdul Latif Syakur is against colonialism activities, according to him all human beings have the same right to free themselves and defend national independence. === Artikel ini bertujuan menghadirkan analisis respons Syekh Abdul Latif Syakur terhadap kolonialisme pada sebuah naskah yang berjudul Tafsīr Āyāt Yā ayyuhā al-nās (TAYN). Naskah ini merupakan sebuah penafsiran terhadap ayat-ayat Alquran yang berawalan yā ayyuhā al-nās. Sebagai wujud interaksi pengarang dan budaya lokal, tak terkecuali karya tafsir akan menggambarkan pemikiran penulisnya. Penelitian ini berjenis kualitatif deskriptif menggunakan pendekatan analisis wacana kritis yang bertujuan untuk mengungkap pemikiran Syekh Abdul Latif Syakur mengenai kolonialisme berdasarkan naskah Tafsīr Āyāt Yā ayyuhā al-nās. Temuan peneliti ini menunjukkan bahwa Syekh Abdul Latif Syakur menentang aktifitas kolonialisme, menurutnya semua manusia memiliki hak yang sama untuk memerdekakan diri sendiri dan mempertahankan kemerdekaan bangsa.
Pajak Pendapatan dalam Naskah Peraturan Pajak Pendapatan Ternate
Hapsari, Latifah Kurnia;
Limbong, Priscila Fitriasih
Manuskripta Vol 11 No 1 (2021): Manuskripta
Publisher : Masyarakat Pernaskahan Nusantara
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.33656/manuskripta.v11i1.119
Tax is a compulsory contribution paid by each citizen to the government. Tax can be used to fulfill the country’s needs for the greatest prosperity of the people. Income tax is one of tax that levied by the government from worker’s income. Income tax has been applied since colonial era. In the colonial era, income tax can be found in Income Tax Regulation 113 H 8/14. This research will discuss about the prevailing income tax rules in Ternate and explain the effect of Income Tax Regulation 113 H 8/14 to the taxpayer. This research uses philology methods with tax theory approach. The result showed that there are regulations that regulate the taxpayer, calculation of the aanslag, the tax collection methods and fines. The regulation was applied by the royal government to all citizens who lived in Ternate in 19th century. According to the regulation, this research also found the intervention of the Dutch government on the management in Ternate’s income tax. It can be seen from the clauses of the regulation that shows an agreement between the Dutch and the royal government caused by economical interest. === Pajak merupakan salah satu iuran yang harus dibayarkan oleh setiap warga yang bermukim di suatu negara dan digunakan untuk kepentingan masyarakat. Salah satu pajak yang berperan adalah pajak pendapatan. Pajak pendapatan telah diterapkan sejak zaman kolonial. Hal ini dapat ditemukan dalam naskah Peraturan Pajak Pendapatan 113 H 8/14. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan aturan pajak pendapatan yang berlaku pada masyarakat Ternate dan menjelaskan penerapan pajak terhadap pembayar pajak yang telah ditentukan dalam naskah Peraturan Pajak Pendapatan 113 H 8/14. Metode penelitian yang digunakan adalah metode filologi dengan pendekatan teori perpajakan. Berdasarkan analisis yang telah dilakukan, hasil penelitian ini memperlihatkan bahwa di dalam naskah ini terdapat aturan mengenai pembayar pajak, orang yang dibebaskan dari pajak, perhitungan jumlah aanslag, cara pemungutan pajak serta perihal denda. Aturan ini diterapkan kepada seluruh masyarakat yang bermukim di Ternate pada abad XIX.Selain itu, pada peraturan ini ditemukan pula bahwa Belanda ikut campur tangan dalam pengelolaan pajak pendapatan di daerah Ternate. Hal tersebut terlihat dari pasal-pasal di dalam PPPT yang menunjukkan adanya kesepakatan keputusan antara pemerintah kerajaan dan pegawai pemerintah Belanda.